Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 27


وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ ابۡنَیۡ اٰدَمَ بِالۡحَقِّ ۘ اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِہِمَا وَ لَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِ ؕ قَالَ لَاَقۡتُلَنَّکَ ؕ قَالَ اِنَّمَا یَتَقَبَّلُ اللّٰہُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ
Waatlu ‘alaihim nabaaabnai aadama bil haqqi idz qarrabaa qurbaanan fatuqubbila min ahadihimaa walam yutaqabbal minaaakhari qaala aqtulannaka qaala innamaa yataqabbalullahu minal muttaqiin(a);

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).
Ia berkata (Qabil):
“Aku pasti membunuhmu!”.
Berkata Habil:
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.
―QS. 5:27
Topik ▪ Takwa ▪ Perbuatan dan niat ▪ Keluasan ilmu Allah
5:27, 5 27, 5-27, Al Maa’idah 27, AlMaaidah 27, Al Maidah 27, AlMaidah 27, Al-Ma’idah 27
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 27. Oleh Kementrian Agama RI

Nabi Muhammad ﷺ.
diperintahkan untuk membacakan kisah kedua putra Adam a.s.
itu di waktu mereka berkurban, kemudian kurban yang seorang diterima sedang kurban yang lain tidak.
Orang yang tidak diterima kurbannya bertekad untuk membunuh saudaranya, sedang yang diancam menjawab bahwa ia menyerah kepada Allah, karena Allah hanya akan menerima kurban dari orang-orang yang takwa.

Menurut riwayat dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan lain-lain, bahwa putra Adam yang bernama Qabil mempunyai ladang pertanian dan putranya yang bernama Habil mempunyai peternakan kambing.
Kedua putra Adam itu mempunyai saudara kembar wanita.
Pada waktu itu Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada Nabi Adam agar Qabil dikawinkan dengan saudara kembar Habil.
Dengan perkawinan itu Qabil tidak senang dan marah, saudara kembarnya lebih cantik.
Kedua-duanya sama-sama menghendaki saudara yang cantik itu.
Akhirnya Nabi Adam a.s.
menyuruh Qabil dan Habil agar keduanya berkurban guna mengetahui siapa, di antara mereka yang akan diterima kurbannya.
Qabil berkurban dengan hasil pertaniannya dan yang diberikan yang bermutu rendah.
sedang Habil berkurban dengan kambing pilihannya yang baik.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menerima kurban Habil, berarti bahwa Habillah yang dibenarkan mengawini saudara kembar Qabil.
Dengan demikian bertambah keraslah kemarahan dan kedengkian Qabil sehingga ia bertekad untuk membunuh saudaranya.
Tanda-tanda kurban yang diterima itu ialah kurban itu dimakan api sampai habis.
(Al Manar VI: 342).

Dari peristiwa yang terjadi ini dapat diambil pelajaran bahwa apa yang dinafkahkan seharusnya tidak sekadar untuk mengharapkan pujian dan sanjungan akan tetapi hendaklah dilakukan dengan ikhlas agar diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala

Al Maa'idah (5) ayat 27 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 27 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 27 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Senang kepada permusuhan adalah tabiat sebagian manusia.
Oleh karena itu, wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada orang-orang Yahudi–dan kamu adalah orang yang jujur dan benar–kisah dua putra Adam (Qabil dan Habil) ketika mempersembahkan korban kepada Allah.
Lalu Allah menerima korban Habil karena keikhlasannya, dan tidak menerima korban Qabil karena ia tidak ikhlas.
Maka, dengan rasa dengki, Qabil mengancam akan membunuh Habil.
Habil kemudian menjelaskan bahwa Allah tidak akan menerima suatu perbuatan selain dari orang-orang yang bertakwa dan ikhlas berkorban.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan bacakanlah) hai Muhammad (kepada mereka) yakni kepada kaummu (kabar) berita (dua orang anak Adam) yaitu Habil dan Qabil (dengan sebenarnya) berhubungan dengan utlu (ketika keduanya mempersembahkan kurban) kepada Allah berupa domba dari Habil dan hasil tanaman dari Qabil.
(Maka diterima dari salah seorang mereka) yakni dari Habil dengan alamat turunnya api dari langit yang melahap kurbannya (dan tidak diterima dari yang lain) yakni dari Qabil yang menjadi murka dan memendam kedengkian dalam dirinya menunggu naik hajinya Adam.
(Katanya) yakni Qabil kepada Habil (“Sungguh, akan kubunuh kamu!”) Kenapa kurbanmu diterima sedangkan kurban saya tidak! (Jawabnya, yakni Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa”).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sampaikanlah wahai Rasul kepada Bani Israil berita dua orang putra Adam, Qabil dan Habil.
Ia adalah berita yang benar :
saat masing-masing dari keduanya memberikan kurban ( yakni sesuatu yang bisa mendekatkan mereka kepada Allah), lalu Allah menerima kurban Habil, karena dia adalah laki-laki yang bertakwa dan Allah tidak menerima kurban Qabil, karena dia tidak termasuk orang-orang yang bertakwa.
Lalu Qabil dengki kepada saudaranya dan berkata :
Aku akan membunuhmu, maka Habil menjawab :
Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang takut kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman menjelaskan kefatalan akibat dari dengki, iri hati.
dan zalim melalui kisah kedua anak Adam, yang menurut jumhur ulama bernama Qabil dan Habil.
Salah seorang darinya menyerang yang lain hingga membunuhnya karena benci dan dengki terhadapnya karena Allah telah mengaruniakan nikmat kepadanya dan kurbannya diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
karena ia lakukan dengan hati yang tulus ikhlas.

Akhirnya si terbunuh memperoleh keberuntungan, yaitu semua dosanya diampuni dan dimasukkan ke dalam surga, sedangkan si pembunuh memperoleh kekecewaan dan kembali dengan membawa kerugian di dunia dan akhirat.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya.

Yakni ceritakanlah kepada mereka yang membangkang lagi dengki —yaitu saudaranya babi dan kera dari kalangan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang semisal dan serupa dengan mereka— tentang kisah kedua anak Adam.
Keduanya adalah Qabil dan Habil, menurut apa yang telah diceritakan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan:

…dengan sebenarnya.

Yakni secara jelas dan gamblang tanpa ada pengelabuan dan kedustaan, tanpa ada ilusi dan penggantian, serta tanpa ditambah-tambahi atau dikurangi.
Seperti pengertian yang tercantum dalam ayat lain:

Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar.
(Ali Imran:62)

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya.
(Al Kahfi:13)

Itulah Isa putra Maryam.
yang mengatakan perkataan yang benar.
(Maryam:34)

Kisah mengenai mereka berdua, menurut apa yang telah disebutkan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala.
mensyariatkan kepada Adam ‘alaihis salam untuk me­ngawinkan anak-anak lelakinya dengan anak-anak perempuannya karena keadaan darurat.

Tetapi mereka mengatakan bahwa setiap kali mengandung, dilahirkan baginya dua orang anak yang terdiri atas laki-laki dan perempuan, dan ia (Adam) mengawinkan anak perempuannya dengan anak laki-laki yang lahir bukan dari satu perut dengannya.
Dan konon saudara seperut Habil tidak cantik, sedangkan saudara seperut Qabil cantik lagi bercahaya.
Maka Habil bermaksud merebutnya dari tangan saudaranya.
Tetapi Adam menolak hal itu kecuali jika keduanya melakukan suatu kurban, barang siapa yang kurbannya diterima, maka saudara perempuan seperut Qabil akan dikawinkan dengannya.
Ter­nyata kurban Habillah yang diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, sehingga terjadilah kisah keduanya yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
di dalam Kitab-Nya.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan kisah yang ia terima dari Abu Malik dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas’ud.
serta dari sejumlah sahabat Nabi ﷺ, bahwa tidak sekali-kali dilahirkan anak (laki-laki) bagi Nabi Adam melainkan disertai dengan lahirnya anak perempuan.
Nabi Adam selalu mengawinkan anak lelakinya dengan anak perempuan yang lahir tidak seperut dengannya, dan ia mengawinkan anak perempuannya dengan anak lelaki yang lahir tidak seperut dengannya.
Pada akhirnya dilahirkan bagi Nabi Adam dua anak laki-laki yang dikenal dengan nama Habil dan Qabil.
Setelah besar Qabil adalah ahli dalam bercocok tanam, sedangkan Habil seorang peternak.
Qabil ber­usia lebih tua daripada Habil, dia mempunyai saudara perempuan se­perut yang lebih cantik daripada saudara perempuan seperut Habil.
Kemudian Habil meminta untuk mengawini saudara perempuan Qabil, tetapi Qabil menolak lamarannya dan berkata, “Dia adalah saudara perempuanku yang dilahirkan seperut denganku, lagi pula dia lebih cantik daripada saudara perempuanmu, maka aku lebih berhak untuk mengawininya.” Padahal Nabi Adam telah memerintahkan kepada Qabil untuk menikahkan saudara perempuannya dengan Habil, tetapi Qabil tetap menolak.
Kemudian keduanya melakukan suatu kurban kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
untuk menentukan siapakah di antara keduanya yang berhak mengawini saudara perempuan yang diperebutkan itu.
Saat itu Nabi Adam ‘alaihis salam telah pergi meninggalkan mereka berdua, dia datang ke Mekah untuk ziarah dan melihat Mekah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Tahukah kamu bahwa Aku mempunyai sebuah rumah di bumi ini?”
Adam menjawab, “‘Ya Allah, saya tidak tahu.” Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, “Sesungguhnya Aku mempunyai sebuah rumah di Mekah, maka datangilah.” Kemudian Adam berkata kepada langit.”Jagalah anak-anakku sebagai amanat,” tetapi langit menolak, dan ia berkata kepada bumi hal yang semisal, tetapi bumi pun menolak.
Maka Adam berkata kepada Qabil.
Qabil menjawab, “Ya, pergilah engkau.
Kelak bila engkau kembali, engkau akan menjumpai keluargamu seperti yang engkau sukai.” Setelah Adam berangkat, mereka berdua melakukan suatu kurban.
Sebelum- itu Qabil membanggakan dirinya atas Habil dengan mengata­kan, “Aku lebih berhak mengawininya daripada kamu, dia adalah saudara perempuanku, dan aku lebih besar daripada kamu serta akulah yang di-wasiati oleh ayahku.” Habil mengurbankan seekor domba yang gemuk, sedangkan Qabil mengurbankan seikat gandum, tetapi ketika ia menjumpai sebulir gandum yang besar di dalamnya, segera dirontokkannya dan di­makannya.
Dan ternyata api turun, lalu melahap kurban Habil, sedang­kan kurban Qabil dibiarkan begitu saja (tidak dimakan api).
Menyaksikan hal itu Qabil marah, lalu berkata, “Aku benar-benar akan membunuhmu agar kamu jangan mengawini saudara perempuanku.” Maka Habil hanya menjawab, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.”

Demikianlah yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabbah.
telah menceritakan kepada kami Hajjaj.
dari Ibnu Juraij.
telah menceritakan kepadaku Ibnu Khasyam.
Ibnu Juraij mengatakan bahwa ia datang bersama Sa’id ibnu Jubair, lalu Ibnu Khasjam menceritakan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Adam melarang seorang wanita kawin dengan saudara lelaki kembarannya, dan ia memerintahkan agar wanita itu dikawini oleh lelaki lain dari kalangan saudara-saudara lelaki lain yang tidak sekembar dengannya.
Tersebutlah bahwa setiap Nabi Adam mempunyai anak, dari setiap perut lahirlah seorang bayi laki-laki dan seorang bayi perempuan.
Ketika mereka (Nabi Adam dan para putranya) menjalankan peraturan tersebut, tiba-tiba lahirlah seorang anak perempuan yang cantik dan lahir pula seorang anak perempuan yang buruk wajahnya (dari lain perut).
Lalu saudara lelaki dari wanita yang buruk rupa itu berkata (kepada saudara lelaki wanita yang cantik), “Kawinkanlah aku dengan saudara perempuanmu, maka aku akan menikahkanmu dengan saudara perempuanku.” Lelaki saudara si perempuan yang cantik menjawab, ‘Tidak, akulah yang lebih berhak untuk mengawini saudara perempuanku.” Maka keduanya melakukan suatu kurban, dan ternyata yang diterima adalah kurban milik peternak, sedangkan kurban milik petani tidak diterima, maka si petani (Qabil) membunuh si peternak (Habil).
Sanad asar ini jayyid.

Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Abdullah ibnu Usman ibnu Khasyam, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

…ketika keduanya mempersembahkan kurban.
Mereka menyuguhkan kurbannya masing-masing, pemilik ternak menyuguhkan kurban seekor domba putih bertanduk lagi gemuk, sedangkan pemilik lahan pertanian menyuguhkan seikat bahan makanan pokoknya.
Maka Allah menerima domba dan menyimpannya di dalam surga selama empat puluh tahun.
Domba itulah yang kelak akan disembelih oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Sanad asar ini jayyid (baik).

Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, te­lah menceritakan kepada kami Auf, dari Abul Mugirah.
dari Abdullah ibnu Amr yang telah menceritakan bahwa sesungguhnya kedua anak lelaki Adam yang menyuguhkan kurban, lalu kurban salah seorangnya diterima, sedangkan kurban yang lainnya tidak diterima, salah seorangnya adalah ahli bercocok tanam, sedangkan yang lainnya ada­lah peternak domba.
Keduanya telah diperintahkan untuk memper­sembahkan suatu kurban.
Sesungguhnya pemilik ternak mengurbankan seekor kambing yang paling gemuk dan paling baik yang ada pada miliknya dengan hati yang tulus ikhlas, tetapi si petani menyuguhkan hasil panennya yang paling buruk —yaitu kuz dan zuwwan— serta dengan hati yang tidak ikhlas pula.
Dan ternyata Allah menerima kurban si pemilik ternak dan tidak mau menerima kurban si petani.
Kisah mengenai keduanya disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
di dalam Al-Qur’an.

Ibnu Jarir mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya si terbunuh adalah orang yang lebih kuat.
Tetapi karena takut dengan dosa, ia tidak berani menjatuhkan tangannya kepada saudaranya.”

Ismail ibnu Rafi’ Al-Madani mengatakan bahwa telah dikisahkan kepadaku bahwa kedua anak Adam ketika diperintahkan untuk menyuguhkan kurban salah seorang di antaranya adalah pemilik ternak kambing.
Dan tersebutlah bahwa salah seekor dari kambingnya melahirkan cempe (anak kambing) yang sangat ia sukai, sehingga di malam hari anak kambing itu dibawanya tidur bersama, dan ia menggendongnya di atas pundaknya karena sangat sayangnya, sehing­ga tiada baginya harta benda yang lebih disukainya daripada anak kambing itu.
Ketika ia diperintahkan untuk menyuguhkan kurban, anak kambing itu telah besar, maka ia mengurbankannya karena Allah subhanahu wa ta’ala Maka Allah menerimanya, dan kambing itu masih tetap hidup di surga sehingga dijadikan tebusan sebagai ganti anak Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Ansari, telah mencerita­kan kepada kami Al-Qasim ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnul Husain yang telah mengatakan bahwa Adam ‘alaihis salam berkata kepada Habil dan Qabil, “Sesungguhnya Tuhanku telah menjanjikan kepadaku bahwa kelak di antara keturunan­ku ada orang yang menyuguhkan kurban, maka suguhkanlah kurban oleh kamu berdua, hingga hatiku senang bila melihat kurban kamu berdua diterima.” Lalu keduanya menyuguhkan kurbannya masing-masing, dan tersebutlah bahwa Habil adalah seorang peternak kambing, maka ia mengurbankan seekor kambing yang paling gemuk dan merupakan hartanya yang paling baik.
Sedangkan Qabil adalah seorang petani, maka ia mengurbankan hasil terburuk dari panennya.
Kemudian Adam berangkat bersama mereka berdua yang masing-masing membawa kurbannya sendiri-sendiri.
Lalu keduanya menaiki bukit dan meletakkan kurbannya masing-masing, setelah itu ketiganya duduk seraya melihat ke arah kurban tersebut.
Maka Allah mengirimkan api.
Setelah api berada di atas kurban mereka, maka kambing kurban itu mendekatinya, dan api segera memakan kurban Habil serta meninggalkan kurban Qabil.
Sesudah itu mereka pulang dan Adam mengetahui bahwa Qabil adalah orang yang dimurkai, maka ia berkata (kepadanya), “Celakalah kamu, hai Qabil.
kurbanmu tidak diterima.” Tetapi Qabil menjawab, “Engkau mencintainya dan mendoakan kurbannya.
Karena itu kurban­nya diterima, sedangkan kurbanku tidak diterima.” Lalu Qabil berkata kepada Habil, “Aku benar-benar akan membunuhmu agar aku tenang dari mu.
Ayahmu mendoakan dan memberkati kurbanmu, karena itu kurbanmu diterima.” Tersebutlah bahwa Qabil selalu mengancam akan membunuh Habil, hingga di suatu sore hari Habil tertahan tidak dapat pulang karena mengurusi ternak kambingnya.
Adam merasa khawatir, lalu ia berkata, “Hai Qabil, ke manakah saudaramu?”
Qabil menjawab, “Apakah engkau menyuruhku untuk menjadi penggembala baginya?
Aku tidak tahu.” Adam berkata marah.”Celakalah kamu,Qabil, berangkatlah kamu dan cari saudaramu itu.” Qabil berkata kepada dirinya sendiri.”Malam ini pasti aku akan membunuhnya.” Lalu ia mengambil sebuah barang yang tajam dan mendekat ke arah Habil yang saat itu sedang merebahkan tubuhnya.
Maka Qabil berkata, “Hai Habil, kurbanmu diterima, sedangkan suguh­an kurbanku ditolak, aku benar-benar akan membunuhmu.” Habil menjawab, “Aku suguhkan kurban itu dari hartaku yang terbaik, sedangkan engkau mengurbankan hartamu yang buruk.
Sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah hanya mau menerima dari orang-orang yang bertakwa.” Ketika Habil mengucapkan kata-kata itu, Qabil marah, lalu ia mengangkat benda tajam itu dan ia pukulkan kepada Habil.
Habil sem­pat berkata, “Celakalah kamu, hai Qabil.
Ingatlah kamu kepada Allah, mana mungkin Dia memberimu pahala dengan perbuatanmu ini!” Ma­ka Qabil membunuhnya dan melemparkannya di tanah yang legok, lalu menutupinya dengan tanah.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari sebagian orang yang ahli mengenai kitab terdahulu, bahwa Adam memerintahkan kepada putranya yang bernama Qabil untuk menikah dengan saudara perempuan sekembar dengan Habil, dan memerintahkan kepada Habil untuk mengawini saudara perempuan yang lahir bersama Qabil.
Habil menuruti perintahnya dan rela, lain halnya dengan Qabil, ia menolak dan tidak suka kawin dengan saudara perempuan Habil karena ia menyenangi saudara perempuannya sendiri.
Lalu ia berkata, “Kami dilahirkan di dalam surga, sedangkan mereka dilahirkan di bumi, ma­ka aku lebih berhak atas saudaraku.”

Sebagian ahli ilmu mengenai kitab terdahulu ada yang mengata­kan bahwa saudara perempuan Qabil adalah wanita yang cantik, sehingga Qabil tidak mau menyerahkannya kepada saudara lelakinya, dan dia bermaksud untuk mengawininya sendiri.
Hanya Allah Yang Maha Mengetahui, mana yang benar di antara kedua pendapat di atas.

Maka ayahnya berkata kepadanya, “Hai anakku Qabil, sesung­guhnya saudara perempuan kembaranmu itu tidak halal bagimu.” Tetapi Qabil menolak perkataan ayahnya itu dan tidak mau menuruti nasihatnya.

Akhirnya ayahnya berkata, “Hai anakku, suguhkanlah kurban.
Begitu pula saudara lelakimu Habil.
Maka siapa di antara kamu yang diterima kurbannya, dialah yang berhak mengawininya.”

Qabil mempunyai mata pencaharian menggarap lahan sawah (petani), sedangkan Habil adalah seorang peternak.
Maka Qabil menyuguhkan kurban berupa gandum, dan Habil mengurbankan se­ekor kambing yang gemuk lagi muda.
Menurut sebagian dari mereka, Habil mengurbankan seekor sapi betina.
Maka Allah mengirimkan api yang putih, lalu api itu memakan kurban Habil.
sedangkan kurban Qabil dibiarkannya.
Dengan demikian, berarti kurban Habil diterima.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang telah mencerita­kan bahwa pada saat itu tidak terdapat orang miskin yang akan diberi­nya sedekah (dari kurbannya), melainkan kurban tersebut hanya semata-mata dilakukan oleh seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ketika kedua anak Adam sedang duduk, keduanya mengatakan, “Marilah kita menyuguhkan kurban.” Dan tersebutlah bila seseorang menyuguhkan kurbannya, lalu kurbannya itu diterima oleh Allah, maka Allah mengirimkan kepadanya api, lalu api itu memakan kurbannya, jika kurbannya tidak diterima oleh Allah, maka api itu padam.
Lalu keduanya menyuguhkan kurbannya masing-masing, salah seorang adalah penggembala, sedangkan yang lainnya petani.
Si peter­nak menyuguhkan kurban berupa seekor kambing yang paling baik dan paling gemuk di antara ternak miliknya, sedangkan yang lain berkurban sebagian dari hasil tanamannya.
Lalu datanglah api dan turun di antara keduanya, maka api itu memakan kambing dan membiarkan hasil panen.
Kemudian anak Adam yang kurbannya tidak diterima berkata kepada saudaranya yang kurbannya diterima, “Apakah nanti kamu berjalan di antara orang banyak, sedangkan mereka telah mengetahui bahwa engkau telah menyuguhkan suatu kurban dan ternyata kurban­mu diterima, sedangkan kurbanku tidak diterima dan dikembalikan kepadaku.
Tidak, demi Allah, manusia tidak boleh memandang diriku, sedangkan engkau lebih baik dariku.” Kemudian Qabil berkata, “Aku benar-benar akan membunuhmu.” Lalu saudaranya menjawab, “Apakah dosaku?
Sesungguhnya Allah hanya mau menerima dari orang-orang yang bertakwa.” Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.

Asar ini menyimpulkan bahwa penyuguhan kurban yang dilakukan oleh keduanya bukan karena ada latar belakangnya, bukan pula karena memperebutkan seorang wanita, seperti apa yang telah disebutkan dari riwayat sejumlah ulama yang telah disebutkan di atas.
Dan memang inilah pengertian yang tersimpulkan dari makna lahiriah firman-Nya yang mengatakan:

ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).
Ia berkata (Qabil), “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa “

Konteks ayat ini menunjukkan bahwa sesungguhnya yang membuat Qabil marah dan dengki ialah karena kurban saudaranya diterima, sedangkan kurban dirinya sendiri tidak diterima.

Kemudian menurut pendapat yang terkenal di kalangan jumhur ulama, orang yang mengurbankan kambing adalah Habil, sedangkan yang mengurbankan makanan adalah Qabil, dan ternyata kurban Habil diterima, sedangkan kurban Qabil tidak.
Sehingga Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa kambing gibasy itulah yang dijadikan sebagai tebusan bagi diri Nabi Ismail.
Pendapat inilah yang lebih sesuai, dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Hal yang sama telah dinaskan bukan hanya oleh seorang dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf, dan pendapat inilah yang termasyhur.
Akan tetapi, Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Mujahid bahwa ia pernah mengatakan, “Orang yang mempersembahkan kurban berupa hasil tani adalah Qabil, kurbannyalah yang diterima.” Pendapat ini berbeda dengan apa yang sudah dikenal, barangkali Ibnu Jarir kurang baik dalam menghafal asar darinya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.

Yakni dari orang yang bertakwa kepada Allah dalam mengerjakan hal tersebut.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Ala ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ayyasy, telah menceritakan kepadaku Safwan ibnu Amr ibnu Tamim’—yakni Ibnu Malik Al-Muqri— yang telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Abu Darda berkata, “Sesungguhnya bila ia merasa yakin bahwa Allah telah menerima baginya suatu salat, hal ini lebih ia sukai daripada dunia dan seisinya.
Karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:
Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yangbertakwa’

Dan telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepa­da kami Abdullah ibnu Imran, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Sulaiman —yakni Ar-Razi—, dari Al-Mugirah ibnu Muslim, dari Maimun ibnu Abu Hamzah yang telah menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di rumah Abu Wail, maka masuklah kepada kami se­orang lelaki yang dikenal dengan nama Abu Afif dari kalangan murid Mu’az.
Maka Syaqiq ibnu Salamah (yakni Abu Wail) berkata kepadanya, “Hai Abu Afif, maukah engkau menceritakan kepada kami Mu’az ibnu Jabal?”
Abu Afif menjawab, “Tentu saja mau, aku pernah mendengarnya menceritakan bahwa kelak di saat umat manusia seluruhnya dihimpunkan di suatu padang (mahsyar), maka terdengarlah suara yang menyerukan, ‘Di manakah orang-orang yang bertakwa?’ Maka mereka berdiri dalam lindungan Tuhan Yang Maha Pemurah, Allah tidak menutupi diri-Nya dari mereka dan tidak pula bersembunyi.” Aku bertanya, “Siapakah orang-orang yang bertakwa itu?”
Abu Afif menjawab, “Mereka adalah kaum yang menjauhi dirinya dari kemusyrikan dan penyembahan berhala serta ikhlas dalam beribadah kepada Allah, maka mereka berjalan menuju ke surga.”

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 27

ADAM
ءَادَم

Al Baidawi berkata Adam ialah nama ‘ajam (bukan Arab) sama seperti Azir dan Salih. Ia diambil dari kata al udmah atau al admah yang bermakna uswah, yang bermakna menjadi tauladan. Atau dari adim al ardh yang berarti permukaan bumi atau tanah, sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah, di mana Allah menggenggam satu genggaman dari seluruh tanah yang mudah dan yang susah, maka dia menciptakan Adam daripadanya. Oleh karena itu, setelahnya datang keturunannya yang berbeda-beda. Atau dari al adam atau al admah yang bermakna mendamaikan, sama seperti perkataan Idris yang dipetik dari kata ad dars, Ya’qub dari al aqb dan iblis dari al iblas.

Allah menciptakan Adam dari bahagian­ bahagian yang berbeda-beda dan berbagai kemampuan. Ia telah mengetahui segala bentuk pengetahuan yang dapat diterima akal (al­ maqulat) maupun yang dapat disentuh atau diraba (albmahsusat)’

Al Khazin berpendapat, ia dinamakan Adam karena ia diciptakan dari tanah, dan ada yang mengatakan karena ia berwarna coklat, gelarannya ialah Abu Muhammad. Ada juga yang mengatakan, ia adalah Abul Basyar (bapak manusia).

Al Fayruz Abadi berpendapat, ia dinamakan Adam karena diciptakan dari admah al ardh atau bahagian dalam bumi yang paling baik, sebagaimana admah atau udmah mengandung makna tauladan, perantara kepada sesuatu, bahagian dalam kulit atau bahagian yang baik dari daging manusia dan juga permukaan bumi.

Nama Adam disebut 25 kali dalam Al­ Quran, yaitu pada surah :
-Al Baqarah (2), ayat 31, 33, 34, 35, 37;
-Ali Imran (3), ayat 33, 59;
-Al Maa’idah (5), ayat 27;
-Al A’raaf (7), ayat 11, 19, 26, 27, 31, 35, 172;
-Al Israa’ (17), ayat 61, 70;
-Al Kahfi (18), ayat 50;
-Maryam (19), ayat 58;
-Thaa Haa (20), ayat 115, 116, 117, 120, 121;
-Yaa Siin (36), ayat 60.

Banyak kisah mengenai penciptaan Adam yang diambil dari kisah Isra’iliyyat, sedangkan Al Qur’an tidak memperincikan cerita penciptaannya. Hanya satu ayat yang menyinggung Adam diciptakan dari turaab sebagaimana yang terdapat pada surah Ali Imran, ayat 59.

Turab menurut kamus Al Munjid ialah al­ ardh atau bumi dan bahagian yang lembut daripadanya.

Kesimpulannya, Adam digelar sebagai Abuul Basyar dan beliau adalah hamba pilihan Allah, sebagaimana yang disebut dalam ayat Allah dalam surah Ali Imran.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:18

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 27 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 27



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.9
Rating Pembaca: 4.9 (27 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku