Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 3


حُرِّمَتۡ عَلَیۡکُمُ الۡمَیۡتَۃُ وَ الدَّمُ وَ لَحۡمُ الۡخِنۡزِیۡرِ وَ مَاۤ اُہِلَّ لِغَیۡرِ اللّٰہِ بِہٖ وَ الۡمُنۡخَنِقَۃُ وَ الۡمَوۡقُوۡذَۃُ وَ الۡمُتَرَدِّیَۃُ وَ النَّطِیۡحَۃُ وَ مَاۤ اَکَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَکَّیۡتُمۡ ۟ وَ مَا ذُبِحَ عَلَی النُّصُبِ وَ اَنۡ تَسۡتَقۡسِمُوۡا بِالۡاَزۡلَامِ ؕ ذٰلِکُمۡ فِسۡقٌ ؕ اَلۡیَوۡمَ یَئِسَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ دِیۡنِکُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡہُمۡ وَ اخۡشَوۡنِ ؕ اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ فَمَنِ اضۡطُرَّ فِیۡ مَخۡمَصَۃٍ غَیۡرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثۡمٍ ۙ فَاِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Hurrimat ‘alaikumul maitatu waddamu walahmul khinziiri wamaa uhilla lighairillahi bihi wal munkhaniqatu wal mauquudzatu wal mutaraddiyatu wannathiihatu wamaa akalassabu’u ilaa maa dzakkaitum wamaa dzubiha ‘alannushubi wa-an tastaqsimuu bil azlaami dzalikum fisqul yauma ya-isal-ladziina kafaruu min diinikum falaa takhsyauhum waakhsyaunil yauma akmaltu lakum diinakum wa-atmamtu ‘alaikum ni’matii waradhiitu lakumu-islaama diinan famaniidhthurra fii makhmashatin ghaira mutajaanifin la-itsmin fa-innallaha ghafuurun rahiimun;

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.
Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
―QS. 5:3
Topik ▪ Kelemahan manusia
5:3, 5 3, 5-3, Al Maa’idah 3, AlMaaidah 3, Al Maidah 3, AlMaidah 3, Al-Ma’idah 3
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa'idah (5) : 3. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini dijelaskan makanan-makanan yang diharamkan, yaitu:

1.
Bangkai, yaitu binatang yang mati tanpa disembelih.
Di antara hikmah diharamkan bangkai antara lain ialah, karena bangkai itu mengandung kuman yang sangat membahayakan kesehatan di samping keadaannya yang menjijikkan.

2.
Darah, yaitu darah yang mengalir keluar dari tubuh hewan, karena disembelih atau lain-lainnya.
Hikmah diharamkan darah itu antara lain, karena mengandung kuman dan zat-zat kotor dari tubuh dan sukar dicernakan.

3.
Daging babi, termasuk semua anggotanya.
Hikmah diharamkan babi itu antara lain, karena mengandung baksil-baksil (kuman-kuman) yang sangat berbahaya disebabkan babi itu suka memakan bangkai-bangkai tikus dan zat-zat kotor dan juga sukar dicernakan.

4.
Hewan yang disembelih dengan menyebut atau mengagungkan nama selain Allah, seperti menyebut nama berhala atau menghormatinya, hikmah haramnya ialah oleh karena mempersekutukan Allah.

5.
Hewan mati tercekik.
Banyak pendapat menerangkan tentang apa yang dimaksud dengan mati tercekik yaitu di antaranya mati karena diikat dan sebagainya, sehingga hewan itu mati dalam keadaan tidak berdaya.
Hikmah haramnya sama dengan hikmah haramnya bangkai.

6.
Hewan mati dipukul, yaitu hewan yang mati dipukul dengan benda keras atau dengan benda berat.
Hikmah haramnya menurut sebagian pendapat ialah karena darahnya terpendam di dalam tubuhnya tidak keluar, sehingga merusak dagingnya tetapi selain dari itu juga karena perbuatan itu melanggar hadis Nabi yang berbunyi:

Allah mewajibkan berbuat baik (ihsan) atas setiap sesuatu, kalau kamu membunuh, bunuhlah dengan baik dan kalau menyembelih, sembelihlah dengan baik, hendaklah seorang kamu mempertajam pisaunya dan jangan sampai tersiksa binatang sembelihannya.
(H.R.
Ahmad, Muslim, dan Ashabus Sunan)

7.
Hewan yang mati karena jatuh dan tempat yang tinggi seperti jatuh dari atas bukit masuk ke dalam jurang.
Hikmah haramnya sama dengan bangkai.

8.
Hewan mati karena ditanduk oleh hewan lain.
Hikmahnya sama dengan bangkai.
Kalau masih sempat disembelih maka hukumnya adalah halal.

9.
Hewan.
yang mati diterkam binatang buas.
Hikmahnya sama dengan bangkai, kalau masih sempat disembelih maka hukumnya adalah halal.

10.
Hewan yang disembelih untuk berhala, sebagai mana yang diperbuat oleh orang-orang Arab pada zaman Jahiliah yang menyembelih hewan di dekat berhala-berhala yang jumlahnya 360, terdapat di sekitar Kakbah.
Hikmah haramnya adalah karena perbuatan ini termasuk mempersekutukan Allah.

Selanjutnya Allah menerangkan tentang haramnya mengundi nasib dengan anak panah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Arab pada masa Jahiliah, yaitu dengan mengambil tiga anak panah yang belum ada bulu, salah satu anak panah itu ditulis dengan perkataan, "amarani rabbi"

(Tuhanku telah menyuruhku), anak panah yang kedua ditulis dengan perkataan, "nahani rabbi"

Tuhanku melarangku) sedang anak panah yang ketiga tidak ditulis apa-apa.
Anak panah itu disimpan di dalam Kakbah.
Jika mereka bermaksud mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, mereka minta tolong kepada penjaga Kakbah mencabut salah satu dari ketiga anak panah tersebut itu dan melaksanakan apa yang tertulis pada anak panah yang diambil itu.
Kalau terambil anak panah yang tidak ditulis apa-apa, maka undian diulangi lagi.
Perbuatan ini dilarang karena mengandung syirik atau tahayul dan khurafat.
Dalam hal ini menurut ajaran Rasulullah ﷺ bila hendak memilih salah satu dari dua pekerjaan yang sama pentingnya atau memilih di antaranya dan melaksanakan atau tidaknya sesuatu kehendak, maka hendaklah melaksanakan salat istikharah dua rakaat.
Kalau undian biasa (qur'ah) yang tidak mengandung kefasikan atau tahyul dan khurafat, tidaklah diharamkan, seperti undian untuk mengambil salah satu bahagian dari dua tumpukan yang sudah diusahakan sama banyaknya, siapa yang berhak dari masing-masing tumpukan itu lalu diadakan qur'ah (undian).

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa pada hari terjadinya haji wada' itu orang-orang kafir telah putus asa dalam usahanya untuk mengalahkan agama (Islam).
Oleh karena itu kaum muslimin tidaklah boleh merasa takut kepada mereka tetapi hendaklah takut kepada Allah.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan lagi tentang sesuatu yang penting bagi Nabi Muhammad ﷺ dan bagi seluruh umat Islam, bahwa Allah telah menyempurnakan agama Islam dan telah mencukupkan nikmat-Nya, serta telah rida agama Islam menjadi agama umat manusia.

Setelah ayat ini dibacakan oleh Nabi, maka Umar menangis lalu Nabi bertanya apa yang menyebabkan ia menangis, Umar menjawab, "Sesuatu yang sudah sempurna tidak ada yang ditunggu lagi kecuali kurangnya".
Rasulullah membenarkan ucapan Umar itu.
182).
Sejarah telah mencatat bahwa 81 hari sesudah turunnya ayat ini Nabi Muhammad ﷺ pun wafat setelah menunaikan risalahnya selama kurang lebih 23 tahun.
Memang ajaran Islam telah sempurna walaupun tidak terperinci tentang segala persoalan akan tetapi telah cukup sempurna dengan prinsip-prinsip dan patokannya untuk urusan duniawi maupun ukhrawi.
Kemudian pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang terpaksa memakan yang diharamkan Allah karena lapar tanpa sengaja berbuat dosa, dibolehkan asal dia memakan seperlunya saja, sekadar mempertahankan hidup.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.

Al Maa'idah (5) ayat 3 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 3 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 3 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai orang-orang yang beriman, diharamkan bagi kalian memakan daging bangkai (binatang yang mati dengan tidak disembelih), darah yang mengalir, daging babi, binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, binatang yang mati tercekik, binatang yang mati dipukul, binatang yang mati karena jatuh, binatang yang mati ditanduk oleh binatang lain, dan binatang yang mati dimakan binatang buas.
Tetapi jika binatang itu masih hidup dan halal untuk dimakan, lalu kamu menyembelihnya, maka binatang itu halal.
Allah mengharamkan kepada kalian binatang yang disembelih untuk mendekatkan diri kepada berhala, mengetahui sesuatu yang telah ditentukan di alam gaib dengan cara undian dengan melempar anak panah.
Memakan makanan yang telah diharamkan Allah itu adalah dosa besar dan merupakan sikap tidak patuh kepada Allah.
Mulai sekarang telah pupus harapan orang kafir untuk menghapus agama kalian.
Maka, jangan khawatir mereka akan dapat menguasai kalian, dan jangan berani melanggar perintah-Ku.
Hari ini Aku sempurnakan hukum-hukum agama, Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada kalian dengan memberikan kejayaan dan menguatkan pendirian kalian, dan Aku jadikan Islam sebagai agama kalian.
Barangsiapa terpaksa memakan makanan yang diharamkan Allah karena alasan lapar dan demi mempertahankan diri dari kematian, dengan tidak cenderung berbuat maksiat, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni orang yang terpaksa atas makanan yang dimakannya demi mempertahankan hidup.
Allah Maha Penyayang kepadanya dalam hal-hal lain yang dibolehkan[1].

[1] Kematian binatang dapat disebabkan oleh ketuaan, penyakit organik, parasit, atau karena terkena racun luar yang, dengan sendirinya, mengakibatkan daging binatang itu mengandung zat yang membahayakan pemakannya.
Lebih dari itu, binatang yang mati bukan karena disembelih, darahnya akan mengalami pemacetan.
Keadaan seperti itu dapat berlangsung lama dan sulit diketahui dengan pasti, sehingga dapat mengakibatkan disolusi dan kerusakan.
Darah merupakan saluran yang mengandung seluruh zat metabolis (asimilasi) yang sebagiannya bermanfaat dan yang lain berbahaya.
Zat yang membahayakan itu dapat merusak anggota tubuh yang dapat menghilangkan dan mengeluarkan racun yang ada dalam tubuh.
Selain itu, di dalam darah juga terdapat racun yang dikeluarkan oleh hewan-hewan parasit dalam tubuh.
Di antara hewan parasit yang hidup dalam tubuh manusia itu banyak yang melalui beberapa fase, ada yang panjang dan ada juga yang pendek.
Karena alasan-alasan itulah, terutama, memakan darah diharamkan.
Sedangkan babi merupakan binatang yang mudah terserang hewan parasit yang menyerang tubuh manusia seperti berbagai virus, sporadis, leptoseri dan protozoa, cacing pipih dan cacing gelang.
Di antara parasit yang paling berbahaya adalah:

a.
Hewan ciliata yang diberi nama antidium-colay yang dapat menyebabkan disentri plantidi yang ganasnya sama dengan disentri amuba.
Sumber satu-satunya penyakit ini adalah babi.
Penyakit ini hanya akan menyerang orang yang memelihara dan menyembelih serta menjual-beli danging babi.

b.
Gelendong hati dan usus yang berjangkit di negara-negara Timur Jauh, khususnya gelendong usus besar yang banyak menyebar di Cina, gelendong usus kecil yang banyak berjangkit di Bangladesh, Burma dan Asam, dan gelendong hati yang banyak tersebar di Cina, Jepang dan Korea.
Nah, babi merupakan binatang yang banyak menyimpan parasit-parasit ini.
Oleh karena itu, pembasmian penyakit yang diakibatkan oleh parasit-parasit ini tidak dapat dilakukan hanya pada manusia penderita, tetapi juga harus sampai kepada sumber asalnya:
babi.

c.
Cacing pita yang ada dalam tubuh babi.
Sel telur cacing ini berpindah dari manusia kepada babi yang melahirkan cacing ganda dalam daging babi.
Cacing itu kemudian berpindah lagi kepada manusia yang memakan daging babi dan cacing pita yang hidup dan berkembang di dalam usus.
Pada dasarnya penyakit ini tidak begitu berbahaya, karena hampir sama dengan cacing pita yang terdapat dalam daging sapi.
Tetapi cacing pita yang terdapat dalam daging babi sangat berbeda dengan cacing pita yang ada dalam daging sapi.
Apabila sel telur cacing itu tertelan oleh manusia melalui tangannya yang kotor, atau melalui makanan yang kotor, atau apabila ia memotong bagian cacing yang mengandung telur, atau memotong telur cacing dari ususnya hingga telur itu pecah dan larvanya mengena bagian otot yang bersangkutan, maka hal itu kemungkinan besar menyebabkan kematian apabila menyerang otak, urat saraf, atau hati dan organ penting lainnya.
Penyakit berbahaya seperti ini hampir tidak kita dapatkan di negara-negara Islam, karena Islam telah mengharamkan memakan daging babi.

d.
Cacing berbentuk spiral.
Terjangkitnya seseorang dengan cacing spiral yang larvanya berceceran pada otot-ototnya akan menyebabkan penyakit yang sangat berbahaya, seperti rematik, sulit mengunyah dan bernafas serta menggerakkan mata, radang otak dan jaringan urat saraf serta radang selaput otak.
Penyakit urat saraf dan otak yang menyebabkan keracunan, stress dan komplikasi.
Jika seseorang terkena penyakit yang mematikan ini, ia akan meninggal dunia dalam jangka waktu antara empat sampai enam minggu.
Dan babi adalah penyebab utamanya.
Penyakit ini banyak menyebar di Eropa, Amerika Serikat dan Amerika Selatan.
Sedangkan di dunia Islam, alhamdulillah, penyakit seperti ini tidak banyak berjangkit.
Usaha untuk mencegah berjangkitnya penyakit ini dilakukan dengan cara memelihara babi secara sehat dan pengobatan secara medis terhadap daging babi.
Tetapi itu semua tidak membuahkan hasil.
Sebagai contoh, Amerika Serikat adalah salah satu dari tiga negara terbesar di dunia yang terjangkit penyakit ini, mencapai 16%.
Jumlah ini sangat jauh dari yang sebenarnya.
Di negara-negara bagian Amerika Serikat persentase berjangkitnya penyakit yang disebabkan oleh babi ini berkisar antara 5%-27%.
Selain itu, lemak minyak babi sangat berbeda dengan minyak nabati dan lemak hewani lainnya.
Oleh karena itu, kelayakan daging babi untuk digunakan sebagai bahan makanan sangat diragukan sebagian besar ahli.
Hal ini dijelaskan oleh Prof.
Ram, seorang ahli kimia dari Denmark yang memperoleh hadiah nobel, bahwa seseorang tidak boleh banyak mengkonsumsi minyak babi karena akan menyebabkan penyakit empedu dan menutupi salurannya, pengerasan urat nadi dan penyakit jantung.
Perlu disebutkan di sini bahwa jumhur (mayoritas) ahli hukum Islam mengartikan kata "lahm" sebagai 'daging', termasuk 'lemak'.
Sedangkan soal hewan yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah, dan hewan yang yang disembelih dengan nama berhala, berkaitan dengan persoalan ibadah.
Sedang hewan yang mati tercekik, terpukul, mati ditanduk dan diterkam binatang buas, mempunyai kedudukan hukum yang sama dengan bangkai, meskipun sebab kematiannya berbeda.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Diharamkan bagimu bangkai) yakni memakannya (darah) yang mengalir seperti pada binatang ternak (daging babi, hewan yang disembelih karena selain Allah) misalnya disembelih atas nama lain-Nya (yang tercekik) yang mati karena tercekik (yang dipukul) yang dibunuh dengan jalan memukulnya (yang jatuh) dari atas ke bawah lalu mati (yang ditanduk) yang mati karena tandukan lainnya (yang diterkam oleh binatang buas kecuali yang sempat kamu sembelih) maksudnya yang kamu dapati masih bernyawa dari macam-macam yang disebutkan itu lalu kamu sembelih (dan yang disembelih atas) nama (berhala) jamak dari nishab, artinya patung (dan mengundi nasib) artinya menentukan bagian dan keputusan (dengan anak panah) azlaam jamak dari zalam atau zulam, artinya anak panah yang belum diberi bulu dan ujungnya tidak bermata.
Anak panah itu ada tujuh buah disimpan oleh pengurus Kakbah dan padanya terdapat tanda-tanda.
Maka tanda-tanda itulah yang mereka ambil sebagai pedoman, jika disuruh mereka lakukan dan jika dilarang mereka hentikan.
(Demikian itu adalah kefasikan) artinya menyimpang dari ketaatan.
Ayat ini turun pada hari Arafah masa haji wadak, yaitu haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ (Pada hari ini orang-orang kafir telah putus-asa terhadap agamamu) untuk mengembalikan kamu menjadi murtad setelah mereka melihat kamu telah kuat (maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah pada-Ku.
Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu) yakni hukum-hukum halal maupun haram yang tidak diturunkan lagi setelahnya hukum-hukum dan kewajiban-kewajibannya (dan telah Kucukupkan padamu nikmat karunia-Ku) yakni dengan menyempurnakannya dan ada pula yang mengatakan dengan memasuki kota Mekah dalam keadaan aman (dan telah Kuridai) artinya telah Kupilih (Islam itu sebagai agama kalian.
Maka siapa terpaksa karena kelaparan) untuk memakan sesuatu yang haram lalu dimakannya (tanpa cenderung) atau sengaja (berbuat dosa) atau maksiat (maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun) terhadapnya atas perbuatan memakannya itu (lagi Maha Pengasih) kepadanya dalam memperbolehkannya.
Berbeda halnya dengan orang yang cenderung atau sengaja berbuat dosa, misalnya penyamun atau pemberontak, maka tidak halal baginya memakan itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah mengharamkan bangkai atas kalian, yaitu hewan yang mati tanpa disembelih.
Alah mengharamkan darah yang mengalir, daging babi dan hewan yang saat disembelih tidak disebut nama Allah.
Begitu pula hewan yang tercekik sampai mati, hewan yang mati karena terpukul dengan tongkat atau batu sampai ia mati, hewan yang jatuh dari tempat yang tinggi atau terjatuh ke dalam sumur lalu ia mati, dan hewan yang ditanduk oleh hewan lain sehingga ia mati.
Allah juga mengharamkan hewan yang dimangsa binatang buas seperti singa, harimau, serigala dan yang semisalnya.
Allah mengecualikan dari apa yang Dia haramkan :
hewan yang tercekik dan seterusnya, hewan yang masih mungkin kalian sembelih sebelum ia mati, ia halal bagi kalian.
Allah mengharamkan bagi kalian hewan yang disembelih untuk selain Allah, baik dalam bentuk batu atau lainnya yang dipancang untuk disembah.
Allah mengharamkan mencari ilmu dari apa yang dibagi untuk kalian atau tidak dibagi dengan sarana mengundi dengan anak panah yang biasa mereka gunakan sebelum mereka melakukan suatu perkara.
Hal-hal yang diharamkan di atas, bila ia dilanggar, merupakan penyimpangan dari perintah Allah dan ketaatan kepada-Nya kepada kemaksiatan.
Saat ini harapan orang-orang kafir untuk bisa mengembalikan kalian kepada agama kalian sudah terkubur setelah kalian menang atas mereka, maka jangan takut kepada mereka dan takutlah kalian kepada-Ku.
Hari ini Aku menyempurnakan agama kalian, agama Islam dengan mewujudkan kemenangan dan penyempurnaan syariat.
Aku menyempurnakan nikmat-Ku atas kalian dengan mengeluarkan kalian dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya iman.
Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian, maka peganglah ia dan jangan meninggalkannya.
Barangsiapa yang terpaksa karena kelaparan untuk memakan bangkai dan dia tidak memiliki kecenderungan kepadanya dan tidak menginginkannya, maka dia boleh memakannya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya melalui kali­mat berita ini yang di dalamnya terkandung larangan memakan bang­kai-bangkai yang diharamkan.
Yaitu hewan yang mati dengan sendiri­nya tanpa melalui proses penyembelihan, juga tanpa melalui proses pemburuan.
Hal ini tidak sekali-kali diharamkan, melainkan karena padanya terkandung mudarat (bahaya), mengingat darah pada hewan-hewan tersebut masih tersekap di dalam tubuhnya, hal ini berbahaya bagi agama dan tubuh.
Untuk itulah maka Allah mengharamkannya.

Tetapi dikecualikan dari bangkai tersebut yaitu ikan, karena ikan tetap halal, baik mati karena disembelih ataupun karena penyebab lainnya.

Hal ini berdasarkan kepada apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Malik di dalam kitab Muwatta '-nya, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad di dalam kitab musnad masing-masing, Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah di dalam kitab sunnah mereka, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban di dalam kitab sahih masing-masing, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ per­nah ditanya mengenai air laut.
Maka beliau ﷺ menjawab:

Laut itu airnya suci dan menyucikan lagi halal bangkainya.

Hal yang sama dikatakan terhadap belalang (yakni bangkainya), me­nurut hadis yang akan dikemukakan berikutnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan darah.

Yang dimaksud dengan darah ialah darah yang dialirkan.
Sama pe­ngertiannya dengan ayat lain, yaitu firman-Nya:

atau darah yang mengalir.
(Al An'am:145)

Demikianlah menurut Ibnu Abbas dan Sa'id ibnu Jubair.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Kasir ibnu Syihab Al-Mizhaji, telah menceritakan kepada kami Mu­hammad ibnu Sa'id ibnu Sabiq, telah menceritakan kepada kami Amr (yakni Ibnu Qais), dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bah­wa ia pernah ditanya mengenai limpa.
Maka ia menjawab, "Makanlah limpa itu oleh kalian." Mereka berkata, 'Tetapi limpa itu adalah da­rah?"
Maka Ibnu Abbas menjawab, "Sesungguhnya yang diharamkan atas kalian itu hanyalah darah yang mengalir."

Abu Abdullah Muhammad ibnu Idris Asy-Syafii mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, dari Ibnu Umar secara marfu’ bahwa Ra­sulullah ﷺ telah bersabda: Dihalalkan bagi kita dua jenis bangkai dan dua jenis darah.
Adapun dua jenis bangkai yaitu ikan dan belalang, dan dua jenis darah yaitu hati dan limpa.

Sulaiman ibnu Bilal —salah seorang yang dinilai Sabat (kuat)— telah meriwayatkannya dari Zaid ibnu Aslam, dari Ibnu Umar secara mauauf hanya sampai pada Ibnu Umar menurut sebagian dari mereka.
Menurut Abu Zar'ah Ar-Razi, yang mengatakan mauquf lebih sahih.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Malik ibnu Abusy Syawarib, telah menceritakan kepada kami Basyir ibnu Syuraih, dari Abu Galib, dari Abu Umamah (yaitu Sada ibnu Ajlan) yang menceritakan, "Rasulullah ﷺ pernah mengutusku kepada suatu kaum untuk menyeru mereka kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengajarkan kepada mereka syariat Islam.
Lalu aku datang kepada mereka.
Ketika kami sedang bertugas, tiba-tiba mereka datang membawa sepanci darah yang telah dimasak (manis), kemudian me­reka mengerumuninya dan menyantapnya.
Mereka berkata, 'Kemarilah hai Sada, makanlah bersama kami'." Sada berkata, "Celakalah kalian, sesungguhnya aku datang kepa­da kalian dari seseorang (Nabi) yang mengharamkan makanan ini atas kalian, maka terimalah larangan darinya ini." Mereka bertanya, "Apa­kah hal yang melarangnya?"
Maka aku (Sada) membacakan kepada mereka ayat ini, yaitu firman-Nya:

Diharamkan bagi kalian (memakan) bangkai dan darah., hingga akhir ayat.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui hadis Ibnu Abusy Syawarib berikut sanadnya dengan lafaz yang semisal.
Ia menambahkan sesudah konteks ini bahwa Sada melanjutkan kisah­nya, "Maka aku bangkit mengajak mereka untuk masuk Islam, tetapi mereka membangkang terhadapku, lalu aku berkata, 'Celakalah kalian ini, berilah aku air minum, karena sesungguhnya aku sangat haus.' Saat itu aku memakai jubah 'abayah-ku.
Mereka menjawab, 'Kami ti­dak mau memberimu air minum dan kami akan biarkan kamu hingga mati kehausan.' Maka aku menderita (karena kehausan), lalu aku tutupkan kain 'abayah-ku ke kepalaku dan tidur di padang pasir di panas yang sangat terik.
Dalam tidurku aku bermimpi kedatangan se­seorang yang datang membawa sebuah wadah dari kaca yang sangat indah dan belum pernah dilihat oleh manusia.
Di dalam wadah itu ter­dapat minuman yang manusia belum pernah merasakan minuman yang selezat itu.
Lalu orang tersebut menyuguhkan minuman itu ke­padaku dan aku langsung meminumnya.
Setelah selesai minum, aku terbangun.
Demi Allah, aku tidak merasa kehausan lagi dan tidak per­nah telanjang (tidak berpakaian) lagi sesudah mereguk minuman ter­sebut."

Imam Hakim meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya, dari Ali ibnu Hammad, dari Abdullah ibnu Ahmad ibnu Hambal, te­lah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Salamah ibnu Ayyasy Al-Amiri, telah menceritakan kepada kami Sadaqah ibnu Haram, dari Abu Galib, dari Abu Umamah, lalu ia menuturkan hadis yang semi­sal.
Menurut riwayat ini ditambahkan sesudah kalimat "sesudah me­reguk minuman tersebut" hal berikut, yaitu: "Maka aku (Sada) men­dengar mereka mengatakan, 'Orang yang datang kepada kalian ini da­ri kalangan orang hartawan kalian.
Mengapa kalian tidak menyuguh­kan minuman susu dan air kepadanya?"
Maka mereka menyuguhkan minuman air susu yang dicampur dengan air, dan aku katakan kepada mereka, 'Aku tidak memerlukannya lagi.
Sesungguhnya Allah telah memberiku makan dan minum.’ lalu aku perlihatkan kepada mereka perutku, hingga semuanya percaya bahwa aku telah kenyang."

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan daging babi.

Yaitu baik yang jinak maupun yang liar.
Pengertian lahm mencakup semua bagian tubuh babi, hingga lemaknya.
Dalam hal ini tidak di­perlukan pemahaman yang 'sok pintar' dari kalangan mazhab Zahiri dalam kestatisan mereka menanggapi ayat ini dan pandangan mereka yang keliru dalam memahami makna firman-Nya:

—karena sesungguhnya semua itu kotor—atau binatang.
(Al An'am:145)

Dalam konteks firman-Nya:

kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi —karena sesungguhnya semuanya itu kotor— (Al An'am:145)

Mereka merujukkan damir yang ada pada lafaz fainnahu kepada lafaz khinzir dengan maksud agar mencakup semua bagian tubuhnya.
Pada­hal pemahaman ini jauh dari kebenaran menurut penilaian lugah (ba­hasa), karena sesungguhnya damir itu tidak dapat dirujuk kecuali ke­pada mudaf, bukan mudafilaih.

Menurut pengertian lahiriah, kata ‘daging’ mempunyai pengertian yang mencakup semua anggota tubuh dalam terminologi bahasa, juga menurut pengertian tradisi yang berlaku.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Buraidah ibnul Khasib Al-Aslami r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ per­nah bersabda:

Barang siapa yang bermain nartsyir (karambol), maka seakan-akan mencelupkan tangannya ke dalam daging dan darah babi.

Dengan kata lain, bilamana peringatan ini hanya sekadar menyentuh, maka dapat dibayangkan kerasnya ancaman dan larangan bila mema­kan dan menyantapnya.
Di dalam hadis ini terkandung makna yang menunjukkan mencakup pengertian daging terhadap semua anggota tubuh, termasuk lemak dan lain-lainnya.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ per­nah bersabda:

Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli khamr.
bangkai, daging babi, dan berhala.
Maka diajukan pertanyaan, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah menu­rutmu tentang lemak bangkai?
Karena sesungguhnya lemak bangkai dipakai sebagai dempul untuk melapisi perahu dan dijadikan sebagai minyak untuk kulit serta dipakai sebagai minyak lampu penerangan oleh orang-orang," Rasulullah ﷺ menjawab: Jangan, itu (tetap) haram.

Di dalam kitab Sahih Bukhari melalui hadis Abu Sufyan disebutkan bahwa Abu Sufyan mengatakan kepada Heraklius, Raja Romawi, "Beliau (Nabi ﷺ) melarang kami memakan bangkai dan darah."

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...(dan daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah.

Yaitu hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, hewan tersebut menjadi haram.
Karena Allah subhanahu wa ta'ala mengharuskan bila makhluk-Nya disembelih agar disebut asma-Nya Yang Mahaagung.

Oleh karena itu, manakala hal ini disimpangkan (diselewengkan) dan disebutkan pada hewan tersebut nama selain Allah ketika hendak me­nyembelihnya, misalnya nama berhala atau tagut atau wasan atau makhluk lainnya, maka sembelihan itu hukumnya haram menurut ke­sepakatan semua.

Para ulama hanya berselisih pendapat mengenai tidak membaca tasmiyah (Basmalah) dengan sengaja atau lupa, seperti yang akan di­terangkan nanti dalam tafsir surat Al-An'am.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Mas-'adah, dari Auf, dari Abu Raihanah, dari Ibnu Abbas yang mengata­kan: Rasulullah ﷺ melarang (memakan daging) dari pertandingan orang-orang Badui menyembelih ternak unta.

Kemudian Imam Abu Daud mengatakan bahwa Muhammad ibnu Ja'far (yaitu Gundar) me-mauquf-kan hadis ini pada Ibnu Abbas.
Hadis diriwayatkan oleh Imam Abu Daud secara munfarid.

Imam Abu Daud mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Zaid ibnu Abuz Zarqa, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu Hazim, dari Az-Zubair ibnu Hurayyis yang mengatakan bahwa ia pernah mende­ngar Ikrimah mengatakan: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melarang memakan makanan hasil pertandingan (menyembelih) yang dilakukan oleh orang-orang yang bertanding.

Kemudian Abu Daud mengatakan bahwa kebanyakan orang yang meriwayatkannya selain Ibnu Jarir tidak menyebutkan pada sanad­nya nama Ibnu Abbas.
Hadis ini diriwayatkan secara munfarid pula.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan hewan yang tercekik.

Yaitu hewan ternak yang mati tercekik, baik disengaja ataupun karena kecelakaan, misalnya tali pengikatnya mencekiknya karena ulahnya sendiri hingga ia mati, maka hewan ini haram dagingnya.

Makna lafaz mauquzah artinya hewan yang mati dipukuli dengan benda berat, tetapi tidak tajam.
Menurut Ibnu Abbas dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, mauauzah ialah hewan yang dipukuli de­ngan kayu hingga sekarat, lalu mati.

Qatadah mengatakan, orang-orang Jahiliah biasa memukuli hewannya dengan tongkat sampai mati, lalu mereka memakannya.

Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Addi ibnu Hatim pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku membidik hewan bu­ruan dengan lembing dan mengenainya." Rasulullah ﷺ bersabda:

Apabila kamu melempar (buruan) dengan lembingmu, lalu menu­suknya, maka makanlah.
Jika yang mengenainya adalah bagian sampingnya, sesungguhnya hewan buruan itu mati terpukul, maka janganlah kamu memakannya.

Dalam hal ini dibedakan antara sasaran yang dikenai oleh anak panah dan tombak serta sejenisnya, yakni dengan bagian yang tajamnya, maka hukumnya halal.
Sedangkan hewan yang dikenai oleh bagian sampingnya maka hewan itu dihukumi mati karena terpukul, sehingga tidak halal.
Demikianlah yang disepakati di kalangan ulama fiqih.

"Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami akan bersua dengan musuh besok, sedangkan kami tidak mempunyai pisau.
Bolehkah kami menyembelih dengan aasab (welat bambu)'?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebutkan asma Allah ketika menyembelihnya, maka makanlah sembelihan itu oleh kalian.

Hadis secara lengkapnya terdapat di dalam kitab Sahihain.

Hukum ini sekalipun dinyatakan karena penyebab yang khusus, tetapi hal yang dianggap ialah keumuman lafaznya menurut jumhur ulama usul dan ulama fiqih.
Perihalnya sama dengan suatu pertanyaan yang pernah diajukan kepada Nabi ﷺ mengenai al-bit'u, yaitu mi­numan nabiz yang terbuat dari madu.

Beliau ﷺ menjawab melalui sabdanya:

Semua jenis minuman yang memabukkan hukumnya haram.

Maka adakah seorang ahli fiqih yang mengatakan bahwa lafaz ini hanya khusus berkaitan dengan minuman madu?
Perihalnya sama saja ketika mereka bertanya kepada Nabi ﷺ tentang suatu sembelihan.
Beliau menjawab mereka dengan kata-kata yang mengandung makna umum yang membuat si penanya —juga yang lainnya— berpikir mencernanya, mengingat Nabi ﷺ telah dianugerahi jawami'ul kalim.

Apabila hal ini telah jelas, maka binatang buruan yang ditabrak oleh anjing pemburu atau yang ditindihinya dengan berat badannya (hingga) mati bukan termasuk hewan yang dialirkan darahnya.
Ka­rena itu, hewan buruan tersebut tidak halal.
Demikianlah makna yang terkandung di dalam hadis ini.

Apabila dikatakan bahwa hadis yang dimaksud sama sekali bukan termasuk ke dalam bab ini, karena mereka menanyakan kepada Nabi ﷺ tentang alat yang dipakai untuk menyembelih, dan mereka tidak menanyakan tentang sesuatu yang disembelih.
Karena itulah di­kecualikan dari alat tersebut gigi dan kuku.
Hal ini diungkapkan me­lalui sabdanya:

Tidak boleh memakai gigi dan kuku, aku akan menceritakan ke­pada kalian mengenainya.
Adapun gigi berasal dari tulang, dan kuku adalah pisau orang-orang Habsyah.

Sedangkan mustasna menunjukkan jenis dari mustasha minhu.
Jika ti­dak demikian, berarti tidak muttasil (berkaitan).
Dengan demikian, maka hal ini menunjukkan bahwa yang ditanyakan adalah alatnya, se­hingga tidak ada dalil bagi apa yang Anda sebutkan.

Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa di dalam alasan yang Anda kemukakan terkandung hal yang sulit Anda cerna, mengingat sabda Nabi ﷺ mengatakan:

Alat apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebutkan as­ma Allah padanya, maka makanlah oleh kalian sembelihan itu.

Dalam hadis ini tidak disebutkan, "Maka sembelihlah hewan itu de­ngan alat tersebut." Dengan demikian, berarti dari hadis ini dapat disimpulkan dua hukum sekaligus, yaitu mengenai hukum alat yang dipakai untuk menyembelih dan hukum hewan yang disembelih, darah­nya harus dialirkan dengan alat yang bukan berupa gigi, bukan pula kuku.
Ini adalah suatu analisis.

Analisis yang kedua menurut cara Al-Muzanni, yaitu masalah anak panah dijelaskan padanya, bahwa jika binatang buruan terkena bagian sampingnya (kayunya), tidak boleh dimakan, jika tertembus oleh anak panahnya, boleh dimakan.
Sedangkan dalam masalah an­jing pemburu disebutkan secara mudak, karena itu masalahnya diin­terpretasikan dengan rincian yang ada pada masalah anak panah, yaitu yang menembus sasarannya.
Karena kedua masalah tersebut mempu­nyai persamaan pada subyeknya, yaitu binatang buruan, untuk itulah wajib dalam masalah ini disamakan dengan masalah anak panah, se­kalipun penyebabnya berbeda.
Perihalnya sama dengan wajib meng­artikan mutlaknya merdeka dalam masalah zihar terhadap masalah keterikatan merdeka dengan sumpah dalam masalah pembunuhan.
Bahkan dalam masalah yang sedang kita bahas ini lebih utama, hal ini akan dimengerti oleh orang yang memahami kaidah asal (pokok) mengenainya secara apa adanya.
Kaidah ini tiada yang memperselisihkannya di antara para ulama yang bersangkutan secara menyelu­ruh.
Sudah merupakan suatu keharusan bagi mereka menanggapi ma­salah ini.
Seseorang boleh mengatakan bahwa hewan buruan ini dibu­nuh oleh anjing pemburu dengan berat badannya, maka hewan buruan ini tidak halal karena dikiaskan kepada masalah hewan buruan yang terbunuh oleh bagian samping anak panah (yakni terpukul olehnya).
Kesamaan yang ada dalam kedua masalah ialah masing-masing dari keduanya menggunakan alat berburu, sedangkan binatang buruan ma­ti karena beratnya alat dalam masing-masing kasus.
Hal ini tidak ber­tentangan dengan keumuman makna ayat mengenainya, karena kias didahulukan atas keumuman makna, seperti yang dianut oleh mazhab para imam yang empat dan jumhur ulama.
Analisis ini dinilai baik pula.

Analisis lainnya mengatakan bahwa firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang me­ngatakan:

Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untuk kalian.
(Al Maidah:4)

Mengandung makna yang umum mencakup hewan buruan yang mati karena luka atau lainnya.
Tetapi hewan yang terbunuh dengan cara tersebut dan masih diperselisihkan kehalalannya, tidak terlepas adaka­lanya mati karena tertanduk atau cara lain yang sama hukumnya, atau tercekik, atau cara lain yang sama hukumnya.

Dalam keadaan bagaimanapun wajib memprioritaskan ayat ini atas dalil-dalil lainnya, karena alasan-alasan berikut:

Pertama, Pentasyri' menetapkan hukum ayat ini dalam kasus perburuan.
yaitu ketika beliau mengatakan kepada Addi ibnu Hatim, Dan Jika hewan buruan itu terkena oleh bagian sampingnya, sesungguhnya hewan itu sama dengan mati karena terpukul.
Maka janganlah kamu memakannya!"

Kami belum pernah mengetahui ada seorang ulama yang memi­sahkan antara suatu hukum dengan hukum ayat ini, lalu ia mengata­kan bahwa sesungguhnya hewan yang mati terpukul dapat dimakan bila merupakan hasil dari perburuan, sedangkan kalau yang tertanduk tidak dapat dimakan.
Dengan demikian, berarti pendapat memboleh­kan hal yang diperselisihkan (kehalalannya) melanggar kesepakatan ijma', bukan sebagai orang yang mendukung ijma', dan hal ini dila­rang menurut kebanyakan ulama.

Kedua, bahwa firman-Nya yang mengatakan:

Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untuk kalian.

Tidak mengandung makna yang umum secara ijma', melainkan di­khususkan bagi hewan buruan yang dapat dimakan dagingnya.
Dike­cualikan dari keumuman makna lafaznya hewan yang tidak boleh di­makan, menurut kesepakatan ulama.
Sedangkan pengertian umum yang telah dikenal harus lebih didahulukan daripada yang tidak di­kenal.

Analisis lain mengatakan bahwa binatang buruan seperti itu sama hukumnya dengan bangkai, karena darahnya tertahan, begitu pula cairan lainnya yang mengikutinya, maka hukumnya tidak halal karena dikiaskan kepada bangkai.

Analisis lainnya mengatakan bahwa ayat tahrim yang mengata­kan:

Diharamkan bagi kalian bangkai., hingga akhir ayat

bersifat muhkam, tidak ada nasakh, dan tidak ada takhsis yang mema­sukinya.
Demikian juga selayaknya ayat tahlil bersifat muhkam pula.
Yang dimaksud dengan ayat tahlil ialah firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Mereka menanyakan kepadamu, "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?"
Katakanlah, "Dihalalkan bagi kalian yang baik-baik." (Al Maidah:4), hingga akhir ayat.

Sudah selayaknya tidak boleh ada pertentangan di antara keduanya secara mendasar, dan datanglah peran sunnah yang menjelaskan hal tersebut.

Sebagai buktinya ialah disebutkan dalam kisah berburu memakai anak panah hukum yang termasuk ke dalam makna ayat ini, yaitu bila hewan buruan tersebut tertembus oleh anak panah, maka hukumnya halal karena termasuk ke dalam pengertian tayyibat (yang baik-baik).
Sedangkan dalam waktu yang sama ada pula pada hadis ini pengerti­an yang termasuk ke dalam hukum ayat tahrim.
Yaitu bilamana he­wan buruan mati terkena bagian sampingnya, maka ia tidak boleh dimakan, karena sama saja dengan mati terpukul.
Dengan demikian, masalahnya termasuk ke dalam salah satu dari rincian makna ayat tahrim.

Demikian pula sudah seharusnya disamakan hukum hewan buru­an yang dilukai oleh anjing pemburu, maka hewan buruan tersebut termasuk ke dalam hukum ayat tahlil.
Jika tidak dilukai, melainkan ditabrak —atau binatang buruan mati karena tertanduk— atau hal lainnya yang sama hukumnya, maka hewan buruan tersebut tidak halal.

Jika ditanyakan, "Mengapa tidak ada rincian dalam hukum ber­buru memakai anjing pemburu?
Tetapi menurut kalian, bila hewan buruan dilukai, hukumnya halal, dan bila tidak dilukai, hukumnya haram?"

Sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa hal tersebut jarang, mengingat anjing pemburu selalu membunuh hewan buruannya de­ngan kuku atau dengan taring atau dengan keduanya.
Sedangkan de­raan cara menabrak hewan buruannya, hal ini jarang sekali terjadi.
Jarang pula terjadi anjing pemburu membunuh hewan buruannya dengan menindihnya.
Karena itu, tidak diperlukan adanya pengecualian hal seperti itu, mengingat kejadiannya sangat langka.
Atau memang masalahnya sudah jelas hukumnya bagi orang yang mengetahui ha­ramnya bangkai, hewan yang mati tercekik, hewan yang mati terpu­kul, hewan yang mati jatuh dari ketinggian, dan hewan yang mati ka­rena tertanduk.

Mengenai masalah berburu memakai anak panah (tombak), ada­kalanya si pelempar (pemburu) melenceng bidikannya karena kurang pandai atau sengaja bermain-main atau karena lain-lainnya, bahkan kelirunya lebih banyak daripada mengenai buruannya.
Karena itulah masing-masing hukumnya disebutkan secara rinci.

Karena itulah anjing pemburu itu adakalanya memakan sebagian binatang buruannya.
Maka disebutkan hukumnya secara rinci, yaitu apabila anjing pemburu memakan sebagian dari binatang buruannya.
Untuk itu Nabi ﷺ bersabda:

Jika anjing itu memakannya, maka janganlah kamu makan, kare­na sesungguhnya aku merasa khawatir bila anjing itu menang­kap buruan untuk dirinya sendiri (bukan untuk tuan yang mele­paskannya).

Hadis ini sahih dan terdapat di dalam kitab Sahihain.

Hukum yang di­sebutkan dalam hadis ini pun merupakan takhsis dari keumuman makna ayat tahlil menurut kebanyakan ulama.
Mereka mengatakan, tidak halal hasil buruan yang anjing pemburunya memakannya.
De­mikian riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas.
Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan, Asy-Sya'bi, dan An-Nakha'i.
Pendapat ini pulalah yang dipegang oleh Imam Abu Hanifah dan kedua temannya, juga Imam Ahmad ibnu Hambal dan Imam Syafii menurut pendapat yang terkenal darinya.

Ibnu Jarir meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya, dari Ali, Sa'id, Salman, dan Abu Hurairah, Ibnu Umar serta Ibnu Abbas radhiyallahu anhum, bahwa binatang buruan boleh dimakan sekalipun anjing pem­burunya memakan sebagian darinya.
Hingga Sa'id, Salman, dan Abu Hurairah serta lain-lainnya mengatakan bahwa hewan buruan masih boleh dimakan sekalipun tiada yang tersisa kecuali hanya sepotong daging saja.

Pendapat ini dipegang oleh Imam Malik, dan Imam Syafii dalam qaul qadim-nya mengatakan masalah ini.
Tetapi dalam qaul jadid-nya.
hanya mengisyaratkan kepada dua pendapat Demikian itu kata Imam Abu Nasr ibnu Sabbag dan lain-lainnya dari kalangan teman-teman­nya.
Imam Abu Daud telah meriwayatkan dalam pendapatnya yang didasari dengan hadis yang bersanadkan jayyid lagi kuat dari Abu Sa'labah Al-Khusyani, dari Rasulullah ﷺ

Disebutkan bahwa Ra­sulullah ﷺ pernah bersabda mengenai anjing pemburu:

Apabila kamu melepaskan anjing pemburumu dan kamu menye­butkan nama Allah, maka makanlah (hasil buruannya), sekalipun anjingmu memakan sebagian darinya, dan makan (pulalah) apa yang kamu tarik dengan tanganmu.

Imam Nasai meriwayatkannya pula melalui hadis Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa seorang Arab Badui yang dikenal dengan nama Abu Sa'labah bertanya.”Wahai Rasulullah," lalu ia me­nyebutkan hadis yang semisal.

Muhammad ibnu Jarir mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Imran ibnu Bakkar Al-Kala'i, telah men­ceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Musa (yaitu Al-Lahuni), te­lah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Dinar (yakni At-Tahii).
dari Abu Iyas (yaitu Mu'awiyah ibnu Qurrah), dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Salman Al-Farisi, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Bilamana seorang lelaki melepaskan anjing pemburunya terha­dap hewan buruan, lalu anjing dapat menangkapnya dan mema­kan sebagian dari hewan buruannya, maka hendaklah ia mema­kan sisanya.

Kemudian Ibnu Jarir menganalisis hadis ini, bahwa hadis ini telah di­riwayatkan oleh Qatadah dan lain-lainnya, dari Sa'id ibnul Musayyab, dari Salman secara mauquf.

Adapun pendapat jumhur ulama, mereka mendahulukan hadis Addi atas hadis ini, dan mereka menganggap daif hadis Abu Sa'labah dan lain-lainnya.

Tetapi sebagian ulama ada yang mengulasnya, jika anjing pem­buru memakan hewan buruannya sesudah lama menunggu tuannya dan ternyata masih belum datang juga, lalu ia memakannya karena la­par dan faktor lainnya, maka hewan buruan tersebut hukumnya tidak mengapa (halal), demikianlah rinciannya secara panjang lebar.
Kare­na dalam keadaan seperti itu tidak dikhawatirkan bahwa anjing terse­but menangkap hewan buruannya hanya untuk dirinya sendiri.
Lain halnya jika anjing pemburu memakannya begitu dia menangkap he­wan buruannya, dalam keadaan seperti ini tampak jelas bahwa dia menangkap hewan buruan itu untuk dirinya sendiri.

Mengenai burung-burung pemangsa —menurut nas Imam Syafii— sama hukumnya dengan anjing pemburu.
Dengan kata lain.
haram hukumnya bila ia memakannya, menurut jumhur ulama, dan tidak haram, menurut ulama lainnya.

Al-Muzanni dari kalangan teman kami memilih pendapat yang mengatakan tidak haram memakan hasil buruan burung pemangsa yang telah dimakan sebagiannya oleh burung yang memangsanya dan hewan pemburu lainnya.
Pendapat ini dikatakan oleh mazhab Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad.
Mereka mengatakan bahwa dikata­kan demikian karena tidak mungkin mengajari burung pemangsa seperti mengajari anjing pemburu, misalnya memakai sarana pemukul dan sarana lainnya yang digunakan untuk mengajari anjing.
Lagi pula burung pemangsa yang dijadikan hewan pemburu tidak mengetahui melainkan dia memakan sebagian dari binatang buruannya, karena itu keadaannya dimaafkan.
Nas yang ada hanyalah menyebutkan rincian tentang anjing pemburu, bukan burung pemburu.

Syekh Abu Ali mengatakan di dalam kitab Ifsah-nya, jika kita katakan haram memakan hewan buruan yang telah dimakan oleh an­jing pemburu sebagiannya, maka dalam masalah hewan buruan yang dimakan oleh burung pemburu ada dua pendapat.
Tetapi Abut Tayyib Al-Qadi menolak adanya rincian dan urutan ini pada nas Imam Syafii yang menunjukkan adanya persamaan di antara keduanya.

Yang dimaksud dengan mutaraddiyah ialah hewan yang jatuh dari ketinggian atau tempat yang tinggi, lalu mati, hukumnya tidak halal.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa mutaraddiyah ialah hewan yang jatuh dari atas bukit.

Qatadah mengatakan bahwa mutaraddiyah ialah hewan yang jatuh ke dalam sumur.

As-Saddi mengatakan bahwa mutaraddiyah ialah hewan yang ja­tuh dari bukit atau terperosok ke dalam sumur yang dalam, lalu mati.

Natihah artinya hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya, maka hewan ini haram hukumnya, sekalipun terluka oleh tanduk dan darahnya keluar, sekalipun dari bagian penyembelihannya.

Natihah ber-wazan fa'ilah.
sedangkan maknanya maf'ulah,yakni (hewan yang ditanduk).

Bentuk lafaz ini kebanyakan di ka­langan orang-orang Arab dalam pemakaiannya tidak memakai huruf ta ta-nis.
mereka mengucapkannya 'ainun kahllun (mata yang bercelak), kaffun khadibun (tangan yang memakai pacar).
Mereka tidak mengucapkannya kaffun khadibah, tidak pula 'ainun kahilah.
Dalam lafaz ini sebagian kalangan ahli Nahwu mengatakan bahwa sesung­guhnya pemakaian ta ta-nis dalam lafaz ini tiada lain karena dikategorikan ke dalam isim, sama halnya dengan perkataan mereka tariqa-tun tawilah (jalan yang panjang).

Sebagian lain dari kalangan ahli Nahwu mengatakan bahwa se­sungguhnya pemakaian ta ta-nis dalam lafaz ini hanyalah untuk me­nunjukkan arti ta-nis sejak pemakaian semula, lain halnya dengan lafaz 'ainun kahilun dan kaffun khadibun, karena ta ta-nis telah dime­ngerti dari permulaan pembicaraan.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan yang diterkam binatang buas.

Artinya, hewan yang diterkam oleh singa atau harimau atau macan tutul atau oleh serigala atau oleh anjing liar, lalu dimakan sebagiannya dan mati, maka hewan tersebut haram hukumnya, sekalipun telah mengalir darahnya, dan yang dilukai pada bagian penyembelihannya, hukumnya tetap tidak halal menurut kesepakatan.

Dahulu orang-orang Jahiliah memakan lebihan dari apa yang dimangsa oleh binatang pemangsa, baik yang dimangsa itu kambing, atau unta atau sapi atau ternak lainnya.
Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
meng­haramkan hal itu bagi kaum mukmin.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...kecuali yang sempat kalian menyembelihnya,

Istisna dalam lafaz ayat ini kembali kepada apa yang mungkin pe­ngembaliannya dari hal-hal yang telah ditetapkan menjadi penyebab kematiannya, lalu sempat ditanggulangi dengan menyembelihnya, se­dangkan hewan yang dimaksud masih dalam keadaan hidup yang sta­bil.
Tempat kembali dari istisna ini tiada lain hanyalah pada firman-Nya:

hewan yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas.

Ali ibnu AbuTalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

...Kecuali yang sempat kalian menyembelihnya.,
Yakni kecuali hewan-hewan tersebut yang kalian sempat menyem­belihnya, sedangkan pada tubuhnya masih terdapat rohnya.
Maka ma­kanlah oleh kalian, karena hewan tersebut sama hukumnya dengan yang disembelih.
Hal yang sama diriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair, Al-Hasan Al-Basri, dan As-Saddi.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Gayyas, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari Ali sehubungan dengan ayat ini, bahwa jika hewan yang dimaksud masih menggerak-gerakkan telinganya, atau menendang-nendang dengan kakinya atau matanya masih melirik-lirik (saat kalian menyembelihnya), maka makanlah hewan itu.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah mencerita­kan kepada kami Hasyim dan Abbad, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Husain, dari Asy-Sya'bi, dari Al-Haris, dari Ali r.a.
yang mengatakan, "Jika hewan yang dipukul, yang jatuh, dan yang ditanduk masih sempat disembelih dalam keada­an masih sempat menggerak-gerakkan kaki depan atau kaki belakang­nya, maka makanlah hewan tersebut."

Ibnu Wahb mengatakan bahwa Imam Malik pernah ditanya ten­tang kambing yang dirobek tubuhnya oleh binatang pemangsa hingga ususnya keluar.
Imam Malik menjawab, "Menurut pendapatku, kam­bing tersebut tidak boleh disembelih, apakah manfaat penyembelihan dari kambing yang keadaannya sudah demikian?"

Asyhab mengatakan bahwa Imam Malik pernah ditanya menge­nai masalah dubuk yang menerkam domba dan mematahkan pung­gungnya, "Apakah domba itu boleh disembelih sebelum ia mati, lalu dimakan?"

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Maa'idah (5) ayat 3
Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ash Shabbah bahwa dia mendengar Ja'far bin Aun berkata,
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Umais, telah mengabarkan kepada kami Qais bin Muslim dari Thariq bin Syihab dari Umar bin Al Khaththab, Ada seorang laki-laki Yahudi berkata:
"Wahai Amirul Mu'minin, ada satu ayat dalam kitab kalian yang kalian baca, seandainya ayat itu diturunkan kepada kami Kaum Yahudi, tentulah kami jadikan (hari diturunkannya ayat itu) sebagai hari raya ('ied)." Maka Umar bin Al Khaththab berkata:
"Ayat apakah itu?" (Orang Yahudi itu) berkata:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian. (QS. Al Maidah ayat 3). Maka Umar bin Al Khaththab menjawab:
"Kami tahu hari tersebut dan dimana tempat diturunkannya ayat tersebut kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu pada hari Jum'at ketika Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berada di 'Arafah."

Shahih Bukhari, Kitab Iman - Nomor Hadits: 43

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Maa'idah (5) Ayat 3

Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah di dalam kitab ash-Shahaabah, dari ‘Abdullah bin Jabalah bin Hibban bin Hajar, dari bapaknya, yang bersumber dari datuknya (hibban bin Hajar) bahwa ketika Hibban sedang menggodok daging bangkai, Rasulullah ﷺ ada bersamanya.
Maka turunlah ayat ini (al-Maa’idah: 3) yang mengharamkan bangkai.
Seketika itu juga isi panci itu dibuang.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 3

SABU'
لسَّبُع

Lafaz ini adalah dalam bentuk jamak, mufradnya adalah sibaa', yaitu hewan yang buas secara umum.

Dalam Mu'jam Al Wasit dijelaskan, ia adalah setiap hewan yang memiliki taring, memburu manusia dan hewan sehingga menerkamnya seperti singa, serigala dan harimau atau setiap yang memiliki cakar.

Ia disebut sekali dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Maa'idah (5), ayat 3.

Al Qurtubi berkata,
"As sabu' ialah setiap binatang yang memiliki taring dan kuku yang bercakar seperti singa, harimau, serigala, beruang dan sebagainya."

Qatadah berkata,
"Orang jahiliah, apabila binatang buas menerkam mangsanya dan makan sebahagian darinya, mereka memakan apa yang tinggal darinya."

At Tabari berkata,
"Dan Allah mengharamkan untuk memakan apa yang telah dimakan oleh binatang buas yang tidak diajar sebagai binatang buruan.

Kesimpulannya, as sabu' adalah binatang buas yang memiliki taring dan cakar.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:291

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa'

Surat ini dinamakan "Al Maa-idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi 'Isa 'alaihis salam meminta kepada Nabi 'Isa 'alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi 'Isa 'alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi'ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi 'Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu'min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka'bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 3 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 3



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.9
Rating Pembaca: 4.9 (21 votes)
Sending







✔ almaidah 5:3, arti surah al maidah 5:3, munkhoniqotun artiny, surat almaidah 5 ayat 3, terjemahan al maidah 5:3