QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 10 [QS. 18:10]

اِذۡ اَوَی الۡفِتۡیَۃُ اِلَی الۡکَہۡفِ فَقَالُوۡا رَبَّنَاۤ اٰتِنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً وَّ ہَیِّیٔۡ لَنَا مِنۡ اَمۡرِنَا رَشَدًا
Idz awal fityatu ilal kahfi faqaaluuu rabbanaa aatinaa min ladunka rahmatan wahai-yi-a lanaa min amrinaa rasyadan;

(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa,
“Ya Tuhan kami.
Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”
―QS. 18:10
Topik ▪ Kisah-kisah ▪ Kisah Ashabul Kahfi ▪ Keutamaan nabi Musa as.
18:10, 18 10, 18-10, Al Kahfi 10, AlKahfi 10, Al-Kahf 10
English Translation - Sahih International
(Mention) when the youths retreated to the cave and said,
“Our Lord, grant us from Yourself mercy and prepare for us from our affair right guidance.”
―QS. 18:10

 

Tafsir surah Al Kahfi (18) ayat 10

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Kahfi (18) : 10. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah ﷻ mulai menguraikan kisah Ashhabul Kahf kepada Rasul ﷺ.
Allah ﷻ mengingatkan kepada Rasul-Nya bahwa ketika zaman dahulu beberapa pemuda keturunan bangsawan di suatu negeri, karena takut penganiayaan rajanya, pergi mencari perlindungan ke dalam gua pada sebuah gunung.
Di dalam gua inilah mereka membulatkan tekadnya, menghabiskan masa remajanya untuk mengabdi kepada Allah ﷻ

Mereka berdoa kepada Allah semoga dilimpahi rahmat dari sisi-Nya.
Mereka mengharapkan pengampunan, ketenteraman, dan rezeki dari Allah sebagai anugerah yang besar atas diri mereka.
Selain itu, mereka juga memohon agar Allah memudahkan bagi mereka jalan yang benar untuk menghindari godaan dan kezaliman orang-orang kafir dan memperoleh ketabahan dalam menaati Tuhan sehingga tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sungguh Allah telah menolong mereka.
Ketika raja kafir itu berhasil menemukan jejak mereka pada pintu gua itu, lalu masuk ke dalamnya, maka Allah ﷻ menutup penglihatan mereka sehingga tidak dapat melihat para pemuda tersebut.
Oleh karena itu, akhirnya raja memutuskan menutup pintu gua dengan perkiraan bahwa mereka akan mati kelaparan dan kehausan.