Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Kahfi

Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) surah 18 ayat 19


وَ کَذٰلِکَ بَعَثۡنٰہُمۡ لِیَتَسَآءَلُوۡا بَیۡنَہُمۡ ؕ قَالَ قَآئِلٌ مِّنۡہُمۡ کَمۡ لَبِثۡتُمۡ ؕ قَالُوۡا لَبِثۡنَا یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالُوۡا رَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ بِمَا لَبِثۡتُمۡ ؕ فَابۡعَثُوۡۤا اَحَدَکُمۡ بِوَرِقِکُمۡ ہٰذِہٖۤ اِلَی الۡمَدِیۡنَۃِ فَلۡیَنۡظُرۡ اَیُّہَاۤ اَزۡکٰی طَعَامًا فَلۡیَاۡتِکُمۡ بِرِزۡقٍ مِّنۡہُ وَ لۡـیَؔ‍‍‍تَلَطَّفۡ وَ لَا یُشۡعِرَنَّ بِکُمۡ اَحَدًا
Wakadzalika ba’atsnaahum liyatasaa-aluu bainahum qaala qaa-ilun minhum kam labitstum qaaluuu labitsnaa yauman au ba’dha yaumin qaaluuu rabbukum a’lamu bimaa labitstum faab’atsuu ahadakum biwariqikum hadzihi ilal madiinati falyanzhur ai-yuhaa azka tha’aaman falya’tikum birizqin minhu walyatalath-thaf walaa yusy’iranna bikum ahadan;

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri.
Berkatalah salah seorang di antara mereka:
Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”.
Mereka menjawab:
“Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”.
Berkata (yang lain lagi):
“Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).
Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.
―QS. 18:19
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah Ashabul Kahfi ▪ Pengukuhan kenabian dengan mukjizat
18:19, 18 19, 18-19, Al Kahfi 19, AlKahfi 19, Al-Kahf 19
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 19. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan tentang bangunnya mereka dari tidur.
Keadaan mereka, badan, kulit, rambut dan lain-lain sama halnya sewaktu sebelum mereka tidur.
Semuanya sehat dan semuanya masih utuh, bahkan pakaian yang melekat di badan-badan mereka tetap utuh.
Allah subhanahu wa ta'ala memperlihatkan kepada mereka keagungan, kebesaran dan kekuasaan Nya, dan keajaiban serta keluarbiasaan perbuatan Nya terhadap makhluk Nya.
Karena itu iman mereka tambah kuat untuk melepaskan diri dari penyembahan-penyembahan dewa dewa.
Dan bertambah ikhlaslah hati mereka untuk semata-mata menyembah Allah Yang Mana Esa.

Kemudian setelah mereka bangun dari tidur yang lama itu, mereka saling bertanya satu sama lain untuk mengetahui keadaan mereka serta ketentuan Allah terhadap mereka sehingga mereka akhirnya dapat menarik pelajaran dan bukti keagungan Allah subhanahu wa ta'ala Bertambah yakinlah hati mereka, dan bersyukur atas segala nikmat dan kemuliaan yang dianugerahkan Allah kepada mereka.

Berkatalah salah seorang mereka kepada kawan-kawannya: "Berapa lama kalian tinggal dalam gua ini." Dia menyatakan ketidaktahuannya tentang keadaan dirinya sendiri selama masa tidur itu lalu meminta kepada lainnya untuk memberikan keterangan.
Kawan-kawannya menjawab: "Kita tinggal dalam gua ini sehari atau setengah hari".
Yang menjawab itupun tidak dapat memastikan berapa lama mereka tinggal sehari atau setengah hari, karena pengaruh tidur masih belum lenyap dari jiwa mereka.
Mereka belum melihat tanda-tanda yang menunjukkan lamanya di gua itu.
Kebanyakan ahli tafsir mengatakan waktu mereka datang memasuki gua dulunya pada pagi hari, kemudian waktu Tuhan membangunkan mereka dari tidur adalah sore hari.
Karena itulah orang yang menjawab ini menyangka bahwa mereka di gua itu adalah satu atau setengah hari.
Kemudian berkata lagi kawan-kawannya yang lain: "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lama kamu tinggal di sini".
Kata-kata kawan-kawan mereka yang terakhir ini sangat bijaksana untuk membantah pernyataan dan jawaban kawan-kawan mereka yang terdahulu.
Meskipun mereka diberi Allah berupa karamah (kemuliaan) namun mereka masih berbincang juga tentang diri mereka dengan perkiraan-perkiraan.
Seorang wali boleh berbicara hal yang bukan masalah iktiqadiyah dengan perkiraan yang kuat dan boleh jadi salah.
Maka pernyataan kawan mereka yang terakhir ini seakan-akan diilhami oleh Allah subhanahu wa ta'ala, atau didasarkan atas bukti-bukti nyata.
Sesungguhnya masa yang panjang itu hanya dapat diketahui dan ditentukan secara pasti oleh Allah subhanahu wa ta'ala Mereka akhirnya menyadari keterbatasan kemampuan mereka untuk mengetahui yang gaib, hal yang gaib ini benar-benar masih kabur bagi mereka.
Setelah sadar itu, barulah perhatian mereka beralih kepada kebutuhan mereka yang pokok yakni makan dan minum.
Disuruhlah salah seorang di antara mereka pergi ke kota dengan membawa uang perak untuk membeli makanan.
Menurut riwayat namanya Tamlikha.
Sebelum membeli itu terlebih dahulu dia hendaknya memperhatikan makanan itu mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang kurang baik.
Makanan yang halal dan baik itulah yang dibawa kembali ke tempat perlindungan mereka.
Dipesankan pula kepada utusan ke kota itu agar dia berhati-hati dalam perjalanan, baik sewaktu masuk ke kota maupun kembali dari kota jangan sampai dia memberitahukan kepada seorang pun tentang keadaan diri dan tempat mereka.
Dari ayat yang artinya (maka suruhlah) salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dipetik suatu hukum yang berhubungan dengan wakalah (berwakil).
Yakni seseorang yang dibolehkan menyerahkan kepada orang lain, sebagai ganti dirinya, urusan harta dan hak semasa hidupnya.
Kata Ibnu Araby ayat ini paling kuat untuk menjadi dasar wakalah (berwakil).

Al Kahfi (18) ayat 19 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Kahfi (18) ayat 19 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Kahfi (18) ayat 19 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami bangunkan mereka sebagaimana Kami buat mereka tertidur lelap.
Mereka saling bertanya tentang berapa lama mereka tertidur dalam keadaan seperti itu.
Seorang dari mereka berkata, "Berapa lama kalian tertidur?"
Yang lain menjawab, "Sehari atau setengah hari saja." Karena merasa tidak yakin akan hal itu mereka mengatakan, "Serahkan saja urusan ini kepada Allah, karena Dialah Yang Mahatahu.
Hendaknya salah seorang dari kita pergi ke kota dengan mata uang perak ini untuk memilih makanan yang baik dan membawanya untuk kita.
Hendaknya ia bersikap pengertian, dan jangan membuka rahasia kita ini kepada siapa pun."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan demikianlah) yang telah Kami perbuat terhadap Ashhabul Kahfi, seperti yang telah Kami sebutkan tadi (Kami bangunkan mereka) Kami bangkitkan mereka (agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri) tentang keadaan mereka dan lamanya masa menetap mereka di dalam gua itu (Berkatalah seorang di antara mereka, "Sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?"
Mereka menjawab, "Kita berada di sini sehari atau setengah hari)" sebab mereka memasuki gua ketika matahari mulai terbit, dan mereka bangun sewaktu matahari terbenam, maka oleh karena itu mereka menduga bahwa saat itu adalah terbenamnya matahari, kemudian (berkata sebagian yang lainnya lagi) seraya menyerahkan pengetahuan hal tersebut kepada Allah (Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada di sini, maka suruhlah salah seorang di antara kalian dengan membawa uang perak kalian ini) lafal Wariqikum dapat pula dibaca Warqikum, artinya uang perak kalian ini (pergi ke kota) menurut suatu pendapat dikatakan bahwa kota tersebut yang sekarang dinamakan Tharasus (dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik) artinya, manakah makanan di kota yang paling halal (maka hendaklah dia membawa makanan itu untuk kalian, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal kalian kepada seseorang pun).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sebagaimana Kami tidurkan dan Kami jaga mereka dalam waktu yang sedemikian lama ini, demikian pula Kami bangunkan mereka dari tidur mereka dalam keadaan sediakala tanpa ada perubahan agar mereka bertanya satu sama lain :
Berapa waktukah kita berdiam dalam keadaan tidur di tempat ini??
Salah seorang dari mereka berkata :
Kita berdiam sehari atau setengah hari.
Sementara yang lainnya berkata karena tidak mengetahui urusan mereka dengan jelas, Serahkanlah pengetahuannya itu kepada Allah, sebab Rabb kalian lebih mengetahui tentang berapa waktu lamanya kalian berdiam di tempat ini.
Suruhlah salah seorang di antara kalian dengan membawa uang perak kalian ini ke kota kita.
Lalu hendaklah dia melihat, manakah di antara penduduk kota tersebut yang makanannya lebih halal dan lebih baik??
Kemudian hendaknya dia membawa bahan makanan itu kepada kalian, dan berlaku lemah lembut kepada penjual saat membeli agar kedok kita tidak terbongkar dan urusan kita diketahui, dan janganlah sekali-kali menceritakan perihal diri kalian kepada seorang manusia pun.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan, "Sebagaimana Kami buat mereka tertidur, Kami bangunkan mereka seperti sedia kala.
Tubuh mereka dalam keadaan sehat, rambut dan kulit mereka seperti sedia kala saat mereka tertidur.
Tiada sesuatu pun yang kurang atau berubah dari keadaan mereka, pada­hal lamanya tidur mereka tiga abad lebih sembilan tahun." Karena itulah mereka saling bertanya di antara sesamanya, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

Sudah berapa lamakah kalian berada (di sini)?

Yakni berapa lamakah kalian tidur di tempat ini?

Mereka menjawab, "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari."

Demikian itu karena ketika mereka masuk ke dalam gua itu hari masih pagi, dan mereka terbangun ketika hari telah sore.
Karena itulah mereka dalam jawabannya memakai kata atau, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

"...atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi), "Tuhan kita lebih mengetahui berapa lamanya kita berada (di sini).

Maksudnya, hanya Allah-lah yang lebih mengetahui urusan kalian.
Se­akan-akan terjadi kebimbangan di kalangan mereka tentang lamanya masa tidur mereka, hanya Allah yang lebih mengetahui.
Kemudian akhir­nya mereka mengalihkan perhatiannya kepada urusan yang lebih penting bagi mereka saat itu, yaitu mencari makanan dan minuman buat mereka, karena mereka sangat memerlukannya.
Untuk itu mereka berkata:

Maka suruhlah salah seorang di antara kita pergi ke kota de­ngan membawa uang perak kita ini.

Yaitu uang perak kalian ini.
Demikian itu karena saat mereka pergi memba­wa sejumlah uang dirham perak dari rumahnya masing-masing untuk bekal keperluan mereka.
Di tengah jalan mereka menyedekahkan sebagiannya, dan sisanya mereka bawa.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota dengan membawa uang perak kalian ini.

Yakni kota yang telah kalian tinggalkan.

Alif dan lam dalam lafaz Al-Madinah menunjukkan makna 'Ahd, yakni sudah diketahui oleh lawan bicara, yaitu kota bekas tempat tinggal mereka.

...dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik.

Azka ta'aman, makanan yang bersih.
Makna yang dimaksud ialah yang halal lagi baik.
Seperti pengertian yang ada dalam firman-Nya:

Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepa­da kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya.
(An-Nur:21)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan:

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman).
(Al-A'la: 14)

Termasuk ke dalam pengertian ini zakat, karena zakat membersihkan dan menyucikan harta benda (dari kekotorannya).
Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud dari ayat ini ialah yang terbanyak ma­kanannya.
Seperti pengertian yang terdapat di dalam perkataan mereka, "Zakaz zar'u," artinya tanaman itu banyak hasilnya.
Seorang penyair dari mereka mengatakan dalam bait syairnya:

Puak kabilah kami ada tujuh, sedangkan puak kalian hanya tiga, sudah barang tentu tujuh itu jauh lebih banyak dan lebih baik dari tiga.

Pendapat yang benar adalah yang pertama tadi, karena yang dimaksudkan oleh mereka hanyalah makanan yang halal lagi baik, tanpa memandang sedikit atau banyaknya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...dan hendaklah dia berlaku lemah lembut.

Yakni bersikap ekstra hati-hati dalam pulang perginya dan saat berbelanja.
Mereka mengatakan bahwa hendaklah ia menyembunyikan identitas pri­badinya dengan segala upaya yang mampu dilakukannya.

...dan janganlah sekali-kali menceritakan hal kalian.

Artinya, jangan sampai ada orang yang mengetahui tentang hal ikhwal kalian.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Kahfi (18) Ayat 19

THA'AAM
طَعَام

Tha'aam adalah kata benda dalam bentuk mufrad, jamaknya ialah ath'imah. Tha'aam ialah nama keseluruhan bagi setiap yang dimakan dan ada yang mengatakan ia dikhususkan bagi gandum.

Al Kafawi berkata,
"Tha'aam kadangkala digunakan untuk menyebut minuman, sebagaimana dalam firman Allah dalam surah Al Baqarah (2) ayat 249:

وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّىٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۢ بِيَدِهِ

"Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku"."

Dikatakan begitu karena asal lafaz ini mengisyaratkan, merasakan sesuatu atau setiap apa yang dirasai seperti yang disebutkan dalam hadis Rasulullah mengenai air zamzam, yang artinya:

"Sesungguhnya ia adalah makanan bagi kelaparan dan obat bagi penyakit."

Lafaz tha'aam disebut 24 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 61, 184, 259;
-Ali Imran (3), ayat 93;
-Al Maa'idah (5), ayat 5 (dua kali), 75, 95, 96;
-Yusuf (12), ayat 37;
-Al Kahfi (18), ayat 19;
-Al Anbiyaa (21), ayat 8;
-Al Furqaan (25), ayat 7, 20;
-Al Ahzab (33), ayat 53;
-Ad Dukhaan (44), ayat 44;
-Al Haaqqah (69), ayat 34, 35, 36;
-Al Muzzammil (73), ayat 13;
-Al nsaan (76), ayat 8;
-'Abasa (80), ayat 24;
-Al Ghaasyiyah (88), ayat 6;
-Al Fajr (89), ayat 18;
-Al Ma'un (107), ayat 3.

Tha'aam di dalam Al Qur'an mengandung beberapa makna:

1. Sejenis makanan, yaitu Al manna (roti) dan As salwa (madu). Mmakna ini ada dalam surah Al Baqarah ayat 61, di mana tha'aam di sini dikaitkan dengan wahid yang artinya satu. Ini adalah pendapat Ibn Katsir dan As Sabuni.' Ibn Katsir berkata,
"Bani Israil mengatakan tha'aam waahid yaitu al mann was salwa karena mereka memakan keduanya setiap hari dan tidak pernah berubah.

2. Tha'am juga bermakna mencakupi semua jenis makanan separti dalam surah Ali Imran ayat 93. Tha'aam yang diuraikan oleh Al Qur'an dapat dibahagi dalam tiga kategori utama yaitu nabati, hewani dan olahan.

- Yang termasuk dalam nabati terdapat dalam surah 'Abasa (80), ayat 24 hingga 32 di mana surah ini me­merintahkan manusia memperhatikan makanannya, disebutkan sekian banyak jenis tumbuhan yang dikaruniakan Allah bagi kepentingan manusia dan binatang, Allah firman yang berarti,

"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian kami belah bumi dengan sebaik-sebaiknya. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputnya, untuk kesenangan kamu dan untuk binatang ternak."

- Sedangkan tha'aam yang temasuk dalam kategori hewani Al Qur'an mengklasifikasikan dua kelompok besar yaitu yang berasal dari laut dan darat. Ayat yang menyinggung makanan yang berasal dari laut terdapat dalam surah Al Maa' idah (5), ayat 96, makna firman Allah

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan,

Yang termasuk dalam kategori hewan terakam dalam firman Allah dalam surah Al Maa'idah (5), ayat 5 yang berarti,

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.

Al Qurtubi berkata,
"Tha'aam ialah nama bagi perkara yang dimakan dan di sini dikhususkan dengan sembelihan (dari hewan) menurut jumhur ulama"

- Makanan olahan. Berdasarkan penjelasan terdahulu, minuman adalah salah satu jenis makanan. Oleh karena itu, khamar juga salah satu jenis makanan. Al Qur'an menegaskan hal itu dalam surah An Nahl (16), ayat 67,

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezeki yang baik.

Lafaz tha'aam juga dapat dibagi kepada dua keadaan yaitu makanan yang termasuk makanan di dunia dan makanan pada hari akhirat. Untuk makanan di dunia sudah disebutkan sebelum ini dan untuk makanan di akhirat, lafaz ini lebih cenderung digunakan bagi makanan yang diperuntukkan di dalam neraka.

Kategori ini terdapat dalam surah:
-Ad Dukhan (44), ayat 44;
-Al Haaqqah (69), ayat 34;
-Al Ghaasyiyah (88), ayat 6;
-Al Muzzammil (73 ), ayat 13.

Contohnya dalam surah As Dukhan, Allah berfirman yang artinya:

Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak berdosa.

Kesimpulannya, lafaz tha'aam di dalam Al Qur'an mengandung makna makanan, baik di dunia yang terdiri dari hewan, tumbuhan atau olahan dan makanan pada hari akhirat bagi orang yang berdosa.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:331-333

Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al Kahfi" artinya "Gua " dan "Ashhabul Kahfi" yang artinya:
"Penghuni-penghuni gua".
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i'tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta'ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur'an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca "Insya Allah"
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima'afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu'min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya'juj dan Ma'juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.


Gambar Kutipan Surah Al Kahfi Ayat 19 *beta

Surah Al Kahfi Ayat 19



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Kahfi

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah18
Nama SurahAl Kahfi
Arabالكهف
ArtiPenghuni-penghuni Gua
Nama lainAl-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu69
JuzJuz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat110
Jumlah kata1589
Jumlah huruf6550
Surah sebelumnyaSurah Al-Isra'
Surah selanjutnyaSurah Maryam
4.8
Rating Pembaca: 4.8 (10 votes)
Sending







✔ al kahfi 19, Surat al kahfi ayat 18 19, tafsir surat al kahfi ayat 19