Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 32 [QS. 5:32]

مِنۡ اَجۡلِ ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ
Min ajli dzalika katabnaa ‘ala banii israa-iila annahu man qatala nafsan bighairi nafsin au fasaadin fiil ardhi fakaannamaa qatalannaasa jamii’an waman ahyaahaa fakaannamaa ahyaannaasa jamii’an walaqad jaa-athum rusulunaa bil bai-yinaati tsumma inna katsiiran minhum ba’da dzalika fiil ardhi lamusrifuun(a);
Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.
Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.
Sesungguhnya Rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas.
Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.
―QS. Al Maa’idah [5]: 32

Daftar isi

Because of that, We decreed upon the Children of Israel that whoever kills a soul unless for a soul or for corruption (done) in the land – it is as if he had slain mankind entirely.
And whoever saves one – it is as if he had saved mankind entirely.
And our messengers had certainly come to them with clear proofs.
Then indeed many of them, (even) after that, throughout the land, were transgressors.
― Chapter 5. Surah Al Maa’idah [verse 32]

مِنْ dari

From
أَجْلِ sebab/oleh karena

time
ذَٰلِكَ itu/demikian

that,
كَتَبْنَا Kami tetapkan

We ordained
عَلَىٰ atas

on
بَنِىٓ Bani

(the) Children
إِسْرَٰٓءِيلَ Israil

(of) Israel
أَنَّهُۥ bahwasanya ia

that he
مَن barang siapa

who
قَتَلَ membunuh

kills
نَفْسًۢا seorang

a soul
بِغَيْرِ bukan karena

other than
نَفْسٍ seseorang

(for) a soul
أَوْ atau

or
فَسَادٍ membuat kerusakan

(for) spreading corruption
فِى di

in
ٱلْأَرْضِ bumi

the earth
فَكَأَنَّمَا maka seakan-akan

then (it) is as if
قَتَلَ ia membunuh

he has killed
ٱلنَّاسَ manusia

mankind,
جَمِيعًا seluruhnya

all,
وَمَنْ dan barang siapa

and whoever
أَحْيَاهَا menghidupkannya

saves it
فَكَأَنَّمَآ maka seakan-akan

then (it) is as if
أَحْيَا ia menghidupkan

he has saved
ٱلنَّاسَ manusia

mankind.
جَمِيعًا seluruhnya

all.
وَلَقَدْ dan sesungguhnya

And surely
جَآءَتْهُمْ telah datang kepada mereka

came to them
رُسُلُنَا Rasul-Rasul Kami

Our Messengers

Tafsir Quran

Surah Al Maa’idah
5:32

Tafsir QS. Al-Ma’idah (5) : 32. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini diterangkan suatu ketentuan bahwa membunuh seorang manusia berarti membunuh semua manusia, sebagaimana memelihara kehidupan seorang manusia berarti memelihara kehidupan semua manusia.
Ayat ini menunjukkan keharusan adanya kesatuan umat dan kewajiban mereka masing-masing terhadap yang lain, yaitu harus menjaga keselamatan hidup dan kehidupan bersama dan menjauhi hal-hal yang membahayakan orang lain.

Hal ini dapat dirasakan karena kebutuhan setiap manusia tidak dapat dipenuhinya sendiri, sehingga mereka sangat memerlukan tolong-menolong terutama hal-hal yang menyangkut kepentingan umum.
Sesungguhnya orang-orang Bani Israil telah demikian banyak kedatangan para rasul dengan membawa keterangan yang jelas, tetapi banyak di antara mereka itu yang melampaui batas ketentuan dengan berbuat kerusakan di muka bumi.

Akhirnya mereka kehilangan kehormatan, kekayaan dan kekuasaan yang kesemuanya itu pernah mereka miliki di masa lampau.

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 32. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Karena kezaliman dan sikap menyukai permusuhan yang ada pada sebagian manusia itu, maka Kami mewajibkan hukum bunuh terhadap orang yang menganiaya.
Sebab, barangsiapa yang membunuh seseorang tanpa sebab, atau tanpa alasan perbuatan kerusakan di muka bumi, ia seakan-akan membunuh semua manusia karena telah merusak kehormatan darah mereka.


Kemurkaan dan siksa Allah akibat tindakan membunuh satu orang sama seperti kemurkaan dan siksa-Nya akibat tindakan membunuh semua orang.
Barangsiapa memelihara kehidupan manusia, dengan menegakkan hukum kisas, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan semua orang, karena telah melindungi darah mereka.


Untuk itu, mereka akan mendapatkan pahala yang besar dari Tuhannya.
Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul Kami kepada mereka dengan memperkuat hukum Kami dengan bukti-bukti dan keterangan yang jelas.


Akan tetapi, kemudian, banyak di antara Bani Israil sesudah itu yang benar-benar melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi[1].


[1] Ayat ini menerangkan bahwa melakukan kezaliman dengan membunuh satu nyawa berarti melakukan kezaliam kepada semua anggota masyarakat.


Hal ini telah membenarkan cara dakwa tentang hak masyarakat yang dilakukan olah seorang ketua atau wakilnya atau badan-badan yang didirikan oleh negara untuk melaksanakan tugas ini seperti yang kita dapatkan dalam undang-undang modern.
Hal ini sama dengan hak Allah yang ada dalam syariat Islam.


Barangsiapa berbuat baik kepada seseorang dengan menyelamatkan hidupnya, maka ia telah berbuat baik kepada masyarakat.
Ayat di atas mengandung dua makna yang menerangkan bahwa Islam telah memelihara undang-undang dalam suatu masyarakat dan dasar tolong menolong sesama individu dan masyarakat.


Dengan kata lain, Islam telah memelihara keselamatan, keamanan dan tolong menolong antara individu dan masyarakat.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Diakibatkan terjadinya kejahatan pembunuhan tersebut, Kami mensyariatkan kepada Bani Israil bahwa siapa yang membunuh suatu jiwa tanpa sebab berupa qishash atau pelakunya melakukan tindakan merusak di bumi dengan berbagai macam tindakan yang mengharuskannya di bunuh seperti syirik dan muharabah, maka seolah-olah dia membunuh seluruh manusia dalam hal beratnya hukuman yang disediakan oleh Allah atasnya.
Dan barangsiapa menahan diri dengan tidak membunuh suatu jiwa yang dilindungi oleh Allah, maka seolah-olah dia menghidupkan manusia seluruhnya.


Menjaga kehormatan seseorang sekalipun hanya satu adalah penjagaan terhadap manusia seluruhnya.
Rasul-rasul Kami telah datang kepada Bani Israil dengan membawa hujjah-hujjah dan bukti-bukti atas kebenaran dakwah para Rasul tersebut, yaitu seruan agar beriman kepada Rabb mereka, dan menunaikan apa yang diwajibkan atas mereka.


Kemudian kebanyakan dari mereka setelah para Rasul datang kepada mereka melakukan pelanggaran terhadap batasan-batasan Allah, dengan melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan meninggalkan perintah-perintah-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Oleh sebab itu) artinya karena perbuatan Qabil itu tadi


(Kami tetapkan bagi Bani Israel bahwa sesungguhnya) innahuu disebut dhamir sya`n


(siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena manusia lainnya) yang dibunuhnya


(atau) bukan karena


(kerusakan) yang diperbuatnya


(di muka bumi) berupa kekafiran, perzinaan atau perampokan dan sebagainya


(maka seolah-olah dia telah membunuh manusia kesemuanya.
Sebaliknya siapa yang memelihara kehidupannya) artinya tidak hendak membunuhnya


(maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.) Kata Ibnu Abbas,
"Ini dilihat dari segi melanggar kesuciannya dan dari segi memelihara serta menjaganya."


(dan sesungguhnya telah datang kepada mereka itu) yakni kepada orang-orang Israel


(rasul-rasul Kami membawa keterangan-keterangan yang jelas) maksudnya mukjizat-mukjizat


(kemudian banyak di antara mereka sesudah itu melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi) dengan kekafiran, melakukan pembunuhan dan lain-lain.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.
Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.
Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya).
Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, kecuali orang-orang yang bertobat (di antara mereka) sebelum kalian dapat menguasai (menangkap) mereka, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman,
"Karena anak Adam pernah membunuh saudaranya secara aniaya dan permusuhan."

…(maka) Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil.

Yakni Kami syariatkan kepada mereka dan Kami berlakukan terhadap mereka,

…bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya

Yakni barang siapa yang membunuh seorang manusia tanpa sebab —seperti qisas atau membuat kerusakan di muka bumi, dan ia menghalalkan membunuh jiwa tanpa sebab dan tanpa dosa— maka seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya, karena menurut Allah tidak ada bedanya antara satu jiwa dengan jiwa yang lainnya.
Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, yakni mengharamkan membunuhnya dan meyakini keharaman tersebut, berarti selamatlah seluruh manusia darinya berdasarkan pertimbangan ini.
Untuk itulah Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

…maka seolah-olah dia memelihara kehidupan manusia semuanya.

Al-A’masy dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang telah menceritakan bahwa pada hari Khalifah Usman dikepung, Abu Hurairah masuk menemuinya, lalu berkata,
"Aku datang untuk menolongmu, dan sesungguhnya situasi sekarang ini benar-benar telah serius, wahai Amirul Mu’minin."
Maka Usman ibnu Affan r.a. berkata,
"Hai Abu Hurairah, apakah kamu senang bila kamu membunuh seluruh manusia, sedangkan aku termasuk dari mereka?"
Abu Hurairah menjawab,
"Tidak."
Usman r.a. berkata,
"Karena sesungguhnya bila kamu membunuh seseorang lelaki, maka seolah-olah kamu telah membunuh manusia seluruhnya.
Maka pergilah kamu dengan seizinku seraya membawa pahala, bukan dosa."
Abu Hurairah melanjutkan kisahnya."Lalu aku pergi dan tidak ikut berperang."

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa hal itu sama dengan makna firman-Nya yang mengatakan:
barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 32), Memelihara kehidupan artinya
"tidak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah membunuhnya",
demikianlah pengertian orang yang memelihara kehidupan manusia seluruhnya.
Dengan kata lain, barang siapa yang mengharamkan membunuh jiwa, kecuali dengan alasan yang benar, berarti kelestarian hidup manusia terpelihara darinya, demikianlah seterusnya.

Mujahid mengatakan bahwa barang siapa yang memelihara kehidupan jiwa seseorang, yakni menahan diri tidak membunuhnya.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

…maka seolah-olah dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Ibnu Abbas mengatakan bahwa barang siapa yang membunuh jiwa seseorang yang diharamkan oleh Allah membunuhnya, maka perumpamaannya sama dengan membunuh seluruh manusia.

Said ibnu Jubair telah mengatakan,
"Barang siapa yang menghalalkan darah seorang muslim, maka seakan-akan dia menghalalkan darah manusia seluruhnya.
Dan barang siapa yang mengharamkan darah seorang muslim, maka seolah-olah dia mengharamkan darah manusia seluruhnya."
Ini merupakan suatu pendapat, tetapi pendapat inilah yang terkuat.

Ikrimah dan Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa barang siapa yang membunuh seorang nabi atau seorang imam yang adil, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Dan barang siapa yang mendukung sepenuhnya seorang nabi atau seorang imam yang adil, maka seakan-akan dia memelihara kehidupan manusia seluruhnya.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Mujahid menurut riwayat lain yang bersumberkan darinya mengatakan,
"Barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena telah membunuh seseorang, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Demikian itu karena barang siapa yang membunuh seseorang, maka baginya neraka, dan perihalnya sama seandainya dia membunuh manusia seluruhnya."

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Al-A’raj, dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya:

…maka seolah-olah dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Bahwa barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka Allah menyediakan neraka Jahannam sebagai balasannya, dan Allah murka terhadapnya serta melaknatinya dan menyiapkan baginya azab yang besar.
Dikatakan bahwa seandainya dia membunuh manusia seluruhnya, maka siksaannya tidak melebihi dari siksaan tersebut (karena sudah maksimal).

Ibnu Juraij telah meriwayatkan bahwa Mujahid pernah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.
Bahwa barang siapa yang tidak pernah membunuh seseorang pun, berarti manusia selamat darinya.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan,
"Barang siapa yang membunuh seorang manusia, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya, yakni diwajibkan atas dirinya menjalani hukum qisas (pembalasan), tidak ada bedanya antara yang dibunuh adalah seorang manusia ataupun sejumlah orang.
Dan barang siapa yang memelihara kehidupan, yakni pihak wali darah memaafkan si pembunuh, maka seakan-akan dia memelihara kehidupan manusia seluruhnya."
Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh ayahnya (yakni Juraij) menurut Mujahid mengatakan dalam suatu riwayat,
"Barang siapa yang memelihara kehidupan, yakni menyelamatkan (orang lain) dari tenggelam atau kebakaran atau kebinasaan."

Al-Hasan dan Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Di dalam makna ayat ini terkandung pengertian bahwa melakukan tindak pidana pembunuhan merupakan dosa yang sangat besar.
Lalu Qatadah mengatakan,
"Demi Allah, dosanya amat besar, demi Allah, pembalasannya sangat besar."

Ibnul Mubarak telah meriwayatkan dari Salam ibnu Miskin, dari Sulaiman ibnu Ali Ar-Rab’i yang telah menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Al-Hasan,
"Ayat ini bagi kita, hai Abu Sa’id, sama dengan apa yang diberlakukan atas kaum Bani Israil."
Al-Hasan menjawab,
"Memang benar, demi Tuhan yang tiada Tuhan selain Dia, sama seperti yang diberlakukan atas kaum Bani Israil, dan tiadalah Allah menjadikan darah kaum Bani Israil lebih mulia daripada darah kita.

Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

…maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Yaitu dalam hal dosanya.
Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan_ dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 32), Yakni dalam hal pahalanya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai’ah, telah menceritakan kepada kami Huyay ibnu Abdullah, dari Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Amr yang telah mengatakan bahwa Hamzah ibnu Abdul Muttalib datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya:
Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku sesuatu pegangan untuk kehidupanku."
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Hai Hamzah, jiwa seseorang yang kamu pelihara kehidupannya lebih kamu sukai ataukah jiwa seseorang yang kamu matikan?"
Hamzah menjawab,
"Tidak, bahkan jiwa yang aku pelihara kehidupannya."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Peliharalah dirimu."

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas.

Yakni membawa hujah-hujah, bukti-bukti, dan keterangan-keterangan yang jelas lagi gamblang.

…kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.

Ini suatu kecaman terhadap mereka dan sebagai hinaan kepada mereka (kaum Bani Israil) karena mereka melakukan pelbagai hal yang diharamkan, sesudah mereka mengetahui keharamannya.
Seperti yang telah dilakukan oleh Bani Quraizah dan Bani Nadir serta orang-orang Yahudi lainnya, seperti Bani Qainuqa’ yang ada di sekitar Madinah.
Dahulu di masa Jahiliah apabila terjadi peperangan, mereka ada yang berpihak kepada kabilah Aus, ada pula yang berpihak kepada kabilah Khazraj.
Kemudian apabila perang berhenti, mereka menebus para tawanan perang dan membayar diat orang-orang yang telah mereka bunuh.

Allah subhanahu wa ta’ala, mengecam perbuatan mereka itu dalam surat Al-Baqarah [2]:

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kalian (yaitu):
kalian tidak akan menumpahkan darah kalian (membunuh orang), dan kalian tidak akan mengusir diri (saudara kalian sebangsa) dari kampung halaman kalian, kemudian kalian berikrar (akan memenuhinya), sedangkan kalian mempersaksikannya.
Kemudian kalian (Bani Israil) membunuh diri (saudara sebangsa) dan mengusir segolongan dari kalian dari kampung halamannya, kalian bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan, tetapi jika mereka datang kepada kalian sebagai tawanan, kalian tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagi kalian.
Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain?
Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.
Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat.
(A1-Baqarah: 84-85)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik (bersilang), atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya)., hingga akhir ayat

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa’idah (5) Ayat 32

ARDH
أَرْض

Ardh adalah lafaz mufrad dan mu’annats, maknya adalah aradhun, urudh, dan aradhi, maknanya ialah bola bumi yang bergerak yang manusia berada di atasnya yaitu salah satu planet yang ada dan urutannya ketiga pada porosnya yang mengelilingi matahari dan planet yang didiami manusia.
Ia juga lawan lautan yaitu tanah atau daratan.
Apabila dikatakan ibn al-ardh artinya anak yang tidak diketahui bapak dan ibunya.
Apabila disandarkan kepada sesuatu atau sandal artinya di bawahnya.

Lafaz ardh disebut sebanyak 130 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah
• Al Baqarah (2), ayat 11, 22, 27, 29, 30, 33, 36, 60, 61, 71, 107, 116, 117, 164, 164, 164, 168, 205, 251, 255, 255, 267, 273, 284;
• Ali Imran (3), ayat 5, 29, 83, 91, 109, 129, 133, 137, 156, 180, 189, 190, 191;
• An Nisaa (4), ayat 42, 97, 97, 100, 101, 126, 131, 131, 132, 170, 171;
• Al Maa’idah (5), ayat 17, 18, 21, 26, 31, 32, 32, 33, 33, 36, 40, 64, 97, 106, 120;
• Al An’aam (6), ayat 1, 3, 6, 11, 12, 14, 35, 38, 59, 71, 75, 101, 116, 165, 73, 79;
• Al A’raaf (7), ayat 10, 24, 54, 56, 73, 74, 74, 85, 96, 100, 110, 127, 128, 129, 137, 146, 158, 164, 176, 185, 187;
• Al Anfaal (8), ayat 26, 63, 67, 73;
• At Taubah (9), ayat 2, 25, 36, 38, 74, 116, 188;
Yunus (10), ayat 3, 6, 14, 18, 23, 24,24,31, 54, 55, 61, 66, 78, 83, 99, 101;
Hud (11), ayat6, 7, 20, 44, 61, 64, 85, 107, 108,116, 123;
Yusuf(l2), ayat 9, 21, 55, 56, 73, 80, 101, 105, 109;
• Ar Ra’d (13), ayat 3, 4, 15, 16, 17, 18, 25, 31, 33, 41;
Ibrahim (14), ayat 2, 8, 10, 13, 14, 19, 26, 32, 38, 48, 48;
• Al Hijr (15), ayat 19, 39, 85;
• An Nahl (16), ayat 3, 13, 15, 36, 45, 49, 52, 65, 73, 77;
Al Israa (17), ayat 4, 37, 37, 44, 55, 76, 90, 95, 99, 102, 103, 104;
• Al Kahfi (18), ayat 7, 14, 26, 45, 47, 51, 84, 94;
Maryam (19), ayat 40, 65, 90, 93;
Tha Ha (20), ayat 4, 6, 53, 57, 63;
• Al Anbiyaa (21), ayat 4, 16, 19, 21, 30, 31, 44, 56, 71, 81, 105;
• Al Hajj (22), ayat 5, 18, 41, 46, 63, 64, 65, 65, 70;
• Al Mu’minuun (23), ayat 18, 71, 79, 84, 112;
An Nuur (24), ayat 35, 41, 42, 55, 57, 64;
• Al Furqaan (25), ayat 2, 6, 59, 63;
• Asy Syu’araa (26), ayat 7, 24, 35, 152, 183;
• An Naml (27), ayat 25, 48, 60, 61, 62, 64, 65, 69, 75, 82, 87;
• Al Qashash (28), ayat 4, 5, 6, 19, 39, 57, 77, 81, 83;
• Al ‘Ankaabut (29), ayat 20, 22, 36, 39, 40, 44, 52, 56, 61, 63;
• Ar Rum (30), ayat 3, 8, 9, 18, 19, 22, 24, 25, 25, 26, 27, 42, 50;
Luqman (31), ayat 10, 16, 18, 20, 25, 26, 27, 34;
• As Sajadah (32), ayat 4, 5, 10, 27;
• Al Ahzab (33), ayat 27, 27, 72;
• Saba (34), ayat 1, 2, 3, 9, 9, 14, 22, 24;
Faathir (35), ayat 1, 3, 9, 38, 39, 40, 43, 44, 44;
Yaa Siin (36), ayat 33, 36, 81;
• Ash Shaffaat (37), ayat 5;
Shad (38), ayat 10, 26, 27, 28, 66;
• Az Zumar (39), ayat 5, 10, 21, 38, 44, 46, 47, 63, 67, 69, 74;
Al Mu’min (40), ayat 21, 21, 26, 29, 57, 64, 68, 75, 82, 82;
Fussilat (41), ayat 9, 11, 15, 39;
• Asy Syura (42), ayat 4, 5, 11, 12, 27, 29, 31, 42, 49, 53;
• Az Zukhruuf (43), ayat 9, 10, 60, 82, 84, 85;
• Ad Dukhaan (44), ayat 7, 29, 38;
• Al Jaatsiyah (45), ayat 3, 5, 13, 22, 27, 36, 37;
• Al Ahqaaf (46), ayat 3, 4, 20, 32, 33;
Muhammad (47), ayat 4, 7, 14;
• Al Hujurat (49), ayat 16, 18;
Qaf (50), ayat 4, 38, 44, 50;
• Adz Dzaariyaat (51), ayat 20, 23, 48;
• Ath Thuur (52), ayat 36;
• An Najm (53), ayat 31, 32;
• Al Qamar (54), ayat 12;
Ar Rahman (55), ayat 10, 29, 33;
• Al Waqi’ah (56), ayat 4;
• Al Hadid (57), ayat 1, 2, 4, 5, 10, 21, 22, 17;
• Al Mujadalah (58), ayat 7;
• Al Hasyr (59), ayat 1, 24;
Ash Shaff (61), ayat 1;
• Al Jumu’ah (62), ayat 1, 10;
• Al Munaafiquun (63), ayat 7;
• At Taghaabun (64), ayat 1, 3, 4;
• Ath Thalaaq (65), ayat 12;
• Al Mulk (67), ayat 15, 16, 24;
• Al Haaqqah (69), ayat 14;
• Al Ma’arij (70), ayat 14;
Nuh (71), ayat 9, 17, 26;
• Al Jinn (72), ayat 10, 12;
• Al Muzzammil (73), ayat 14, 20;
• Al Mursalat (77), ayat 25;
• An Naba’ (78), ayat 6, 37;
• An Naazi’at (79), ayat 30;
• ‘Abasa (80), ayat 26;
• Al Insyiqaaq (84), ayat 3;
• Al Buruuj (85), ayat 9;
• Ath Thaariq (86) ayat 12;
• Al Ghaasyiyah (88), ayat 20;
• Al Fajr (89), ayat 21;
• Asy Syams (91), ayat 6;
• Al Zalzalah (99), ayat 1, 2.

Dalam Al Qur’an, lafaz ardh mempunyai enam makna.

Pertama, bermakna bumi Palestina, Damsyik dan sebahagian Jordan, karena ia dikaitkan dengan al-muqaddasah (al-ardh al-muqaddasah). Makna ini diberikan oleh Ibnu Qutaibah.
Az Zamakhsyari berkata,
"Al-ardh al-muqaddasah ialah ardh bait al muqaddasah (bumi rumah yang suci), di mana ia adalah tempat para nabi dan orang Islam."

Diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibnu ‘Abbas, "Ia adalah Tursina dan sekelilingnya."

Qatadah berpendapat ia adalah Syam.

Sedangkan riwayat Ibnu Zaid, As Suddi dan Ikrimah dari Ibnu Abbas menyatakan ia adalah Ariha.

At Tabari berkata,
"Ia adalah ardh al muqaddasah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Musa adalah bumi seperti bumi lain, tidak diketahui hakikat kebenarannya kecuali dengan khabar.
Tidak ada khabar mengenainya yang benar-benar dapat di pastikan.
Namun, ia tidak keluar dari bumi antara Sungai Al Furat (Euphart) dan Mesir sebagaimana yang disepakati oleh para ahli tafsir, sejarawan dan ulama."

Kedua, ia bermakna bumi yang manusia diami sekarang sebagaimana mayoritas maksud dari ayat-ayat di atas.

Ketiga, ia bermaksud selain bumi yang tidak pada sifatnya yang dikenal atau bumi di hari akhirat sebagaimana yang terdapat dalam surah Ibrahim, ayat 48.
Dalam Sahih Bukhari dan Muslim terdapat hadits dari Ibnu Hazim yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, katanya Rasulullah berkata,
"Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat di atas bumi yang amat putih bagaikan roti yang bulat dan pipih lagi putih, tidak terdapat di dalamnya penolong bagi seseorang."
Dalam riwayat lain dijelaskan manusia berjalan di atas jambatan atau Ash Shiraath.

Keempat, bermakna tempat, sebagai mana pada surah Yusuf, ayat 9. Al Qurtubi menafsirkannya dengan tempat yang jauh dari ayahnya." Begitu juga dengan penafsiran At Tabari, yang dimaksudkan dengan bumi di sini ialah suatu tempat dari bumi.

Kelima, bermakna bumi Mesir, yaitu yang terdapat dalam surah Al A’raaf, ayat 110; Tha Ha, ayat 57; 63, Asy Syu’araa, ayat 35; Ibrahim, ayat 13. Ini sebagaimana penafsiran yang dikemukakan oleh Asy Syawkani’ dan As Sabuni.’

Keenam, bermakna bumi Makkah yaitu yang terdapat dalam surah Al Qashash, ayat 57. Ayat ini mengabarkan kepada manusia tentang alasan kafir Quraisy yang tidak mengikuti petunjuk.
Mereka berkata kepada Rasulullah, "Sekiranya kami menyertaimu menurut petunjuk yang engkau bawa itu, kami takut disakiti dan diperangi oleh mereka (kafir Quraisy) yang lain serta diusir dari negeri kami."

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:63-65

Unsur Pokok Surah Al Maa’idah (المائدة)

Surat Al-Ma’idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’.

Surat ini dinamakan "Al Maa’idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).

Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

▪ Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Hukum:

▪ Keharusan memenuhi perjanjian.
▪ Hukum melanggar syiar Allah.
▪ Makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan.
▪ Hukum mengawini wanita ahli kitab.
▪ Wudhu.
▪ Tayammum.
▪ Mandi.
▪ Hukum membunuh orang.
▪ Hukum mengacau dan mengganggu keamanan.
▪ Hukum qishas.
▪ Hukum melanggar sumpah dan kafarat-nya.
▪ Hukum khamar (minuman yang memabukkan).
▪ Berjudi.
▪ Berkorban untuk berhala.
▪ Mengundi nasib.
▪ Hukum membunuh binatang waktu ihram.
▪ Hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

▪ Kisah-kisah Nabi Musa `alaihis salam menyuruh kaumnya memasuki Palestina.
▪ Kisah Habil dan Qabil.
▪ Kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
▪ Penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Keharusan jujur dan berlaku adil.
▪ Sikap dalam menghadapi berita-berita bohong.
▪ Akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim.
▪ Kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi.
▪ Kewajiban rasul hanya menyampaikan agama.
▪ Sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam.
▪ Ka’bah sokoguru kehidupan manusia.
▪ Peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah.
▪ Larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio Murottal

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 120 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 120

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Maa'idah ayat 32 - Gambar 1 Surah Al Maa'idah ayat 32 - Gambar 2 Surah Al Maa'idah ayat 32 - Gambar 3
Statistik QS. 5:32
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa’idah.

Surah Al-Ma’idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā’idah, “Jamuan Hidangan”) adalah surah ke-5 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada’.
Surah ini dinamakan Al-Ma’idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma’idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah 5
Nama Surah Al Maa’idah
Arab المائدة
Arti Jamuan (hidangan makanan)
Nama lain Al-‘Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 112
Juz Juz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 120
Jumlah kata 2842
Jumlah huruf 12207
Surah sebelumnya Surah An-Nisa’
Surah selanjutnya Surah Al-An’am
Sending
User Review
4.6 (8 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

5:32, 5 32, 5-32, Surah Al Maa'idah 32, Tafsir surat AlMaaidah 32, Quran Al Maidah 32, AlMaidah 32, Al-Ma'idah 32, Surah Al Maidah ayat 32

Video Surah

5:32


Load More

Kandungan Surah Al Maa’idah

۞ QS. 5:1 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 5:2 • Siksaan Allah sangat pedih • Ar Rabb (Tuhan) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:3 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Keistimewaan Islam • Islam agama yang diterima di sisi Allah

۞ QS. 5:5 • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:6 Sifat Iradah (berkeinginan) • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 5:7 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 5:8 • Keluasan ilmu Allah • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 5:9 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 5:10 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 5:11 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 5:12 • Kewajiban beriman pada para rasul • Sifat surga dan kenikmatannya • Kembali kufur • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:13 • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 5:14 • Keluasan ilmu Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:16 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:17 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:18 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 5:19 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:20 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:23 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Melihat sebab akibat

۞ QS. 5:24 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:25 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:26 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 5:27 • Perbuatan dan niat

۞ QS. 5:28 Tauhid Rububiyyah • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:29 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Dosa-dosa besar

۞ QS. 5:32 • Dosa-dosa besar

۞ QS. 5:33 • Nama-nama hari kiamat • Bersikap keras terhadap orang kafir • Dosa-dosa besar • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:34 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar

۞ QS. 5:35 • Bersegera dalam melakukan kebaikan • Mengharap wasilah (kedudukan)

۞ QS. 5:36 • Siksaan Allah sangat pedih • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Azab orang kafir • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:37 • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 5:38 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 5:39 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 5:40 • Segala sesuatu milik Allah • Ampunan Allah yang luas • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:41 • Nama-nama hari kiamat • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 5:42 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 5:44 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:46 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 5:47 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:48 • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Kebenaran hari penghimpunan • Bersegera dalam melakukan kebaikan •

۞ QS. 5:49 Sifat Iradah (berkeinginan) • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 5:51 • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir • Perintah tidak mengikuti orang musyrikHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:52 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:53 • Siksa orang munafik • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 5:54 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 5:55 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Wali (Maha Pelindung) • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 5:56 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keutamaan iman

۞ QS. 5:57 • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir

۞ QS. 5:59 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:60 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:61 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 5:64 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Mendustai Allah • Sifat Kamal (sempurna) • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:65 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Perbuatan yang menghalangi api neraka • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 5:66 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:67 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Ar Rabb (Tuhan) • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 5:68 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:69 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Nama-nama hari kiamat • Islamnya ahli kitab • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 5:71 • Keluasan ilmu Allah • Al Bashir (Maha Melihat) • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 5:72 Tauhid Rububiyyah • Mendustai Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Syirik adalah dosa terbesar

۞ QS. 5:73 Tauhid Uluhiyyah • Mendustai Allah • Siksaan Allah sangat pedih • Al Wahid (Maha Esa) • Syirik adalah dosa terbesar

۞ QS. 5:74 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 5:76 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 5:78 • Azab orang kafir

۞ QS. 5:80 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:81 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:82 • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam

۞ QS. 5:83 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:84 Ar Rabb (Tuhan) • Keutamaan iman

۞ QS. 5:85 • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman

۞ QS. 5:86 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:89 • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 5:90 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Meramal nasib mengakibatkan kekufuran • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 5:91 • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah • Menjaga diri dari syetan • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 5:92 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Peringatan Allah terhadap hambaNya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:93 • Keistimewaan Islam • Ajakan masuk Islam • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbuatan dan niat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 5:94 • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:95 • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Muntaqim (Maha Pembalas dosa) • Toleransi Islam • Islam menghapus dosa masa lalu

۞ QS. 5:96 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 5:97 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 5:98 • Siksaan Allah sangat pedih • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:99 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 5:101 • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 5:102 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:103 • Mendustai Allah

۞ QS. 5:104 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:105 • Sikap orang mukmin terhadap fitnah • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 5:106 • Wasiat mayit

۞ QS. 5:108 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:109 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib) • Kebenaran hari penghimpunan • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan

۞ QS. 5:110 • Peranan dan tugas Jibril

۞ QS. 5:111 • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 5:112 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:114 • Meminta dengan menyebut nama Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki)

۞ QS. 5:115 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:116 • Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib)

۞ QS. 5:117 Tauhid Rububiyyah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Raqib (Maha Pengawas) • Al Syahid (Maha Menyaksikan) •

۞ QS. 5:118 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 5:119 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 5:120 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) •

Ayat Pilihan

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,
bukan (jalan) mereka yang dimurkai & bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

QS. Al-Fatihah [1]: 6-7

Tiap-tiap umat mempunyai ajal.
Apabila telah datang ajal mereka,
maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun & tidak (pula) mendahulukan(nya).
QS. Yunus [10]: 49

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil & janganlah kamu sembunyikan yang hak itu,
sedang kamu mengetahui.
QS. Al-Baqarah [2]: 42

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Setiap umat Islam wajib menuntut ilmu. Bagaimana hukum mempelajari Ilmu Agama?

Correct! Wrong!

Siapa nama Nabi setelah Nabi Isa 'Alaihissalam?

Correct! Wrong!

Kewajiban menuntut ilmu terdapat pada Alquran surah ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
'Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.'
--QS. At Taubah [9] : 122

+

Siapa nama ayah Nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam?

Correct! Wrong!

Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu?

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Enam Syarat Meraih Ilmu Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
1. Cerdas.
2. inginan yang kuat.
3. Sabar.
4. Bekal
5. Petunjuk guru.
6. Waktu yang lama.

Pendidikan Agama Islam #28
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #28 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #28 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #3

Pembatasan aurat wanita adalah … Berikut ini yang bukan termasuk orang-orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah … Dalam Islam, pakaian harus … Sebelum berpakaian, kita harus … Bagian tubuh yang tidak ditampakkan sesuai dengan ajaran Islam disebut …

Pendidikan Agama Islam #4

Surah dalam Alquran yang mengatakan larangan untuk melakukan terlalu banyak, makan dan minum adalah … Setelah Yakin, dalam surah Al-A’raf ayat 26, pakaian terbaik ada di mata Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah … Aurat dari tubuh pria adalah mulai … Fungsi pakaian adalah … Kejujuran adalah karakteristik dari seorang Muslim, sementara berbohong atau ketidakjujuran adalah fitur dari orang …

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … Sejak wahyu di Surah Al Muddasir : 1-7, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada … Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama …

Kamus Istilah Islam

Az-Zukhruf

Apa itu Az-Zukhruf? Surah Az-Zukhruf adalah surah ke-43 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah makkiyah, terdiri atas 89 ayat. Dinamakan Az-Zukhruf yang berarti Perhiasan karena kata Az-Zukhruf yang terdapat pada ayat 35 pada surah ini. Ayat ini menegaskan bahwa harta tidak dapat dijadikan dasar untuk mengukur tinggi rendahnya derajat seseoran … • Az-Zukhruf, Az-Zuhruf, Az Zuhruf, Az Zukhruf

At-Tariq

Apa itu At-Tariq? Surah At-Tariq adalah surah ke 86 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Makiyah yang terdiri atas 17 ayat. Dinamakan At-Tariq yang berarti Yang datang di malam hari diambil dari perkataan Ath Thaariq yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Nomor Surah Nama Surah … • At-Tariq, At-Thariq, Ath-Thariq

Qabil dan Habil

Siapa itu Qabil dan Habil? Qabil dan Habil adalah dua orang putra Adam. Dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’idah, Qabil merupakan tokoh yang melakukan pembunuhan pertama dengan membunuh saudara laki-lakinya Habil lantaran kurban persembahannya tidak diterima oleh Allah karena ketidaktulusannya dengan mempersembahkan hasil pertaniannya yang sudah agak bu … • Qabil, Habil