QS. Al Lail (Malam) – surah 92 ayat 19 [QS. 92:19]

وَ مَا لِاَحَدٍ عِنۡدَہٗ مِنۡ نِّعۡمَۃٍ تُجۡزٰۤی
Wamaa ahadin ‘indahu min ni’matin tujza;

padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
―QS. 92:19
Topik ▪ Takwa ▪ Ikhlas dalam berbuat ▪ Azab orang kafir
92:19, 92 19, 92-19, Al Lail 19, AlLail 19, Al-Lail 19

Tafsir surah Al Lail (92) ayat 19

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Lail (92) : 19. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang yang bertakwa membantu orang lain bukan karena orang itu berjasa kepadanya yang karena itu ia perlu membalasnya.
Ia membantu orang itu semata-mata karena mengharapkan rida dan surga Allah di akhirat.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Menurut orang yang menginfakkan hartanya ini, tidak ada seorang pun yang berhak untuk memberikan nikmat dan ganjaran baginya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,)

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu.
(Q.S. Al-Lail [92]: 17)

Yakni kelak akan dijauhkan dari neraka orang yang bertakwa dan orang yang paling bertakwa, kemudian dijelaskan oleh firman berikutnya siapa yang dimaksud dengan orang yang bertakwa itu:

(yaitu) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.
(Q.S. Al-Lail [92]: 18)

Yaitu membelanjakan hartanya untuk jalan ketaatan kepada Tuhannya, untuk mensucikan dirinya, hartanya dan segala apa yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya berupa agama dan dunia.

padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.
(Q.S. Al-Lail [92]: 19)

Maksudnya, pembelanjaan yang dikeluarkannya itu bukanlah untuk membalas jasa kebaikan yang pernah diberikan oleh orang lain kepadanya, melainkan dia mengeluarkannya hanya semata-mata.

tetapi semata-mata karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi.
(Q.S. Al-Lail [92]: 20)

Yakni hanyalah semata-mata karena mengharapkan untuk dapat melihat Allah di negeri akhirat di dalam taman-taman surga.
Lalu disebutkan dalam firman berikutnya:

Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.
(Q.S. Al-Lail [92]: 21)

Artinya, orang yang menyandang sifat-sifat ini niscaya akan mendapat kepuasan.
Banyak kalangan ulama tafsir menyebutkan bahwa ayat-ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Bakar As-siddiq r.a.
sehingga sebagian dari mereka ada yang meriwayatkannya sebagai suatu kesepakatan di kalangan ulama tafsir.

Dan memang tidak diragukan lagi dia termasuk ke dalamnya.
sebagaimana termasuk pula ke dalam pengertiannya seluruh umat ini bila ditinjau dari pengertian umumnya, mengingat lafaznya memakai lafaz yang mengandung pengertian umum, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, (yaitu orang) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan dirinya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanyayang harus dibalasnya.
(Q.S. Al-Lail [92]: 17-19)

Akan tetapi, Abu Bakar r.a.
merupakan orang yang diprioritaskan dari kalangan umat ini, dan dia adalah pendahulu mereka dalam menyandang sifat-sifat ini dan sifat-sifat terpuji lainnya.
Dia adalah seorang yang berpredikat siddiq, bertakwa, mulia, lagi dermawan, banyak membelanjakan hartanya di jalan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menolong Rasul-Nya.

Berapa banyak uang dinar dan dirham yang telah dibelanjakan Abu Bakar demi mengharapkan rida Tuhannya Yang Mahamulia, padahal tiada seorang pun yang berjasa baginya hingga perlu untuk ia balas jasanya itu dengan imbalan pemberian.
Bahkan kemurahan dan kebaikannya juga menyentuh para pemimpin, dan orang-orang yang terhormat dari kalangan berbagai kabilah.

Karena itulah Urwah ibnu Mas’ud pemimpin Bani Saqif ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah mengatakan kepada Abu Bakar, “Ingatlah, demi Allah, seandainya saja aku tidak teringat akan jasamu padaku yang masih belum terbalaskan, tentulah aku akan meladenimu,” tersebutlah bahwa Abu Bakar r.a.
bersikap kasar terhadapnya dalam menyambutnya.
Untuk itu apabila keadaan Abu Bakar sangat disegani di kalangan para penghulu orang Arab dan para pemimpinnya, maka terlebih lagi orang-orang yang selain mereka, lebih segan kepadanya karena kebaikan dan kedermawanannya.
Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

Padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi.
(Q.S. Al-Lail [92]: 19-20)

Di dalam hadis sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang membelanjakan sepasang barang dijalan Allah, maka para malaikat penjaga surga memanggilnya, “Hai hamba Allah, inilah yang baik.” Maka Abu bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah merupakan suatu keharusan bagi seseorang (yang masuk surga) dipanggil dari pintunya, dan apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu surga (untuk memasukinya)?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Ya ada, dan aku berharap semoga engkau termasuk seseorang dari mereka (yang dipanggil masuk surga dari semua pintunya).


Informasi Surah Al Lail (اليل)
Surat Al Lail terdiri atas 21 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah diturunkan sesudah surat Al A’laa.

Surat ini dinamai “Al Lail” (malam), diambil dari perkataan “Al Lail” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Keimanan:

Usaha manusia itu berlainan, karena itu balasannya berlainan pula
orang yang suka berderma, bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang baik dimudahkan Allah baginya melakukan kebaikan yang membawa kepada kebahagiaan di akhirat, tetapi orang yang dimudahkan Allah baginya melakukan kejahatan-kejahatan yang membawa kepada kesengsaraan di akhirat, harta benda tidak akan memberi manfaat kepadanya
orang yang bakhil merasa dirinya cukup dan mendustakan adanya pahala yang baik.

Lain-lain:

Usaha manusia itu berlainan, karena itu balasannya berlainan pula
orang yang suka berderma, bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang baik dimudahkan Allah baginya melakukan kebaikan yang membawa kepada kebahagiaan di akhirat, tetapi orang yang dimudahkan Allah baginya melakukan kejahatan-kejahatan yang membawa kepada kesengsaraan di akhirat, harta benda tidak akan memberi manfaat kepadanya
orang yang bakhil merasa dirinya cukup dan mendustakan adanya pahala yang baik.

Ayat-ayat dalam Surah Al Lail (21 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Lail (92) ayat 19 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Lail (92) ayat 19 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Lail (92) ayat 19 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Lail (92) ayat 1-21 - Karissa Sakyakirti (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Lail (92) ayat 1-21 - Karissa Sakyakirti (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Lail - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 21 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 92:19
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Lail.

Surah Al-Lail (bahasa Arab:الّيل, al-Layl, "Malam") adalah surah ke-92 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 21 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah, diturunkan sesudah Surah Al-A’la.
Surat ini dinamai Al Lail (malam), diambil dari perkataan Al Lail yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 92
Nama Surah Al Lail
Arab اليل
Arti Malam
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 9
Juz Juz 30
Jumlah ruku' 1 ruku'
Jumlah ayat 21
Jumlah kata 71
Jumlah huruf 316
Surah sebelumnya Surah Asy-Syams
Surah selanjutnya Surah Ad-Duha
4.8
Ratingmu: 4.6 (8 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta