Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 19


یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ عَلٰی فَتۡرَۃٍ مِّنَ الرُّسُلِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ ۫ فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ
Yaa ahlal kitaabi qad jaa-akum rasuulunaa yubai-yinu lakum ‘ala fatratin minarrusuli an taquuluu maa jaa-anaa min basyiirin walaa nadziirin faqad jaa-akum basyiirun wanadziirun wallahu ‘ala kulli syai-in qadiirun;

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan:
“Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”.
Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
―QS. 5:19
Topik ▪ Nabi-nabi Bani Israel
5:19, 5 19, 5-19, Al Maa’idah 19, AlMaaidah 19, Al Maidah 19, AlMaidah 19, Al-Ma’idah 19
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 19. Oleh Kementrian Agama RI

Menurut riwayat Ibnu Ishak, Ibnu Abbas menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengajak orang-orang Yahudi supaya masuk Islam, maka mereka menolak lalu Muaz bin Jabal, Saad bin Ubadah, Uqbah bin Wahab berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Yahudi! Hendaklah kamu takut kepada Allah, sesungguhnya Muhammad adalah Rasul”.
Lalu Rafi’i bin Hurairah dan Wahab bin Yahuza berkata, “Kami tidak pernah berkata demikian kepada kamu dan Allah tidak menurunkan Kitab sesudah Musa dan tidak mengutus Rasul sesudahnya untuk membawa berita gembira dan tidak pula untuk memperingatkan”,
maka turunlah ayat ini.

Pada ayat ini Allah menjelaskan kepada ahli kitab, bahwa sesungguhnya telah datang Rasul Allah yang mereka tunggu, sesuai dengan yang mereka ketahui dan kitab-kitab yang diberikan oleh Allah melalui Rasul-Nya Musa dan Isa a.s.
Rasul Allah yang telah datang itu menerangkan syariat Allah, pada periode yang dinamakan “Fatrah”,
yaitu antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad di mana wahyu tidak turun, sedang isi Taurat dan Injil sudah banyak yang kabur tidak banyak diketahui dan yang ada banyak pula perubahan atau dilupakan, baik disengaja atau tidak disengaja.
Dan sekarang sudah datang Rasul Allah yaitu Muhammad ﷺ.
membawa berita gembira dan peringatan untuk segala apa yang diperlukan untuk kehidupan duniawi dan ukhrawi, menunjukkan jalan yang benar yang harus ditempuh oleh umat manusia, sehingga tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk mengatakan bahwa tidak tahu karena tidak adanya Rasul yang membimbing dan membawa berita gembira serta peringatan.
Sekarang ahli kitab dan seluruh umat manusia dan jin hendaklah menentukan sikap.
Kalau mereka ingin selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat, maka haruslah mereka percaya kepada Muhammad ﷺ, Rasul Allah yang terakhir dan mengikuti segala petunjuk dan perintah-Nya.
Barangsiapa yang membangkang, maka dia sendirilah yang akan memikul resikonya dan tidak ada orang lain yang akan menolongnya.
Barangsiapa yang tidak percaya kepada Allah dan semua Rasul-rasul yang diutus sebelumnya, maka mereka akan merasakan azab yang pedih dari Allah.

Al Maa'idah (5) ayat 19 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 19 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 19 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Ahl al-Kitab, sesungguhnya telah datang rasul Kami kepada kalian untuk menjelaskan kebenaran, setelah terhentinya pengutusan rasul-rasul untuk beberapa waktu, supaya kalian tidak memiliki alasan bahwa Allah tidak mengutus seorang pembawa kabar gembira maupun seorang pemberi peringatan kepada kalian.
Sekarang telah datang seorang pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada kalian.
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, termasuk menurunkan risalah, dan akan membuat perhitungan terhadap apa yang kalian lakukan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai Ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepadamu rasul Kami) yakni Muhammad (menjelaskan kepada kamu) syariat-syariat agama (ketika terputusnya pengiriman rasul-rasul) karena antara dia dengan Isa tak seorang pun rasul yang diutus Allah sedangkan jarak masanya ialah 569 tahun (agar) tidak (kamu katakan) jika kamu disiksa nanti (“Tidak ada datang kepada kami) min sebagai tambahan (pembawa berita gembira dan tidak pula pembawa peringatan karena sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira maupun pembawa peringatan itu”) sehingga tak ada kemaafan bagimu lagi! (Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) di antaranya menyiksamu jika kamu tidak taat dan patuh kepada-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang Yahudi dan Nasrani, telah datang kepada kalian utusan kami Muhammad yang menjelaskan kebenaran dan petunjuk kepada kalian, setelah berlalunya masa waktu antara pengutusannya dengan pengutusan Isa putra Maryam.
Agar kalian tidak berkata, tidak ada yang datang kepada kami seorang pemberi kabar gembira dan penyampai peringatan.
Maka tidak ada lagi alasan bagi kalian setelah dia diutus kepada kalian.
Telah datang kepada kalian seorang utusan yang menyampaikan berita gembira kepada siapa yang beriman diantara kalian dan memperingatkan siapa yang mendurhakai-Nya.
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, termasuk menghukum pendurhaka dan member balasan kepada orang yang taat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman—ditujukan kepada kaum Ahli Kitab dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani— bahwa Allah telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ kepada mereka sebagai nabi terakhir, tiada nabi lagi dan tiada pula rasul sesudahnya, dia adalah penutup bagi semua nabi dan rasul.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

…ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul.

Yakni sesudah berlalunya masa yang panjang antara pengangkatan Nabi Muhammad sebagai rasul dan zaman Nabi Isa ibnu Maryam.

Para ulama berselisih pendapat mengenai masa fatrah ini.
Menurut Abu Usman An-Nahdi dan Qatadah dalam salah satu riwayat yang bersumber darinya, masa fatrah tersebut adalah 600 tahun.

Menurut riwayat Imam Bukhari, dari Salman Al-Farisi dan Qatadah, fatrah itu selama 560 tahun.

Ma’mar telah mengatakan dari sebagian teman-temannya bahwa fatrah itu adalah 540 tahun.

Menurut Ad-Dahhak, lama fatrah adalah 430 tahun lebih beberapa tahun.

Ibnu Asakir telah menyebutkan di dalam bibliografi Isa ‘alaihis salam, dari Asy-Sya’bi.
bahwa Asy-Sya’bi telah mengatakan, “Dari masa pengangkatan Nabi Isa ke langit sampai hijrah Nabi ﷺ ke Madinah lamanya 933 tahun.”‘

Tetapi pendapat yang terkenal adalah pendapat yang pertama tadi, yaitu 600 tahun.
Di antara mereka ada yang mengatakan 620 tahun, tetapi pada hakikatnya di antara kedua pendapat ini tidak ada perbedaan, karena pendapat pertama dimaksudkan berdasarkan hitungan tahun Syamsiyyah, sedangkan pendapat kedua berdasarkan perhitungan tahun Qamariyyah.
Padahal terdapat perbedaan antara setiap seratus tahun Syamsiyyah dengan seratus tahun Oamariyyah, yaitu tiga tahun.
Karena itulah disebutkan di dalam kisah “‘As-habul Kahfi” oleh firman-Nya:

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
(Al Kahfi:25)

Yakni berdasarkan perhitungan tahun Qamariyyah, untuk melengkapi hitungan tiga ratus tahun Syamsiyyah yang telah dikenal di kalangan orang-orang Ahli Kitab.

Fatrah yang panjang terjadi antara masa Nabi Isa ibnu Maryam —yang merupakan nabi terakhir dari kalangan kaum Bani Israil— dan Nabi Muhammad —penutup para nabi dari semua anak Adam secara mutlak—, seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari me­lalui Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Aku adalah orang yang paling dekat kepada Ibnu Maryam, karena antara dia dan aku tidak ada seorang nabi pun.

Hadis ini merupakan bantahan terhadap orang-orang yang menduga bahwa telah diutus seorang nabi sesudah Isa yang dikenal dengan nama Khalid ibnu Sinan, seperti yang diriwayatkan oleh Al-Quda’i dan lain-lainnya.

Maksud Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ setelah lama terputusnya pengiriman rasul-rasul adalah agar mereka merasakan bahwa nikmat pengutusannya lebih sempurna dan kedatangannya sangat diperlukan.
Dalam masa fatrah tersebut seluruhnya diwarnai zaman yang kelabu, semua agama berubah dari asalnya, dan banyak dilakukan penyembahan terhadap berhala, api serta salib.
Kerusakan ini melanda semua negeri, kezaliman dan kebodohan telah memasyarakat di kalangan banyak hamba Allah, sedikit sekali dari mereka yang tetap berpegang kepada sisa-sisa agama para nabi terdahulu, mereka terdiri atas kalangan para rahib Yahudi dan pendeta-pendeta Nasrani serta pendeta-pende­ta Sabi-ah.

Sehubungan dengan hal ini, Imam Ahmad mengatakan:

bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Mutarrif, dari Iyad ibnu Hammad Al-Mujasyi’i r.a., bahwa pada suatu hari Nabi ﷺ berkhotbah, antara lain berbunyi sebagai berikut: Dan sesungguhnya Tuhanku telah memerintahkan aku untuk memberitahukan kepada kalian apa yang tidak kalian ketahui dari apa yang telah diajarkan-Nya kepadaku hari ini, yaitu, “Semua harta benda yang Aku.
berikan kepada hamba-hamba-Ku halal, dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung kepada agama yang hak) semuanya.
Tetapi sesungguhnya setan datang kepada mereka dan menyesatkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan apa yang telah Aku halalkan kepada mereka.
Setan pun memerintahkan mereka untuk mempersekutukan Aku, padahal Aku sekali-kali tidak menurunkan hujah untuk itu.” Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
memandang kepada penduduk bumi, maka Allah murka kepada mereka, baik yangArab maupun yang ‘Ajam, kecuali sisa-sisa dari Bani Israil.
Dan Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengutusmu hanyalah untuk mengujimu dan menjadikanmu sebagai ujian (buat mereka).
Dan Aku menurunkan kepadamu sebuah kitab yang tidak luntur karena air, kamu membacanya baik dalam keadaan tidur ataupun terjaga.” Kemudian sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku membakar (memerangi) orang-orang Quraisy, maka aku menjawab, “Wahai Tuhanku, kalau demikian niscaya mereka akan mengelupas kepalaku dan akan membuatnya seperti adonan roti.” Allah berfirman, “Usirlah mereka sebagaimana mereka mengusirmu.
Perangilah mereka, niscaya Aku akan membantumu.
Berinfaklah untuk menghadapi mereka, niscaya Aku akan menggantikannya kepadamu.
Kirimkanlah pasukan, niscaya Aku akan membantu dengan lima kali lipatnya, dan berperanglah bersama orang-orang yang taat kepadamu untuk menghadapi orang-orang yang durhaka kepadamu.” Ahli surga itu ada tiga macam, yaitu penguasa yang adil, bijaksana lagi dermawan, lelaki yang kasih sayang lagi lembut hatinya kepada setiap kerabat yang muslim, dan seorang lelaki yang memelihara dirinya dari meminta-minta, miskin lagi banyak tanggungannya (anak-anaknya).
Ahli neraka itu ada lima macam, yaitu orang lemah yang tiada agamanya, orang-orang yang berada di antara kalian sebagai pengikut atau selalu mengikut —ragu dari pihak Yahya— mereka tidak menginginkan punya keluarga dan tidak pula harta, pengkhianat yang tidak pernah melewatkan suatu kesempatan pun —betapapun kecilnya pasti dikhianatinya—, dan seorang lelaki yang setiap pagi dan petangnya tiada lain selalu menipumu terhadap keluarga dan harta bendamu.
Selain itu disebutkan pula, “Orang yang kikir atau pendusta, dan orang yang buruk akhlaknya lagi tukang mencaci.”

Kemudian Imam Ahmad pun meriwayatkannya, demikian pula Imam Muslim serta Imam Nasai melalui berbagai jalur, dari Qatadah, dari Mutarrif ibnu Abdullah ibnusy Syikhkhir.

Di dalam riwayat Syu’bah, dari Qatadah, terdapat penjelasan bahwa Qatadah mendengar hadis ini dari Mutarrif.

Imam Ahmad telah menyebutkan di dalam kitab Musnad-nya bahwa Qatadah tidak mendengarnya dari Mutarrif, melainkan dari empat orang, dari Mutarrif.

Kemudian Qatadah meriwayatkannya pula dari Rauh, dari Auf, dari Hakim Al-Asram, dari Al-Hasan yang telah mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Mutarrif, dari Iyad ibnu Hammad, lalu ia menyebutkan hadis ini.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Gundar, dari Auf Al-A’rabi dengan lafaz yang sama.

Maksud mengetengahkan hadis ini ialah menyitir kalimat yang mengatakan:

Sesungguhnya Allah memperhatikan penduduk bumi, maka Allah murka kepada mereka semuanya, baik yang Arab maupun yang ‘Ajam, kecuali sisa-sisa dari Bani Israil.

Menurut lafaz Imam Muslim adalah “مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ”.”sisa-sisa Ahli Kitab”.
Dahulu agama masih kabur bagi seluruh penduduk bumi, hingga Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ Maka Allah memberi petunjuk kepada semua makhluk dan mengeluarkan mereka melalui Nabi Muhammad ﷺ dari kegelapan menuju ke cahaya yang terang benderang, dan membiarkan mereka berada pada hujah yang jelas dan syariat yang bercahaya Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

agar kalian tidak mengatakan, “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan.

Yakni agar kalian tidak beralasan dan tidak mengatakan, “Hai orang-orang yang mengubah agamanya dan menggantinya, tidak pernah datang kepada kita seorang rasul pun yang membawa berita gembira dengan kebaikan dan memperingatkan kita dari perbuatan jahat.” Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, yaitu Nabi Muhammad ﷺ,

Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Menurut Ibnu Jarir, makna ayat ini ialah “sesungguhnya Aku berkuasa untuk menghukum orang-orang yang durhaka terhadap-Ku dan berkuasa Untuk memberi pahala orang orang yang taat kepadaKu.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Maa’idah (5) Ayat 19

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah ﷺ berdakwah kepada orang-orang Yahudi supaya masuk Islam.
Akan tetapi mereka menolaknya.
Berkatalah Mu’adz bin Jabal dan Sa’d bin ‘Ubadah (Anshar) kepada mereka: “Wahai kaum Yahudi.
Takutlah kalian kepada Allah.
Demi Allah, sesungguhnya kalian mengetahui bahwa beliau adalah utusan Allah, karena dulu sebelum beliau diutus, kalian telah menerangkan kepada kami sifat-sifat yang ada padanya.” Berkatalah Rafi’ bin Huraimalah dan Wahb bin Yahudza: “Kami tidak pernah berkata demikian kepada kalian.
Allah tidak menurunkan kitab sesudah Musa, dan tidak mengutus Utusan selaku pemberi kabar gembira dan peringatan sesudah Musa.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 19) sebagai teguran kepada orang-orang yang memungkiri ayat-ayat tentang kedatangan Rasul terakhir.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 19

FATRAH
فَتْرَة

Arti kata fatrah adalah rentang masa di antara dua Nabi di mana pada masa tersebut tidak ada Rasul yang diutus oleh Allah (s.w.t.) kepada manusia.

Kata ini hanya diulang sekali saja dalam Al Qur’an, yaitu pada surah Al Maa’idah (5), ayat 19. Pada ayat tersebut Allah. mengajak kaum Yahudi dan Nasrani supaya mengakui dengan penuh keimanan bahawa Muhammad (s.a.w.) adalah utusan Allah. Allah juga mengingatkan mereka supaya bersyukur dengan diutusnya Nabi Muhammad kepada mereka, karena pada masa itu mereka memang sangat memerlukan petunjuk seorang Rasul, sebab sudah lama Allah tidak mengutus Rasul semenjak diutusnya Nabi ‘Isa (a.s.). Masa ketiadaan Rasul -yaitu di antara Nabi ‘Isa (a.s.) dan Nabi Muhammad dinamakan dengan masa

Imam Ibn Katsir mengatakan bahwa pendapat yang masyhur mengenai lamanya masa fatrah ini adalah pendapat Imam ‘Utsman An Nahdi yang merupakan salah satu riwayat dari Imam Qatadah. Pendapat itu menyatakan bahawa masa fatrah tersebut adalah enam ratus (600) tahun. Ada juga yang mengatakan bahawa lamanya masa fatrah tersebut adalah enam ratus dua puluh (620) tahun. Imam Ibn Katsir menegaskan bahwa kedua pendapat ini tidaklah bertentangan karena pendapat yang pertama adalah menggunakan hitungan tahun Syamsiyyah, sedangkan pendapat kedua menggunakan hitungan tahun Qamariyyah.

Pada masa fatrah ini ajaran-ajaran agama telah diselewengkan, banyak orang yang menyembah berhala, api dan salib. Kerusakan moral, kezaliman dan juga kebodohan telah melanda banyak negara, hanya sedikit saja manusia yang masih berpegang teguh dengan sisa ajaran agama nabi-nabi terdahulu, seperti yang dipraktekkan oleh sebahagian pendeta Yahudi, Nasrani dan juga para Sabi’un.

Adalah kenikmatan dan anugerah yang agung, apabila pada masa seperti itu Allah mengutus seorang Rasul kepada umat manusia. Oleh karena itu hendaklah umat manusia-termasuk kaum Yahudi dan Nasrani-mau mensyukuri kenikmatan ini, bukannya mengkufurinya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:426

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 19 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 19



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (9 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku