Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 112 [QS. 5:112]

اِذۡ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ہَلۡ یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ ؕ قَالَ اتَّقُوا اللّٰہَ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ
Idz qaalal hawaarii-yuuna yaa ‘iisaabna maryama hal yastathii’u rabbuka an yunazzila ‘alainaa maa-idatan minassamaa-i qaalaattaquullaha in kuntum mu’miniin(a);
(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa yang setia berkata,
“Wahai Isa putra Maryam! Bersediakah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?”
Isa menjawab,
“Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman.”
―QS. Al Maa’idah [5]: 112

Daftar isi

(And remember) when the disciples said,
"O Jesus, Son of Mary, can your Lord send down to us a table (spread with food) from the heaven?
(Jesus) said,"
Fear Allah, if you should be believers."
― Chapter 5. Surah Al Maa’idah [verse 112]

إِذْ ketika

When
قَالَ berkata

said
ٱلْحَوَارِيُّونَ pengikut-pengikut yang setia

the disciples,
يَٰعِيسَى Wahai Isa

"O Isa,
ٱبْنَ putera

son
مَرْيَمَ Maryam

(of) Maryam!
هَلْ apakah

Is
يَسْتَطِيعُ dapat

able
رَبُّكَ Tuhanmu

your Lord
أَن hendak

to
يُنَزِّلَ menurunkan

send down
عَلَيْنَا atas kami

to us
مَآئِدَةً makanan

a table spread
مِّنَ dari

from
ٱلسَّمَآءِ langit

the heaven?"
قَالَ ia (Isa) berkata

He said,
ٱتَّقُوا۟ bertakwalah kamu

"Fear
ٱللَّهَ Allah

Allah,
إِن jika

if
كُنتُم kalian adalah

you are
مُّؤْمِنِينَ orang-orang yang beriman

believers."

Tafsir

Alquran

Surah Al Maa’idah
5:112

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 112. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini Allah menceritakan bahwa kaum hawariyyin pernah menanyakan kepada Nabi Isa, apakah Allah dapat menurunkan kepada mereka suatu hidangan dari langit.
Pertanyaan itu bukan menunjukkan bahwa kaum hawariyyin itu masih ragu tentang kekuasaan Allah.

Mereka telah yakin sepenuhnya tentang kekuasaan Allah.
Tetapi mereka menanyakan hal itu untuk lebih menenteramkan hati mereka.

Sebab, apabila mereka dapat menyaksikan bahwa Allah kuasa menurunkan apa yang mereka inginkan itu, maka hati mereka akan lebih tenteram, dan iman mereka akan bertambah kuat.


Hal ini juga pernah terjadi pada Nabi Ibrahim ketika beliau memohon kepada Allah agar Allah memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia kuasa menghidupkan makhluk yang telah mati.

Allah ﷻ berfirman:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلٰى وَلٰكِنْ لِّيَطْمَىِٕنَّ قَلْبِيْ

dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata,
"Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati."
Allah ﷻ berfirman,
"Belum percayakah engkau?"
Dia (Ibrahim) menjawab,
"Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).
"
(al-Baqarah [2]: 260)


Dengan demikian, pertanyaan kaum hawariyyin tadi dapat diartikan sebagai berikut,
"Hai Isa, maukah Tuhanmu memperkenankan bila kami memohon kepada-Nya agar Dia menurunkan kepada kami suatu hidangan?"
Jadi yang mereka ragukan bukanlah kekuasaan Allah untuk mengabulkan hal itu melainkan apakah Tuhan bersedia mengabulkan permintaan Nabi, bila Nabi Isa memintakan hal itu kepada-Nya untuk mereka.
Patut diperhatikan dalam ayat di atas, bahwa ketika kaum hawariyyin mengemukakan pertanyaan mereka kepada Nabi Isa, mereka menyebutkannya dengan namanya, lalu diiringi dengan sebutan ‘putra Maryam.

Ini untuk menegaskan bahwa mereka tidak menganut kepercayaan bahwa Isa adalah Tuhan, atau anak Tuhan.
Mereka yakin bahwa Isa adalah makhluk Allah yang dipilih untuk menjadi Nabi dan Rasul-Nya, juga adalah putra Maryam, bukan putra Allah.


Hawariyyun atau hawariyyin, dari kata hawari,
"bahan pemutih pakaian, yang bersih dan bebas dari segala noda;
sahabat dan pembela;"
menurut Mu’jam Alfadh al-Qur’an al-Karim, hawari, murni dan bersih dari segalanya, umumnya dipakai untuk mereka yang benar-benar ikhlas untuk para nabi,"
atau
"pembelaan, dukungan,"
"pembela-pembela"
(Ali Imran [3]: 52).
Diduga dari asal bahasa Abisinia.
Menurut Muhammad Asad dalam The Message of The Qur’an,
"orang yang memutihkan pakaiannya dengan mencucinya,"
karenanya dikatakan juga untuk pengikut-pengikut Nabi Isa sebagai simbul orang yang berhati bersih.
Penemuan Dead Sea Scroll belum lama ini sangat mendukung pendapat ini, bahwa kata hawari dipakai untuk menunjukkan orang yang menjadi anggota Persaudaraan Essense, yaitu sekelompok golongan agama di Palestina pada masa Nabi Isa, yang mungkin juga termasuk dia sendiri.
Golongan Essense ini terutama dikenal karena kegigihannya mempertahankan kebersihan moral serta tidak mementingkan diri sendiri, dan mereka selalu mengenakan pakaian putih.
Nabi Muhammad memberi gelar hawari kepada Zubair bin ‘Awwam dengan mengatakan:

اِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوَارِيًّا وَاِنَّ حَوَارِيَّ الزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ

Setiap nabi punya seorang hawari, dan hawari-ku adalah Zubair bin ‘Awwam".
(Riwayat Bukhari dan at-Tirmidzi -ini adalah Tirmidzi)


Dalam beberapa tafsir bahasa Indonesia diterjemahkan dengan
"pengikut,"
"sahabat,"
"penolong"
atau
"tetap
"Hawariyun;"
sementara Bibel menerje-mahkannya dengan
"murid".


Pada akhir ayat tersebut diterangkan jawaban Nabi Isa kepada kaum hawariyyin.
Ia menyuruh mereka agar bertakwa kepada Allah, yaitu agar mereka tidak mengajukan permintaan ataupun pertanyaan yang memberikan kesan seolah-olah mereka meragukan kekuasaan Allah.
Ini merupakan suatu pelajaran yang amat baik, sebab orang-orang yang beriman haruslah memperkokoh imannya, dan melenyapkan segala macam hal yang dapat mengurangi keimanan.
Allah Mahakuasa, atas segala sesuatu.
Menyediakan suatu hidangan adalah suatu pekerjaan yang tidak patut untuk dimohonkan kepada Allah.
Dia Mahamulia.
Dia telah mengaruniakan kepada hamba-Nya segala sesuatu di bumi, baik berupa bahan makanan, pakaian, perumahan, dan sebagainya.
Maka tugas manusialah untuk mengolah bahan-bahan yang tersedia itu untuk mereka jadikan makanan, pakaian, rumah dan sebagainya untuk kepentingan mereka sendiri.
Allah tidak meminta imbalan atas nikmat yang telah disediakan-Nya, yang tak terhitung jumlahnya.
Apabila Allah tidak menurunkan hidangan dari langit, maka hal itu tidaklah mengurangi arti kekuasaan dan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.
Sebab itu, janganlah mengurangi iman dan keyakinan kepada-Nya.

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 112. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Ingatlah, wahai Muhammad, yang terjadi ketika para pengikut setia ‘Isa berkata,
"Hai ‘Isa putra Maryam, apakah Tuhanmu mengabulkan permintaanmu agar diturunkan makanan dari langit?"
Isa menjawab,
"Takutlah kalian kepada Allah jika kalian beriman kepada-Nya.
Taatilah perintah dan larangan- Nya dan janganlah mencari alasan-alasan selain yang aku kemukakan. "

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Ingatlah ketika orang-orang Hawariyin (pendukung setia) berkata,
"Wahai Isa putra Maryam, apakah Rabb-mu mampu bila engkau meminta kepada-Nya agar menurunkan kepada kami meja hidangan dari langit?"
Maka Isa menjawab dengan memerintahkan mereka agar bertakwa kepada Allah bila mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:


Ingatlah


(Ketika pengikut-pengikut Isa berkata,
"Hai Isa putra Maryam! Sanggupkah) artinya bisakah


(Tuhanmu) menurut satu qiraat dibaca tastathii’u kemudian (menurunkan hidangan dari langit kepada kami?"
Menjawab) kepada mereka
Isa


("Bertakwalah kepada Allah) di dalam meminta bukti-bukti itu/mukjizat-mukjizat


(jika betul-betul kamu orang yang beriman.")

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Inilah kisah maidah atau hidangan yang nama surat ini dikaitkan dengannya, karena itu disebut
"surat Al-Maidah".
Hidangan ini merupakan salah satu dari anugerah Allah yang diberikan kepada hamba dan rasul-Nya, yaitu Isaalaihis salam ketika Dia memperkenankan doanya yang memohon agar diturunkan hidangan dari langit.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkannya sebagai mukjizat yang cemerlang dan hujjah yang nyata.

Sebagian para imam ada yang menyebutkan bahwa kisah hidangan ini tidak disebutkan di dalam kitab Injil, dan orang-orang Nasrani tidak mengetahuinya kecuali melalui kaum muslim.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

(Ingatlah) ketika kaum Hawariyyin berkata.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 112)
Hawariyyin adalah pengikut Nabi Isaalaihis salam

Hai Isa putra Maryam, sanggupkah Tuhanmu.

Demikianlah menurut qiraah kebanyakan ulama, dan ulama lainnya ada yang membacanya seperti bacaan berikut:

Dapatkah kamu memohon kepada Tuhanmu.


Yakni sanggupkah kamu meminta kepada Tuhanmu.

…menurunkan hidangan dari langit kepada kami.

Hidangan ini merupakan piring-piring besar yang berisikan makanan.
Sebagian ulama mengatakan, sesungguhnya mereka meminta hidangan ini karena mereka sangat memerlukannya dan karena kemiskinan mereka.
Lalu mereka meminta kepada nabinya agar menurunkan hidangan dari langit setiap harinya untuk makanan mereka hingga mereka kuat menjalankan ibadahnya.

Isa menjawab,
"Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kalian orang yang beriman."

Al-Masihalaihis salam menjawab permintaan mereka dengan perkataan,
"Bertakwalah kalian kepada Allah, dan janganlah kalian meminta yang ini, karena barangkali hal tersebut merupakan cobaan bagi kalian.
Tetapi bertawakallah kalian kepada Allah dalam mencari rezeki, jika kalian memang orang-orang yang beriman."

Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ai-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepadaku Hajjaj, dari Lajs, dari Aqil, dari Ibnu Abbas yang telah menceritakan perihal Nabi Isaalaihis salam Disebutkan bahwa Nabi Isa pernah berkata kepada kaum Bani Israil,
"Maukah kalian melakukan puasa karena Allah selama tiga puluh hari, kemudian kalian memohon kepada­Nya, maka niscaya Dia akan memberi kalian apa yang kalian minta, karena sesungguhnya upah orang yang bekerja itu diberikan oleh orang yang mempekerjakannya?"
Maka mereka melakukan apa yang dianjurkannya.
Sesudah itu mereka berkata,
"Wahai pengajar kebaikan, engkau telah berkata kepada kami bahwa sesungguhnya imbalan pekerja itu diberikan oleh orang yang mempekerjakannya.
Dan engkau telah memerintahkan kepada kami untuk puasa tiga puluh hari, lalu kami mengerjakannya, sedangkan kami tidak pernah bekerja selama tiga puluh hari pada seseorang kecuali dia memberi kami makan bila kami telah menyelesaikan tugas.
Maka sanggupkah engkau memohon kepada Tuhanmu agar Dia menurunkan kepada kami suatu hidangan dari langit?"
Nabi Isa menjawab:
"Bertakwalah kepada Allah jika betul-betul kalian orang yang beriman."
Mereka berkata,
"Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram kalbu kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu."
Isa putra Maryam berdoa,
"Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, beri rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang paling utama."
Allah berfirman,
"Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kalian, barang siapa yang kafir di antara kalian sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia."
(QS. Al-Ma’idah [5]: 112-115)

Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya,
"Setelah itu datanglah para malaikat yang terbang turun membawa hidangan dari langit.
Hidangan itu terdiri atas makanan berupa tujuh ekor ikan dan tujuh buah roti, lalu para malaikat meletakkan hidangan itu di hadapan mereka.
Maka yang dimakan oleh orang-orang yang terakhir dari mereka adalah sebagiannya saja, sebagaimana orang-orang yang pertama dari mereka memakan sebagiannya saja (yakni tidak kunjung habis)."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abdullah ibnul Hakam, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah dan Hibatullah ibnu Rasyid, telah menceritakan kepada kami Aqil ibnu Khalid, Ibnu Syihab pernah menceritakan kepadanya, dari Ibnu Abbas, bahwa Isa putra Maryamalaihis salam pernah diminta oleh kaumnya yang mengatakan kepadanya,
"Doakanlah kepada Allah agar Dia menurunkan kepada kami suatu hidangan dari langit."
Maka turunlah para malaikat membawa hidangan itu yang padanya terdapat tujuh ekor ikan dan tujuh buah roti, lalu hidangan itu diletakkan di hadapan mereka.
Maka sampai orang-orang yang terakhir dari mereka hanya makan sebagiannya, sebagaimana orang-orang yang pertama dari mereka hanya memakan sebagiannya saja.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Quza’ah Al-Bahili, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Habib, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Jallas, dari Ammar ibnu Yasir, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Hidangan itu diturunkan dari langit, padanya terdapat roti dan daging.
Dan mereka diperintahkan jangan berkhianat dan jangan menyimpannya untuk besok harinya.
Tetapi mereka berkhianat, menyimpannya dan menyembunyikannya, akhirnya mereka dikutuk menjadi kera-kera dan babi-babi.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Ibnu Basysyar, dari Ibnu Abu Addi.
dari Sa’id, dari Qatadah, dari Jallas, dari Ammar yang telah menceritakan bahwa hidangan itu diturunkan, dan padanya terdapat buah-buahan dari surga.
Lalu mereka diperintahkan agar jangan khianat, jangan menyembunyikan, dan jangan menyimpannya.
Tetapi mereka me­nyembunyikan dan menyimpannya, akhirnya Allah mengutuk mereka menjadi kera dan babi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Daud, dari Sammak ibnu Harb, dari seorang lelaki salat di sebelah Ammar ibnu Yasir.
Setelah Ammar ibnu Yasir selesai dari salatnya, lalu mengatakan,
"Tahukah kamu kisah hidangan yang diturunkan kepada kaum Bani Israil?"
Ia menjawab,
"Tidak."
Maka Ammar berkata,
"Mereka meminta kepada Isa ibnu Maryam suatu hidangan yang berisikan makanan yang tidak pernah habis mereka makan."

Ammar melanjutkan kisahnya,
"Lalu dikatakan kepada mereka, ‘ Hidangan itu akan terwujud bagi kalian selagi kalian tidak menyem­bunyikannya atau berkhianat atau menyimpannya untuk keesokan harinya.
Dan jika kalian melakukannya, maka sesungguhnya Aku akan mengazab kalian dengan suatu azab yang belum pernah Kutimpakan kepada seorang pun di antara manusia’."Ammar ibnu Yasir melanjutkan,
"Sehari berlalu mereka telah menyembunyikan, menolak, dan khianat, dan lalu mereka disiksa dengan siksaan yang belum pernah Allah timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.
Dan sesungguhnya kalian, hai orang-orang Arab, kalian pada mulanya adalah kaum yang mengikuti ekor unta dan kambing (yakni kaum Badui), lalu Allah mengutus kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri yang kalian ketahui kedudukan dan keturunannya.
Dan aku akan memberitahu­kan kepada kalian bahwa kalian kelak akan beroleh kemenangan atas kaum Ajam.
Dan Rasul telah melarang kalian menimbun emas dan perak.
Demi Allah, tiada suatu malam dan suatu siang pun melainkan kalian kelak akan menimbun keduanya dan Allah akan mengazab kalian dengan azab yang sangat pedih."

Dan telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepadaku Hajjaj, dari Abu Ma’syar, dari Ishaq ibnu Abdullah, bahwa hidangan yang diturunkan kepada Nabi Isa ibnu Maryam terdiri atas tujuh buah roti dan tujuh ekor ikan, mereka boleh memakannya sekehendak mereka.
Kemudian sebagian dari mereka ada yang mencuri sebagian dari makanan itu seraya mengatakan,
"Barangkali hidangan ini tidak akan turun besok."
Akhirnya hidangan itu diangkat kembali.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa diturunkan kepada Isa putra Maryam dan kaum Hawariyyin sebuah piring besar yang berisikan roti dan ikan, mereka dapat memakannya di mana pun mereka berada apabila mereka menyukainya.

Khasif telah meriwayatkan dari Ikrimah dan Miqsam, dari Ibnu Abbas, bahwa hidangan itu berisi ikan dan beberapa potong roti.

Mujahid mengatakan bahwa hidangan itu berupa makanan yang diturunkan kepada mereka (Bani Israil) di mana pun mereka berada.

Abu Abdur Rahman As-Sulami mengatakan, hidangan itu diturun­kan berupa roti dan ikan.

Atiyyah Al-Aufi mengatakan bahwa hidangan itu berupa ikan yang mengandung rasa semua jenis makanan.

Wahb ibnu Munabbih mengatakan, Allah menurunkan hidangan itu dari langit kepada kaum Bani Israil, dan diturunkan kepada mereka setiap harinya yang isinya terdiri atas buah-buahan surgawi, maka mereka dapat memakan semua jenis buah-buahan yang mereka kehendaki.
Dan tersebutlah bahwa hidangan itu dimakan oleh empat ribu orang, apabila mereka telah makan, maka Allah menurunkan hidangan lagi sebagai gantinya untuk sejumlah orang yang sama bilangannya dengan mereka.
Mereka tinggal dalam keadaan demikian dalam masa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa diturunkan kepada mereka sepotong roti terbuat dari jewawut dan beberapa ekor ikan, kemudian Allah melipatgandakan keberkahan makanan itu.
Maka sejumlah kaum datang memakannya, lalu keluar, kemudian datang sejumlah kaum lainnya, lalu memakannya dan setelah itu mereka pergi, hingga semuanya makan dan hidangan itu masih lebih.

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Muslim, dari Sa’id ibnu Jubair, bahwa dalam hidangan itu terdapat segala jenis makanan, kecuali daging.

Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Ata ibnus Saib, dari Zazan, dari Maisarah, sedangkan Jarir meriwayatkannya dari Ata, dari Maisarah, bahwa hidangan yang diturunkan kepada kaum Bani Israil itu penuh dengan berbagai jenis makanan, kecuali daging.

Dari Ikrimah, disebutkan bahwa roti hidangan itu terbuat dari beras, menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Semua asar yang telah diketengahkan menunjukkan bahwa hidangan itu benar diturunkan kepada kaum Bani Israil di masa Nabi Isa putra Maryam, sebagai jawaban Allah atas doa Nabi Isa, sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh makna lahiriah ayat yang mengatakan:
Allah berfirman,
"Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kalian."
(QS. Al-Ma’idah [5]: 115), hingga akhir ayat.

Akan tetapi, ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa hidangan itu tidak jadi diturunkan.
Lais ibnu Abu Sulaim telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya:
Turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 114)
Bahwa hal ini hanyalah sekadar perumpamaan yang dibuat oleh Allah, sedangkan pada kenyataannya tidak ada sesuatu pun dari hidangan itu yang diturunkan.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim (yaitu Ibnu Salam), telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, dari Mujahid yang mengatakan bahwa hidangan yang berisikan makanan itu mereka tolak, karena akan ditimpakan kepada mereka azab jika mereka mengingkarinya.
Maka hidangan itu tidak mau diturunkan kepada mereka.

Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Musanna ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Mansur ibnu Zazan, dari Al-Hasan yang mengatakan sehubungan dengan masalah hidangan ini, bahwa hidangan ini sebenarnya tidak jadi diturunkan.

Dan telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah yang mengatakan bahwa Al-Hasan pernah mengatakan sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, Yang dituiukan kepada mereka:
Barang siapa yang kafir di antara kalian sesudah (turun hidangan) itu, maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 115)
Yaitu mereka menjawab kami tidak memerlukan
"hidangan itu"
Oleh karenanya hidangan itu tidak jadi diturunkan.

Semua riwayat yang telah disebutkan tadi sanadnya sahih sampai kepada Mujahid dan Al-Hasan.
Dan hal ini diperkuat dengan suatu pendapat yang mengatakan bahwa kisah mengenai hidangan ini tidak dikenal oleh orang-orang Nasrani dan tidak terdapat di dalam kitab mereka.
Seandainya hal ini ada dan telah diturunkan, niscaya akan dinukil oleh mereka dan pasti akan terdapat di dalam kitab mereka secara mutawatir, bukan melalui berita yang bersifat ahad.
Hanya Allah yang mengetahui yang sebenarnya.

Akan tetapi, pendapat yang dikatakan oleh jumhur ulama menyatakan bahwa hidangan itu memang diturunkan, dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Ibnu Jarir mengemukakan alasannya, bahwa dikatakan demikian karena Allah subhanahu wa ta’ala, telah memberitakan perihal penurunan hidangan tersebut melalui firman-Nya:
Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kalian.
Barang siapa yang kafir di antara kalian sesudah (turun hidangan) itu, maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 115)

Sedangkan janji dan ancaman Allah itu adalah hak dan benar.
Pendapat ini —hanya Allah yang lebih mengetahui— adalah pendapat yang benar, sesuai dengan apa yang telah ditunjukkan oleh berita dan asar dari ulama Salaf dan lain-lainnya.

Ulama sejarah telah menyebutkan bahwa ketika Musa Ibnu Nasir —panglima pihak Bani Umayyah— membuka negeri-negeri Magrib (Afrika Utara), ia menemukan suatu hidangan yang bertahtakan berbagai mutiara dan intan perhiasan.
Lalu ia mengirimkannya kepada Amirul Muk-minin Al-Walid ibnu Abdul Malik pendiri Masjid Dimasyq, tetapi ia telah meninggal dunia ketika hidangan tersebut masih di tengah jalan.
Lalu hidangan itu diserahkan kepada saudara lelakinya—yaitu Sulaiman ibnu Abdul Malik— yang menjadi khalifah sesudahnya.

Orang-orang melihat hidangan itu dan mereka merasa takjub karena pada hidangan tersebut terdapat batu-batu yang berharga dan permata-permata yang jarang didapat.
Menurut suatu pendapat, hidangan tersebut dahulunya adalah milik Nabi Sulaiman ibnu Nabi Daudalaihis salam

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Salamah ibnu Kahil, dari Imran ibnul Hakam, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang Quraisy pernah meminta kepada Nabi ﷺ:
"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjadikan Bukit Safa menjadi emas, maka kami akan beriman kepadamu."
Nabi ﷺ bersabda,
"Benarkah kalian mau beriman?"
Mereka menjawab,
"Ya."
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya,
"Kemudian Nabi ﷺ berdoa, dan datanglah Malaikat Jibril kepadanya, lalu berkata, ‘Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam-Nya buatmu, dan Dia berfirman kepadamu bahwa jika kamu suka, maka nanti pagi Bukit Safa akan menjadi emas buat mereka, dan barang siapa yang kafir di antara mereka sesudah itu, maka Dia akan mengazabnya dengan azab yang belum pernah Dia timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.
Dan jika kamu suka, maka Dia akan membukakan buat mereka pintu tobat dan pintu rahmat’."
Maka Nabi ﷺ bersabda:
Tidak, tetapi (yang kuminta adalah) pintu tobat dan rahmat

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa’idah (5) Ayat 112

MAA’IDAH
مَآئِدَة

Arti Isa (al hawariyyun) meminta kepada Nabi ‘Isa supaya memohon kepada Allah untuk menurunkan maa’idah yaitu meja yang penuh dengan makanan dari langit.
Mereka meminta hal yang sedemikian karena mereka memerlukan makanan dan memang mereka dalam keadaan miskin.
Dengan makanan itu, mereka mau menambah kekuatan bagi beribadah kepada Allah.

Akhirnya, seperti diterangkan dalam ayat 114, Nabi ‘Isa memohon kepada Allah supaya menurunkan maa’idah untuk para pengikutnya.
Turunnya al maa’idah dari langit ini menjadi bukti yang kukuh bagi kenabian ‘Isa.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:550

Unsur Pokok Surah Al Maa’idah (المائدة)

Surat Al-Ma’idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’.

Surat ini dinamakan "Al Maa’idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isaalaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isaalaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).

Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isaalaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

▪ Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Hukum:

▪ Keharusan memenuhi perjanjian.
Hukum melanggar syiar Allah.
▪ Makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan.
Hukum mengawini wanita ahli kitab.
Tayammum.
▪ Mandi.
Hukum membunuh orang.
Hukum mengacau dan mengganggu keamanan.
Hukum qishas.
Hukum melanggar sumpah dan kafarat-nya.
Hukum khamar (minuman yang memabukkan).
▪ Berjudi.
▪ Berkorban untuk berhala.
▪ Mengundi nasib.
Hukum membunuh binatang waktu ihram.
Hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

▪ Kisah-kisah Nabi Musa `alaihis salam menyuruh kaumnya memasuki Palestina.
▪ Kisah Habil dan Qabil.
▪ Kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
▪ Penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ.
▪ Keharusan jujur dan berlaku adil.
▪ Sikap dalam menghadapi berita-berita bohong.
▪ Akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim.
▪ Kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi.
▪ Kewajiban rasul hanya menyampaikan agama.
▪ Sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam.
▪ Ka’bah sokoguru kehidupan manusia.
▪ Peringatan Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah.
▪ Larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio

QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 120 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Maa'idah (5) : 1-120 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 120

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Maa'idah ayat 112 - Gambar 1 Surah Al Maa'idah ayat 112 - Gambar 2
Statistik QS. 5:112
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa’idah.

Surah Al-Ma’idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā’idah, “Jamuan Hidangan”) adalah surah ke-5 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada’.
Surah ini dinamakan Al-Ma’idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma’idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma’idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah 5
Nama Surah Al Maa’idah
Arab المائدة
Arti Jamuan (hidangan makanan)
Nama lain Al-‘Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 112
Juz Juz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 120
Jumlah kata 2842
Jumlah huruf 12207
Surah sebelumnya Surah An-Nisa’
Surah selanjutnya Surah Al-An’am
Sending
User Review
4.6 (28 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

5:112, 5 112, 5-112, Surah Al Maa'idah 112, Tafsir surat AlMaaidah 112, Quran Al Maidah 112, AlMaidah 112, Al-Ma'idah 112, Surah Al Maidah ayat 112

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Maa’idah

۞ QS. 5:1 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 5:2 • Siksaan Allah sangat pedih • Ar Rabb (Tuhan) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:3 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Keistimewaan IslamIslam agama yang diterima di sisi Allah

۞ QS. 5:5 • Azab orang kafir • Perbuatan orang kafir sia-sia • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:6 Sifat Iradah (berkeinginan) • Toleransi Islam • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 5:7 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 5:8 • Keluasan ilmu Allah • Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 5:9 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 5:10 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 5:11 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 5:12 • Kewajiban beriman pada para rasul • Sifat surga dan kenikmatannya • Kembali kufur • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:13 • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 5:14 • Keluasan ilmu Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:16 Hikmah penurunan kitab-kitab samawiHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:17 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:18 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 5:19 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:20 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:23 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Melihat sebab akibat

۞ QS. 5:24 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:25 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:26 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 5:27 • Perbuatan dan niat

۞ QS. 5:28 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:29 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Dosa-dosa besar

۞ QS. 5:32 • Dosa-dosa besar

۞ QS. 5:33 • Nama-nama hari kiamat • Bersikap keras terhadap orang kafir • Dosa-dosa besar • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 5:34 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar

۞ QS. 5:35 • Bersegera dalam melakukan kebaikan • Mengharap wasilah (kedudukan)

۞ QS. 5:36 • Siksaan Allah sangat pedih • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Azab orang kafir • Penghapus pahala kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:37 • Keabadian neraka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 5:38 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 5:39 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 5:40 • Segala sesuatu milik Allah • Ampunan Allah yang luas • Kekuasaan Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 5:41 • Nama-nama hari kiamat • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 5:42 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala

۞ QS. 5:44 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:46 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 5:47 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:48 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Kebenaran hari penghimpunan • Bersegera dalam melakukan kebaikan •

۞ QS. 5:49 Sifat Iradah (berkeinginan) • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 5:51 • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir • Perintah tidak mengikuti orang musyrikHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:52 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:53 • Siksa orang munafik • Penghapus pahala kebaikan

۞ QS. 5:54 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 5:55 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Al Wali (Maha Pelindung) • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 5:56 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keutamaan iman

۞ QS. 5:57 • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir

۞ QS. 5:59 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:60 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:61 • Keluasan ilmu Allah • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 5:64 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Mendustai Allah • Sifat Kamal (sempurna) • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:65 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Perbuatan yang menghalangi api neraka • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya •

۞ QS. 5:66 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:67 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAr Rabb (Tuhan) • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 5:68 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:69 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Nama-nama hari kiamat • Islamnya ahli kitab • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 5:71 • Keluasan ilmu Allah • Al Bashir (Maha Melihat) • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 5:72 Tauhid Rububiyyah • Mendustai Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Syirik adalah dosa terbesar

۞ QS. 5:73 Tauhid Uluhiyyah • Mendustai Allah • Siksaan Allah sangat pedih • Al Wahid (Maha Esa) • Syirik adalah dosa terbesar

۞ QS. 5:74 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Pelebur dosa besar • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 5:76 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 5:78 • Azab orang kafir

۞ QS. 5:80 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:81 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab

۞ QS. 5:82 • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam

۞ QS. 5:83 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:84 Ar Rabb (Tuhan) • Keutamaan iman

۞ QS. 5:85 • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman

۞ QS. 5:86 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:89 • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 5:90 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Meramal nasib mengakibatkan kekufuran • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 5:91 • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah • Menjaga diri dari syetan • Dosa-dosa besar •

۞ QS. 5:92 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Peringatan Allah terhadap hambaNya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:93 • Keistimewaan Islam • Ajakan masuk Islam • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbuatan dan niat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 5:94 • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:95 Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Muntaqim (Maha Pembalas dosa) • Toleransi IslamIslam menghapus dosa masa lalu

۞ QS. 5:96 • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 5:97 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 5:98 • Siksaan Allah sangat pedih • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:99 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 5:101 • Ampunan Allah yang luas • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Melenyapkan kesusahan orang muslim

۞ QS. 5:102 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:103 • Mendustai Allah

۞ QS. 5:104 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 5:105 • Sikap orang mukmin terhadap fitnah • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 5:106 • Wasiat mayit

۞ QS. 5:108 • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 5:109 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib) • Kebenaran hari penghimpunan • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan

۞ QS. 5:110 • Peranan dan tugas Jibril

۞ QS. 5:111 • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 5:112 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 5:114 • Meminta dengan menyebut nama Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki)

۞ QS. 5:115 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 5:116 • Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib • Keluasan ilmu Allah • Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui alam gaib)

۞ QS. 5:117 Tauhid RububiyyahAr Rabb (Tuhan) • Al Raqib (Maha Pengawas) • Al Syahid (Maha Menyaksikan) •

۞ QS. 5:118 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 5:119 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 5:120 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Segala sesuatu milik Allah • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) •

Ayat Pilihan

Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,
maka sungguh kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah),
yang mengetahui yang ghaib & yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
QS. Al-Jumu’ah [62]: 8

Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air,
maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.
QS. Al-Qamar [54]: 12

Demi (angin) yang terbangkan debu dengan kuat.
dan awan yang mengandung hujan,
dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah.
dan (malaikat) yang membagi-bagi urusan,
sesungguhnya yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan (hari) pembalasan pasti terjadi
QS. Az-Zariyat [51]: 1-6

“Aku tak minta kepadamu sesuatu upah atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”.
Dan siapa yang kerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri
QS. Asy-Syura [42]: 23

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

There is no question

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah … Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah … Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang …

Pendidikan Agama Islam #3

Pembatasan aurat wanita adalah … Berikut ini yang bukan termasuk orang-orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah … Dalam Islam, pakaian harus … Sebelum berpakaian, kita harus … Bagian tubuh yang tidak ditampakkan sesuai dengan ajaran Islam disebut …

Pendidikan Agama Islam #17

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah …Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah …اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- …وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah …Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah …

Kamus

Ja’far bin Abi Thalib

Siapa itu Ja’far bin Abi Thalib? Ja’far bin Abi Thalib (Arab: جعفر ابن أبي طالب) (dikenal juga dengan julukan Jafar-e-Tayyar) adalah putera dari Abu Thalib, Sepupu dari Nabi Isla...

Tanwin

Apa itu Tanwin? Tanwin (bahasa Arab: التنوين, “at tanwiin”) adalah tanda baca/diakritik/harakat pada tulisan Arab untuk menyatakan bahwa huruf pada akhir kata tersebut diucapkan lay...

kompromistis

Apa itu kompromistis? kom.pro.mis.tis bersifat kompromi; berlaku sebagai orang kompromis; meskipun masih akomodatif kompromistis , anutan mereka yang ketat pada pelaksanaan hukum fikih telah menjadi p...