QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 57 [QS. 18:57]

وَ مَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنۡ ذُکِّرَ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ فَاَعۡرَضَ عَنۡہَا وَ نَسِیَ مَا قَدَّمَتۡ یَدٰہُ ؕ اِنَّا جَعَلۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ اَکِنَّۃً اَنۡ یَّفۡقَہُوۡہُ وَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرًا ؕ وَ اِنۡ تَدۡعُہُمۡ اِلَی الۡہُدٰی فَلَنۡ یَّہۡتَدُوۡۤا اِذًا اَبَدًا
Waman azhlamu mimman dzukkira biaayaati rabbihi fa-a’radha ‘anhaa wanasiya maa qaddamat yadaahu innaa ja’alnaa ‘ala quluubihim akinnatan an yafqahuuhu wafii aadzaanihim waqran wa-in tad’uhum ilal huda falan yahtaduu idzan abadan;

Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya?
Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka, dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.
―QS. 18:57
Topik ▪ Takdir ▪ Allah menggerakkan hati manusia ▪ Setiap nabi menerima ujian
18:57, 18 57, 18-57, Al Kahfi 57, AlKahfi 57, Al-Kahf 57

Tafsir surah Al Kahfi (18) ayat 57

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 57. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa menolak kebenaran adalah suatu aniaya yang sangat besar.
Allah telah memperingatkan dengan cara yang menyenangkan hati, yang berupa kabar gembira ataupun dengan cara ancaman, namun orang-orang kafir itu dan orang-orang musyrik itu tetap berkeras kepala, dan mengakui kekafiran dan perbuatan-perbuatan maksiat yang mereka kerjakan.

Dengan sikap keras kepala dan menolak kebenaran itu berarti mereka telah menganiaya dirinya sendiri dengan mengikuti hawa nafsunya.
Keaniayaan pada diri sendiri yang mereka lakukan itu mengundang hukuman Tuhan yang beruntun atas diri mereka.
Yaitu setelah mereka menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasul, merekapun lupa atas tindakan kekafirannya dan tindakan tindakan kemaksiatannya, yakni penolakan mereka terhadap kebenaran menyebabkan mereka lupa kepada tindakan-tindakan kemaksiatan yang dilakukan oleh kedua tangan mereka sendiri.

Kemudian kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh kedua tangannya itu menyebabkan mereka lupa atas kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan Allah kepadanya.
Akhirnya mereka sama sekali tidak dapat memikirkan lagi akibat apa yang akan menimpa diri mereka sendiri.
Hatinya telah membatu.
Tidak dapat memahami kebenaran yang manapun.
Seruan kebenaran syariat Islam tidak mereka dengar lagi, karena kian hari bertambah parahlah dia, sehingga obat apapun juga yang diberikan tidak akan dapat menolong lagi.
Ayat ini tepat betul pada beberapa orang musyrik Mekah yang mati dalam kekafiran.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tidak ada yang lebih zalim dari orang yang diberi nasihat dengan tanda-tanda kekuasaan Tuhannya, lalu tidak merenungkannya dan melupakan akibat maksiat yang diperbuatnya.
Oleh sebab kecenderungan mereka kepada kekufuran, Kami membuat hati mereka tertutup, sehingga mereka tidak dapat berpikir dan memperoleh cahaya.
Sedangkan pada telinga mereka Kami ciptakan ketulian, sehingga mereka tidak dapat mendengar dan memahami kebenaran.
Meskipun kamu mengajak mereka kepada agama yang benar, mereka tidak akan mendapat petunjuk selama watak mereka tetap seperti ini.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Rabbnya lalu dia berpaling daripadanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya) apa yang telah diperbuatnya berupa kekafiran dan kedurhakaan.

(Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka) penutup-penutup (hingga mereka tidak memahaminya) maksudnya, supaya mereka tidak dapat memahami Alquran, dengan demikian maka mereka tidak dapat memahaminya (dan di telinga mereka Kami letakkan sumbatan pula) yakni penyumbat sehingga mereka tidak dapat mendengarkannya (dan kendati pun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk) disebabkan adanya penutup dan sumbatan tadi (selama-lamanya).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Tidak ada seorang pun yang lebih zhalim daripada orang yang telah diberi nasihat dengan ayat-ayat Rabbnya yang terang, lalu ia berpaling darinya kepada kebatilannya, dan melupakan perbuatan-perbuatan buruk yang dikerjakan oleh kedua tangannya lalu tidak bertaubat darinya.
Sesungguhnya Kami telah meletakkan penutup atas hati mereka, sehingga mereka tidak bisa memahami al-Qur’an dan tidak mengetahui kebaikan yang terdapat di dalamnya.
Kami letakkan pula semacam sumbatan di telinga mereka, sehingga mereka tidak bisa mendengarnya dan tidak bisa memetik manfaatnya.
Jika kamu menyeru mereka kepada keimanan, niscaya mereka tidak akan memenuhi seruanmu, dan mereka tidak akan mendapat petunjuk kepadanya selama-lamanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa hamba Allah manakah yang lebih aniaya.
daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya, lalu dia berpaling darinya.
Yakni pura-pura melupakannya, berpaling darinya, tidak mau mendengar­kannya, tidak pula mempedulikannya.

…dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangan-nya?

berupa amal-amal yang buruk dan perbuatan-perbuatan yang jahat.

Sesungguhnya Kami telah meletakkan di atas hati mereka.

Yaitu hati orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Allah dan melupa­kan perbuatan jahat dirinya.

…tutupan (sehingga mereka tidak) memahaminya.

Yakni lapisan yang menutupi hati mereka, agar mereka tidak memahaminya Al-Qur’an ini dan keterangannya (hadis-hadis Nabi ﷺ).

…dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka.

Yaitu penyumbat yang bersifat abstrak, agar mereka tidak dapat mende­ngar petunjuk.

…dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, nisca­ya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.


Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al Kahfi” artinya “Gua ” dan “Ashhabul Kahfi” yang artinya:
“Penghuni-penghuni gua”.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i’tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur’an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca “Insya Allah”
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima’afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu’min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya’juj dan Ma’juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 57 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 57 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 57 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Kahfi - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 110 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 18:57
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Kahfi.

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah 18
Nama Surah Al Kahfi
Arab الكهف
Arti Penghuni-penghuni Gua
Nama lain Al-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 69
Juz Juz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 110
Jumlah kata 1589
Jumlah huruf 6550
Surah sebelumnya Surah Al-Isra'
Surah selanjutnya Surah Maryam
4.4
Ratingmu: 4.6 (20 orang)
Sending







Pembahasan ▪ al kahfi 57 ▪ Q S al kahfi 57

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta