QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 70 [QS. 18:70]

قَالَ فَاِنِ اتَّبَعۡتَنِیۡ فَلَا تَسۡـَٔلۡنِیۡ عَنۡ شَیۡءٍ حَتّٰۤی اُحۡدِثَ لَکَ مِنۡہُ ذِکۡرًا
Qaala fa-iniittaba’tanii falaa tasalnii ‘an syai-in hatta uhditsa laka minhu dzikran;

Dia berkata:
“Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.
―QS. 18:70
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah nabi Khidir as. ▪ Allah memiliki Sifat Kalam (berfirman)
18:70, 18 70, 18-70, Al Kahfi 70, AlKahfi 70, Al-Kahf 70

Tafsir surah Al Kahfi (18) ayat 70

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 70. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Al Khidir dapat menerima Musa as dengan pesan: “Jika kamu (Nabi Musa) berjalan bersamaku (Al Khidir) maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu duduk persoalannya.
Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu perbuatan itu yang tidak dapat kau benarkan hingga aku sendiri yang mulai menyebutnya untuk menerangkan keadaan yang sebenarnya.

Nabi Musa mau menerima syarat itu, memang sebenarnya sikap Nabi Musa yang demikian itu merupakan tata sopan seseorang, yang terpelajar terhadap cendekiawan, sikap tata sopan murid dengan gurunya atau sikap pengikut dengan yang diikutinya.
Sebab kadang-kadang rahasia guru atau orang yang diikuti belum tentu dipahami oleh murid atau pengikutnya ketika itu juga, tetapi baru dapat dipahami kelak di kemudiannya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hamba saleh itu berkata lagi, “Kalau kamu mengikuti aku, lalu melihat sesuatu yang tidak kau sukai, jangan bertanya tentang hal itu sebelum aku sendiri menjelaskannya kepadamu.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dia mengatakan, “Jika kamu ingin mengikuti saya, maka janganlah kamu menanyakan kepada saya) Dalam satu qiraat dibaca dengan Lam berbaris fatah dan Nun bertasydid (tentang sesuatu) yang kamu ingkari menurut pengetahuanmu dan bersabarlah kamu jangan menanyakannya kepadaku (sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu)” hingga aku menuturkan perihalnya kepadamu berikut sebab musababnya.

Lalu Nabi Musa menerima syarat itu, yaitu memelihara etika dan sopan santun murid terhadap gurunya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Khidhir pun setuju, dan mengatakan kepadanya :
Jika kamu mengikutiku, maka janganlah bertanya kepadaku tentang sesuatu pun yang kamu pungkiri, hingga aku sendiri yang akan menjelaskan kepadamu tentang perkara yang tidak kamu ketahui tanpa pertanyaan darimu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dia berkata, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun.”

Yakni memulai menanyakannya.

s…ampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.

Yaitu aku sendirilah yang akan menjelaskannya kepadamu, sebelum itu kamu tidak boleh mengajukan suatu pertanyaan pun kepadaku.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Jubair, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, dari Harun, dari Ubaidah, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Musa ‘alaihis salam bertanya kepada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, hamba-hamba-Mu yang manakah yang paling disukai olehmu?”
Allah subhanahu wa ta’ala menjawab, “Orang yang selalu ingat kepada-Ku dan tidak pernah melupakan Aku.” Musa bertanya, “Siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling adil?”
Allah menjawab, “Orang yang memutuskan (perkara) dengan hak dan tidak pernah memperturutkan hawa nafsunya.” Musa bertanya, “Wahai Tuhanku, siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling alim?”
Allah berfirman, “Orang yang rajin menimba il­mu dari orang lain dengan tujuan untuk mencari suatu kalimah yang da­pat memberikan petunjuk ke jalan hidayah untuk dirinya, atau menyelamat­kan dirinya dari kebinasaan.” Musa bertanya, “Wahai Tuhanku, apakah di bumi-Mu ini ada sese­orang yang lebih alim daripada aku?”
Allah berfirman, “Ya, ada.” Musa bertanya, “Siapakah dia?”
Allah berfirman, “Dialah Khidir.” Musa berta­nya, “Di manakah saya harus mencarinya?”
Allah berfirman, “Di pantai di dekat sebuah batu besar tempat kamu akan kehilangan ikan padanya.” Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Musa berangkat men­carinya, dan kisah selanjutnya adalah seperti apa yang telah disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam kitab-Nya, hingga akhirnya sampailah Musa di dekat batu besar itu.
Ia bersua dengan Khidir, masing-masing dari kedua­nya mengucapkan salam kepada yang lainnya.
Musa berkata kepadanya, “Sesungguhnya saya suka menemanimu.” Khidir menjawab, “Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup sabar bersa­maku.” Musa berkata, “Tidak, saya sanggup.” Khidir berkata, “Jika ka­mu menemaniku:

…maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa Khidir membawa Musa be­rangkat menempuh jalan laut, hingga sampailah ke tempat bertemunya dua buah lautan, tiada suatu tempat pun yang airnya lebih banyak daripada tempat itu.
Kemudian Allah mengirimkan seekor burung pipit, lalu burung pipit itu menyambar seteguk air dengan paruhnya.
Khidir berkata kepada Musa, Berapa banyakkah air yang disambar oleh burung pipit ini menurut­mu?”
Musa menjawab, “Sangat sedikit.” Khidir berkata, “Hai Musa, sesungguhnya ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah, sama dengan apa yang diambil oleh burung pipit itu dari lautan ini.” Sebelum peristiwa ini pernah terdetik di dalam hati Musa bahwa tiada seorang pun yang lebih alim daripada dia.
Atau Musa pernah me­ngatakan demikian.
Karena itulah maka Allah memerintahkan kepadanya untuk mendatangi Khidir.
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya ini menyang­kut pelubangan perahu, pembunuhan terhadap seorang anak muda, dan pembetulan dinding yang akan runtuh, serta takwil dari semua perbuatan tersebut.


Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al Kahfi” artinya “Gua ” dan “Ashhabul Kahfi” yang artinya:
“Penghuni-penghuni gua”.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i’tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur’an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca “Insya Allah”
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima’afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu’min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya’juj dan Ma’juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 70 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 70 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 70 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Kahfi - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 110 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 18:70
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Kahfi.

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah 18
Nama Surah Al Kahfi
Arab الكهف
Arti Penghuni-penghuni Gua
Nama lain Al-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 69
Juz Juz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 110
Jumlah kata 1589
Jumlah huruf 6550
Surah sebelumnya Surah Al-Isra'
Surah selanjutnya Surah Maryam
4.5
Ratingmu: 4.3 (29 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim