QS. Al Hujurat (Kamar-kamar) – surah 49 ayat 1 [QS. 49:1]

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُقَدِّمُوۡا بَیۡنَ یَدَیِ اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu laa tuqaddimuu baina yadayillahi warasuulihi waattaquullaha innallaha samii’un ‘aliimun;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
―QS. 49:1
Topik ▪ Takwa ▪ Menyeru pada ketakwaan ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
49:1, 49 1, 49-1, Al Hujurat 1, AlHujurat 1, Al-Hujurat 1

Tafsir surah Al Hujurat (49) ayat 1

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hujurat (49) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah mengajarkan kesopanan kepada kaum Muslimin ketika berhadapan dengan Rasulullah ﷺ dalam hal perbuatan dan percakapan.
Allah memperingatkan kaum Mukminin supaya jangan mendahului Allah dan rasul-Nya dalam menentukan suatu hukum atau pendapat.
Mereka dilarang memutuskan suatu perkara sebelum membahas dan meneliti lebih dahulu hukum Allah dan (atau) ketentuan dari rasul-Nya terhadap masalah itu.
Hal ini bertujuan agar keputusan mereka tidak menyalahi apalagi bertentangan dengan syariat Islam, sehingga dapat menimbulkan kemurkaan Allah.
Yang demikian ini sejalan dengan yang dialami oleh sahabat Nabi Muhammad yaitu Mu’adh bin Jabal ketika akan diutus ke negeri Yaman.
Rasulullah ﷺ bertanya, “Kamu akan memberi keputusan dengan apa?”
Dijawab oleh Mu’adh, “Dengan kitab Allah.” Nabi bertanya lagi, “Jika tidak kamu jumpai dalam kitab Allah, bagaimana?”
Mu’adh menjawab, “Dengan Sunah Rasulullah.” Nabi Muhammad bertanya lagi, “Jika dalam Sunah Rasulullah tidak kamu jumpai, bagaimana?”
Mu’adh menjawab, “Aku akan ijtihad dengan pikiranku.” Lalu Nabi Muhammad ﷺ menepuk dada Mu’adh seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan rasul-Nya tentang apa yang diridai Allah dan rasul-Nya.”
(Riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Mu’adh bin Jabal).

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin supaya melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak tergesa-gesa melakukan perbuatan atau mengemukakan pendapat dengan mendahului Al-Qur’an dan hadis Nabi yang ada hubungannya dengan sebab turunnya ayat ini.
Tersebut dalam kitab al-Iklil bahwa mereka dilarang menyembelih kurban pada hari Raya Idul Adha sebelum nabi menyembelih, dan dilarang berpuasa pada hari yang diragukan, seperti apakah telah datang awal Ramadan atau belum, sebelum jelas hasil ijtihad untuk penetapannya.
Kemudian Allah memerintahkan supaya mereka tetap bertakwa kepada-Nya karena Allah Maha Mendengar segala percakapan dan Maha Mengetahui segala yang terkandung dalam hati hamba-hamba-Nya.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan hukum masalah keagamaan dan keduniaan.
Jagalah diri kalian dari azab Allah dengan jalan menaati perintah-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar semua yang kalian katakan dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului) berasal dari lafal Qadima yang maknanya sama dengan lafal Taqaddama artinya, janganlah kalian mendahului baik melalui perkataan atau perbuatan kalian (di hadapan Allah dan Rasul-Nya) yang menyampaikan wahyu dari-Nya, makna yang dimaksud ialah janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya tanpa izin dari keduanya (dan bertakwalah kepada Allah.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar) semua perkataan kalian (lagi Maha Mengetahui) semua perbuatan kalian.

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan perdebatan antara Abu Bakar r.a., dan sahabat Umar r.a.

Mereka berdua melakukan perdebatan di hadapan Nabi ﷺ mengenai pengangkatan Aqra’ bin Habis atau Qa’qa’ bin Ma’bad.

Ayat selanjutnya diturunkan berkenaan dengan orang yang mengangkat suaranya keras-keras di hadapan Nabi ﷺ yaitu firman-Nya:

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Melalui ayat-ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan etika sopan santun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dalam bergaul dengan Rasulullah ﷺ Yaitu hendaknya mereka menghormati, memuliakan, dan mengagungkan beliau ﷺ Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 1)

Maksudnya, janganlah kalian tergesa-gesa dalam segala sesuatu di hadapannya, yakni janganlah kamu melakukannya sebelum dia, bahkan hendaknyalah kamu mengikuti kepadanya dalam segala urusan.

Dan termasuk ke dalam pengertian umum etika yang diperintahkan Allah ini adalah hadis Mu’az r.a.
ketika ia diutus oleh Nabi ﷺ ke negeri Yaman.

Nabi ﷺ bertanya kepadanya, “Dengan apa engkau putuskan hukum?”
Mu’az menjawab, “Dengan Kitabullah” Rasul ﷺ bertanya, “Kalau tidak kamu temukan?”
Mu’az menjawab, “Dengan sunnah Rasul.” Rasul ﷺ bertanya, “Jika tidak kamu temukan.” Mu’az menjawab, “Aku akan berijtihad sendiri.” Maka Rasul ﷺ mengusap dadanya seraya bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah membimbing utusan Rasulullah kepada apa yang diridai oleh Rasulullah.

Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkan hadis ini pula.

Kaitannya dengan pembahasan ini ialah Mu’az menangguhkan pendapat dan ijtihadnya sendiri sesudah Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.
Sekiranya dia mendahulukan ijtihadnya sebelum mencari sumber dalil dari keduanya, tentulah dia termasuk orang yang mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
sehubungan dengan makna firman-Nya: Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 1) Yakni janganlah kamu katakan hal yang bertentangan dengan Kitabullah dan sunnah.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
bahwa mereka (para sahabat) dilarang berbicara di saat Rasulullah ﷺ sedang berbicara.

Mujahid mengatakan, “Janganlah kamu meminta fatwa kepada Rasulullah ﷺ tentang suatu perkara, sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menyelesaikannya melalui lisannya.”

Ad-Dahhak mengatakan, “Janganlah kamu memutuskan suatu urusan yang menyangkut hukum syariat agama kalian sebelum Allah dan Rasul-Nya memutuskannya.”

Sufyan As’-Sauri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala: Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 1) baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 1) Yaitu janganlah kamu berdoa sebelum imam berdoa.

Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa ada beberapa orang yang mengatakan, “Seandainya saja diturunkan mengenai hal anu dan anu.
Seandainya saja hal anu dibenarkan.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala tidak menyukai hal tersebut; karena hal tersebut berarti sama dengan mendahului.”

dan bertakwalah kepada Allah.
(Q.S. Al-Hujurat [49]: 1)

dengan mengerjakan semua apa yang diperintahkan-Nya kepada kalian.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al-Hujurat [49]: 1)

Yakni Dia mendengar semua ucapan kalian dan mengetahui semua niat kalian.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hujurat (49) Ayat 1

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dll, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Zubair bahwa kafilah Bani Tamim datang kepada Rasulullah ﷺ Pada waktu itu Abu Bakrberbeda pendapat dengan ‘Umar tentang siapa yang seharusnya mengurus kafilah itu.
Abu Bakr menghendaki agar al-Qa’qa’ bin Ma’bad yang mengurusnya sedangkan ‘Umar menghendaki al-Aqra’ bin Habis.
Abu Bakr menegur ‘Umar: “Engkau hanya ingin selalu berbeda pendapat denganku.” Dan ‘Umarpun membantahnya.
Perbedaan pendapat itu berlangsung hingga suara keduanya terdengar keras.
Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 1-5) sebagai petunjuk agar meminta ketetapan Allah dan Rasul-Nya, dan jangan mendahului ketetapan-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari al-Hasan bahwa orang-orang menyembelih kurban sebelum waktu yang ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah memerintahkan berkurban sekali lagi.
Ayat ini (al-Hujurat: 1) turun sebagai larangan kepada kaum Mukminin untuk mendahului ketetapan Allah dan Rasul-Nya.
Menurut riwayat Ibnu Abid Dun-ya dalam Kitab al-Adlaahi, lafal riwayatnya sebagai berikut: seorang laki-laki menyembelih (kurbannya) sebelum shalat (Idul Adha)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam Kitab al-Ausath, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa orang-orang mendahului shaum sebelum masuk bulan Ramadhan yang ditetapkan oleh Nabi ﷺ Ayat ini (al-Hujurat: 1) turun sebagai teguran kepada mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa waktu itu ada orang-orang yang menghendaki turunnya ayat tentang sesuatu.
Maka turunlah ayat ini (al-hujurat: 1) yang melarang mendahului ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Hujurat (الحجرات)
Surat Al Hujuraat terdiri atas 18 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Mujaadilah.

Dinamai “Al Hujuraat” (kamar-kamar), diambil dari perkataan “Al Hujuraat” yang terdapat pada ayat 4 surat ini.
Ayat tersebut mencela para sahabat yang memanggil Nabi Muhammad ﷺ yang sedang berada di dalam kamar rumahnya bersama isterinya.
Memanggil Nabi Muham­ mad ﷺ dengan cara dan dalam keadaan yang demikian menunjukkan sifat kurang hormat kepada beliau dan mengganggu ketenteraman beliau.

Keimanan:

Masuk Islam harus disempumakan dengan iman yang sebenar-benarnya.

Hukum:

Larangan mengambil keputusan yang menyimpang dari ketetapan Allah dan rasul­Nya
keharusan meneliti sesuatu perkhabaran yang disampaikan oleh orang yang fasik
kewajiban mengadakan islah antara orang muslim yang bersengketa karena orang-orang Islam itu bersaudara
kewajiban mengambil tindakan terhadap golongan kaum muslimin yang bertindak aniaya kepada golongan kaum muslimin yang lain
larangan mencaci, menghina dan sebagainya
larangan berburuk sangka
bergunjing dan memfitnah dan lain-lain.

Lain-lain:

Adah sopan santun berbicara dengan Rasulullah ﷺ
Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu sama lain kenal mengenal
setiap manusia sama pada sisi Allah, kelebihan hanya pada orang-orang yang bertakwa
sifat-sifat orang-orang yang sebenar-benamya beriman.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hujurat (18 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 1 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 1 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hujurat (49) ayat 1 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hujurat - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 18 & Terjemahan


Gambar

no images were found



Statistik Q.S. 49:1
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hujurat.

Surah Al-Hujurat (bahasa Arab : سورة الحجرات ) adalah surah ke-49 dalam Al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah madaniyah, terdiri atas 18 ayat.
Dinamakan Al-Hujurat yang berarti Kamar-Kamar diambil dari perkataan Al-Hujurat yang terdapat pada ayat ke-4 surat ini.

Imam Bukhari dari lain-lainnya mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwasanya Abdullah bin Zubair menceritakan kepadanya, bahwa pada suatu hari datang menghadap kepada Rasulullah ﷺ.
utusan atau delegasi dari Bani Tamim, Abu Bakar berkata,
"Jadikanlah Qa'qa' bin Ma'bad sebagai amir atas kaumnya." Umar mengusulkan "Tidak, tetapi jadikanlah Aqra' bin Habis sebagai amirnya." Abu Bakar berkata,
"Kamu tidak lain hanyalah ingin berselisih denganku." Umar menjawab, "Aku tidak bermaksud untuk berselisih denganmu." Akhirnya keduanya saling berbantah-bantahan sehingga suara mereka berdua makin keras karena saling berselisih.
Lalu turunlah berkenaan dengan peristiwa itu firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mendahului di hadapan Allah dan Rasul-Nya..." (Q.S.
Al Hujurat, 1) sampai dengan firman-Nya, "Dan kalau sekiranya mereka bersabar..." (Q.S.
Al Hujurat, 5).
Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis lainnya yang juga melalui Qatadah, bahwa para sahabat selalu mengeraskan suaranya kepada Rasulullah ﷺ.
bila berbicara dengannya, maka Allah subhanahu wa ta'ala.
segera menurunkan firman-Nya, "Janganlah kalian meninggikan suara kalian ..." (Q.S.
Hujurat 2).

Nomor Surah 49
Nama Surah Al Hujurat
Arab الحجرات
Arti Kamar-kamar
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 106
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 2 ruku'
Jumlah ayat 18
Jumlah kata 353
Jumlah huruf 1533
Surah sebelumnya Surah Al-Fath
Surah selanjutnya Surah Qaf
4.8
Ratingmu: 4.6 (14 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/49-1







Pembahasan ▪ al hujurat 1-5 tafsir q ▪ QS al hujurat 1-5

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta