QS. Al Hijr (Gunung Al Hijr) – surah 15 ayat 49 [QS. 15:49]

نَبِّیٔۡ عِبَادِیۡۤ اَنِّیۡۤ اَنَا الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ
Nabbi-a ‘ibaadii annii anaal ghafuurur-rahiim(u);

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,
―QS. 15:49
Topik ▪ Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat
15:49, 15 49, 15-49, Al Hijr 49, AlHijr 49, Al-Hijr 49

Tafsir surah Al Hijr (15) ayat 49

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hijr (15) : 49. Oleh Kementrian Agama RI

Penduduk surga tidak pernah merasa letih dan lelah, karena mereka tidak lagi dibebani oleh berbagai usaha untuk melengkapi kebutuhan pokok yang mereka perlukan.
Segala sesuatu yang mereka inginkan telah tersedia, tinggal memanfaatkan saja.
Mereka tidak pernah merasa khawatir akan dipindahkan ke tempat yang tidak mereka senangi karena mereka kekal di dalam surga.
Mereka akan terus merasakan kenikmatan dan kesenangan yang sudah tersedia.

Pada ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala melukiskan keadaan di dalam surga itu:

Yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.”
(Q.S. Faathir [35]: 35)

Hadis Nabi ﷺ menjelaskan keadaan surga:

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah (yang akan ditempatinya) di surga yang terbuat dari bambu, tidak ada kesulitan di dalamnya, dan tidak ada pula kelelahan.”
(Riwayat a-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin Aufa)

Dari keterangan di atas, maka keadaan orang-orang beriman dalam surga itu dapat digambarkan sebagai berikut:
orang-orang yang beriman berada dalam keadaan terhormat, bersih dari berbagai penyakit hati seperti rasa dengki, iri hati, marah, kecewa, dan sebangsanya, tidak pernah merasa lelah, sakit, dan lapar, selalu dalam keadaan senang dan gembira, saling bersilaturrahim, dan bersahabat dengan penduduk surga yang lain, dan mereka kekal di surga sehingga tidak perlu merasa khawatir akan dipindahkan ke tempat yang tidak disenangi.

Diriwayatkan oleh ath-thabrani dari Abdullah bin Zubair bahwa Rasulullah ﷺ menegur para sahabat yang tertawa ketika beliau lewat di hadapan mereka.
Beliau berkata, “Apa yang menyebabkan kamu tertawa?.” Maka turunlah ayat ini sebagai teguran kepada Nabi ﷺ agar membiarkan mereka tertawa karena Allah Maha Pengampun di samping siksa-Nya yang sangat pedih.

Diriwayatkan pula oleh Abu hatim dari Ali bin Abi Husain bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan Abu Bakar dan Umar bin al-Khaththab, yang mana rasa dengki keduanya telah dicabut Allah dari dalam hatinya.
Ketika ditanya orang, “Kedengkian apa?”
Ali bin Abi Husain menjawab, “Kedengkian jahiliyah, yaitu sikap permusuhan antara Bani Tamim (Kabilah Abu Bakar) dan Bani Umayyah.” Ketika Abu Bakar terserang penyakit pinggang, Ali memanaskan tangannya dan dengan tangannya ia memanaskan pinggang Abu Bakar, maka turunlah ayat ini.

Pada ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan janji dan ancaman-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menyampaikan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia bersedia menghapus segala dosa, jika seseorang telah bertobat dalam arti yang sebenarnya dan kembali menempuh jalan yang diridai-Nya.
Allah tidak akan mengazab hamba-hamba-Nya yang bertobat.
Allah juga memerintahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ agar menyampaikan kepada hamba-Nya bahwa azab-Nya akan menimpa orang yang durhaka dan berbuat maksiat dan tidak mau bertobat atau kembali ke jalan-Nya.
Azab-Nya itu sangat pedih, dan tidak ada bandingannya di dunia ini.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kabarkanlah, wahai Muhammad, kepada semua hamba-Ku bahwa pengampunan-Ku amat banyak bagi orang yang bertobat lalu melakukan amal saleh.
Sampaikan pula bahwa kasih sayang-Ku amat luas.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kabarkanlah) beritakanlah, hai Muhammad (kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun) terhadap orang-orang mukmin (lagi Maha Penyayang) terhadap mereka yang beriman.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kabarkan, wahai Rasul, kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku Maha Pengampun kepada orang-orang Mukmin yang bertaubat, lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.

Maksudnya, beritakanlah —hai Muhammad— kepada hamba-hamba-Ku, bahwasanya Akulah Tuhan yang mempunyai rahmat dan yang mempunyai azab yang sangat pedih.

Dalam pembahasan terdahulu telah diterangkan pembahasan yang semisal dengan makna ayat ini, yang intinya menunjukkan bahwa ayat ini mengandung makna raja’ (harapan) dan Khauf (ketakutan).

Disebutkan pula mengenai penyebab turunnya ayat ini menurut riwayat Musa ibnu Ubaidah, dari Mus’ab ibnu Sabit yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ melewati sejumlah orang dari kalangan sahabatnya yang sedang tertawa-tawa, maka beliau ﷺ bersabda:

Ingatlah surga dan ingatlah pula neraka! Maka turunlah firman-Nya: Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.

Demikianlah menurut hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Hadis ini berpredikat mursal.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnul Makki, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Mus’ab ibnu Sabit, telah menceritakan kepada kami Asim ibnu Abdullah, dari Ibnu Abu Rabah, dari seorang lelaki dari kalangan sahabat Nabi ﷺ yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ muncul menemui kami dari pintu yang biasa dipakai masuk oleh Bani Syaibah, lalu beliau ﷺ bersabda, “Jangan sekali lagi aku melihat kalian dalam keadaan tertawa-tawa.” Kemudian beliau berpaling, dan manakala beliau telah sampai di Hijir Ismail, tiba-tiba beliau kembali kepada kami dengan langkah mundur, lalu bersabda: Sesungguhnya ketika aku keluar, Jibril datang dan berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah telah berfirman, ‘Kami tidak akan membuat hamba-hamba Kami berputus asa.
Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab­Ku adalah azab yang sangat pedih’.”

Sa’id telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Menurut riwayatnya, telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Seandainya seorang hamba mengetahui kadar pemaafan Allah, tentulah tidak segan-segan ia melakukan hal yang haram, dan seandainya seorang hamba mengetahui kadar azab Allah, tentulah ia menekan hawa nafsunya.


Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hijr (15) Ayat 49

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari ‘Abdullah bin Zubair bahwa Rasulullah menegur para shahabatnya yang sedang tertawa saat beliau lewat di tempat itu, dengan berkata: “Apa gerangan yang menyebabkan kalian tertawa?
Padahal surga dan neraka itu sudah diperingatkan kepada kalian.” Maka turunlah ayat ini (al-Hijr: 49-50) sebagai teguran kepada Nabi supaya membiarkan mereka tertawa, karena Allah itu ghafuurur rahiim (Maha Pengampun lagi Maha Penyayang), tetapi juga mengingatkan mereka bahwa siksa Allah sangat pedih.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari salah seorang shahabat Nabi bahwa Rasulullah ﷺ melihat para shahabat dari pintu Bani Syaibah, sambil bersabda: “Aku tidak ingin melihat kalian tertawa.” Kemudian beliau meninggalkan mereka.
Tidak lama kemudian beliau kembali lagi sambil mundur dan bersabda: “Ketika aku tiba di Hijr (Isma’il), Jibril datang menegurku: “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah berfirman kepadamu: ‘Mengapa engkau memutuskan harapan hamba-hamba-Ku?” (sebagaimana firman-Nya dalam (al-Hijr: 49-50).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Hijr (الحجر)
Surat ini terdiri atas 99 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, karena diturunkan di Mekah sebelum Hijrah.
Al Hijr adalah nama sebuah daerah pegunungan yang didiami zaman dahulu oleh kaum Tsamud terletak di pinggir jalan antara Madinah dan Syam (Syiria).

Nama surat ini diambil dari nama daerah pegunungan itu, berhubung nasib penduduknya yaitu kaum Tsamud diceritakan pada ayat 80 sampai dengan 84, mereka telah dimusnahkan Allah subhanahu wa ta’ala, karena mendustakan Nabi Shaleh ‘alaihis salam dan berpaling dari ayat-ayat Allah.

Dalam surat ini terdapat juga kisah-kisah kaum yang lain yang telah dibinasakan oleh Allah seperti kaum Luth ‘alaihis salam dan kaum Syu ‘aib ‘alaihis salam Dari kesemua kisah-kisah itu dapat diambil pelajaran bahwa orang-orang yang menentang ajaran rasul-rasul akan mengalami kehancuran.

Keimanan:

Kepastian nasib suatu bangsa hanya di tangan Allah
Allah menjamin kemurnian Al Qur’an sepanjang masa
syaitan tidak dapat menaiki alam malakut, karena ada yang menjaganya
alam malakut (langit) senantiasa dijaga dari syaitan
kadar rezki yang diberikan kepada manusia sesuai dengan hikmah kebijaksanaan Allah
Allah memelihara hambaNya yang telah mendapat taufiq dari godaan syaitan
Allah disamping bersifat Maha Pengampun dan Maha Penyayang juga mengazab orang-orang yang ingkar
manusia dihimpun pada hari kiamat.

Hukum:

Larangan melakukan homosexual
kewajiban melakukan ibadah selama hidup
larangan menginginkan harta orang kafir
perintah kepada Nabi Muhammad ﷺ agar melakukan da’wah agama secara terang-terangan
larangan berputus asa terhadap rahmat Allah.

Kisah:

Nabi Ibrahim a.s. dengan kaumnya
Nabi Luth a.s, dengan kaumnya
kaum Syu’aib dan kaum Shaleh a.s. (Tsamud).

Lain-lain:

Kejadian-kejadian dalam alam ini menunjukkan kebesaran Allah
kejadian alam dan isinya mengandung hikmah
angin mengawinkan tepung sari bunga-bungaan
asal kejadian Adam a.s.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hijr (99 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hijr (15) ayat 49 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hijr (15) ayat 49 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hijr (15) ayat 49 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hijr - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 99 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 15:49
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hijr.

Surah Al-Hijr (bahasa Arab:الحجر, al-Hijr, "Al-Hijr") adalah surah ke-15 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 99 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Al-Hijr adalah nama sebuah daerah pegunungan yang didiami oleh kaum Tsamud pada zaman dahulu yang terletak di pinggir jalan antara Madinah dan Syam (Syria).
Nama surah ini diambil dari nama daerah pegunungan itu yang berkaitan dengan nasib penduduknya yaitu kaum Tsamud pada ayat 80 sampai dengan 84, mereka telah dimusnahkan Allah, karena mendustakan Nabi Shaleh dan berpaling dari ayat-ayat Allah.
Dalam surah ini terdapat juga kisah-kisah kaum yang lain yang telah dibinasakan oleh Allah seperti kaum Luth dan kaum Syu'aib .
Surah ini juga mengandung pesan bahwa orang-orang yang menentang ajaran rasul-rasul akan mengalami kehancuran.

Nomor Surah 15
Nama Surah Al Hijr
Arab الحجر
Arti Gunung Al Hijr
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 54
Juz Juz 13 (ayat 1) sampai juz 14 (2-99)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 99
Jumlah kata 658
Jumlah huruf 2881
Surah sebelumnya Surah Ibrahim
Surah selanjutnya Surah An-Nahl
4.6
Ratingmu: 4.4 (10 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim