QS. Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) – surah 5 ayat 108 [QS. 5:108]

ذٰلِکَ اَدۡنٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِالشَّہَادَۃِ عَلٰی وَجۡہِہَاۤ اَوۡ یَخَافُوۡۤا اَنۡ تُرَدَّ اَیۡمَانٌۢ بَعۡدَ اَیۡمَانِہِمۡ ؕ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ وَ اسۡمَعُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ
Dzalika adna an ya’tuu bisy-syahaadati ‘ala wajhihaa au yakhaafuu an turadda aimaanun ba’da aimaanihim waattaquullaha waasma’uu wallahu laa yahdiil qaumal faasiqiin(a);

Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah.
Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya).
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
―QS. 5:108
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Kekuasaan Allah
5:108, 5 108, 5-108, Al Maa’idah 108, AlMaaidah 108, Al Maidah 108, AlMaidah 108, Al-Ma’idah 108

Tafsir surah Al Maa'idah (5) ayat 108

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 108. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini dijelaskan, bahwa cara dan isi sumpah seperti yang disebutkan di atas, adalah merupakan jalan yang lebih dekat kepada kebenaran, yang dapat mendorong orang-orang yang bersumpah itu, (baik penerima wasiat, maupun ahli waris dari yang bersumpah itu) agar mereka memberikan kesaksian yang benar, penuh rasa tanggung jawab, serta mengagungkan Allah (yang nama-Nya disebut dalam sumpah mereka) dan untuk lebih berhati-hati dalam memelihara wasiat dan kesaksian itu agar terhindar dari azab dan kemurkaan Allah, dan agar sumpah itu tidak dialihkan kepada orang lain akibat ketidakjujurannya.

Pada akhir ayat ini, Allah memperingatkan hamba-Nya, agar mereka bertakwa kepada-Nya, memegang amanah dan kesaksian, dan suka mendengarkan serta memperhatikan semua petunjuk dan ketentuan-Nya, untuk kemudian dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Allah memperingatkan pula tentang kebiasaan orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang tidak mau memegang teguh kebenaran dan keadilan, mereka tidak akan mendapatkan petunjuk yang benar.

Perlu dijelaskan, bahwa setelah bersumpah kedua orang ahli waris tersebut yang maksudnya untuk menyatakan ketidakjujuran kedua penerima wasiat tadi, maka harta warisan yang ditinggalkan oleh orang yang telah memberikan wasiat itu diserahkan semuanya kepada ahli waris, untuk mereka bagikan menurut bagian masing-masing, di samping melaksanakan wasiat yang sebenarnya dan hutang-hutang serta kewajiban-kewajiban yang lain.

Mengenai sebab turunnya ayat-ayat di atas, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Munzir dari Ikrimah sebagai berikut: Ada dua orang Nasrani bernama Tamim Ad-Dary dan Ady bin Budda’ datang ke Mekah di zaman jahiliah untuk berdagang.
Mereka lama tinggal di sana.
Setelah Nabi berhijrah, mereka pun memindahkan perdagangan mereka ke Madinah.
Pada suatu kali, bekas hamba sahaya dari Amir bin `As yang bernama Budail juga berdagang, dan datang pula ke Madinah.
Kemudian Budail bersama kedua orang Nasrani tadi pergi berdagang ke negeri Syam.
Di tengah perjalanan, Budail itu jatuh sakit, dan ajalnya sudah dekat.
Lalu ia menulis sendiri surat wasiat yang diselipkan di antara barang dagangannya tanpa diketahui oleh kedua orang Nasrani itu.
Setelah itu ia serahkan semua barang-barangnya itu kepada mereka, dengan pesan agar disampaikan kepada ahli warisnya yang berada di Madinah, apabila ia benar meninggal dunia.
Setelah ia meninggal, maka kedua orang Nasrani tadi membuka ikatan barang-barang tersebut kemudian barang-barang itu mereka ikat kembali seperti semula, dan mereka bawa ke Madinah untuk mereka serahkan kepada ahli waris Budail.
Setelah keluarga Budail menerima dan membuka barang-barang itu, mereka menemukan surat wasiat yang diselipkan di antara barang-barangnya itu.
Setelah mereka cocokkan antara daftar barang yang tercantum dalam surat wasiat itu dengan barang-barang yang ada, ternyata bahwa ada sesuatu yang telah hilang, lalu mereka tanyakan kepada orang-orang Nasrani itu.
Mereka menjawab, “Hanya barang-barang inilah yang kami terima dan yang ia serahkan kepada kami.” Keluarga Budail berkata, “Tetapi surat wasiat ini adalah tulisan tangannya sendiri.” Mereka menjawab, “Kami tidak menyembunyikan sesuatu pun dari barang-barangnya.” Kemudian mereka mengajukan perkara ini kepada Rasulullah ﷺ Maka turunlah ayat 106 ini.
Maka Rasulullah memerintahkan kepada keluarga Budail untuk meminta kedua orang Nasrani itu bersumpah sesudah salat asar.
Bunyi sumpah yang harus mereka ucapkan adalah sebagai berikut:

Demi Allah, kami tidak memegang selain dari barang-barang ini, dan kami tidak menyembunyikan sesuatu pun.
Untung sekali, mereka mau menunggu sampai sesudah salat asar, lalu mereka mengucapkan sumpah.
Setelah beberapa lama kemudian tampaklah pada mereka sebuah kendi dari perak yang berukir dengan air emas.
Maka berkatalah keluarga Budail, “Nah, inilah barangnya yang hilang itu!” Tetapi kedua orang Nasrani itu menjawab, “Benar, tetapi ini kami beli darinya, dan kami lupa menyebutkannya ketika kami bersumpah, lalu kami enggan mendustai diri kami.” Akhirnya mereka mengadu lagi kepada Rasulullah ﷺ maka turunlah ayat 107.
Sebab itu Rasulullah memerintahkan kepada dua orang di antara keluarga Budail untuk bersumpah, guna menguatkan mereka berhak atas barang yang disembunyikan oleh orang-orang Nasrani itu.
Sesudah itu, Tamim Ad-Dary masuk Islam dan menyatakan pengakuannya atas kerasulan Nabi Muhammad ﷺ., dan ia berkata, “Benarlah Allah dan Rasul-Nya, aku telah mengambil kendi itu.” Kemudian ia berkata lagi, “Hai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah memenangkan engkau terhadap penduduk bumi semuanya, maka berikanlah kepadaku desa Abnun yang merupakan bagian dari Baitul Lahm, yaitu desa tempat lahirnya Nabi Isa ‘alaihis salam” Lalu Rasulullah membuatkan sepucuk surat untuknya mengenai desa itu, lalu dibawanya pulang ke desa tersebut.
Kemudian hari, ketika Khalifah Umar bin Khattab datang ke negeri Syam maka Tamim Ad-Dary menghadap kepadanya dengan membawa surat yang pernah diberikan Rasulullah ﷺ kepadanya.
Khalifah Umar berkata, “Ya, saya hadir ketika Rasulullah ﷺ membuat surat ini.” lalu Khalifah memberikan desa itu kepadanya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ketentuan ini adalah cara yang paling efektif untuk menjadikan para saksi mengemukakan persaksiannya secara benar dan memelihara sumpah mereka kepada Allah.
Di samping itu, juga efektif untuk mencegah kekhawatiran terungkapnya kebohongan mereka jika ahli waris bersumpah menolak sumpah mereka.
Hadirkanlah Allah dalam melaksanakan sumpah dan amanat kalian.
Taatilah hukum- hukum-Nya dengan penuh kerelaan.
Sesungguhnya di situ terdapat maslahat bagi kalian.
Janganlah kalian melanggarnya, sebab, dengan begitu, kalian termasuk orang-orang yang keluar dari jalan Allah.
Petunjuk Allah tidak akan bermanfaat bagi orang-orang yang tidak menaati-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hal itu) hukum yang telah disebutkan itu, yaitu yang menyangkut perpindahan sumpah kepada para ahli waris (lebih dekat) lebih mendekati untuk (menjadikan mereka mau mengemukakan) artinya para saksi itu atau orang-orang yang diwasiatkan (persaksiannya menurut apa yang sebenarnya) yang mendorong mereka untuk mengemukakan persaksian tanpa diubah-ubah dan juga tanpa khianat (atau) lebih dekat untuk menjadikan mereka (merasa takut akan dikembalikan sumpahnya sesudah mereka bersumpah) kepada para ahli waris yang mengajukan tuntutan, maka ahli waris si mayat melakukan sumpah yang menyatakan khianat mereka dan kedustaan yang mereka lakukan yang akibatnya mereka akan ditelanjangi kejelekannya hingga mereka harus mengganti kerugian kepada ahli waris mayat, oleh karena itu janganlah kamu berdusta.

(Dan bertakwalah kamu kepada Allah) dengan cara meninggalkan perbuatan khianat dan dusta (dan dengarkanlah olehmu) dengan pendengaran yang insaf akan hal-hal yang kamu diperintahkan melakukannya (dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik) orang-orang yang keluar dari garis ketaatan terhadap-Nya atau orang-orang yang menyimpang dari jalan yang baik.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hukum pada saat terjadi kebimbangan terhadap dua orang saksi dengan bersumpah setelah shalat dan tidak menerima kesaksian mereka berdua, lebih dekat bagi kalian untuk menghadirkan kesaksian dengan benar karena takut terhadap siksa akhirat, atau dikhawatirkan sumpah palsu tersebut ditolak dari pemilik hak padahal sumpah sudah dilakukan, sehingga pelaku dusta yang ditolak sumpahnya di dunia memikul rasa malu saat pengkhianatannya diketahui.
Takutlah kalian wahai manusia kepada Allah dan hendaknya kalian merasa diawasi oleh-Nya sehingga dengan itu kalian tidak akan bersumpah secara dusta atau kalian menggunakan sumpah kalian untuk mengambil harta yang haram.
Dengarkanlah apa yang dinasihatkan kepada kalian.
Allah tidak akan membimbing orang-orang fasik yang menyimpang dari ketaatan kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Yakni demikianlah cara mempraktekkan hukum ini dengan cara yang lebih memuaskan, yaitu menyumpah kedua saksi yang zimmi serta menaruh rasa curiga terhadap keduanya.
Hal ini lebih dekat untuk menjadikan keduanya mengemukakan persaksian menurut apa yang sebenarnya lagi memuaskan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah.

Yakni hal yang mendorong mereka untuk menunaikan persaksian menurut apa adanya ialah dengan memberatkan sumpah terhadap mereka, yaitu dengan menyebut nama Allah, dan rasa takut akan dipermalukan, di hadapan orang banyak jika sumpahnya dikembalikan kepada ahli waris si mayat, yang akibatnya merekalah yang bersumpah dan mereka berhak mendapatkan apa yang diakuinya.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman: dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah (Q.S. Al-Ma’idah [5]: 108)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan bertakwalah kepada Allah

Yakni dalam semua urusan kalian.

…dan dengarkanlah (perintah-Nya).

Yakni taatilah perintah-Nya.

Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Yakni orang-orang yang keluar dari jalan ketaatan kepada-Nya dan menyimpang dari syariat-Nya.


Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Maa'idah (5) ayat 108 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Maa'idah (5) ayat 108 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Maa'idah (5) ayat 108 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Maa'idah - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 120 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 5:108
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Maa'idah.

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah 5
Nama Surah Al Maa'idah
Arab المائدة
Arti Jamuan (hidangan makanan)
Nama lain Al-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 112
Juz Juz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 120
Jumlah kata 2842
Jumlah huruf 12207
Surah sebelumnya Surah An-Nisa'
Surah selanjutnya Surah Al-An'am
4.6
Ratingmu: 4.2 (14 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim