Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 39


فَمَنۡ تَابَ مِنۡۢ بَعۡدِ ظُلۡمِہٖ وَ اَصۡلَحَ فَاِنَّ اللّٰہَ یَتُوۡبُ عَلَیۡہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Faman taaba min ba’di zhulmihi wa-ashlaha fa-innallaha yatuubu ‘alaihi innallaha ghafuurun rahiimun;

Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
―QS. 5:39
Topik ▪ Taubat ▪ Keutamaan taubat ▪ Keingkaran dan sifat keras kepala bangsa Yahudi
5:39, 5 39, 5-39, Al Maa’idah 39, AlMaaidah 39, Al Maidah 39, AlMaidah 39, Al-Ma’idah 39
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa'idah (5) : 39. Oleh Kementrian Agama RI

Di zaman Rasulullah ﷺ ada seorang perempuan mencuri.
Hal ini dilaporkan kepada Rasulullah ﷺ oleh orang yang kecurian.
Mereka berkata, "Inilah perempuan yang telah mencuri harta benda kami, kaumnya akan menebusnya".
Nabi ﷺ.
bersabda, "Potonglah tangannya".
Kaumnya menjelaskan, "Kami berani menebusnya lima ratus dinar".
Nabi ﷺ.
bersabda, "Potonglah tangannya".
Maka dipotonglah tangan kanan perempuan itu.
Kemudian ia bertanya, "Apakah saya ini masih bisa diterima tobatku, ya Rasulullah?"
Beliau menjawab , "Ya, engkau hari ini bersih dari dosamu seperti pada hari engkau dilahirkan oleh ibumu".
Maka turunlah ayat ini.

Perempuan tersebut adalah seorang dari kabilah Bani Makzum, yang sangat mendapat perhatian dari pembesar-pembesar Quraisy.
Mula-mula mereka berusaha agar perempuan tersebut bebas dari hukuman potong tangan, lalu mereka mencari siapa kira-kira yang dapat menghubungi Rasulullah untuk membicarakan hal tersebut.
Kemudian ditunjuklah Usamah ibn Zaid karena ia adalah kesayangan Rasulullah ﷺ Ketika Usamah ibn Zaid mengunjungi Rasulullah ﷺ dan membicarakan hal tersebut, maka Rasulullah menjadi marah dan bersabda, "Apakah engkau akan membela sesuatu yang telah ditetapkan had dan hukumnya oleh Allah Azza wa jalla?"
Usamah menjawab, "Maafkanlah saya, wahai Rasulullah".

Sesudah itu Rasulullah ﷺ berpidato, antara lain beliau bersabda:

Bahwasanya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah karenasesungguhnya mereka apabila yang mencuri di antara mereka adalah orang-orang terkemuka.
maka mereka membiarkannya.
Tetapi apabila yang mencuri itu orang-orang lemah mereka itu dijatuhi hukuman.
Saya, demi Allah yang diriku berada di dalam tangan-Nya, andai kata Fatimah anak Muhammad mencuri, pastilah saya potong tangannya.
Kemudian diperintahkanlah memotong tangan perempuan itu, maka dipotonglah tangannya.
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Jadi barang siapa bertobat dari perbuatannya dan berjanji tidak akan mencuri lagi setelah ia menganiaya dirinya menjelekkan nama baiknya dan menodai kesucian kaumnya, lalu berbuat baik dengan mengembalikan curiannya, maka ia diampuni Allah, karena Allah Maha Pengampun bagi orang yang telah bertobat.
Dia Maha Penyayang bagi orang yang rendah hati yang suka mengakui kesalahannya.

Al Maa'idah (5) ayat 39 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 39 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 39 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Barangsiapa bertobat, memperbaiki perbuatannya dan beristikamah setelah melakukan kezaliman, maka Allah akan menerima pertobatannya.
Sesungguhnya Allah Mahaluas ampunan dan rahmat-Nya

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Siapa yang tobat setelah keaniayaannya) artinya tidak mencuri lagi (dan memperbaiki diri) atau amalnya (maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya.
Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) untuk menguraikan ini telah kita kemukakan keterangan yang lalu.
Maka dengan tobatnya itu tidaklah gugur hak manusia berupa hukum potong dan pengembalian harta.
Kemudian sunah menyatakan bahwa jika yang punya hak memberi maaf sebelum diadukan kepada imam, gugurlah hukum potong itu terhadapnya.
Dan inilah yang menjadi pendapat Syafii.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Barangsiapa yang bertaubat setelah dia mencuri dan melakukan perbaikan dalam segala amal perbuatannya, maka Allah menerima taubatnya.
Sesungguhnya Allah Maha menerima taubat hamba-hamba-Nya dan Maha Penyayang kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Yakni barang siapa sesudah melakukan tindak pidana pencurian, lalu bertobat dan kembali kepada jalan Allah, sesungguhnya Allah menerima tobatnya, menyangkut dosa antara dia dan Allah.
Adapun mengenai harta orang lain yang telah dicurinya, maka dia harus mengembali­kannya kepada pemiliknya atau menggantinya (bila telah rusak atau terpakai).
Demikianlah menurut takwil yang dikemukakan oleh jumhur ulama.

Imam Abu Hanifah mengatakan, "'Manakala pelaku pencurian telah menjalani hukum potong tangan, sedangkan barang yang dicurinya telah rusak di tangannya, maka dia tidak dibebani mengembalikan gantinya."

Al-Hafiz Abul Hasan Ad-Daraqutni telah meriwayatkan sebuah hadis melalui Abu Hurairah:

bahwa didatangkan kepada Rasulullah ﷺ seorang yang telah mencuri sebuah kain selimut.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku tidak menyangka dia mencuri." Si pencuri menjawab, "Memang benar, saya telah mencuri, wahai Rasulullah.”Nabi ﷺ bersabda, "Bawalah dia dan potonglah tangannya, kemudian obatilah dan hadapkanlah dia kepadaku.” Setelah tangannya dipotong, lalu ia dihadapkan lagi kepada Nabi ﷺ Maka Nabi ﷺ bersabda, "Bertobatlah kamu kepada Allah!" Si pencuri menjawab, "Aku telah bertobat kepada Allah.”Nabi ﷺ bersabda, "Allah menerima tobatmu."

Hadis ini telah diriwayatkan melalui jalur lain secara mursal.
Hadis yang berpredikat mursal dinilai kuat oleh Ali ibnul Madini dan Ibnu Khuzaimah.

Ibnu Majah telah meriwayatkan melalui hadis Ibnu Luhai'ah, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Abdur Rahman ibnu Sa'labah Al-Ansari, dari ayahnya, bahwa Umar ibnu Samurah ibnu Habib ibnu Abdu Syams datang kepada Nabi ﷺ, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguh­nya aku telah mencuri seekor unta milik Bani Fulan, maka bersihkanlah diriku." Lalu Nabi ﷺ mengirimkan utusan kepada mereka (Bani Fulan), dan ternyata mereka berkata, "Sesungguhnya kami kehilangan seekor unta milik kami." Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar dilakukan hukum potong tangan terhadap Umar ibnu Samurah.
Lalu tangan Umar ibnu Samurah dipotong, sedangkan Umar ibnu Samurah berkata (kepada tangannya): Segala puji bagi Allah Yang telah membersihkan diriku darimu, kamu hendak memasukkan tubuhku ke dalam neraka.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai'ah, dari Huyay ibnu Abdullah ibnu Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Amr yang telah menceritakan bahwa seorang wanita mencuri sebuah perhiasan, lalu orang-orang yang kecurian olehnya datang menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah, wanita ini telah mencuri milik kami." Maka Rasulullah ﷺbersabda : Potonglah tangan kanannya (Setelah menjalani hukum potong tangan) wanita itu bertanya, "Apakah masih ada jalan untuk bertobat?"
Rasulullah ﷺ bersabda: Engkau sekarang (terbebas) dari dosamu sebagaimana keadaan­mu di hari ketika kamu dilahirkan oleh ibumu.
Abdullah ibnu Amr melanjutkan kisahnya, "Lalu Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya:

Maka barang siapa bertobat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri.
maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'

Imam Ahmad telah meriwayatkan hal yang lebih sederhana dari itu.
Ia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai'ah, telah menceritakan kepadaku Huyay ibnu Abdullah, dari Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Amr, bahwa seorang wanita pernah melakukan pencurian di masa Rasulullah ﷺ Lalu orang-orang yang kecurian olehnya membawanya datang menghadap Rasulullah ﷺ Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita ini telah mencuri barang kami." Lalu kaumnya berkata, "Taksirlah kerugian yang diakibatkannya, kami bersedia menebusnya." Rasulullah ﷺ bersabda: Potonglah tangannya! Mereka (kaumnya) berkata, "Kami bersedia menebusnya dengan yang sebanyak lima ratus dinar." Tetapi Rasulullah ﷺ bersabda: Potonglah tangannya! Maka tangan kanan wanita itu dipotong.
Lalu wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah, apakah masih ada tobat bagiku?"
Rasulullah ﷺ bersabda: Ya, pada hari ini engkau terbebas dari dosamu sebagaimana keadaanmu ketika dilahirkan oleh ibumu.
Maka Allah menurunkan firman-Nya di dalam surat Al-Maidah, yaitu:

Maka barang siapa bertobat (di antara pencuri-pencuri itu) sesu­dah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Wanita yang disebutkan di dalam hadis ini berasal dari Bani Makhzum, hadis yang menceritakan perihal dia disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui riwayat Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah.
Disebutkan bahwa orang-orang Quraisy merasa kesusahan dalam menangani kasus pen­curian yang dilakukan oleh seorang wanita (dari kalangan mereka) pada masa Nabi ﷺ, tepatnya di masa perang kemenangan atas kota Mekah.

Mereka berkata, "Siapakah yang berani meminta grasi kepada Rasulullah ﷺ untuknya?"
Mereka menjawab, 'Tiada yang berani meminta grasi kepada Rasulullah ﷺ kecuali Usamah ibnu Zaid, orang kesayangan Rasulullah ﷺ" Kemudian wanita itu dihadapkan kepada Rasulullah ﷺ, lalu Usamah berbicara kepada Rasulullah ﷺ, meminta grasi untuk wanita itu.
Maka Wajah rasulullah berbubah memerah.
Lalu bersabda : Apakah kamu berani meminta grasi menyangkut suatu hukuman had yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
?
Maka Usamah ibnu Zaid berkata kepadanya, "Wahai Rasulullah, mohonkanlah ampun kepada Allah untukku." Kemudian pada sore harinya Rasulullah ﷺ berdiri dan berkhot­bah.
Pada mulanya beliau membuka khotbahnya dengan pujian kepada Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda: Amma Ba'du.
Sesungguhnya telah binasa orang-orang (umat-umat) sebelum kalian hanyalah karena bilamana ada seseorang yang terhormat dari kalangan mereka mencuri, maka mereka membiarkannya.
Dan bilamana ada seorang yang lemah (orang kecil) dari kalangan mereka mencuri, maka mereka menegakkan hukuman had terhadapnya.
Dan sesungguhnya aku sekarang, demi Tuhan Yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan­nya, seandainya Fatimah binti Muhammad (yakni putrinya) mencuri, niscaya aku potong tangannya.
Kemudian wanita yang telah mencuri itu diperintahkan untuk dijatuhi hukuman, lalu tangannya dipotong.
Siti Aisyah mengatakan bahwa sesudah itu wanita tersebut melakukan tobatnya dengan baik dan menikah, lalu dia datang dan melaporkan mengenai kemiskinan yang dialaminya kepada Rasulullah ﷺ

Demikian menurut lafaz yang ada pada Imam Muslim.

Menurut lafaz lain yang juga ada pada Imam Muslim, dari Siti Aisyah, disebutkan bahwa Siti Aisyah mengatakan, "Pada mulanya wanita dari kalangan Bani Makhzum itu meminjam sebuah barang, lalu dia mengingkarinya, maka Rasulullah ﷺ memerintahkan agar tangannya dipotong."

Ibnu Umar menceritakan, bahwa dahulu ada seorang wanita dari kalangan Bani Makhzum meminjam sebuah barang melalui orang lain, lalu dia mengingkarinya, maka Rasulullah ﷺ memerintahkan agar tangannya dipotong.
Imam Ahmad dan Imam Abu Daud telah meriwayatkannya dan demikianlah bunyi lafaznya.

Menurut lafaz yang lain, seorang wanita meminjam perhiasan milik orang lain, kemudian ia memilikinya.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Hendaklah wanita ini bertobat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengembalikan apa yang telah diambilnya kepada kaum yang memilikinya.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: Bangkitlah kamu, hai Bilal, dan peganglah tangannya, lalu potonglah.

Hukum-hukum mengenai pencurian ini diketengahkan oleh banyak hadis yang semuanya disebutkan di dalam kitab fiqih.

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa'

Surat ini dinamakan "Al Maa-idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi 'Isa 'alaihis salam meminta kepada Nabi 'Isa 'alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi 'Isa 'alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi'ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi 'Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu'min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka'bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 39 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 39



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.9
Rating Pembaca: 4.5 (15 votes)
Sending