Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 41


یٰۤاَیُّہَا الرَّسُوۡلُ لَا یَحۡزُنۡکَ الَّذِیۡنَ یُسَارِعُوۡنَ فِی الۡکُفۡرِ مِنَ الَّذِیۡنَ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ قُلُوۡبُہُمۡ ۚۛ وَ مِنَ الَّذِیۡنَ ہَادُوۡا ۚۛ سَمّٰعُوۡنَ لِلۡکَذِبِ سَمّٰعُوۡنَ لِقَوۡمٍ اٰخَرِیۡنَ ۙ لَمۡ یَاۡتُوۡکَ ؕ یُحَرِّفُوۡنَ الۡکَلِمَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَوَاضِعِہٖ ۚ یَقُوۡلُوۡنَ اِنۡ اُوۡتِیۡتُمۡ ہٰذَا فَخُذُوۡہُ وَ اِنۡ لَّمۡ تُؤۡتَوۡہُ فَاحۡذَرُوۡا ؕ وَ مَنۡ یُّرِدِ اللّٰہُ فِتۡنَتَہٗ فَلَنۡ تَمۡلِکَ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا ؕ اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُرِدِ اللّٰہُ اَنۡ یُّطَہِّرَ قُلُوۡبَہُمۡ ؕ لَہُمۡ فِی الدُّنۡیَا خِزۡیٌ ۚۖ وَّ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaarrasuulu laa yahzunkal-ladziina yusaari’uuna fiil kufri minal-ladziina qaaluuu aamannaa biafwaahihim walam tu’min quluubuhum waminal-ladziina haaduu sammaa’uuna lilkadzibi sammaa’uuna liqaumin aakhariina lam ya’tuuka yuharrifuunal kalima min ba’di mawaadhi’ihi yaquuluuna in uutiitum hadzaa fakhudzuuhu wa-in lam tu’tauhu faahdzaruu waman yuridillahu fitnatahu falan tamlika lahu minallahi syai-an uula-ikal-ladziina lam yuridillahu an yuthahhira quluubahum lahum fiiddunyaa khizyun walahum fii-aakhirati ‘adzaabun ‘azhiimun;

Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:
“Kami telah beriman”,
padahal hati mereka belum beriman, dan (juga) di antara orang-orang Yahudi.
(Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu, mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya.
Mereka mengatakan:
“Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”.
Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah.
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka.
Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.
―QS. 5:41
Topik ▪ Hari Kiamat ▪ Nama-nama hari kiamat ▪ Sikap Yahudi terhadap agama-agama samawi
5:41, 5 41, 5-41, Al Maa’idah 41, AlMaaidah 41, Al Maidah 41, AlMaidah 41, Al-Ma’idah 41
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 41. Oleh Kementrian Agama RI

Imam Ahmad meriwayatkan dari Al Barra bin Azib bahwa seorang Yahudi yang telah dihitamkan mukanya dan dipukul serta dibawa kepada Rasulullah ﷺ beliau bersabda, “Beginilah caranya kamu menghukum orang yang berzina, yang kamu dapati dalam kitab Tauratmu?”
Mereka menjawab, “Ya, Wahai Rasulullah”,
Rasulullah memanggil seorang tokoh mereka dan bersabda, “Saya minta kepadamu demi Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, beginikah yang kamu dapati dalam kitab Taurat mengenai hukuman terhadap orang yang berzina”.
Jawabnya, “Tidak, demi Allah seandainya tidak kamu terangkan kepadaku, hai, Muhammad, saya tidak akan memberitahukan.
Kami menemukan di dalam kitab Taurat bahwa hukuman bagi orang-orang yang berzina itu ialah rajam.
Tetapi perbuatan zina itu banyak terjadi pada orang-orang besar kami, kalau seorang pembesar yang melakukannya mereka tidak dihukum, jika yang melakukannya orang-orang yang lemah, maka terhadapnya kami laksanakan hukuman rajam itu.
Untuk itu kita tetapkan satu hukum yang berlaku secara umum, baik terhadap para pembesar maupun kepada orang-orang yang lemah, maka diputuskanlah bersama-sama, yaitu dengan cara menghitamkan mukanya serta menderanya sebagai pengganti rajam.
Maka Rasulullah ﷺ berkata, “Ya Allah! Aku ini yang mula-mula menghidupkan dan menegakkan perintah-Mu setelah mereka mematikan dan tidak memakainya lagi”.
Kemudian Rasulullah memerintahkan supaya orang itu dirajam, maka dirajamlah ia, lalu turunlah ayat ini.
(H.R.
Ahmad dan Muslim)

Dalam ayat 41 ini Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Rasulullah ﷺ agar beliau jangan sampai merasa sedih dan cemas karena perbuatan orang-orang munafik yang bersegera memperlihatkan kekafiran dan menampakkan permusuhannya, karena pada waktunya nanti Allah subhanahu wa ta’ala akan melindungi beliau dari perbuatan jahat mereka dan memenangkannya atas mereka serta segenap pembantu dan pendukung mereka.

Ada di antara mereka yang mengaku beriman dengan ucapan tetapi hati mereka tetap ingkar dan tidak beriman, begitu pula halnya sebagian dari orang orang Yahudi.

Mereka itu amat senang mendengar perkataan dari orang cendekiawan dan pendeta, begitu pula dari orang-orang yang benci kepada Nabi Muhammad ﷺ.
dan tidak pernah bertemu dengan beliau, terutama mendengar ceramah-ceramah dan berita-berita bohong yang telah dipalsukan untuk menjelek-jelekkan nabi Muhammad ﷺ.
dan melemahkan semangat kaum Muslimin agar meninggalkan ajaran-ajarannya.

Mereka tidak segan-segan merubah isi kitab Taurat mereka pindah-pindahkan, sehingga yang tempatnya di depan diletakkan di belakang, begitu pula sebaliknya.
Pengertiannya diselewengkan dan lain-lain sebagainya, misalnya, mengganti hukuman rajam bagi orang yang berzina dengan hukuman dera dan menghitamkan mukanya.
Mereka berkata kepada satu perutusan dari mereka sendiri yang ditugaskan pergi kepada Bani Quraizah untuk meminta agar mereka menanyakan kepada Nabi ﷺ.
hukuman terhadap dua orang pemuka yang telah berzina dan pernah kawin.
Mereka berpesan sebagai berikut, “Kalau Muhammad menjawab bahwa, hukumannya ialah dera, menghitamkan muka, maka terima dan ambillah fatwanya itu.
Tetapi kalau ia menjawab dengan selain dari pada itu dan menegaskan bahwa hukumannya ialah rajam, maka hindarilah dia dan jangan diterima”.

Orang-orang yang dikehendaki Allah subhanahu wa ta’ala kesesatannya karena perbuatannya yang keterlaluan itu, maka tidak ada suatu petunjukpun yang dapat mereka terima meskipun petunjuk itu datangnya dari Rasulullah ﷺ

Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menyucikan lagi hati orang munafik dan orang-orang Yahudi itu karena mereka berpegang teguh dan tidak mau bergeser sedikitpun dari kekafiran dan kesesatannya.
Di dunia ini orang-orang munafik itu memperoleh kehinaan dan merasa malu sekali karena kemunafikannya terungkap dan diketahui oleh orang-orang Islam, sedang orang-orang Yahudi juga memperoleh kehinaan karena perbuatan jahatnya dapat diketahui, begitu juga perbuatan mereka menyembunyikan isi kitab Taurat, misalnya hukuman rajam.
Dan di samping itu semua, di akhirat kelak akan memperoleh juga siksaan yang besar.
Mereka akan disiksa terus menerus, tidak berkesudahan dan tidak akan dikeluarkan dari neraka sepanjang masa.

Al Maa'idah (5) ayat 41 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 41 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 41 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Rasulullah, janganlah perbuatan orang-orang kafir yang tingkat kekufurannya selalu berpidah- pindah dan segera menampakkan kekufuran itu membuatmu sedih dan gelisah.
Di antara mereka ada orang-orang yang selalu menipu dan mengatakan, “Kami beriman,” padahal hati mereka tidak mengikuti kebenaran.
Juga orang-orang Yahudi yang selalu mendengarkan berita-berita dusta dari para pendeta mereka dan mempercayainya, dan mereka suka mendengarkan dan mempercayai perkataan dari sebagian golongan mereka yang tidak menghadiri majlismu karena sombong dan benci.
Mereka mengubah apa yang ada dalam kitab Tawrat setelah ditetapkan Allah pada tempatnya, dan berkata kepada para pengikutnya, “Jika didatangkan kepada kalian perkataan yang diubah dan diganti ini, maka terimalah dan taatilah, dan jika tidak didatangkan kepadamu, maka berhati-hatilah untuk menerima perkataan yang lain.
Janganlah kamu bersedih hati, wahai Muhammad.
Sebab barangsiapa disesatkan oleh Allah dan ditutup hatinya, maka kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepadanya.
Mereka itu benar-benar sesat dan durhaka, dan Allah tidak akan menyucikan hati mereka dari sifat dengki, durhaka dan kufur.
Mereka di dunia akan mendapat kehinaan berupa aib dan kekalahan, sedang di akhirat kelak mereka akan mendapat siksa yang amat pedih.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai Rasul, janganlah kamu menjadi bersedih hati oleh) disebabkan perbuatan (orang-orang yang berlomba-lomba dalam kekafiran) hingga tanpa menunggu lama mereka akan terjatuh di dalamnya, artinya bila ada kesempatan mereka akan menyatakan kekafiran itu (di antara) min merupakan penjelasan (orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, “Kami telah beriman.”) maksudnya dengan lidah mereka nyatakan hal tersebut (padahal hati mereka tidak beriman) mereka ini ialah orang-orang munafik (dan juga di antara orang-orang Yahudi) yakni suatu kaum (yang amat gemar mendengar berita-berita bohong) yang dibuat-buat oleh pendeta-pendeta mereka lalu mereka terima dengan baik (dan amat suka pula mendengar berita-berita) daripadamu (untuk suatu kaum) artinya demi kepentingan kaum (yang lain) dari golongan Yahudi (yang belum pernah datang kepadamu) yakni warga Khaibar.
Terdapat di sana sepasang laki-laki dan perempuan yang telah berumah tangga melakukan perzinaan, tetapi mereka berkeberatan untuk menjalankan hukuman rajam kepada kedua pesakitan.
Lalu mereka mengirimkan orang-orang warga Quraizhah untuk menanyakan hukuman mereka itu kepada Nabi Muhammad ﷺ (Mereka mengubah-ubah perkataan) yang tercantum dalam Taurat seperti ayat tentang rajam (dari tempat-tempatnya) yang ditaruh Allah padanya, artinya mereka menggantikannya dengan yang lain.
(Kata mereka) yakni kepada orang-orang yang mereka utus tadi (“Jika yang diberikan kepadamu itu ialah ini) maksudnya hukum yang telah dirubah dan difatwakan oleh Muhammad yaitu hukum pukulan (maka ambillah) terimalah (tetapi jika bukan itu yang diberikan kepadamu) dan fatwa yang diberikannya bertentangan dengannya (maka berhati-hatilah.”) untuk menerimanya.
(Siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka kamu sekali-kali tidak akan dapat menguasai sesuatu yang datang dari Allah) untuk menolaknya (mereka itu ialah orang-orang yang tidak dikehendaki Allah menyucikan hati mereka) dari kekafiran, dan sekiranya dikehendaki-Nya tentulah hal itu akan tercapai.
(Bagi mereka di dunia ini kehinaan) kenistaan dengan terbukanya rahasia dan pembayaran upeti (sedangkan di akhirat siksa yang besar.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai Rasul, janganlah kamu dibuat sedih oleh orang-orang yang bersegera dalam mendustakan kenabianmu dari kalangan orang-orang munafik yang memperlihatkan Islam sedangkan hati mereka kosong darinya, karena sesungguhnya Aku menolongmu atas mereka.
Janganlah kamu dibuat sedih oleh kecepatan orang-orang Yahudi dalam mengingkari kenabianmu, karena mereka adalah suatu kaum yang hanya mendengarkan kebohongan, menerima pemalsuan yang dibuat oleh para ahli agama mereka dan mengikuti kaum yang lain yang tidak menghadiri majlismu.
Kaum yang lain tersebut mengganti kalam Allah setelah mereka memahaminya.
Mereka berkata :
Bila kalian menerima keterangan dari Muhammad yang sesuai dengan keterangan Taurat yang telah kami rubah dan ganti maka terimalah ia.
Bila sebaliknya maka waspadailah ia dan jangan menerima dan mengamalkannya.
Barangsiapa yang dikehendaki kesesatannya oleh Allah maka kamu wahai Rasul tidak akan sanggup menolaknya darinya, dan kamu tidak mampu memberinya petunjuk.
Allah tidak berkehendak membersihkan hati orang-orang munafik dan orang-orang Yahudi dari kotoran kekufuran, bagi mereka kehinaan dan kerendahan di dunia dan bagi mereka siksa yang besar di akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang bersegera kepada kekafiran, keluar dari jalur taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta lebih mendahulukan kepentingan pendapat dan hawa nafsu serta kecenderungan mereka atas syariat-syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

…dari kalangan orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, “Kami telah beriman, “padahal hati mereka belum beriman.

Yakni mereka menampakkan iman melalui lisannya, sedangkan hati mereka rusak dan kosong dari iman, mereka adalah orang-orang munafik.

…dan (juga) dari kalangan orang-orang Yahudi.

Mereka adalah musuh agama Islam dan para pemeluknya, mereka semuanya mempunyai kegemaran.

…amat suka mendengar (berita-berita) bohong.

Yakni mereka percaya kepada berita bohong dan langsung terpengaruh olehnya.

…dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu.

Mereka mudah terpengaruh oleh kaum lain yang belum pernah datang ke majelismu, Muhammad.

Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah “mereka senang mendengarkan perkataanmu, lalu menyampaikannya kepada kaum lain yang tidak hadir di majelismu dari kalangan musuh-musuhmu”.

…mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya.

Yakni mereka menakwilkannya bukan dengan takwil yang sebenarnya dan mengubahnya sesudah mereka memahaminya, sedangkan mereka mengetahui.

Mereka mengatakan, “Jika diberikan ini (yang sudah diubah-ubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.”

Menurut suatu pendapat, ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu kaum dari kalangan orang-orang Yahudi yang telah melakukan suatu pembunuhan terhadap seseorang (dari mereka).
Dan mereka mengata­kan, “Marilah kita meminta keputusan kepada Muhammad.
Jika dia memutuskan pembayaran diat, maka terimalah hukum itu.
Dan jika dia memutuskan hukum qisas, maka janganlah kalian dengar (turuti) keputusannya itu.”

Tetapi yang benar ialah yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang Yahudi yang berbuat zina, sedangkan mereka telah mengubah Kitabullah yang ada di tangan mereka, antara lain ialah perintah menghukum rajam orang yang berzina muhsan di antara mereka.

Mereka telah mengubahnya dan membuat peristilahan tersendiri di antara sesama mereka, yaitu menjadi hukuman dera seratus kali, mencoreng mukanya (dengan arang), dan dinaikkan ke atas keledai secara terbalik (lalu dibawa ke sekeliling kota).

Ketika peristiwa itu terjadi sesudah hijrah, mereka (orang-orang Yahudi) berkata di antara sesama mereka, “Marilah kita meminta keputusan hukum kepadanya (Nabi ﷺ).
Jika dia memutuskan hukuman dera dan mencoreng muka pelakunya, terimalah keputusannya, dan jadikanlah hal itu sebagai hujah (alasan) kalian terhadap Allah, bahwa ada seorang nabi Allah yang telah memutuskan demikian di antara kalian.
Dan apabila dia memutuskan hukuman rajam, maka janganlah kalian mengikuti keputusannya.”

Hal tersebut disebutkan oleh banyak hadis:

antara lain diriwayatkan oleh Malik, dari Nafi’, dari Abdullah ibnu Umar r.a., bahwa orang-orang yahudi datang kepada Rasulullah ﷺlalu mereka melaporkan bahwa ada seorang lelaki dari kalangan mereka berbuat zina dengan seorang wanita.
Maka Rasulullah ﷺ bertanya kepada mereka: Apakah yang kalian jumpai di dalam kitab Taurat mengenai hu­kum rajam?
Mereka menjawab, “Kami permalukan mereka, dan mereka dihukum dera.” Abdullah ibnu Salam berkata, “Kalian dusta, sesungguhnya di dalam kitab Taurat terdapat hukum rajam.” Lalu mereka mendatangkan sebuah kitab Taurat dan membukanya, lalu seseorang di antara mereka meletakkan tangannya pada ayat rajam, dan ia hanya membaca hal yang sebelum dan yang sesudahnya.
Maka Abdullah ibnu Salam berkata, “‘Angkatlah tanganmu!” Lalu lelaki itu mengangkat tangannya, dan ternyata yang tertutup itu adalah ayat rajam.
Lalu mereka berkata, “Benar, hai Muhammad, di dalamnya terdapat ayat rajam.” Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan agar keduanya dijatuhi hukuman rajam, lalu keduanya dirajam.
Abdullah ibnu Umar melanjut­kan kisahnya, “Aku melihat lelaki pelaku zina itu membungkuk di atas tubuh wanitanya dengan maksud melindunginya dari lemparan batu rajam.”

Hadis diketengahkan oleh Syaikhain, dan hadis di atas menurut lafaz Imam Bukhari.

Menurut lafaz yang lain, dari Imam Bukhari, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bertanya kepada orang-orang Yahudi:

Apakah yang akan kalian lakukan terhadap keduanya?
Mereka menjawab, “Kami akan mencoreng muka mereka dengan arang dan mencaci makinya.” Nabi ﷺ bersabda membacakan firman-Nya: Maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kalian orang-orang yang benar.
(Ali Imran:93) Lalu mereka mendatangkannya dan berkata kepada seorang lelaki di antara mereka yang mereka percayai, tetapi dia bermata juling, “Bacalah!” Lalu lelaki itu membacanya hingga sampai pada suatu bagian, lalu ia meletakkan tangannya pada bagian itu.
Maka Nabi ﷺ bersabda, “Angkatlah tanganmu!” Lalu lelaki itu mengangkat tangan­nya, dan ternyata tampak jelas adanya ayat hukum rajam.
Kemudian lelaki itu berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya di dalam kitab Taurat memang ada hukum rajam, tetapi kami menyembunyikannya di antara kami.” Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar keduanya dihukum rajam, lalu keduanya dirajam.

Menurut lafaz yang ada pada Imam Muslim:

disebutkan bahwa dihadapkan kepada Rasulullah ﷺ seorang lelaki Yahudi dan seorang perempuan Yahudi yang telah berbuat zina.
Tetapi Rasulullah ﷺ tidak menanggapinya sehingga datang orang-orang Yahudi, lalu beliau bertanya: Hukum apakah yang kalian jumpai di dalam kitab Taurat sehubung­an dengan orang yang berbuat zina?
Mereka menjawab, “Kami harus mencoreng muka kedua pelakunya dengan arang, lalu kami naikkan mereka ke atas kendaraan dengan tubuh yang terbalik, hingga muka kami saling berhadapan dengan muka mereka,kemudian diarak (ke sekeliling kota).” Nabi ﷺ membacakan firman-Nya: Maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kalian orang-orang yang benar.
(Ali Imran:93) Maka mereka mendatangkan kitab Taurat dan membacanya.
Ketika bacaannya sampai pada ayat rajam, pemuda yang membacakannya meletakkan tangannya pada ayat rajam, dan ia hanya membaca hal yang sebelum dan sesudahnya saja.
Maka Abdullah ibnu Salam yang saat itu berada di samping Rasulullah ﷺ berkata (kepada Rasulullah ﷺ), Perintahkanlah kepadanya agar mengangkat tangannya!” Pemuda itu mengangkat tangannya, dan ternyata di bawahnya terdapat ayat rajam.
Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan agar kedua pezina itu dihukum rajam, lalu keduanya dirajam.
Abdullah ibnu Umar mengatakan bahwa dirinya termasuk orang yang ikut merajam keduanya, dan dia melihat pelaku laki-laki melin­dungi pelaku perempuan dari lemparan batu dengan tubuhnya.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sa’id Al-Hamdani, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Sa’d, Zaid ibnu Aslam telah menceritakan kepadanya, dari Ibnu Umar yang telah mengatakan bahwa segolongan orang-orang Yahudi datang, lalu mereka mengundang Rasulullah ﷺ ke suatu tempat yang teduh, tetapi Rasulullah ﷺ mendatangi mereka di rumah tempat mereka mengaji kitab Taurat.
Lalu mereka bertanya, ”Hai Abul Qasim, sesungguhnya seorang lelaki dari kalangan kami telah berbuat zina dengan seorang wanita, maka putuskanlah perkaranya.” Ibnu Umar mengatakan bahwa mereka menyediakan sebuah bantal untuk Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ duduk di atasnya.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Datangkanlah kepadaku kitab Taurat.” Maka kitab Taurat didatangkan, dan Nabi ﷺ mencabut bantal yang didudukinya, lalu meletakkan kitab Taurat di atas bantal itu, kemudian bersabda, “Aku beriman kepadamu dan kepada Tuhan Yang telah menurunkanmu.” Selanjutnya beliau ﷺ bersabda, “Datangkanlah kepadaku orang yang paling alim di antara kalian.” Lalu didatangkan oleh mereka seorang pemuda.
Kemudian disebutkan kisah hukum ra­jam seperti yang terdapat pada hadis Malik, dari Nafi’.

Az-Zuhri mengatakan bahwa ia pernah mendengar seorang lelaki dari kalangan Bani Muzayyanah yang dikenal selalu mengikuti ilmu dan menghafalnya, saat itu kami sedang berada di rumah Ibnul Musayyab.
Lelaki itu menceritakan sebuah hadis dari Abu Hurairah, bahwa pernah ada seorang lelaki Yahudi berbuat zina dengan seorang wanita.
Maka sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Berangkatlah kalian untuk meminta keputusan kepada Nabi ini.
Karena sesungguhnya dia diutus membawa keringanan.
Maka jika dia memberikan fatwa kepada kami selain hukum rajam, kita menerimanya, kita jadikan sebagai hujah (alasan) di hadapan Allah, dan kita akan katakan bahwa ini adalah fatwa keputusan dari salah seorang di antara nabi-nabi-Mu.” Lalu mereka datang menghadap Nabi ﷺ yang saat itu sedang duduk dengan para sahabatnya di masjid.
Lalu mereka berkata, “Hai Abul Qasim, bagaimanakah pendapatmu tentang seseorang lelaki dan seorang wanita yang berbuat zina dari kalangan kaum yang sama?”
Nabi ﷺ tidak menjawab sepatah kata pun melainkan beliau langsung datang ke tempat Midras mereka, lalu beliau berdiri di pintunya dan bersabda: Aku bertanya kepada kalian, demi Allah Yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, apakah yang kalian jumpai dalam ki­tab Taurat tentang orang yang berzina apabila ia telah muhsan (telah terpelihara karena telah kawin)?
Mereka menjawab, “Wajahnya dicorengi dengan arang, kemudian di­arak ke sekeliling kota dan didera.”

Istilah tajbiyah dalam hadis ini ialah ” kedua orang yang berzina dinaikkan ke atas seekor keledai dengan tengkuk yang saling berhadapan, lalu keduanya di arak ke sekeliling kota (yakni dipermalukan)”.

Dan terdiamlah seorang pemuda dari mereka.
Ketika Rasulullah ﷺ melihatnya terdiam, maka beliau menanyainya dengan gencar.
Akhirnya ia berkata, “Ya Allah, karena engkau meminta kepada kami dengan menyebut nama-Mu, maka kami jawab bahwa sesungguhnya kami menjumpai adanya hukum rajam dalam kitab Taurat.” Nabi ﷺ bertanya (kepada pemuda itu), “Apakah perintah Allah yang mula-mula kalian selewengkan?”
Pemuda itu menjawab, “Seorang kerabat salah seorang raja kami pernah berbuat zina, maka hukum rajam ditangguhkan darinya.
Kemudian berbuat zina pula sesudahnya seorang dari kalangan rakyat, lalu si raja bermaksud menjatuhkan hukum rajam terhadapnya.
Akan tetapi, kaumnya menghalang-halangi dan membelanya, dan mereka mengatakan bahwa teman mereka tidak boleh dirajam sebelum raja itu mendatangkan temannya dan merajamnya.
Akhirnya mereka mereka-reka hukum ini di antara sesama mereka.” Maka Nabi ﷺ bersabda: Maka sesungguhnya aku sekarang akan memutuskan hukum menurut apa yang ada di dalam kitab Taurat.
Kemudian keduanya diperintahkan untuk dihukum rajam, lalu keduanya dirajam.

Az-Zuhri mengatakan, telah sampai kepada kami bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan mereka, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah.
(Al Maidah:44)

Nabi ﷺ termasuk salah seorang dari para nabi itu.
Imam Ahmad dan Imam Abu Daud serta Ibnu Jarir telah meriwayatkannya, sedangkan hadis ini menurut lafaz yang ada pada Imam Abu Daud.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Abdullah ibnu Murrah, dari Al-Barra ibnu Azib yang telah menceritakan bahwa lewat di hadapan Nabi ﷺ seorang Yahudi yang dicorengi mukanya dan didera.
Lalu Nabi ﷺ memanggil mereka (yang menggiringnya) dan bertanya, “Apakah memang demikian kalian jumpai dalam kitab kalian hukum had bagi orang yang berzina?”
Mereka menjawab, “Ya.” Maka Nabi ﷺ memanggil seorang lelaki dari ulama mereka, lalu bersabda kepadanya: Aku mau bertanya kepadamu demi Tuhan Yang telah menurun­kan Taurat kepada Musa.
Apakah memang demikian kalian jumpai hukuman had zina di dalam kitab kalian?
Lelaki itu menjawab, “Tidak, demi Allah, sekiranya engkau tidak bertanya kepadaku dengan menyebut sebutan itu, niscaya aku tidak akan menjawabmu.
Kami jumpai hukuman had zina di dalam kitab kami ialah hukum rajam.
Tetapi perbuatan zina telah membudaya di kalangan orang-orang terhormat kami.
Bila kami menangkap seseorang yang terhormat berbuat zina, kami membiarkannya, dan jika kami menangkap seorang yang lemah berbuat zina, maka kami tegakkan hukuman had terhadapnya.
Akhirnya kami berkata kepada sesama kami, ‘Marilah kita membuat suatu kesepakatan hukum yang berlaku atas orang yang terhormat dan orang yang lemah.’ Maka pada akhirnya kami sepakat untuk menggantinya dengan hukum mencoreng muka dan mendera pelakunya.” Nabi ﷺ bersabda: Ya Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang mula-mula menghidupkan perintah-Mu di saat mereka mematikannya.
Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan agar pelaku zina itu dihukum rajam, maka hukuman rajam dilaksanakan terhadap pezina itu.
Dan Allah menurunkan firman-Nya: Hai Rasul, janganlah kamu disedihkan oleh ulah orang-orang yang bersegera kepada kekafiran.
(Al Maidah:41) Sampai dengan firman-Nya: Mereka mengatakan, “Jika diberikan ini (yang sudah diubah oleh mereka) kepadamu, maka terimalah.
(Al Maidah:41), Yakni mereka berkata (kepada sesamanya), “Datanglah kalian kepada Muhammad.
Jika dia memberikan fatwa tahmim dan dera, maka terimalah, dan jika dia memberikan fatwa hukum rajam, maka hati-hatilah!” Hingga firman-Nya: Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
(Al Maidah:44), Menurut Al-Barra, ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Yahudi sampai dengan firman-Nya: Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.
(Al Maidah:45), Menurutnya ayat di atas diturunkan berkenaan dengan orang-orang Yahudi, sedangkan ayat berikut diturunkan berkenaan dengan semua orang kafir, yaitu firman-Nya: Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (Al Maidah:47)

Imam Muslim mengetengahkan hadis ini secara munfarid (menyendiri) tanpa Imam Bukhari, dan Imam Abu Daud, Imam Nasai serta Imam Ibnu Majah telah meriwayatkannya melalui banyak jalur dari Al-A’masy dengan lafaz yang sama.

Imam Abu Bakar Abdullah ibnuz Zubair Al-Humaidi di dalam kitab Musnad-nya telah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, telah menceritakan kepada kami Mujalid ibnu Sa’id Al-Hamdani, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir ibnu Abdullah yang telah mengatakan bahwa seorang lelaki dari kalangan penduduk Fadak berbuat zina.
Lalu penduduk Fadak menulis surat kepada orang Yahudi di Madinah untuk meminta mereka agar menanyakan hukumnya kepada Muhammad.
Tetapi dengan pesan “jika dia (Nabi ﷺ) memerintahkan untuk menghukum dera, maka terimalah hukum itu, tetapi jika dia memerintahkan untuk menegakkan hukum rajam, maka janganlah diterima”.
Kemudian mereka menanyakan hukum itu kepada Nabi Saw, Nabi ﷺ bersabda, “Kirimkanlah kepadaku dua orang lelaki yang paling alim dari kalangan kalian.” Lalu mereka mendatangkan seorang lelaki bermata juling —yang dikenal dengan nama Ibnu Suria— dan seorang lelaki Yahudi lainnya.
Nabi ﷺ berkata kepada mereka, “Kamu berdua adalah orang yang paling alim di antara orang-orang di belakangmu.” Keduanya menjawab, “Memang kaum kami menjuluki kami demikian.” Nabi ﷺ bertanya, “Bukankah kamu memiliki kitab Taurat yang di dalamnya terkandung hukum Allah?”
Keduanya menjawab, “Memang benar.” Nabi ﷺ bersabda: Aku mau bertanya kepada kalian, demi Tuhan Yang telah membe­lah laut untuk Bani Israil, dan memberikan naungan awan kepada kalian, dan menyelamatkan kalian dari cengkeraman Fir’aun dan bala tentaranya, serta Dia telah menurunkan kepada Bani Israil manna dan salwa, apakah yang kalian jumpai di dalam kitab Taurat mengenai hukum rajam?
Salah seorang dari mereka berdua berkata kepada yang lainnya, ”Engkau sama sekali belum pernah diminta dengan sebutan seperti itu.” Akhirnya keduanya mengatakan, “Kami menjumpai bahwa memandang secara berulang-ulang merupakan perbuatan zina, berpelukan merupakan perbuatan zina, dan mencium merupakan perbuatan zina.
Maka apabila ada empat orang mempersaksikan bahwa mereka telah melihat pelaku­nya memulai dan mengulangi perbuatannya (yakni naik turun alias ber­zina), sebagaimana seseorang memasukkan tusuk tutup botol celak ke dalam botol celak, maka sesungguhnya hukum rajam merupakan suatu keharusan (atas dirinya).” Nabi ﷺ bersabda, “Itulah yang aku maksudkan.” Lalu beliau memerintahkan agar pelakunya dihukum rajam, maka hukuman rajam dilaksanakan terhadap pezina itu.
Dan turunlah firman-Nya: Jika mereka datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka, jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun.
Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.
(Al Maidah:42)

Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Mujalid dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal.

Menurut lafaz Imam Abu Daud, dari Jabir:

disebutkan bahwa orang Yahudi datang dengan membawa seorang lelaki dan seorang wanita dari kalangan mereka yang telah berbuat zina.
Maka Nabi ﷺ bersabda, “Datangkanlah oleh kalian kepadaku dua orang lelaki yang paling alim dari kalian.” Maka mereka mendatangkan dua orang anak Suria, lalu Nabi ﷺ bertanya kepada keduanya, “Bagaimanakah kalian jumpai perkara kedua orang ini dalam kitab Taurat?”
Mereka menjawab, “Kami menjumpai apabila ada empat orang menyaksikan bahwa mereka benar-benar melihat zakarnya dimasukkan ke dalam farjinya seperti memasukkan batang celakan ke dalam botol celakan, maka keduanya harus dirajam.” Nabi ﷺ bertanya, “Mengapa kalian tidak mau merajam keduanya?”
Mereka berdua menjawab, “Kekuasaan kami telah lenyap, dan ka­mi tidak suka pembunuhan.” Maka Rasulullah ﷺ memanggil empat orang saksi.
Keempat saksi itu datang, lalu menyatakan persaksiannya bahwa mereka benar-benar melihat zakarnya dimasukkan seperti memasukkan batang celakan ke dalam botol celakan.
Lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan agar kedua pezina dijatuhi hukuman rajam.

Kemudian Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Asy-Sya’bi dan Ibrahim An-Nakha’i secara mursal, tetapi di dalamnya tidak disebutkan bahwa Nabi ﷺ memanggil empat orang saksi lalu mereka menyatakan persaksiannya.

Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memutus­kan hukum sesuai dengan apa yang terkandung di dalam kitab Taurat.
Tetapi hal ini bukan termasuk ke dalam bab menghormati mereka melalui apa yang diyakini benar oleh mereka, mengingat mereka telah diperintahkan untuk mengikuti syariat Nabi Muhammad tanpa dapat ditawar-tawar lagi.
melainkan hal ini merupakan wahyu yang khusus dari Allah subhanahu wa ta’ala menyangkut hal tersebut, lalu beliau ﷺ menanyakannya kepada mereka.
Tujuannya ialah untuk memaksa mereka agar mengakui apa yang ada di tangan mereka secara sebenarnya, yang selama ini mereka sembunyikan dan mereka ingkari serta tidak mereka jalankan dalam kurun waktu yang sangat lama.

Setelah mereka mengakuinya, padahal mereka menyadari bahwa penyelewengan, keingkaran, dan kedustaan mereka terhadap apa yang mereka yakini benar dari kitab yang ada di tangan mereka, lalu mereka memilih untuk meminta keputusan dari Rasulullah ﷺ hanyalah semata-mata timbul dari hawa nafsu dan perasaan senang atas keputusan yang sesuai dengan pendapat mereka, tetapi bukan karena meyakini kebenaran dari apa yang diputuskan oleh Nabi ﷺ Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala.
menyebutkan di dalam firman-Nya:

Jika kamu diberi ini.

Yaitu hukum mencoreng muka dan hukuman dera.

…maka ambillah.

Yakni terimalah keputusan itu.

Dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah.

Yakni janganlah kamu menerima dan mengikutinya.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Maa'idah (5) ayat 41
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abu Syaibah keduanya dari Abu Mu’awiyah, Yahya berkata,
telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Abdullah bin Murrah dari Al Barra bin Azib dia berkata,
Suatu ketika seorang Yahudi yang dicat hitam dan didera lewat di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau memanggil mereka seraya bersabda:
Beginikah hukuman zina yang kalian dapati dalam kitab Taurat kalian? mereka menjawab,
Ya benar. Lalu beliau memanggil seorang laki-laki yang tergolong dari ulama mereka, beliau bertanya: Aku mengharap kamu mau bersumpah dengan nama Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, betulkah begini caranya hukuman zina yang kalian dapati dalam kitab tauratmu? dia menjawab,
Tidak, seandainya anda tidak menyumpahku dengan nama Allah, aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepada anda. Dan yang kami ketahui dalam kitab Taurat, hukumannya adalah rajam, akan tetapi biasanya hukuman itu tidak berlaku bagi pembesar-pembesar kami, jika yang tertangkap itu dari pembesar, maka kami biarkan begitu saja, akan tetapi jika yang tertangkap rakyat kecil maka kami tegakkan hukum sesuai Taurat. Akhirnya kami bermusyawarah, membicarakan hukum yang dapat kami tegakkan bagi pembesar dan rakyat biasa. Lalu kami putuskan untuk membuat hitam tubuh dan mendera pelaku zina sebagai pengganti hukum rajam. Setelah laki-laki itu selesai bicara, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Ya Allah, sesungguhnya akulah orang yang pertama-tama menghidupkan kembali sunnah-Mu setelah mereka hapus perintah tersebut. Setelah itu, beliau memerintahkan supaya Yahudi yang berzina itu dihukum rajam, lalu Allah azza wajalla menurunkan ayat: Wahai rasul, janganlah kamu merasa sedih, karena orang-orang yang bersegera menuju kekafiran -hingga firman-Nya- Jika diberikan ini kepadamu, maka terimalah (Qs. Al Maidah: 41). Orang-orang Yahudi berkata,
Datanglah kalian kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam, jika beliau memutuskan hukuman kepadamu dengan menghitamkan tubuh dan didera, maka terimalah, namun jika dia berfatwa kepadamu dengan hukuman rajam, maka waspadalah. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat: Barangsiapa tidak berhukum dengan sesuatu yang telah di turunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Dan barangsiapa tidak berhukum dengan sesuatu yang telah diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang Zhalim. Dan barangsiapa tidak berhukum dengan sesuatu yang telah di turunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (Qs. Al Maidah: 44- 47). Hal ini juga berlaku kepada orang-orang kafir semuanya. Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dan Abu Sa’id Al Asyaj keduanya berkata,
telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Al A’masy dengan isnad seperti ini sampai kepada perkataannya, Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk merajamanya, akhirnya dia pun dirajam. Dan tidak menyebutkan sesuatu setelahnya seperti turunnya ayat.

Shahih Muslim, Kitab Hudud – Nomor Hadits: 3212

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Maa’idah (5) Ayat 41

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (al-Maa-idah: 41) turun berkenaan dengan dua golongan Yahudi.
Salah satu diantaranya, pada zaman Jahiliyah, suka mendzolimi orang lain, yaitu mereka memaksa hukum yang tidak seimbang.
Apabila si kuat (ekonominya) membunuh si lemah, maka fidyahnya (tebusannya) 50 wasaq.
Sebaliknya apabila si lemah membunuh si kuat, maka fidyahnya 100 wasaq.
Ketetapan ini berlaku hingga Rasulullah ﷺ diutus.
Pada suatu ketika si lemah membunuh si kuat.
Si kuat mengutus agar si lemah membayar fidyahnya 100 wasaq.
Berkatalah si lemah: “Apakah dapat terjadi di dua kampung yang agama, turunan, dan negaranya sama, membayar tebusan berbeda (setengah dari yang lain)?
Kami berikan sekarang ini dengan rasa dongkol, tertekan serta takut terjadi perpecahan.
Tapi sekiranya Muhammad sudah sampai kemari, kami tidak akan memberikan itu kepadamu.” Hampir saja terjadi peperangan di antara dua golongan itu.
Mereka bersepakat untuk menjadikan Rasulullah sebagai penengah.
Mereka mengutus orang-orang munafik untuk mengetahui pendapat Muhammad.
Ayat ini (al-Maa-idah: 41) diturunkan untuk memperingatkan Nabi agar tidak mengambil pusing perihal mereka.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan lain-lain, yang bersumberdari al-Barra’ bin ‘Azib.
Bahwa di depan Rasulullah ﷺ, berlalulah orang-orang Yahudi membawa seorang terhukum yang dijemur dan dipukuli.
Rasulullah ﷺ memanggil mereka dan bertanya: “Apakah demikian hukuman terhadap orang berzina yang kalian dapati di dalam kitab kalian?” Mereka menjawab:
“Ya.” Kemudian Rasulullah memanggil seorang ulama mereka dan bersabda: “Aku bersumpah atas Nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah demikian kamu dapati hukuman bagi orang yang berzina di dalam kitabmu?” Ia menjawab:
“Tidak.
Demi Allah, jika engkau tidak bersumpah lebih dulu, tidak akan kuterangkan.
Sesungguhnya hukuman bagi orang yang berzina di dalam kitab kami adalah dirajam (dilempari batu sampai mati).
Akan tetapi karena banyak pembesar-pembesar kami yang melakukan zina, maka kami mengabaikannya.
Namun apabila seorang hina berzina, kami tegakkan hukum sesuai dengan kitab.
Kemudian kami berkumpul dan mengubah hukuman tersebut dengan menetapkan hukuman yang ringan dilaksanakan, baik bagi orang hina dan pembesar, yaitu menjemur dan memukuliya.” Bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Ya Allah, sesungguhnya saya yang pertama menghidupkan perintah-Mu setelah dihapus oleh mereka.” Kemudian Rasulullah menetapkan hukum rajam, kemudian dirajamlah Yahudi pezina itu.
Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 41) samai dengan,….in uutiitum haadzaa fa khudzuuh…(…jika diberikan ini [yang sudah dirubah-rubah oleh mereka] kepada kamu, maka terimalah…).
Dalam peristiwa lain, kaum Yahudi mengutus orang-orang untuk meminta fatwa kepada Nabi Muhammad ﷺ, dengan catatan apabila fatwanya menyuruh agar pezina itu dijemur dan dipukuli sesuai dengan hukum yang mereka tetapkan, maka fatwa itu akan diterima.
Namun jika beliau memberi fatwa agar pezina itu dirajam, maka fatwa itu harus diabaikan.
Maka turunlah ayat berikutnya (al-Maa-idah: 41-45) yang memberi peringatan agar selalu menegakkan hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 41

AFWAAH
أَفْوَٰه

Lafaz afwaah adalah bentuk jamak dari al faah. Ia berarti terbukanya sesuatu, mu’annats-nya adalah yang bermakna mulut. Kata terbitan dari adalah al fawaah yang bermakna mulut yang luas.

Menurut ahli tatabahasa Arab, asal kata al jam adalah faah.

Kata afwaah disebut 12 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 118, 167;
-Al Maa’idah (5), ayat 41;
-At Taubah (9), ayat 8, 30, 32;
-Ibrahim (14), ayat 9;
-Al Kahfi (18), ayat 5;
-An Nuur (24), ayat 15;
-Al Ahzab (33), ayat 4;
-Yaa Siin (36), ayat 65;
-Ash Shaff (61), ayat 8.

Dalam ayat 118, surah Ali Imran, makna kata afwaah adalah alsinah yaitu lisan atau mulut, di mana penafsiran ayat itu adalah “nampak tanda-tanda permusuhan pada kamu melalui afwaah (lisan-lisan) mereka dan mereka tidak cukup memusuhi kamu dengan hati mereka saja, sehingga mereka berterus terang dengan mulut mereka.”

Begitu juga makna afwaah dalam ayat 167, apabila orang munafik seperti Ubai bin Salul dan pengikutnya pergi bersama Rasulullah pada Perang Uhud, namun mereka balik dan mengatakan, “Sekiranya kami tahu, pasti kami berperang bersama kamu,” sedangkan mereka sebenarnya mengatakan dengan lisan mereka ucapan yang bertentangan dengan hati mereka.

Sedangkan kata afwaah dalam surah Al Maa’idah ayat 41, penafsirannya adalah mereka menampakkan keimanan dengan afwaah (lidah atau mulut) mereka sedangkan hati mereka rusak dan kosong daripadanya, mereka itu adalah orang munafik.

Kesimpulannya, makna dan maksud dari kata afwaah pada keseluruhan ayat Al Qur’an ialah lisan atau mulut.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:24

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 41 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 41



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (27 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku