Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Kahfi

Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) surah 18 ayat 110


قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ مِّثۡلُکُمۡ یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا
Qul innamaa anaa basyarun mitslukum yuuha ilai-ya annamaa ilahukum ilahun waahidun faman kaana yarjuu liqaa-a rabbihi falya’mal ‘amalaa shaalihan walaa yusyrik bi’ibaadati rabbihi ahadan;

Katakanlah:
Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:
“Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”.
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.
―QS. 18:110
Topik ▪ Takwa ▪ Amal shaleh sebagai pintu kebaikan ▪ Azab orang kafir
18:110, 18 110, 18-110, Al Kahfi 110, AlKahfi 110, Al-Kahf 110
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 110. Oleh Kementrian Agama RI

Katakanlah kepada mereka: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, mengakui bahwa semua ilmuku tidak sebanding dengan apa yang ada pada Allah, aku mengetahui sekadar apa yang diwahyukan Allah kepadaku, dan tidak tahu yang lainnya kecuali apa yang Allah ajarkan kepadaku.
Dan Allah telah mewahyukan kepadaku bahwa: "Yang disembah olehku dan oleh kamu hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi Nya.
Oleh karena itu barangsiapa yang mengharapkan pahala dan Allah pada hari perjumpaan dengan Nya, maka hendaklah ia tulus ikhlas dalam ibadahnya, meng Esakan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah Nya dan tidak mengadakan syirik baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi seperti ria, karena berbuat sesuatu ingin dipuji orang itu termasuk syirik yang tersembunyi.
Dan setelah membersihkan iman dari kemusyrikan itu hendaklah mengerjakan amal saleh yang dikerjakannya semata-mata untuk mencapai keridaan Nya.

Al Kahfi (18) ayat 110 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Kahfi (18) ayat 110 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Kahfi (18) ayat 110 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Katakan pula kepada manusia, "Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, yang diutus oleh Allah untuk mengajarkan apa yang telah diajarkan Allah kepadaku.
Allah mewahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa dan tiada sekutu bagi-Nya.
Maka barangsiapa mengharap berjumpa dengan Allah dan mendapatkan pahala-Nya, hendaknya ia mengerjakan perbuatan yang baik dengan ikhlas dan menjauhi kemusyrikan dalam beribadah."

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia) anak Adam (seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku, 'Bahwa sesungguhnya Rabb kalian itu adalah Tuhan Yang Esa.') huruf Anna di sini Maktufah atau dicegah untuk beramal oleh sebab adanya Ma, sedangkan huruf Ma masih tetap status Mashdarnya.
Maksudnya, yang diwahyukan kepadaku mengenai keesaan Tuhan (Barang siapa mengharap) bercita-cita (perjumpaan dengan Rabbnya) setelah dibangkitkan dan menerima pembalasan (maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan di dalam beribadah kepada Rabbnya) yakni sewaktu ia beribadah kepada-Nya, seumpamanya ia hanya ingin pamer (dengan seorang pun").

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakanlah, wahai Rasul, kepada orang-orang musyrik :
Sesungguhnya aku hanya manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku dari Rabbku bahwa Illah (sembahan) kalian adalah Illah Yang Esa.
Barangsiapa takut adzab Rabbnya dan mengharap pahala-Nya pada hari perjumpaan dengan-Nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih karena Rabbnya lagi sejalan dengan syariat-Nya, dan tidak mempersekutukan seorang pun selain-Nya dengan-Nya dalam peribadatan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Selanjutnya ia mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berfirman kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad ﷺ:

Katakanlah.

kepada orang-orang musyrik yang mendustakan kerasulanmu kepada mereka.

Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian.

Maka barang siapa menyangka bahwa aku ini dusta, hendaklah ia mendatangkan hal yang semisal dengan apa yang aku sampaikan ini.
Karena sesungguhnya aku tidak mengetahui hal yang gaib menyangkut berita masa silam yang kusampaikan kepada kalian berdasarkan permintaan kalian, seperti kisah tentang para pemuda penghuni gua, dan kisah Zulqarnain.

Kisah tersebut ternyata sesuai dengan kejadian yang sebenarnya.
Seandainya bukan karena Allah yang telah memberitahukan­nya kepadaku, tentulah aku tidak mengetahuinya.
Dan sesungguhnya aku hanya memberitahukan kepada kalian bahwa:

Sesungguhnya Tuhan kalian itu.

yang aku seru kalian untuk menyembah-Nya.

adalah Tuhan Yang Maha Esa.

tidak ada sekutu bagi-Nya.

Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya.

Yakni ingin memperoleh pahala dan balasan kebaikan-Nya.

maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh.

Yaitu segala amal perbuatan yang disetujui oleh syariat Allah.

dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.
(Al Kahfi:110)

Yakni dengan mengerjakan amal yang semata-mata hanya karena Allah, tiada sekutu bagi-Nya.
Demikianlah syarat utama dari amal yang diterima oleh-Nya, yaitu harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan syariat yang telah dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui hadis Ma'mar, dari Abdul Karim Al-Jazari, dari Tawus yang mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mengerjakan banyak amal perbuatan karena menginginkan pahala Allah, tetapi aku suka juga bila amal perbuatanku terlihat oleh orang-orang." Rasulullah ﷺ tidak menjawab sepatah kata pun kepadanya, hingga turunlah ayat ini, yaitu firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.

Al-A'masy mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hamzah Abu Imarah maula (bekas budak) Bani Hasyim, dari Syahr ibnu Hausyab yang mengatakan bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepada Ubadah ibnus Samit r.a.
Lelaki itu mengatakan, "Saya mau bertanya kepadamu, bagaimanakah pendapatmu tentang seorang lelaki yang salat dengan mengharapkan pahala Allah, tetapi ia suka bila dipuji.
Ia juga mengerjakan saum karena mengharap pahala Allah, tetapi ia suka bila dipuji.
Dan ia rajin bersedekah karena mengharapkan pahala Allah, tetapi ia suka dipuji.
Dan ia mengerjakan ibadah haji karena mengharapkan pahala Allah, tetapi ia suka bila dipuji?".
Ubadah menjawab, "Ia tidak mendapat apa-apa, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman, 'Aku adalah sebaik-baik sekutu.
Maka barang siapa yang melakukan suatu amal dengan mempersekutukan selain-Ku di dalamnya, maka amalnya itu buat sekutu­Ku, Aku tidak memerlukan amalnya'."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, telah menceritakan kepada kami Kasir ibnu Zaid, dari Rabih ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Sa'id Al-Khudri, dari ayahnya, dari kakeknya yang menceritakan, "Dahulu kami bergantian menjaga Rasulullah ﷺ hingga kami menginap di dekat rumahnya, karena barangkali beliau mempunyai suatu keperluan atau ada urusan penting di malam hari, maka beliau tinggal menyuruh kami.
Orang-orang yang melakukan tugas berjaga cukup banyak.
Pada suatu ketika kami yang bertugas sedang berbincang-bincang, Rasulullah ﷺ keluar dari rumahnya (karena mendengar pembicaraan kami), lalu beliau bersabda, 'Pembicaraan apakah yang sedang kalian bisikkan?'.
Kami menjawab, 'Kami bertobat kepada Allah, hai Nabi Allah.
Sesungguhnya kami sedang membicarakan tentang Al-Masih Dajjal, kami merasa takut terhadapnya'.
Rasulullah ﷺ bersabda, 'Maukah aku beri tahukan kepada kalian hal yang seharusnya lebih kalian takuti daripada Al-Masih Dajjal menurutku?' Kami menjawab, 'Tentu kami mau.' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Syirik tersembunyi, yaitu bila seseorang berdiri mengerjakan salatnya karena ingin dilihat oleh orang lain'.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid ibnu Bahram yang mengatakan bahwa Syahr ibnu Hausyab pernah bercerita bahwa Ibnu Ganam pernah mengatakan: Ketika kami memasuki Masjid Al-Jabiyah bersama Abu Darda, kami bersua dengan Ubadah ibnus Samit.
Maka Ubadah memegangkan tangan kanannya ke tangan kiriku, dan tangan kirinya ke tangan kanan Abu Darda.
Lalu ia berjalan keluar dengan diapit oleh kami berdua, sedangkan kami berbisik-bisik, hanya Allah-lah yang mengetahui apa yang kami bisikkan.
Ubadah ibnus Samit berkata, "Jika usia seseorang dari kalian atau kalian berdua panjang, tentulah dalam waktu yang dekat kamu akan melihat seorang lelaki dari kalangan menengah qurra kaum muslim yang berbahasa sama dengan Nabi Muhammad ﷺ (yakni bahasa Arab).
Lalu dia membacanya dan mengartikannya, serta menghalalkan apa yang di halalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya.
Ia juga menempatkan masing-masing dari hukum yang dikandungnya pada tempat-tempatnya sesuai dengan latar belakang penurunannya.
Sehingga kalian tidak dapat memberikan komentar apa pun terhadapnya." Ketika kami sedang asyik dalam keadaan berbincang-bincang, muncullah Syaddad ibnu Aus r.a.
dan Auf ibnu Malik.
Keduanya ikut bergabung dengan kami.
Syaddad berkata, "Sesungguhnya hal yang paling saya khawatirkan akan menimpa kalian, hai manusia, ialah setelah saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Hal yang paling aku khawatir­kan akan menimpa kalian ialah syahwat yang tersembunyi dan syirik'." Ubadah ibnus Samit dan Abu Darda berkata, "Ya Allah, ampunilah kami dengan ampunan yang luas.
Bukankah Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada kita bahwa setan telah putus asa untuk disembah di Jazirah Arab ini?
Mengenai syahwat yang tersembunyi, kami telah mengetahuinya, yaitu syahwat duniawi, termasuk birahi kepada wanita dan ketamakan untuk memiliki dunia.
Lalu apakah yang dimaksud dengan syirik yang engkau khawatirkan akan menimpa kami, hai Syaddad?".
Syaddad menjawab, "Tentu kalian mengerti bila kalian melihat seorang lelaki mengerjakan salatnya karena orang lain, atau ia berpuasa karena orang lain, atau dia bersedekah karena ingin dipuji orang lain.
Bukankah menurut dia telah berbuat syirik?"
Kami menjawab, "Benar.
Demi Allah, sesungguhnya orang yang salat atau puasa atau bersedekah karena ingin dipuji oleh orang lain berarti telah berbuat syirik." Syaddad berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa yang salat dengan pamer, maka sesungguhnya dia telah musyrik.
Barang siapa yang berpuasa karena pamer, sesungguhnya dia telah musyrik.
Dan barang siapa yang bersedekah karena pamer, sesungguhnya dia telah musyrik.
Pada saat itu juga Auf ibnu Malik berkata, "Apakah Allah tidak mau menerima bagian dari apa yang dikerjakan karena mengharapkan pahala­Nya dari amal itu, lalu menolak bagian dari amal itu yang pelakunya mempersekutukan Dia dengan yang lain?"
Maka Syaddad saat itu juga menjawab bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah pernah berfirman, 'Aku adalah sebaik-baik pemberi terhadap orang yang berbuat syirik kepada-Ku.
Barang siapa yang mempersekutukan Aku dengan sesuatu, maka se­sungguhnya amal perbuatannya —baik yang banyak maupun yang sedikit— Aku berikan kepada temannya yang dia persekutukan dengan Aku karena Aku tidak memerlukannya.”

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ali ibnu Ja'far Al-Ahmar, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sabit, telah menceritakan kepada kami Qais ibnu Abu Husain, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Pada hari kiamat Allah berfirman, "Aku adalah sebaik-baik sekutu.
Barang siapa yang mempersekutukan seseorang dengan-Ku, maka semua amalnya adalah untuk sekutunya.”

Yakni hendaklah si pengamal itu meminta pahalanya kepada orang yang dipersekutukannya dengan Allah, bukan kepada Allah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, bahwa ia pernah mendengar Al-Ala menceritakan hadis berikut dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ yang menceritakan tentang apa yang akan difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta'ala (kelak di hari kiamat): Aku adalah sebaik-baik sekutu.
Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang di dalamnya ia mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku berlepas diri darinya dan amalnya itu buat sekutunya.

Ditinjau dari jalur ini hadis diriwayatkan secara munfarid oleh Imam Ahmad.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Yazid ibnul Had, dari Amr, dari Mahmud ibnu Labid, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: "Sesungguhnya hal yang sangat aku khawatirkan akan menimpa kalian ialah syirik kecil.” Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?” Rasul ﷺ menjawab, "Riya (pamer), kelak di hari kiamat Allah akan berfirman saat memberikan pahala amal perbuatan manusia, 'Pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian pamer kepadanya saat di dunia, dan lihatlah oleh kalian apakah kalian menjumpai adanya pahala balasan (amal kalian) pada mereka'.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid ibnu Ja'far, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Ziyad ibnu Mina, dari Abu Sa'id ibnu Abu Fudalah Al-Ansari yang berpredikat sahabat, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Apabila Allah telah menghimpunkan orang-orang yang terdahulu dan yang terkemudian pada hari yang tiada keraguan padanya (hari kiamat), terdengarlah suara seruan yang mengatakan, "Barang siapa yang mempersekutukan Aku dengan seseorang dalam suatu amalnya yang seharusnya karena Allah, hendaklah ia meminta pahala (amalnya) dari selain Allah.
Karena sesungguhnya Allah tidak memerlukan amal yang dihasilkan dari kemusyrikan.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Malik, telah menceritakan kepada kami Bakkar telah menceritakan kepadaku ayahku (Abdul Aziz ibnu Abu Bakrah), dari Abu Bakrah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang ingin didengar, maka Allah menjadikannya terkenal dengannya, dan barang siapa yang pamer, maka Allah akan memamerkan (amal)nya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Firas, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id Al-Khudri, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Barang siapa yang pamer, maka Allah akan memamerkan amalnya, dan barang siapa yang ingin didengar (amalnya), maka Allah menjadikan (amal)nya terkenal.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id dari Syu'bah, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Murrah, bahwa di rumah Abu Ubaidah ia mendengar seorang lelaki mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr menceritakan hadis berikut dari Ibnu Umar yang telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa yang amalnya ingin didengar oleh orang lain, maka Allah menjadikannya terkenal di kalangan semua makhluk-Nya, lalu Allah mengecilkan dan menghinakannya.
Maka Abdullah menangis mencucurkan air matanya.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan ke­pada kami Amr ibnu Yahya Al-Aili, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Gassan, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Juni, dari Anas r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Amal-amal perbuatan Bani Adam dihadapkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala pada hari kiamat terhimpun di dalam buku-buku catatan amal yang telah dilak.
Lalu Allah berfirman, "Lemparkanlah yang ini dan terimalah yang itu.” Para malaikat berkata, "Wahai Tuhanku, demi Allah, kami tidak melihat selain kebaikan.” Allah berfirman, "Sesungguhnya amal perbuatannya itu bukan karena mengharapkan rida-Ku.
Pada hari ini Aku tidak mau menerima suatu amal perbuatan kecuali amal yang diniatkan untuk memperoleh rida-Ku.”

Kemudian Al-Haris ibnu Gassan mengatakan bahwa Abu Imran Al-Juni riwayat hadisnya banyak diambil oleh sejumlah ulama, dia adalah seorang yang berpredikat siqah, seorang ulama Basrah, yang tidak ada celanya (dalam periwayatan hadis).

Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Iyad, dari Abdur Rahman Al-A'raj, dari Abdullah ibnu Qais Al-Khuza'i, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang berdiri karena pamer dan harga diri, ia terus menerus dalam murka Allah hingga duduk.

Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Dinar, dari Ibrahim Al-Hijri, dari Abul Ahwas, dari Auf ibnu Malik, dari Ibnu Mas'ud r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Barang siapa yang mengerjakan salatnya dengan baik karena dilihat orang lain, dan mengerjakannya dengan buruk bila sendirian, maka hal ini merupakan suatu penghinaan yang dia lakukan terhadap Tuhannya melalui salatnya itu.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Kahfi (18) Ayat 110

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Abin Dun-ya di dalam Kitab al-Ikhlash, yang bersumber dari Thawus.
Hadits ini mursal.
Diriwayatkan pula oleh al-Hakim di dalam Kitab al-Mustadrak, tapi maushuul, dari Thawus, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Al-Hakim menyahihkannya berdasarkan syarat asy-syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim).
Bahwa seorang laki-laki berkata: “Ya Rasulallah.
Aku ini tabah dalam peperangan dan mengharap ridha Allah.
Namun aku juga ingin kedudukanku terlihat oleh orang lain.” Rasulullah tidak menjawab sedikitpun, sehingga turun ayat (al-Kahfi: 110) sebagai pegangan bagi orang yang mengharap rida Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa ada seorang Muslim yang berperang karena ingin terlihat kedudukannya oleh orang lain.
Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Kahfi: 110) yang memberikan pegangan bagaimana seharusnya untuk mencapai rida Allah.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Asakir di dalam kitab Taarikh-nya, dari as-Suddish Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu ‘Abbas, yang bersumber dari Jundub bin Zubair bahwa ayat ini (al-Kahfi: 110) turun sebagai teguran kepada orang yang shalat, shaum, atau sedekah, yang memperbanyak ibadahnya apabila mendapat pujian dan merasa gembira atas pujian tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Kahfi (الكهف)
Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai "Al Kahfi" artinya "Gua " dan "Ashhabul Kahfi" yang artinya:
"Penghuni-penghuni gua".
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang bebe­rapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.

Selain cerita tersebut, ter­dapat pula beberapa buah cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung i'tibar dan pe­lajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia.
Banyak hadist-hadist Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.

Keimanan:

Kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala untuk memberi daya hidup pada manusia diluar hukum kebiasaan
dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah subhanahu wa ta'ala tidak berobah untuk se­lama-lamanya
kalimat-kalimat Allah (imu-Nya) amat luas sekali, meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu buat menulisnya
kepastian datangnya hari berbangkit
Al Qur'an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan

Hukum:

Dasar hukum wakalah (berwakil)
larangan membangun tempat ibadah di atas kubur
hukum membaca "Insya Allah"
perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima'afkan
kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.

Kisah:

Cerita Ashabul kahfi
cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lain­nya mu'min
cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidhr a.s.
cerita Dzulqarnain dengan Ya'juj dan Ma'juj.

Lain-lain:

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala serta ibadah yang ikhlas kepada­ Nya
kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu)
adab sopan-santun antara murid dengan guru
dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerin­tah rakyat, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

QS 18 Al-Kahfi (109-110) - Indonesian - Leila Wahab
QS 18 Al-Kahfi (109-110) - Arabic - Leila Wahab


Gambar Kutipan Surah Al Kahfi Ayat 110 *beta

Surah Al Kahfi Ayat 110



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Kahfi

Surah Al-Kahf (bahasa Arab:الكهف, al-Kahf, "Gua") disebut juga Ashabul Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Kahf dan Ashabul Kahf yang artinya Penghuni-Penghuni Gua.
Kedua nama ini diambil dari cerita yang terdapat dalam surah ini pada ayat 9 sampai dengan 26, tentang beberapa orang pemuda (The Seven Sleepers) yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya.
Selain cerita tersebut, terdapat pula beberapa cerita dalam surat ini, yang kesemuanya mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan manusia.
Terdapat beberapa hadits Rasulullah ﷺ yang menyatakan keutamaan membaca surah ini.

Dalam surat ini terdapat titik tengah Al-Qur'an yang membelah isi Al-Qur'an menjadi dua bagian.

Nomor Surah 18
Nama Surah Al Kahfi
Arab الكهف
Arti Penghuni-penghuni Gua
Nama lain Al-Hāila, Ashabul Khaf
(Penghuni-Penghuni Gua)
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 69
Juz Juz 15 (1-74) sampai juz 16 (ayat 75-110)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 110
Jumlah kata 1589
Jumlah huruf 6550
Surah sebelumnya Surah Al-Isra'
Surah selanjutnya Surah Maryam
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (27 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku