QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 35 [QS. 17:35]

وَ اَوۡفُوا الۡکَیۡلَ اِذَا کِلۡتُمۡ وَ زِنُوۡا بِالۡقِسۡطَاسِ الۡمُسۡتَقِیۡمِ ؕ ذٰلِکَ خَیۡرٌ وَّ اَحۡسَنُ تَاۡوِیۡلًا
Wa-a-ufuul kaila idzaa kiltum wazinuu bil qisthaasil mustaqiimi dzalika khairun wa-ahsanu ta’wiilaa;

Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar.
Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
―QS. 17:35
Topik ▪ Kekuasaan Allah
17:35, 17 35, 17-35, Al Israa 35, AlIsraa 35, Al Isra 35, Al-Isra’ 35

Tafsir surah Al Israa (17) ayat 35

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 35. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah itu Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin agar menyempurnakan takaran bila menakar barang.
Yang dimaksud dengan menyempurnakan takaran ialah: pada waktu menakar barang hendaknya dilakukan dengan setepat-tepatnya dan secermat-cermatnya, tidak boleh mengurangi takaran atau melebihkannya.
Karena itu maka seseorang yang menakar barang yang akan diterimakan kepada orang lain, demikianlah pula kalau seseorang menakar barang orang lain, tidak boleh dikurangi, sebab tindakan serupa itu merugikan orang lain.
Demikianlah pula kalau seseorang menakar barang orang lain yang akan ia terima untuk dirinya, tidak boleh dilebihkan, sebab tindakan serupa itu juga merugikan orang lain.
Akan tetapi apabila seseorang menakar barang miliknya sendiri, dengan maksud dipergunakannya sendiri, maka tidaklah berdosa apabila ia mengurangi takaran atau menambahnya menurut sekehendak hatinya, sebab perbuatan serupa ini tidak ada yang dirugikan dan tidak ada pula yang merasa beruntung.

Dalam pada itu Allah subhanahu wa ta’ala juga memerintahkan kepada mereka agar menimbang barang dengan neraca yang benar.
Neraca yang benar ialah neraca yang dibuat seteliti mungkin, sehingga dapat memberikan kepercayaan kepada orang yang melakukan jual beli, dan tidak memungkinkan terjadinya penambahan dan pemgurangan.

Allah subhanahu wa ta’ala mengancam orang-orang yang mengurangi takaran dan timbangan ini dengan ancaman keras.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
(Q.S. Al Mutaffifin: 1-3)

Di akhir ayat Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan, bahwa menakar barang atau menimbangnya dengan teliti, adalah lebih baik bagi mereka, lebih baik akibatnya karena di dunia mereka itu mendapat kepercayaan dari anggota masyarakatnya dan di akhirat nanti akan mendapat pahala dari Allah dan keridaan Nya, serta terhindar dari api neraka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sempurnakanlah takaran jika kalian menakar untuk pembeli.
Timbanglah dengan neraca yang adil.
Sesungguhnya menepati takaran dan timbangan lebih baik bagi kalian di dunia.
Sebab hal itu dapat membuat orang senang bermuamalah dengan kalian.
Sesungguhnya kesudahan yang paling baik adalah di akhirat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan sempurnakanlah takaran) penuhilah dengan tepat (apabila kalian menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar) timbangan yang tepat (itulah yang lebih utama dan lebih baik akibatnya.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sempurnakanlah takaran dan jangan menguranginya, apabila kalian menakar untuk orang lain, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus.
Sesungguhnya adil dalam takaran dan timbangan itu lebih baik bagi kalian di dunia, dan lebih baik akibatnya di sisi Allah di akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan sempurnakanlah takaran apabila kalian menakar.

Yakni kalian tidak boleh melipat (mengurangi)nya.
Ayat ini semakna de­ngan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

dan janganlah kalian kurangkan bagi manusia barang-barang takaran.
(Q.S. Al-A’raf [7]: 85)

…dan timbanglah dengan neraca yang benar.

Qistas sewazan dengan lafaz qirtas (kertas), dapat dibaca qurtas.
artinya timbangan.
Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud dengan qistas menurut bahasa Romawi artinya neraca timbangan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…yang benar.

Yaitu neraca yang tidak miring, tidak melenceng, dan tidak kacau (berge­tar).

Itulah yang lebih utama.

Maksudnya, lebih utama bagi kalian daiam kehidupan dunia dan akhirat.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

…dan lebih baik akibatnya.

Yakni lebih baik akibatnya bagi kehidupan akhirat kalian.

Sa’id telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:

Itulah yang lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.
Yakni lebih baik pahalanya dan lebih baik akibatnya.

Ibnu Abbas pernah berkata, “Hai para mawali (pelayan) sesungguhnya kalian diserahi dua perkara yang pernah mengakibatkan kebinasaan manusia di masa sebe­lum kalian, yaitu takaran dan timbangan ini.”

Dan Qatadah pernah menga­takan, telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

Tidak sekali-kali seseorang mampu berbuat hal yang haram, lalu ia meninggalkannya yang tiada lain karena takut kepada Allah, kecuali Allah menggantikan baginya dengan segera di dunia ini sebelum akhiratnya sesuatu yang jauh lebih baik dari­pada hal yang haram itu.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Israa (17) Ayat 35

QISTHAAS
قِسْطَاس

Lafaz ini mengandung makna timbangan yang bersih dan adil.

Al Kafawi berkata,
Al qisthaas kadangkala digunakan untuk mengetahui kadar atau jumlah dan kadangkala digunakan untuk mengawal dan menjaga dari penambahan atau pengurangan.”

Ia disebut dua kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al Israa’ (17), ayat 35;
-Asy Syu’araa’ (26), ayat 182.

Ulama berbeda pendapat tentang makna qisthaas:

– Al Yazidi mengatakan makna qisthaas adalah al ‘adl (keadilan). Begitu juga dengan pendapat Mujahid, beliau berkata,
ia adalah bahasa Roma·

– Ibn Qutaybah berpendapat makna qisthaas adalah al mizan (timbangan) dan ia adalah bahasa Roma.

– Al Hasan berkata “Ia bermakna qubbaan (dacing)

– Ada juga yang memberikannya makna timbangan kecil atau besar

– Az Zujjaj berpendapat, ia bermakna timbangan yang adil atau timbangan dari timbangan-timbangan dirham dan sebagainya.

Tafsirannya, timbanglah dengan timbangan yang adil lagi jujur,” tidak ada di dalamnya kesamaran dan penipuan.

Kesimpulannya, al qisthaas bermakna dacing atau timbangan yang adil.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:488-489

Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan “Al Israa” yang berarti “memperjalankan di malam hari”,
berhubung peristiwa lsraa’ Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa’ pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan “Bani lsrail” artinya keturunan Israil” berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya’ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala
Dihubungkannya kisah ‘Israa’ dengan riwayat “Bani Israil” pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur’an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa’ Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Israa (17) ayat 35 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Israa (17) ayat 35 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Israa (17) ayat 35 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Israa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 111 & Terjemahan


Gambar

no images were found



Statistik Q.S. 17:35
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Israa.

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
4.9
Ratingmu: 4.9 (13 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs al isro 35

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta