QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 80 [QS. 17:80]

وَ قُلۡ رَّبِّ اَدۡخِلۡنِیۡ مُدۡخَلَ صِدۡقٍ وَّ اَخۡرِجۡنِیۡ مُخۡرَجَ صِدۡقٍ وَّ اجۡعَلۡ لِّیۡ مِنۡ لَّدُنۡکَ سُلۡطٰنًا نَّصِیۡرًا
Waqul rabbi adkhilnii mudkhala shidqin wa-akhrijnii mukhraja shidqin waaj’al lii min ladunka sulthaanan nashiiran;

Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku).
―QS. 17:80
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Manusia dibangkitkan dari kubur ▪ Sifat surga dan kenikmatannya
17:80, 17 80, 17-80, Al Israa 80, AlIsraa 80, Al Isra 80, Al-Isra’ 80
English Translation - Sahih International
And say,
“My Lord, cause me to enter a sound entrance and to exit a sound exit and grant me from Yourself a supporting authority.”
―QS. 17:80

 

Tafsir surah Al Israa (17) ayat 80

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 80. Oleh Kementrian Agama RI

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi berada di Mekah, lalu diperintahkan Allah untuk hijrah.
Maka turunlah ayat ini.

Allah ﷻ memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ agar mengucap-kan doa yang tersebut dalam ayat ini, yang maksudnya
“Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat yang Engkau kehendaki, baik di dunia maupun di akhirat, dan tempatkan aku ke tempat yang Engkau kehendaki, baik di dunia maupun di akhirat.”

Di antara contoh masuknya Rasulullah ke suatu tempat dengan benar ialah beliau dan para sahabat memasuki kota Madinah sebagai orang-orang yang hijrah dari Mekah, memasuki kota Mekah di waktu penaklukan kota itu, masuk kubur setelah mati, dan memasuki tempat yang diridai Allah, seperti masuk masjid, rumah sendiri, rumah sahabat, dan kenalan setelah minta izin darinya, dan sebagainya.
Keluar dari semua tempat yang dikehendaki Allah, seperti keluar dari kota Mekah waktu hijrah, keluar dari kubur waktu hari kebangkitan, atau keluar dari semua tempat yang dikehendaki Allah, seperti kota-kota yang menjadi tempat melakukan perbuatan maksiat dan sebagainya.

Allah ﷻ juga memerintahkan kepada Nabi agar berdoa kepada-Nya supaya dijadikan orang yang menguasai hujah dan alasan yang dapat diterima dan ketika berdakwah, dapat memuaskan orang-orang yang mendengarkannya sehingga bertambah kuat imannya.
Jika yang mendengar orang kafir, hati mereka menjadi lunak dan mau masuk Islam.
Sebagai jawaban terhadap doa Nabi Muhammad itu, Allah menerangkan bahwa Dia memelihara Nabi dari segala macam tipu daya manusia dan akan me-menangkannya terhadap orang-orang kafir, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ وَاِنْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَتَهٗ ۗوَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu.
Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya.
Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia.
Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.
(al-Ma’idah [5]: 67)