Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 42


سَمّٰعُوۡنَ لِلۡکَذِبِ اَکّٰلُوۡنَ لِلسُّحۡتِ ؕ فَاِنۡ جَآءُوۡکَ فَاحۡکُمۡ بَیۡنَہُمۡ اَوۡ اَعۡرِضۡ عَنۡہُمۡ ۚ وَ اِنۡ تُعۡرِضۡ عَنۡہُمۡ فَلَنۡ یَّضُرُّوۡکَ شَیۡئًا ؕ وَ اِنۡ حَکَمۡتَ فَاحۡکُمۡ بَیۡنَہُمۡ بِالۡقِسۡطِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ
Sammaa’uuna lilkadzibi akkaaluuna li-ssuhti fa-in jaa-uuka faahkum bainahum au a’ridh ‘anhum wa-in tu’ridh ‘anhum falan yadhurruuka syai-an wa-in hakamta faahkum bainahum bil qisthi innallaha yuhibbul muqsithiin(a);

Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.
Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun.
Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.
―QS. 5:42
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat
5:42, 5 42, 5-42, Al Maa’idah 42, AlMaaidah 42, Al Maidah 42, AlMaidah 42, Al-Ma’idah 42
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa'idah (5) : 42. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala sekali lagi menjelaskan sifat-sifat Yahudi yang senang dan banyak sekali mendengar berita-berita bohong tentang pribadi dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.
untuk menjadi perhatian dan untuk menunjukkan bahwa perbuatan mereka itu selalu didasarkan atas hal-hal yang tidak benar dan bohong, satu sifat yang amat jelek, hina dan merusak.

Di samping itu mereka juga banyak menerima uang suap yaitu suatu pemberian dengan maksud untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar.
Hal yang demikian itu telah menjadi salah satu mata pencaharian mereka, terutama penguasa-penguasa, hukum dipermainkan yang memegang peranan dan menentukan pada waktu itu, ialah suap.
Siapa yang kuat suap, dialah yang akan menang dalam perkara, sekalipun nyata-nyata ia bersalah.

Kalau ada di antara orang-orang Yahudi itu seseorang yang tidak senang dan tidak setuju pada perbuatan atasannya yang kotor dan hina itu, lalu ia datang kepada Muhammad dan meminta diputuskan perkaranya, kamu boleh memilih, yaitu menerima permintaan mereka dan memutuskan perkaranya, atau menolaknya, biar saja mereka yang mengurus persoalannya.
Mereka tidak akan dapat memberi mudarat sedikit pun dengan keputusan itu kepadamu apabila kamu menolaknya.

Apabila kamu menerima permintaan mereka, maka putuslah perkara mereka dengan seadil-adilnya sesuai dengan yang telah diperintahkan padamu, sejalan dengan syariat yang kamu bawa, tidak bertentangan dengan Alquran.
Allah subhanahu wa ta'ala senang dan rida kepada orang-orang yang berlaku adil.

Al Maa'idah (5) ayat 42 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 42 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 42 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mereka adalah orang-orang yang suka mendengarkan berita bohong, banyak memakan harta haram yang tidak berkah seperti suap, riba dan lainnya.
Jika mereka datang kepadamu untuk meminta putusan perkara, maka putuskanlah perkara di antara mereka apabila dalam hal itu kamu mendapatkan kebaikan.
Atau, berpalinglah dari mereka.
Sebab jika kamu berpaling dari mereka, mereka tidak akan dapat mendatangkan bahaya sedikit pun kepadamu, karena Allah telah menjagamu dari manusia.
Jika kamu memutuskan perkara di antara mereka, maka putuskanlah dengan adil sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil, dan Dia akan menjaga serta memberi pahala kepada mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka orang-orang yang gemar mendengar berita-berita bohong dan banyak memakan yang haram) dibaca suht atau suhut, artinya barang haram seperti uang suap (maka jika mereka datang kepadamu) untuk meminta sesuatu keputusan (maka putuskanlah di antara mereka atau berpalinglah dari mereka) pilihan di antara alternatif ini dihapus/dinasakh dengan firman-Nya, ".....
maka putuskanlah di antara mereka." Oleh sebab itu jika mereka mengadukan hal itu kepada kita wajiblah kita memberikan keputusannya di antara mereka.
Dan ini merupakan yang terkuat di antara kedua pendapat Syafii.
Dan sekiranya mereka mengadukan perkara itu bersama orang Islam, maka hukum memutuskan itu wajib secara ijmak.
(Jika mereka berpaling daripadamu, maka sekali-kali tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun juga.
Dan jika kamu memutuskan) perkara di antara mereka (maka putuskanlah di antara mereka dengan adil) tidak berat sebelah.
(Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil) dalam memberikan keputusan dan akan memberi mereka pahala.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang Yahudi itu menggabungkan antara mendengarkan kebohongan dengan memakan yang haram.
Bila mereka datang untuk memintamu sebagai penengah bagi mereka, maka tetapkanlah keputusan di antara mereka atau biarkanlah mereka.
Bila kamu tidak menetapkan diantara mereka, maka mereka tidak akan mampu menimpakan mudharat apapun atas kalian.
Namun bila kamu menetapkan hukum diantara mereka, maka tetapkanlah dengan adil.
Sesungguhnya Allah menyintai orang-orang yang adil.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.,

Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari Allah.
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka.
Mereka beroleh kehina­an di dunia dan di akhirat, mereka beroleh siksaan yang besar.
Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong.

Yaitu kebatilan.

banyak memakan yang haram.

Yakni suka memakan hal yang haram, yaitu suap, seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dalam takwil ayat ini.
Dengan kata lain, orang yang bersifat demikian mana mungkin hatinya dibersihkan oleh Allah, dan mana mungkin diperkenankan baginya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman kepada Nabi-Nya:

Jika mereka datang kepadamu.

Yaitu mereka datang kepadamu untuk meminta putusan hukum.

maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka atau ber­palinglah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun.

Yakni jangan menjadi beban bagimu jika kamu tidak mau memutuskan perkara di antara sesama mereka, karena sesungguhnya mereka bertujuan dalam permintaan keputusan mereka kepadamu hanya semata-mata untuk mencapai kesesuaian pendapat dengan hawa nafsu mereka, dan bukan karena ingin mencari hakikat kebenaran.

Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, As-Saddi, Zaid ibnu Aslam, Ata Al-Khurrasani, dan Al-Hasan serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa ayat di atas di-mansukh oleh firman-Nya:

...dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil.

Yakni dengan hak dan adil, sekalipun mereka adalah orang-orang yang zalim lagi keluar dari jalur keadilan.

...sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
mengingkari pendapat-pendapat mereka yang rusak dan tujuan mereka yang menyimpang karena mereka meninggal­kan apa yang mereka yakini kebenarannya dari kitab yang ada di tangan mereka sendiri.
Padahal menurut keyakinan mereka dianjurkan berpegang teguh kepada kitab mereka sendiri untuk selama-lamanya.
Tetapi ternyata mereka menyimpang dari hukum kitabnya dan menye­leweng kepada lainnya yang sejak semula menurut keyakinan mereka dianggap batil dan bukan merupakan pegangan mereka.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Maa'idah (5) Ayat 42

Diriwayatkan oleh al-Humaidi di dalam Musnad-nya, yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah.
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, yang bersumber dari Abu Hurairah.
Bahwa seorang laki-laki dari suku Fadak telah berzina.
Orang-orang Fadak menulis surat kepada orang-orang Yahudi di Madinah agar mereka bertanya kepada Muhammad tentang hukuman bagi pezina itu.
Maka jika beliau memerintahkan dijilid (dipukuli), terimalah, dan jika beliau memerintahkan supaya dirajam, jangan diterima.
Orang-orang Yahudi di Madinah bertanya kepada Nabi ﷺ.
Nabi pun menjawab seperti yang tersebut dalam hadits di atas.kemudian diperintahkan agar orang tersebut dirajam.
Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Maa-idah: 42) sebagai tuntunan agar Nabi menetapkan hukum sesuai dengan hukum Allah.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 42

SUHT
لسُّحْت

Menurut bahasa, lafaz suht ini bermakna kebinasaan dan kehancuran. Menurut istilah, ia bermakna penghasilan yang tidak halal dan lazimnya dicela seperti rasuah dan se­bagainya, atau penghasilan yang haram. Dinamakan demikian karena ia tidak akan kekal baginya, atau merusakkan ketaatan dan membinasakan martabat manusia.

Dalam Al Qur'an, lafaz ini disebut tiga kali yaitu dalam surah Al Maa'idah (5), ayat 42, 62 dan 63.

Al Qurtubi berkata,
"As suht ialah harta yang haram karena ia menghilangkan ketaatan terhadap agama. Apabila agama hilang, binasalah martabat dan tidak ada martabat bagi siapa yang tidak ada agama baginya."

Ibn Qutaibah berkata,
"As suht adalah harta rasuah berdasarkan riwayat Ibn Mas'ud dan lain-lainnya."

Umar bin al­ Khattab berkata,
"Rasuah seorang hakim tergolong dari as suht"

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad, beliau bersabda, "Setiap daging yang tumbuh dengan as suht, maka api neraka lebih baik baginya" Sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa ituas suht" Beliau menjawab, "Ia adalah rasuah dalam penghakiman."

Ibn Khuwayz Mandad berkata,
"Tergolong dari as suht adalah seorang lelaki me­makan dengan kedudukannya yaitu apabila ia memiliki kedudukan dan pangkat, lalu seorang meminta kepadanya sesuatu hajat dan ia tidak memperolehnya kecuali dengan merasuah, maka lelaki tadi mengambilnya."

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:303-304

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa'

Surat ini dinamakan "Al Maa-idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi 'Isa 'alaihis salam meminta kepada Nabi 'Isa 'alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi 'Isa 'alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi'ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi 'Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu'min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka'bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 42 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 42



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.6
Rating Pembaca: 4.8 (28 votes)
Sending