QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 35 [QS. 5:35]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ ابۡتَغُوۡۤا اِلَیۡہِ الۡوَسِیۡلَۃَ وَ جَاہِدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِہٖ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuuut-taquullaha waabtaghuu ilaihil wasiilata wajaahiduu fii sabiilihi la’allakum tuflihuun(a);

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.
―QS. 5:35
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Kebakhilan dan ketamakan bangsa Yahudi
5:35, 5 35, 5-35, Al Maa’idah 35, AlMaaidah 35, Al Maidah 35, AlMaidah 35, Al-Ma’idah 35
English Translation - Sahih International
O you who have believed, fear Allah and seek the means (of nearness) to Him and strive in His cause that you may succeed.
―QS. 5:35

 

Tafsir surah Al Maa'idah (5) ayat 35

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 35. Oleh Kementrian Agama RI

Allah memerintahkan orang-orang mukmin supaya selalu berhati-hati, mawas diri jangan sampai terlibat di dalam suatu pelanggaran, melakukan larangan-larangan agama yang telah diperintahkan Allah untuk menjauhinya.

Menurut sebagian mufasir, menjauhi larangan Allah lebih berat dibandingkan dengan mematuhi perintah-Nya.
Tidak heran kalau di dalam Alquran, kata ittaqu yang maksudnya supaya kita menjaga diri jangan sampai melakukan larangan agama, disebut berulang sampai 69 kali, sedang kata ati’u yang berarti supaya kita patuh kepada perintah agama hanya disebutkan 19 kali.

Di samping menjaga diri memperketat terhadap hal-hal yang mungkin menyebabkan kita berbuat pelanggaran atau ketentuan-ketentuan agama, kita harus pula selalu mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah yaitu dengan jalan melaksanakan perintah-Nya dan mengamalkan segala sesuatu yang diridai.

Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Abu Wali, al-hasan, Zaid, ‘Ata, as-sauri dan lain-lain, mengartikan al-wasilah di dalam ayat ini dengan mendekatkan diri.
Mengenai pengertian ini, Ibnu Kasir dalam tafsirnya (2/52), berkata:

Pengertian yang telah diberikan oleh para imam ini, tidak terdapat perbedaan antara para mufasir.

Kata wasilah ada kalanya berarti tempat tertinggi di surga, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Apabila engkau bersalawat kepadaku, maka mintakanlah untukku
“wasilah”.
Lalu beliau ditanya:
“Wahai Rasullullah, apakah wasilah itu?.”
Rasullulah menjawab,
“Wasilah itu ialah derajat yang paling tinggi di Surga tidak ada yang akan mencapainya kecuali seorang saja dan saya berharap, sayalah orang itu.”
(Riwayat Ahmad dari Abu Hurairah).

Menjauhi dan meninggalkan larangan Allah serta melaksanakan perintah-Nya adalah hal-hal yang tidak mudah, karena nafsu yang ada pada tiap manusia itu selalu mengajak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan yang baik, yaitu melanggar dan meninggalkan perintah Allah sebagaimana firman-Nya:

اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ

“…sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”
(Yusuf [12]:53)

Oleh karena itu kita harus berjuang untuk mengekang hawa nafsu, mengatasi segala kesulitan dan mengelakkan semua rintangan yang akan menyebabkan kita bergeser dari jalan Allah agar kita berada di atas garis yang telah ditetapkan.
Dengan demikian kita akan memperoleh kebahagiaan yang telah dijanjikan oleh Allah.





URL singkat: risalahmuslim.id/5-35







5:35, 5 35, 5-35, Al Maa’idah 35, tafsir surat AlMaaidah 35, Al Maidah 35, AlMaidah 35, Al-Ma’idah 35



Iklan



Ikuti RisalahMuslim
               






Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta