QS. Al Hasyr (Pengusiran) – surah 59 ayat 16 [QS. 59:16]

کَمَثَلِ الشَّیۡطٰنِ اِذۡ قَالَ لِلۡاِنۡسَانِ اکۡفُرۡ ۚ فَلَمَّا کَفَرَ قَالَ اِنِّیۡ بَرِیۡٓءٌ مِّنۡکَ اِنِّیۡۤ اَخَافُ اللّٰہَ رَبَّ الۡعٰلَمِیۡنَ
Kamatsalisy-syaithaani idz qaala lila-insaaniikfur falammaa kafara qaala innii bariyun minka innii akhaafullaha rabbal ‘aalamiin(a);

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada manusia:
“Kafirlah kamu”,
maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata:
“Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”.
―QS. 59:16
Topik ▪ Penciptaan ▪ Sifat iblis dan pembantunya ▪ Kedahsyatan hari kiamat
59:16, 59 16, 59-16, Al Hasyr 16, AlHasyr 16, Al-Hashr 16, AlHashr 16, Al Hashr16, Al-Hasyr 16

Tafsir surah Al Hasyr (59) ayat 16

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hasyr (59) : 16. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menjelaskan bahwa perbuatan khianat orang-orang munafik yang berjanji akan menolong Bani Nadhir bila diserang kaum Muslimin dan ikut mereka bila diusir dari Medinah, adalah seperti perbuatan setan.
Setan selalu merayu manusia agar mengingkari Allah dan tidak mengikuti agama yang telah disampaikan rasul-Nya.
Akan tetapi, bila manusia itu memerlukan pertolongan dalam menghadapi kesengsaraan dan malapetaka yang datang kepada mereka, setan berlepas diri dan tidak menepati janjinya.
Mereka bahkan berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam.” Allah menyamakan orang-orang munafik dengan setan untuk menunjukkan bahwa sifat-sifat orang-orang munafik itu sama dengan sifat-sifat setan.
Setan yang durhaka mematuhi hukum-hukum Allah, percaya bahwa Allah itu ada, Maha Esa, dan hanya Dia yang berhak disembah.
Setan juga percaya bahwa syarat-syarat memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat hanya dengan mengikuti agama Allah.
Akan tetapi, mereka adalah kaum yang fasik.
Mereka mengetahui kebenaran sesuatu tetapi tidak melaksanakannya.
Demikian pula halnya dengan orang-orang munafik, mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi mereka tidak melaksanakan kebenaran itu.
Mereka bahkan melakukan perbuatan-perbuatan menghasut dan terlarang.
Allah berfirman:

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya.
Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri.
Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku.
Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih.

(Q.S. Ibrahim [14]: 22)

Jadi bentuk perumpamaan dalam ayat ini ialah orang-orang munafik diserupakan dengan setan.
Orang-orang Yahudi Bani Nadhir disamakan dengan orang-orang yang teperdaya oleh bujukan setan.
Ketakutan mereka kepada kaum Muslimin disamakan dengan ketakutan mereka kepada Allah, bahkan lebih dari itu.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Permisalan orang-orang munafik dalam merayu Banu Nadlir untuk membangkang kepada Rasulullah adalah seperti setan yang merayu manusia untuk tidak beriman dengan mengatakan, “Kafirlah!” Tetapi, setelah manusia itu kafir, setan berkata lagi, “Aku tidak bertanggung jawab atas dirimu.
Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

Dan juga perumpamaan mereka dalam hal mendengar dari orang-orang munafik, tetapi orang-orang munafik itu tidak mau mengikuti jejak mereka sesudahnya (seperti halnya setan, ia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu,” maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.”) Padahal ia dusta dan hanya ria belaka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu, ” Maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu.” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 16)

Yakni perumpamaan orang-orang Yahudi yang terbujuk oleh janji pertolongan dari sebagian orang-orang munafik, dan ucapan orang-orang munafik kepada mereka, “Jika kamu diperangi, maka kami akan membantumu.” Kemudian setelah peristiwanya terjadi dan dijumpai mereka telah dikepung dan diperangi, maka orang-orang munafik itu berlepas diri dari mereka dan menyerahkan mereka kepada kehancuran.

Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan setan ketika merayu manusia —semoga Allah melindungi kita dari godaannya—, “Kafirlah kamu.” Maka tatkala manusia itu terpengaruh oleh rayuannya dan mau kafir, berlepas dirilah setan darinya dan berbalik mencelanya, lalu berkata:

Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 16)

Sehubungan dengan hal ini ada sebagian ulama yang mengetengahkan kisah yang dialami oleh sebagian ahli ibadah Bani Israil sebagai contoh dari perumpamaan dalam ayat ini, tetapi bukan berarti sebagai makna yang dimaksud semata dari misal ini, bahkan menyangkut pula berbagai misal yang serupa lainnya.

Untuk itu Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khallad ibnu Aslam, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Syamil, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq; ia pernah mendengar Abdullah ibnu Nahik mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ali r.a.
bercerita seperti berikut:

Di masa lalu pernah ada seorang rahib yang beribadah selama enam puluh tahun.
Lalu setan bermaksud untuk menggodanya, tetapi tidak berhasil.
Maka setan mendekati seorang wanita dan membuat wanita itu menjadi gila, sedangkan wanita itu mempunyai banyak saudara laki-laki.
Kemudian setan berkata kepada saudara-saudara lelaki perempuan itu, “Pergilah kamu kepada pendeta ini, dialah yang akan mengobatinya.”

Ali r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa lalu mereka datang dengan membawa saudara perempuan mereka yang gila itu kepada si rahib.
Maka si rahib mengobatinya dan merawatnya di dalam rumahnya.
Dan pada suatu hari ketika si rahib sedang sendirian bersama pasiennya, tiba-tiba ia terpesona dengan kecantikannya, akhirnya ia menggaulinya hingga mengandung.
Maka untuk menutupi rasa malunya ia terpaksa membunuhnya, tidak lama kemudian saudara-saudaranya datang.
Maka setan berkata kepada si rahib, “Aku adalah temanmu, kamu telah membuatku susah, akulah yang melakukan semua ini kepadamu.
Maka taatilah aku, niscaya aku dapat menyelamatkanmu dari perbuatanmu itu.
Sekarang bersujudlah kepadaku!” Akhirnya si rahib mau bersujud.
Setelah bersujud kepada setan, maka setan berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

Ali r.a.
melanjutkan, bahwa yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya: (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” Maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”(Q.S. Al-Hasyr [59]: 16)

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Ibrahim Al-Mas’udi, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Al-A’masy, dari Imarah, dari Abdur Rahman ibnu Yazid, dari Abdullah ibnu Mas’ud r.a.
sehubungan dengan ayat ini: (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu!” Maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”(Q.S. Al-Hasyr [59]: 16) –

Dahulu pernah ada seorang wanita penggembala ternak kambing, ia mempunyai empat saudara laki-laki, dan bila malam tiba wanita penggembala itu menginap di biara seorang rahib.
Rahib turun dari biaranya dan berbuat lacur (mesum) dengan wanita penggembala itu, yang lama-kelamaan hamil.

Lalu setan mendatanginya dan berkata kepadanya, “Bunuh saja wanita ini dan langsung kamu kubur, karena sesungguhnya kamu adalah seorang lelaki yang dipercaya dan perkataanmu didengar.” Akhirnya si rahib membunuh wanita itu, lalu mengebumikannya.
Di lain waktu setan mendatangi semua saudara lelaki wanita itu dalam mimpinya dan mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya si rahib penunggu biara itu telah berbuat mesum dengan saudara perempuanmu; dan setelah saudara perempuanmu hamil, si rahib itu membunuhnya dan menguburnya di tempat anu.”

Pada keesokan harinya seseorang dari mereka mengatakan, “Demi Allah, tadi malam aku bermimpi sesuatu yang saya sendiri tidak tahu apakah aku harus menceritakannya kepada kalian ataukah tidak.” Mereka menjawab, “Tidak, bahkan kamu harus menceritakannya kepada kami.” Lalu ia menceritakan mimpinya itu kepada mereka.
Yang lain berkata, “Demi Allah, aku pun telah bermimpi sama dengan itu.” Yang lainnya lagi berkata, “Aku pun bermimpi sama dengan itu.” Mereka berkata, “Demi Allah, ini adalah sesuatu yang tiada lain pasti kejadiannya.”

Lalu mereka berangkat dan bersiap-siap untuk mengadukan perkara si rahib itu kepada raja mereka.
Mereka mendatangi rahib itu dan menurunkannya dari biaranya, lalu membawanya pergi.
Di tengah jalan, setan menemui rahib itu dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya akulah yang menjerumuskan dirimu ke dalam perkara ini, dan tidak ada yang dapat menyelamatkan dirimu dari perkara ini selain aku.
Maka sekarang bersujudlah kamu kepadaku sekali saja, aku akan menyelamatkan dirimu dari kesulitanmu ini.” Akhirnya si rahib itu mau bersujud kepadanya.
Setelah mereka mendatangkan rahib itu kepada raja mereka, setan berlepas diri darinya.
Akhirnya si rahib ditangkap, lalu dihukum mati.

Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Tawus, dan Muqatil ibnu Hayyan.
Dan menurut riwayat yang terkenal di kalangan banyak ulama, rahib ini bernama Barsisa; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Kisah ini berbeda dengan kisah Juraij si ahli ibadah, karena Juraij dituduh oleh seorang wanita yang mengakui bahwa dirinya dihamili oleh Juraij, dan bahwa kandungannya adalah hasil hubungannya dengan Juraij.
Kemudian kasusnya dilaporkan kepada penguasa setempat, maka Juraij dipecat dan diturunkan dari biara tempat ibadahnya, sedangkan biaranya dirusak.
Juraij hanya dapat berkata, “Mengapa kalian ini?”
Mereka berkata, “Hai musuh Allah, engkau telah berbuat mesum dengan wanita ini!”

Juraij menjawab, “Bersabarlah kalian.” Kemudian ia mengambil bayi wanita itu yang masih merah, lalu bertanya kepadanya, “Hai bayi, siapakah sebenarnya ayahmu?”
Maka dengan serta merta bayi yang masih merah itu menjawab, “Ayahku adalah penggembala.” Wanita itu telah menyerahkan dirinya kepada si penggembala, akhirnya dari hasil hubungannya ia mengandung (lalu melemparkan tuduhannya kepada si Juraij).
Ketika Bani Israil menyaksikan kebenaran ini, maka mereka semuanya menghormati Juraij dengan penghormatan yang berlebihan.
Dan mereka mengatakan, “Kami akan membangun kembali biaramu dari emas.” Juraij menjawab, “Jangan, tetapi kembalikanlah seperti semula, yaitu dengan tanah liat.”


Informasi Surah Al Hasyr (الحشر)
Surat Al Hasyr terdiri atas 24 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Bayyinah.

Dinamai surat ini “Al Hasyr” (pengusiran) diambil dari perkataan “Al Hasyr ” yang terdapat pada ayat 2 surat ini.
Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah.

Keimanan:

Apa yang berada di langit dan di bumi semuanya bertasbih memuji Allah
Allah pasti mengalahkan musuh-Nya dan musuh-musuh Rasul-Nya
Allah mempunyai Al Asmaa-ul Husna
keagungan Al Qur’an dan ketinggian martabatnya.

Hukum:

Cara pembahagian harta fai-i
perintah bertakwa dan menyiapkan diri untuk kehidupan ukhrawi.

Lain-lain:

Beberapa sifat orang-orang munafik dan orang-orang ahli kitab yang tercela
peringatan-peringatan untuk kaum muslimin.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hasyr (24 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 16 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 16 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 16 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hasyr - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 24 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 59:16
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hasyr.

Surah Al-Hasyr (Arab: الحشر , "Pengusiran") adalah surah ke-59 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 24 ayat.
Dinamakan Al Hasyr yang berarti pengusiran diambil dari perkataan Al Hasyr yang terdapat pada ayat ke-2 surat ini.
Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah.

Nomor Surah 59
Nama Surah Al Hasyr
Arab الحشر
Arti Pengusiran
Nama lain Bani Nadhir
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 101
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 24
Jumlah kata 448
Jumlah huruf 971
Surah sebelumnya Surah Al-Mujadilah
Surah selanjutnya Surah Al-Mumtahanah
4.9
Ratingmu: 4.7 (11 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs 59 53

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta