Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 21 [QS. 5:21]

یٰقَوۡمِ ادۡخُلُوا الۡاَرۡضَ الۡمُقَدَّسَۃَ الَّتِیۡ کَتَبَ اللّٰہُ لَکُمۡ وَ لَا تَرۡتَدُّوۡا عَلٰۤی اَدۡبَارِکُمۡ فَتَنۡقَلِبُوۡا خٰسِرِیۡنَ
Yaa qaumiidkhuluul ardhal muqaddasatallatii kataballahu lakum walaa tartadduu ‘ala adbaarikum fatanqalibuu khaasiriin(a);
Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang yang rugi.
―QS. Al Maa’idah [5]: 21

O my people, enter the Holy Land which Allah has assigned to you and do not turn back (from fighting in Allah ‘s cause) and (thus) become losers."
― Chapter 5. Surah Al Maa’idah [verse 21]

يَٰقَوْمِ wahai kaumku

"O my people!
ٱدْخُلُوا۟ masuklah

Enter
ٱلْأَرْضَ tanah/bumi

the land,
ٱلْمُقَدَّسَةَ suci

the Holy,
ٱلَّتِى yang

which
كَتَبَ tentukan

(has been) ordained
ٱللَّهُ Allah

(by) Allah
لَكُمْ bagi kalian

for you
وَلَا dan jangan

and (do) not
تَرْتَدُّوا۟ kamu berbalik/lari

turn
عَلَىٰٓ atas

on
أَدْبَارِكُمْ belakangmu

your backs,
فَتَنقَلِبُوا۟ maka kamu akan kembali

then you will turn back
خَٰسِرِينَ orang-orang yang rugi

(as) losers."

Tafsir

Alquran

Surah Al Maa’idah
5:21

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 21. Oleh Kementrian Agama RI


Setelah Nabi Musa mengingatkan orang-orang Yahudi dan menjelaskan nikmat-nikmat itu, kemudian memerintahkan mereka agar berani menghadapi musuh-musuh Allah dengan janji, bahwa Allah akan menolong mereka.
Perintah Nabi Musa itu ialah mereka harus memasuki tanah suci Kanaan (Palestina) dan berdiam di negeri yang telah dijanjikan dan ditetapkan Allah untuk menjadi tempat tinggal mereka.


Menurut riwayat Ibnu ‘Asakir dari Mu’adz bin Jabal bahwa tanah suci itu di antara sungai Tigris dengan sungai Furat.
Tanah itu disebut suci karena telah sekian banyak nabi menempatinya yang senantiasa mengajak kepada agama Tauhid, karenanya tanah itu bersih dari patung-patung dan kepercayaan yang sesat.

Dan Nabi Musa melarang mereka murtad kembali menyembah berhala dan membuat keonaran dalam masyarakat dengan berbuat kezaliman dan mengikuti hawa nafsu.
Jika mereka tidak mematuhi ketentuan itu mereka akan rugi, karena nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka itu akan dicabut kembali dan dibatalkan.

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 21. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai kaumku, taatilah perintah Allah.
Masuklah ke Bayt al-Maqdis (Jerusalem) yang telah ditentukan Allah untuk kalian.


Jangan gentar menghadapi penghuninya yang perkasa lalu kembali dalam keadaan merugi dan tidak mendapatkan kemenangan dan keridaan Allah."

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wahai kaumku, masuklah kalian ke bumi yang suci yaitu Baitul Maqdis dan sekitarnya yang telah Allah janjikan kepada kalian bahwa kalian akan memasukinya dan memerangi orang-orang kafir yang menguasainya.
Jangan gentar dalam melawan orang-orang yang sombong, karena akibatnya kalian akan merugi kebaikan dunia dan akhirat.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai kaumku! Masuklah kamu ke tanah suci) yang disucikan


(yang telah ditetapkan Allah bagi kamu) telah dititahkan-Nya untuk memasukinya yaitu tanah Syam


(dan janganlah kamu lari ke belakang) berbalik surut karena takut kepada musuh


(nanti kamu menjadi orang-orang yang merugi.") dalam usahamu.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Yakni:
Mutahharah ialah
"yang suci".
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Al-A’masy, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna tanah suci ini, bahwa yang dimaksud ialah Bukit Tur dan daerah sekitarnya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Baqqal, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang telah mengatakan bahwa tanah suci tersebut adalah Ariha.
Hal yang sama telah dikatakan oleh bu­kan hanya seorang dari kalangan mufassirin.
Akan tetapi, pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, mengingat Ariha bukan kota yang dimaksudkan untuk diserang, bukan pula terletak di tengah perjalanan mereka menuju ke Baitul Maqdis, karena mereka datang dari negeri Mesir ketika Allah telah membinasakan musuh mereka, yaitu Raja Fir’aun, kecuali jika yang dimaksud dengan Ariha adalah Baitul Maqdis, seperti yang dikatakan oleh As-Saddi menurut apa yang diriwayat­kan oleh Ibnu Jarir darinya.
Jadi, yang dimaksud dengan Ariha bukan­lah sebuah kota terkenal yang terletak di pinggiran Bukit Tur sebelah tenggara kota Baitul Muqaddas.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…yang telah ditentukan Allah bagi kalian.

Yakni Allah telah menjanjikannya buat kalian melalui lisan kakek moyang kalian —Nabi Ya’qub— bahwa tanah tersebut merupakan warisan bagi orang yang beriman di antara kalian.

…dan janganlah kalian lari ke belakang (karena takut musuh).

Dengan kata lain, janganlah kalian membangkang untuk berjihad.

"Maka kalian menjadi orang-orang yang merugi."Mereka ber­kata,
"Hai Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali ti­dak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya.
Jika mere­ka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya."


Mereka mengemukakan alasannya, bahwa
"di negeri yang engkau perintahkan agar kami memasukinya dan memerangi penduduknya terdapat kaum yang gagah perkasa, memiliki tubuh raksasa yang kuat dan besar, dan sesungguhnya kami tidak mampu melawan mereka dan tidak pula menyerang mereka, serta tidak mungkin bagi kami mema­sukinya selagi mereka masih bercokol di dalamnya.
Jika mereka keluar darinya, niscaya kami akan memasukinya, tetapi jika mereka masih tetap berada di dalamnya, maka tidak ada kekuatan bagi kami untuk mengusir mereka".

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdul Karim ibnul Haisam, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, bahwa Abu Sa’id pernah mengatakan bahwa Ikrimah telah menceritakan bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan:
Musa diperintahkan untuk memasuki kota orang-orang yang gagah perkasa.
Maka Musa berjalan bersama dengan orang-orang yang mengikutinya hingga turun istirahat di suatu tempat dekat dengan kota yang dimaksud, yaitu Ariha.
Lalu Musakabilah.
Mata-mata itu ditugaskan untuk melihat keadaan dan kekuatan musuh, lalu beritanya disampaikan kepada Nabi MusaMusa
Akan tetapi,
sanad asar ini masih perlu dipertimbangkan.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Musa bersama kaumnya turun istirahat di suatu tempat, maka ia mengirimkan dua belas orang dari mereka yang semuanya adalah para pemimpin kabilah yang telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, Maka MusaMusa, dialah yang mengirimkan kami untuk mencari berita tentang kalian."
Maka mereka memberi kedua belas orang itu sebiji buah anggur yang cukup buat makan satu orang, dan mereka berkata,
"Pergilah kalian kepada Musa dan kaumnya, dan katakanlah kepada mereka bahwa ini adalah takdir."
Maka mereka kembali dengan hati yang sangat takut, Ketika mereka datang kepada Musa, mereka langsung menceritakan apa yang telah mereka saksikan.
Ketika Musa memerintahkan mereka untuk memasuki kota itu dan memerangi penduduknya, maka mereka (kaum Musa) berkata,
"Hai Musa.
pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja."

Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Kemudian ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayah­ku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ayyub, dari Yazid ibnul Hadi, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Abdur Rahman yang telah menceritakan bahwa ia pernah melihat Anas ibnu Malik memungut sebuah tongkat, lalu ia mengukurnya dengan sesuatu yang panjangnya tidak ia ketahui berapa hasta.
Kemudian ia mengukurkannya ke tanah sepanjang lima puluh atau lima puluh lima kali panjang tongkat itu.
Lalu ia berkata,
"Inilah tinggi kaum ‘Amaliqah (raksasa)."

Sehubungan dengan masalah ini banyak kalangan mufassirin yang menceritakan berita-berita buatan Bani Israil mengenai besarnya tubuh kaum yang gagah perkasa itu.
Disebutkan bahwa di antara mere­ka ada seseorang yang dikenal dengan nama Auj ibnu Unuq binti Adamkitab Sahihain, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Sesungguhnya Allah menciptakan Adam Kemudian mereka menyebutkan bahwa Auj ibnu Unuq ini adalah seorang kafir, dia lahir dari hubungan NuhNuhkafir, seperti yang disebutkan melalui firman-Nya:

Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antaraorang-orang kafir itu tinggal di atas muka bumi (Nuh :
26)

Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan.
Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.
(QS. Asy-Syu’araa [26]: 119-120)

Tidak ada yang melindungi hari ini dari Hud [11]: 43)

Apabila anak Nabi Nuh sendiri yang kafir tenggelam, maka mana mungkin Auj ibnu Unuq yang kafir lagi anak

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa’idah (5) Ayat 21

ARDH
أَرْض

Ardh adalah lafaz mufrad dan mu’annats, maknya adalah aradhun, urudh, dan aradhi, maknanya ialah bola bumi yang bergerak yang manusia berada di atasnya yaitu salah satu planet yang ada dan urutannya ketiga pada porosnya yang mengelilingi matahari dan planet yang didiami manusia.
Ia juga lawan lautan yaitu tanah atau daratan.
Apabila dikatakan ibn al-ardh artinya anak yang tidak diketahui bapak dan ibunya.
Apabila disandarkan kepada sesuatu atau sandal artinya di bawahnya.

Lafaz ardh disebut sebanyak 130 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah
Al Baqarah (2), ayat 11, 22, 27, 29, 30, 33, 36, 60, 61, 71, 107, 116, 117, 164, 164, 164, 168, 205, 251, 255, 255, 267, 273, 284;
Ali Imran (3), ayat 5, 29, 83, 91, 109, 129, 133, 137, 156, 180, 189, 190, 191;
An Nisaa (4), ayat 42, 97, 97, 100, 101, 126, 131, 131, 132, 170, 171;
-Al Maa’idah (5), ayat 17, 18, 21, 26, 31, 32, 32, 33, 33, 36, 40, 64, 97, 106, 120;
-Al An’aam (6), ayat 1, 3, 6, 11, 12, 14, 35, 38, 59, 71, 75, 101, 116, 165, 73, 79;
-Al A’raaf (7), ayat 10, 24, 54, 56, 73, 74, 74, 85, 96, 100, 110, 127, 128, 129, 137, 146, 158, 164, 176, 185, 187;
Al Anfaal (8), ayat 26, 63, 67, 73;
At Taubah (9), ayat 2, 25, 36, 38, 74, 116, 188;
Yunus (10), ayat 3, 6, 14, 18, 23, 24,24,31, 54, 55, 61, 66, 78, 83, 99, 101;
Hud (11), ayat6, 7, 20, 44, 61, 64, 85, 107, 108,116, 123;
Yusuf(l2), ayat 9, 21, 55, 56, 73, 80, 101, 105, 109;
-Ar Ra’d (13), ayat 3, 4, 15, 16, 17, 18, 25, 31, 33, 41;
Ibrahim (14), ayat 2, 8, 10, 13, 14, 19, 26, 32, 38, 48, 48;
Al Hijr (15), ayat 19, 39, 85;
An Nahl (16), ayat 3, 13, 15, 36, 45, 49, 52, 65, 73, 77;
Al Israa (17), ayat 4, 37, 37, 44, 55, 76, 90, 95, 99, 102, 103, 104;
Al Kahfi (18), ayat 7, 14, 26, 45, 47, 51, 84, 94;
Maryam (19), ayat 40, 65, 90, 93;
-Tha Ha (20), ayat 4, 6, 53, 57, 63;
-Al Anbiyaa (21), ayat 4, 16, 19, 21, 30, 31, 44, 56, 71, 81, 105;
Al Hajj (22), ayat 5, 18, 41, 46, 63, 64, 65, 65, 70;
-Al Mu’minuun (23), ayat 18, 71, 79, 84, 112;
An Nuur (24), ayat 35, 41, 42, 55, 57, 64;
Al Furqaan (25), ayat 2, 6, 59, 63;
-Asy Syu’araa (26), ayat 7, 24, 35, 152, 183;
An Naml (27), ayat 25, 48, 60, 61, 62, 64, 65, 69, 75, 82, 87;
Al Qashash (28), ayat 4, 5, 6, 19, 39, 57, 77, 81, 83;
-Al ‘Ankaabut (29), ayat 20, 22, 36, 39, 40, 44, 52, 56, 61, 63;
Ar Rum (30), ayat 3, 8, 9, 18, 19, 22, 24, 25, 25, 26, 27, 42, 50;
Luqman (31), ayat 10, 16, 18, 20, 25, 26, 27, 34;
As Sajadah (32), ayat 4, 5, 10, 27;
Al Ahzab (33), ayat 27, 27, 72;
Saba (34), ayat 1, 2, 3, 9, 9, 14, 22, 24;
Faathir (35), ayat 1, 3, 9, 38, 39, 40, 43, 44, 44;
Yaa Siin (36), ayat 33, 36, 81;
-Ash Shaffaat (37), ayat 5;
Az Zumar (39), ayat 5, 10, 21, 38, 44, 46, 47, 63, 67, 69, 74;
-Al Mu’min (40), ayat 21, 21, 26, 29, 57, 64, 68, 75, 82, 82;
Fussilat (41), ayat 9, 11, 15, 39;
-Asy Syura (42), ayat 4, 5, 11, 12, 27, 29, 31, 42, 49, 53;
-Az Zukhruuf (43), ayat 9, 10, 60, 82, 84, 85;
Ad Dukhaan (44), ayat 7, 29, 38;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 3, 5, 13, 22, 27, 36, 37;
-Al Ahqaaf (46), ayat 3, 4, 20, 32, 33;
Muhammad (47), ayat 4, 7, 14;
Al Hujurat (49), ayat 16, 18;
Ath Thuur (52), ayat 36;
An Najm (53), ayat 31, 32;
Al Qamar (54), ayat 12;
Ar Rahman (55), ayat 10, 29, 33;
-Al Waqi’ah (56), ayat 4;
Al Hadid (57), ayat 1, 2, 4, 5, 10, 21, 22, 17;
-Al Mujadalah (58), ayat 7;
Al Hasyr (59), ayat 1, 24;
Ash Shaff (61), ayat 1;
-Al Jumu’ah (62), ayat 1, 10;
-Al Munaafiquun (63), ayat 7;
-At Taghaabun (64), ayat 1, 3, 4;
Ath Thalaaq (65), ayat 12;
Al Mulk (67), ayat 15, 16, 24;
-Al Haaqqah (69), ayat 14;
-Al Ma’arij (70), ayat 14;
Nuh (71), ayat 9, 17, 26;
Al Jinn (72), ayat 10, 12;
Al Muzzammil (73), ayat 14, 20;
Al Mursalat (77), ayat 25;
An Naba‘ (78), ayat 6, 37;
-An Naazi’at (79), ayat 30;
-‘Abasa (80), ayat 26;
Al Insyiqaaq (84), ayat 3;
Al Buruuj (85), ayat 9;
-Ath Thaariq (86) ayat 12;
-Al Ghaasyiyah (88), ayat 20;
Al Fajr (89), ayat 21;
Asy Syams (91), ayat 6;
-Al Zalzalah (99), ayat 1, 2.

Dalam Al Qur’an, lafaz ardh mempunyai enam makna.

Pertama, bermakna bumi Palestina, Damsyik dan sebahagian Jordan, karena ia dikaitkan dengan al-muqaddasah (al-ardh al-muqaddasah).
Makna ini diberikan oleh Ibn Qutaibah.
Az Zamakhsyari berkata,
"Al-ardh al-muqaddasah ialah ardh bait al muqaddasah (bumi rumah yang suci), di mana ia adalah tempat para nabi dan orang Islam."

Diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibn ‘Abbas, "Ia adalah Tursina dan sekelilingnya."

Qatadah berpendapat ia adalah Syam.

Sedangkan riwayat Ibn Zaid, As Suddi dan Ikrimah dari Ibn Abbas menyatakan ia adalah Ariha.

At Tabari berkata,
"Ia adalah ardh al muqaddasah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Musa adalah bumi seperti bumi lain, tidak diketahui hakikat kebenarannya kecuali dengan khabar.
Tidak ada khabar mengenainya yang benar-benar dapat di pastikan.
Namun, ia tidak keluar dari bumi antara Sungai Al Furat (Euphart) dan Mesir sebagaimana yang disepakati oleh para ahli tafsir, sejarawan dan ulama."

Kedua, ia bermakna bumi yang manusia diami sekarang sebagaimana mayoritas maksud dari ayat-ayat di atas.

Ketiga, ia bermaksud selain bumi yang tidak pada sifatnya yang dikenal atau bumi di hari akhirat sebagaimana yang terdapat dalam surah Ibrahim, ayat 48.
Dalam Sahih Bukhari dan Muslim terdapat hadits dari Ibn Hazim yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, katanya Rasulullah berkata,
"Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat di atas bumi yang amat putih bagaikan roti yang bulat dan pipih lagi putih, tidak terdapat di dalamnya penolong bagi seseorang."
Dalam riwayat lain dijelaskan manusia berjalan di atas jambatan atau Ash Shiraath.

Keempat, bermakna tempat, sebagai mana pada surah Yusuf, ayat 9. Al Qurtubi menafsirkannya dengan tempat yang jauh dari ayahnya." Begitu juga dengan penafsiran At Tabari, yang dimaksudkan dengan bumi di sini ialah suatu tempat dari bumi.

Kelima, bermakna bumi Mesir, yaitu yang terdapat dalam surah Al A’raaf, ayat 110; Tha Ha, ayat 57; 63, Asy Syu’araa, ayat 35; Ibrahim, ayat 13. Ini sebagaimana penafsiran yang dikemukakan oleh Asy Syawkani‘ dan As Sabuni.’

Keenam, bermakna bumi Makkah yaitu yang terdapat dalam surah Al Qashash, ayat 57. Ayat ini mengabarkan kepada manusia tentang alasan kafir Quraisy yang tidak mengikuti petunjuk.
Mereka berkata kepada Rasulullah, "Sekiranya kami menyertaimu menurut petunjuk yang engkau bawa itu, kami takut disakiti dan diperangi oleh mereka (kafir Quraisy) yang lain serta diusir dari negeri kami."

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 63-65

Unsur Pokok Surah Al Maa’idah (المائدة)

Surat Al-Ma’idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu IsaIsaIsaIsa `alaihis salam.

Hukum:

▪ Keharusan memenuhi perjanjian.
Hukum melanggar syiar Allah.
▪ Makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan.
Hukum mengawini wanita ahli kitab.
Tayammum.
▪ Mandi.
Hukum membunuh orang.
Hukum mengacau dan mengganggu keamanan.
Hukum qishas.
Hukum melanggar sumpah dan kafarat-nya.
Hukum khamar (minuman yang memabukkan).
▪ Berjudi.
▪ Berkorban untuk berhala.
▪ Mengundi nasib.
Hukum membunuh binatang waktu ihram.
Hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

▪ Kisah-kisah Nabi Musa `alaihis salam menyuruh kaumnya memasuki Palestina.
▪ Kisah Habil dan Qabil.
▪ Kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
▪ Penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Keharusan jujur dan berlaku adil.
▪ Sikap dalam menghadapi berita-berita bohong.
▪ Akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim.
▪ Kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi.
▪ Kewajiban rasul hanya menyampaikan agama.
▪ Sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam.
▪ Ka’bah sokoguru kehidupan manusia.
▪ Peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah.
▪ Larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 120 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 120

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Maa'idah ayat 21 - Gambar 1 Surah Al Maa'idah ayat 21 - Gambar 2
Statistik QS. 5:21
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa’idah.

Surah Al-Ma’idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā’idah, “Jamuan Hidangan”) adalah surah ke-5 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada’.
Surah ini dinamakan Al-Ma’idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma’idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa’idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-‘Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa’
Surah selanjutnyaSurah Al-An’am
Sending
User Review
4.3 (11 votes)
Tags:

5:21, 5 21, 5-21, Surah Al Maa'idah 21, Tafsir surat AlMaaidah 21, Quran Al Maidah 21, AlMaidah 21, Al-Ma'idah 21, Surah Al Maidah ayat 21

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Maryam (Maria) – surah 19 ayat 37 [QS. 19:37]

37. Keterangan yang dikemukakan oleh Nabi Isa sangat jelas, namun Bani Israil tetap ingkar. Maka, berawal dari sikap ini berselisihlah golongan-golongan yang ada di antara mereka, yaitu antara Yahudi … 19:37, 19 37, 19-37, Surah Maryam 37, Tafsir surat Maryam 37, Quran Maryam 37, Surah Maryam ayat 37

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 37 [QS. 7:37]

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah dengan melakukan kemaksiatan kemudian dengan dusta mereka menyatakan perbuatan itu sebagai perintah Allah, atau y … 7:37, 7 37, 7-37, Surah Al A’raaf 37, Tafsir surat AlAraaf 37, Quran Al Araf 37, Al-A’raf 37, Surah Al Araf ayat 37

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Matahari berputar mengelilingi sumbunya, termasuk contoh takdir ...

Benar! Kurang tepat!

Yang tidak termasuk cara beriman kepada qada dan qadar Allah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Takdir yang bisa diubah dinamakan ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Karena rajin belajar maka Afit selalu juara dalam setiap perlombaan antar sekolah, pernyataan tersebut merupakan contoh ...

Benar! Kurang tepat!

Salah satu contoh takdir muallaq (bisa diubah) adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #22
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #22 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #22 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #3

Bagian tubuh yang tidak ditampakkan sesuai dengan ajaran Islam disebut … dekorasi pusar sampai mata kaki aurat hijab pakaian Benar!

Pendidikan Agama Islam #17

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah … Asy-Syams Annisa Al-Fajr Al-Lail Al Balad Benar! Kurang tepat! Surah Ad-Dhuha termasuk

Pendidikan Agama Islam #23

Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … من شرّ ماخلق ومن شرّ حاسدٍ إذا حسدٍ ومن شرّ ا سقٍ

Instagram