Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 48 [QS. 5:48]

وَ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ مُہَیۡمِنًا عَلَیۡہِ فَاحۡکُمۡ بَیۡنَہُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ وَ لَا تَتَّبِعۡ اَہۡوَآءَہُمۡ عَمَّا جَآءَکَ مِنَ الۡحَقِّ ؕ لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ لَجَعَلَکُمۡ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً وَّ لٰکِنۡ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰىکُمۡ فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ ؕ اِلَی اللّٰہِ مَرۡجِعُکُمۡ جَمِیۡعًا فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ
Wa-anzalnaa ilaikal kitaaba bil haqqi mushaddiqan limaa baina yadaihi minal kitaabi wamuhaiminan ‘alaihi faahkum bainahum bimaa anzalallahu walaa tattabi’ ahwaa-ahum ‘ammaa jaa-aka minal haqqi likullin ja’alnaa minkum syir’atan waminhaajan walau syaa-allahu laja’alakum ummatan waahidatan walakin liyabluwakum fii maa aataakum faastabiquul khairaati ilallahi marji’ukum jamii’an fayunabbi-ukum bimaa kuntum fiihi takhtalifuun(a);
Dan Kami telah menurunkan Kitab (Alquran) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.
Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.
Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.
Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan,
―QS. Al Maa’idah [5]: 48

Daftar isi

And We have revealed to you, (O Muhammad), the Book in truth, confirming that which preceded it of the Scripture and as a criterion over it.
So judge between them by what Allah has revealed and do not follow their inclinations away from what has come to you of the truth.
To each of you We prescribed a law and a method.
Had Allah willed, He would have made you one nation (united in religion), but (He intended) to test you in what He has given you;
so race to (all that is) good.
To Allah is your return all together, and He will (then) inform you concerning that over which you used to differ.
― Chapter 5. Surah Al Maa’idah [verse 48]

وَأَنزَلْنَآ dan Kami telah menurunkan

And We revealed
إِلَيْكَ kepadamu

to you
ٱلْكِتَٰبَ Kitab

the Book
بِٱلْحَقِّ dengan kebenaran

in [the] truth,
مُصَدِّقًا yang membenarkan

confirming
لِّمَا terhadap apa

what
بَيْنَ antara

(was) before
يَدَيْهِ dua tangan/sebelumnya

his hands
مِنَ dari

of
ٱلْكِتَٰبِ Kitab

the Book
وَمُهَيْمِنًا dan yang menjaga

and a guardian
عَلَيْهِ atasnya

over it.
فَٱحْكُم maka putuskanlah

So judge
بَيْنَهُم diantara mereka

between them
بِمَآ dengan/menurut apa

by what
أَنزَلَ menurunkan

has revealed
ٱللَّهُ Allah

Allah
وَلَا dan janganlah

and (do) not
تَتَّبِعْ kamu mengikuti

follow
أَهْوَآءَهُمْ hawa nafsu mereka

their vain desires
عَمَّا dari apa

when
جَآءَكَ telah datang kepadamu

has come to you
مِنَ dari

of
ٱلْحَقِّ kebenaran

the truth.
لِكُلٍّ bagi tiap-tiap ummat

For each
جَعَلْنَا Kami telah menjadikan

We have made
مِنكُمْ diantara kamu

for you
شِرْعَةً peraturan

a law
وَمِنْهَاجًا dan jalan yang terang

and a clear way.
وَلَوْ dan sekiranya

And if

Tafsir

Alquran

Surah Al Maa’idah
5:48

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 48. Oleh Kementrian Agama RI


Setelah menerangkan bahwa Taurat telah diturunkan kepada Nabi Musa, dan kitab Injil telah diturunkan pula kepada Nabi Isa dan agar kedua kitab tersebut ditaati dan diamalkan oleh para penganutnya masing-masing.
Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah menurunkan Alquran kepada Nabi dan Rasul terakhir Muhammad ﷺ.

Alquran adalah Kitab Samawi terakhir yang membawa kebenaran, mencakup isi dan membenarkan Kitab suci sebelumnya seperti Taurat dan Injil.
Alquran adalah kitab yang terpelihara dengan baik, sehingga ia tidak akan mengalami perubahan dan pemalsuan.

Firman Allah menegaskan:

لَّا يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهٖ تَنْزِيْلٌ مِّنْ حَكِيْمٍ حَمِيْدٍ

(yang) tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang (pada masa lalu dan yang akan datang), yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji.
(Fushshilat [41]: 42)


Alquran adalah kitab suci yang menjamin syariat yang murni sebelumnya, dan kitab suci yang berlaku sejak diturunkannya sampai hari kemudian.

Oleh karena itu, wajib menghukumkan dan memutuskan perkara anak manusia sesuai dengan hukum yang telah diturunkan Allah, yang telah terdapat di dalam Alquran.
Bukanlah pada tempatnya menuruti keinginan dan kemauan hawa nafsu mereka yang bertentangan dengan kebenaran yang dibawa oleh junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ.


Tiap-tiap umat diberi syariat (peraturan-peraturan khusus), dan diwajibkan kepada mereka melaksanakannya, dan juga mereka telah diberi jalan dan petunjuk yang harus dilaksanakan untuk membersihkan diri dan menyucikan batin mereka.
Syariat setiap umat dan jalan yang harus ditempuh boleh saja berubah–ubah dan bermacam-macam, tetapi dasar dan landasan agama samawi hanyalah satu, yaitu tauhid.


Taurat, Injil, dan Alquran, masing-masing mempunyai syariat tersendiri, yang berisi ketentuan-ketentuan hukum halal dan haram, sesuai dengan kehendak-Nya untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang tidak.
Firman Allah:

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.

(al-Anbiya‘ [21]: 25)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

Dan sungguh, Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan),"
Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut."
(an-Nahl [16]: 36)


Sekiranya Allah menghendaki, tentulah Dia dapat menjadikan semua manusia hanya dengan satu syariat dan satu macam jalan yang akan ditempuh dan diamalkan mereka sehingga dari zaman ke zaman tidak ada peningkatan dan kemajuan, seperti halnya burung atau lebah, kehendak Allah tentu akan terlaksana dan tidak ada kesulitan sedikit pun, karena Allah kuasa atas segala sesuatu.
Tetapi yang demikian itu tidak dikehendaki oleh-Nya.
Allah menghendaki manusia itu sebagai makhluk yang dapat mempergunakan akal dan pikirannya, dapat maju dan berkembang dari zaman ke zaman.
Dari masa kanak-kanak ke masa remaja meningkat jadi dewasa dan seterusnya.


Demikianlah Allah menghendaki dan memberikan kepada tiap-tiap umat syariat tersendiri, untuk menguji sampai di mana manusia itu dapat dan mampu melaksanakan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya, sebagaimana yang telah ditetapkan di dalam kitab samawi-Nya, untuk diberi pahala atau disiksa.
Oleh karena itu seharusnyalah manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan dan amal saleh, sesuai dengan syariat yang dibawa oleh nabi penutup rasul terakhir Muhammad ﷺ.
Syariat yang menggantikan syariat sebelumnya, untuk kepentingan dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.


Pada suatu waktu nanti, mau tak mau manusia akan kembali kepada Allah memenuhi panggilan-Nya ke alam baka.
Di sanalah nanti Allah akan memberitahukan segala sesuatu tentang hakikat yang diperselisihkan mereka.
Orang yang benar-benar beriman akan diberi pahala, sedang orang-orang yang ingkar dan menolak kebenaran, serta menyeleweng tanpa alasan dan bukti, akan diazab dan dimasukkan ke dalam neraka.

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 48. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kami turunkan kepadamu, Muhammad, kitab suci yang sempurna, yaitu Alquran, yang berisikan kebenaran dalam segala hukum dan beritanya, membenarkan kitabkitab suci Kami sebelumnya, sebagai saksi atas kebenarannya dan sebagai pengawas kitabkitab suci yang lain, karena terpelihara dari perubahan.
Maka, apabila Ahl al-Kitab mengadukan suatu perkara kepadamu, putuskanlah menurut apa yang Allah turunkan kepadamu.


Jangan mengikuti hawa nafsu dan keinginan mereka dalam mengambil keputusan, sehingga kamu menyeleweng dari kebenaran yang datang dari Kami.
Tiap-tiap umat di antara kalian, wahai manusia, Kami berikan cara untuk menjelaskan kebenaran dan cara beragama yang jelas.


Jika Allah berkehendak, niscaya Dia akan menjadikan kalian satu kelompok yang jalan petunjuknya tidak berbeda sepanjang masa.
Akan tetapi Allah menjadikan kalian sedemikian rupa, untuk menguji pelaksanaan kalian terhadap syariatsyariat yang diberikan, sehingga dapat diketahui siapa yang taat dan siapa yang ingkar di antara kalian.


Pergunakanlah kesempatan dan bergegaslah dalam berbuat kebaikan.
Sesungguhnya hanya kepada Allahlah kalian akan kembali.


Allah akan memberitahukan kepada kalian hakikat apa yang kalian perselisihkan.
Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang di antara kalian sesuai dengan perbuatannya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Kami telah menurunkan Alquran kepadamu (wahai Rasul).
Segala apa yang ada didalamnya merupakan kebenaran yang bersaksi atas kebenaran kitabkitab sebelumnya.


Ia adalah dari sisi Allah, yang mengakui kebenaran apa yang terkandung didalamnya, menjelaskan penyimpangan yang terjadi padanya, dan menasakh sebagian syariatnya.
Maka tetapkanlah hukum di antara orang-orang yang menjadikanmu sebagai hakim dari kalangan orang-orang Yahudi dengan apa yang Allah turunkan kepadamu dalam Alquran ini.


Dan jangan berpaling dari kebenaran yang telah Allah perintahkan padamu kepada hawa nafsu mereka dan apa yang menjadi kebiasaan mereka.
Kami telah menjadikan syariat untuk setiap umat dan jalan yang terang yang mereka amalkan.


Bila Allah berkenan niscaya Dia menjadikan syariat kalian semua satu, akan tetapi Allah menjadikannya berbeda-beda untuk menguji kalian, sehingga terlihat orang yang taat dengan orang yang durhaka.
Maka bersegeralah kepada apa yang baik bagi kalian di dunia dan di akhirat dengan mengamalkan Alquran, karena sesungguhnya tempat kembali kalian hanya kepada Allah.


Dia akan mengabarkan kepada kalian apa yang kalian perselisihkan dan membalas masing-masing dengan amal perbuatannya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan telah Kami turunkan kepadamu) hai Muhammad


(kitab) yakni Alquran


(dengan kebenaran) berkaitan dengan anzalnaa


(membenarkan apa yang terdapat di hadapannya) maksudnya yang sebelumnya


(di antara kitab dan menjadi saksi) atau batu ujian


(terhadapnya) kitab di sini maksudnya ialah kitabkitab terdahulu.


(Sebab itu putuskanlah perkara mereka) maksudnya antara ahli kitab jika mereka mengadu kepadamu


(dengan apa yang diturunkan Allah) kepadamu


(dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka) dengan menyimpang


(dari kebenaran yang telah datang kepadamu.
Bagi tiap-tiap umat di antara kamu Kami beri) hai manusia


(aturan dan jalan) maksudnya jalan yang nyata dan agama dan yang akan mereka tempuh.


(Sekiranya dikehendaki Allah tentulah kamu dijadikan-Nya satu umat) dengan hanya satu syariat


(tetapi) dibagi-bagi-Nya kamu kepada beberapa golongan


(untuk mengujimu) mencoba


(mengenai apa yang telah diberikan-Nya kepadamu) berupa syariat yang bermacam-macam untuk melihat siapakah di antara kamu yang taat dan siapa pula yang durhaka


(maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan) berpaculah mengerjakannya.


(Hanya kepada Allahlah kembali kamu semua) dengan kebangkitan


(maka diberitahukan-Nya kepadamu apa yang kamu perbantahkan itu) yakni mengenai soal agama dan dibalas-Nya setiap kamu menurut amal masing-masing.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Setelah Allah subhanahu wa ta’ala, menyebutkan perihal kitab Taurat yang diturunkan­Nya kepada Nabi Musa —yang pernah diajak bicara langsung oleh-Nya dan memuji serta menyanjung Kitab Taurat dan memerintahkan agar kitab Taurat diikuti ajarannya —mengingat kitab Taurat layak untuk diikuti oleh mereka—, lalu Allah subhanahu wa ta’ala, menyebutkan perihal kitab Injil dan memujinya serta memerintahkan kepada para pemegangnya untuk mengamalkannya dan mengikuti apa yang terkandung di dalamnya, seperti yang telah disebutkan di atas.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala, menyebutkan tentang Alquran yang Dia turunkan kepada hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan Kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran.

Yakni membawa kebenaran, tiada keraguan di dalamnya, dan bahwa Alquran itu diturunkan dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

…membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitabkitab (yang diturunkan sebelumnya).

Yaitu kitabkitab terdahulu yang mengandung sebutan dan pujian kepadanya, dan bahwa Alquran itu akan diturunkan dari sisi Allah kepada hamba lagi Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ Dan penurunan Alquran yang sesuai dengan apa yang telah diberitakan oleh kitabkitab terdahulu merupakan faktor yang menambah kepercayaan di kalangan para pemilik kitabkitab sebelum Alquran dari kalangan orang-orang yang mempunyai ilmu dan taat kepada perintah Allah, mengikuti syariatsyariat Allah serta membenarkan rasulrasul Allah, seperti yang disebutkan oleh Allah melalui firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Alquran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata,
"Maha­suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan Kami pasti dipenuhi."
(QS. Al Israa [17]: 107-108)

Yakni sesungguhnya apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepada kami melalui lisan rasulrasul-Nya yang terdahulu —yaitu mengenai keda­tangan Nabi Muhammad ﷺ— adalah benar-benar terjadi dan pasti dipenuhi.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…dan batu ujian terhadap kitabkitab yang lain itu.

Sufyan As-Sauri dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari At-Tamimi, dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah
"dipercaya oleh kitabkitab sebelumnya".

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan al-muhaimin ialah
"yang dipercaya".
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Alquran adalah kepercayaan semua kitab sebelumnya.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Mujahid, Muhammad ibnu Ka’b, Atiyyah.
Al-Hasan, Qatadah, Ata Al-Khurrasani, As-Saddi, dan Ibnu Zaid.

Ibnu Juraij mengatakan, Alquran adalah kepercayaan kitabkitab terdahulu yang sebelumnya.
Dengan kata lain, apa saja isi dari kitab terdahulu yang sesuai dengan Alquran.
maka itu adalah benar, dan apa saja isi dari kitabkitab terdahulu yang tidak sesuai dengan Alquran, itu adalah batil.

Telah diriwayatkan dari Al-Walibi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna muhaimin ini, bahwa makna yang dimaksud ialah sebagai saksi.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, dan As-Saddi.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna muhaiminan, bahwa makna yang dimaksud ialah sebagai hakim atau batu ujian bagi kitabkitab yang sebelumnya.

Semua pendapat tersebut pengertiannya saling berdekatan, karena sesungguhnya lafaz muhaimin mengandung semua pengertian itu, sehingga dapat dikatakan bahwa Alquran adalah kepercayaan, saksi, dan hakim atas kitabkitab yang sebelumnya.
Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan kitab Alquran yang agung ini yang Dia turunkan sebagai akhir dari kitabkitab Nya dan merupakan pamungkasnya paling agung dan paling sempurna.
Di dalam Alquran terkandung kebaikan-kebaikan kitabkitab sebelumnya dan ditambahkan banyak kesempurna­an yang tidak terdapat pada kitabkitab lainnya.
Karena itulah Allah menjadikannya sebagai saksi, kepercayaan dan hakim atas semua kitab yang terdahulu, dan Allah sendiri menjamin pemeliharaan bagi keutuhannya.


Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
(QS. Al-Hijr [15]: 9)

Mengenai apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Ikrimah dan Sa’id ibnu Jubair, Ata Al-Khurrasani serta Ibnu Abu Nujaih dari Mujahid, mereka mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya,
"Muhaiminan ‘alaihi"
bahwa makna yang dimaksud ialah Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang dipercaya atas Alquran.
Kalau ditinjau dari segi maknanya memang benar, tetapi bila ditafsirkan dengan pengertian ini, masih perlu dipertimbangkan.
Demikian pula mengenai penurunannya kepada dia bila dipandang dari segi bahasa Arab, masih perlu dipertimbangkan pula.
Pada garis besarnya pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama tadi.

Abu Ja’far ibnu Jarir setelah mengemukakan riwayat dari Mujahid, bahwa takwil ini sulit dimengerti menurut pemahaman orang-orang Arab, bahkan merupakan suatu kekeliruan.
Dikatakan demikian karena lafaz muhaimin di-‘ataf-kan kepada lafaz musaddiqan.
Karena itu, kedudukannya tiada lain kecuali menjadi sifat dari apa yang disifati oleh lafaz musaddiqan.
Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan bahwa seadainya duduk perkaranya seperti apa yang dikatakan oleh Mujahid, niscaya disebutkan oleh firman-Nya dengan ungkapan seperti berikut:
"Dan kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, sebagai orang yang membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitabkitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai orang yang dipercaya untuk (menerima) Alquran,"
yakni dengan ungkapan tanpa huruf ataf.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan.

Yakni hai Muhammad, putuskanlah perkara di antara manusia baik yang Arab maupun yang ‘Ajam, baik yang ummi maupun yang pandai baca tulis, dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepadamu di dalam Alquran yang agung ini, dan dengan apa yang telah ditetapkan untukmu dari hukum para nabi sebelummu, tetapi tidak di-mansukh oleh syariatmu.
Demikianlah menurut apa yang di kemukakan oleh Ibnu Jarir dalam menjabarkan maknanya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu! Awwam, dari Sufyan ibnu Husain, dari Al-Hakam, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ disuruh memilih.
Jika beliau suka, boleh memutuskan perkara di antara mereka (kaum Ahli Kitab), dan jika tidak suka, beliau boleh berpaling dari mereka, lalu mengembalikan keputusan mereka kepada hukumhukum mereka sendiri.
Maka turunlah firman-Nya:
dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 49), Dengan turunnya ayat ini Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk memutus­kan perkara di antara mereka (Ahli Kitab) dengan apa yang terdapat di dalam kitab kita, yakni Alquran.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.

Yaitu pendapat-pendapat mereka yang mereka peristilahkan sendiri, dan karenanya mereka meninggalkan apa yang apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul Nya.
Karena itulah disebutkan dalam firman-Nya:

…dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

Yakni janganlah kamu berpaling dari kebenaran yang diperintahkan Allah kepadamu, lalu kamu cenderung kepada hawa nafsu orang-orang yang bodoh lagi celaka itu.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, dari Yusuf ibnu Abu Ishaq, dari ayahnya, dari At-Tamimi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 48), Bahwa yang dimaksud dengan syir’atan ialah jalan.

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Abu Ishaq, dari At-Tamimi, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
dan jalan yang terang.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 48), Makna yang dimaksud ialah tuntunan.


Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud dengan syir’atan wa minhajan ialah jalan dan tuntunan.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Ad-Dahhak, As-Saddi, Abu Ishaq As-Subai’i, bahwa mereka telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya,
"Syir’atan wa minhajan",
bahwa makna yang dimaksud ialah jalan dan tuntunan.
Dan dari Ibnu Abbas, Mujahid serta Ata Al-Khurrasani disebutkan sebaliknya, bahwa yang dimaksud dengan syir’ah ialah tuntunan, sedangkan minhaj ialah jalan.
Tetapi pendapat pertama lebih sesuai, mengingat makna syir’ah juga berarti
"syariat"
dan
"permulaan untuk menuju ke arah sesuatu".
Termasuk ke dalam pengertian ini dikatakan syara’aji kaza yang artinya
"memulainya".
Demikian pula makna lafaz syari’ah, artinya sesuatu yang dipakai untuk berlayar di atas air.
Makna minhaj adalah jalan yang terang lagi mudah, sedangkan lafaz as-sunan artinya tuntunan-tuntunan.
Dengan demikian, berarti tafsir firman-Nya,
"Syir’atan wa minhajan’, dengan pengertian jalan dan tuntunan lebih jelas kaitannya daripada kebalikannya.
Kemudian konteks ini dalam kaitan memberitakan perihal umat-umat yang beraneka ragam agamanya dipandang dari aneka ragam syariat mereka yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh Allah melalui rasulrasul-Nya yang mulia, tetapi sama dalam pokoknya, yaitu ajaran tauhid.

Disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Kami para nabi adalah saudara-saudara yang berlainan ibu, tetapi agama kami satu.

Makna yang dimaksud ialah ajaran tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada semua rasul yang diutus-Nya dan terkandung di dalam semua kitab yang diturunkan-Nya, seperti apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya,
"Bahwa tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku."
(QS. Al-Anbiyaa:25)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),
"Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah tagut itu"
(An Nahl:36), hingga akhir ayat.

Adapun mengenai berbagai macam syariat yang berbeda-beda dalam masalah perintah dan larangannya, adakalanya sesuatu hal dalam suatu syariat diharamkan, kemudian dalam syariat yang lain dihalalkan dan kebalikannya, lalu diringankan dalam suatu syariat, sedangkan dalam syariat yang lain diperberat.
Yang demikian itu karena mengandung hikmah yang tidak terbatas serta hujah yang jelas bagi Allah dalam menentukan hal tersebut.

Sa’id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah sehubung­an dengan makna firman-Nya:
Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 48), Makna yang dimaksud ialah jalan dan tuntunan.
Tuntunan itu berbeda-beda, di dalam kitab Taurat merupakan suatu syariat, di dalam kitab Injil merupakan suatu syariat, dan di dalam Alquran merupakan suatu syariat, di dalamnya Allah menghalalkan apa yang dikehendaki-Nya dan mengharamkan apa yang dikehendaki-Nya, yaitu untuk me­nyatakan siapa yang taat kepada-Nya dan siapa yang durhaka.
Agama yang tidak diterima oleh Allah ialah yang selainnya, yakni selain agama tauhid dan ikhlas kepada Allah semata.
Agama inilah yang didatangkan oleh semua rasul.

Menurut suatu pendapat, orang yang diajak bicara oleh ayat ini adalah umat ini, yakni umat Nabi Muhammad ﷺ Makna yang dimaksud ialah
"untuk tiap-tiap orang dari kaitan yang termasuk dalam umat ini, Kami jadikan Alquran sebagai jalan dan tuntunannya".
Dengan kata lain, Alquran adalah buat kalian semuanya sebagai panutan kalian.
Damir yang mansub dalam firman-Nya,
"Likullin ja’alna minkum"
yaitu ja’alnahu yang artinya
"Kami jadikan Alquran sebagai syariat dan tuntunannya untuk menuju ke tujuan yang benar dan sebagai tuntunan, yakni jalan yang jelas lagi gamblang".
Demikianlah menurut ringkasan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Mujahid.

Akan tetapi, pendapat yang benar adalah yang pertama tadi, karena diperkuat dengan firman selanjutnya yang mengatakan:
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja).

Seandainya hal ini merupakan khitab (pembicaraan) bagi umat ini, niscaya kurang tepatlah bila disebutkan oleh firman-Nya:
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja).

Padahal mereka merupakan satu umat, tetapi hal ini merupakan khitab (pembicaraan) yang ditujukan kepada semua umat dan sebagai pemberitahuan tentang kekuasaan Allah Yang Mahabesar, yang seandai­nya Dia menghendaki, niscaya dihimpunkan-Nya semua umat manusia dalam satu agama dan satu syariat yang tiada sesuatu pun darinya yang di-mansukh.

Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala, menjadikan suatu syariat tersendiri bagi tiap rasul, kemudian me-mansukh seluruhnya atau sebagiannya dengan risalah lain yang diutus oleh Allah sesudahnya, hingga semuanya di-mansukh oleh apa yang diturunkan Nya kepada hamba lagi rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ Allah mengutusnya kepada seluruh penduduk bumi dan menjadikannya sebagai penutup para nabi semua­nya.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kalian terhadap pemberian-Nya kepada kalian.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 48)

Dengan kata lain, Allah subhanahu wa ta’ala, telah menetapkan berbagai macam syariat untuk menguji hamba-hamba-Nya terhadap apa yang telah disyariatkan untuk mereka dan memberi mereka pahala karena taat kepadanya, atau menyiksa mereka karena durhaka kepada-Nya melalui apa yang mereka perbuat atau yang mereka tekadkan dari kesemuanya itu.

Abdullah ibnu Kasir mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…terhadap pemberian-Nya kepada kalian.

Makna yang dimaksud ialah Al-Kitab.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala, menganjurkan kepada mereka untuk bersegera mengerjakan kebajikan dan berlomba-lomba mengerjakannya.
Untuk itu disebutkan oleh firman-Nya:

…maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.

Yaitu taat kepada Allah dan mengikuti syariat-Nya yang dijadikan-Nya me-mansukh syariat pendahulunya serta membenarkan kitab Alquran yang merupakan akhir dari kitab yang diturunkan-Nya.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

Hanya kepada Allah-lah kembali kalian.

Yakni tempat kembali kalian kelak di hari kiamat hanyalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

…lalu diberitahukan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian perselisihkan itu.

Yaitu Allah memberitahukan kepada kalian kebenaran mengenai apa yang kalian perselisihkan, maka Dia akan memberikan balasan pahala kepada orang-orang yang percaya berkat kepercayaan mereka dan mengazab orang-orang kafir yang ingkar lagi mendustakan perkara yang hak dan menyimpang darinya ke yang lain tanpa dalil dan tanpa bukti, bahkan mereka sengaja ingkar terhadap bukti-bukti yang jelas, hujahhujah yang terang serta dalildalil yang pasti.


Ad-Dahhak, makna firman-Nya:
maka berlomba-lombalah kepada kebajikan.
ialah umat Nabi Muhammad ﷺ,

tetapi makna yang pertama lebih jelas dan lebih kuat.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa’idah (5) Ayat 48

MUHAIMIN
مُهَيْمِن

Lafaz muhaymin adalah ism fa’il yang berasal dari haymana, mempuyai makna menguasai, mengawal dan menjaga.

Al Qur’an adalah muhaymin atas semua kitab samawi, maksudnya mengawal dan mengawasinya.
Apa yang terdapat di dalamnya yang semuafakat dengannya, ia adalah kebenaran dan perkara yang menentangnya akan diketahui ia diselewengkan dan diubah.

Al Wahidi berkata,
"Kebanyakan ahli tafsir berpendapat, asal lafaz muhaymin dan muhaymina adalah mu’aymin yaitu dari amana yaitu aman atau beriman, atau mu’a’min, kemudian dihilangkan hamzah kedua dan diganti al ya’ disebabkan pertemuan dua hamzah; lalu hamzah pertama diubah menjadi al ha’ seperti pendapat Al Mubarrad, Az Zujjaj dan AbuAli Al Farisi

Lafaz muhaymin disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Hasyr (59), ayat 23. Lafaz muhayminan juga disebut sekali yaitu dalam surah Al Maa’idah (5), ayat 48.
Ar Razi berkata,
"Muhaymin bermakna asy syaahid yaitu yang menyaksikan."

Ibnu Abbas, Muqatil, Mujahid dan Qatadah berpendapat, "Muhaymin bermakna yang menyaksikan segala perbuatan hambanya dan menjaga mereka "

Muhaymin di dalam Al Quran yang terdapat dalam surah Al Hasyr adalah salah satu dari sifat Allah atau salah satu dari namanya.
Ia bermakna yang mengawasi, menyaksikan segala perbuatan hambanya, yang menguasai segala sesuatu serta menjaganya.

Sedangkan dalam surah Al Maa’idah, ia berkaitan dengan Al Qur’an yang menjadi muhaymin bagi Kitab Samawi lain.

Asy Syawkani berkata,
"Lafaz muhaymina bermakna ar raqiib (mengawasi), yang lebih tinggi dan al haafiz (menjaga).
Az Zamakhsyari berkata,
"Lafaz muhaymina bermakna mengawasi kesemua kitab samawi karena ia mengakui baginya dengan kesahihan dan penetapan.

Dalam Safwah At Tafaasir, muhaymina bermakna mengakui ke atasnya dan menjadi hakim terhadap keseluruhan kitab yang datang sebelumnya, menghimpun di dalamnya keseluruhan kebaikan dan menambahkannya kesempurnaan-kesempurnaan dari apa yang tidak terdapat dalam kitab yang lain.

AlJumhur berkata,
"Sesungguhnya Al Qur’an menjadi saksi bagi kesahihan kitab samawi yang diturunkan dan menetapkan kandungan di dalamnya yang belum dimansuhkan serta memansuhkan perkara yang bertentangan dengannya, mengawasi ke atasnya dan menjaga apa yang terdapat di dalamnya dari dasar-dasar syari’at."

Kesimpulannya, al muhaymin adalah salah satu dari nama-nama Allah yang bermakna mengawal, menyaksikan segala perbuatan hamba Nya dan menjaganya.
Sedangkan muhaymina dikaitkan dengan Al Qur’an yang bermakna Al Qur’an mengakui, menjadi saksi dan hakim bagi kitab samawi terdahulu yang diturunkan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:570-571

Unsur Pokok Surah Al Maa’idah (المائدة)

Surat Al-Ma’idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’.

Surat ini dinamakan "Al Maa’idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isaalaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isaalaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).

Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isaalaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

▪ Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Hukum:

▪ Keharusan memenuhi perjanjian.
Hukum melanggar syiar Allah.
▪ Makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan.
Hukum mengawini wanita ahli kitab.
Tayammum.
▪ Mandi.
Hukum membunuh orang.
Hukum mengacau dan mengganggu keamanan.
Hukum qishas.
Hukum melanggar sumpah dan kafarat-nya.
Hukum khamar (minuman yang memabukkan).
▪ Berjudi.
▪ Berkorban untuk berhala.
▪ Mengundi nasib.
Hukum membunuh binatang waktu ihram.
Hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

▪ Kisah-kisah Nabi Musa `alaihis salam menyuruh kaumnya memasuki Palestina.
▪ Kisah Habil dan Qabil.
▪ Kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
▪ Penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Keharusan jujur dan berlaku adil.
▪ Sikap dalam menghadapi berita-berita bohong.
▪ Akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim.
▪ Kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi.
▪ Kewajiban rasul hanya menyampaikan agama.
▪ Sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam.
▪ Ka’bah sokoguru kehidupan manusia.
▪ Peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah.
▪ Larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 120 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 120

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Maa'idah ayat 48 - Gambar 1 Surah Al Maa'idah ayat 48 - Gambar 2
Statistik QS. 5:48
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa’idah.

Surah Al-Ma’idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā’idah, “Jamuan Hidangan”) adalah surah ke-5 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada’.
Surah ini dinamakan Al-Ma’idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma’idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah 5
Nama Surah Al Maa’idah
Arab المائدة
Arti Jamuan (hidangan makanan)
Nama lain Al-‘Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 112
Juz Juz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 120
Jumlah kata 2842
Jumlah huruf 12207
Surah sebelumnya Surah An-Nisa’
Surah selanjutnya Surah Al-An’am
Sending
User Review
4.6 (10 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

5:48, 5 48, 5-48, Surah Al Maa'idah 48, Tafsir surat AlMaaidah 48, Quran Al Maidah 48, AlMaidah 48, Al-Ma'idah 48, Surah Al Maidah ayat 48

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Maa’idah

۞ QS. 5:1 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 5:2 • Siksaan Allah sangat pedih • Ar Rabb (Tuhan) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:3 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Keistimewaan IslamIslam agama yang diterima di sisi Allah

۞ QS. 5:5 • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:6 Sifat Iradah (berkeinginan) • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 5:7 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 5:8 • Keluasan ilmu Allah • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 5:9 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 5:10 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 5:11 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 5:12 • Kewajiban beriman pada para rasul • Sifat surga dan kenikmatannya • Kembali kufur • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:13 • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 5:14 • Keluasan ilmu Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:16 Hikmah penurunan kitab-kitab samawiHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:17 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:18 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 5:19 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:20 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:23 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Melihat sebab akibat

۞ QS. 5:24 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:25 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:26 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 5:27 • Perbuatan dan niat

۞ QS. 5:28 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:29 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Dosa-dosa besar

۞ QS. 5:32 • Dosa-dosa besar

۞ QS. 5:33 • Nama-nama hari kiamat • Bersikap keras terhadap orang kafir • Dosa-dosa besar • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:34 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar

۞ QS. 5:35 • Bersegera dalam melakukan kebaikan • Mengharap wasilah (kedudukan)

۞ QS. 5:36 • Siksaan Allah sangat pedih • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Azab orang kafir • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:37 • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 5:38 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 5:39 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 5:40 • Segala sesuatu milik Allah • Ampunan Allah yang luas • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:41 • Nama-nama hari kiamat • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 5:42 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 5:44 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:46 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 5:47 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:48 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Kebenaran hari penghimpunan • Bersegera dalam melakukan kebaikan •

۞ QS. 5:49 Sifat Iradah (berkeinginan) • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 5:51 • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir • Perintah tidak mengikuti orang musyrikHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:52 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:53 • Siksa orang munafik • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 5:54 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 5:55 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Wali (Maha Pelindung) • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 5:56 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keutamaan iman

۞ QS. 5:57 • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir

۞ QS. 5:59 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:60 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:61 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 5:64 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Mendustai Allah • Sifat Kamal (sempurna) • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:65 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Perbuatan yang menghalangi api neraka • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 5:66 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:67 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAr Rabb (Tuhan) • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 5:68 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:69 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Nama-nama hari kiamat • Islamnya ahli kitab • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 5:71 • Keluasan ilmu Allah • Al Bashir (Maha Melihat) • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 5:72 Tauhid Rububiyyah • Mendustai Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Syirik adalah dosa terbesar

۞ QS. 5:73 Tauhid Uluhiyyah • Mendustai Allah • Siksaan Allah sangat pedih • Al Wahid (Maha Esa) • Syirik adalah dosa terbesar

۞ QS. 5:74 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 5:76 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 5:78 • Azab orang kafir

۞ QS. 5:80 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:81 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:82 • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam

۞ QS. 5:83 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:84 Ar Rabb (Tuhan) • Keutamaan iman

۞ QS. 5:85 • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman

۞ QS. 5:86 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:89 • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 5:90 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Meramal nasib mengakibatkan kekufuran • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 5:91 • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah • Menjaga diri dari syetan • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 5:92 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Peringatan Allah terhadap hambaNya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:93 • Keistimewaan Islam • Ajakan masuk Islam • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbuatan dan niat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 5:94 • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:95 Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Muntaqim (Maha Pembalas dosa) • Toleransi IslamIslam menghapus dosa masa lalu

۞ QS. 5:96 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 5:97 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 5:98 • Siksaan Allah sangat pedih • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:99 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 5:101 • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 5:102 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:103 • Mendustai Allah

۞ QS. 5:104 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:105 • Sikap orang mukmin terhadap fitnah • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 5:106 • Wasiat mayit

۞ QS. 5:108 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:109 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib) • Kebenaran hari penghimpunan • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan

۞ QS. 5:110 • Peranan dan tugas Jibril

۞ QS. 5:111 • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 5:112 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:114 • Meminta dengan menyebut nama Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki)

۞ QS. 5:115 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:116 • Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib)

۞ QS. 5:117 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan) • Al Raqib (Maha Pengawas) • Al Syahid (Maha Menyaksikan) •

۞ QS. 5:118 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 5:119 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 5:120 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) •

Ayat Pilihan

Bila ditimpa bahaya ia berdoa dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tapi setelah Kami hilangkan bahaya itu, ia (kembali) lalui (jalan sesat) seolah tak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya
QS. Yunus [10]: 12

Kami turunkan hujan untuk tumbuhkan tanaman.
Dengan hujan itu, tanah yang tadinya kering & mati menjadi hidup.
Air itu juga dapat dimanfaatkan untuk memberi minum makhluk ciptaan yang berupa binatang-binatang ternak & manusia yang banyak.
QS. Al-Furqan [25]: 49

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain,
dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga & mengawasi kamu.
QS. An-Nisa’ [4]: 1

Celaka,
dan celakalah kamu,
wahai pendusta!
Lalu celaka,
dan celakalah kamu selamanya!
QS. Al-Qiyamah [75]: 34

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Arti fana adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Dalam Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al Matiin yang tercantum dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Tuhan memiliki sifat Al Karim, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala merupakan zat Yang ..

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang ...

Benar! Kurang tepat!

Allah memiliki sifat Al Kariim yang tercantum dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #1
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #1 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #1 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #24

Allah Subhanahu Wa Ta`ala Melihat semua apa yang di lakukan oleh hambanya, karena Allah bersifat … Dalam memutuskan suatu perkara, Dinda sangat adil karena Dinda meneladani sifat Allah … Salah satu cara mengagungkan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta`ala yaitu … dengan … Tata cara membaca Alquran dimulai dengan … Dalam surah Alquran, At-Tin artinya …

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Pendidikan Agama Islam #16

Selain berisi kisah-kisah umat terdahulu, dalam Alquran juga terdapat tamsil sebagai peringatan bagi manusia. Tamsil artinya … Alquran adalah mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di bawah ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah mukjizat yang terbesar adalah … Fungsi utama kandungan Alquran yang menjelaskan kisah umat terdahulu adalah sebagai … Yang berarti ”menggabungkan sesuatu dengan yang lain” adalah lafaz … Al-Lihyaniy berpendapat bahwa Alquran secara etimologi memiliki arti …

Kamus

Hadis Dhaif

Apa itu Hadis Dhaif? da.if lemah; tidak kuasa; tidak berdaya; tidak berguna; tidak ada artinya; hina Hadis Dhaif (lemah), ialah hadis yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa hadis mauquf, maqthu...

Al Aakhir

Apa itu Al Aakhir? Allah itu Al-Akhir . Yaitu Allah itu Yang Maha Akhir. Bahkan kekuasaan Allah itu tidak akan pernah ada akhirnya. Dia kekal dan abadi. Al Aakhir termasuk dalam 99 Asma’ul husn...

mubah

Apa itu mubah? mu.bah tidak berdosa dan tidak pula berpahala apabila dilakukan; jaiz … •