Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 101


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَسۡـَٔلُوۡا عَنۡ اَشۡیَآءَ اِنۡ تُبۡدَ لَکُمۡ تَسُؤۡکُمۡ ۚ وَ اِنۡ تَسۡـَٔلُوۡا عَنۡہَا حِیۡنَ یُنَزَّلُ الۡقُرۡاٰنُ تُبۡدَ لَکُمۡ ؕ عَفَا اللّٰہُ عَنۡہَا ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ حَلِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa tasaluu ‘an asyyaa-a in tubda lakum tasu’kum wa-in tasaluu ‘anhaa hiina yunazzalul quraanu tubda lakum ‘afaallahu ‘anhaa wallahu ghafuurun haliimun;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
―QS. 5:101
Topik ▪ Setiap nabi menerima ujian
5:101, 5 101, 5-101, Al Maa’idah 101, AlMaaidah 101, Al Maidah 101, AlMaidah 101, Al-Ma’idah 101
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa’idah (5) : 101. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala memberikan bimbingan kepada hamba-Nya, agar mereka membenarkan apa-apa yang telah diturunkan-Nya dan yang telah disampaikan oleh rasul-Nya kepada mereka, dan agar mereka tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang beraneka ragam, yang andaikata diberikan kepada mereka jawaban atas pertanyaan itu maka akan memberatkan mereka sendiri, karena akan menambah beratnya beban dan kewajiban mereka.
Dan hal ini pastilah akan menjadikan hati mereka kesal.

Menurut riwayat, ayat ini turun ketika ada orang-orang mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah ﷺ yang kadang-kadang untuk mengujinya, dan kadang-kadang untuk mengejeknya.
Ada orang yang bertanya kepada Nabi, “Siapakah ayahku?”
Dan ada pula seorang kehilangan untanya bertanya kepada Nabi, “Di manakah gerangan untaku itu?”

Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, bahwa ia berkata, “Rasulullah ﷺ telah berkhutbah kepada kami, beliau bersabda, “Wahai umatku, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu ibadah haji, maka berhajilah kamu.” Tiba-tiba ada seseorang bertanya, “Apakah setiap tahun kami harus berhaji, ya Rasulullah?”
Rasulullah tidak menjawab pertanyaan itu, sehingga orang tersebut menanyakan lagi sampai tiga kali.
Kemudian barulah Rasulullah ﷺ bersabda, “Kalau saya jawab “ya”,
maka berhaji setiap tahun itu akan menjadi wajib, kalau ia sudah menjadi wajib niscaya kamu tak sanggup melaksanakannya.” Kemudian beliau bersabda, “Sebaiknyalah tidak kamu tanyakan kepadaku apa-apa yang tidak aku sampaikan kepadamu.” Maka turunlah ayat ini.

Selanjutnya, dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa apabila mereka menanyakan sesuatu kepada Nabi ketika turun ayat yang berkenaan dengan masalah itu, dan pertanyaan tersebut memang perlu dijawab untuk memahami isi dan maksud dari ayat tersebut, maka Allah membolehkannya dan memaafkan orang yang mengajukan pertanyaan itu.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan, bahwa Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
Maksudnya ialah Allah mengampuni orang-orang yang mengajukan pertanyaan yang benar-benar berfaedah, dan hal-hal yang tidak disebutkan dalam kitab-Nya, dan hal-hal yang tidak dibebankan-Nya kepada hamba-Nya dan larangan-Nya kepada mereka untuk tidak mengajukan pertanyaan kepada Rasul yang dapat menambah beratnya beban mereka itu pun merupakan rahmat-Nya kepada hamba-Nya.
Sehubungan dengan ini Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Sesungguhnya Allah telah menentukan beberapa kewajiban yang harus kamu tunaikan, maka janganlah disia-siakan dan Dia telah melarang kamu dari melakukan beberapa macam perbuatan, maka janganlah kamu melanggarnya, dan Dia telah menetapkan beberapa pembatasan, maka janganlah kamu lampaui, dan Dia telah memaafkan kamu dari berbagai hal, bukan karena lupa, maka janganlah kamu mencari-carinya.
(H.R.
Abi Sa’labah al-Khasyani, Tafsir Al-Maragi, juz VII, hal.
42)

Sehubungan dengan ampunan Allah yang tersebut dalam ayat ini, dapat juga dipahami, bahwa Dia memaafkan kesalahan-kesalahan sebelum larangan ini, sehingga dengan demikian Dia tidak menimpakan siksa, karena amat luasnya ampunan dan kesantunan-Nya kepada hamba-Nya.
Ini sesuai dengan firman-Nya pada ayat-ayat yang lain, di antaranya ialah:

Allah memaafkan apa-apa yang telah lalu.
(Q.S.
Al-Ma’idah: 95)

Al Maa'idah (5) ayat 101 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 101 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 101 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meminta kepada Nabi untuk menampakkan perkara- perkara yang disembunyikan Allah.
Apabila kalian menanyakan tentang hal itu ketika Rasulullah masih hidup, saat Al Quran diturunkan kepadanya, Allah pasti akan menjelaskannya kepada kalian.
Tentang hal itu, Allah memaafkan kalian tanpa memberikan hukuman.
Allah amat banyak ampunan-Nya dan amat luas santun-Nya, hingga tidak tergesa-gesa memberi hukuman.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan kepada Nabimu hal-hal yang jika diterangkan) dijelaskan (kepadamu, niscaya menyusahkan kamu) karena di dalamnya mengandung kemudaratan (dan jika kamu menanyakannya di waktu Alquran itu sedang diturunkan) artinya di masa Nabi ﷺ masih hidup (niscaya akan diterangkan kepadamu) makna ayat:
apabila kamu bertanya tentang macam-macam masalah sewaktu Nabi ﷺ masih ada niscaya akan turun ayat-ayat Alquran yang menjelaskannya dan jika ayat-ayat Alquran telah turun niscaya isinya akan menjelek-jelekkan kamu sendiri oleh karena janganlah kamu banyak bertanya tentang hal-hal itu, sesungguhnya (Allah telah memaafkan kamu tentang hal-hal itu) sebelum kamu meminta maaf kepada-Nya, maka dari itu janganlah kamu mengulanginya.
(Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, jangan bertanya tentang perkara-perkara agama di mana kalian tidak diperintahkan dengan sesuatun padanya.
Seperti bertanya tentang hal-hal yang tidak terjadi atau hal-hal yang bisa mengakibatkan kesulitan dalam syariat yang bila di bebankan kepada kalian niscaya ia akan sangat memberatkan kalian.
Namun bila kalian tetap bertanya tentangnya selama Rasul masih hidup dan saat al-Qur an sedang turun, maka ia akan dijelaskan kepada kalian.
Bisa jadi ia dibebankan kepada kalian dan kalian tidak mampu melaksanakannya, Allah mendiamkannya sebagai bentuk rahmatNya kepada hamba-hamba-Nya.
Allah Maha Mengampuni hamba-hamba-Nya saat mereka bertaubat kepada-Nya, Penyantun kepada mereka sehingga tidak menyiksa mereka bila mereka kembali kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Di dalam ayat ini terkandung pelajaran etika dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin.
Allah melarang mereka menanyakan banyak hal yang tiada berfaedah bagi mereka dalam mempertanyakan dan menyelidikinya.
Karena sesungguhnya jika perkara-perkara yang dipertanyakan itu ditampakkan kepada mereka, barangkali hal itu akan menjelekkan diri mereka dan dirasakan amat berat oleh mereka mendengarnya.
Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Semoga jangan ada seseorang menyampaikan kepadaku perihal sesuatu masalah dari orang lain, sesungguhnya aku suka bila aku menemui kalian dalam keadaan dada yang lapang.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Munzir ibnul Walid ibnu Abdur Rahman Al-Jarudi, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Musa ibnu Anas, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengemukakan suatu khotbah yang belum pernah kudengar hal yang semisal dengannya.
Dalam khotbahnya itu antara lain beliau ﷺ bersabda: Sekiranya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui, niscaya kalian benar-benar sedikit tertawa dan benar-benar akan banyak menangis.
Anas ibnu Malik melanjutkan kisahnya, “Lalu para sahabat Rasulullah ﷺ menutupi wajahnya masing-masing, setelah itu terdengar suara isakan mereka.
Kemudian ada seseorang lelaki berkata, ‘Siapakah ayahku?’ Maka Nabi ﷺ menjawab, ‘Si Fulan.” Lalu turunlah firman-Nya:

Janganlah kalian menanyakan (kepada nabi kalian) banyak hal.

Imam Bukhari telah meriwayatkannya bukan pada bab ini, begitu pula Imam Muslim, Imam Ahmad, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai melalui berbagai jalur dari Syu’bah ibnul Hajjaj dengan lafaz yang sama.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan (kepada nabi kalian) hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian niscaya menyusahkan kalian., hingga akhir ayat.
Bahwa telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Malik, para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ hingga beliau dihujani oleh pertanyaan mereka.
Lalu Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka di suatu hari, kemudian menaiki mimbarnya dan bersabda: Tidak sekali-kali kalian menanyakan kepadaku tentang sesuatu pada hari ini, melainkan aku pasti menjelaskannya kepada kalian.
Maka semua sahabat Rasulullah ﷺ merasa takut kalau-kalau Rasulullah ﷺ sedang menghadapi suatu perkara yang mengkhawatirkan.
Maka tidak sekali-kali aku tolehkan wajahku ke arah kanan dan kiriku, melainkan kujumpai semua orang menutupi wajahnya dengan kain bajunya seraya menangis.
Kemudian seseorang lelaki terlibat dalam suatu persengketaan, lalu dia diseru bukan dengan nama ayahnya, maka ia bertanya, “Wahai Nabi Allah, siapakah sebenarnya ayahku itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Ayahmu adalah Huzafah.” Kemudian Umar bangkit dan mengatakan, “Kami rela Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai utusan Allah,” seraya berlindung kepada Allah.
Atau Umar mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan fitnah-fitnah.” Anas ibnu Malik melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Aku sama sekali belum pernah melihat suatu hal dalam kebaikan dan keburukan seperti hari ini, telah ditampakkan kepadaku surga dan neraka hingga aku melihat keduanya tergambarkan di arah tembok ini.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui jalur Sa’id.

Dan Ma’mar meriwayatkannya dari Az-Zuhri, dari Anas dengan lafaz yang semisal atau mendekatinya.

Az-Zuhri mengatakan bahwa Ummu Abdullah ibnu Huzafah mengatakan, “Aku belum pernah melihat seorang anak yang lebih menyakitkan orang tuanya selain kamu.
Apakah kamu percaya bila ibumu telah melakukan suatu perbuatan seperti apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang Jahiliah, lalu kamu mempermalu­kannya di mata umum?”
Maka Abdullah ibnu Huzafah berkata, “Demi Allah, seandainya Rasulullah ﷺ menisbatkan diriku dengan seorang budak berkulit hitam, niscaya aku mau menerimanya.”

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Al-Haris, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Qais, dari Abu Husain, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ keluar dalam keadaan marah sehingga wajahnya kelihatan memerah, lalu beliau duduk di mimbar.
Dan berdirilah seorang lelaki, lalu bertanya, “Di manakah ayahku?”
Nabi ﷺ menjawab, “Di dalam neraka.” Lalu berdiri pula lelaki lain dan berkata, “Siapakah ayahku?”
Nabi ﷺ bersabda, “Ayahmu Huzafah.” Kemudian berdirilah Umar —atau Umar bangkit— dan berkata, “Kami rela Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai agama kami, Nabi Muhammad ﷺ nabi kami, dan Al-Qur’an sebagai imam kami.
Sesungguhnya kami, wahai Rasulullah, masih baru meninggalkan masa Jahiliah dan kemusyrikan, dan Allah-lah yang lebih mengetahui siapakah bapak-bapak kami.” Maka redalah kemarahan Nabi ﷺ, lalu turun firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan (kepada nabi kalian) hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian niscaya menyusahkan kalian., hingga akhir ayat.

Sanad hadis ini jayyid (baik), dan kisah ini diketengahkan secara mursal oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf, antara lain Asbat, dari As-Saddi.

Disebutkan bahwa As-Saddi telah mengatakan sehubung­an dengan makna firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan (kepada nabi kalian) hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian niscaya menyusahkan kalian.
Bahwa pada suatu hari Rasulullah ﷺ marah, lalu berdiri dan berkhotbah, antara lain beliau ﷺ bersabda: Bertanyalah kalian kepadaku, maka sesungguhnya tidak sekali-kali kalian menanyakan sesuatu kepadaku melainkan aku akan memberitahukannya kepada kalian.
Maka majulah seorang lelaki Quraisy dari kalangan Bani’ Sahm yang dikenal dengan nama Abdullah ibnu Huzafah yang diragukan nasabnya.
Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah ayahku yang sebenarnya?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Ayahmu adalah si Fulan,” lalu Nabi ﷺ memanggilnya dengan sebutan ayahnya.
Maka Umar ibnul Khattab maju ke hadapan Nabi ﷺ, lalu mencium kaki Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, kami rela Allah sebagai Tuhan kami, engkau sebagai nabi kami, Islam sebagai agama kami, dan Al-Qur’an sebagai imam kami, maka maafkanlah kami, semoga Allah pun memaafkanmu.” Umar terus-menerus melakukan demikian hingga marah Rasulullah ﷺ reda.
Dan pada hari itu juga Rasulullah ﷺ bersabda: Anak itu adalah milik firasy (ayah) dan bagi lelaki pezina tiada hak (pada anaknya).

Kemudian Imam Bukhari mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Abul Juwairiyah, dari Ibnu Abbas r.a.
yang menceritakan bahwa pernah ada segolongan kaum yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ dengan memperolok-olokkannya.
Seseorang lelaki bertanya, “Siapakah ayahku?”
Lelaki lainnya bertanya pula, “Untaku hilang, di manakah untaku?”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan ayat ini berkenaan dengan mereka:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan (kepada nabi kalian) hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian niscaya menyusahkan kalian., hingga akhir ayat.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara munfarid.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Zakaria ibnu Yahya ibnu Aban Al-Masri, telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Abdul Aziz Abul Gamr, telah menceritakan kepada kami Ibnu Muti’ Mu’awiyah ibnu Yahya, dari Safwan ibnu Amr, telah menceritakan kepadaku Salim ibnu Amir yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Umamah Al-Bahili menceritakan hadis berikut: Bahwa Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan orang banyak, lalu bersabda, “Telah diwajibkan atas kalian melakukan ibadah haji.” Lalu berdirilah seseorang lelaki Badui dan bertanya, “Apakah untuk setiap tahun?”
Suara lelaki Badui itu lebih keras daripada suara Rasulullah ﷺ, cukup lama Rasulullah ﷺ diam saja dalam keadaan marah.
Kemudian bersabda, “Siapakah orang yang bertanya tadi?”
Lelaki Badui itu menjawab, “Saya.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Celakalah kamu! Apakah yang menjadi kepercayaanmu jika kukatakan ya?
Demi Allah, seandainya kukatakan ya, niscaya diwajibkan (tiap tahunnya), dan seandainya diwajibkan, niscaya kalian kafir (ingkar).
Ingatlah, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian ialah karena dosa-dosa besar.
Demi Allah, seandainya aku halalkan bagi kalian semua apa yang ada di bumi dan aku haramkan atas kalian sebagian darinya sebesar tempat khuf, niscaya kalian akan terjerumus ke dalamnya.” Maka pada saat itu Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan (kepada nabi kalian) hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian niscaya menyusahkan kalian., hingga akhir ayat.

Tetapi di dalam sanadnya terkandung kedaifan (kelemahan).
Lahiriah makna ayat menunjukkan larangan menanyakan berbagai hal yang bila dijelaskan jawabannya akan membuat buruk si penanya.
Hal yang lebih utama menghadapi hal-hal seperti itu ialah berpaling darinya dan membiarkannya, yakni jangan menanyakannya.
Alangkah baiknya hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang menyebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Hajjaj, ia pernah mendengar Israil ibnu Yunus menceritakan dari Al-Walid ibnu Abu Hasyim maula Al-Hamdani, dari Zaid ibnu Za-id, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda kepada para sahabatnya: Jangan ada seseorang menyampaikan sesuatu kepadaku dari orang lain, karena sesungguhnya aku suka bila keluar menemui kalian, sedangkan aku dalam keadaan berhati lapang.

Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi telah meriwayatkannya melalui hadis Israil.
Abu Daud mengatakan dari Al-Walid, sedangkan Imam Turmuzi mengatakan dari Israil, dari As-Saddi, dari Al-Walid ibnu Abu Hasyim dengan lafaz yang sama.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa bila ditinjau dari segi ini, hadis berpredikat garib.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan jika kalian menanyakannya di waktu Al-Qur’an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepada kalian.

Yakni jika kalian menanyakan hal-hal tersebut yang kalian dilarang menanyakannya di saat wahyu diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, niscaya akan dijelaskan kepada kalian.
Dan hal itu sangat mudah bagi Allah.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Allah memaafkan (kalian) tentang hal-hal itu.

Yakni hal-hal yang kalian lakukan sebelum itu.

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Menurut pendapat lain, firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan jika kalian menanyakannya di waktu Al-Qur’an sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepada kalian.

Maknanya ialah “Janganlah kalian menanyakan hal-hal yang kalian sengaja memulai mengajukannya, karena barangkali akan diturunkan wahyu disebabkan pertanyaan kalian itu yang di dalamnya terkandung peraturan yang memberatkan dan menyempitkan kalian”.
Di dalam sebuah hadis telah disebutkan:

Orang muslim yang paling besar dosanya ialah seseorang yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, lalu menjadi diharamkan karena pertanyaannya itu.

Tetapi jika diturunkan wahyu Al-Qur’an mengenainya secara global, lalu kalian menanyakan penjelasannya, niscaya saat itu akan dijelaskan kepada kalian karena kalian sangat memerlukannya.

Allah memaafkan (kalian) tentang hal-hal itu.

Yakni hal-hal yang tidak disebutkan Allah di dalam kitab-Nya, maka hal tersebut termasuk yang dimaafkan.
Karena itu, diamlah kalian sebagaimana Nabi ﷺ diam terhadapnya.
Di dalam hadis sahih disebutkan dari Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Biarkanlah aku dengan apa yang kutinggalkan untuk kalian, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa hanyalah karena mereka banyak bertanya dan sering bolak-balik kepada nabi-nabi mereka (yakni banyak merujuk).

Di dalam hadis sahih yang lain disebutkan pula:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala.
telah menetapkan hal-hal yang fardu, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya, dan Dia telah menetapkan batasan-batasan, maka janganlah kalian melampauinya, dan Dia telah mengharamkan banyak hal, maka janganlah kalian melanggarnya.
Dan Dia telah mendiamkan (tidak menjelaskan) banyak hal karena kasihan kepada kalian bukan karena lupa, maka janganlah kalian menanyakannya.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Maa'idah (5) ayat 101
Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Qatadah dari Anas ra., bahwa para sahabat banyak bertanya kepada Rasulullah ﷺ sehingga mereka setengah memaksa dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Maka beliau marah dan langsung naik mimbar sambil bersabda:
“Tidaklah kalian bertanya kepadaku mengenai sesuatu, melainkan aku selalu jelaskan kepada kalian?”, Lantas aku melihat kanan-kiri, tak tahunya setiap orang menutupi kepalanya dengan pakaiannya sambil menangis, secara spontan muncullah seseorang yang jika bermusuhan, ia dipanggil dengan nasab selain ayahnya, maka orang itu berujar “Wahai nabiyullah siapakah ayahku?”

Beliau menjawab:
“Ayahmu adalah Hudzafah.”

Umar pun bergegas mengucapkan RADHIINA BILLAHI RABBAN WABIL ISLAAMI DIINAN WABI MUHAMMADIN shallallahu ‘alaihi wasallam RASUULAN NA’UUDZU BILLAH MINAL FITANI (Kami ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai utusan, kami berlindung kepada Allah dari fitnah), lantas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
Aku belum pernah melihat keburukan dan kebaikan sama sekali seperti hari ini, sebab hari ini neraka dan surga digambarkan bagiku hingga aku melihat kedua-duanya berada dibalik dinding ini. Dan Qatadah selalu menyebutkan hadits ini ketika membaca ayat Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya tentang sesuatu yang sekiranya diungkapkan kepada kalian, justru malah menyusahkan kalian. (QS. Al Maidah, 101).

Shahih Bukhari, Kitab Do’a – Nomor Hadits: 5885

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 101

QUR’AAN
قُرْءَان

Dari sudut bahasa, qur’aan adalah mashdar dari kata kerja qara’a yang berarti al maqru’ (yang dibaca), menurut bahasa Arab al maqru’ qur’anan dinamakan al maf’ul. Apabila ia dihubungkan dengan syara’ maka qur’aan menjadi Kalamullah.

Al Qur’an juga adalah ism ‘alm (nama yang diketahui) bagi kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad, sebagaimana lafaz Taurat. Ia adalah ism ‘alm bagi kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa dan juga Injil adalah ism ‘alm bagi kitab yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Ibn Manzur dan Abi Hayyan.

Al Fayruz berkata,
“Dinamakan Al Qur’an karena ia menghimpun surah-surah dan menggabungkannya.

Ada juga yang mengatakan ia dinamakan Al Qur’an karena terhimpun di dalamnya kisah-kisah, perintah, larangan, janji, ancaman, atau karena ia penghimpun kitab terdahulu yang diturunkan oleh Allah, atau ia menghimpun di dalamnya seluruh ilmu-ilmu.”

Lafaz qur’aan disebut 70 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 185;
An Nisaa’ (4), ayat 82;
Al Maa’idah (5), ayat 101;
Al An’aam (6), ayat 19;
Al A’raaf (7), ayat 204;
At Taubah (9), ayat 111;
Yunus (10), ayat 15, 37, 61;
Yusuf (12), ayat 2, 3;
Ar Ra’d (13), ayat 31;
Al Hijr (15), ayat 1, 87, 91;
An Nahl (16), ayat 98;
Al Israa’ (17), ayat 9, 41, 45, 46, 60, 78, 78, 82, 88, 89, 106;
Al Kahfi (18), ayat 54;
Tha Ha (20), ayat 2, 113, 114;
Al Furqaan (25), ayat 30, 32;
An Naml (27), ayat 1, 6, 76, 92;
Al Qashash (28), ayat 85;
Ar Rum (30), ayat 58;
Saba’ (34), ayat 31;
Yaa Siin (36), ayat 2, 69;
Shad (38), ayat 1;
Az Zumar (39), ayat 27, 28;
Fushshilat (41), ayat 3, 26, 44;
Asy Syuura (42), ayat 7;
Az Zukhruf (43), ayat 3, 31;
Al Ahqaf (46), ayat 29;
Muhammad (47), ayat 24;
Qaf (50), ayat 1, 45;
Al Qamar (54), ayat 22, 32, 40;
Ar Rahmaan (55), ayat 2;
Al Waaqi’ah (56), ayat 77;
Al Hasyr (59), ayat 21;
Al Jinn (72), ayat 1;
Al Muzzammil (73), ayat 4, 20;
Al Qiyaamah (75), ayat 17, 18;
Al Insaan (76), ayat 23;
Al Insyiqaaq (84), ayat 21;
Al Buruuj (85), ayat 21.

Menurut Istilah, Al Qur’an ialah kalamullah yang diturunkan kepada Muhammad, melalui wahyu secara berangsur-angsur dalam bentuk ayat maupun surah selama 23 tahun kerasulan Nya. Ia bermula dari Al Fatihah dan diakhiri dengan An Naas, dinukilkan secara tersusun (tawatur mutlaq) sebagai mukjizat dan bukti kebenaran risalah Islam serta mendapat pahala membacanya.

Wahyu Al Qur’an mula diturunkan pada tahun 610. Nabi Muhammad menerimanya ketika sedang bersendirian di gua Hira, pada pertengahan Jabal Nur (gunung cahaya) dalam bulan Ramadan. Pada suatu malam, pada akhir bulan itu, malaikat Jibril datang kepadanya menyampaikan wahyu pertama, yaitu awal surah Al Alaq (91), ayat 1-5.

Penurunan Al Qur’an terbahagi kepada tiga tahap:

1. Al Qur’an turun ke lauhul mahfuz. Buktinya Allah menyatakan yang bermakna, “Bahkan dialah Al Qur’an yang mulia, berada di lauh mahfuz”. (Al Buruuj (85), ayat 21).

2. Al Qur’an turun ke baytul ‘izzah di sama’ ad dunyaa. Allah menyatakan yang bermakna, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh berkah.”

Begitu juga dengan makna ayat Allah menyatakan, “Bulan Ramadan yang diturunkan di dalamnya Al Qur’an”.”

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Quran) pada malam Al qadr (laylatul qadr)”

Diriwayatkan oleh Al Hakim dengan perawinya dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, beliau berkata,
“Al Qur’an mencakup zikir dan peringatan. Maka ia diletakkan di baytul ‘izzah dari As samsa’ad dunya, lalu Jibril menyampaikannya kepada Nabi Muhammad”

Dilaporkan oleh Al Hakim dan Al Bayhaqi dan selain keduanya dari perawinya Mansur dari Sa’id bin Jubayr dari Ibn Abbas katanya, “Al Qur’an diturunkan sekaligus ke samaa’ ad dunya, dan dia berada di tempat bintang-bintang, lalu Allah menurunkan (dengan perantara Jibril) kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur”

3. Al Qur’an diturunkan dengan perantara Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, sebagaimana ayat Allah yang bermakna, “Dia turun bersama dengan Ar Ruh Al am in (fibril), ke dalam hatimu (wahai Muhammad), supaya engkau memberi peringatan.”

Pembukuan Al Qur’an terjadi pada zaman Khalifah Abu Bakar atas pandangan Umar, disebabkan peperangan Al Yamamah pada tahun 12 H dan peperangan demi memerangi orang murtad yang dipimpin oleh Musaylamah Al Kadzdzab, yaitu peperangan Hamiyah Al Watis yang banyak mengorbankan para hafiz dan qurra’ dari kalangan sahabat pada tahun 633 M. Tugas ini diserahkan kepada Zaid bin Tsabit karena beliau adalah salah seorang penghafal Al Qur’an dan penulis wahyu bagi Rasulullah. Dalam penulisan ini Abu Bakar dan Umar meletakkan dua syarat ketat dan teliti, yaitu:

(1). Ditulis apa yang ditulis di depan Rasulullah;
(2). Ia dihafal di dalam dada para sahabat.

Tidak diterima apa yang ditulis melainkan terdapat dua saksi yang adil ia ditulis di depan Rasulullah.

Di zaman Khalifah Utsman bin Affan, kawasan pemerintahan Islam sudah meluas ke segenap penjuru negeri. Maka setiap negeri belajar dan membaca qira’at dari sahabat yang tinggal di negeri itu. Misalnya penduduk Syam menggunakan qira’at Abi bin Ka’ab, penduduk Kufah membaca dengan qira’at Abdullah bin Mas’ud dan sebagainya. Terdapat perbedaan antara qira’at itu sehingga ianya menimbulkan perselisihan dan perdebatan dalam membaca Al Qur’an, bahkan sampai ke tahap sebahagian mereka mengkafirkan sebahagian yang lain. Hal ini diketahui oleh Hudzaifah bin Al Yaman ketika pembukaan Armenia dan Azarbeijan, lalu ia mengadukannya kepada Khalifah Uthman, Dengan adanya perselisihan ini, beliau kuatir ia akan meluas. Kemudian, beliau mengambil inisiatif menulis beberapa mushaf yang dikirimkan ke negeri-negeri dan menyuruh mereka membakar setiap mushaf yang ada serta tidak menggunakan selain mushaf yang dikirim. Untuk menyempurnakan ide ini, beliau mengadakan kumpulan untuk menyeragamkan teks Al Qur’an itu yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit yang pernah menjadi juru tulis Nabi, bersama dengan Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al ‘As dan Abd Ar Rahman bin Al Harits bin Hisyam. Kemudian, Khalifah Utsman mengirimkan utusan kepada Hafsah binti Umar supaya diberikan kepadanya sebuah mushaf yang ada padanya, yaitu mushaf yang menghimpunkan Al Qur’an pada zaman Khalifah Abu Bakar dan menyuruh empat kumpulan penulis menulisnya.

Di dalam penulisan ini, kumpulan penulis yang terdiri dari empat sahabat tidak akan menulis di dalam mushaf kecuali ianya benar-benar Al Qur’an, diketahui ia benar-benar diturunkan pada akhir penurunannya (al ‘ardah al akhirah) dan yakin kebenarannya dari Nabi Muhammad” dengan “fas’aw ilaa dzikrillah”. Apabila mereka berselisih dalam penulisan itu, mereka kembali kepada bahasa Quraisy karena Al Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka sebagaimana yang dikatakan oleh Utsman dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Setelah itu, beliau mengembalikan mushaf yang dipinjam dari Hafsah tadi dan mengirimkan beberapa mushaf yang ditulis itu ke seluruh negeri dan beliau memerintahkan supaya mushaf lain dibakar. Pembukuan dan suntingan Al Qur’an adalah berdasarkan resensi rasmi yang terjadi pada tahun 650 M.

Al Qu’ran adalah sumber pertama bagi umat Islam. Ia adalah rujukan pertama dari sudut hukum, pengajaran, penafsiran dan sebagainya, sumber selanjutnya adalah hadits atau sunnah. Ia terdiri dari 114 surah, di mana setiap surah itu tersusun dari sejumlah ayat-ayat.

Keseluruhan Al Qur’an terbagi kepada tiga puluh juz. Setiap juz terbagi menjadi dua hizb (bahagian) dan jenis pembagian ini biasanya disertai dengan tanda di tepi halaman muka surat mushaf Al Qur’an.

Terdapat lafaz qur’aan yang disandarkan kepada lafaz ”fajr” yaitu dalam surah Al Israa’ (17), ayat 78.

Ibn Katsir menafsirkan lafaz qur’aanal fajr dengan shalat subuh. Diriwayatkan Sa’id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad bersabda, “Kelebihan orang yang shalat berjemaah dari orang yang shalat sendirian adalah 25 derajat dan malaikat berkumpul semasa shalat fajar pada waktu malam dan siang.”

At Tabari menafsirkannya, “Sesungguhnya apa yang engkau baca di dalam shalat fajar (shalat subuh) dari Al Qur’an akan menjadi saksi dan disaksikan oleh malaikat pada waktu malam dan siang, sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah, Abu Darda, Abu Ubaidah bin Abdullah.”

Ibn Abbas, Mujahid, Ad Dahhak, Ibn Zaid berpendapat qur’aanal fajr bermakna shalat subuh.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:496-499

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa’

Surat ini dinamakan “Al Maa-idah” (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi ‘Isa ‘alaihis salam meminta kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan “Al Uqud” (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga “Al Munqidz” (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi ‘Isa ‘alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi ‘Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi’ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi ‘Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu’min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka’bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 101 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 101



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.5
Rating Pembaca: 4.3 (21 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku