Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 118 [QS. 5:118]

اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
In tu’adz-dzibhum fa-innahum ‘ibaaduka wa-in taghfir lahum fa-innaka antal ‘aziizul hakiim(u);
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
―QS. Al Maa’idah [5]: 118

If You should punish them – indeed they are Your servants;
but if You forgive them – indeed it is You who is the Exalted in Might, the Wise.
― Chapter 5. Surah Al Maa’idah [verse 118]

إِن jika

If
تُعَذِّبْهُمْ Engkau menyiksa mereka

You punish them,
فَإِنَّهُمْ maka sesungguhnya mereka

then indeed they
عِبَادُكَ hamba-hamba Engkau

(are) Your slaves,
وَإِن dan jika

and if
تَغْفِرْ Engkau mengampuni

You forgive
لَهُمْ kepada mereka

[for] them
فَإِنَّكَ maka sesungguhnya Engkau

then indeed You,
أَنتَ Engkau

You
ٱلْعَزِيزُ Maha Perkasa

(are) the All-Mighty,
ٱلْحَكِيمُ Maha Bijaksana

the All-Wise."

Tafsir

Alquran

Surah Al Maa’idah
5:118

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 118. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan bahwa Isa menyerahkan sepenuhnya keputusan atas orang-orang Nasrani itu kepada Allah, dan beliau berlepas tangan dari tanggung jawab atas perbuatan mereka, karena beliau sudah menyampaikan seruannya sesuai dengan perintah Allah, yaitu mengesakan-Nya serta mengkhususkan ibadah kepada-Nya.
Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka sesuai dengan perbuatan mereka.

Dialah yang mengetahui siapa di antara mereka yang tetap dalam tauhid dan siapa yang musyrik, siapa pula yang taat dan siapa yang ingkar, siapa yang saleh dan yang fasik.
Jika Allah menjatuhkan Nasrani yang telah menjadi musyrik dan siapa pula yang masih dalam agama tauhid.


Mereka yang menjadi musyrik, tidak ada ampunan bagi dosa mereka.
Firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.

(an-Nisa’ [4]: 48)


Sejak permulaan abad masehi, sudah banyak aliran dalam kepercayaan yang tumbuh di kalangan penganut agama Nasrani.
Sehingga banyak perselisihan yang timbul di antara mereka, maka semuanya terserah kepada Allah diazab atau diampuni di antara hamba-hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 118. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Jika Engkau menyiksa mereka oleh sebab perbuatan yang mereka lakukan, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu.
Dan, jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya hanya Engkaulah yang Mahaperkasa, sangat Bijaksana dalam setiap ketentuan yang Engkau buat. "

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Ya Allah, bila Engkau menyiksa mereka maka mereka adalah hamba-hamba-Mu, Engkau lebih mengetahui keadaan mereka, Engkau melakukan apa yang Engkau kehendaki terhadap mereka dengan keadilan-Mu.
Bila Engkau mengampuni dengan rahmat-Mu siapa yang melakukan sebab-sebab ampunan, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa yang tidak terkalahkan, Maha Bijaksana dalam penataan dan pengaturan-Mu.


Ayat ini merupakan sanjungan kepada Allah atas hikmah-Nya, keadilan-Nya dan kesempurnaan ilmu-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Jika Engkau menyiksa mereka) artinya orang-orang yang melakukan kekafiran di antara mereka


(maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau) Engkau adalah Yang Menguasai mereka, Engkaulah yang berhak memperlakukan mereka menurut apa yang Engkau kehendaki, tak ada yang bisa menghalang-halangi Engkau


(dan jika Engkau mengampuni mereka) artinya mengampuni orang-orang yang beriman di antara mereka


(maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa) Yang Maha Menang perkara-Nya


(lagi Maha Bijaksana’") dalam perbuatan-Nya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Kalimat ini mengandung makna mengembalikan segala sesuatunya kepada kehendak Allah subhanahu wa ta’ala., karena sesungguhnya Allah Maha Memperbuat segala sesuatu yang dikehendaki-Nya, Dia tidak ada yang mempertanyakan apa yang diperbuat-Nya, sedangkan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya.
Kalimat ini pun merupakan pem­bersihan diri terhadap perbuatan orang-orang Nasrani yang berani ber­dusta kepada Allah dan rasul-Nya serta berani menjadikan bagi Allah tandingan dan istri serta anak.
Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan itu dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

Ayat ini mempunyai makna yang sangat penting dan merupakan suatu berita yang menakjubkan.
Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi ﷺ membacanya di malam hari hingga subuh, yakni dengan mengulang-ulang bacaan ayat ini.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepadaku Fulait Al-Amiri, dari Jisrah Al-Amiriyah, dari Abu Zar r.a. yang menceritakan bahwa di suatu malam Nabi ﷺ melakukan salat, lalu beliau membaca sebuah ayat yang hingga subuh beliau tetap membacanya dalam rukuk dan sujudnya, yaitu firman-Nya:
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 118)
Ketika waktu subuh Abu Hurairah bertanya,
"Wahai Rasulullah, mengapa engkau terus-menerus membaca ayat ini hingga subuh, sedangkan engkau tetap membacanya dalam rukuk dan sujudmu?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku akan syafaat bagi umatku, maka Dia memberikannya kepadaku, dan syafaat itu dapat diperoleh —Insya Allah— oleh orang yang tidak pernah mem­persekutukan Allah dengan sesuatu pun (dari kalangan umatku).

Jalur lain dan konteks lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.


Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Qudamah ibnu Abdullah, telah menceritakan kepadaku Jisrah binti Dajjajah, bahwa ia berangkat menunaikan ibadah umrahnya.
Ketika sampai di Ar-Rabzah, ia mendengar Abu Zar menceritakan hadis berikut, bahwa di suatu malam Rasulullah ﷺ bangkit untuk melakukan salat Isya, maka beliau salat bersama kaum.
Setelah itu banyak orang dari kalangan sahabat beliau mundur untuk melakukan salat (sunat).
Ketika Nabi ﷺ melihat mereka melakukan salat setelah mundur dari tempat itu, maka Nabi ﷺ pergi ke tempat kemahnya.
Setelah Nabi ﷺ melihat bahwa kaum telah mengosongkan tempat itu, maka beliau ﷺ kembali ke tempatnya semula, lalu melaku­kan salat (sunat).
Kemudian aku (Abu Zar) datang dan berdiri di belakang beliau, maka beliau berisyarat kepadaku dengan tangan kanannya, maka aku berdiri di sebelah kanan beliau.
Kemudian datanglah Ibnu Mas’ud yang langsung berdiri di belakangku dan di belakang beliau, tetapi Nabi ﷺ berisyarat kepadanya dengan tangan kirinya, maka Ibnu Mas’ud berdiri di sebelah kiri beliau.
Maka kami bertiga berdiri melakukan salat, masing-masing melakukan salat sendirian, dan kami membaca sebagian dari Alquran sebanyak apa yang dikehendaki oleh Allah.
Sedangkan Nabi ﷺ hanya membaca sebuah ayat Alquran yang beliau ulang-ulang bacaannya hingga sampai di penghujung malam.
Setelah kami menunaikan salat Subuh, aku berisyarat kepada Abdullah ibnu Mas’ud, meminta kepadanya untuk menanyakan apa yang telah diperbuat oleh Nabi ﷺ tadi malam.
Maka Ibnu Mas’ud menjawab dengan isyarat tangannya, bahwa dia tidak mau menanyakan sesuatu pun kepada Nabi ﷺ hingga Nabi ﷺ sendirilah yang akan memberitahu­kannya kepada dia.
Maka aku (Abu Zar) bertanya,
"Demi ayah dan ibuku, engkau telah membaca suatu ayat dari Alquran, padahal Alquran seluruhnya telah ada padamu.
Seandainya hal itu dilakukan oleh seseorang dari kalangan kami, niscaya kami akan menjumpainya (mudah melakukannya)."
Nabi ﷺ bersabda,
"Aku berdoa untuk umatku."
Aku bertanya,
"Lalu apakah yang engkau peroleh atau apakah jawaban-Nya kepadamu?"
Rasulullah ﷺ bersabda:
Aku mendapat jawaban (dari Allah) yang seandainya hal ini diperlihatkan kepada kebanyakan dari mereka sekali lihat, niscaya mereka akan meninggalkan salat.
Aku bertanya,
"Bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?"
Nabi ﷺ bersabda,
"Tentu saja boleh."
Maka aku pergi seraya merunduk sejauh lemparan sebuah batu (untuk mengumumkan kepada orang-orang).
Tetapi Umar berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya jika engkau menyuruh orang ini untuk menyampaikannya kepada orang banyak, niscaya mereka akan enggan melakukan ibadah."
Maka Nabi ﷺ memanggilku kembali, lalu aku kembali (tidak jadi mengumumkannya).
Ayat tersebut adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris, Bakr ibnu Sawwadah pernah menceritakan kepadanya hadis berikut dari Abdur Rahman ibnu Jubair, dari Abdullalh ibnu Amr ibnul As, bahwa Nabi ﷺ membaca perkataan Nabi Isa yang disebutkan oleh firman-Nya:
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 118)
Lalu beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa,
"Ya Allah, selamatkanlah umatku,"
kemudian beliau menangis.
Maka Allah berfirman,
"Hai Jibril, pergilah kepada Muhammad —dan Tuhanmu lebih mengetahui— dan tanyakanlah kepadanya apa yang menyebabkan dia menangis."
Malaikat Jibril datang menemui Nabi ﷺ dan bertanya kepadanya.
Maka Rasulullah ﷺ menceritakan apa yang telah diucapkannya, sedangkan Allah lebih mengetahui.
Allah berfirman,
"Hai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakanlah (kepadanya) bahwa sesungguhnya Kami akan membuatnya rela tentang nasib umatnya, dan Kami tidak akan membuatnya bersedih hati."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai’ah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Hubairah, ia pernah mendengar Abu Tamim Al-Jaisyani mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Sa’id ibnu Musayyab, ia pernah mendengar Huzaifah ibnul Yaman menceritakan hadis berikut, Pada suatu hari Rasulullah ﷺ tidak menampakkan dirinya kepada kami.
Beliau tidak keluar, hingga kami menduga bahwa beliau ﷺ tidak akan keluar hari itu.
Dan ketika beliau keluar, maka beliau langsung melakukan sujud sekali sujud (dalam waktu yang cukup lama) sehingga kami menduga bahwa Muhammad."
Dan Allah memberi kabar gembira kepadaku bahwa orang yang mula-mula masuk surga dari kalangan umatku bersama-sama denganku adalah tujuh puluh ribu orang, dan setiap seribu orang (dari mereka) ditemani oleh tujuh puluh ribu orang, mereka semuanya tidak terkena hisab.
Kemudian Allah mengirimkan utusan kepadaku untuk menyampaikan firman-Nya,
"Berdoalah, niscaya kamu diperkenankan, dan mintalah, niscaya diberi."
Maka kukatakan kepada utusan­Nya (yakni Malaikat Jibril),
"Apakah Tuhanku akan memberi permintaanku?"
Ia menjawab,
"Tidak sekali-kali Dia mengutusku kepadamu melainkan untuk memberimu."
Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku —tanpa membanggakan diri— dan telah memberikan ampunan bagiku atas semua dosaku yang terdahulu dan yang kemudian, sedangkan aku masih berjalan dalam keadaan hidup dan sehat.
Dan Dia memberiku, bahwa umatku tidak akan kelaparan dan tidak akan terkalahkan.
Dia memberiku Al-Kausar, yaitu sebuah sungai di dalam surga yang mengalir ke telagaku.
Dia memberiku kejayaan, pertolongan, dan rasa takut berjalan di hadapan umatku dalam jarak perjalanan satu bulan (mencekam musuh-musuhku).
Dia memberiku, bahwa aku adalah nabi yang mula-mula masuk surga.
Dan Dia menghalalkan bagiku dan bagi umatku ganimah (rampasan perang), serta Dia telah menghalalkan bagi kami banyak hal yang dilarang keras atas umat-umat sebelumku, dan Dia tidak menjadikan bagi kami dalam agama suatu kesempitan pun.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Maa’idah (5) ayat 118

Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abdul A’la ash-Shadafi telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata,
telah mengabarkan kepada kami Amru bin Al Harits bahwa Bakr bin Sawadah telah menceritakan kepadanya dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin Amr bin Al Ash bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah membaca firman Allah mengenai Ibrahim: Ya Tuhanku, sesungguhnya berhalaberhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golonganku (Qs. Ibrahim: 36) hingga akhir ayat. Dan mengenai Isa Al Maidah: 118), kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a:
"Ya Allah, selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku, " dengan bercucuran air mata. Kemudian Allah azza wajalla berkata kepada malaikat Jibril: "Temuilah Muhammad -dan Rabbmulah yang lebih tahu- dan tanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Maka malaikat Jibril pun bertanya kepada beliau, dan beliau shallallahu alaihi wasallam menjawabnya dengan apa yang dikatakan Allah-dan Allah lebih mengetahui hal itu-. Kemudian Allah berkata:
‘Wahai Jibril, temuilah Muhammad dan katakan bahwa Kami akan membuatmu senang dengan umatmu dan tidak akan membuatmu sedih karenanya (Kami akan menyelamatkan semua umatmu-pent)".

Shahih Muslim, Kitab Iman – Nomor Hadits: 301

Unsur Pokok Surah Al Maa’idah (المائدة)

Surat Al-Ma’idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu IsaIsaIsaIsa `alaihis salam.

Hukum:

▪ Keharusan memenuhi perjanjian.
Hukum melanggar syiar Allah.
▪ Makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan.
Hukum mengawini wanita ahli kitab.
Tayammum.
▪ Mandi.
Hukum membunuh orang.
Hukum mengacau dan mengganggu keamanan.
Hukum qishas.
Hukum melanggar sumpah dan kafarat-nya.
Hukum khamar (minuman yang memabukkan).
▪ Berjudi.
▪ Berkorban untuk berhala.
▪ Mengundi nasib.
Hukum membunuh binatang waktu ihram.
Hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

▪ Kisah-kisah Nabi Musa `alaihis salam menyuruh kaumnya memasuki Palestina.
▪ Kisah Habil dan Qabil.
▪ Kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
▪ Penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Keharusan jujur dan berlaku adil.
▪ Sikap dalam menghadapi berita-berita bohong.
▪ Akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim.
▪ Kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi.
▪ Kewajiban rasul hanya menyampaikan agama.
▪ Sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam.
▪ Ka’bah sokoguru kehidupan manusia.
▪ Peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah.
▪ Larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 120 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 120

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Maa'idah ayat 118 - Gambar 1 Surah Al Maa'idah ayat 118 - Gambar 2
Statistik QS. 5:118
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa’idah.

Surah Al-Ma’idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā’idah, “Jamuan Hidangan”) adalah surah ke-5 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada’.
Surah ini dinamakan Al-Ma’idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma’idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa’idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-‘Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa’
Surah selanjutnyaSurah Al-An’am
Sending
User Review
4.4 (10 votes)
Tags:

5:118, 5 118, 5-118, Surah Al Maa'idah 118, Tafsir surat AlMaaidah 118, Quran Al Maidah 118, AlMaidah 118, Al-Ma'idah 118, Surah Al Maidah ayat 118

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Mu’minuun (Orang-orang mukmin) – surah 23 ayat 98 [QS. 23:98]

97-98. Dan katakanlah, wahai Nabi Muhammad, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung pula kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku dala … 23:98, 23 98, 23-98, Surah Al Mu’minuun 98, Tafsir surat AlMuminuun 98, Quran Al Mukminun 98, Al-Mu’minun 98, Surah Al Muminun ayat 98

QS. Al Fajr (Fajar) – surah 89 ayat 25 [QS. 89:25]

25. Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya yang adil. Azab Allah mahadahsyat. Orang yang menerima azab Allah pada hari itu akan merasa sebagai orang yang paling sengsa … 89:25, 89 25, 89-25, Surah Al Fajr 25, Tafsir surat AlFajr 25, Quran Al-Fajr 25, Surah Al Fajr ayat 25

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Salah satu tokoh dalam kisah umat masa lalu yang dapat dipetik pelajaran sebagai teladan yang baik ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Luqman adalah orang yang disebut dalam Alquran dalam surah Luqman [31] : 12-19 yang terkenal karena nasihat-nasihatnya kepada anaknya.

Mujahadah berasal dari bahasa Arab, yang berasal dari kata jahada, yang berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Mujahadah merupakan sebuah istilah yang terbentuk dari asal kata jihad, artinya berjuang dengan sungguh-sungguh menurut syari'at Islam.

Istilah lain yang juga berasal dari kata Jihad, yakni Mujahidin. Mujahidin adalah istilah bagi pejuang (Muslim) yang turut dalam suatu peperangan atau terlibat dalam suatu pergolakan.

َبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا

Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaitu

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
الفرقان, artinya 'Pembeda'.
Alquran dinamakan Al-Furqan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil.

+

Array

Tujuan utama diturunkannya Alquran kepada umat manusia adalah ...

Benar! Kurang tepat!

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaitu

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ٱلذِّكْرَ = Adz-Dzikr (pemberi peringatan).
Firman Allah:
'Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Alquran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.'
(QS. Al Hijr [15] : 9)

Pendidikan Agama Islam #15
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #15 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #15 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #8

Undang-undang tentang penggunaan Hadits-Maudu adalah … sunnah makruh mubah haram boleh Benar! Kurang tepat! Orang yang menceritakan hadits disebut …

Pendidikan Agama Islam #11

Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan

Pendidikan Agama Islam #4

Fungsi pakaian adalah … agar tidak kedinginan untuk munjukkan model terbaru menghindari tubuh agar tidak kotor sebagai penutup aurat tingkatkan

Instagram