QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 61 [QS. 18:61]

فَلَمَّا بَلَغَا مَجۡمَعَ بَیۡنِہِمَا نَسِیَا حُوۡتَہُمَا فَاتَّخَذَ سَبِیۡلَہٗ فِی الۡبَحۡرِ سَرَبًا
Falammaa balaghaa majma’a bainihimaa nasiyaa huutahumaa fa-attakhadza sabiilahu fiil bahri saraban;

Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.
―QS. 18:61
Topik ▪ Kerendahan dunia
18:61, 18 61, 18-61, Al Kahfi 61, AlKahfi 61, Al-Kahf 61

Tafsir surah Al Kahfi (18) ayat 61

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 61. Oleh Kementrian Agama RI

mereka berhenti.
Tetapi tidak tahu bahwa tempat itulah yang harus dituju.
Sebab Allah tidak memberi tahu dengan pasti tempat itu.
Hanya saja Allah memberi petunjuk ketika ditanya oleh Nabi Musa sebelum berangkat, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ ketika menceritakan pertanyaan Nabi Musa itu:

“Ya Tuhanku, bagaimana saya dapat menemukan tempat itu?
Titah Allah: “Bawalah seekor ikan yang kamu masukkan pada sebuah kampil, manakala ikan itu hilang, di situlah tempatnya”

(Tafsir Ibnu Kasir)

Pada sebuah batu besar di tempat itu, keduanya merasa mengantuk dan lelah.

Keduanya pun tertidur.
Merekapun lalai akan ikannya.
Maka ketika itu ikan yang ada di dalam kampil itu hidup kembali dan menggelepar-gelepar dan keluar dari kampil itu dengan meluncur menuju ke laut Padahal kampil waktu itu ada di tangan Yusa’

Kejadian di atas yaitu ikan mati menjadi hidup kembali, adalah merupakan mukjizat bagi Nabi Musa as.
Setelah bangun tidur, mereka pun melanjutkan perjalanan.
Yusa’ pun lupa tidak menceritakan kepada Nabi Musa kejadian yang aneh tentang ikan yang sudah mati hidup kembali.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ketika Musa dan pembantunya tiba pada pertemuan dua laut, mereka lupa akan ikan yang mereka bawa atas perintah Allah.
Ikan itu jatuh ke laut dan pergi.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka tatkala keduanya sampai ke pertemuan dua buah laut itu) yakni tempat bertemunya kedua laut itu (mereka berdua lupa akan ikannya) Yusya’ lupa membawanya ketika berangkat, Nabi Musa pun lupa mengingatkannya (maka ia mengambil) yakni ikan itu melompat untuk mengambil (jalannya ke laut itu) Allahlah yang menjadikan jalan itu, yaitu dengan menjadikan baginya (dalam keadaan berlubang) seperti lubang bekasnya, yaitu lubang yang sangat panjang dan tak berujung.

Demikian itu karena Allah subhanahu wa ta’ala menahan arus air demi untuk ikan itu, lalu masuklah ikan itu ke dalamnya dengan meninggalkan bekas seperti lubang dan tidak terhapus karena bekasnya membeku.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Mereka bersungguh-sungguh dalam menempuh perjalanan.
Ketika mereka sampai di pertemuan dua buah lautan itu mereka duduk di atas batu besar dan mereka pun lalai ikan mereka yang diperintahkan kepada Musa agar dia bawa sebagai makanan untuk mereka.
Yusya membawa ikan itu dengan diletakkan di keranjang, tiba-tiba ikan itu menjadi hidup dan melompat ke laut, dan mengambil jalan terbuka untuknya di laut itu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya.

Demikian itu karena si murid tersebut di perintahkan oleh Musa untuk membawa ikan asin, dan dikatakan kepadanya bahwa manakala kamu kehilangan ikan itu, maka dia ada di tempat tersebut.

Keduanya berangkat hingga sampailah di tempat bertemunya dua laut, di tempat itu terdapat sebuah mata air yang disebut ‘Ainul Hayat’ (mata air kehidupan).
Di tempat itu keduanya (Musa dan muridnya) ter­tidur lelap dalam istirahatnya.
Ikan yang mereka bawa terkena oleh percikan mata air itu, maka ikan bergerak hidup kembali dalam kantong Yusya’ ibnu Nun (murid Nabi Musa ‘alaihis salam).
Lalu ikan melompat dari kantong itu dan menceburkan dirinya ke dalam laut.
Yusya’ terbangun, sedangkan ikan itu telah terjatuh ke dalam laut (tanpa sepengetahuannya), dan ikan menempuh jalannya di dalam laut, sedangkan air yang dilaluinya tidak bersatu lagi melainkan membentuk terowongan.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

…lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut (membentuk lubang).

Yakni membentuk jalan yang dilaluinya seperti terowongan dalam tanah.

Ibnu Juraij mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa jalan yang telah di­lalui oleh ikan itu seakan-akan membatu (keras dan tidak menutup seba­gaimana lazimnya benda cair).

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa tidak sekali-kali tubuh ikan itu menyentuh laut melainkan airnya menjadi kering hingga seperti batu bentuknya (bukan benda cair lagi).

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Az-Zuhri, dari Ubai-dillah ibnu Abdullah, dari Ibnu Abbas, dari Ubay ibnu Ka’b yang mengata­kan bahwa Rasulullah ﷺ ketika menceritakan kisah ini bersabda, “Air laut (yang telah dilalui ikan) itu sejak manusia ada tidak terbuka selain dari bekas yang dilalui oleh ikan itu.
Air laut itu terbuka seperti celah, hingga Musa kembali ke tempat itu dan melihat bekas jalan yang dilalui oleh ikan tersebut.” Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: Itulah (tempat) yang cari.
(Q.S. Al-Kahfi [18]: 64)

Qatadah mengatakan bahwa ikan itu melompat ke laut, lalu mengambil jalannya ke dalam laut.
Maka tiadalah bekas air laut yang dilaluinya me­lainkan menjadi beku dan membentuk terowongan.


Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al Kahfi” artinya “Gua ” dan “Ashhabul Kahfi” yang artinya:
“Penghuni-penghuni gua”.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i’tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur’an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca “Insya Allah”
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima’afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu’min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya’juj dan Ma’juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 61 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 61 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 61 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Kahfi - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 110 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 18:61
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Kahfi.

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah 18
Nama Surah Al Kahfi
Arab الكهف
Arti Penghuni-penghuni Gua
Nama lain Al-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 69
Juz Juz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 110
Jumlah kata 1589
Jumlah huruf 6550
Surah sebelumnya Surah Al-Isra'
Surah selanjutnya Surah Maryam
4.8
Ratingmu: 4.2 (10 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta