Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Jinn (Jin) – surah 72 ayat 9 [QS. 72:9]

وَّ اَنَّا کُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡہَا مَقَاعِدَ لِلسَّمۡعِ ؕ فَمَنۡ یَّسۡتَمِعِ الۡاٰنَ یَجِدۡ لَہٗ شِہَابًا رَّصَدًا ۙ
Wa-annaa kunnaa naq’udu minhaa maqaa’ida li-ssam’i faman yastami’iaana yajid lahu syihaaban rashadan;
dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya).
Tetapi sekarang siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya).
―QS. Al Jinn [72]: 9

Daftar isi

And we used to sit therein in positions for hearing, but whoever listens now will find a burning flame lying in wait for him.
― Chapter 72. Surah Al Jinn [verse 9]

وَأَنَّا dan bahwasannya kami

And that we
كُنَّا adalah kami

used to
نَقْعُدُ kami duduk

sit
مِنْهَا daripadanya (langit)

there in
مَقَٰعِدَ tempat-tempat duduk

positions
لِلسَّمْعِ untuk mendengarkan

for hearing,
فَمَن maka barangsiapa

but (he) who
يَسْتَمِعِ ia mendengarkan

listens
ٱلْءَانَ sekarang

now
يَجِدْ ia mendapati

will find
لَهُۥ baginya

for him
شِهَابًا suluh api yang menyala

a flaming fire
رَّصَدًا mengintai

waiting.

Tafsir Quran

Surah Al Jinn
72:9

Tafsir QS. Al-Jinn (72) : 9. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini kembali dijelaskan tentang keterangan jin bahwa mereka menduduki tempat-tempat tersebut tanpa ada penjaga dan panah-panah api.
Mereka lalu diusir dari sana sehingga tidak dapat mencuri atau mendengar Alquran sedikit pun untuk disampaikan kepada ahli-ahli nujum dan tukang-tukang tenung yang akan mencampuradukkan yang benar dengan yang batil.

Yang demikian itu disebabkan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya dan sebagai penjagaan terhadap kitab-Nya, Alquran.
Maka barang siapa yang ingin mencuri berita-berita tersebut sejak itu dia akan diburu dengan panah-panah api yang akan menusuk dan membinasakannya.

Kita harus beriman kepada apa yang diberitakan oleh Alquran mengenai jin yang mencuri berita-berita yang dapat didengarkan, kemudian mereka dilarang sesudah pengutusan Nabi Muhammad, walaupun kita tidak tahu bagaimana cara mereka mencuri, cara bagaimana penjagaan, berapa banyak para penjaga.
Kita juga tidak tahu apa yang dimaksud dengan panah-panah api yang mengintip mereka, sedangkan jin itu juga berasal dari api, maka bagaimana cara mereka dapat ditembusi oleh panah-panah api itu.

Di antara mufassir ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan
"tempat-tempat untuk mencuri berita"
adalah tempat-tempat yang dipergunakan oleh jin di dalam dada manusia untuk menggoda mereka dan menghalangi mereka mengikuti jalan yang benar.
Sedangkan yang dimaksud dengan
"penjaga"
adalah dalil-dalil akli (akal/rasio) yang dijadikan Allah sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya, dan yang dimaksud dengan
"panah-panah api"
adalah bukti-bukti alamiah yang tersebar dalam tubuh masing-masing dan di seluruh penjuru alam.

Dengan demikian, maksud ayat tersebut adalah sesungguhnya Alquran yang mengandung bukti-bukti akliah dan alamiah adalah penjaga agama dari kemasukan hal-hal syubhat yang dilontarkan oleh setan, sebagai alat untuk menggoda dan membimbangkan orang-orang yang dapat digodanya.
Juga untuk mempengaruhi jiwa-jiwa orang yang sesat agar mereka tidak menghiraukan agama dan menolak petunjuk-petunjuknya.

Maka barang siapa yang ingin mempengaruhi jiwa-jiwa orang yang beriman dengan keragu-raguan dan pikiran yang bukan-bukan, maka ia akan berhadapan dengan bukti-bukti yang dapat memusnahkan keragu-raguan itu dari akar-akarnya.

Tafsir QS. Al Jinn (72) : 9. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sebelum ini kami selalu duduk mengambil tempat di langit untuk mencuri berita-berita langit.
Sekarang, barangsiapa berusaha mendengarkannya, ia akan dapati panah-panah api yang akan menembus dan membinasakannya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Sesungguhnya, kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (menguping) berita-beritanya.
Namun, sekarang barang siapa yang mencoba mencuri dengar, niscaya akan mendapati panah api yang mengintai yang akan membakarnya dan membinasakannya.


Kedua ayat ini menjadi bukti batilnya sangkaan para tukang sihir dan tukang tenung yang selalu menyangka bahwa mereka mengetahui yang gaib.
Mereka menjerumuskan orang-orang yang lemah akal dengan kedustaan dan kebohongan mereka.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan sesungguhnya kami dahulu) sebelum Nabi ﷺ diutus


(dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan) berita-beritanya dan untuk mencurinya.


(Tetapi sekarang barang siapa yang mencoba mendengar-dengarkan, seperti itu, tentu akan menjumpai panah api yang mengintai) panah-panah api yang terdiri dari meteor-meteor itu telah mengintainya dalam keadaan siap untuk memburunya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan tentang keadaan jin ketika Dia mengutus Rasul-Nya Nabi Muhammad ﷺ dan menurunkan kepadanya Alquran.
Dan tersebutlah bahwa di antara pemeliharaan (penjagaan) Allah kepada Alquran ialah Dia memenuhi langit dengan penjagaan yang ketat di semua penjuru dan kawasannya, dan semua setan diusir dari tempat-tempat pengintaiannya, yang sebelumnya mereka selalu menduduki pos-posnya di langit.
Agar setan-setan itu tidak mencuri-curi dengar dari Alquran, yang akibatnya mereka akan menyampaikannya kepada para tukang tenung yang menjadi teman-teman mereka, sehingga perkara Alquran menjadi samar dan campur aduk dengan yang lainnya, serta tidak diketahui mana yang benar.
Ini merupakan belas kasihan Allah subhanahu wa ta’ala kepada makhluk-Nya, juga merupakan rahmat dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya, dan sebagai pemeliharaan-Nya terhadap Kitab-Nya yang mulia.
Karena itulah maka jin mengatakan, sebagaimana yang diceritakan oleh firman-Nya

dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya).
Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).
(QS. Al-Jinn [72]: 8-9)

Yaitu barang siapa di antara kami yang berani mencoba mencuri-curi dengar sekarang, niscaya ia akan menjumpai panah berapi yang mengintainya yang tidak akan Iuput dan tidak akan meleset darinya, bahkan pasti akan mengganyangnya dan membinasakannya.

Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.
(QS. Al-Jinn [72]: 10)

Yakni kami tidak mengetahui peristiwa apa yang terjadi di langit, apakah keburukan yang dikehendaki bagi penduduk bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka?
Ini merupakan ungkapan etis kaum jin karena mereka menyandarkan keburukan kepada yang bukan pelakunya, sedangkan kebaikan mereka sandarkan kepada pelakunya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala Di dalam sebuah hadis sahih diungkapkan:

Keburukan itu bukanlah dinisbatkan kepada Engkau.

Sebelum itu memang pernah juga terjadi pelemparan bintang-bintang yang menyala-nyala (meteor), tetapi tidak banyak terjadi, melainkan hanya sesekali saja dan jarang terjadi, seperti yang disebutkan di dalam hadis Al-Abbas, yang menceritakan bahwa ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba ada bintang yang dilemparkan (di langit) sehingga bintang itu menyala dengan terang.
Maka Rasulullah ﷺ bertanya,
"Bagaimanakah pendapat kalian tentang peristiwa ini?"
Kami menjawab,
"Kami beranggapan bahwa ada seorang yang besar dilahirkan, atau ada orang besar yang meninggal dunia."
Maka Rasulullah ﷺ menjawab,
"Bukan demikian, tetapi apabila Allah memutuskan suatu urusan di langit,"
hingga akhir hadis.
Kami telah mengemukakannya dengan lengkap dalam tafsir surat Saba’.

Peristiwa penjagaan langit dengan penjagaan yang ketat itulah yang menggerakkan jin untuk mencari penyebabnya.
Lalu mereka menyebar ke arah timur dan arah barat belahan bumi untuk mencari berita penyebabnya.
Akhirnya mereka menjumpai Rasulullah ﷺ sedang membaca Alquran dengan para sahabatnya dalam salat.
Maka mereka mengetahui bahwa karena orang inilah langit dijaga ketat, lalu berimanlah kepadanya jin yang mau beriman, dan jin yang lainnya tetap pada kedurhakaan dan kekafirannya.
Hal ini disebutkan di dalam hadis Ibnu Abbas pada tafsir surat Al-Ahqaf, tepatnya pada firman-Nya:

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Alquran.
(QS. Al-Ahqaf [46]: 29), hingga akhir ayat.

Dan memang tidak diragukan lagi bahwa ketika peristiwa itu terjadi, yaitu banyaknya bintang yang menyala di langit dan selalu siap untuk dilemparkan bagi siapa yang akan mendekatinya, hal ini menyebabkan kegemparan di kalangan manusia dan jin;
mereka kaget dan merasa takut dengan peristiwa tersebut.
Mereka mengira bahwa alam ini akan hancur, sebagaimana yang dikatakan oleh As-Saddi berikut ini.

Bahwa sebelumnya langit tidak dijaga, melainkan bila di bumi terdapat seorang nabi atau agama Allah akan memperoleh kemenangan.
Tersebutlah pula bahwa setan-setan sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus mempunyai pos-posnya tersendiri di langit yang terdekat untuk mendengar-dengarkan berita dari langit menyangkut peristiwa yang akan terjadi di bumi.
Dan setelah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul, setan-setan itu dilempari dengan panah-panah berapi di suatu malam, maka kagetlah penduduk Taif dengan peristiwa tersebut.
Mereka mengatakan,
"Penduduk langit telah binasa."
Mereka mengatakan demikian karena melihat hebatnya api yang menyala di langit dan bintang-bintang meteor di malam itu simpang siur di langit menjadikan langit terang benderang.

Maka mereka memerdekakan budak-budaknya dan melepaskan ternak mereka, lalu Abdu Yalil ibnu Amr ibnu Umair berkata kepada mereka,
"Celakalah kalian, hai orang-orang Taif, tahanlah harta benda kalian.
Dan lihatlah dengan baik olehmu tempat-tempat bintang-bintang itu.
Jika bintang-bintang itu masih tetap pada tempatnya masing-masing, berarti penduduk langit tidak binasa.
Sesungguhnya kejadian ini tiada Lain karena Ibnu Abu Kabsyah, yakni Nabi Muhammad ﷺ Dan jika kalian lihat bintang-bintang tersebut tidak lagi berada di tempatnya masing-masing, berarti penduduk langit telah binasa."
Maka mereka memandang langit dengan pandangan yang teliti, dan ternyata mereka melihat bintang-bintang itu masih ada di tempatnya, akhirnya mereka menahan harta mereka dan tidak dilepaskannya lagi.

Setan-setan merasa terkejut dengan peristiwa tersebut di malam itu, maka mereka menghadap kepada iblis pemimpin mereka dan menceritakan kepadanya peristiwa pelemparan yang dialaminya.
Iblis memerintahkan kepada mereka,
"Datangkanlah kepadaku dari tiap-tiap kawasan bumi segenggam tanah, aku akan menciumnya."
Lalu.
iblis menciumnya dan berkata,
"Ini gara-gara teman kalian yang ada di Mekah."
Maka iblis mengirimkan tujuh jin dari Nasibin.
dan mereka datang ke Mekah, maka mereka menjumpai Nabi Allah sedang berdiri mengerjakan salatnya di Masjidil Haram dalam keadaan membaca Alquran.
Mereka makin mendekatinya karena ingin mendengarkan bacaan Al-Qur:an, dan hampir saja bagian yang menonjol dari tenggorokan mereka menyentuh Nabi ﷺ Kemudian mereka masuk Islam, maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi-Nya yang menceritakan perihal mereka.
Kami telah menerangkan bagian ini secara rinci di permulaan pembahasan kebangkitan Rasul dari kitab kami yang berjudul Kitabus Sirah, dengan keterangan yang panjang lebar.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Jinn (72) Ayat 9

RASHADAA
رَّصَدًا

Rashadaa adalah ism dalam bentuk mufrad, jamaknya arshaad. Asal makna bagi lafaz ini ialah mengawasi, mengintip, menjaga dan mengintai.

Ar rashd berarti jalan, rumput atau hujan yang sedikit.
Darinya terbit lafaz mirshad yang bermakna jalan untuk pengawasan dan pengintaian dan lafaz al marshad yang bermakna tempat pengamatan dan pengintaian.
Sedangkan lafaz ar rashad berarti teropong bintang, pengintai dan pengawas.

Lafaz rashada disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Jin (72), ayat 9 dan 27.
Sedangkan lafaz marshad disebut sekali yaitu dalam surah At Taubah (9), ayat 5.
Lafaz mirshaad disebut dua kali yaitu dalam surah Al Fajr (89), ayat 14 dan surah An Naba’ (78), ayat 21. Allah berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ

Dalam ayat ini, lafaz rashadaa dihubungkan dengan syihaab yang berarti bintang bintang yang berapi

Al Qurtubi berkata,
ar rashad ialah penjaga bagi sesuatu.

Ada yang berpendapat, ar rashad adalah asy syihaab, maknanya bola-bola api yang mengintai dan mengawasi.

Tafsirannya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qutaibah, "Bintang bintang yang berapi yang sentiasa mengawasi dan siap untuk memanah.
Begitu juga lafaz rashada dalam ayat 27 yaitu yang mengawasi dan mengintai.

Dalam Tafsir Al Maraghi, rashadaa dalam ayat ini bermaksud al malaa’ikah al hafazah yaitu malaikat penjaga yang menjaga kekuatan zahir dan batin dari syaitan dan menghalang dari gangguan mereka.

Kesimpulannya, rashadaa bermakna yang mengawasi dan mengintai.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:250

Unsur Pokok Surah Al Jinn (الجن)

Surat Al Jin terdiri atas 28 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al A’raaf.

Dinamai "Al Jin" (jin) diambil dari perkataan "Al Jin" yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya diterangkan bahwa Jin sebagai makhluk halus telah mendengar pembacaan Alquran dan mereka mengikuti ajaran Alquran tersebut.

Keimanan:

▪ Pengetahuan tentang jin diperoleh Nabi Muhammad ﷺ dengan jalan wahyu.

Ayat-ayat dalam Surah Al Jinn (28 ayat)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Lihat surah lainnya

Audio Murottal

QS. Al-Jinn (72) : 1-28 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 28 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Jinn (72) : 1-28 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 28

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Jinn ayat 9 - Gambar 1 Surah Al Jinn ayat 9 - Gambar 2
Statistik QS. 72:9
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Jinn.

Surah Al-Jinn (Arab: الجنّ ,”Jin”) adalah surah ke-72 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri atas 28 ayat.
Dinamakan “al-Jinn” yang berarti “Jin” diambil dari kata “al-Jinn” yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Pada ayat tersebut dan ayat-ayat berikutnya diterangkan bahwa Jin sebagai makhluk halus telah mendengar pembacaan Alquran dan mereka mengikuti ajaran Alquran tersebut.

Nomor Surah 72
Nama Surah Al Jinn
Arab الجن
Arti Jin
Nama lain
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 40
Juz Juz 29
Jumlah ruku’ 2 ruku’
Jumlah ayat 28
Jumlah kata 286
Jumlah huruf 1109
Surah sebelumnya Surah Nuh
Surah selanjutnya Surah Al-Muzzammil
Sending
User Review
4.9 (27 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

72:9, 72 9, 72-9, Surah Al Jinn 9, Tafsir surat AlJinn 9, Quran Al Jin 9, Aljin 9, Al-Jinn 9, Surah Al Jin ayat 9

Video Surah

72:9


Load More

Kandungan Surah Al Jinn

۞ QS. 72:1 Jin mendengarkan Al Qur’an • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:2 Tauhid Uluhiyyah • Ar Rabb (Tuhan) • Keimanan jin kepada para nabi • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:3 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Ar Rabb (Tuhan) • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:4 • Mendustai Allah • Sifat iblis dan pembantunya • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:5 • Mendustai Allah • Sifat iblis dan pembantunya • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:6 • Sifat iblis dan pembantunya • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:7 • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:8 • Usaha jin untuk mencuri informasi • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:9 • Pahala jin dan balasannya • Usaha jin untuk mencuri informasi • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:10 Ar Rabb (Tuhan) • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:11 • Sifat iblis dan pembantunya • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:12 • Kekuasaan Allah

۞ QS. 72:13 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Keimanan jin kepada para nabi • Jin mendengarkan Al Qur’an

۞ QS. 72:14 • Sifat iblis dan pembantunya • Islamnya sebagian jin • Ajakan masuk Islam

۞ QS. 72:15 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Pahala jin dan balasannya • Azab orang kafir

۞ QS. 72:16 • Pahala iman • Macam-macam fitnah • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 72:17 Ar Rabb (Tuhan) • Pahala jin dan balasannya • Azab orang kafir

۞ QS. 72:18 Tauhid Uluhiyyah

۞ QS. 72:19 Jin mendengarkan Al Qur’an • Islamnya sebagian jin

۞ QS. 72:20 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 72:23 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 72:24 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Azab orang kafir

۞ QS. 72:25 Ar Rabb (Tuhan) • Waktu kiamat tidak diketahui

۞ QS. 72:26 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Para utusan Allah pun tidak mengetahui alam ghaib • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 72:27 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 72:28 Ar Rabb (Tuhan) • Menghitung amal kebaikan

Ayat Pilihan

Hai Nabi,
bertakwalah kepada Allah & janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir & orang-orang munafik.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,
QS. Al-Ahzab [33]: 1

Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,
sungguh Dia Maha Pengampun,
niscaya Dia kirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
dan banyakkan harta & anak-anakmu,
dan adakan untukmu kebun & sungai.
Mengapa kau tak percaya akan kebesaran Allah?
QS. Nuh [71]: 10-13

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan),
maka siapa berat timbangan kebaikannya,
maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.
QS. Al-A’raf [7]: 8

Semua yang ada di langit & di bumi selalu meminta pada-Nya.
Setiap waktu Dia dalam kesibukan.
QS. Ar-Rahman [55]: 29

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan ...

Correct! Wrong!

Penjelasan:
Mujtahid (bahasa Arab: u0627u0644u0645u062cu062au0647u062f) atau fakih (u0627u0644u0641u0642u064au0647) adalah seseorang yang dalam ilmu fikih sudah mencapai derajat ijtihad dan memiliki kemampuan istinbath (inferensi) hukum-hukum syariat dari sumber-sumber muktabar dan diandalkan.

Era ketidaktahuan juga disebut zaman ...

Correct! Wrong!

Pengertian ijtihad menurut istilah adalah ...

Correct! Wrong!

+

Array

Arti hadits maudhu' adalah ...

Correct! Wrong!

Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah ...

Correct! Wrong!

Pendidikan Agama Islam #9
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #9 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #9 2

Belajar lagi yaa...

Share your Results:

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … Al Falaq artinya … Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … … Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun … Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui …

Pendidikan Agama Islam #10

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di … Wahyu pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkandung dalam surah … Sejak wahyu di Surah Al Muddasir : 1-7, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai berkhotbah. Awalnya nabi melakukan dakwah kepada … Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah di kota Mekah kurang lebih selama …

Kamus Istilah Islam

As Syakuur

Apa itu As Syakuur? Allah itu Asy-Syakur ◀ Allah itu Asy-Syakur yang memiliki maknya Yang Maha Menghargai/Maha Mensyukuri. Allah itu sangat menghargai amal perbuatan makhluk-makhluk-Nya. &128161; Allah akan membalas amal baik yang kita lakukan meskipun itu adalah amalan yang kecil dan sepele sekalipun. Karena dimata Allah segala perbuatan itu pantas untuk menda … • As-Syakuur, As-Syakur, Al Syakur

Tajwid

Apa itu Tajwid? Tajwīd secara harfiah bermakna melakukan sesuatu dengan elok dan indah atau bagus dan membaguskan, tajwid berasal dari kata Jawwada dalam bahasa Arab. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bag … •

Ummah

Apa itu Ummah? Ummah adalah sebuah kata dan frasa dari bahasa Arab yang berarti: “masyarakat” atau “bangsa”. Kata tersebut berasal dari kata amma-yaummu, yang dapat berarti: “menuju”, “menumpu”, atau “meneladani”. Dari akar kata yang sama, terbentuk pula kata: um yang berarti “ibu”, dan imam yang berarti “pemimpin”. Saat ini, Organis … •