Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 14 [QS. 18:14]

وَّ رَبَطۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ اِذۡ قَامُوۡا فَقَالُوۡا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ لَنۡ نَّدۡعُوَا۠ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اِلٰـہًا لَّقَدۡ قُلۡنَاۤ اِذًا شَطَطًا
Warabathnaa ‘ala quluubihim idz qaamuu faqaaluuu rabbunaa rabbus-samaawaati wal ardhi lan nad’uwa min duunihi ilahan laqad qulnaa idzan syathathan;
Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu mereka berkata,
“Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi;
kami tidak menyeru tuhan selain Dia.
Sungguh, kalau kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.”
―QS. Al Kahfi [18]: 14

And We made firm their hearts when they stood up and said,
"Our Lord is the Lord of the heavens and the earth.
Never will we invoke besides Him any deity.
We would have certainly spoken, then, an excessive transgression.
― Chapter 18. Surah Al Kahfi [verse 14]

وَرَبَطْنَا dan Kami meneguhkan

And We made firm
عَلَىٰ atas

[on]
قُلُوبِهِمْ hati mereka

their hearts
إِذْ tatkala

when
قَامُوا۟ mereka berdiri

they stood up
فَقَالُوا۟ maka/lalu mereka berkata

and said,
رَبُّنَا Tuhan kami

"Our Lord
رَبُّ Tuhan

(is) the Lord
ٱلسَّمَٰوَٰتِ langit(jamak)

(of) the heavens
وَٱلْأَرْضِ dan bumi

and the earth.
لَن tidak

Never
نَّدْعُوَا۟ kami menyeru

we will invoke
مِن dari

besides Him *[meaning includes next or prev. word]
دُونِهِۦٓ selain Dia

besides Him *[meaning includes next or prev. word]
إِلَٰهًا Tuhan

any god.
لَّقَدْ sesungguhnya

Certainly,
قُلْنَآ kami telah mengatakan

we would have said,
إِذًا jika demikian

then,
شَطَطًا jauh dari kebenaran

an enormity.

Tafsir

Alquran

Surah Al Kahfi
18:14

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 14. Oleh Kementrian Agama RI


Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah ﷻ meneguhkan hati para pemuda itu dengan kekuatan iman, membulatkan tekad mereka kepada agama tauhid, dan memberikan keberanian untuk mengatakan kebenaran agama itu di hadapan raja Decyanus yang kafir dan sewenang-wenang.
Ketika raja itu mencela dan memaksa mereka untuk menyembah berhala, mereka dengan lantang berkata,
"Tuhan kami adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia.
"
Dalam pernyataan mereka ini, terkandung dua pengakuan tentang kekuasaan Tuhan.
Pertama, pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan dalam memelihara dan menciptakan alam semesta ini.

Kedua, pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan dan musyrik mengakui keesaan Tuhan dalam menciptakan dan memelihara alam semesta ini, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۗفَاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ

Dan jika engkau bertanya kepada mereka,
"Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?"
Pasti mereka akan menjawab,
"Allah.
"
Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebe-naran).
(al-‘Ankabut [29]: 61)


Namun demikian, orang musyrikin tidak mengakui keesaan Tuhan dan berhala sebagai sekutu Tuhan yang akan mendekatkan mereka kepada-Nya, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah ﷻ:

مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى

Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." (az-Zumar [39]: 3)


Sesudah para pemuda itu menyatakan pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan, lalu mereka memberikan alasan penolakan terhadap penyembahan berhalaberhala sebagaimana yang dikehendaki oleh raja Decyanus.

Mereka menyatakan bahwa jika mereka menyembah dan berdoa kepada selain Allah, itu berarti mengerjakan sesuatu yang jauh dari kebenaran.

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 14. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kami mengokohkan hati mereka untuk beriman dan tabah menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Mereka saling berikrar, ketika berdiri di hadapan kaumnya, dengan mengatakan,
"Wahai Tuhan kami, Engkaulah Yang Mahabenar.


Engkaulah Pemelihara langit dan bumi.
Kami tidak akan mempertuhankan sesuatu selain Engkau dan kami akan memegang teguh kepercayaan ini dan tidak akan meninggalkannya.


Demi Engkau, ya Allah, jika kami mengatakan sesuatu yang lain, maka perkataan kami itu akan sangat jauh dari kebenaran."

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Kami kuatkan hati mereka dengan iman, dan Kami teguhkan tekad mereka dengannya, ketika mereka berdiri di hadapan raja kafir (Kaisar Hadrianus dan Raja Dikyanus), saat dia mencela mereka karena meninggalkan penyembahan terhadap berhala, lalu berkata kepadanya:
Rabb kami yang kami sembah adalah Rabb langit dan bumi.
Kami tidak akan menyembah sembahan-sembahan selain-Nya.


Seandainya kami mengatakan selain ini, berarti kami telah mengucapkan perkataan yang zalim lagi sangat jauh dari kebenaran.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan Kami telah meneguhkan hati mereka) Kami memperkuat hati mereka berpegangan kepada kalimat yang (di waktu mereka berdiri) di hadapan raja mereka yang menyuruh mereka supaya bersujud kepada berhalaberhala


(lalu mereka berkata,
"Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru kepada selain-Nya) yakni selain Allah


(sebagai Tuhan, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran)"
perkataan yang keterlaluan lagi sangat kafir jika seumpamanya kami menyeru kepada tuhan selain Allah.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdi­ri, lalu mereka berkata,
"Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi."


Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang mereka,
"Kami buat mereka dapat bertahan dalam menentang kaumnya dan seluruh penduduk kota tempat tinggal mereka, serta Kami jadikan mereka dapat bersabar dan rela me­ninggalkan kehidupan makmur dan mewah yang bergelimang dengan kenikmatan di kalangan kaumnya."

Kalangan Mufassirin —baik dari golongan ulama Salaf maupun Khalaf, bukan hanya seorang dari mereka— mengatakan bahwa mereka (yakni para pemuda itu) terdiri atas kalangan anak-anak para pembesar Kerajaan Romawi dan pemimpinnya.
Disebutkan pula bahwa pada suatu hari mereka keluar menuju tempat perayaan kaumnya, setiap tahun kaum­nya selalu mengadakan perayaan di suatu tempat yang terletak di luar kota mereka.

Mereka adalah para penyembah berhala dan Tagut, dan selalu meng­adakan kurban penyembelihan hewan untuk berhala sesembahan mereka.
Raja mereka saat itu adalah seorang yang diktator lagi keras kepala, bernama Dekianus.
Ia menganjurkan rakyatnya untuk melakukan hai tersebut, menyeru serta memerintah mereka Untuk menyembah berhala dan berkurban untuk berhala.

Ketika orang-orang keluar menuju tempat pertemuan mereka dalam hari raya itu, para pemuda tersebut ikut keluar bersama bapak-bapak mereka dan kaumnya untuk menyaksikan apa yang diperbuat oleh kaum­nya dengan mata kepala sendiri.

Setelah menyaksikan perayaan itu, mereka mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh kaumnya —yaitu bersujud kepada berhala dan ber­kurban untuknya— tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.
Maka para pemuda itu melolos­kan diri masing-masing dari kaumnya dan memisahkan diri di tempat yang terpisah jauh dari mereka.
Pada mulanya seseorang dari mereka duduk bernaung di bawah pohon, lalu datanglah pemuda lain ikut duduk bergabung dengannya.
Kemudian datang lagi pemuda yang lain.
Demikianlah seterusnya hingga semuanya berkumpul di tempat tersebut, tanpa saling mengenal di antara sesama mereka.

Sesungguhnya motivasi yang mendorong mereka berkumpul di tempat itu tiada lain dorongan hati mereka yang beriman, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara ta’liq, melalui hadis Yahya ibnu Sa’id, dari Amrah, dari Siti Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Imam Muslim telah mengetengahkan pula hadis ini di dalam kitab sahih­nya melalui riwayat Suhail, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ dan orang-orang mengatakan bahwa kebangsaan adalah motivasi persatuan.

Masing-masing dari mereka menutup diri dari yang lainnya karena takut pribadinya terbuka, sedangkan dia tidak mengetahui apakah teman­nya itu seakidah dengannya ataukah tidak?
Akhirnya salah seorang dari mereka memberanikan diri mengatakan,
"Hai kaumku, kalian mengetahui, demi Allah, sesungguhnya tiada yang menjauhkan kalian dari kaum kalian hingga kalian memisahkan diri dari mereka kecuali karena suatu alasan, maka hendaklah kita mengutarakan tujuannya masing-masing."

Seseorang dari mereka menjawab,
"Sesungguhnya saya, demi Allah, setelah melihat apa yang dilakukan oleh kaum saya menyimpulkan bahwa apa yang mereka lakukan itu batil.
Karena sesungguhnya yang berhak disembah semata dan tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu hanyalah Allah, Yang telah menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya."

Yang lainnya mengatakan,
"Saya pun mempunyai pemikiran yang sama dengan apa yang dia katakan,"
dan yang lainnya lagi mengatakan hal yang sama, hingga mereka semua sepakat dalam suatu kalimat dan ternyata mereka senasib dan sepenanggungan, mereka menjadi bersauda­ra yang sebenarnya dalam ikatan iman.
Lalu mereka membangun sebuah tempat peribadatan untuk menyembah Allah.

Tetapi kaum mereka mengetahuinya dan melaporkan keadaan mere­ka kepada raja mereka.
Raja memanggil mereka, lalu menanyai urusan mereka dan apa yang sedang mereka lakukan.
Mereka menjawab dengan jawaban yang benar dan menyeru raja untuk menyembah Allah subhanahu wa ta’ala karena itulah dalam ayat ini disebutkan melalui firman-Nya:

…dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdi­ri, lalu mereka berkata,
"Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia."


Kata lan menunjukkan makna negatif untuk selamanya, yakni kami sama sekali tidak akan melakukan penyembahan kepada selain-Nya untuk sela­ma-lamanya.
Karena sesungguhnya jika kami berbuat demikian, tentulah apa yang kami lakukan itu adalah hal yang batil.
Maka pada akhir ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

"Sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan per­kataan yang amat jauh dari kebenaran."

Yakni batil, dusta, dan bohong.

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah).
Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)."
(QS. Al-Kahfi [18]: 15)

Dengan kata lain, tidaklah mereka mengemukakan alasan yang jelas dan benar untuk membuktikan kebenaran pendapat mereka yang demikian itu.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Kahfi (18) Ayat 14

SYATATAA
شَطَطًا

Lafaz ini dalam bentuk mashdar, berasal dari kata syatta-yqsyuttu.

Syatta Al makaan bermakna tempat itu jauh.

Syatta fil amr berarti melampaui batas.

Syatta fil hukm bermakna berlaku zalim dalam hukum.

Al Husain Ad Daamaghani berkata,
lafaz ini mempunyai dua makna asal.

Pertama, bermakna dusta dan bohong.

Kedua, bermakna penyimpangan dan kezaliman.

Disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Kahfi (18), ayat 14;
-Al Qatadah berpendapat, syatata membawa makna pendustaan.

Ibn Zaid menyatakan, syatata bermakna silap dalam percakapan.

Ibn Jarir At Tabari meyimpulkan, lafaz syatata bermakna pendustaan yang melampau, kadar penipuannya berlebih-lebihan.

Kesimpulannya, lafaz syatata dalam kedua surah dikaitkan dengan al qaul atau perkataan.
Keduanya mempunyai satu makna yaitu perkataan yang tidak baik, dusta dan syirik.
Namun, perkataan itu lahir dan keluar dari dua makhluk ciptaan Allah.

Pertama, penyataan dan perkataan itu keluar daripada enam orang hamba yang shaleh atau Ashabul Kahfi sebagaimana terdapat dalam surah Al Kahfi.
Mereka hanya menyembah Allah dan tidak menyembah berhala sebagaimana yang diseru oleh raja mereka dan dilakukan oleh kaum mereka.

Untuk menyembah Allah, mereka mendirikan tempat ibadah.
Perkara itu diketahui oleh raja mereka, lalu mereka dipanggil menghadap bagi mengetahui apa yang mereka lakukan.

Dalam kesempatan itu, mereka mengajak raja menyembah Allah dengan ayat, "Tuhan kami adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi" Mereka berkata lagi, yaitu sekali-kali dan selamanya kami tidak akan menyembah selain daripada Nya.
Sekiranya kami berbuat demikian, perbuatan itu adalah tidak benar dan sesat," Oleh karena itu, mereka berkata,

ن نَّدْعُوَا۟ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهًاۖ لَّقَدْ قُلْنَآ إِذًا شَطَطًا

yaitu sekiranya kami berbuat demikian, kami berkata dusta, tidak benar dan mengada-adakan.

Kedua, perkataan syatata keluar dari mulut

Islam dan beriman pada Al Qur’an dari menjadikan sahabat dan anak baginya, kemudian mereka berkata,
Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah,"

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 313

Unsur Pokok Surah Al Kahfi (الكهف)

Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al Kahfi" artinya "Gua" dan "Ashhabul Kahfi" yang artinya: "Penghuni-penghuni gua".

Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung iktibar dan pelajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadishadis Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

▪ Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan.
▪ Dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta’ala tidak berubah untuk selama-lamanya.
▪ Kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu untuk menulisnya.
▪ Kepastian datangnya hari berbangkit.
Alquran adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan.

Hukum:

▪ Dasar hukum wakalah (berwakil).
▪ Larangan membangun tempat ibadah di atas kubur.
Hukum membaca "Insya Allah".
▪ Perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima’afkan.
▪ Kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

▪ Cerita Ashabul kahfi.
▪ Cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lainnya mukmin.
▪ Cerita Nabi Musa `alaihis salam dengan Khidhr `Dzulqarnain dengan Ya’juj dan Ma’juj.

Lain-lain:

▪ Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta ibadah yang ikhlas kepada-Nya.
▪ Kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu).
Adab sopan-santun antara murid dengan guru.
▪ Beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerintah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Audio

QS. Al-Kahfi (18) : 1-110 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 110 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Kahfi (18) : 1-110 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 110

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Kahfi ayat 14 - Gambar 1 Surah Al Kahfi ayat 14 - Gambar 2
Statistik QS. 18:14
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Kahfi.

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, “Gua”) disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Alquran yang membelah isi Alquran menjadi dua bagian.

Nomor Surah18
Nama SurahAl Kahfi
Arabالكهف
ArtiPenghuni-penghuni Gua
Nama lainAl-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu69
JuzJuz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat110
Jumlah kata1589
Jumlah huruf6550
Surah sebelumnyaSurah Al-Isra’
Surah selanjutnyaSurah Maryam
Sending
User Review
4.3 (29 votes)
Tags:

18:14, 18 14, 18-14, Surah Al Kahfi 14, Tafsir surat AlKahfi 14, Quran Al-Kahf 14, Surah Al Kahfi ayat 14

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Ath Thuur (Bukit) – surah 52 ayat 37 [QS. 52:37]

37. Ataukah mereka ingkar karena merasa bahwa di sisi mereka ada per-bendaharaan Tuhanmu, wahai Nabi Muhammad, ataukah mereka yang berkuasa mengatur dan menggunakan perbendaharan Allah dengan semaunya … 52:37, 52 37, 52-37, Surah Ath Thuur 37, Tafsir surat AthThuur 37, Quran Ath Thur 37, At Thur 37, At-Tur 37, Surah At Thur ayat 37

QS. An Naml (Semut) – surah 27 ayat 8 [QS. 27:8]

8. Maka tidak berapa lama ketika dia, yakni Musa, tiba di sana yaitu tempat api itu, dia diseru oleh satu suara yang tidak ada rupanya, “Telah diberkahi, diberikan kebaikan yang sangat banyak orang ya … 27:8, 27 8, 27-8, Surah An Naml 8, Tafsir surat AnNaml 8, Quran An-Naml 8, Surah An Naml ayat 8

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah ...

Benar! Kurang tepat!

Kata berikut yang mempunyai arti orang yang meminta-minta adalah ...

Benar! Kurang tepat!

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

Dalam surah Ad-Duha, terjemahan dari lafal di atas adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ
'dan demi malam apabila telah sunyi,'
--QS. As-Duha [93] : 2

+

Array

اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ

lafal tersebut adalah surah Ad-Dhuha ayat ke- ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Alquran Surah Ad-Dhuha Ayat 6:
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ

Arti:
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

Surah Ad-Dhuha termasuk kategori surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Ad-Duha (الضحى) adalah surah ke-93 dalam Alquran dan terdiri atas 11 ayat. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Fajr.
Nama Adh Dhuhaa diambil dari kata yang terdapat pada ayat pertama, yang artinya 'waktu matahari sepenggalahan naik'.

Pendidikan Agama Islam #17
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #17 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #17 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #18

Arti al-Kaafirun adalah … orang musyrik orang-orang kaffah orang-orang kafir orang-orang munafik orang yang tidak bisa baca tulis Benar! Kurang

Pendidikan Agama Islam #15

َبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًاDalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaitu Al Capone Alkitab

Pendidikan Agama Islam #12

Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah … Saudah Aisyah Hafsah Zainab Sofia Benar! Kurang tepat!

Instagram