QS. Al Israa (Perjalanan Malam) – surah 17 ayat 25 [QS. 17:25]

رَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ بِمَا فِیۡ نُفُوۡسِکُمۡ ؕ اِنۡ تَکُوۡنُوۡا صٰلِحِیۡنَ فَاِنَّہٗ کَانَ لِلۡاَوَّابِیۡنَ غَفُوۡرًا
Rabbukum a’lamu bimaa fii nufuusikum in takuunuu shaalihiina fa-innahu kaana lil-au-waabiina ghafuuran;

Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu, jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.
―QS. 17:25
Topik ▪ Taubat ▪ Keutamaan taubat ▪ Perbuatan orang kafir sia-sia
17:25, 17 25, 17-25, Al Israa 25, AlIsraa 25, Al Isra 25, Al-Isra’ 25

Tafsir surah Al Israa (17) ayat 25

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Israa (17) : 25. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan kepada kaum Muslimin agar, mereka benar-benar memperhatikan urusan kebaktian kepada kedua ibu bapak dan tidak menganggapnya sebagai urusan yang remeh, dengan menjelaskan bahwa Tuhanlah yang lebih mengetahui apa yang tergerak dalam hati mereka, apakah mereka benar-benar mendambakan kebaktiannya kepada kedua iba bapak dengan rasa kasih sayang dan penuh kesadaran, ataukah kebaktian mereka hanyalah pernyataan lahiriyah saja, sedang di dalam hati mereka sebenarnya durhaka dan membangkang.
Itulah sebabnya Allah menjanjikan bahwa apabila mereka benar-benar orang-orang yang berbuat baik, yaitu benar-benar menaati tuntutan Allah, berbakti kepada kedua ibu bapak dalam arti yang sebenar benarnya, maka Allah akan memberi ampunan kepada mereka atas perbuatan yang melampaui batas-batas ketentuan Tuhan, Allah Maha Pengampun kepada siapa saja yang mau bertobat dan kembali menaati perintah-Nya.

Di dalam ayat ini terdapat janji baik yang ditujukan kepada orang-orang yang hatinya terbuka untuk mendambakan kebaktiannya kepada ibu bapaknya, dan sebaliknya terdapat ancaman keras yang ditujukan kepada orang-orang yang meremehkan kebaktian kepada kedua ibu bapaknya, apalagi yang sengaja mendurhakai kedua ibu bapaknya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai manusia, Tuhan kalian lebih mengetahui segala apa yang ada di dalam hati kalian daripada kalian sendiri.
Dia akan memperhitungkannya dengan pahala dan hukuman.
Maka apabila kalian bermaksud melakukan kebaikan–dan kalian memang akan benar-benar melakukan kebaikan–tetapi kalian kemudian terperosok dalam kesalahan, lalu kalian kembali kepada Allah, maka Dia akan mengampuni kalian.
Sebab Dia Maha Pengampun bagi mereka yang bertobat kepada-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Rabb kalian lebih mengetahui apa yang ada dalam hati kalian) apa yang terpendam di dalamnya berupa perasaan berbakti dan menyakiti (jika kalian orang-orang yang baik) taat kepada Allah (maka sesungguhnya Dia kepada orang-orang yang bertobat) orang-orang yang kembali kepada Allah dengan berbuat taat kepada-Nya (Maha Pengampun) terhadap apa yang telah mereka lakukan sehubungan dengan hak-hak kedua orang tua, yaitu berupa perbuatan yang menyakitkan lalu dengan segera mereka bertobat dan tidak akan berbuat yang menyakitkan lagi kepada keduanya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Rabb kalian, wahai manusia, lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu berupa kebaikan dan keburukan.
Jika kehendak dan tujuan kalian adalah mencari keridhaan Allah dan apa yang mendekatkan diri kalian kepada-Nya, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang kembali kepada-Nya dalam segala waktu.
Siapa yang diketahui Allah bahwa dalam hatinya tidak ada kecuali bertaubat kepada-Nya dan mencintai-Nya, maka sesungguhnya Dia akan memaafkannya, dan mengampuni dosa-dosa kecil yang dilakukannya, yang merupakan tuntutan dari tabiat manusia.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa makna ayat ini menyangkut perihal seorang lelaki yang membuat kesalahan terhadap kedua orang tuanya, sedangkan dalam hatinya dia beranggapan tidak berdosa.
Menurut riwa­yat yang lain, tiada yang dia inginkan dengan perbuatannya itu melainkan hanya kebaikan belaka.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Tuhan kalian lebih mengetahui apa yang ada dalam hati kalian, jika kalian orang yang haik.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.
(Q.S. Al Israa [17]: 25)

Qatadah mengatakan bahwa makna awwabin ialah orang-orang yang taat, ahli salat.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa makna yang dimak­sud ialah orang-orang yang selalu bertasbih.
Dan menurut riwayat lainnya, dari Ibnu Abbas, orang-orang yang taat lagi berbuat baik.

Sebagian di antara mereka (ulama) mengatakan bahwa mereka ada­lah orang-orang yang mengerjakan salat di antara salat Magrib dan Isya.

Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang gemar mengerjakan salat duha.

Syu’bah telah meriwayatkan dari Yahya ibnu Sa’id, dari Sa’id ibnul Musayyab sehubungan dengan firman-Nya:

…maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.
Yakni orang-orang yang mengerjakan dosa, lalu bertobat, kemudian mengerjakan dosa lagi dan bertobat pula sesudahnya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abdur Razzaq, dari Assauri, dan Ma’mar, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Ibnul Musayyab.
Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Al-Lais dan Ibnu Jarir dari Ibnul Musayyab.

Ata ibnu Yasar dan Sa’id ibnu Jubair serta Mujahid mengatakan, mereka adalah orang-orang yang kembali mengerjakan kebaikan.

Mujahid telah meriwayatkan dari Ubaid ibnu Umair sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa makna yang dimaksud ialah seseorang yang bila mengingat dosa-dosanya di tempat yang sepi, maka ia memohon ampun kepada Allah dari dosa-dosanya.
Mujahid berpendapat sama dengan pendapat ini.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Maslamah dari Amr ibnu Dinar, dari Ubaid ibnu Umar sehubungan dengan firman-Nya: Maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat (Q.S. Al Israa [17]: 25) Ia beranggapan bahwa al-awwab artinya orang-orang yang memelihara dirinya (dari perbuatan dosa) lagi selalu mengatakan, “Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa yang aku lakukan di majelisku ini.”

Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang paling utama sehubungan dengan makna ayat ini ialah pendapat orang yang mengatakan bahwa al-awwab ialah orang yang bertobat dari dosanya, lagi meninggalkan perbuatan maksiat dan kembali mengerjakan ketaatan, dan meninggalkan semua yang dibenci oleh Allah, lalu mengerjakan apa yang disukai dan diridai-Nya.

Pendapat inilah yang benar, karena lafaz al-awwab berakar dari al-aub yang artinya kembali.
Dikatakan Aba Fulanun (si Fulan telah kembali/bertobat).
Dan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala.
disebutkan:

Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka.
(Q.S. Al-Ghaasyiyah [88]: 25)

Di dalam hadis sahih dari Rasulullah ﷺdisebutkan bahwa Rasulullah ﷺ apabila kembali dari perjalannya selalu mengucapkan doa berikut:

Kami kembali dengan selamat seraya bertobat lagi menyembah-(Nya) dan hanya kepada Tuhanlah kami memuji.


Informasi Surah Al Israa (الإسراء)
Surat ini terdiri atas 111 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Dinamakan dengan “Al Israa” yang berarti “memperjalankan di malam hari”,
berhubung peristiwa lsraa’ Nabi Mu­ hammad ﷺ di Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis dicantumkan pada ayat pertama dalam surat ini.

Penuturan cerita lsraa’ pada permulaan surat ini, mengandung isya­rat bahwa Nabi Muhammad ﷺ beserta umatnya kemudian hari akan mencapai martabat yang tinggi dan akan menjadi umat yang besar.

Surat ini dinamakan pula dengan “Bani lsrail” artinya keturunan Israil” berhubung dengan permulaan surat ini, yakni pada ayat kedua sampai dengan ayat kedelapan dan kemudian dekat akhir surat ya’ni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104, Allah menyebutkan tentang Bani lsrail yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena me­ nyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala
Dihubungkannya kisah ‘Israa’ dengan riwayat “Bani Israil” pada surat ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagai­ mana halnya Bani lsrail, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Keimanan:

Allah tidak mempunyai anak baik berupa manusia ataupun malaikat
Allah pasti memberi rezki kepada manusia
Allah mempunyai nama-nama yang paling baik
Al Qur’an adalah wahyu dari Allah yang memberikan petunjuk, penawar dan rah­mat bagi orang-orang yang beriman
adanya padang Mahsyar dan hari berbangkit.

Hukum:

Larangan-larangan Allah tentang: menghilangkan jiwa manusia
berzina
memper­ gunakan harta anak yatirn kecuali dengan cara yang dibenarkan agama
ikut-ikut­an baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan
durhaka kepada ibu bapa
Perintah Allah tentang: memenuhi janji dan menyempurnakan timbangan dan ta­karan, melakukan shalat lima waktu dalam waktunya.

Kisah:

Kisah Israa’ Nabi Muhammad ﷺ, beberapa kisah tentang Bani lsrail.

Lain-lain:

Pertanggungan jawab manusia masing-masing terhadap amal perbuatannya
bebe­rapa faktor yang menyebabkan kebangunan dan kehancuran suatu umat
petunjuk­ petunjuk tentang pergaulan dengan orang tua, tetangga dan masyarakat
manusia makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia, dalam pada itu manusia mempunyai pula sifat­ sifat yang tidak baik seperti suka ingkar, putus asa dan terburu-buru
dan persoalan roh.

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Israa (17) ayat 25 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Israa (17) ayat 25 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Israa (17) ayat 25 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Israa - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 111 & Terjemahan


Gambar

no images were found



Statistik Q.S. 17:25
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Israa.

Surah Al-Isra' (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, "Perjalanan Malam") adalah surah ke-17 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti "memperjalankan di malam hari".
Surah ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israel dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8 dan kemudian dekat akhir surah yakni pada ayat 101 sampai dengan ayat 104 di mana Allah menyebutkan tentang Bani Israel yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah subhanahu wa ta'ala.
Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israel pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israel, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

Nomor Surah 17
Nama Surah Al Israa
Arab الإسراء
Arti Perjalanan Malam
Nama lain Al-Subhan, Bani Israel
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 50
Juz Juz 15
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 111
Jumlah kata 1560
Jumlah huruf 6440
Surah sebelumnya Surah An-Nahl
Surah selanjutnya Surah Al-Kahf
4.5
Ratingmu: 4.7 (27 orang)
Sending







Pembahasan ▪ al isra 17 25 ▪ Robbukum

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta