Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 20


وَ اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ اَنۡۢبِیَآءَ وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا ٭ۖ وَّ اٰتٰىکُمۡ مَّا لَمۡ یُؤۡتِ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ
Wa-idz qaala muusa liqaumihi yaa qaumiidzkuruu ni’matallahi ‘alaikum idz ja’ala fiikum anbiyaa-a waja’alakum muluukan waaataakum maa lam yu’ti ahadan minal ‘aalamiin(a);

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya:
“Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”.
―QS. 5:20
Topik ▪ Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab
5:20, 5 20, 5-20, Al Maa’idah 20, AlMaaidah 20, Al Maidah 20, AlMaidah 20, Al-Ma’idah 20
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 20. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat-ayat ini diterangkan keadaan Nabi Musa yang menyelamatkan mereka dari perbudakan Firaun dan membawa mereka kepada kebebasan dan kemerdekaan.
Meskipun demikian mereka tidak juga taat kepada Nabi Musa a.s.
Hal ini patut diketahui oleh Rasulullah ﷺ untuk dijadikan cermin perbandingan agar beliau dapat mengetahui bagaimana sikap umat-umat yang terdahulu terhadap nabi mereka.
Dengan demikian terhiburlah hati beliau dalam menghadapi keingkaran dan kesombongan kaumnya sendiri.

Pada ayat ini Nabi Muhammad ﷺ, diperintahkan mengingat peristiwa yang dialami Nabi Musa a.s.
itu ketika ia memerintahkan kepada kaumnya agar mereka selalu mengingat mensyukuri nikmat Allah dengan cara yang benar.
Nikmat Allah yang disyukuri pasti akan mendapat tambahan dari-Nya.
Sebaliknya nikmat-Nya yang dikufuri para penerimanya diancam dengan siksaan.
Di antara nikmat-nikmat itu:

a.
Allah subhanahu wa ta’ala telah mengangkat sekian banyak nabi Bani Israil, seperti Nabi Musa a.s., Nabi Harun a.s.
dan lain-lain.

b.
Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan orang-orang Bani Israil bebas merdeka, mengatur urusan mereka sendiri, sehingga dengan keadaan itu seakan-akan mereka mempunyai kedudukan sepenuhnya.

c.
Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada mereka hal-hal yang belum pernah diberikan kepada orang lain, misalnya waktu mereka dikejar oleh Firaun dan tentaranya menghadapi jalan buntu, maka pada waktu itu Allah subhanahu wa ta’ala membelah laut agar mereka selamat dari kejaran Firaun.

Akan tetapi setelah mereka melalui dan tentara Firaun memasukinya, maka jalan itu ditutup kembali sehingga Firaun dan tentaranya tenggelam.
Allah subhanahu wa ta’ala memberikan manna (makanan manis sebagai madu) dan salwa (sebangsa burung puyuh).
Dan pada waktu mereka berada di padang Tih dalam keadaan yang sangat panas, Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan awan tebal untuk menaungi mereka.
Itulah nikmat-nikmat yang diberikan kepada mereka itu untuk disyukuri.

Al Maa'idah (5) ayat 20 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 20 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 20 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ingatlah, wahai Rasulullah, ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, renungkanlah nikmat Allah yang diberikan kepada kalian dengan mensyukuri dan menaati-Nya, karena Dia telah memilih banyak nabi dari kalangan kalian dan menjadikan kalian berjaya, setelah sebelumnya kalian hina di bawah kekuasaan Fir’aun.
Selain itu, Dia juga memberikan nikmat yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat yang lain.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) ingatlah (ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku! Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika diangkat-Nya padamu) maksudnya dari golonganmu (para nabi dan dijadikan-Nya kamu sebagai raja-raja) yang mempunyai anak buah dan pelayan (serta diberi-Nya kamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat manusia) seperti hidangan dari langit, manna dan salwa, terbelahnya lautan dan lain-lain.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah wahai Rasul saat Musa berkata kepada umatnya :
Wahai Bani Israil, ingatlah kalian terhadap nikmat Allah kepada kalian, manakala Allah menjadikan nabi-nabi dari kalangan kalian, menjadikan kalian sebagai penguasa-penguasa di mana kalian menguasai urusan kalian setelah sebelumnya kalian ditindas oleh Fir aun dan bala tentaranya.
Allah telah memberikan berbagai macam kenikmatan kepada kalian di mana Dia tidak memberikannya kepada seorang pun di zaman kalian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah menceritakan tentang hamba dan Rasul-Nya yang juga merupakan orang yang pernah diajak bicara langsung oleh-Nya, yaitu Nabi Musa ibnu Imran ‘alaihis salam Kisahnya menyangkut peringatan yang ia sampaikan kepada kaumnya akan nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang ada di tangan mereka, yaitu Allah menghimpunkan bagi mereka kebaikan dunia dan akhirat sekiranya mereka tetap berada pada jalannya yang lurus.
Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kalian, ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kalian.”

Yakni setiap nabi meninggal dunia, maka bangkitlah di antara kalian nabi lainnya, sejak zaman kakek moyang kalian Nabi Ibrahim sampai masa-masa sesudahnya.
Demikianlah keadaan mereka, masih tetap ada nabi-nabi dari kalangan mereka yang menyeru kepada agama Allah dan memperingatkan mereka akan pembalasan-Nya, sehingga diakhiri oleh Nabi Isa ibnu Maryam ‘alaihis salam

Kemudian Allah memberikan wahyu kepada penutup seluruh para nabi dan rasul, yaitu Nabi Muhammad ibnu Abdullah yang nasabnya.
sampai kepada Nabi Ismail ‘alaihis salam ibnu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam Dia lebih mulia dan lebih terhormat daripada para nabi sebelumnya

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan dijadikan-Nya kalian orang-orang merdeka

Istilah muluk menurut apa yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari As-Sauri, dari Mansur, dari Al-Hakam atau lainnya, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa makna “Dan Dia menjadikan kalian muluk” ialah mempunyai pelayan, istri, dan rumah.

Imam Hakim telah meriwayatkan di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis As-Sauri pula, dari Al-A’masy, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan “muluk” ialah istri dan pelayan.

Dan Dia telah memberikan kepada kalian apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.

Menurut Ibnu Abbas, yang dimaksud ialah umat-umat lain yang ada se­masa mereka.
Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

Maimun ibnu Mahran telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu seorang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil apabila telah mempunyai istri, pelayan, dan rumah tempat tinggal, maka ia dinamakan malik (raja).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la.
telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Abu Hani, ia pernah mendengar Abu Abdur Rahman Al-Hambali mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr ibnul As ketika ditanya oleh seorang lelaki, “Bukankah kita termasuk orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin?”
Lalu Abdullah ibnu Amr ibnul As balik bertanya, “Bukankah kamu mempunyai istri yang menjadi teman hidupmu?”
Lelaki itu menjawab, “Ya.” Abdullah ibnu Amr bertanya lagi, “Bukankah kamu punya rumah tempat tinggal?”
Lelaki itu menjawab, “Ya.” Abdullah ibnu Amr berkata, “Kalau demikian, kamu termasuk orang kaya.” Lelaki itu berkata, “Aku mempunyai pelayan.” Abdullah ibnu Amr menjawab, “Kalau demikian, kamu termasuk orang kaya.”

Al-Hasan Al-Bashri telah mengatakan bahwa raja itu tiada lain hanyalah seseorang yang mempunyai kendaraan, pelayan, dan rumah.

Demikian menurut riwayat Ibnu Jarir.
Kemudian Ibnu Jarir meriwa­yatkan hal yang semisal, dari Al-Hakam, Mujahid, Mansur, dan Sufyan As-Sauri.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Maimun ibnu Mahran, Ibnu Syaizab telah mengatakan bahwa dahulu seorang lelaki dari kalangan Bani Israil apabila memiliki rumah dan pelayan serta untuk bersua dengannya harus melalui penjaga, maka dia adalah seorang raja

Qatadah mengatakan, orang-orang Bani Israil adalah orang-orang yang mula-mula menggunakan pelayan.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dia menjadikan kalian orang-orang yang merdeka.
(Al Maidah:20), Makna yang dimaksud ialah “bila seseorang dari kalian telah memiliki dirinya, memiliki harta benda, dan mempunyai istri”.
Demikian menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Az-Zubair ibnu Bakkar, telah menceritakan kepada kami Abu Damrah Anas ibnu Iyad.
bahwa ia pernah mendengar Zaid ibnu Aslam berkata menafsirkan makna firman-Nya, “Dan Dia menjadikan kalian orang-orang merdeka” (Al Maidah:20).
Maka tiada yang dikatakannya kecuali hanya mengetengahkan hadis bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang mempunyai rumah dan pelayan, maka dia adalah raja.

Hadis ini mursal lagi garib.
Menurut Malik, yang dimaksud dengan raja ialah orang yang memiliki rumah, pelayan, dan istri.
Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Barang siapa yang berpagi hari dari kalian dalam keadaan diberi kesehatan pada tubuhnya dan aman dijalannya, serta ia memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia dan seisinya telah diraih olehnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah di­berikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.

Yakni orang-orang yang alim di masa kalian.
Karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling mulia di zamannya, lebih mulia daripada orang-orang Yunani, orang-orang Egypt, dan bangsa-bangsa lain dari anak Adam.
seperti yang disebutkan oleh ayat lain:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al-Kitab (Taurat), kekuasaan, dan kenabian, dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik, dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya).
(Al Jaatsiyah:16)

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman,menceritakan perihal Musa ‘alaihis salam ketika umatnya mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).
Musa menjawab, “Sesung­guhnya kalian ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.
Musa menjawab, “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kalian yang selain dari Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat.” (Al A’raf:138-140)

Yang kami maksudkan ialah “mereka adalah orang-orang yang paling unggul di masanya”,
karena sesungguhnya umat ini lebih mulia daripada mereka dan lebih utama di sisi Allah, syariatnya lebih sempurna dan jalannya lebih lurus, nabinya lebih mulia, kerajaannya lebih besar, rezekinya lebih berlimpah, harta dan anaknya lebih banyak, serta kerajaannya lebih luas dan kejayaannya lebih kekal.
Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.
(Al Baqarah:143)

Kami telah mengetengahkan hadis-hadis yang mutawatir menceritakan perihal keutamaan umat ini dan kemuliaan serta kehormatannya di sisi Allah, yaitu pada tafsir firman-Nya:

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.
(Ali Imran:110)

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Abu Malik serta Sa’id ibnu Jubair, bahwa mereka telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.
Makna yang dimaksud dengan lafaz al- ‘alamina adalah umat Muhammad ﷺ

Seakan-akan mereka bertiga bermaksud bahwa khitab dalam firman-Nya:

…dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah di­berikan-Nya kepada seorang pun.
menyertakan pula umat Muhammad.
Sedangkan menurut Jumhur ulama, khitab ini dari Musa ‘alaihis salam, ditujukan kepada umatnya, dan makna yang dimaksud adalah orang-orang alim yang sezaman dengan mereka, seperti keterangan yang telah kami kemukakan di atas.

Menurut pendapat yang lain.
makna yang dimaksud dari firman-Nya:

…dan diberikan-Nya kepada kalian apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.
Yakni apa-apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada mereka, berupa manna dan salwa dan dinaungi oleh awan serta hal-hal yang bertentangan dengan hukum alam lainnya yang pernah diberikan kepada mereka oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
sebagai suatu kekhususan buat mereka.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan perihal anjuran yang dikeluarkan oleh Musa ‘alaihis salam kepada Bani Israil untuk berjihad dan memasuki Baitul Muqaddas yang dahulunya adalah milik mereka di masa kakek moyang mereka, yaitu Nabi Ya’aub ‘alaihis salam Nabi Ya’qub dan anak-anaknya serta semua keluarganya pergi meninggalkannya menuju ke negeri Mesir di masa Nabi Yusuf ‘alaihis salam Mereka tetap tinggal di Mesir, dan baru keluar meninggalkannya bersama Musa ‘alaihis salam Tetapi mereka menjumpai di dalam kota Baitul Maqdis suatu kaum dari orang-orang ‘Amaliqah (raksasa) yang gagah perkasa, yang telah merebut kota itu dan menguasainya.

Maka utusan Allah —Nabi Musa ‘alaihis salam— memerintahkan kaum Bani Israil untuk memasuki Baitul Muqaddas dan memerangi musuh me­reka serta membangkitkan semangat mereka dengan berita gembira akan mendapat pertolongan dan kemenangan atas musuh mereka.
Tetapi mereka membangkang dan durhaka serta tidak mau menuruti perintah nabinya.
Akhirnya mereka dihukum oleh Allah dengan hukuman terse­sat di padang sahara selama empat puluh tahun, selama itu mereka ti­dak mengetahui arah manakah yang mereka tempuh dan ke manakah tujuan mereka.
Hal tersebut sebagai hukuman terhadap mereka karena mereka menyia-nyiakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala.
dan tidak mau menaati­Nya.

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 20 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 20



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.8
Rating Pembaca: 4.2 (10 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku