QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 21 [QS. 18:21]

وَ کَذٰلِکَ اَعۡثَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اَنَّ السَّاعَۃَ لَا رَیۡبَ فِیۡہَا ۚ٭ اِذۡ یَتَنَازَعُوۡنَ بَیۡنَہُمۡ اَمۡرَہُمۡ فَقَالُوا ابۡنُوۡا عَلَیۡہِمۡ بُنۡیَانًا ؕ رَبُّہُمۡ اَعۡلَمُ بِہِمۡ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ غَلَبُوۡا عَلٰۤی اَمۡرِہِمۡ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَیۡہِمۡ مَّسۡجِدًا
Wakadzalika a’ tsarnaa ‘alaihim liya’lamuu anna wa’dallahi haqqun wa-annassaa’ata laa raiba fiihaa idz yatanaaza’uuna bainahum amrahum faqaaluuuubnuu ‘alaihim bunyaanan rabbuhum a’lamu bihim qaalal-ladziina ghalabuu ‘ala amrihim lanattakhidzanna ‘alaihim masjidan;

Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya.
Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata:
“Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”.
Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata:
“Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.
―QS. 18:21
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah Ashabul Kahfi ▪ Kekuasaan Allah
18:21, 18 21, 18-21, Al Kahfi 21, AlKahfi 21, Al-Kahf 21

Tafsir surah Al Kahfi (18) ayat 21

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 21. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan perkembangan mereka selanjutnya.
setelah Tamlikha pergi ke kota untuk berbelanja dengan membawa uang perak dan kawan-kawannya itu, tampaklah olehnya suasana kota Afasus jauh berbeda dan apa yang diperkirakannya dari teman-temannya.
Saat dia datang ke kota itu, ditemukannya rakyatnya sudah beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Hanya saja terjadi dalam masyarakatnya perpecahan, ada golongan yang beriman penuh kepada kejadian hari kiamat, ada pula golongan yang menjadi ragu-ragu terhadap hari kiamat itu.
Ada yang mengatakan kiamat itu dengan roh saja, ada pula yang mengatakan kiamat itu dengan roh dan jasad.

Maka kehadiran Tamlikha ke kota ini akan melenyapkan perpecahan itu dengan mengembalikan masyarakatnya kepada iman-iman yang sempurna kepada kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala

Sebagaimana Allah membangkitkan Ashabul Kahfi itu dari tidurnya, supaya mereka saling bertanya satu sama lain tentang diri mereka, sehingga keimanan mereka tambah sempurna, demikian pulalah Tuhan mempertemukan penduduk kota itu dengan Ashabul Kahfi, ketika mereka berselisih tentang masalah hari kiamat itu, sehingga karenanya perpecahan mereka akan menjadi lenyap dan keimanan mereka kepada kekuasaan Tuhan akan menjadi sempurna.
Dengan terjadinya pertemuan penduduk kota itu dengan Ashabul Kahfi, maka yakinlah mereka bahwa hari kiamat itu benar-benar akan terjadi dan bahwa manusia di waktu itu dibangkit dari kubur dengan tubuh dan rohnya, sebagai kebangkitan Ashabul Kahfi situ.

Menurut riwayat pangkal pertemuan mereka dengan Tamlikha itu sewaktu dia membayar makanan dan minuman dengan uang peraknya.
Pada uang perak itu terdapat gambar raja Decyanus.
Penjual bahan makanan itu menjadi heran dan kaget, karena itu mata uang logam tersebut kemudian dibawanya kepada pejabat di kota itu, lalu diadakanlah pemeriksaan terhadap Tamlikha.
Akhir dari pemeriksaan itu adalah ditunjukkannya gua itu dengan segala penghuninya.
Peristiwa ini menimbulkan kegemparan dalam masyarakat.
Rakyat dan rajanya menyaksikan keadaan yang luar biasa yang membawa mereka kepada persatuan, karena kesatuan keyakinan akan terjadinya hari berbangkit itu.
Golongan yang sebelumnya ragu-ragu terhadap hari kiamat, dengan persaksian mereka terhadap peristiwa ini, berubah dengan beriman dengan iman yang sempurna bahwa Allah subhanahu wa ta’ala itu kuasa menghidupkan orang yang sudah mati, mengembalikan jasad mereka sebagaimana bentuk semula ketika roh itu diambil.
Maka dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa dipertemukannya Ashabul Kahfi dengan penduduk kota Afasus itu supaya mereka mengetahui dengan yakin bahwa janji Allah itu benar-benar dan kedatangan hari kiamat (hari berbangkit) tidak ada keraguan lagi.

Setelah pertemuan antara raja, dan pemuka-pemuka rakyat dengan Ashabul Kahfi itu selesai, maka Ashabul Kahfi kembali ke tempat pembaringannya, dan pada waktu itulah Allah subhanahu wa ta’ala mencabut roh mereka untuk diangkat ke sisi Nya.
Kemudian pada hari itu bermusyawarahlah raja dan pemuka-pemuka itu.
Berkatalah sebagian dari mereka kepada lainnya: “Dirikanlah sebuah bangunan besar sebagai peringatan di dekat mulut gua itu”.
Umpamanya rumah pemondokan para musafir, kolam-kolam dan tempat-empat istirahat bagi peziarah-peziarah dan lain-lainnya.
Yang lain mengatakan yakni orang yang terkemuka dan berkuasa: “Kami benar-benar akan membangun sebuah tempat ibadah di dekat mulut gua mereka.
Kedua pihak ingin memuliakan Ashabul Kahfi itu, tetapi mereka berbeda pendapat tentang penghormatan itu.
Satu pihak menghendaki mendirikan sebuah bangunan besar, sedang pihak yang lainnya ingin mendirikan sebuah mesjid untuk tempat beribadat bagi mereka.

Ahli Kitab yang berada di masa Nabi ﷺ membicarakan tentang Ashabul Kahfi ini.
Mereka mengira-ngira jumlah mereka dan lain-lainnya.
Sebenarnya Tuhan mereka lebih tahu tentang hal-hal itu dari mereka.
Tentang Apakah penduduk Afasus mendirikan sebuah bangunan untuk peringatan atau mereka mendirikan sebuah mesjid untuk tempat beribadat di atas gua itu hanya Tuhanlah yang mengetahuinya.

Membangun mesjid dekat kuburan tidak terlarang dalam agama.
Yang sangat dilarang dalam agama ialah menjadikan kuburan sebagai tempat ibadat, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

Allah mengutuk orang Yahudi dan Nasrani menjadikan kubur-kubur Nabi dan orang-orang saleh mereka menjadi tempat ibadah.
(H.R.
Bukhari dari Aisyah dan Abdullah Ibnu Abbas)

Nabi juga bersabda:

Allah mengutuk wanita-wanita yang ziarah ke kubur dan orang-orang yang mendirikan mesjid-mesjid (tempat-tempat ibadah) di atas kuburan itu, atau memberi lampu-lampu.
(H.R.
Ahmad, Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)

Imam Muslim menambahkan kepada hadis ini perkataan Nabi “Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu adalah mereka-mereka itu menjadikan kuburan Nabi-nabi mesjid (tempat beribadah), tetapi aku melarang kamu berbuat demikian”.

Demikianlah Rasul sangat melarang umatnya menjadikan kuburan sebagai tempat-tempat beribadat untuk memuliakan orang-orang yang dikubur itu.
Bahkan di antara ulama-ulama seperti Ibnu Hajar dalam kitabnya AZ Zawajir memandang sebagai dosa besar, berdasarkan hadis-hadis yang disebutkan.
Dalam sejarah terbukti bangunan di kuburan Nabi-nabi atau wali-wali cenderung membawa orang kepada penghormatan yang berlebih-lebihan, yang demikian adalah peluang kepada syirik.
Penyembahan terhadap patung-patung justru berasal dari kasus yang demikian itu.
Menurut Ibnu `Abbas tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka berkata : “Jangan kamu sekali-kali meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yagus, Ya’uq dan Nasr”.
(Q.S.
Nuh: 23)

Suwa’, Yagus, Ya’uq dan Nasr adalah pada mulanya nama hamba-hamba Allah yang saleh.
Sesudah mereka meninggal, kuburan mereka diziarahi, lalu mereka buatkan patung-patung (untuk mengingati amal saleh mereka), lama-kelamaan patung itu mereka sembah
(H.R.
Ahmad, Abu Daud, Tirmizi dari Ibnu Abbas)

Khusus mengenai ziarah kubur, Rasulullah ﷺ kemudian membolehkannya.

Sabdanya:

Artinya:
Dulu aku melarang kamu ziarah kubur, sekarang ziarahilah! (H.R.
Muslim dari Baridah Ibnu Al Hasib al Aslami)
At Tirmizi memberikan tambahan pada hadis di atas dengan artinya; bahwasanya ziarah ke kubur itu mengingatkan orang kepada akhirat.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami yang telah menidurkan dan membangunkan mereka kembali, dan Kami pula yang telah memberitahukan ihwal mereka kepada penduduk negeri itu, agar mengetahui kebenaran janji Allah untuk membangkitkan seluruh manusia di hari kiamat yang pasti akan datang.
Akhirnya penduduk negeri itu beriman kepada Allah dan hari akhir.
Setelah Allah mematikan pemuda-pemuda itu, penduduk negeri itu saling berselisih pendapat tentang mereka.
Sebagian mengatakan, “Dirikanlah sebuah bangunan di depan pintu gua itu, lalu kita serahkan urusan mereka kepada Allah Yang Mahatahu.” Orang-orang yang berpengaruh mengajukan usul dengan mengatakan, “Kita akan membangun sebuah masjid di tempat itu.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan demikianlah) sebagaimana Kami bangunkan mereka (Kami memperlihatkan) (kepada mereka) yakni kaum Ashhabul Kahfi dan kaum Mukminin pada umumnya (agar mereka mengetahui) artinya khusus bagi kaum Ashhabul Kahfi (bahwa janji Allah itu) yaitu adanya hari berbangkit (benar) dengan kesimpulan, bahwa Allah Yang Maha Kuasa mematikan mereka dalam masa yang sangat lama, kemudian mereka tetap utuh sekalipun tanpa makan dan minum, maka Dia Maha Kuasa pula untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati (dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan) (padanya.

Ketika) lafal Idz ini menjadi Ma’mul daripada lafal A’tsarnaa (orang-orang itu berselisih) orang-orang Mukmin dan orang-orang kafir (tentang urusan mereka) maksudnya mengenai perkara para pemuda itu dalam hal bangunan yang akan didirikan di sekitar tempat Ashhabul Kahfi itu (orang-orang itu berkata) yakni orang-orang kafir (Dirikanlah di atas gua mereka) di sekitar tempat mereka (sebuah bangunan) untuk menutupi mereka (Rabb mereka lebih mengetahui tentang mereka”.

Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata,) yang dimaksud adalah yang menguasai perkara para pemuda tersebut, yaitu orang-orang yang beriman, (“Sesungguhnya kami akan mendirikan di atasnya) yakni di sekitarnya (sebuah rumah peribadatan.”) tempat orang-orang melakukan salat, akhirnya dibuatlah sebuah rumah peribadatan di pintu gua tersebut.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sebagaimana Kami tidurkan mereka ratusan tahun lamanya, dan Kami bangunkan mereka setelah itu, demikian pula Kami perlihatkan mereka pada penduduk di zaman itu, setelah penjual mengetahui jenis dirham yang dibawa oleh utusan mereka; agar manusia mengetahui bahwa janji Allah untuk membangkitkan manusia (sesudah kematiannya) adalah benar, dan bahwa kiamat itu pasti akan tiba tanpa ada keraguan di dalamnya.
Sebab orang-orang yang melihat Ashhabul Kahfi itu berselisih tentang perkara kiamat:
ada yang menetapkannya dan ada yang mengingkarinya.
Maka Allah menjadikan kesaksian mereka terhadap Ashhabul Kahfi sebagai hujjah bagi orang-orang Mukmin atas orang-orang kafir.
Setelah urusan mereka terkuak, lalu mereka pun wafat kembali, maka segolongan dari orang-orang yang melihat mereka itu berkata :
Bangunlah di depan pintu gua mereka sebuah bangunan yang menutupi mereka, dan biarkanlah urusan mereka.
Rabb mereka lebih mengetahui tentang urusan mereka.
Sementara orang-orang yang memiliki kekuasaan di anatara mereka berkata :
Sungguh kami akan mendirikan rumah ibadah di atas tempat mereka.
Sesungguhnya Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah melarang menjadikan kubur para Nabi dan orang shalih sebagai masjid.
Beliau telah melaknat orang yang melakukan demikian di akhir wasiatnya kepada umatnya.
Demikian pula beliau melarang membangun bangunan di atas kubur secara mutlak, mengapurnya, dan menulisnya; karena hal itu termasuk ghuluw (sikap berlebih-lebihan) yang bisa menyebabkan disembahnya orang yang berada di dalamnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan demikian (pula) Kami pertemukan (manusia) dengan mere­ka.

Yakni Kami memperlihatkan mereka kepada manusia.

…agar manusia itu mengetahui bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya.

Bukan hanya seorang saja dari kalangan ulama Salaf mengatakan bahwa di masa itu para penduduk masih meragukan tentang hari berbangkit dan hari kiamat.

Ikrimah mengatakan, di antara mereka ada segolongan orang yang berpendapat bahwa yang dibangkitkan hanyalah arwah, sedangkan jasad tidak dibangkitkan.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan para pemuda penghuni gua itu sebagai hujah, bukti, dan tanda yang menunjukkan hal tersebut, bahwa Allah membangkitkan jasad dan roh.

Para ulama menyebutkan bahwa ketika salah seorang dari para pe­muda itu hendak berangkat menuju Madinah guna membeli sesuatu ma­kanan yang mereka perlukan, ia mengubah dirinya dan keluar dengan langkah yang sangat hati-hati hingga sampai di kota itu.
Mereka menye­butkan bahwa nama pemuda yang berangkat ke kota itu adalah Daksus.
Ia menduga bahwa dirinya masih belum lama meninggalkan kota tersebui.
padahal penduduk kota itu telah berganti, generasi demi generasi, abad demi abad, dan umat demi umat, serta semua keadaan negeri telah beru­bah berikut dengan para penduduknya,

Maka ia tidak melihat sesuatu pun dari tanda-tanda kota itu yang telah dikenalnya, tiada seorang manusia pun yang mengenalnya, baik dari ka­langan orang-orang khususnya maupun kalangan awamnya.
Dia tampak kebingungan dan berkata kepada dirinya sendiri, “Barangkali saya terkena penyakit gila, atau kesambet setan, atau sedang dalam mimpi.” Tetapi ia menjawab sendiri, “Demi Allah, saya tidak tertimpa sesuatu pun dari itu, dan sesungguhnya kota ini baru saya tinggalkan kemarin sore, tetapi ke­adaannya bukan seperti sekarang ini.” Lalu ia berkata kepada dirinya sendiri, “Sebaiknya saya selesaikan urusan saya dengan segera, lalu meninggalkan kota ini.”

Kemudian ia mendekati seseorang yang sedang menjual makanan, dan ia menyerahkan mata uang yang dibawanya kepada penjual makanan itu, lalu ia meminta kepadanya agar menukarnya dengan makanan.
Tetapi ketika penjual makanan itu melihat mata uang yang diterimanya, kontan ia terheran-heran dan tidak mau menerimanya.
Maka ia berikan uang itu kepada tetangganya yang juga menjual makanan, sehingga akhirnya mata uang itu berkeliling di antara para penjual makanan, dan mereka mengatakan, “Barangkali orang ini telah menemukan harta karun yang terpendam.”

Mereka bertanya kepadanya tentang identitas pribadinya, berasal dari manakah mata uang ini, barangkali ia menemukan harta karun, dan siapakah sebenarnya dia.

Ia menjawab, “Saya berasal dari penduduk kota ini, dan saya baru meninggalkan kota ini kemarin sore, sedangkan yang menjadi raja kota ini adalah Dekianius.”

Mereka menilainya sebagai orang gila.
Akhirnya mereka membawa­nya ke hadapan penguasa kota dan pemimpin mereka.
Lalu pemimpin kota itu menanyainya tentang identitas pribadinya dan urusannya serta kisah dirinya, karena si pemimpin merasa bingung dengan keadaan dan sikap orang yang ditanyainya itu.

Setelah pemuda itu menceritakan semuanya, maka raja beserta pen­duduk kota itu ikut bersamanya ke gua tersebut.
Setelah sampai di mulut gua, pemuda itu berkata kepada mereka, “Biarkanlah aku masuk dahulu untuk memberitahukan kepada teman-temanku.” Lalu ia masuk.

Menurut suatu pendapat, mereka tidak mengetahui pemuda itu sete­lah masuk ke dalam gua, dan Allah menyembunyikan para pemuda itu dari mereka.
Dengan kata lain, mereka menghilang tanpa jejak dan tidak mengetahui lagi berita tentang mereka.

Menurut pendapat yang lainnya lagi tidak begitu, bahkan mereka masuk menemui para pemuda itu dan melihat mereka, serta raja menya­lami para pemuda penghuni gua itu dan memeluk mereka.
Saat itu raja kota tersebut beragama Islam, namanya Yandusius.
Para pemuda itu merasa gembira dengan kedatangan raja yang muslim dan mengajaknya mengobrol karena rindu.
Sesudah itu mereka berpamitan kepadanya dan mengucapkan salam kepadanya, lalu kembali ke tempat peraduan mereka, dan Allah mewafatkan mereka untuk selamanya.

Qatadah mengatakan bahwa Ibnu Abbas berangkat berperang ber­sama dengan Habib ibnu Maslamah.
Mereka melewati sebuah gua di negeri Romawi, dan mereka melihat tulang-belulang manusia di dalamnya.
Ada yang mengatakan bahwa tulang-belulang itu adalah milik para pemuda penghuni gua.
Maka Ibnu Abbas mengatakan, “Sesungguhnya tulang-belulang mereka telah hancur sejak lebih tiga ratus tahun yang silam.” Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka.

Yakni sebagaimana Kami buat mereka tidur, lalu Kami bangunkan mereka dalam keadaan utuh, maka Kami perlihatkan mereka kepada orang-orang yang ada di masa itu.

…agar manusia itu mengetahui bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya.
Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka.

Yaitu sehubungan dengan masalah hari kiamat, di antara mereka ada orang-orang yang percaya dengan adanya hari kiamat, dan di antara mereka ada orang-orang yang tidak percaya.
Maka Allah menjadikan munculnya para pemuda penghuni gua itu kepada mereka sebagai bukti bahwa hari berbangkit itu ada.

…orang-orang itu berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.”

Maksudnya, marilah kita tutup pintu gua mereka, dan biarkanlah mereka dalam keadaan seperti itu.

Orang-orang yang berkuasa atas utusan mereka berkata, “Se­sungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dua pendapat sehubungan dengan hal ini.
Salah satunya mengatakan bahwa sebagian dari mereka adalah orang-orang muslim.
Pendapat yang lainnya mengatakan, sebagian dari mereka adalah orang-orang musyrik.
Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenarannya.

Makna lahiriah ayat menunjukkan bahwa orang-orang yang Menga­takan demikian adalah para penguasa yanng berpengaruh di kalangan mereka.
Akan tetapi, terpujikah perbuatan mereka itu?
Untuk menjawab pertanyaan ini masih perlu adanya pertimbangan yang mendalam, mengi­ngat Nabi ﷺ telah bersabda:

Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi dan orang-orang saleh mereka sebagai tempat peribadatan.

Nabi ﷺ mengucapkan demikian dengan maksud memperingatkan ka­um muslim agar jangan berbuat seperti mereka.

Telah diriwayatkan pula kepada kami dari Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab r.a., bahwa ketika ia menjumpai kuburan Nabi Danial di masa pemerintahannya di Irak, maka ia memerintahkan agar kuburan itu disembunyikan dari orang-orang, dan batu-batu bertulis (prasasti) yang mereka temukan di tempat itu agar dikubur.
Prasasti tersebut berisikan kisah-kisah kepahlawanan dan lain-lainnya.


Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al Kahfi” artinya “Gua ” dan “Ashhabul Kahfi” yang artinya:
“Penghuni-penghuni gua”.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i’tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur’an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca “Insya Allah”
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima’afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu’min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya’juj dan Ma’juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 21 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 21 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Kahfi (18) ayat 21 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Kahfi - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 110 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 18:21
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Kahfi.

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah18
Nama SurahAl Kahfi
Arabالكهف
ArtiPenghuni-penghuni Gua
Nama lainAl-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu69
JuzJuz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat110
Jumlah kata1589
Jumlah huruf6550
Surah sebelumnyaSurah Al-Isra'
Surah selanjutnyaSurah Maryam
4.4
Ratingmu: 4.2 (12 orang)
Sending







Pembahasan ▪ surat ke 18 ayat 21

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta