QS. Al Insaan (Manusia) – surah 76 ayat 1 [QS. 76:1]

ہَلۡ اَتٰی عَلَی الۡاِنۡسَانِ حِیۡنٌ مِّنَ الدَّہۡرِ لَمۡ یَکُنۡ شَیۡئًا مَّذۡکُوۡرًا
Hal ata ‘ala-insaani hiinun minaddahri lam yakun syai-an madzkuuran;

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?
―QS. 76:1
Topik ▪ Penciptaan ▪ Penciptaan Adam as. dan keturunannya ▪ Kesucian Allah dari sekutu dan anak
76:1, 76 1, 76-1, Al Insaan 1, AlInsaan 1, Al Insan 1, Al-Insan 1

Tafsir surah Al Insaan (76) ayat 1

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Insaan (76) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat pertama ini menegaskan tentang proses kejadian manusia dari tidak ada menjadi ada, pada saat manusia belum berwujud sama sekali.
Disebutkan bahwa manusia berasal dari tanah yang tidak dikenal dan tidak disebut-sebut sebelumnya.
Apa dan bagaimana jenis tanah itu tidak dikenal sama sekali.
Kemudian Allah meniupkan roh kepadanya, sehingga jadilah dia makhluk yang bernyawa.
Ayat di atas dapat diinterpretasikan sebagai salah satu bagian yang menceritakan evolusi manusia.
Uraian sepenuhnya mengenai hal ini dapat dilihat di bawah ini.

Pada abad-19, Charles Darwin mengemukakan teori bahwa jenis manusia ada di muka bumi melalui suatu proses panjang evolusi.
Mereka tidak langsung ada sebagaimana dinyatakan pada banyak kitab suci.
Dia menyatakan bahwa waktu yang diperlukan untuk proses evolusi, yang berujung pada terbentuknya manusia, kemungkinan besar memerlukan waktu jutaan tahun.
Hal kedua yang dikemukakan oleh teori Darwin adalah bahwa manusia berkembang dari binatang.
Pada permulaan adanya kehidupan, demikian dinyatakan oleh teori ini, bentuk kehidupan yang ada adalah binatang-binatang tingkat rendah.
Dengan berjalannya waktu, muncul binatang-binatang tingkat tinggi dan berukuran lebih besar.
Dengan tidak sengaja, dari salah satu binatang berkembang menjadi manusia.
Hal demikian ini dibuktikannya dengan adanya sederet bukti dari tengkorak hewan yang secara runut mengarah ke tengkorak manusia saat ini.

Bukti lain juga dikemukakan dari perkembangan bentuk embrio.
Dalam perkembangannya, embrio manusia berubah-ubah bentuk.
Dimulai dari mirip bentuk embrio ikan, kelinci, dan jenis binatang lainnya, dan berakhir berbentuk manusia.

Dari temuan terakhir ini, kemudian disimpulkan bahwa evolusi panjang manusia berasal dari bintang tingkat rendah.
Point kedua dari teori Darwin adalah bahwa manusia dan kera datang dari satu moyang yang sudah punah saat ini.
Moyang yang punah ini disebutnya sebagai “missing link”,
rantai yang hilang.
Haekel, seorang peneliti setelah masa Darwin, berpendapat bahwa binatang yang menjadi “missing link” adalah yang disebut Lypotilu.
Apabila binatang ini atau sisa-sisa dari binatang ini dapat ditemukan, maka teka-teki mengenai evolusi manusia dapat dijelaskan dengan lebih baik.
Para pemikir yang mempercayai teori ini menganggap bahwa gorila dan simpanse ada pada jalur evolusi manusia.

Peneliti lain yang bernama Huxley mempunyai pemikiran yang sedikit berbeda.
Ia menyimpulkan bahwa garis manusia dapat saja terjadi jauh sebelum munculnya jenis-jenis kera.
Jadi, manusia dan kera tidak pernah berhubungan.
Penelitian yang lebih kemudian yang dilakukan oleh Prof.
Jones dan Prof.
Osborne, cenderung untuk menyimpulkan bahwa walaupun manusia ada melalui proses evolusi, namun prosesnya sudah terpisah dari binatang lainnya di masa yang lebih jauh.
Dan dari saat itu, manusia berevolusi pada garisnya sendiri, tanpa bercampur dengan evolusi binatang lainnya.
Dengan kata lain, manusia bukanlah cabang dari binatang lain, katakanlah kera, sebagaimana dipercaya oleh Darwin.
Para ahli arkeologi dan antropologi menemukan bahwa peradaban manusia terjadi melalui jalur yang terbagi secara jelas.
Pada zaman batu, manusia pertama kali melangkah masuk ke daerah budaya dan kemasyarakatan.
Sejak masa itu, manusia melakukan evolusi dalam mempertahankan hidup sebagai “binatang yang lemah”.
Karena tidak memiliki kekuatan, cakar, dan taring yang kuat sebagaimana binatang lain, manusia menggunakan batu sebagai alat mempertahankan diri dan kegunaan lainnya.
Kemudian datang zaman perunggu, dimana manusia mulai menggunakan bahan metal untuk membuat peralatan.
Zaman ini diikuti oleh zaman besi.
Dari berbagai situs yang ditemukan para arkeologi disimpulkan bahwa berbagai zaman dari kehidupan manusia dilakukan dengan perubahan budaya dari satu masa ke masa lainnya.
Di dalam Al-Qur’an, ada satu ayat yang berkaitan erat dengan penciptaan manusia yang bertahap, yaitu:

Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?
Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian).
Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis?
Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)?
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur), kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan pasti.
Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas.

(Q.S. Nuh [71]: 13-20)

Ayat di atas mencela manusia yang masih meragukan bahwa penciptaan tidak dilakukan berdasarkan perencanaan yang baik.
Diperlihatkan bagaimana semuanya dilakukan melalui fase-fase atau masa-masa, yang teratur dan didasarkan pada perencanaan yang bijak.
Penciptaan dilakukan bukan tanpa tujuan, dan mengarah pada kesempurnaan.
Ternyata hukum evolusi yang dikembangkan para peneliti di Eropa telah dijelaskan secara sangat rinci oleh Al-Qur’an pada 1400 tahun sebelumnya.
Dijelaskan oleh Al-Qur’an bahwa manusia tidak diciptakan secara mendadak dan dalam bentuk dan rupa sebagaimana kita saat ini.
Allah tidak membuat model dari tanah liat dan “meniupkan” kehidupan ke dalamnya untuk menjadi manusia pertama di muka bumi.
Manusia mencapai tahap seperti saat ini setelah melalui proses beberapa masa perubahan.
Hal kedua yang diungkapkan Al-Qur’an dalam kaitan penciptaan manusia adalah dari kondisi ketiadaan.
Suatu subjek yang bertolak belakang dengan penjelasan sebelumnya.

Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, padahal (sebelumnya) dia belum berwujud sama sekali?
(Q.S. Maryam [19]: 67)

Ayat di atas menunjuk pada ciptaan pertama dari jenis manusia.
Sangat berbeda dengan apa yang terjadi sekarang.
Reproduksi manusia pada saat ini terjadi dengan bibit yang diproduksi dari organ laki-laki dan perempuan.
Harus diperhatikan secara cermat bahwa dalam ayat tersebut, ada pernyataan bahwa sesuatu ada dari bukan sesuatu.

Ayat tersebut menyatakan bahwa sebelum tahapan dimana material dan benda lain menjadi benda hidup, ada satu tahapan lain dimana tidak ada eksistensi apa pun.
Kita dapat menyatakan bahwa kursi dibuat dari kayu; atau rantai dibuat dari besi.
Di sini kita memiliki material yang dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat barang tertentu.
Mereka yang tidak mempercayai agama seringkali menyatakan ayat di atas sebagai dongeng saja.
Akan tetapi, ayat di atas tidak menyatakan hal yang demikian.
Arti ayat di atas jelas memberitahukan bahwa sebelum adanya penciptaan, tidak ada apa-apa di alam semesta.
Setelah ada penciptaan alam semesta, menyusul kemudian penciptaan-penciptaan lainnya, termasuk penciptaan manusia.
Tahap kedua perkembangan manusia tampaknya terjadi pada saat manusia ada secara fisik, namun otak belum berkembang baik.
Dengan demikian, posisinya masih sama atau lebih rendah dari binatang.

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut
(Q.S. Al-Insan [76]: 1).

Tahap ketiga evolusi manusia dicapai saat reproduksi antara manusia laki-laki dan perempuan mulai terjadi.
Di dalam Al-Qur’an, Dinyatakan suatu masa dari evolusi manusia.
Ketika itu manusia mempunyai karakter binatang tingkat tinggi.
Karakter ini adalah adanya perbedaan didasarkan pada seks, terbagi menjadi jantan dan betina.
Pada masa ini, perkembangbiakan sudah melalui sperma yang dihasilkan manusia laki-laki.
Keadaan demikian ini menjadikan manusia sudah memiliki ciri yang sama dengan binatang tingkat tinggi.
Dua penggalan ayat di bawah ini menunjukkan hal tersebut: Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya.
Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu).
Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), “Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur.”
(Q.S. Al-A’raf [7]: 189)

Dan firman Allah:

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
(An-Nisa: 1)

Lebih lanjut Al-Qur’an memperlihatkan perkembangan manusia ke tingkat yang lebih lanjut, yaitu menggunakan nalarnya, demikian: Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
(Q.S. Al-Insan [76]: 2)

Mulai dari masa ini, karena peran pentingnya di alam semesta, manusia mulai mempelajari alam.
Untuk dapat mengelola dengan baik, manusia memerlukan penguasaan pengetahuan secara luas.
Tahap keempat ini dicapai saat otak manusia telah mencapai kesempurnaannya.
Diciri dari perkembangan kecerdasan dan kepedulian terhadap lingkungan yang sangat cepat.
Dengan kemampuannya dalam mendengarkan dan melihat, sebagaimana juga dapat dilakukan oleh binatang, manusia kemudian mulai melatih kecerdasannya sampai pada tingkat dapat melakukan penemuan-penemuan yang berguna untuk kehidupannya.
Di sini manusia telah menempatkan dirinya jauh di atas binatang.
Ia menjadi jenis binatang yang dapat bertahan hidup melalui kemampuan berpikir dan berbicara.
Uraian evolusi manusia ini tidak dengan eksplisit disampaikan dalam Al-Qur’an .
Mengapa?
Karena kitab ini tidak dimaksudkan sebagai buku ilmiah.
Al-Qur’an diciptakan untuk mengungkapkan kebenaran, dan meninggalkan beberapa gap atau rumpang yang akan diisi oleh kemajuan pengetahuan manusia.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

[[76 ~ AL-INSAN (MANUSIA) Pendahuluan:
Madaniyyah, 31 ayat ~ Dalam surat ini dibicarakan perihal penciptaan dan cobaan kepada umat manusia yang berpotensi untuk bersyukur kepada Allah atau mengingkari-Nya.
Balasan yang akan diberikan kepada orang-orang kafir, dalam surat ini, dibicarakan secara global.
Sementara mengenai kenikmatan-kenikmatan yang Allah karuniakan kepada orang-orang Mukmin dipaparkan secara lebih rinci.
Surat ini kemudian mengkhususkan pembicaraan kepada Rasulullah ﷺ.
yang dikaruniai Al Quran.
Rasul diperintahkan agar bersabar dan selalu melakukan ketaatan.
Surat ini juga memuat peringatan bagi mereka yang mencintai kehidupan dunia dengan tidak mempedulikan akhirat.
Dibicarakan pula mengenai ayat-ayat yang dapat dijadikan sebagai nasihat dan peringatan dengan kehendak Allah.
Sesungguhnya rahmat dan azab Allah akan diberikan sesuai dengan kehendak dan kemahakuasaan-Nya.]] Sungguh, manusia telah melewati suatu masa sebelum ditiupkan ruh ke dalam dirinya.
Ketika itu, manusia adalah sesuatu yang tak bernama dan belum diketahui akan diperlakukan apa.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Bukankah) artinya, sesungguhnya (telah datang atas manusia) Nabi Adam (satu waktu dari masa) empat puluh tahun (sedangkan dia belum merupakan) ketika itu (sesuatu yang dapat disebut) maksudnya, Nabi Adam selama empat puluh tahun masih tetap berbentuk tanah dan bukan berarti apa-apa.

Atau bila yang dimaksud dengan manusia adalah jenis manusia selain dia, maka yang dimaksud dengan lafal Al-Hiin atau masa ialah masa mengandung, jadi bukan empat puluh tahun.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan keadaan manusia, bahwa Dia telah menciptakannya dan mengadakannya ke alam Wujud ini, padahal sebelumnya dia bukanlah merupakan sesuatu yang disebut-sebut karena terlalu hina dan sangat iemah.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?
(Q.S. Al-Insan [76]: 1)

Kemudian dijelaskan oleh firman selanjutnya:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur.
(Q.S. Al-Insan [76]: 2)

Yakni yang bercampur baur.
Al-masyju dan al-masyij artinya sesuatu yang sebagian darinya bercampur baur dengan sebagian yang lain.

Ibnu Abbas r.a.
telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dari setetes mani yang bercampur.
(Q.S. Al-Insan [76]: 2) Yaitu air mani laki-laki dan air mani perempuan apabila bertemu dan bercampur, kemudian tahap demi tahap berubah dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain dan dari suatu bentuk ke bentuk yang lain.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah, Mujahid, Al-Hasan, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas, bahwa al-amsyaj artinya bercampurnya air mani laki-laki dan air mani perempuan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

yang Kami hendak mengujinya.
(Q.S. Al-Insan [76]: 2)

Maksudnya, Kami hendak mencobanya.
Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.
(Q.S. Al-Mulk [67]: 2)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
(Q.S. Al-Insan [76]: 2)

Yakni Kami menjadikan untuknya pendengaran dan penglihatan sebagai sarana baginya untuk melakukan ketaatan atau kedurhakaan.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Insaan (76) Ayat 1

DAHR
لدَّهْر

Lafaz ini adalah ism (kata benda) dalam bentuk mufrad, jamak bagi kata ini adalah “duhuurun” maknanya masa, zaman, mengalahkan, memaksa, adat, malapetaka, bencana, 1000 tahun atau 100,000 tahun, kemauan dan ke­inginan, tujuan dan sebagainya.

Ibnu Faris berkata,
“Dinamakan ad dahr karena ia datang kepada semua perkara dan menguasainya.”

Al Kafawi berkata,
“Asal makna ad dahr adalah tempoh dan masa alam, bermula dari kewujudannya hingga ke­tiadaannya dan ia dipinjam untuk makna adat yang kekal serta tempoh (masa) kehidupan,”

Ia disebut sebanyak dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Jaatsiyah (45), ayat 24;
-Al Insaan (76), ayat 1.

Ibnu Manzur berkata,
“Ia bermakna se­panjang masa, zaman yang panjang.”

Asy Syafi’i berkata,
Al hiin diperuntukkan kepada tempoh dunia dan hari.” Beliau berkata lagi, “Dan kami tidak mengetahui batas al hiin begitu juga dengan al zamaan dan ad dahr.

Syamr, Al Jauhari dan Al­ Azhari berkata,
Ad dahr dan al zaman adalah satu makna,” namun, Khalid bin Yazid menyangkalnya dan mengatakan al zaman adalah musim panen, musim buah, musim panas dan musim dingin. Oleh karena itu, ia bermula dari dua bulan hingga enam bulan sedangkan ad dahr tidak terputus.

Al Azhari mengatakan, “Ad dahr me­nurut orang Arab berlaku pada sebahagian dan keseluruhan masa dunia”

Al Alusi ber­pendapat, ia bermakna sepanjang zaman. Ad dahr lebih khusus daripada al zamaan.

Ar Raghib berkata,
“Asal makna ad­ dahr ialah nama bagi tempoh (masa) alam dari kewujudannya hingga kemusnahannya lalu diungkapkan terhadap keseluruhan masa yang panjang berbeda dengan al zaman karena ia berlaku keatas zaman yang pendek atau yang panjang.”

Lafaz ad dahr yang terdapat dalam surah Al Jaatsiyah yang mengandung maksud edar­an zaman, masa dan tahun, di mana mereka (yang tidak beriman) menyandarkan dan menyalahkan masa atau zaman untuk setiap kejadian yang menimpa mereka.

Al Alusi mengungkapkan sandaran kehancuran dan kejadian yang berlaku kepada zaman atau masa disebabkan pengingkaran mereka ter­hadap malaikat maut yang mencabut nyawa mereka atas perintah Allah serta kebodohan diri mereka. Hal itu sudah ditakdirkan oleh Allah.

Sebagian mufasir mengatakan, lafaz ad dahr yang terdapat dalam surah Al Insaan bermaksud 40 tahun artinya seperti Al­ Qurtubi dan Ar Razi nyatakan, “Yang di­maksudkan manusia dalam ayat ini adalah Adam dimana manusia yang belum menjadi sebutan itu ialah ketika 40 tahun lamanya tubuh Adam dibentuk dari tanah masih terbaring belum bernyawa diantara Makkah dan Ta’if lalu ditelentangkan selama 40 tahun, kemudian ditempa menjadi tanah liat yang kering (hama’in masnuun) selama 40 tahun. Seterusnya dijadikan kering sebagai tembikar (salsal) selama 40 tahun, barulah disempurnakan kejadiannya sesudah 120 tahun. Waktu itu barulah ditiupkan pada dirinya roh.”

Namun At Tabari mengatakan sebagian ahli tafsir menyatakan tiada masa yang terbatas berkenaan hal itu dan beliau berkata,
Ad dahr dalam ayat ini bermakna waktu yang tidak diketahui berapa lamanya dan tempohnya.

Kesimpulannya, ad dahr dalam surah Al Jaatsiyah bermakna edaran zaman dan masa sedangkan ad dahr dalam surah Al­ Insaan bermakna zaman atau waktu sebelum penciptaan manusia.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:219-220

Informasi Surah Al Insaan (الإنسان)
Surat Al Insaan terdiri atas 31 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Ar Rahmaan.

Dinamai “Al lnsaan” (manusia) diambil dari perkataan “Al Insaan” yang terdapat padaayat pertama surat ini.

Keimanan:

Penciptaan manusia
petunjuk-petunjuk untuk mencapai kehidupan yang sempurna dengan menempuh jalan yang lurus
memenuhi nazar,
memberi makan orang miskin dan anak yatim serta orang yang ditawan karena Allah
takut kepada hari kiamat
mengerjakan shalat dan shalat tahajjud dan bersabar dalam menjalankan hukum Allah,
ganjaran terhadap orang yang mengikuti petunjuk dan ancaman terhadap orang yang mengingkarinya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Insaan (31 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Insaan (76) ayat 1 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Insaan (76) ayat 1 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Insaan (76) ayat 1 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Insaan - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 31 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 76:1
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Insaan.

Surah Al-Insan (Arab: الْاٍنسان , "Manusia") adalah surah ke-76 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 31 ayat.
Dinamakan Al-Insan yang berarti Manusia diambil dari kata Al-Insaan yang terdapat pada ayat pertama surah ini.

Nomor Surah 76
Nama Surah Al Insaan
Arab الإنسان
Arti Manusia
Nama lain Hal Ata, Abrar, Dahr, ad-Dahr (Masa)
Hal ata
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 98
Juz Juz 29
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 31
Jumlah kata 243
Jumlah huruf 1089
Surah sebelumnya Surah Al-Qiyamah
Surah selanjutnya Surah Al-Mursalat
4.9
Ratingmu: 4.9 (13 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/76-1







Pembahasan ▪ (QS Al Insaan 76 : 1) ▪ (QS Al-insan [76]: 1)

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta