Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 112


اِذۡ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ہَلۡ یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ ؕ قَالَ اتَّقُوا اللّٰہَ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ
Idz qaalal hawaarii-yuuna yaa ‘iisaabna maryama hal yastathii’u rabbuka an yunazzila ‘alainaa maa-idatan minassamaa-i qaalaattaquullaha in kuntum mu’miniin(a);

(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata:
“Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”.
Isa menjawab:
“Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman”.
―QS. 5:112
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka
5:112, 5 112, 5-112, Al Maa’idah 112, AlMaaidah 112, Al Maidah 112, AlMaidah 112, Al-Ma’idah 112
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 112. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan bahwa kaum Hawariyin itu pernah menanyakan kepada Nabi Isa a.s., apakah Allah dapat menurunkan kepada mereka suatu hidangan makanan dari langit.
Pertanyaan itu bukan menunjukkan bahwa kaum Hawariyin itu masih ragu-ragu tentang kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala Mereka telah yakin sepenuhnya tentang kekuasaan Allah.
Akan tetapi mereka menanyakan hal itu untuk lebih menenteramkan hati mereka.
Sebab, apabila mereka dapat menyaksikan bahwa Allah kuasa menurunkan apa yang mereka inginkan itu, maka hati mereka akan lebih tenteram, dan iman mereka akan bertambah kuat.

Hal ini juga pernah terjadi pada Nabi Ibrahim a.s.
ketika beliau memohon kepada Allah agar Allah memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia kuasa menghidupkan makhluk yang telah mati.

Firman Allah:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkan kepadaku, bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati?”
Allah berfirman, “Belum yakinkah kamu?”
Ibrahim menjawab, “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).”

(Q.S.
Al-Baqarah: 260)

Dengan demikian, pertanyaan kaum Hawariyin tadi dapat diartikan sebagai berikut, “Hai Isa, maukah Tuhanmu memperkenankan bila kamu memohon kepada-Nya agar Dia menurunkan kepada kita suatu hidangan?”
Jadi yang mereka ragukan bukanlah kekuasaan Allah untuk melakukan hal itu melainkan apakah Tuhan bersedia mengabulkan permintaan Nabi, bila ia memintakan hal itu kepada-Nya untuk mereka.
Patut diperhatikan dalam ayat di atas, bahwa ketika kaum Hawariyin mengemukakan pertanyaan mereka kepada Nabi Isa, mereka menyebutkannya dengan namanya, lalu diiringi dengan sebutan “putra Maryam”,
ini untuk menegaskan bahwa mereka tidak menganut kepercayaan bahwa Isa adalah Tuhan, atau anak Tuhan.
Mereka yakin bahwa Isa adalah makhluk Allah yang dipilih-Nya untuk menjadi nabi dan rasul-Nya.
Dan juga adalah putra Maryam, bukan putra Allah.

Pada akhir ayat tersebut diterangkan jawaban Nabi Isa kepada kaum Hawariyin.
Ia menyuruh mereka agar bertakwa kepada Allah, yaitu agar mereka tidak mengajukan permintaan atau pun pertanyaan yang memberikan kesan seolah-olah mereka meragukan kekuasaan Allah.
Ini merupakan suatu pelajaran yang amat baik, sebab orang-orang yang beriman haruslah memperkokoh imannya, dan melenyapkan segala macam hal yang dapat mengurangi keimanan itu.
Allah Maha Kuasa, atas segala sesuatu.
Lagi pula, menyediakan suatu hidangan adalah suatu pekerjaan yang tidak patut untuk diminta kepada Allah.
Dia Maha Mulia.
Dia telah mengaruniakan kepada hamba-Nya segala sesuatu di bumi, baik berupa bahan makanan, pakaian, bahan perumahan, dan sebagainya.
Maka tugas manusia adalah untuk mengolah bahan-bahan yang tersedia itu, untuk mereka buat makanan, pakaian, rumah dan sebagainya, untuk kepentingan mereka sendiri.
Dan Allah tidak meminta bayaran apa-apa atas nikmat-Nya yang telah disediakan-Nya itu, yang tak terhitung jumlahnya.
Apabila Allah tidak menurunkan hidangan dari langit, maka hal itu tidaklah mengurangi arti kekuasaan dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.
Sebab itu, janganlah mengurangi pula terhadap iman dan keyakinan manusia kepada-Nya.

Al Maa'idah (5) ayat 112 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 112 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 112 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ingatlah, wahai Muhammad, yang terjadi ketika para pengikut setia ‘Isa berkata, “Hai ‘Isa putra Maryam, apakah Tuhanmu mengabulkan permintaanmu agar diturunkan makanan dari langit?”
‘Isa menjawab, “Takutlah kalian kepada Allah jika kalian beriman kepada-Nya.
Taatilah perintah dan larangan- Nya dan janganlah mencari alasan-alasan selain yang aku kemukakan.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Ingatlah (Ketika pengikut-pengikut Isa berkata, “Hai Isa putra Maryam! Sanggupkah) artinya bisakah (Tuhanmu) menurut satu qiraat dibaca tastathii’u kemudian lafal yang sesudahnya dibaca nashab/rabbaka, yang artinya apakah engkau bisa meminta kepada-Nya (menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”
Menjawab) kepada mereka Isa (“Bertakwalah kepada Allah) di dalam meminta bukti-bukti itu/mukjizat-mukjizat (jika betul-betul kamu orang yang beriman.”)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ingatlah ketika orang-orang Hawariyin (pendukung setia) berkata :
Wahai Isa putra Maryam, apakah Rabbmu mampu bila engkau meminta kepada-Nya agar menurunkan kepada kami meja hidangan dari langit?
Maka Isa menjawab dengan memerintahkan mereka agar bertakwa kepada Allah bila mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Inilah kisah maidah atau hidangan yang nama surat ini dikaitkan dengannya, karena itu disebut “surat Al-Maidah”.
Hidangan ini merupakan salah satu dari anugerah Allah yang diberikan kepada hamba dan rasul-Nya, yaitu Isa ‘alaihis salam ketika Dia memperkenankan doanya yang memohon agar diturunkan hidangan dari langit.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkannya sebagai mukjizat yang cemerlang dan hujjah yang nyata.

Sebagian para imam ada yang menyebutkan bahwa kisah hidangan ini tidak disebutkan di dalam kitab Injil, dan orang-orang Nasrani tidak mengetahuinya kecuali melalui kaum muslim.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

(Ingatlah) ketika kaum Hawariyyin berkata.
(Al Maidah:112) Hawariyyin adalah pengikut Nabi Isa ‘alaihis salam

Hai Isa putra Maryam, sanggupkah Tuhanmu.

Demikianlah menurut qiraah kebanyakan ulama, dan ulama lainnya ada yang membacanya seperti bacaan berikut:

Dapatkah kamu memohon kepada Tuhanmu.

Yakni sanggupkah kamu meminta kepada Tuhanmu.

…menurunkan hidangan dari langit kepada kami.

Hidangan ini merupakan piring-piring besar yang berisikan makanan.
Sebagian ulama mengatakan, sesungguhnya mereka meminta hidangan ini karena mereka sangat memerlukannya dan karena kemiskinan mereka.
Lalu mereka meminta kepada nabinya agar menurunkan hidangan dari langit setiap harinya untuk makanan mereka hingga mereka kuat menjalankan ibadahnya.

Isa menjawab, “Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kalian orang yang beriman.”
Al-Masih ‘alaihis salam menjawab permintaan mereka dengan perkataan, “Bertakwalah kalian kepada Allah, dan janganlah kalian meminta yang ini, karena barangkali hal tersebut merupakan cobaan bagi kalian.
Tetapi bertawakallah kalian kepada Allah dalam mencari rezeki, jika kalian memang orang-orang yang beriman.”

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ai-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepadaku Hajjaj, dari Lajs, dari Aqil, dari Ibnu Abbas yang telah menceritakan perihal Nabi Isa ‘alaihis salam Disebutkan bahwa Nabi Isa pernah berkata kepada kaum Bani Israil, “Maukah kalian melakukan puasa karena Allah selama tiga puluh hari, kemudian kalian memohon kepada­Nya, maka niscaya Dia akan memberi kalian apa yang kalian minta, karena sesungguhnya upah orang yang bekerja itu diberikan oleh orang yang mempekerjakannya?”
Maka mereka melakukan apa yang dianjurkannya.
Sesudah itu mereka berkata, “Wahai pengajar kebaikan, engkau telah berkata kepada kami bahwa sesungguhnya imbalan pekerja itu diberikan oleh orang yang mempekerjakannya.
Dan engkau telah memerintahkan kepada kami untuk puasa tiga puluh hari, lalu kami mengerjakannya, sedangkan kami tidak pernah bekerja selama tiga puluh hari pada seseorang kecuali dia memberi kami makan bila kami telah menyelesaikan tugas.
Maka sanggupkah engkau memohon kepada Tuhanmu agar Dia menurunkan kepada kami suatu hidangan dari langit?”
Nabi Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kalian orang yang beriman.” Mereka berkata, “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram kalbu kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.” Isa putra Maryam berdoa, “Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, beri rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang paling utama.” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kalian, barang siapa yang kafir di antara kalian sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.” (Al Maidah:112-115)

Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, “Setelah itu datanglah para malaikat yang terbang turun membawa hidangan dari langit.
Hidangan itu terdiri atas makanan berupa tujuh ekor ikan dan tujuh buah roti, lalu para malaikat meletakkan hidangan itu di hadapan mereka.
Maka yang dimakan oleh orang-orang yang terakhir dari mereka adalah sebagiannya saja, sebagaimana orang-orang yang pertama dari mereka memakan sebagiannya saja (yakni tidak kunjung habis).”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abdullah ibnul Hakam, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah dan Hibatullah ibnu Rasyid, telah menceritakan kepada kami Aqil ibnu Khalid, Ibnu Syihab pernah menceritakan kepadanya, dari Ibnu Abbas, bahwa Isa putra Maryam ‘alaihis salam pernah diminta oleh kaumnya yang mengatakan kepadanya, “Doakanlah kepada Allah agar Dia menurunkan kepada kami suatu hidangan dari langit.” Maka turunlah para malaikat membawa hidangan itu yang padanya terdapat tujuh ekor ikan dan tujuh buah roti, lalu hidangan itu diletakkan di hadapan mereka.
Maka sampai orang-orang yang terakhir dari mereka hanya makan sebagiannya, sebagaimana orang-orang yang pertama dari mereka hanya memakan sebagiannya saja.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Quza’ah Al-Bahili, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Habib, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Jallas, dari Ammar ibnu Yasir, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Hidangan itu diturunkan dari langit, padanya terdapat roti dan daging.
Dan mereka diperintahkan jangan berkhianat dan jangan menyimpannya untuk besok harinya.
Tetapi mereka berkhianat, menyimpannya dan menyembunyikannya, akhirnya mereka dikutuk menjadi kera-kera dan babi-babi.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Ibnu Basysyar, dari Ibnu Abu Addi.
dari Sa’id, dari Qatadah, dari Jallas, dari Ammar yang telah menceritakan bahwa hidangan itu diturunkan, dan padanya terdapat buah-buahan dari surga.
Lalu mereka diperintahkan agar jangan khianat, jangan menyembunyikan, dan jangan menyimpannya.
Tetapi mereka me­nyembunyikan dan menyimpannya, akhirnya Allah mengutuk mereka menjadi kera dan babi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Daud, dari Sammak ibnu Harb, dari seorang lelaki Bani Ajal yang menceritakan bahwa ia pernah salat di sebelah Ammar ibnu Yasir.
Setelah Ammar ibnu Yasir selesai dari salatnya, lalu mengatakan, “Tahukah kamu kisah hidangan yang diturunkan kepada kaum Bani Israil?”
Ia menjawab, “Tidak.” Maka Ammar berkata, “Mereka meminta kepada Isa ibnu Maryam suatu hidangan yang berisikan makanan yang tidak pernah habis mereka makan.”

Ammar melanjutkan kisahnya, “Lalu dikatakan kepada mereka, ‘ Hidangan itu akan terwujud bagi kalian selagi kalian tidak menyem­bunyikannya atau berkhianat atau menyimpannya untuk keesokan harinya.
Dan jika kalian melakukannya, maka sesungguhnya Aku akan mengazab kalian dengan suatu azab yang belum pernah Kutimpakan kepada seorang pun di antara manusia’.”Ammar ibnu Yasir melanjutkan, “Sehari berlalu mereka telah menyembunyikan, menolak, dan khianat, dan lalu mereka disiksa dengan siksaan yang belum pernah Allah timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.
Dan sesungguhnya kalian, hai orang-orang Arab, kalian pada mulanya adalah kaum yang mengikuti ekor unta dan kambing (yakni kaum Badui), lalu Allah mengutus kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri yang kalian ketahui kedudukan dan keturunannya.
Dan aku akan memberitahu­kan kepada kalian bahwa kalian kelak akan beroleh kemenangan atas kaum Ajam.
Dan Rasul telah melarang kalian menimbun emas dan perak.
Demi Allah, tiada suatu malam dan suatu siang pun melainkan kalian kelak akan menimbun keduanya dan Allah akan mengazab kalian dengan azab yang sangat pedih.”

Dan telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepadaku Hajjaj, dari Abu Ma’syar, dari Ishaq ibnu Abdullah, bahwa hidangan yang diturunkan kepada Nabi Isa ibnu Maryam terdiri atas tujuh buah roti dan tujuh ekor ikan, mereka boleh memakannya sekehendak mereka.
Kemudian sebagian dari mereka ada yang mencuri sebagian dari makanan itu seraya mengatakan, “Barangkali hidangan ini tidak akan turun besok.” Akhirnya hidangan itu diangkat kembali.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa diturunkan kepada Isa putra Maryam dan kaum Hawariyyin sebuah piring besar yang berisikan roti dan ikan, mereka dapat memakannya di mana pun mereka berada apabila mereka menyukainya.

Khasif telah meriwayatkan dari Ikrimah dan Miqsam, dari Ibnu Abbas, bahwa hidangan itu berisi ikan dan beberapa potong roti.

Mujahid mengatakan bahwa hidangan itu berupa makanan yang diturunkan kepada mereka (Bani Israil) di mana pun mereka berada.

Abu Abdur Rahman As-Sulami mengatakan, hidangan itu diturun­kan berupa roti dan ikan.

Atiyyah Al-Aufi mengatakan bahwa hidangan itu berupa ikan yang mengandung rasa semua jenis makanan.

Wahb ibnu Munabbih mengatakan, Allah menurunkan hidangan itu dari langit kepada kaum Bani Israil, dan diturunkan kepada mereka setiap harinya yang isinya terdiri atas buah-buahan surgawi, maka mereka dapat memakan semua jenis buah-buahan yang mereka kehendaki.
Dan tersebutlah bahwa hidangan itu dimakan oleh empat ribu orang, apabila mereka telah makan, maka Allah menurunkan hidangan lagi sebagai gantinya untuk sejumlah orang yang sama bilangannya dengan mereka.
Mereka tinggal dalam keadaan demikian dalam masa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa diturunkan kepada mereka sepotong roti terbuat dari jewawut dan beberapa ekor ikan, kemudian Allah melipatgandakan keberkahan makanan itu.
Maka sejumlah kaum datang memakannya, lalu keluar, kemudian datang sejumlah kaum lainnya, lalu memakannya dan setelah itu mereka pergi, hingga semuanya makan dan hidangan itu masih lebih.

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Muslim, dari Sa’id ibnu Jubair, bahwa dalam hidangan itu terdapat segala jenis makanan, kecuali daging.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Ata ibnus Saib, dari Zazan, dari Maisarah, sedangkan Jarir meriwayatkannya dari Ata, dari Maisarah, bahwa hidangan yang diturunkan kepada kaum Bani Israil itu penuh dengan berbagai jenis makanan, kecuali daging.

Dari Ikrimah, disebutkan bahwa roti hidangan itu terbuat dari beras, menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Semua asar yang telah diketengahkan menunjukkan bahwa hidangan itu benar diturunkan kepada kaum Bani Israil di masa Nabi Isa putra Maryam, sebagai jawaban Allah atas doa Nabi Isa, sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh makna lahiriah ayat yang mengatakan: Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kalian.” (Al Maidah:115), hingga akhir ayat.

Akan tetapi, ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa hidangan itu tidak jadi diturunkan.
Lais ibnu Abu Sulaim telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: Turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit.
(Al Maidah:114) Bahwa hal ini hanyalah sekadar perumpamaan yang dibuat oleh Allah, sedangkan pada kenyataannya tidak ada sesuatu pun dari hidangan itu yang diturunkan.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim (yaitu Ibnu Salam), telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid yang mengatakan bahwa hidangan yang berisikan makanan itu mereka tolak, karena akan ditimpakan kepada mereka azab jika mereka mengingkarinya.
Maka hidangan itu tidak mau diturunkan kepada mereka.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Musanna ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Mansur ibnu Zazan, dari Al-Hasan yang mengatakan sehubungan dengan masalah hidangan ini, bahwa hidangan ini sebenarnya tidak jadi diturunkan.

Dan telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah yang mengatakan bahwa Al-Hasan pernah mengatakan sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala.
Yang dituiukan kepada mereka: Barang siapa yang kafir di antara kalian sesudah (turun hidangan) itu, maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.
(Al Maidah:115) Yaitu mereka menjawab kami tidak memerlukan “hidangan itu” Oleh karenanya hidangan itu tidak jadi diturunkan.

Semua riwayat yang telah disebutkan tadi sanadnya sahih sampai kepada Mujahid dan Al-Hasan.
Dan hal ini diperkuat dengan suatu pendapat yang mengatakan bahwa kisah mengenai hidangan ini tidak dikenal oleh orang-orang Nasrani dan tidak terdapat di dalam kitab mereka.
Seandainya hal ini ada dan telah diturunkan, niscaya akan dinukil oleh mereka dan pasti akan terdapat di dalam kitab mereka secara mutawatir, bukan melalui berita yang bersifat ahad.
Hanya Allah yang mengetahui yang sebenarnya.

Akan tetapi, pendapat yang dikatakan oleh jumhur ulama menyatakan bahwa hidangan itu memang diturunkan, dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Ibnu Jarir mengemukakan alasannya, bahwa dikatakan demikian karena Allah subhanahu wa ta’ala.
telah memberitakan perihal penurunan hidangan tersebut melalui firman-Nya: Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kalian.
Barang siapa yang kafir di antara kalian sesudah (turun hidangan) itu, maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.
(Al Maidah:115)

Sedangkan janji dan ancaman Allah itu adalah hak dan benar.
Pendapat ini —hanya Allah yang lebih mengetahui— adalah pendapat yang benar, sesuai dengan apa yang telah ditunjukkan oleh berita dan asar dari ulama Salaf dan lain-lainnya.

Ulama sejarah telah menyebutkan bahwa ketika Musa Ibnu Nasir —panglima pihak Bani Umayyah— membuka negeri-negeri Magrib (Afrika Utara), ia menemukan suatu hidangan yang bertahtakan berbagai mutiara dan intan perhiasan.
Lalu ia mengirimkannya kepada Amirul Muk-minin Al-Walid ibnu Abdul Malik pendiri Masjid Dimasyq, tetapi ia telah meninggal dunia ketika hidangan tersebut masih di tengah jalan.
Lalu hidangan itu diserahkan kepada saudara lelakinya—yaitu Sulaiman ibnu Abdul Malik— yang menjadi khalifah sesudahnya.

Orang-orang melihat hidangan itu dan mereka merasa takjub karena pada hidangan tersebut terdapat batu-batu yang berharga dan permata-permata yang jarang didapat.
Menurut suatu pendapat, hidangan tersebut dahulunya adalah milik Nabi Sulaiman ibnu Nabi Daud ‘alaihis salam

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Salamah ibnu Kahil, dari Imran ibnul Hakam, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang Quraisy pernah meminta kepada Nabi ﷺ: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjadikan Bukit Safa menjadi emas, maka kami akan beriman kepadamu.” Nabi ﷺ bersabda, “Benarkah kalian mau beriman?”
Mereka menjawab, “Ya.” Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, “Kemudian Nabi ﷺ berdoa, dan datanglah Malaikat Jibril kepadanya, lalu berkata, ‘Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam-Nya buatmu, dan Dia berfirman kepadamu bahwa jika kamu suka, maka nanti pagi Bukit Safa akan menjadi emas buat mereka, dan barang siapa yang kafir di antara mereka sesudah itu, maka Dia akan mengazabnya dengan azab yang belum pernah Dia timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.
Dan jika kamu suka, maka Dia akan membukakan buat mereka pintu tobat dan pintu rahmat’.” Maka Nabi ﷺ bersabda: Tidak, tetapi (yang kuminta adalah) pintu tobat dan rahmat

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 112

MAA’IDAH
مَآئِدَة

Arti lafaz maa’idah ialah meja makan yang di atasnya dihidangkan makanan. Lafaz maa’idah kadang-kadang digunakan untuk menyebut makanan-makanan yang ada.

Di dalam Al Qur’an, lafaz maa’idah diulang dua kali yaitu dalam surah Al Maa’idah (5), ayat 112 dan 114. Dalam ayat yang ke 112, diceritakan tentang para pengikut Nabi ‘Isa (al hawariyyun) meminta kepada Nabi ‘Isa supaya memohon kepada Allah untuk menurunkan maa’idah yaitu meja yang penuh dengan makanan dari langit. Mereka meminta hal yang sedemikian karena mereka memerlukan makanan dan memang mereka dalam keadaan miskin. Dengan makanan itu, mereka mau menambah kekuatan bagi beribadah kepada Allah.

Akhirnya, seperti diterangkan dalam ayat 114, Nabi ‘Isa memohon kepada Allah supaya menurunkan maa’idah untuk para pengikutnya. Turunnya al maa’idah dari langit ini menjadi bukti yang kukuh bagi kenabian ‘Isa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:550

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 112 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 112



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.4
Rating Pembaca: 4.6 (28 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku