Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

Al Maa'idah

Al Maa’idah (Jamuan (hidangan makanan)) surah 5 ayat 1


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَوۡفُوۡا بِالۡعُقُوۡدِ ۬ؕ اُحِلَّتۡ لَکُمۡ بَہِیۡمَۃُ الۡاَنۡعَامِ اِلَّا مَا یُتۡلٰی عَلَیۡکُمۡ غَیۡرَ مُحِلِّی الصَّیۡدِ وَ اَنۡتُمۡ حُرُمٌ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَحۡکُمُ مَا یُرِیۡدُ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu aufuu bil ‘uquudi uhillat lakum bahiimatul an’aami ilaa maa yutla ‘alaikum ghaira muhilliish-shaidi wa-antum hurumun innallaha yahkumu maa yuriid(u);

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.
Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu.
(Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji.
Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.
―QS. 5:1
Topik ▪ Tauhid Rububiyyah
5:1, 5 1, 5-1, Al Maa’idah 1, AlMaaidah 1, Al Maidah 1, AlMaidah 1, Al-Ma’idah 1
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Maa'idah (5) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Permulaan ayat ini memerintahkan kepada setiap orang yang beriman untuk memenuhi janji-janji yang telah diikrarkan, baik janji prasetia hamba kepada Allah, maupun janji yang dibuat di antara sesama manusia, seperti yang bertalian dengan perkawinan, perdagangan dan sebagainya, selama janji itu tidak melanggar syariat Allah.
Sebagai mana yang disebutkan di dalam hadis yang berbunyi:

Setiap syarat (ikatan janji) yang tidak sesuai dengan kitab Allah, adalah batal, meskipun seratus macam syarat.
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Selanjutnya ayat ini menyebutkan tentang binatang-hinatang yang halal dimakan seperti yang tersebut dalam surah Al An'am ayat 143 dan 144 dan melarang memakan sepuluh macam makanan seperti yang tersebut pada ayat ketiga dari surah ini.
Orang-orang yang sedang berihram haji dan umrah atau salah satu dari keduanya tidak dihalalkan berburu binatang buruan darat baik di tanah haram maupun di luarnya dan tidak dihalalkan memakan dagingnya.
Bagi orang yang berada di tanah haram sekalipun tidak sedang berihram tidak dihalalkan berburu binatang buruan darat.
Demikianlah Allah menetapkan hukum-Nya menurut kehendak-Nya untuk kemaslahatan hamba-Nya.

Al Maa'idah (5) ayat 1 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Maa'idah (5) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Maa'idah (5) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah semua janji kalian kepada Allah dan janji antara sesama kalian.
Allah telah menghalalkan daging unta, sapi dan kambing, kecuali apa yang telah diharamkan-Nya.
Kalian tidak boleh berburu binatang darat pada saat melaksanakan ihram, atau ketika sedang berada di tanah haram.
Sesungguhnya Allah menetapkan semua apa yang dikehendaki dengan adil, dan ini semua adalah perjanjian Allah dengan kalian[1].

[1] termasuk dalam janji yang harus dipenuhi dalam ayat ini adalah janji yang diucapkan kepada sesama manusia.
'Uqud (bentuk jamak dari 'aqd ['janji', 'perjanjian']) yang digunakan dalam ayat ini, pada dasarnya berlangsung antara dua pihak.
Kata 'aqd itu sendiri mengandung arti 'penguatan', 'pengukuhan', berbeda dengan 'ahd ('janji', 'perjanjian') yang berasal dari satu pihak saja, dan termasuk di dalamnya memenuhi kehendak pribadi.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Al Quran lebih dahulu berbicara mengenai pemenuhan janji daripada undang-undang positif.
Ayat ini bersifat umum dan menyeluruh.
Sebab, dalam Islam terdapat hukum mengenai dua pihak yang melakukan perjanjian.
Tidak ada hukum positif mana pun yang lebih mencakup, lebih jelas dan lebih terperinci daripada ayat ini mengenai pentingnya memenuhai dan menghormati janji.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, penuhilah olehmu perjanjian itu) baik perjanjian yang terpatri di antara kamu dengan Allah maupun dengan sesama manusia.
(Dihalalkan bagi kamu binatang ternak) artinya halal memakan unta, sapi dan kambing setelah hewan itu disembelih (kecuali apa yang dibacakan padamu) tentang pengharamannya dalam ayat, "Hurrimat `alaikumul maitatu..." Istitsna` atau pengecualian di sini munqathi` atau terputus tetapi dapat pula muttashil, misalnya yang diharamkan karena mati dan sebagainya (tanpa menghalalkan berburu ketika kamu mengerjakan haji) atau berihram, ghaira dijadikan manshub karena menjadi hal bagi dhamir yang terdapat pada lakum.
(Sesungguhnya Allah menetapkan hukum menurut yang dikehendaki-Nya) baik menghalalkan maupun mengharamkannya tanpa seorang pun yang dapat menghalangi-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, tunaikanlah perjanjian Allah yang tegas, berupa iman kepada syariat-syariat agama, dan tunduk kepadanya.
Tunaikan pula perjanjian-perjanjian diantara kalian dalam bentuk amanat, jual beli dan lainnya asalkan ia tidak menyimpang dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Muhammad صلی الله عليه وسلم.
Allah telah menghalalkan bagi kalian hewan ternak, yaitu unta, sapi dan kambing kecuali apa yang telah Allah jelaskan kepada kalian tentang keharaman bangkai, darah dan lainnya dan pengharaman hewan buruan saat kalian sedang berihram.
Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan kehendak-Nya yang sejalan dengan Hikmah dan keadilan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Na'im ibnu Hammad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mu­barak, telah menceritakan kepada kami Mis'ar, telah menceritakan ke­padaku Ma'an dan Auf atau salah seorang dari keduanya, bahwa se­orang lelaki datang kepada Abdullah ibnu Mas'ud, lalu lelaki itu ber­kata, "Berwasiatlah kepadaku." Maka Ibnu Mas'ud mengatakan, "Jika kamu mendengar firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan: 'Hai orang-orang yang beriman.' Maka dengarkanlah baik-baik oleh telingamu, karena sesungguhnya hal itu adakalanya kebaikan yang dianjurkan atau keburukan yang di­larang."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Ibrahim Dahim, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Al-Auza'i, dari Az-Zuhri yang mengata­kan, "Apabila Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman: 'Hai orang-orang yang beriman.' Maka kerjakanlah oleh kalian, dan Nabi ﷺ termasuk di antara sa­lah seorang dari mereka."

Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah men­ceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Khaisamah yang mengatakan bahwa semua ayat di dalam Al-Qur'an yang dimulai dengan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman.
Maka ungkapan ini di dalam kitab Taurat berbunyi seperti berikut, "Hai orang-orang miskin."

Mengenai apa yang diriwayatkan melalui Zaid ibnu Ismail As-Sa'ig Al-Bagdadi, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah (yakni Ibnu Hisyam), dari Isa ibnu Rasyid, dari Ali ibnu Bazimah, dari Ikri­mah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa di dalam Al-Qur'an tiada suatu ayat pun yang dimulai dengan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman.
melainkan Ali adalah penghulunya, orang yang paling terhormat, dan pemimpinnya, karena para sahabat Nabi pernah ditegur oleh Al-Qur'an, kecuali Ali ibnu Abu Talib.
Sesungguhnya dia tidak pernah ditegur dalam suatu ayat pun dari Al-Qur'an.

Maka asar ini berpredi­kat garib, lafaznya tidak dapat diterima, dan di dalam sanadnya ada hal yang masih perlu dipertimbangkan.

Sehubungan dengan asar ini Imam Bukhari mengatakan bahwa Isa ibnu Rasyid yang ada dalam sanadnya adalah orang yang tidak di­kenal dan hadisnya ditolak.

Menurut kami, dapat dikatakan pula bahwa Ali ibnu Bazimah se­kalipun orangnya dinilai siqah, tetapi dia adalah orang syi'ah yang ekstrem, dan hadisnya dalam masalah yang semisal dengan hal ini di­curigai, karena itu tidak dapat diterima.

Lafaz asar (yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas) yang mengata­kan, "Tidak ada seorang sahabat pun melainkan pernah ditegur oleh Al-Qur'an, kecuali Ali." Sesungguhnya lafaz ini mengisyaratkan ke­pada pengertian suatu ayat yang memerintahkan bersedekah sebelum berbicara dengan Rasulullah ﷺ Karena sesungguhnya banyak ula­ma yang bukan hanya seorang saja menyebutkan bahwa tidak ada se­orang sahabat pun yang tidak mengamalkannya kecuali Ali.
Ayat yang dimaksud ialah firman-Nya:

Apakah kalian takut akan (menjadi miskin) karena kalian mem­berikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul?
Maka jika kalian tiada memperbuatnya, dan Allah telah memberi tobat ke­pada kalian.
(Al Mujaadalah:13), hingga akhir ayat.

Penilaian makna ayat ini sebagai teguran masih perlu dipertimbang­kan, mengingat ada suatu pendapat yang mengatakan bahwa perintah dalam ayat ini menunjukkan makna sunat, bukan wajib.
Lagi pula hal tersebut telah di-mansukh sebelum mereka melakukannya, dan hal ini tidak ada seorang pun dari mereka yang berpendapat berbeda.

Ucapan asar yang mengatakan, "Bahwasanya Ali belum pernah ditegur oleh suatu ayat pun dari Al-Qur'an," masih perlu dipertim­bangkan pula.
Karena sesungguhnya ayat yang ada di dalam surat Al-Anfal yang mengandung makna teguran terhadap sikap menerima te­busan (tawanan Perang Badar) mencakup semua orang yang setuju dengan penerimaan tebusan.
Dalam masalah ini tidak ada seorang sa­habat pun yang luput dari teguran ayat tersebut kecuali Umar ibnul Khattab r.a.
Maka dari keterangan di atas dapat disimpulkan lemah­nya asar tersebut.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna.
telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, telah men­jeritkan kepada kami Al-Lais.
telah menceritakan kepadaku Yunus yang mengatakan, "Muhammad ibnu Muslim pernah menceritakan bahwa dia pernah membaca surat Rasulullah ﷺ yang ditujukan ke­pada Amr ibnu Hazm (amil Najran).
Surat tersebut disampaikan oleh Abu Bakar ibnu Hazm.
Di dalamnya termaktub bahwa surat ini ada­lah penjelasan dari Allah dan Rasul-Nya: 'Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu' (Al Maidah:1).
hingga beberapa ayat berikutnya sampai kepada firman-Nya: 'sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya' (Al Maidah:4)"

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Amr ibnu Hazm, dari ayahnya yang mengatakan, "Inilah manuskrip surat Ra­sulullah ﷺ yang ada pada kami.
Surat ini ditujukan kepada Amr ibnu Hazm ketika ia diangkat menjadi amil ke negeri Yaman dengan tugas mengajari agama dan sunnah kepada penduduknya serta memu­ngut zakat mereka.
Nabi ﷺ menulis sebuah surat kepadanya yang berisikan perintah dan janji.
Di dalam surat ini tertulis bahwa dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, ini adalah perintah dari Allah dan Rasul-Nya, 'Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu (Al Maidah:1).
Yaitu perjanjian dari Muhammad Rasulullah ﷺ kepada Amr ibnu Hazm, ketika beliau mengutusnya ke negeri Yaman sebagai amil.
Na­bi ﷺ memerintahkan kepadanya agar bertakwa kepada Allah dalam semua urusannya, karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang selalu berbuat kebaikan."

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...penuhilah aqad-aqad itu.

Ibnu Abbas dan Mujahid serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan 'uqud ialah perjanjian-perjanjian.
Ibnu Jarir meriwayatkan akan adanya kesepakatan menge­nai makna ini.
Ia mengatakan bahwa 'uhud artinya apa yang biasa mereka cantumkan dalam perjanjian-perjanjian mereka menyangkut masalah hilf (perjanjian pakta pertahanan bersama) dan lain-lainnya.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.
(Al Maidah:1), Yaitu janji-janji itu menyangkut hal-hal yang dihalalkan oleh Allah dan hal-hal yang diharamkan-Nya serta hal-hal yang difardukan oleh-­Nya dan batasan-batasan (hukum-hukum) yang terkandung di dalam Al-Qur'an seluruhnya Dengan kata lain, janganlah kalian berbuat khianat dan janganlah kalian langgar hal tersebut

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
memperkuat hal tersebut dengan sanksi-sanksi yang keras melalui firman-Nya:

Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan de­ngan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan su­paya dihubungkan.
(Ar-Ra’d: 25) sampai dengan firman-Nya: tempat kediaman yang buruk (Jahannam).
(Ar Ra'du:25)

Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: penuhilah aqad-aqad itu.
(Al Maidah:1), Bahwa yang dimaksud ialah hal-hal yang dihalalkan dan yang diha­ramkan oleh Allah, semua bentuk perjanjian yang diambil oleh Allah atas orang yang mengakui beriman kepada Nabi dan Al-Qur'an, yakni hendaklah mereka menunaikan fardu-fardu yang telah ditetapkan oleh Allah atas diri mereka, berupa perkara halal dan haram.

Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: penuhilah aqad-aqad itu.
(Al Maidah:1), Menurutnya ada enam perkara, yaitu janji Allah, perjanjian pakta, transaksi syirkah, transaksi jual beli, akad nikah, dan janji sumpah.

Muhammad ibnu Ka'b mengatakan bahwa hal tersebut ada lima perkara, termasuk salah satunya ialah sumpah pakta di masa Jahiliah dan syarikat mufawadah.

Sebagian ulama menyimpulkan dalil dari ayat ini, bahwa tidak ada khiyar majelis dalam transaksi jual beli, yaitu firman-Nya: penuhilah aqad-aqad itu.
(Al Maidah:1), Ia mengatakan bahwa makna ayat ini menunjukkan kuatnya suatu transaksi yang telah dinyatakan dan tidak ada khiyar majelis lagi.
Demikianlah menurut mazhab Abu Hanifah dan Imam Malik.
Tetapi Imam Syafii dan Imam Ahmad berpendapat berbeda, begitu pula jumhur ulama, Hujah mereka dalam masalah ini ialah sebuah hadis yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Ibnu Umar yang menga­takan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Dua orang yang bertransaksi jual beli masih dalam khiyar selagi keduanya belum berpisah.

Menurut lafaz yang lain yang juga oleh Imam Bukhari:

Apabila dua orang lelaki terlibat dalam suatu transaksi jual beli, maka masing-masing pihak dari keduanya boleh khiyar, selagi keduanya belum berpisah.

Hal ini menunjukkan secara jelas adanya khiyar majelis seusai trans­aksi jual beli diadakan.
Hal ini tidak bertentangan dengan ketetapan transaksi, bahkan khiyar majelis merupakan salah satu dari pendu­kung transaksi menurut syara'.
Dengan menetapi khiyar majelis, ber­arti melakukan kesempurnaan bagi penunaian transaksi.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dihalalkan bagi kalian binatang ternak.

Yang dimaksud dengan binatang ternak ialah unta, sapi, dan kambing.
Demikianlah menurut Abul Hasan dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa demikian pula menurut pengertian orang-orang Arab.

Ibnu Umar dan Ibnu Abbas serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang menyimpulkan dalil dari ayat ini akan bolehnya janin ternak bila dijumpai dalam keadaan mati dalam perut induknya yang disem­belih.
Sehubungan dengan masalah ini terdapat sebuah hadis di dalam kitab-kitab sunnah yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam Turmuzi.
dan Imam Ibnu Majah melalui jalur Mujalid, dari Abul Wa­dak Jubair ibnu Naufal.
dari Abu Sa'id yang mengatakan:

Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, bila kami menyembelih unta, sapi.
atau kambing yang di dalam perutnya terdapat janin, apa­kah kami harus membuangnya atau kami boleh memakannya?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Makanlah, jika kalian suka, karena sesungguhnya sembelihan janin itu mengikut kepada sembelihan induknya."

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.

Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya ibnu Faris, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Attab ibnu Ba-syir, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Abu Ziyad Al-Qaddah Al-Makki, dari Abuz Zubair, dari Jabir ibnu Abdullah, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Sembelihan janin mengikut kepada sembelihan induknya.

Hadis diriwayatkan secara munfarid oleh Imam Abu Daud.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...kecuali yang akan dibacakan kepada kalian.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang di­maksud dengan hal yang akan dibacakan ialah bangkai, darah, dan daging babi.
Sedangkan menurut Qatadah, yang dimaksud adalah bangkai dan hewan yang disembelih tanpa menyebut asma Allah pa­danya.
Menurut lahiriahnya —hanya Allah yang lebih mengetahui— hal yang dimaksud ialah apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

Diharamkan bagi kalian (memakan) bangkai, darah, daging ba­bi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, (Al Maidah:3)

Karena sesungguhnya sekalipun hal yang disebutkan termasuk bina­tang ternak, tetapi menjadi haram karena adanya faktor-faktor terse­but.
Dalam ayat berikutnya disebutkan:

kecuali yang sempat kalian menyembelihnya, dan (diharamkan bagi kalian) yang disembelih untuk berhala.
(Al Maidah:3)

Binatang yang diharamkan antara lain hewan yang disembelih untuk berhala.
Sesungguhnya hewan yang demikian diharamkan sama sekali dan tidak dapat ditanggulangi serta tidak ada jalan keluar untuk menghalalkannya.
Karena itulah pada permulaan surat ini disebutkan:

Dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan di­bacakan kepada kalian.
(Al Maidah:1)

Yaitu kecuali apa yang akan dibacakan kepada kalian pengharaman­nya dalam keadaan tertentu.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...(Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang mengerjakan haji.

Menurut sebagian ulama, lafaz gaira dibaca nasab karena menjadi hal.
Makna yang dimaksud dengan an'am ialah binatang ternak yang pada umumnya jinak, seperti unta, sapi, dan kambing.
Juga binatang yang pada umumnya liar, seperti kijang, banteng, dan kuda zebra.
Maka hal-hal tersebut di atas dikecualikan dari binatang ternak yang jinak, dan dikecualikan dari jenis yang liar ialah haram memburunya di saat sedang melakukan ihram.

Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah Kami menghalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali apa yang dikecuali­kan darinya bagi orang yang mengharamkan berburu secara tetap, pa­dahal binatang tersebut hukumnya haram, karena ada firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan:

Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa memakannya de­ngan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(An Nahl:115)

Artinya, Kami halalkan memakan bangkai bagi orang yang dalam ke­adaan terpaksa memakannya, tetapi dengan syarat ia tidak dalam ke­adaan memberontak, juga tidak melampaui batas.
Demikian pula ke­tentuan tersebut berlaku dalam ayat ini (surat Al-Maidah).
Yakni se­bagaimana Kami halalkan binatang ternak dalam semua keadaan, ma­ka mereka diharamkan berburu dalam keadaan berihram.
Sesungguhnya Allah telah memutuskan demikian, Dia Mahabijaksana dalam se­mua yang diperintahkan dan yang dilarang-Nya.
Karena itulah dalam firman Selanjutnya disebutkan:

Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang di-kehendaki-Nya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Maa'idah (5) Ayat 1

AN'AAM
أَنْعَٰم

Lafaz ini adalah bentuk jamak, mufradnya ialah an na'am, bermakna al ibl (unta) yang banyak manfaat dan kegunaannya. An'aam berarti al baha'im (hewan atau binatang­ binatang). Kerbau, sapi dan kambing bisa disebut sebagai an'aam.'

Al Fayruz Abadi berkata,
"Tidak dikatakan an'aam sehingga jumlah manfaatnya sama seperti unta. Namun begitu, ia bersifat umum yang mencakup unta dan laln-lainnya."

Al Farra berkata,
"Al An'aam adalah lafaz mudzakkar dan tidak dimuannatskan seperti pada contoh haadzaa na'amun waridun artinya "Ini hewan ternak yang diimport."

Lafaz an'aam disebut sebanyak 32 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 14;
-An Nisaa (4), ayat 119;
-Al Maa'idah (5), ayat 1;
-Al An'aam (6), ayat 136, 138, 138, 138, 139, 142;
-Al A'raaf (7), ayat 179;
-Yunus (10), ayat 24;
-An Nahl (16), ayat 5, 66, 80;
-Tha Ha (20), ayat 54;
-Al Hajj (22), ayat 28, 30, 34;
-Al Mu'minuun (23), ayat 21;
-Al Furqaan (25), ayat 44, 49;
-Asy Syu'araa (26), ayat 133;
-As Sajadah (32), ayat 27;
-Faathir (35), ayat 28;
-Yaa Siin (36), ayat 71;
-Az Zumar (39), ayat 6;
-Al Mu'min (40), ayat 79;
-Asy Syu'araa (42), ayat 11;
-Az Zukhruf (43), ayat 12;
-Muhammad (47), ayat 12;
-An Naazi'at (79), ayat 33;
-'Abasa (80), ayat 32.

Lafaz an'aam di dalam Al Qur'an mencakup hewan-hewan ternak seperti unta, sapi dan kambing. la bersesuaian dengan pendapat para mufassir.

Al Baidawi berkata,
"Al an'aam bermakna unta, sapi dan kambing."

Al Alusi berkata,
la mencakupi unta, sapi dan kambing, dan dinamakan ia seperti itu karena jalannya perlahan dan kelembutannya."

Begitu juga pendapat Ibn Qutaibah, Al Fayruz Abadi dan ulama lain.

At Tabari berkata,
"Al an'aam ialah delapan ekor hewan ternak yang disebut dalam surah Al An'aam yaitu dua kambing biri-biri jantan dan betina, dua ekor kambing biasa jantan dan betina, jantan dan betina dari unta dan sapi."

Kesimpulannya, lafaz an'aam bermakna hewan-hewan ternak.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:52

Informasi Surah Al Maa'idah (المائدة)
Surat Al Maa-idah terdiri dari 120 ayat termasuk golongan surat Madaniyyah.
Sekalipun ada ayatnya yang turun di Mekah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, yaitu di waktu haji wadaa'

Surat ini dinamakan "Al Maa-idah" (hidangan), karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi 'Isa 'alaihis salam meminta kepada Nabi 'Isa 'alaihis salam, agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa-idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Dan dinamakan dengan "Al Uqud" (perjan­jian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, di mana Allah menyuruh agar hamba­ hamba-Nya memenuhi janji prasetia terhadap Allah dan perjanjian-perjanjian yang mereka buat sesamanya.

Dinamakan juga "Al Munqidz" (yang menyelamatkan), karena akhir surat ini mengandung kisah tentang Nabi 'Isa 'alaihis salam penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah.

Keimanan:

Bantahan terhadap orang-orang yang mempertuhankan Nabi 'Isa a.s.

Hukum:

Keharusan memenuhi perjanjian
hukum melanggar syi'ar Allah
makanan yang di­halalkan dan yang diharamkan
hukum mengawini wanita ahli kitab
wudhu
tayammum
mandi
hukum membunuh orang
hukum mengacau dan mengganggu keamanan
hukum qishaas
hukum melanggar sumpah dan kafaaratnya
hukum khamar
berjudi
berkorban untuk berhala
mengundi nasib
hukum membunuh binatang waktu ihram
hukum persaksian dalam berwasiat.

Kisah:

Kisah-kisah Nabi Musa a.s. menyuruh kaumnya memasuki Palestina
kisah Habil dan Qabil, kisah-kisah tentang Nabi 'Isa a.s

Lain-lain:

Keharusan bersikap lemah lembut terhadap sesama mu'min bersikap keras terhadap orang-orang kafir
penyempurnaan Agama Islam di zaman Nabi Muhammad ﷺ
keharusan jujur dan berlaku adil
sikap dalam menghadapi berita-berita bohong
akibat berteman akrab dengan orang yang bukan muslim
kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi
kewajiban rasul hanya menyampaikan agama
sikap Yahudi dan Nasrani terhadap orang Islam
Ka'bah sokoguru kehidupan manusia
peringat­an Allah supaya meninggalkan kebiasaan Arab Jahiliyah
larangan-larangan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mengakibatkan kesempitan dalam agama.


Gambar Kutipan Surah Al Maa’idah Ayat 1 *beta

Surah Al Maa'idah Ayat 1



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Maa'idah

Surah Al-Ma'idah (bahasa Arab:المآئدة, al-Mā'idah, "Jamuan Hidangan") adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 120 ayat dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Sekalipun ada ayat-ayatnya yang turun di Mekkah, namun ayat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yakni sewaktu peristiwa Haji Wada'.
Surah ini dinamakan Al-Ma'idah (hidangan) karena memuat kisah para pengikut setia nabi Isa meminta kepada nabi Isa agar Allah menurunkan untuk mereka Al-Ma'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112).
Selain itu, Surah Al-Ma'idah juga disebut Al-Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surah ini, di mana Allah menyuruh agar hamba-hamba-Nya memenuhi janji terhadap Allah maupun perjanjian-perjanjian yang mereka buat terhadap sesamanya.
Dinamakan juga Al-Munqidz (yang menyelamatkan), sebab pada bagian akhir surah ini memuat kesaksian Isa Al-Masih terhadap kaum pengikutnya.

Nomor Surah5
Nama SurahAl Maa'idah
Arabالمائدة
ArtiJamuan (hidangan makanan)
Nama lainAl-'Uqud (bermakna perjanjian dan kesepakatan) dan Al-Munqidz (bermakna yang menyelamatkan).
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu112
JuzJuz 6 (ayat 1-82), juz 7 (ayat 83-120)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat120
Jumlah kata2842
Jumlah huruf12207
Surah sebelumnyaSurah An-Nisa'
Surah selanjutnyaSurah Al-An'am
4.7
Rating Pembaca: 4.7 (29 votes)
Sending