QS. Al Hujurat (Kamar-kamar) – surah 49 ayat 2 [QS. 49:2]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَرۡفَعُوۡۤا اَصۡوَاتَکُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ النَّبِیِّ وَ لَا تَجۡہَرُوۡا لَہٗ بِالۡقَوۡلِ کَجَہۡرِ بَعۡضِکُمۡ لِبَعۡضٍ اَنۡ تَحۡبَطَ اَعۡمَالُکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَشۡعُرُوۡنَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa tarfa’uu ashwaatakum fauqa shautinnabii-yi walaa tajharuu lahu bil qauli kajahri ba’dhikum liba’dhin an tahbatha a’maalukum wa-antum laa tasy’uruun(a);

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.
―QS. 49:2
Topik ▪ Iman ▪ Penghapus pahala kebaikan ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
49:2, 49 2, 49-2, Al Hujurat 2, AlHujurat 2, Al-Hujurat 2

Tafsir surah Al Hujurat (49) ayat 2

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hujurat (49) : 2. Oleh Kementrian Agama RI

Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa ‘Abdullah bin Zubair memberitahukan kepadanya bahwa telah datang satu rombongan dari Kabilah Bani Tamim kepada Rasulullah ﷺ Abu Bakar berkata, “Rombongan ini hendaknya diketuai oleh al-Qa’qa’ bin Ma’bad.” ‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Hendaknya diketuai oleh al-Aqra’ bin habis.” Abu Bakar membantah, “Kamu tidak bermaksud lain kecuali menentang aku.” ‘Umar menjawab, “Saya tidak bermaksud menentangmu.” Maka timbullah perbedaan pendapat antara Abu Bakar dan ‘Umar sehingga suara mereka kedengarannya bertambah keras, maka turunlah ayat ini.
Sejak itu, Abu Bakar bila berkata-kata kepada Nabi Muhammad, suaranya direndahkan sekali seperti bisikan saja demikian pula ‘Umar.
Oleh karena sangat halus suaranya hampir-hampir tak terdengar sehingga sering ditanyakan lagi apa yang diucapkannya itu.
Mereka sama-sama memahami bahwa ayat-ayat tersebut sengaja diturunkan untuk memelihara kehormatan Nabi Muhammad.
Setelah ayat ini turun, maka sabit bin Qais tidak pernah datang lagi menghadiri majelis Rasulullah ﷺ Ketika ditanya oleh Nabi tentang sebabnya, sabit menjawab, “Ya Rasulullah, telah diturunkan ayat ini dan saya adalah seorang yang selalu berbicara keras dan nyaring.
Saya merasa khawatir kalau-kalau pahala saya akan dihapus sebagai akibat kebiasaan saya itu.” Nabi Muhammad menjawab, “Engkau lain sekali, engkau hidup dalam kebaikan dan insya Allah akan mati dalam kebaikan pula, engkau termasuk ahli surga.” sabit menjawab, “Aku sangat senang karena berita yang menggembirakan itu, dan saya tidak akan mengeraskan suara saya terhadap Nabi untuk selama-lama-nya.”
(Riwayat Bukhari dari Ibnu Abi Mulaikah).

Maka turunlah ayat berikutnya yaitu ayat ke 3 dari Surah al-hujurat.
Dari paparan di atas, dapat dipahami bagaimana Allah mengajarkan kepada kaum Mukminin kesopanan dalam percakapan ketika berhadapan dengan Nabi Muhammad.
Allah melarang kaum Mukminin meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi.
Mereka dilarang untuk berkata-kata kepada Nabi dengan suara keras karena perbuatan seperti itu tidak layak menurut kesopanan dan dapat menyinggung perasaan Nabi.
Terutama jika dalam ucapan-ucapan yang tidak sopan itu tersimpan unsur-unsur cemoohan atau penghinaan yang menyakitkan hati Nabi dan dapat menyeret serta menjerumuskan orangnya kepada kekafiran, sehingga mengakibatkan hilang dan gugurnya segala pahala kebaikan mereka itu di masa lampau, padahal semuanya itu terjadi tanpa disadarinya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengangkat suara lebih tinggi dari suara Nabi, apabila ia dan kalian sedang berbicara.
Jangan pula menyamakan suara kalian dengan suaranya, seperti kalian berbicara antarsesama, supaya pahala amal perbuatan kalian tidak hilang tanpa kalian sadari.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(“Hai orang-orang beriman janganlah kalian meninggikan suara kalian) bila kalian berbicara (lebih dari suara Nabi) bila ia berbicara (dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras) bila kalian berbicara dengannya (sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian terhadap sebagian yang lain) tetapi rendahkanlah suara kalian di bawah suaranya demi untuk menghormati dan mengagungkannya (supaya tidak dihapus pahala amal kalian sedangkan kalian tidak menyadarinya”) maksudnya, takutlah kalian akan hal tersebut disebabkan suara kalian yang tinggi dan keras di hadapannya.

Ayat berikutnya diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang merendahkan suaranya di hadapan Nabi ﷺ

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 2)

Ini merupakan etika lainnya yang melaluinya Allah mendidik hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka jangan meninggikan suaranya di hadapan Nabi ﷺ lebih tinggi daripada suaranya.
Menurut suatu riwayat, ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang syekh, yakni Abu Bakar dan Umar.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Busrah ibnu Safwan Al-Lakhami, telah menceritakan kepada kami Nafi’ ibnu Umar, dari Ibnu Abu Mulaikah yang mengatakan bahwa hampir saja kedua orang yang terbaik binasa (yaitu Abu Bakar dan Umar) karena keduanya meninggikan suaranya di hadapan Nabi ﷺ di saat datang kepada beliau kafilah Bani Tamim.
Lalu salah seorang dari keduanya berisyarat kepada Al-Aqra’ ibnu Habis r.a.
saudara lelaki Bani Mujasyi’, sedangkan yang lain berisyarat kepada lelaki lainnya.
Nafi’ mengatakan bahwa dia tidak ingat lagi nama lelaki itu.
Maka Abu Bakar berkata, “Engkau ini tidak lain kecuali bersikap berbeda denganku.” Umar menjawab, “Aku tidak berniat berbeda denganmu.” Maka suara keduanya kuat sekali memperdebatkan hal tersebut, lalu sehubungan dengan peristiwa itu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 2)

Ibnuz Zubair r.a.
mengatakan bahwa sesudah turunnya ayat ini Umar r.a.
tidak berani lagi angkat bicara di hadapan Rasulullah ﷺ melainkan mendengarnya lebih dahulu sampai mengerti.
Akan tetapi, Ibnuz Zubair tidak menyebutkan dari ayahnya tentang Abu Bakar r.a.
Hadis ini diriwayatkan secara tunggal oleh Imam Muslim.

Kemudian Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Mulaikah, bahwa Abdullah ibnuz Zubair r.a.
pernah menceritakan kepadanya bahwa pernah datang iringan kafilah dari Bani Tamim kepada Nabi ﷺ Maka Abu Bakar r a berkata, “Angkatlah Al-Qa’qa’ ibnu Ma’bad sebagai pemimpin mereka ” Dan Umar r.a.
berkata, “Angkatlah Al-Aqra’ ibnu Habis sebagai pemimpin mereka.” Maka Abu Bakar r.a.
berkata, “Tiada lain tujuanmu hanya menentangku.” Umar berkata, “Aku tidak bermaksud menentangmu.” Akhirnya keduanya perang mulut hingga suara mereka gaduh di hadapan Nabi ﷺ Maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu.
mendahului Allah dan Rasul-Nya.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 1) sampai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 5), hingga akhir ayat.

Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dalam kitab tafsirnya secara munfarid dengan sanad yang sama.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Umar, dari Mukhariq, dari Tariq ibnu Syihab, dari Abu Bakar As-Siddiq r.a.
yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 2) Aku (Abu Bakar) berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, aku tidak akan berbicara lagi kepadamu melainkan dengan suara yang rendah (pelan).

Husain ibnu Umar sekalipun predikatnya daif, tetapi hadis ini telah kami kemukakan pula melalui riwayat Abdur Rahman ibnu Auf dan Abu Hurairah r.a.
dengan lafaz yang semisal; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Abdur Rahman ibnu Auf dan Abu Hurairah pun telah mengatakan hal yang semisal; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Azar ibnu Sa’d, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Anas, dari Anas ibnu Malik r.a., bahwa Nabi ﷺ kehilangan Sabit ibnu Qais r.a.
Maka seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, saya mengetahui di mana ia berada.” Lalu lelaki itu mendatanginya, dan menjumpainya di rumahnya sedang menundukkan kepalanya.
Maka lelaki itu bertanya kepadanya, “Mengapa kamu?”
Ia menjawab, bahwa dirinya celaka karena telah meninggikan suaranya di hadapan Nabi ﷺ lebih dari suara Nabi ﷺ Dan ia beranggapan bahwa amal baiknya telah dihapuskan, maka dia termasuk ahli neraka.
Lelaki itu kembali kepada Nabi ﷺ dan menceritakan kepada beliau apa yang dikatakan oleh orang yang dicarinya itu, bahwa dia telah mengatakan anu dan anu.
Musa ibnu Anas melanjutkan kisahnya.
bahwa lalu felaki itu kembali menemuinya seraya membawa benta gemb.ra dan Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Kembalilah kamu kepadanya dan katakanlah kepadanya, “Sesungguhnya engkau bukan ahli neraka, tetapi engkau adalah termasuk ahli surga.”

Imam Bukhari meriwayatkannya melalui jalur ini secara tunggal.

Imam Ahmad mengatakan telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepada kami Sulaiman Ibnul Mughirah, dari Sabit, dari Anas Ibnu Malik r.a.
yang mengatakan bahwa ketika ayat berikut diturunkan, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 2) sampai dengan firman-Nya: sedangkan kamu tidak menyadari.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 2) Tersebutlah bahwa Sabit ibnu Qais ibnu Syammas seorang yang memiliki suara yang keras.
Maka ia berkata, “Akulah yang sering meninggikan suaraku diatas suara Rasulullah ﷺ Maka aku termasuk ahli neraka, Semua amalku dihapus.” Lalu ia duduk di tempat tinggal keluarganya dengan hati yang sedih dan tidak mau keluar lagi.
Maka Rasulullah ﷺ merasa kehilangan dia, lalu sebagian orang berangkat menemuinya di rumahnya.
Mereka berkata kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ merasa kehilangan dia, dan mereka menanyakan mengenai penyebabnya.
Sabit ibnu Qais menjawab, “Akulah orang yang sering meninggikan suaraku di atas suara Nabi ﷺ dan aku sering berkata dengan suara yang keras kepada beliau; maka semua amalku dihapuskan dan aku termasuk ahli neraka.” Lalu mereka kembali kepada Nabi ﷺdan menceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan olehSabit ibnu Qais.
Maka Nabi ﷺ bersabda:

Tidak, bahkan dia termasuk penghuni surga.

Anas r.a.
mengatakan, “Sejak saat itu kami melihatnya berjalan di antara kami, sedangkan kami mengetahui bahwa dia termasuk ahli surga.
Ketika Perang Yamamah terjadi, kami mengalami tekanan dari pihak musuh hingga terpukul mundur.
Maka datanglah Sabit ibnu Qais ibnu Syammas dalam keadaan telah memakai kapur barus dan mengenakan kain kafan lalu berkata, “Alangkah buruknya apa yang dianjurkan oleh teman-teman kalian,” Kemudian ia maju ke barisan musuh dan memerangi mereka hingga ia gugur sebagai syuhada, semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepadanya.

Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Musa telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit Al-Bannani, dari Anas ibnu malik r.a.
yang mengatakan bahwa setelah ayat berikut diturunkan, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 2), hingga akhir ayat.
Sabit r.a.
mengurung diri di dalam rumahnya, dan mengatakan “Aku termasuk ahli neraka,” dan ia tidak lagi mau keluar menemui Nabi ﷺMaka Nabi ﷺ bertanya kepada Sa’d ibnu Mu’az, “Hai Abu Amr ke mana Sabit, apakah dia sakit?”
Sa’d r.a.
menjawab, “Dia memang tetanggaku, tetapi aku tidak mengetahui bahwa dia sedang sakit.” Lalu Sa’d r.a.
mendatanginya dan menceritakan kepadanya perkataan Rasulullah ﷺ Maka Sabit r.a.
mengatakan, “Ayat ini telah diturunkan, dan seperti yang telah kamu ketahui bahwa aku adalah orang yang paling tinggi nada suaranya di antara kalian melebihi suara Nabi ﷺ Karena itu, aku adalah ahli neraka.” Sa’d r.a.
menceritakan kepada Nabi ﷺ apa yang dikatakan oleh Sabit itu.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak, bahkan dia termasuk ahli surga.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Ahmad ibnu Sa’id Ad-Darimi, dari Hayyan ibnu Hilal, dari Sulaiman ibnul Mugirah dengan sanad yang sama- tetapi di dalam riwayat ini tidak disebutkan nama Sa’d ibnu Mu’az r a Telah diriwayatkan pula dari Qatn ibnu Basyir, dari Ja’far ibnu Sulaiman, dari Sabit, dari Anas r.a.
hal yang semisal; Imam Muslim menyebutkan bahwa di dalam riwayatnya ini tidak disebutkan Sa’d ibnu Mu’az r.a.
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepadaku Hudah ibnu Abdul Ala Al-Asadi, telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir ibnu Sulaiman, bahwa ia pernah mendengar ayahnya bercerita dari Anas r.a.
yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan (Q.S. Al-Hujurat ayat 2), lalu disebutkan hal yang semisal, tetapi tidak disebutkan nama Sa’d ibnu Mu’az.
Ditambahkan pula bahwa kami menyaksikannya berjalan di antara kami dan kami beranggapan bahwa dia termasuk ahli surga.
Ketiga jalur periwayatan ini berbeda dengan riwayat Hammad ibnu Salamah yang diriwayatkannya secara munfarid (tunggal) dan yang di dalamnya disebutkan nama Sa’d ibnu Mu’az r.a.

Menurut pendapat yang benar, di saat turunnya ayat ini Sa’d ibnu Mu’ai r.a.
tidak ada lagi.
Dia telah gugur beberapa hari sesudah perang dengan Bani Quraizah karena luka yang dideritanya, yaitu pada tahun lima Hijriah.
Sedangkan ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi Bani Tamim.
Dan menurut riwayat yang mutawatir, para ulama menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi pada tahun sembilan Hijriah.
Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepada kami Abu Sabit ibnu Sabit ibnu Qais ibnu Syammas, telah menceritakan kepadaku pamanku Ismail ibnu Muhammad ibnu Sabit ibnu Qais ibnu Syammas, dari ayahnya yang mengatakan bahwa setelah ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: Janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 2) Maka Sabit ibnu Qais r.a.
duduk di pinggir jalan seraya menangis.
Lalu lewatlah kepadanya Asim ibnu Addi, dari Bani Ajlan dan bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menangis, hai Sabit?”
Sabit r.a.
menjawab, “Ayat inilah yang membuat aku takut, bilamana ia diturunkan berkenaan dengan diriku, karena aku adalah orang yang tinggi suaranya.” Asim ibnu Addi r.a.
melanjutkan perjalanannya menemui Rasulullah ﷺ Tangisan Sabit semakin menjadi-jadi, lalu ia mendatangi istrinya (Jamilah binti Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul) dan berkata, “Jika aku masuk kamarku, maka gemboklah pintunya dari luar dengan paku.” Maka istrinya melaksanakan apa yang diperintahkan suaminya itu, lalu Sabit berkata, “Aku tidak akan keluar hingga Allah mewafatkan diriku atau Rasulullah ﷺ meridaiku.”

Asim r.a.
datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu menceritakan kepadanya apa yang dialami oleh Sabit.
Maka beliau ﷺ bersabda, “Pergilah kepadanya dan undanglah dia untuk datang kepadaku.” Asim r.a.
datang ke tempat ia menemui Sabit, tetapi ia tidak menjumpainya.
Lalu ia datang ke rumah keluarga Sabit, dan ia menjumpainya berada di dalam kamar sedang mengunci dirinya, lalu ia berkata kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ memanggilnya.
Maka Sabit berkata, “Patahkan saja kuncinya.”

Lalu keduanya berangkat menuju rumah Nabi ﷺ Sesampainya di hadapan Nabi ﷺ, beliau bertanya kepadanya, “Apakah yang menyebab­kan kamu menangis, hai Sabit?”
Sabit menjawab, “Saya orang yang tinggi suaranya, dan saya merasa khawatir bila ayat ini diturunkan berkenaan dengan diri saya,” maksudnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala: Janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 2) Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: Tidakkah kamu puas bila kamu hidup dalam keadaan terpuji, gugur sebagai syuhada, dan masuk ke dalam surga?
Lalu Sabit menjawab, “Aku rela dengan berita gembira dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, dan aku tidak akan meninggikan suaraku lagi selamanya lebih dari suara Rasulullah ﷺ” Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 3), hingga akhir ayat.

Kisah ini telah diriwayatkan bukan hanya oleh seorang dari kalangan Tabi’in.
Allah subhanahu wa ta’ala telah melarang orang-orang mukmin meninggikan suaranya di hadapan Rasulullah ﷺ Telah diriwayatkan pula kepada kami dari Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab r.a.
bahwa ia mendengar suara dua orang lelaki di dalam Masjid Nabawi sedang bertengkar hingga suara keduanya tinggi dan gaduh.
Maka datanglah Umar, lalu berkata, “Tahukah kamu berdua, di manakah kamu berada?”
Kemudian Umar r.a.
bertanya pula, “Dari manakah kamu berdua?”
Keduanya menjawab, “Dari Taif” Maka Umar berkata, “Seandainya kamu berdua dari kalangan penduduk Madinah, tentulah aku pukuli kamu berdua sampai kesakitan.”

Para ulama mengatakan bahwa makruh meninggikan suara di hadapan kuburan Nabi ﷺ sebagaimana hal tersebut dimakruhkan saat beliau ﷺ masih hidup.
Karena sesungguhnya beliau ﷺ tetap dimuliakan, baik semasa hidupnya maupun sesudah wafatnya untuk selamanya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala melarang orang-orang mukmin berbicara kepadanya dengan suara yang keras sebagaimana seseorang berbicara dengan temannya, bahkan dia harus bersikap tenang, menghormati, dan memuliakannya saat berbicara kepada beliau ﷺ dan tentunya dengan suara yang tidak keras.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya:

dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 2)

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat lain:

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).
(An-Nur: 63)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 2)

Yakni sesungguhnya Kami melarang kalian meninggikan suara di hadapan Nabi ﷺ lebih dari suaranya tiada lain karena dikhawatirkan beliau akan marah, yang karenanya Allah pun marah disebabkan kemarahannya.
Dan karenanya maka dihapuslah amal baik orang yang membuatnya marah, sedangkan dia tidak menyadarinya.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis sahih yang menyebutkan:

Sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang diridai Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan dia tidak menyadarinya, hingga ditetapkan baginya surga karenanya.
Dan sesungguhnya seseorang benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai Allah subhanahu wa ta’ala tanpa ia sadari, hingga menjerumuskan dirinya ke dalam neraka karenanya, lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi.


Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah Al Hujurat (49) ayat 2
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit Al Bunani dari Anas bin Malik bahwa dia berkata,
Ketika ayat ini diturunkan: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suara kamu melebihi suara Nabi (Qs. Al Hujurat: 2) hingga akhir ayat, Tsabit bin Qais yang sedang duduk di rumahnya dan berkata,
Aku ini termasuk dari ahli Neraka! Dan ia selalu mengindar dari Nabi ﷺ sehingga Nabi ﷺ menanyakan itu kepada Sa’ad bin Mu’adz. Tanya beliau: Wahai Abu Amru, bagaimanakah keadaan Tsabit? Apakah dia sakit?, Sa’d menjawab,
Keadaannya seperti biasa dan aku tidak mendengar berita yang menyatakan dia sakit. Anas berkata,
Lalu Sa’d pun mengunjunginya dan memberitahu kepadanya tentang pembicaraannya dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tsabit berkata,
ayat ini diturunkan, sedangkan kamu semua mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling keras bersuara, melebihi suara Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kalau begitu aku ini termasuk dari ahli Neraka. Maka Sa’d menceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda:
Bahkan ia termasuk dari kalangan ahli Surga. Telah menceritakan kepada kami Qathan bin Nusyair Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas bin Malik ia berkata,
Tsabit bin Qais adalah seorang orator di kalangan kaum Anshar, ketika ayat ini turun, yakni seperti dalam hadits Hammad. namun dalam haditsnya tidak disebutkan nama Sa’d bin Mu’adz. Dan telah menceritakannya kepada kami Ahmad bin Sa’id bin Shakr Ad-Darimi telah menceritakan kepada kami Habban telah menceritakan kepada kami Sualiman Ibnul Mughirah dari Tsabit dari Anas ia berkata,
Ketika turun ayat …janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan ia tidak menyebutkan nama Sa’d bin Mu’adz dalam hadits tersebut. Dan telah menceritakan kepada kami Huraim bin Abdul A’la As Asadi telah menceritakan kepada kami Al Mu’tamir bin Sualiman ia berkata,
Aku mendengar ayahku menyebutkan dari Tsabit dari Anas ia berkata,
Ketika ayat ini diturunkan ia mengisahkan hadits tersebut tanpa menyebutkan nama Sa’d bin Mu’adz… Kemudian ia menambahkan, Seorang laki-laki dari penduduk surga berjalan di antara kami.

Shahih Muslim, Kitab Iman – Nomor Hadits: 170

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hujurat (49) Ayat 2

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa orang-orang berbicara keras dan nyaring ketika berbicara dengan Nabi ﷺ Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 2) sebagai larangan atas perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syamas bahwa ketika turun ayat ….laa tarfa’uu ashwaatakum fauqo shautin nabiy… (..janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi..) (al-Hujurat: 2) terhempaslah Tsabit bin Qais di jalan sambil menangis.
Ketika itu lewatlah ‘Ashi bin ‘Adi bin al-‘Ajlan seraya bertanya: “Mengapa engkau menangis ?” Ia menjawab:
“Aku takut ayat ini (al-Hujurat:2) turun berkenaan dengan diriku, karena aku ini orang yang bersuara keras.”

Hal ini diajukan oleh ‘Ashim kepada Rasulullah ﷺ kemudian Tsabit-pun dipanggil.
Rasul bersabda: “Apakah engkau tidak ridha jika engkau hidup terpuji, mati syahid, dan masuk syurga ?” Tsabit menjawab:
“Aku ridha dan tidak akan mengeraskan suaraku selama-lamanya di hadapan Rasulullah ﷺ…” Maka turunlah ayat selanjutnya (al-Hujurat: 3) yang melukiskan janji Allah kepada orang-orang yang taat kepada ketetapan-Nya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hujurat (49) Ayat 2

A’MAAL
أَعْمَٰل

Lafaz ini adalah bentuk jamak dari ‘amal yang bermakna pekerjaan dan perbuatan.

Dalam Kamus Al Munjid dijelaskan, ‘amal adalah perbuatan yang disengaja atau dengan maksud.

A’maal mencakup perbuatan hati dan anggota badan, ia mengisyaratkan perbuatan yang berterusan, sebagaimana Allah menerangkan, ya’maluuna lahuu maa yasyaa.

Al Kafawi menyatakan, perbuatan itu dikatakan ‘amaal apabila ia terbit dari fikiran dan renungan. Oleh karena itu, ia dikaitkan dengan ‘ilm, sehingga sebagian sastrawan berkata,
lafaz ‘amaal adalah perkataan terbalik dari lafaz ‘ilm. Hal ini mengisyaratkan amal adalah sebahagian dari ilmu. ‘Ilm juga adalah sumber af’al atau perbuatan.

Al ‘amal (amalan) adalah natijah yang timbul dari al ‘amil (orang yang melaksanakan amal itu), sama kedudukannya seperti Al Hukm (hukum) yaitu hasil dari ‘illah (sebab timbulnya hukum itu).”

Lafaz a’maal disebut sebanyak 41 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah :
-Al Baqarah (2), ayat 139, 139, 167, 217;
-Ali Imran (3), ayat 22;
-Al Maa’idah (5), ayat 53;
-Al A’raaf (7), ayat 147;
-Al Anfaal (8), ayat 48;
-At Taubah (9), ayat 17, 37, 69;
-Hud (11), ayat 15, 111;
-Ibrahim (14), ayat 18;
-An Nahl (16), ayat 63,
-Al Kahfi (18), ayat 103, 105;
-Al Mu’minuun (23), ayat 63;
-An Nuur (24), ayat 39;
-An Naml (27), ayat 4, 24;
-Al Qashash (28), ayat 55;
-Al­ ‘Ankaabut (29) ayat 38,
-Al Ahzab (33) ayat 19, 71;
-Asy Syuura (42) ayat 15;
-Al Ahqaaf (46) ayat 19;
-Muhammad (47) ayat 1, 4, 8, 9, 28, 30, 32, 33, 35;
-Al Hujurat (49) ayat 2, 14;
-Al Zalzalah (99) ayat 6.

Al Qurtubi ketika menafsirkan ayat 217 surah Al Baqarah:

“Dan siapa yang murtad di antara kamu, maka mereka itu sia-sia amalan­ amalannya di dunia dan di akhirat.”

Beliau mengutip penjelasan Ar Rabi’ “Perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan, neraka adalah wajib bagi mereka”

Ibn Mas’ud dan As Suddi pula berkata,
“Perbuatan-perbuatan baik yang mereka tinggalkan akan menjauhkan mereka dari syurga. Amalan-amalan baik disandarkan kepada mereka karena mereka disuruh melakukannya, sedangkan amalan­ amalan jahat disandarkan kepada mereka karena mereka melakukannya'”

At Tabari ketika menjelaskan tafsir surah Al Zalzalah, beliau berkata,
“Pada hari kiamat, manusia akan dibangkitkan berkelompok-kelompok dan terpisah di sebelah kiri dan di sebelah kanan bagi diperlihatkan amalan-amalan mereka. Bagi mereka yang berbuat baik di dunia dan taat kepada Allah, maka Allah menyediakan baginya pada hari itu karamah dan kemuliaan sebagai balasan bagi ketaatannya kepada Nya di dunia. Dan bagi yang berbuat jahat dan melakukan maksiat kepada Allah, maka Allah menyediakan bagi­nya kesengsaraan dan kehinaan di neraka, sebagai balasan bagi perbuatannya dan kekufurannya di dunia.”

Kesimpulannya, lafaz a’maal pada ayat­ ayat di atas lebih banyak dikaitkan dengan al­ ihbat (penghapusan) amalan orang musyrik, kafir, munafik dan sebagainya, dan juga bersifat lebih cenderung kepada perkara keduniaan yang dihiasi oleh syaitan. Tetapi penggunaan sebenarnya lafaz ini bersifat umum, yaitu bagi amalan kejahatan dan kebaikan, seperti yang terdapat dalam surah Al Qashash, Asy Syuura, Al Ahqaaf, Muhammad (ayat 30), Al Zalzalah, dan sedikit sekali disandarkan kepada orang beriman, yaitu pada surah Al­ Ahzab, Muhammad (ayat 35), dan Al Hujurat (ayat 14).

Walau bagaimanapun, a’maal adalah perbuatan yang berterusan dan bersifat umum yang didasari oleh fikiran dan renungan. Oleh karena itu, orang menjadi kafir karena ia tahu akan sebuah kebenaran, tetapi mengingkarinya. Sedangkan orang menjadi beriman karena ia tahu akan kebenaran dan berusaha mengikutinya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:5

Informasi Surah Al Hujurat (الحجرات)
Surat Al Hujuraat terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Mujaadilah.

Dinamai “Al Hujuraat” (kamar-kamar), diambil dari perkataan “Al Hujuraat” yang terdapat pada ayat 4 surat ini.
Ayat tersebut mencela para sahabat yang memanggil Nabi Muhammad ﷺ yang sedang berada di dalam kamar rumahnya bersama isterinya.
Memanggil Nabi Muham­ mad ﷺ dengan cara dan dalam keadaan yang demikian menunjukkan sifat kurang hormat kepada beliau dan mengganggu ketenteraman beliau.

Keimanan:

Masuk Islam harus disempumakan dengan iman yang sebenar-benarnya.

Hukum:

Larangan mengambil keputusan yang menyimpang dari ketetapan Allah dan rasul­Nya
keharusan meneliti sesuatu perkhabaran yang disampaikan oleh orang yang fasik
kewajiban mengadakan islah antara orang muslim yang bersengketa karena orang-orang Islam itu bersaudara
kewajiban mengambil tindakan terhadap golongan kaum muslimin yang bertindak aniaya kepada golongan kaum muslimin yang lain
larangan mencaci, menghina dan sebagainya
larangan berburuk sangka
bergunjing dan memfitnah dan lain-lain.

Lain-lain:

Adah sopan santun berbicara dengan Rasulullah ﷺ
Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu sama lain kenal mengenal
setiap manusia sama pada sisi Allah, kelebihan hanya pada orang-orang yang bertakwa
sifat-sifat orang-orang yang sebenar-benamya beriman.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hujurat (18 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 2 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 2 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 2 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hujurat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 18 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 49:2
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hujurat.

Surah Al-Hujurat (bahasa Arab : سورة الحجرات ) adalah surah ke-49 dalam Al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah madaniyah, terdiri atas 18 ayat.
Dinamakan Al-Hujurat yang berarti Kamar-Kamar diambil dari perkataan Al-Hujurat yang terdapat pada ayat ke-4 surat ini.

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ.
utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata,
"Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata,
"Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih.
Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..." (Q.S.
Al Hujurat, 1) sampai dengan firman-Nya, "Dan kalau sekiranya mereka bersabar..." (Q.S.
Al Hujurat, 5).
Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis lainnya yang juga melalui Qatadah, bahwa para sahabat selalu mengeraskan suaranya kepada Rasulullah ﷺ.
bila berbicara dengannya, maka Allah subhanahu wa ta'ala.
segera menurunkan firman-Nya, "Janganlah kalian meninggikan suara kalian ..." (Q.S.
Hujurat 2).

Nomor Surah 49
Nama Surah Al Hujurat
Arab الحجرات
Arti Kamar-kamar
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 106
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 18
Jumlah kata 353
Jumlah huruf 1533
Surah sebelumnya Surah Al-Fath
Surah selanjutnya Surah Qaf
4.9
Ratingmu: 4.7 (15 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/49-2







Pembahasan ▪ Murattal syaikh hammad ad darimi ▪ Qs al hujurat 49:2

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim