QS. Al Hujurat (Kamar-kamar) – surah 49 ayat 6 [QS. 49:6]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ جَآءَکُمۡ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَیَّنُوۡۤا اَنۡ تُصِیۡبُوۡا قَوۡمًۢا بِجَہَالَۃٍ فَتُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَا فَعَلۡتُمۡ نٰدِمِیۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu in jaa-akum faasiqun binaba-in fatabai-yanuu an tushiibuu qauman bijahaalatin fatushbihuu ‘ala maa fa’altum naadimiin(a);

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
―QS. 49:6
Topik ▪ Kedahsyatan hari kiamat
49:6, 49 6, 49-6, Al Hujurat 6, AlHujurat 6, Al-Hujurat 6

Tafsir surah Al Hujurat (49) ayat 6

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hujurat (49) : 6. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini, Allah memberitakan peringatan kepada kaum Mukminin, jika datang kepada mereka seorang fasik membawa berita tentang apa saja, agar tidak tergesa-gesa menerima berita itu sebelum diperiksa dan diteliti dahulu kebenarannya.
Sebelum diadakan penelitian yang seksama, jangan cepat percaya kepada berita dari orang fasik, karena seorang yang tidak mempedulikan kefasikannya, tentu juga tidak akan mempedulikan kedustaan berita yang disampaikannya.
Perlunya berhati-hati dalam menerima berita adalah untuk menghindarkan penyesalan akibat berita yang tidak diteliti atau berita bohong itu.
Penyesalan yang akan timbul sebenarnya dapat dihindari jika bersikap lebih hati-hati.
Ayat ini memberikan pedoman bagi sekalian kaum Mukminin supaya berhati-hati dalam menerima berita, terutama jika bersumber dari seorang yang fasik.
Maksud yang terkandung dalam ayat ini adalah agar diadakan penelitian dahulu mengenai kebenarannya.
Mempercayai suatu berita tanpa diselidiki kebenarannya, besar kemungkinan akan membawa korban jiwa dan harta yang sia-sia, yang hanya menimbulkan penyesalan belaka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, jika orang yang melanggar syariat Allah datang kepada kalian dengan membawa suatu berita, maka teliti dan periksalah terlebih dahulu kebenaran berita itu.
Hal itu supaya kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum–tanpa kalian mengetahui keadaan mereka–sehingga apa yang telah kalian lakukan terhadap mereka–setelah nyata bahwa mereka tidak melakukannya–menjadikan kalian selalu menyesal atas kejadian itu, dan berharap kejadian itu tidak kalian lakukan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita) (maka periksalah oleh kalian) kebenaran beritanya itu, apakah ia benar atau berdusta.

Menurut suatu qiraat dibaca Fatatsabbatuu berasal dari lafal Ats-Tsabaat, artinya telitilah terlebih dahulu kebenarannya (agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum) menjadi Maf’ul dari lafal Fatabayyanuu, yakni dikhawatirkan hal tersebut akan menimpa musibah kepada suatu kaum (tanpa mengetahui keadaannya) menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dari Fa’il, yakni tanpa sepengetahuannya (yang menyebabkan kalian) membuat kalian (atas perbuatan kalian itu) yakni berbuat kekeliruan terhadap kaum tersebut (menyesal) selanjutnya Rasulullah ﷺ mengutus Khalid kepada mereka sesudah mereka kembali ke negerinya.

Ternyata Khalid tiada menjumpai mereka melainkan hanya ketaatan dan kebaikan belaka, lalu ia menceritakan hal tersebut kepada Nabi ﷺ

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan (kaum mukmin) untuk memeriksa dengan teliti berita dari orang fasik, dan hendaklah mereka bersikap hati-hati dalam menerimanya dan jangan menerimanya dengan begitu saja, yang akibatnya akan membalikkan kenyataan.
Orang yang menerima dengan begitu saja berita darinya, berarti sama dengan mengikuti jejaknya.
Sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang kaum mukmin mengikuti jalan orang-orang yang rusak.

Berangkat dari pengertian inilah ada sejumlah ulama yang melarang kita menerima berita (riwayat) dari orang yang tidak dikenal, karena barangkali dia adalah orang yang fasik.
Tetapi sebagian ulama lainnya mau menerimanya dengan alasan bahwa kami hanya diperintahkan untuk meneliti kebenaran berita orang fasik, sedangkan orang yang tidak dikenal (majhul) masih belum terbukti kefasikannya karena dia tidak diketahui keadaannya.

Kami telah membahas masalah ini di dalam Kitabul Ilmi bagian dari Syarah Imam Bukhari (karya tulis penulis sendiri).

Banyak ulama tafsir yang menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-Walid ibnu Uqbah ibnu Abu Mu’it ketika dia diutus oleh Rasulullah ﷺ untuk memungut zakat orang-orang Banil Mustaliq.
Hal ini telah diriwayatkan melalui berbagai jalur, dan yang terbaik ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya melalui riwayat pemimpin orang-orang Banil Mustaliq, yaitu Al-Haris ibnu Abu Dirar, orang tua Siti Juwariyah Ummul Mu’minin r.a.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sabiq, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Dinar, telah menceritakan kepadaku ayahku, bahwa ia pernah mendengar Al-Haris ibnu Abu Dirar Al-Khuza’i r.a.
menceritakan hadis berikut: Aku datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ Beliau menyeruku untuk masuk Islam, lalu aku masuk Islam dan menyatakan diri masuk Islam.
Beliau ﷺ menyeruku untuk zakat, dan aku terima seruan itu dengan penuh keyakinan.
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan kembali kepada mereka dan akan kuseru mereka untuk masuk Islam dan menunaikan zakat.
Maka barang siapa yang memenuhi seruanku, aku kumpulkan harta zakatnya; dan engkau, ya Rasulullah, tinggal mengirimkan utusanmu kepadaku sesudah waktu anu dan anu agar dia membawa harta zakat yang telah kukumpulkan kepadamu.”

Setelah Al-Haris mengumpulkan zakat dari orang-orang yang memenuhi seruannya dan masa yang telah ia janjikan kepada Rasulullah ﷺ telah tiba untuk mengirimkan zakat kepadanya, ternyata utusan dari Rasulullah ﷺ belum juga tiba.
Akhirnya Al-Haris mengira bahwa telah terjadi kemarahan Allah dan Rasul-Nya terhadap dirinya.
Untuk itu Al-Haris mengumpulkan semua orang kaya kaumnya, lalu ia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah menetapkan kepadaku waktu bagi pengiriman utusannya kepadaku untuk mengambil harta zakat yang ada padaku sekarang, padahal Rasulullah ﷺ tidak pernah menyalahi janji, dan aku merasa telah terjadi suatu hal yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka.
Karena itu, marilah kita berangkat menghadap kepada Rasulullah ﷺ (untuk menyampaikan harta zakat kita sendiri).”

Bertepatan dengan itu Rasulullah ﷺ mengutus Al-Walid ibnu Uqbah kepada Al-Haris untuk mengambil harta zakat yang telah dikumpulkannya.
Ketika Al-Walid sampai di tengah jalan, tiba-tiba hatinya gentar dan takut, lalu ia kembali kepada Rasulullah ﷺ dan melapor kepadanya, “Hai Rasulullah, sesungguhnya Al-Haris tidak mau memberikan zakatnya kepadaku, dan dia akan membunuhku.” Mendengar laporan itu Rasulullah ﷺ marah, lalu beliau mengirimkan sejumlah pasukan kepada Al-Haris.

Ketika Al-Haris dan teman-temannya sudah dekat dengan kota Madinah, mereka berpapasan dengan pasukan yang dikirim oleh Rasulullah ﷺ itu.
Pasukan tersebut melihat kedatangan Al-Haris dan mereka mengatakan, “Itu dia Al-Haris,” lalu mereka mengepungnya.
Setelah Al-Haris dan teman-temannya terkepung, ia bertanya, “Kepada siapakah kalian dikirim?”
Mereka menjawab, “Kepadamu.” Al-Haris bertanya, “Mengapa?”
Mereka menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah mengutus Al-Walid ibnu Uqbah kepadamu, lalu ia memberitakan bahwa engkau menolak bayar zakat dan bahkan akan membunuhnya.”

Al-Haris menjawab, “Tidak, demi Tuhan yang telah mengutus Muhammad ﷺ dengan membawa kebenaran, aku sama sekali tidak pernah melihatnya dan tidak pernah pula kedatangan dia.” Ketika Al-Haris masuk menemui Rasulullah ﷺ, beliau bertanya, “Apakah engkau menolak bayar zakat dan hendak membunuh utusanku?”
Al-Haris menjawab, “Tidak, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku belum melihatnya dan tiada seorang utusan pun yang datang kepadaku.
Dan tidaklah aku datang melainkan pada saat utusan engkau datang terlambat kepadaku, maka aku merasa takut bila hal ini membuat murka Allah dan Rasul-Nya.” Al-Haris melanjutkan kisahnya, bahwa lalu turunlah ayat dalam surat Al-Hujurat ini, yaitu: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 6) sampai dengan firman-Nya: lagi Mahabijaksana.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 8)

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hadis ini dari Al-Munzir ibnu Syazan At-Tammar, dari Muhammad ibnu Sabiq dengan sanad yang sama.
Imam Tabrani telah meriwayatkannya pula melalui hadis Muhammad ibnu Sabiq dengan sanad yang sama, hanya di dalam riwayatnya disebutkan Al-Haris ibnu Siran, tetapi sebenarnya adalah Al-Haris ibnu Dirar, seperti yang disebutkan dalam riwayat di atas.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Aun, dari Musa ibnu Ubaidah, dari Sabit maula Ummu Salamah r.a., dari Ummu Salamah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengutus seorang lelaki untuk memungut zakat dari Banil Mustaliq sesudah mereka ditaklukkan dengan jalan perang.
Maka kaum Banil Mustaliq mendengar berita tersebut, lalu mereka menyambut kedatangannya sebagai rasa hormat mereka kepada Rasulullah ﷺ Akan tetapi, setan membisikkan kepada utusan Rasulullah ﷺ bahwa mereka (orang-orang Banil Mustaliq itu) hendak membunuhnya.
Maka lelaki itu kembali kepada Rasulullah ﷺ dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang Banil Mustaliq tidak mau membayar zakatnya kepadaku.” Maka Rasulullah ﷺ dan kaum muslim marah mendengar berita itu.

Orang-orang Banil Mustaliq mendengar kepulangan utusan tersebut, maka mereka datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ dan mereka membentuk saf bermakmum kepada Rasulullah ﷺ saat beliau ﷺ salat Lohor.
Lalu mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari murka Allah dan murka Rasul-Nya, engkau telah mengutus seorang lelaki kepada kami sebagai penarik zakat.
Maka kami merasa gembira dan senang dengan berita itu.
Tetapi sesampainya di tengah jalan, dia kembali: maka kami merasa takut bila hal itu merupakan suatu kemurkaan dari Allah dan Rasul-Nya (terhadap kami).” Mereka masih terus berbicara dengan Rasulullah ﷺ hingga datanglah Bilal r.a., lalu mengumandang­kan azan salat Asar.
Ummu Salamah r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 6)

Ibnu Jarir telah meriwayatkan pula melalui jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas r.a.
sehubungan dengan ayat ini.
Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengutus Al-Walid ibnu Uqbah ibnu Abu Mu’it kepada orang-orang Banil Mustaliq untuk memungut zakat dari mereka.
Dan sesungguhnya mereka ketika mendengar berita itu merasa gembira, lalu mereka keluar hendak menyambut utusan dari Rasulullah ﷺ

Tetapi ketika Al-Walid melihat mereka, dalam hatinya ia mengira bahwa mereka hendak membunuhnya, lalu ia kembali kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Banil Mustaliq tidak mau membayar zakat.” Maka Rasulullah ﷺ benar-benar marah mendengar laporan itu.
Dan ketika kami sedang membicarakan perihal mereka, tiba-tiba datanglah delegasi mereka, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah mendapat berita bahwa utusanmu kembali lagi di tengah jalan, maka kami merasa khawatir bila hal yang mengembalikannya itu adalah surat darimu karena kemarahanmu kepada kami, dan sesungguhnya kami berlindung kepada Allah dari kemurkaan­Nya dan murka Rasul-Nya.” Dan sesungguhnya Nabi ﷺ dan kaum muslim telah mengurung mereka dan hampir saja menyerang mereka, tetapi Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu-Nya yang membela mereka, yaitu firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 6), hingga akhir ayat.

Mujahid dan Qatadah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengirimkan Al-Walid ibnu Uqbah kepada Banil Mustaliq untuk mengambil harta zakat mereka.
Lalu Banil Mustaliq menyambut kedatangannya dengan membawa zakat (yakni berupa ternak), tetapi Al-Walid kembali lagi dan melaporkan bahwa sesungguhnya Banil Mustaliq telah menghimpun kekuatan untuk memerangi Rasulullah.
Menurut riwayat Qatadah, disebutkan bahwa selain itu mereka murtad dari Islam.

Maka Rasulullah ﷺ mengirimkan Khalid ibnul Walid r.a.
kepada mereka, tetapi beliau ﷺ berpesan kepada Khalid agar meneliti dahulu kebenaran berita tersebut dan jangan cepat-cepat mengambil keputusan sebelum cukup buktinya.
Khalid berangkat menuju ke tempat Banil Mustaliq, ia sampai di dekat tempat mereka di malam hari.
Maka Khalid mengirimkan mata-matanya untuk melihat keadaan mereka; ketika mata-mata Khalid kembali kepadanya, mereka menceritakan kepadanya bahwa Banil Mustaliq masih berpegang teguh pada Islam, dan mereka mendengar suara azan di kalangan Banil Mustaliq serta suara salat mereka.
Maka pada keesokan harinya Khalid r.a.
mendatangai mereka dan melihat hal yang menakjubkan dirinya di kalangan mereka, lalu ia kembali kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan semua apa yang disaksikannya, lalu tidak lama kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat ini.

Qatadah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Hati-hati itu dari Allah dan terburu-buru itu dari setan.

Hal yang sama telah disebutkan bukan hanya oleh seorang dari kalangan ulama Salaf, antara lain Ibnu Abu Laila, Yazid ibnu Ruman, Ad-Dahhak, Muqatil ibnu Hayyan, dan lain-lainnya.
Mereka mengatakan sehubungan dengan ayat ini, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-Walid ibnu Uqbah.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hujurat (49) Ayat 6

Diriwayatkan oleh Ahmad dll dengan sanad yang baik, yang bersumber dari al-Harits bin Dlirar al-Kuza’i.
Para perawi dalam sanad hadits ini sangat dapat dipercaya.
Diriwayatkan pula oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah, ‘Alqamah bin Najlah, dan Ummu Salamah.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Selain itu Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari sumber lain yang mursal.
Bahwa al-Harits menghadap Rasulullah ﷺ Beliau mengajaknya untuk masuk Islam.
Iapun berikrar menyatakan diri masuk Islam.
Rasulullah mengajaknya untuk mengeluarkan zakat, ia pun menyanggupi kewajiban itu, dan berkata: “Ya Rasulullah, aku akan pulang ke kaumku untuk mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat.
Orang-orang yang mengikuti ajakanku akan aku kumpulkan zakatnya.
Apabila telah tiba waktunya , kirimkan utusan untuk mengambil zakat yang telah kukumpulkan itul”

Ketika al-Harits sudah banyak mengumpulkan zakat, dan waktu yang ditetapkan pun tiba, tak seorangpun utusan yang menemuinya.
Al-Harits mengira telah terjadi sesuatu yang menyebabkan Rasulullah marah padanya.
Iapun memanggil para hartawan kaumnya dan berkata: “Sesungguhnya Rasulullah telah menetapkan waktu untuk mengutus seseorang untuk mengambil zakat yang telah ada padaku, dan beliau tidak pernah menyalahi janjinya.
Akan tetapi saya tidak tahu mengapa beliau menangguhkan utusannya itu.
Mungkinkah beliau marah ?
Mari kita berangkat menghadap Rasulullah ﷺ”

Rasulullah ﷺ, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan mengutus al-Walid bin ‘Uqbah untuk mengambil dan menerima zakat yang ada pada al-Harits.
Ketika al-Walid berangkat, di perjalanan hatinya merasa gentar, lalu ia pun pulang sebelum sampai ke tempat yang dituju.
Ia melaporkan (laporan palsu) kepada Rasulullah bahwa al-Harits tidak mau menyerahkan zakat kepadanya, bahkah mengancam akan membunuhnya.”

Kemudian Rasulullah mengirim utusan berikutnya kepada al-Harits.
Di tengah perjalanan, utusan itu berpapasan dengan al-Harits dan shahabat-shahabat nya yang tengah menuju ke tempat Rasulullah ﷺ.
Setelah berhadap-hadapan, al-Harits menanyai utusan itu: “Kepada siapa engkau diutus ?” Utusan itu menjawab:
“Kami diutus kepadamu.” Dia bertanya : “Mengapa ?” Mereka menjawab : “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah mengutus al-Walid bin ‘Uqbah.
Namun ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat, bahkan bermaksud membunuhnya.” Al-Harits menjawab:
“Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya.
Tidak ada yang datang kepadaku.”

Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah ﷺ bertanyalah beliau: “Mengapa engkau menahan zakat dan akan membunuh utusanku ?” Al-Harits menjawab:
“Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 6) sebagai peringatan kepada kaum Mukminin agar tidak hanya menerima keterangan dari sebelah pihak saja.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Hujurat (الحجرات)
Surat Al Hujuraat terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Mujaadilah.

Dinamai “Al Hujuraat” (kamar-kamar), diambil dari perkataan “Al Hujuraat” yang terdapat pada ayat 4 surat ini.
Ayat tersebut mencela para sahabat yang memanggil Nabi Muhammad ﷺ yang sedang berada di dalam kamar rumahnya bersama isterinya.
Memanggil Nabi Muham­ mad ﷺ dengan cara dan dalam keadaan yang demikian menunjukkan sifat kurang hormat kepada beliau dan mengganggu ketenteraman beliau.

Keimanan:

Masuk Islam harus disempumakan dengan iman yang sebenar-benarnya.

Hukum:

Larangan mengambil keputusan yang menyimpang dari ketetapan Allah dan rasul­Nya
keharusan meneliti sesuatu perkhabaran yang disampaikan oleh orang yang fasik
kewajiban mengadakan islah antara orang muslim yang bersengketa karena orang-orang Islam itu bersaudara
kewajiban mengambil tindakan terhadap golongan kaum muslimin yang bertindak aniaya kepada golongan kaum muslimin yang lain
larangan mencaci, menghina dan sebagainya
larangan berburuk sangka
bergunjing dan memfitnah dan lain-lain.

Lain-lain:

Adah sopan santun berbicara dengan Rasulullah ﷺ
Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu sama lain kenal mengenal
setiap manusia sama pada sisi Allah, kelebihan hanya pada orang-orang yang bertakwa
sifat-sifat orang-orang yang sebenar-benamya beriman.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hujurat (18 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 6 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 6 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 6 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 6 - Agha Sardjanto (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 6 - Agha Sardjanto (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hujurat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 18 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 49:6
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hujurat.

Surah Al-Hujurat (bahasa Arab : سورة الحجرات ) adalah surah ke-49 dalam Al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah madaniyah, terdiri atas 18 ayat.
Dinamakan Al-Hujurat yang berarti Kamar-Kamar diambil dari perkataan Al-Hujurat yang terdapat pada ayat ke-4 surat ini.

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ.
utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata,
"Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata,
"Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih.
Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..." (Q.S.
Al Hujurat, 1) sampai dengan firman-Nya, "Dan kalau sekiranya mereka bersabar..." (Q.S.
Al Hujurat, 5).
Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis lainnya yang juga melalui Qatadah, bahwa para sahabat selalu mengeraskan suaranya kepada Rasulullah ﷺ.
bila berbicara dengannya, maka Allah subhanahu wa ta'ala.
segera menurunkan firman-Nya, "Janganlah kalian meninggikan suara kalian ..." (Q.S.
Hujurat 2).

Nomor Surah 49
Nama Surah Al Hujurat
Arab الحجرات
Arti Kamar-kamar
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 106
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 18
Jumlah kata 353
Jumlah huruf 1533
Surah sebelumnya Surah Al-Fath
Surah selanjutnya Surah Qaf
4.7
Ratingmu: 4.3 (29 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/49-6







Pembahasan ▪ apabila datang orang fasik membawa berita ▪ qs 49 6 ▪ al hujatar 49:6 ▪ Al-hujurat 6 ▪ dalil al hujurat 49:6 ▪ posisi mushaf al hujurat 6 ▪ QS 49:6 ▪ qs al hujurat 49:6

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim