Al Hijr

Al Hijr (Gunung Al Hijr) surah 15 ayat 41


قَالَ ہٰذَا صِرَاطٌ عَلَیَّ مُسۡتَقِیۡمٌ
Qaala hadzaa shiraathun ‘alai-ya mustaqiimun;

Allah berfirman:
“Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya).
―QS. 15:41
Topik ▪ Al Qur’an menerangkan segala sesuatu
15:41, 15 41, 15-41, Al Hijr 41, AlHijr 41, Al-Hijr 41
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hijr (15) : 41. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala mengancam Iblis dengan ayat ini bahwa apa yang dinyatakan Iblis itu, yaitu ia tidak dapat memperdayakan hamba-hamba Nya yang saleh.
Adalah suatu jalan yang lurus.
Dia memberi pahala semua amal baik seorang hamba dan membalas dengan siksa semua amal buruk seseorang.

Untuk menghilangkan keragu-raguan yang mungkin dipahami pada ayat-ayat yang lalu maka Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan dalam ayat ini, bahwa hamba-hamba Allah tidak seorangpun yang dapat dikuasai setan.
Semuanya telah diberi Taufik Allah untuk beriman, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan semua larangan Nya.
Godaan apapun tidak akan mempengaruhi iman mereka.
Hal ini ditegaskan oleh Allah pada firman Nya yang lain:

Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan akupun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya.
Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku.
Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri.
Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku.
Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu".
Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.

(Q.S Ibrahim: 22)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya.
Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.

(Q.S An Nahl: 99-100)

Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala mengancam setan dan pengikut-pengikutnya dengan neraka Jahanam sebagai pembalasan bagi segala macam kejahatan yang pernah mereka perbuat.

Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan keadaan neraka yang akan didiami oleh orang-orang yang sesat itu, yaitu terdiri atas tujuh tingkat.
Tiap-tiap tingkat didiami oleh orang-orang yang sesuai pula dengan tingkat kejahatan yang telah mereka perbuat.

Menurut Ibnu Juraij, neraka itu tujuh tingkat, tingkat pertama ialah Jahanam, kemudian Laza, kemudian Hutamah, kemudian Sa'ir, kemudian Saqar, kemudian Jahim dan kemudian Hawiyah, yang paling tinggi bagi orang mukmin yang durhaka, yang kedua bagi orang Yahudi, yang ketiga bagi orang Nasrani, yang keempat bagi penyembah patung, yang kelima bagi Majusi, yang keenam bagi orang musyrik yang ketujuh bagi orang munafik.
As Salabi meriwayatkan bahwa ketika Salman mendengarkan ayat ini, ia lari menjauhkan diri selama tiga hari dan sampai tidak sadarkan diri.
Kemudian dibawa kepada Nabi ﷺ, ketika Nabi ﷺ bertanya kepadanya ia menjawab: "Ya Rasulullah, dengan turunnya ayat itu, terasa putus jantungku.
Maka Allah menurunkan ayat berikutnya yang menerangkan bahwa bagi orang-orang yang bertakwa disediakan surga yang penuh kenikmatan.
Banyak hadis-hadis yang lain yang berhubungan dengan surga dan neraka ini tetapi tidak ada yang berasal dari Nabi, karena itu tidak dapat dijadikan dasar hujah.

Dari ayat-ayat ini dapat dipahami bahwa manusia mempunyai dua macam sifat yang pokok yaitu, yang pertama mempunyai sifat yang mengikuti hawa nafsu, terpengaruh oleh kehidupan dunia dengan segala mata benda kehidupan yang mempesona dirinya.
Mereka inilah orang-orang musyrik yang mudah dipengaruhi setan.
Yang kedua ialah manusia yang mempunyai sifat percaya kepada Allah dan Rasul, jiwanya bersih dan mulia, kuat hubungannya dengan Allah suka kepada kebaikan.
Golongan ini tidak dapat dipengaruhi oleh setan karena hati mereka telah cenderung kepada Allah subhanahu wa ta'ala

Al Hijr (15) ayat 41 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Hijr (15) ayat 41 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Hijr (15) ayat 41 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub