Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Kahfi

Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) surah 18 ayat 14


وَّ رَبَطۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ اِذۡ قَامُوۡا فَقَالُوۡا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ لَنۡ نَّدۡعُوَا۠ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اِلٰـہًا لَّقَدۡ قُلۡنَاۤ اِذًا شَطَطًا
Warabathnaa ‘ala quluubihim idz qaamuu faqaaluuu rabbunaa rabbus-samaawaati wal ardhi lan nad’uwa min duunihi ilahan laqad qulnaa idzan syathathan;

Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.
―QS. 18:14
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah Ashabul Kahfi ▪ Tauhid Uluhiyyah
18:14, 18 14, 18-14, Al Kahfi 14, AlKahfi 14, Al-Kahf 14
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 14. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala meneguhkan hati mereka dengan kekuatan iman, membulatkan tekad mereka kepada agama tauhid, dan memberikan keberanian untuk mengatakan kebenaran agama itu di hadapan raja Decyanus yang kafir dan sewenang-wenang.
Sewaktu raja itu mencela dan memaksa mereka untuk menyembah berhala, mereka dengan lantang berkata: "Tuhan kami adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia." Dengan demikian mereka mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan Pencipta alam semesta ini, oleh karena itu mereka tidak akan menyembah selain Tuhan Pencipta ini.

Dalam pernyataan mereka ini, terkandung dua pengakuan tentang kekuasaan Tuhan.
Pertama pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan dalam memelihara dan menciptakan alam semesta ini.
Kedua pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan dan hak Nya untuk disembah oleh makhluk Nya.
Orang-orang musyrikin mengakui keesaan Tuhan dalam menciptakan dan memelihara alam semesta ini, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman:

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?",
Tentu mereka akan menjawab: "Allah," maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

(Q.S.
Al Ankabut: 61)

Akan tetapi orang musyrikin tidaklah mengakui keesaan Tuhan tentang berhak-Nya untuk disembah oleh hamba-hamba-Nya.
Mereka menyembah berhala-berhala sebagai sekutu Tuhan yang akan mendekatkan mereka dengan sedekat-dekatnya kepada Tuhan Yang Maha Esa itu, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala:

"....Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya."
(Q.S.
Az Zumar: 3)

Sesudah pemuda-pemuda itu menyatakan pengakuan mereka tentang keesaan Tuhan, lalu mereka memberikan atasan penolakan mereka terhadap penyembahan berhala-berhala sebagaimana yang dikehendaki oleh raja Decyanus itu.
Mereka menyatakan, bahwa bilamana mereka menyembah dan berdoa kepada selain Allah, berarti mereka mengerjakan yang jauh dari kebenaran.

Al Kahfi (18) ayat 14 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Kahfi (18) ayat 14 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Kahfi (18) ayat 14 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami mengokohkan hati mereka untuk beriman dan tabah menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Mereka saling berikrar, ketika berdiri di hadapan kaumnya, dengan mengatakan, "Wahai Tuhan kami, Engkaulah Yang Mahabenar.
Engkaulah Pemelihara langit dan bumi.
Kami tidak akan mempertuhankan sesuatu selain Engkau dan kami akan memegang teguh kepercayaan ini dan tidak akan meninggalkannya.
Demi Engkau, ya Allah, jika kami mengatakan sesuatu yang lain, maka perkataan kami itu akan sangat jauh dari kebenaran."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Kami telah meneguhkan hati mereka) Kami memperkuat hati mereka berpegangan kepada kalimat yang hak (di waktu mereka berdiri) di hadapan raja mereka yang menyuruh mereka supaya bersujud kepada berhala-berhala (lalu mereka berkata, "Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru kepada selain-Nya) yakni selain Allah (sebagai Tuhan, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran)" perkataan yang keterlaluan lagi sangat kafir jika seumpamanya kami menyeru kepada tuhan selain Allah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kami kuatkan hati mereka dengan iman, dan Kami teguhkan tekad mereka dengannya, ketika mereka berdiri di hadapan raja kafir (Kaisar Hadrianus dan Raja Dikyanus), saat dia mencela mereka karena meninggalkan penyembahan terhadap berhala, lalu berkata kepadanya :
Rabb kami yang kami sembah adalah Rabb langit dan bumi.
Kami tidak akan menyembah sembahan-sembahan selain-Nya.
Seandainya kami mengatakan selain ini, berarti kami telah mengucapkan perkataan yang zhalim lagi sangat jauh dari kebenaran.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

...dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdi­ri, lalu mereka berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi."

Allah subhanahu wa ta'ala menceritakan tentang mereka, "Kami buat mereka dapat bertahan dalam menentang kaumnya dan seluruh penduduk kota tempat tinggal mereka, serta Kami jadikan mereka dapat bersabar dan rela me­ninggalkan kehidupan makmur dan mewah yang bergelimang dengan kenikmatan di kalangan kaumnya."

Kalangan Mufassirin —baik dari golongan ulama Salaf maupun Khalaf, bukan hanya seorang dari mereka— mengatakan bahwa mereka (yakni para pemuda itu) terdiri atas kalangan anak-anak para pembesar Kerajaan Romawi dan pemimpinnya.
Disebutkan pula bahwa pada suatu hari mereka keluar menuju tempat perayaan kaumnya, setiap tahun kaum­nya selalu mengadakan perayaan di suatu tempat yang terletak di luar kota mereka.

Mereka adalah para penyembah berhala dan Tagut, dan selalu meng­adakan kurban penyembelihan hewan untuk berhala sesembahan mereka.
Raja mereka saat itu adalah seorang yang diktator lagi keras kepala, bernama Dekianus.
Ia menganjurkan rakyatnya untuk melakukan hai tersebut, menyeru serta memerintah mereka Untuk menyembah berhala dan berkurban untuk berhala.

Ketika orang-orang keluar menuju tempat pertemuan mereka dalam hari raya itu, para pemuda tersebut ikut keluar bersama bapak-bapak mereka dan kaumnya untuk menyaksikan apa yang diperbuat oleh kaum­nya dengan mata kepala sendiri.

Setelah menyaksikan perayaan itu, mereka mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh kaumnya —yaitu bersujud kepada berhala dan ber­kurban untuknya— tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.
Maka para pemuda itu melolos­kan diri masing-masing dari kaumnya dan memisahkan diri di tempat yang terpisah jauh dari mereka.
Pada mulanya seseorang dari mereka duduk bernaung di bawah pohon, lalu datanglah pemuda lain ikut duduk bergabung dengannya.
Kemudian datang lagi pemuda yang lain.
Demikianlah seterusnya hingga semuanya berkumpul di tempat tersebut, tanpa saling mengenal di antara sesama mereka.

Sesungguhnya motivasi yang mendorong mereka berkumpul di tempat itu tiada lain dorongan hati mereka yang beriman, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara ta'liq, melalui hadis Yahya ibnu Sa’id, dari Amrah, dari Siti Aisyah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Roh-roh itu bagaikan tentara yang terlatih, maka yang mana di antaranya yang kenal akan menjadi rukun, dan yang mana di antaranya yang tidak kenal akan bertentangan.

Imam Muslim telah mengetengahkan pula hadis ini di dalam kitab sahih­nya melalui riwayat Suhail, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah ﷺ dan orang-orang mengatakan bahwa kebangsaan adalah motivasi persatuan.

Masing-masing dari mereka menutup diri dari yang lainnya karena takut pribadinya terbuka, sedangkan dia tidak mengetahui apakah teman­nya itu seakidah dengannya ataukah tidak?
Akhirnya salah seorang dari mereka memberanikan diri mengatakan, "Hai kaumku, kalian mengetahui, demi Allah, sesungguhnya tiada yang menjauhkan kalian dari kaum kalian hingga kalian memisahkan diri dari mereka kecuali karena suatu alasan, maka hendaklah kita mengutarakan tujuannya masing-masing."

Seseorang dari mereka menjawab, "Sesungguhnya saya, demi Allah, setelah melihat apa yang dilakukan oleh kaum saya menyimpulkan bahwa apa yang mereka lakukan itu batil.
Karena sesungguhnya yang berhak disembah semata dan tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu hanyalah Allah, Yang telah menciptakan langit dan bumi serta semua yang ada di antara keduanya."

Yang lainnya mengatakan, "Saya pun mempunyai pemikiran yang sama dengan apa yang dia katakan," dan yang lainnya lagi mengatakan hal yang sama, hingga mereka semua sepakat dalam suatu kalimat dan ternyata mereka senasib dan sepenanggungan, mereka menjadi bersauda­ra yang sebenarnya dalam ikatan iman.
Lalu mereka membangun sebuah tempat peribadatan untuk menyembah Allah.

Tetapi kaum mereka mengetahuinya dan melaporkan keadaan mere­ka kepada raja mereka.
Raja memanggil mereka, lalu menanyai urusan mereka dan apa yang sedang mereka lakukan.
Mereka menjawab dengan jawaban yang benar dan menyeru raja untuk menyembah Allah subhanahu wa ta'ala karena itulah dalam ayat ini disebutkan melalui firman-Nya:

...dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdi­ri, lalu mereka berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia."

Kata lan menunjukkan makna negatif untuk selamanya, yakni kami sama sekali tidak akan melakukan penyembahan kepada selain-Nya untuk sela­ma-lamanya.
Karena sesungguhnya jika kami berbuat demikian, tentulah apa yang kami lakukan itu adalah hal yang batil.
Maka pada akhir ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

"Sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan per­kataan yang amat jauh dari kebenaran."

Yakni batil, dusta, dan bohong.

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah).
Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka).” (Al Kahfi:15)

Dengan kata lain, tidaklah mereka mengemukakan alasan yang jelas dan benar untuk membuktikan kebenaran pendapat mereka yang demikian itu.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Kahfi (18) Ayat 14

SYATATAA
شَطَطًا

Lafaz ini dalam bentuk mashdar, berasal dari kata syatta-yqsyuttu.

Syatta Al makaan bermakna tempat itu jauh.

Syatta fil amr berarti melampaui batas.

Syatta fil hukm bermakna berlaku zalim dalam hukum.

Al Husain Ad Daamaghani berkata,
lafaz ini mempunyai dua makna asal.

Pertama, bermakna dusta dan bohong.

Kedua, bermakna penyimpangan dan kezaliman.

Disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Kahfi (18), ayat 14;
-Al Jin (72), ayat 4.

Qatadah berpendapat, syatata membawa makna pendustaan.

Ibn Zaid menyatakan, syatata bermakna silap dalam percakapan.

Ibn Jarir At Tabari meyimpulkan, lafaz syatata bermakna pendustaan yang melampau, kadar penipuannya berlebih-lebihan.

Kesimpulannya, lafaz syatata dalam kedua surah dikaitkan dengan al qaul atau perkataan. Keduanya mempunyai satu makna yaitu perkataan yang tidak baik, dusta dan syirik. Namun, perkataan itu lahir dan keluar dari dua makhluk ciptaan Allah.

Pertama, penyataan dan perkataan itu keluar daripada enam orang hamba yang shaleh atau Ashabul Kahfi sebagaimana terdapat dalam surah Al Kahfi. Mereka hanya menyembah Allah dan tidak menyembah berhala sebagaimana yang diseru oleh raja mereka dan dilakukan oleh kaum mereka.

Untuk menyembah Allah, mereka mendirikan tempat ibadah. Perkara itu diketahui oleh raja mereka, lalu mereka dipanggil menghadap bagi mengetahui apa yang mereka lakukan.

Dalam kesempatan itu, mereka mengajak raja menyembah Allah dengan ayat, "Tuhan kami adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi" Mereka berkata lagi, yaitu sekali-kali dan selamanya kami tidak akan menyembah selain daripada Nya. Sekiranya kami berbuat demikian, perbuatan itu adalah tidak benar dan sesat," Oleh karena itu, mereka berkata,


ن نَّدْعُوَا۟ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهًاۖ لَّقَدْ قُلْنَآ إِذًا شَطَطًا

yaitu sekiranya kami berbuat demikian, kami berkata dusta, tidak benar dan mengada-adakan.

Kedua, perkataan syatata keluar dari mulut jin yang beriman kepada Al Qur'an.

Allah berfirman,

وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطًا

Jin berkata,
"Maha suci Allah, apabila mereka masuk Islam dan beriman pada Al Qur'an dari menjadikan sahabat dan anak baginya, kemudian mereka berkata,
Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah,"

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:313

Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al Kahfi" artinya "Gua " dan "Ashhabul Kahfi" yang artinya:
"Penghuni-penghuni gua".
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i'tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta'ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur'an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca "Insya Allah"
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima'afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu'min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya'juj dan Ma'juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.


Gambar Kutipan Surah Al Kahfi Ayat 14 *beta

Surah Al Kahfi Ayat 14



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Kahfi

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah 18
Nama Surah Al Kahfi
Arab الكهف
Arti Penghuni-penghuni Gua
Nama lain Al-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 69
Juz Juz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 110
Jumlah kata 1589
Jumlah huruf 6550
Surah sebelumnya Surah Al-Isra'
Surah selanjutnya Surah Maryam
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (29 votes)
Sending







✔ qs 18:14

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku