Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 90 [QS. 18:90]

حَتّٰۤی اِذَا بَلَغَ مَطۡلِعَ الشَّمۡسِ وَجَدَہَا تَطۡلُعُ عَلٰی قَوۡمٍ لَّمۡ نَجۡعَلۡ لَّہُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہَا سِتۡرًا
Hatta idzaa balagha mathli’asy-syamsi wajadahaa tathlu’u ‘ala qaumin lam naj’al lahum min duunihaa sitran;

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu,
―QS. 18:90
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah Zulqarnain ▪ Keluasan ilmu Allah
18:90, 18 90, 18-90, Al Kahfi 90, AlKahfi 90, Al-Kahf 90

Tafsir surah Al Kahfi (18) ayat 90

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 90. Oleh Kementrian Agama RI

Setelah ia sampai ke pantai Afrika sebelah barat itu, lalu ia kembali menuju ke arah timur sehingga sampailah ia ke tempat terbitnya matahari di sekitar negeri Tiongkok di mana ia menjumpai segolongan umat manusia yang hidupnya tidak di bawah bangunan rumah dan tidak ada pula pohon-pohon menaunginya dari panasnya matahari.
Mereka langsung mendapat sorotan cahaya matahari karena tidak terlindung oleh atap atau bukit-bukit yang berada di sekitarnya Mereka pada siang hari berada dalam lubang lubang di bawah tanah dan baru muncul di atas permukaan bumi setelah matahari terbenam, untuk mencari kehidupannya.
Keadaan mereka jauh berbeda sekali dengan penghuni dunia yang lainnya, karena mereka hidupnya telanjang dan tidak mempunyai bangunan untuk tempat tinggal.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hingga akhirnya ia sampai di tempat matahari terbit–dalam pandangan mata, yaitu pada batas akhir perkampungan.
Dia mendapati matahari menyinari suatu kaum yang hidup dengan fitrah asli mereka, tidak ada penutup yang menghalangi mereka dari sengatan panas matahari.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbitnya matahari) tempat matahari terbit (dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat) mereka adalah bangsa Zunuj atau orang-orang Indian (yang Kami tidak menjadikan bagi mereka dari sinarnya) yaitu dari sinar matahari (sesuatu yang melindunginya) baik berupa pakaian atau pun atap-atap.
Karena sesungguhnya tanah tempat mereka tinggal tidak dapat menopang bangunan, dan mereka hanya mempunyai tempat perlindungan berupa liang-liang, di tempat tersebut mereka masuk bila matahari terbit, dan bila matahari telah tinggi baru mereka keluar dari liang-liang itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hingga ketika dia telah sampai di tempat terbit matahari, dia melihat matahari terbit menyinari suatu kaum yang tidak memiliki bangunan yang dapat melindungi mereka, dan tidak pula memiliki pepohonan yang dapat menaungi mereka dari terik matahari.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Di dalam kisah Israiliyat disebutkan bahwa Zulqarnain hidup selama seribu enam ratus tahun, sebagian besar usianya digunakannya untuk menjelajah minangkori ke seluruh belahan bumi, hingga sampai di belahan timur dan baratnya.
Ketika perjalanannya sampai di tempat terbitnya matahari, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

…dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang menghalanginya dari (cahaya) matahari itu.

Maksudnya mereka tidak mempunyai rumah untuk tempat istirahatnya, dan tidak ada pepohonan yang menjadi naungan mereka dari sengatan panas matahari yang sangat panas.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa mereka berkulit merah lagi bertubuh pendek, tempat tinggal mereka di gua-gua, sedangkan penghidupan mereka dari berburu ikan.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Abu Silt, bahwa ia pernah mendengar Al-Hasan ditanya mengenai makna firman-Nya:

…yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.
Maka Al-Hasan menjawab, “Tanah tempat tinggal mereka tidak dapat menyangga bangunan.
Apabila matahari terbit, mereka masuk ke dalam air (menyelam): dan apabila matahari tenggelam, mereka keluar dan merumput sebagaimana hewan ternak.” Al-Hasan mengatakan bahwa demikian itu menurut hadis Samurah.

Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada Kami bahwa mereka tinggal di suatu tempat dari belahan bumi ini yang tanahnya tidak dapat menumbuhkan sesuatu pun bagi mereka.
Apabila matahari terbit, mereka masuk ke dalam liang-liangnya, dan apabila matahari tenggelam, mereka keluar dan mencari penghidupannya.

Salamah ibnu Kahil mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai tempat bersembunyi, apabila matahari terbit, maka sinar matahari langsung mengenai mereka.
Seseorang dari mereka mempunyai dua telinga lebar, yang salah satunya digunakan untuk hamparannya, sedangkan yang lain digunakan untuk pakaiannya (selimutnya).

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.
(Al Kahfi:90) Bahwa mereka adalah orang-orang Indian.

Ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan tafsir firman-Nya:

…dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.
Bahwa mereka sama sekali tidak pernah membuat bangunan apa pun padanya, Zulqarnain tidak membangun suatu bangunan pun padanya.
Mereka itu apabila matahari terbit, masuklah mereka ke dalam liang-liang tempat tinggalnya, hingga matahari berada di tengah langit, atau mereka masuk ke dalam laut.
Demikian itu karena tanah tempat tinggal mereka tidak berbukit.
Suatu ketika datanglah sejumlah pasukan ke tempat mereka, maka para penduduknya berkata kepada pasukan itu, “Janganlah kamu berada di tempat ini ketika matahari dalam keadaan terbit.” Pasukan itu berkata, “Kami tidak akan meninggalkan tempat ini sampai matahari terbit, tetapi apakah tulang-tulang ini?.” Para penduduk tempat itu berkata,”Ini adalah bekas bangkai suatu pasukan yang berada di tempat ini saat matahari sedang terbit, akhirnya mereka semua mati kepanasan.” Ibnu Jarir melanjutkan kisahnya, bahwa akhirnya pasukan itu lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu menuju kawasan lainnya.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Kahfi (18) Ayat 90

SITR
سِتْر

Lafaz ini adalah mashdar daripada lafaz satara yang mengandung beberapa makna, diantaranya ialah apa yang ditutupi yaitu al­ hayaa’ (malu), akal, dan ketakutan.

Ungkapan Ma lahu sitr wala hijr bermakna “Ia tidak memiliki rasa malu dan akal'”

Jamak bagi sitr adalah sutitr atau astar. Lafaz sitr disebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Kahfi (18), ayat 90.

Al Qurtubi berkata,
“Makna sitr ialah penutup yang menutupi dari sinaran matahari ketika terbit.”

Lafaz ini dikaitkan dengan satu kaum atau kelompok.

Qatadah berpendapat, tidak ada antara mereka dan matahari penutup; mereka di suatu tempat yang tidak dibina di atasnya bangunan, tetapi mereka berada di lubang-lubang bawah tanah, apabila matahari terbenam, mereka keluar untuk mencari mata pencarian, maknanya mereka tidak tinggal di gua-gua gunung dan tidak pula di rumah-rumah yang melindungi mereka dari sinar matahari.

Al Hasan berkata,
“Bumi mereka tidak ada gunung dan pepohonan, dan tidak pula dibina di atasnya bangunan. Apabila matahari terbit, mereka turun ke air dan apabila matahari naik (tenggelam) mereka keluar dan mencari makanan seperti haiwan.”

Sa’id bin Jubair berkata,
“Mereka berkulit coklat dan rendah, rumah-rumah mereka adalah tempat yang selalu dialiri air dan penghidupan mereka ialah ikan”

Kesimpulannya, makna sitr di dalam Al Qur’an adalah penutup yang dapat melindungi dari panas matahari, sedangkan yang diartikan kaum di sini adalah kaum yang hidup di lubang-lubang bawah tanah atau air. Tidak ada rumah atau bangunan atau gunung atau pohon yang melindungi mereka dari panas matahari dan apabila matahari terbit, mereka masuk ke dalam persembunyian mereka dan apabila terbenam, mereka mencari nafkah.

Ism maf’ulnya adalah mastur yang bermakna tertutup. Ia juga bermakna yang suci, bersih dan jujur.

Lafaz ini di­ sebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Israa (17), ayat 45. Lafaz ini didahulukan sebutannya dengan lafaz hijaab.

Az Zamakhsyari berkata,
ia bermakna tabir sebagai penutup.

Ada yang berkata,
tirai yang tidak dilihat dan ia tertutup. Bisa juga ia bermakna tabir yang dilapisi dengan penutup, maknanya ia tertutup dengan yang lainnya, tabir yang menutupi atau dapat dilihat. Bagaimana orang yang ditutupi dapat melihat, ini adalah penceritaan terhadap apa yang mereka katakan, “Dan mereka berkata,
‘Hati kami tertutup daripada apa yang engkau seru kami kepadanya, dan pada telinga kami ada penyumbat, serta di antara kami denganmu ada sekatan.”

Seakan-akan Allah berfirman, ”Apabila engkau membaca Al Qur’an, kami menjadi­kan sangkaan mereka berusaha untuk me­mahaminya padahal mereka benci terhadapnya. Atau karena perkataan “di dalam hati kami ada penutup” mengandung makna meng­halang untuk memahami, seakan-akan di­ katakan, “Kami menghalang mereka untuk memahaminya.” yaitu penutup yang ter­sembunyi yang menghalang mereka bagi me­mahami Al Qur’an dan mengetahui rahasia­ rahasia dan hikmah-hikmahnya.

Jadi, makna lafaz hijaban masturan ada­lah tabir yang menutupi atau menghalangi dari memahami Al Qur’an.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:299-300

Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al Kahfi” artinya “Gua ” dan “Ashhabul Kahfi” yang artinya:
“Penghuni-penghuni gua”.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i’tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur’an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca “Insya Allah”
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima’afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu’min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya’juj dan Ma’juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Audio

Qari Internasional

Al Kahfi (18) ayat 90 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Al Kahfi (18) ayat 90 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Al Kahfi (18) ayat 90 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al Kahfi - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full 110 Ayat & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah18
Nama SurahAl Kahfi
Arabالكهف
ArtiPenghuni-penghuni Gua
Nama lainAl-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu69
JuzJuz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat110
Jumlah kata1589
Jumlah huruf6550
Surah sebelumnyaSurah Al-Isra'
Surah selanjutnyaSurah Maryam
4.7
Ratingmu: 4.7 (11 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/18-90









Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta