Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 118 [QS. 5:118]

Topik ▪ Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
In tu’adz-dzibhum fa-innahum ‘ibaaduka wa-in taghfir lahum fa-innaka antal ‘aziizul hakiim(u);
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”
―QS. Al Maa’idah [5]: 118

If You should punish them – indeed they are Your servants;
but if You forgive them – indeed it is You who is the Exalted in Might, the Wise.
― Chapter 5. Surah Al Maa’idah [verse 118]

إِن jika

If
تُعَذِّبْهُمْ Engkau menyiksa mereka

You punish them,
فَإِنَّهُمْ maka sesungguhnya mereka

then indeed they
عِبَادُكَ hamba-hamba Engkau

(are) Your slaves,
وَإِن dan jika

and if
تَغْفِرْ Engkau mengampuni

You forgive
لَهُمْ kepada mereka

[for] them
فَإِنَّكَ maka sesungguhnya Engkau

then indeed You,
أَنتَ Engkau

You
ٱلْعَزِيزُ Maha Perkasa

(are) the All-Mighty,
ٱلْحَكِيمُ Maha Bijaksana

the All-Wise."

Tafsir

Alquran

Surah Al Maa’idah
5:118

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 118. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menerangkan bahwa Isa menyerahkan sepenuhnya keputusan atas orang-orang Nasrani itu kepada Allah, dan beliau berlepas tangan dari tanggung jawab atas perbuatan mereka, karena beliau sudah menyampaikan seruannya sesuai dengan perintah Allah, yaitu mengesakan-Nya serta mengkhususkan ibadah kepada-Nya.
Allah akan menjatuhkan hukuman kepada mereka sesuai dengan perbuatan mereka.

Dialah yang mengetahui siapa di antara mereka yang tetap dalam tauhid dan siapa yang musyrik, siapa pula yang taat dan siapa yang ingkar, siapa yang saleh dan yang fasik.
Jika Allah menjatuhkan azab atas mereka, maka azab itu jatuh kepada orang yang memang patut menerima azab.

Mereka itu adalah hamba-hamba Allah, seharusnya mereka itu menyembah Allah, tidak menyembah selain Allah.
Jika Allah memberikan pengampunan kepada mereka, maka pengampunan itu diberikan-Nya kepada mereka yang patut diberi-Nya dan yang patut menerimanya.

Allah Mahakuasa dan berwenang dalam mengurusi segala perkara, tidak ada orang lain yang turut mengurusinya.
Allah Mahabijaksana dalam menentukan keputusan atas perkara itu, dan Dia Maha Mengetahui siapakah di antara orang-orang Nasrani yang telah menjadi musyrik dan siapa pula yang masih dalam agama tauhid.


Mereka yang menjadi musyrik, tidak ada ampunan bagi dosa mereka.
Firman Allah:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.

(an-Nisa’ [4]: 48)


Sejak permulaan abad masehi, sudah banyak aliran dalam kepercayaan yang tumbuh di kalangan penganut agama Nasrani.
Sehingga banyak perselisihan yang timbul di antara mereka, maka semuanya terserah kepada Allah diazab atau diampuni di antara hamba-hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 118. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Jika Engkau menyiksa mereka oleh sebab perbuatan yang mereka lakukan, sesungguhnya mereka itu adalah hamba-hamba-Mu.
Dan, jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya hanya Engkaulah yang Mahaperkasa, sangat Bijaksana dalam setiap ketentuan yang Engkau buat. "

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Ya Allah, bila Engkau menyiksa mereka maka mereka adalah hamba-hamba-Mu, Engkau lebih mengetahui keadaan mereka, Engkau melakukan apa yang Engkau kehendaki terhadap mereka dengan keadilan-Mu.
Bila Engkau mengampuni dengan rahmat-Mu siapa yang melakukan sebab-sebab ampunan, maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa yang tidak terkalahkan, Maha Bijaksana dalam penataan dan pengaturan-Mu.


Ayat ini merupakan sanjungan kepada Allah atas hikmah-Nya, keadilan-Nya dan kesempurnaan ilmu-Nya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Jika Engkau menyiksa mereka) artinya orang-orang yang melakukan kekafiran di antara mereka


(maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau) Engkau adalah Yang Menguasai mereka, Engkaulah yang berhak memperlakukan mereka menurut apa yang Engkau kehendaki, tak ada yang bisa menghalang-halangi Engkau


(dan jika Engkau mengampuni mereka) artinya mengampuni orang-orang yang beriman di antara mereka


(maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa) Yang Maha Menang perkara-Nya


(lagi Maha Bijaksana’") dalam perbuatan-Nya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Kalimat ini mengandung makna mengembalikan segala sesuatunya kepada kehendak Allah subhanahu wa ta’ala., karena sesungguhnya Allah Maha Memperbuat segala sesuatu yang dikehendaki-Nya, Dia tidak ada yang mempertanyakan apa yang diperbuat-Nya, sedangkan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya.
Kalimat ini pun merupakan pem­bersihan diri terhadap perbuatan orang-orang Nasrani yang berani ber­dusta kepada Allah dan rasul-Nya serta berani menjadikan bagi Allah tandingan dan istri serta anak.
Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan itu dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.

Ayat ini mempunyai makna yang sangat penting dan merupakan suatu berita yang menakjubkan.
Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi ﷺ membacanya di malam hari hingga subuh, yakni dengan mengulang-ulang bacaan ayat ini.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fudail, telah menceritakan kepadaku Fulait Al-Amiri, dari Jisrah Al-Amiriyah, dari Abu Zar r.a. yang menceritakan bahwa di suatu malam Nabi ﷺ melakukan salat, lalu beliau membaca sebuah ayat yang hingga subuh beliau tetap membacanya dalam rukuk dan sujudnya, yaitu firman-Nya:
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 118)
Ketika waktu subuh Abu Hurairah bertanya,
"Wahai Rasulullah, mengapa engkau terus-menerus membaca ayat ini hingga subuh, sedangkan engkau tetap membacanya dalam rukuk dan sujudmu?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku akan syafaat bagi umatku, maka Dia memberikannya kepadaku, dan syafaat itu dapat diperoleh —Insya Allah— oleh orang yang tidak pernah mem­persekutukan Allah dengan sesuatu pun (dari kalangan umatku).

Jalur lain dan konteks lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad.


Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Qudamah ibnu Abdullah, telah menceritakan kepadaku Jisrah binti Dajjajah, bahwa ia berangkat menunaikan ibadah umrahnya.
Ketika sampai di Ar-Rabzah, ia mendengar Abu Zar menceritakan hadis berikut, bahwa di suatu malam Rasulullah ﷺ bangkit untuk melakukan salat salat bersama kaum.
Setelah itu banyak orang dari kalangan sahabat beliau mundur untuk melakukan salat (sunat).
Ketika Nabi ﷺ melihat mereka melakukan salat setelah mundur dari tempat itu, maka Nabi ﷺ pergi ke tempat kemahnya.
Setelah Nabi ﷺ melihat bahwa kaum telah mengosongkan tempat itu, maka beliau ﷺ kembali ke tempatnya semula, lalu melaku­kan salat (sunat).
Kemudian aku (Abu Zar) datang dan berdiri di belakang beliau, maka beliau berisyarat kepadaku dengan tangan kanannya, maka aku berdiri di sebelah kanan beliau.
Kemudian datanglah Ibnu Mas’ud yang langsung berdiri di belakangku dan di belakang beliau, tetapi Nabi ﷺ berisyarat kepadanya dengan tangan kirinya, maka Ibnu Mas’ud berdiri di sebelah kiri beliau.
Maka kami bertiga berdiri melakukan salat, masing-masing melakukan salat sendirian, dan kami membaca sebagian dari Alquran sebanyak apa yang dikehendaki oleh Allah.
Sedangkan Nabi ﷺ hanya membaca sebuah ayat Alquran yang beliau ulang-ulang bacaannya hingga sampai di penghujung malam.
Setelah kami menunaikan salat Subuh, aku berisyarat kepada Abdullah ibnu Mas’ud, meminta kepadanya untuk menanyakan apa yang telah diperbuat oleh Nabi ﷺ tadi malam.
Maka Ibnu Mas’ud menjawab dengan isyarat tangannya, bahwa dia tidak mau menanyakan sesuatu pun kepada Nabi ﷺ hingga Nabi ﷺ sendirilah yang akan memberitahu­kannya kepada dia.
Maka aku (Abu Zar) bertanya,
"Demi ayah dan ibuku, engkau telah membaca suatu ayat dari Alquran, padahal Alquran seluruhnya telah ada padamu.
Seandainya hal itu dilakukan oleh seseorang dari kalangan kami, niscaya kami akan menjumpainya (mudah melakukannya)."
Nabi ﷺ bersabda,
"Aku berdoa untuk umatku."
Aku bertanya,
"Lalu apakah yang engkau peroleh atau apakah jawaban-Nya kepadamu?"
Rasulullah ﷺ bersabda:
Aku mendapat jawaban (dari Allah) yang seandainya hal ini diperlihatkan kepada kebanyakan dari mereka sekali lihat, niscaya mereka akan meninggalkan salat.
Aku bertanya,
"Bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?"
Nabi ﷺ bersabda,
"Tentu saja boleh."
Maka aku pergi seraya merunduk sejauh lemparan sebuah batu (untuk mengumumkan kepada orang-orang).
Tetapi Umar berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya jika engkau menyuruh orang ini untuk menyampaikannya kepada orang banyak, niscaya mereka akan enggan melakukan ibadah."
Maka Nabi ﷺ memanggilku kembali, lalu aku kembali (tidak jadi mengumumkannya).
Ayat tersebut adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris, Bakr ibnu Sawwadah pernah menceritakan kepadanya hadis berikut dari Abdur Rahman ibnu Jubair, dari Abdullalh ibnu Amr ibnul As, bahwa Nabi ﷺ membaca perkataan Nabi Isa yang disebutkan oleh firman-Nya:
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 118)
Lalu beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa,
"Ya Allah, selamatkanlah umatku,"
kemudian beliau menangis.
Maka Allah berfirman,
"Hai Jibril, pergilah kepada Muhammad —dan Tuhanmu lebih mengetahui— dan tanyakanlah kepadanya apa yang menyebabkan dia menangis."
Malaikat Jibril datang menemui Nabi ﷺ dan bertanya kepadanya.
Maka Rasulullah ﷺ menceritakan apa yang telah diucapkannya, sedangkan Allah lebih mengetahui.
Allah berfirman,
"Hai Jibril, pergilah kepada Muhammad dan katakanlah (kepadanya) bahwa sesungguhnya Kami akan membuatnya rela tentang nasib umatnya, dan Kami tidak akan membuatnya bersedih hati."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai’ah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Hubairah, ia pernah mendengar Abu Tamim Al-Jaisyani mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Sa’id ibnu Musayyab, ia pernah mendengar Huzaifah ibnul Yaman menceritakan hadis berikut, Pada suatu hari Rasulullah ﷺ tidak menampakkan dirinya kepada kami.
Beliau tidak keluar, hingga kami menduga bahwa beliau ﷺ tidak akan keluar hari itu.
Dan ketika beliau keluar, maka beliau langsung melakukan sujud sekali sujud (dalam waktu yang cukup lama) sehingga kami menduga bahwa roh beliau dicabut dalam sujudnya itu.
Setelah mengangkat kepalanya (dari sujud), beliau bersabda:
Sesungguhnya Tuhanku telah meminta pendapatku sehubungan dengan umatku, yakni apakah yang akan dilakukan-Nya terhadap mereka?
Maka aku menjawab,
"Ya Tuhanku, terserah kepada-Mu, mereka adalah makhluk dan hamba-hamba-Mu."
Allah meminta pendapatku kedua kalinya, dan aku katakan kepada-Nya hal yang sama.
Maka Allah berfirman kepadaku,
"Aku tidak akan mengecewakanmu sehubungan dengan umatmu, hai Muhammad."
Dan Allah memberi kabar gembira kepadaku bahwa orang yang mula-mula masuk surga dari kalangan umatku bersama-sama denganku adalah tujuh puluh ribu orang, dan setiap seribu orang (dari mereka) ditemani oleh tujuh puluh ribu orang, mereka semuanya tidak terkena hisab.
Kemudian Allah mengirimkan utusan kepadaku untuk menyampaikan firman-Nya,
"Berdoalah, niscaya kamu diperkenankan, dan mintalah, niscaya diberi."
Maka kukatakan kepada utusan­Nya (yakni Malaikat Jibril),
"Apakah Tuhanku akan memberi permintaanku?"
Ia menjawab,
"Tidak sekali-kali Dia mengutusku kepadamu melainkan untuk memberimu."
Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku —tanpa membanggakan diri— dan telah memberikan ampunan bagiku atas semua dosaku yang terdahulu dan yang kemudian, sedangkan aku masih berjalan dalam keadaan hidup dan sehat.
Dan Dia memberiku, bahwa umatku tidak akan kelaparan dan tidak akan terkalahkan.
Dia memberiku Al-Kausar, yaitu sebuah sungai di dalam surga yang mengalir ke telagaku.
Dia memberiku kejayaan, pertolongan, dan rasa takut berjalan di hadapan umatku dalam jarak perjalanan satu bulan (mencekam musuh-musuhku).
Dia memberiku, bahwa aku adalah nabi yang mula-mula masuk surga.
Dan Dia menghalalkan bagiku dan bagi umatku ganimah (rampasan perang), serta Dia telah menghalalkan bagi kami banyak hal yang dilarang keras atas umat-umat sebelumku, dan Dia tidak menjadikan bagi kami dalam agama suatu kesempitan pun.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Maa’idah (5) ayat 118

Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Abdul A’la ash-Shadafi telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb dia berkata,
telah mengabarkan kepada kami Amru bin Al Harits bahwa Bakr bin Sawadah telah menceritakan kepadanya dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin Amr bin Al Ash bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah membaca firman Allah mengenai Ibrahim: Ya Tuhanku, sesungguhnya berhalaberhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golonganku (Qs. Ibrahim: 36) hingga akhir ayat. Dan mengenai Isa Alaihissalam: Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. Al Maidah: 118), kemudian beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a:
"Ya Allah, selamatkanlah umatku, selamatkanlah umatku, " dengan bercucuran air mata. Kemudian Allah azza wajalla berkata kepada malaikat Jibril: "Temuilah Muhammad -dan Rabbmulah yang lebih tahu- dan tanyakan kepadanya, "Apa yang membuatmu menangis?" Maka malaikat Jibril pun bertanya kepada beliau, dan beliau shallallahu alaihi wasallam menjawabnya dengan apa yang dikatakan Allah-dan Allah lebih mengetahui hal itu-. Kemudian Allah berkata:
‘Wahai Jibril, temuilah Muhammad dan katakan bahwa Kami akan membuatmu senang dengan umatmu dan tidak akan membuatmu sedih karenanya (Kami akan menyelamatkan semua umatmu-pent)".

Shahih Muslim, Kitab Iman – Nomor Hadits: 301

Unsur Pokok Surah Al Maa’idah (المائدة)

Surat Al-Ma’idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’.

Surat ini dinamakan "Al Maa’idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isaalaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isaalaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).

Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isaalaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

▪ Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Hukum:

▪ Keharusan memenuhi perjanjian.
Hukum melanggar syiar Allah.
▪ Makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan.
Hukum mengawini wanita ahli kitab.
Tayammum.
▪ Mandi.
Hukum membunuh orang.
Hukum mengacau dan mengganggu keamanan.
Hukum qishas.
Hukum melanggar sumpah dan kafarat-nya.
Hukum khamar (minuman yang memabukkan).
▪ Berjudi.
▪ Berkorban untuk berhala.
▪ Mengundi nasib.
Hukum membunuh binatang waktu ihram.
Hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

▪ Kisah-kisah Nabi Musa `alaihis salam menyuruh kaumnya memasuki Palestina.
▪ Kisah Habil dan Qabil.
▪ Kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
▪ Penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Keharusan jujur dan berlaku adil.
▪ Sikap dalam menghadapi berita-berita bohong.
▪ Akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim.
▪ Kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi.
▪ Kewajiban rasul hanya menyampaikan agama.
▪ Sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam.
▪ Ka’bah sokoguru kehidupan manusia.
▪ Peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah.
▪ Larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 120 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 120

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Maa'idah ayat 118 - Gambar 1 Surah Al Maa'idah ayat 118 - Gambar 2
Statistik QS. 5:118
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa’idah.

Surah Al-Ma’idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā’idah, “Jamuan Hidangan”) adalah surah ke-5 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada’.
Surah ini dinamakan Al-Ma’idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma’idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa’idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-‘Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa’
Surah selanjutnyaSurah Al-An’am
Sending
User Review
4.4 (10 votes)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

5:118, 5 118, 5-118, Surah Al Maa'idah 118, Tafsir surat AlMaaidah 118, Quran Al Maidah 118, AlMaidah 118, Al-Ma'idah 118, Surah Al Maidah ayat 118

▪ Al maidah 118
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Pilihan

Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,
maka sungguh kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah),
yang mengetahui yang ghaib & yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
QS. Al-Jumu’ah [62]: 8

Berzikirlah selalu kepada Tuhanmu.
Lakukanlah salat subuh di pagi hari & zuhur serta asar di siang hari.
Di waktu malam,
lakukanlah salat magrib & isya.
Dan isilah pula waktu malam yang panjang itu untuk bertahajud.
QS. Al-Insan [76]: 25

Orang-orang yang bersedekah & berinfak di jalan Allah,
baik laki-laki maupun perempuan,
secara sukarela,
pahala mereka akan dilipatgandakan.
Lebih dari itu,
di hari kiamat mereka akan mendapatkan upah yang mulia.

QS. Al-Hadid [57]: 18

Dan tetaplah memberi peringatan,
karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
QS. Az-Zariyat [51]: 55

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Pesan utama dari kandungan Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut ...

Benar! Kurang tepat!

Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Baqarah adalah surah ke-2 dalam Alquran. Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.121 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah. Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.

+

Array

Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #26
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #26 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #26 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #21

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah … Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab … Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini … Allah Subhanahu Wa Ta`ala.Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat … Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah …

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Pendidikan Agama Islam #7

Alquran adalah keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Penjelasan tersebut terdapat dalam surah … Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan secara lahiriah, manusia dengan sesama manusia dan orang-orang dengan lingkungannya disebut hukum … Hukum yang berkaitan dengan perilaku moral manusia dalam kehidupan disebut hukum … Sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah ..Hadits adalah Mubayyin untuk Alquran. Arti dari Mubayyin adalah ..

Instagram