QS. Al Hasyr (Pengusiran) – surah 59 ayat 10 [QS. 59:10]

وَ الَّذِیۡنَ جَآءُوۡ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا اغۡفِرۡ لَنَا وَ لِاِخۡوَانِنَا الَّذِیۡنَ سَبَقُوۡنَا بِالۡاِیۡمَانِ وَ لَا تَجۡعَلۡ فِیۡ قُلُوۡبِنَا غِلًّا لِّلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا رَبَّنَاۤ اِنَّکَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ
Waal-ladziina jaa-uu min ba’dihim yaquuluuna rabbanaaaghfir lanaa wala-ikhwaaninaal-ladziina sabaquunaa bil-iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghilaa lil-ladziina aamanuu rabbanaa innaka rauufun rahiimun;

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa:
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.
―QS. 59:10
Topik ▪ Pahala Iman
59:10, 59 10, 59-10, Al Hasyr 10, AlHasyr 10, Al-Hashr 10, AlHashr 10, Al Hashr10, Al-Hasyr 10

Tafsir surah Al Hasyr (59) ayat 10

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hasyr (59) : 10. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa generasi kaum Muslimin yang datang kemudian, setelah berakhirnya generasi Muhajirin dan Ansar, sampai datangnya hari Kiamat nanti berdoa kepada Allah, yang artinya, “Wahai Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa saudara-saudara kami seagama yang lebih dahulu beriman daripada kami.” Ada beberapa hal yang dapat diambil dari ayat ini, yaitu:

1.
Jika seseorang berdoa, maka doa itu dimulai untuk diri sendiri, kemudian untuk orang lain.
2.
Kaum Muslimin satu dengan yang lain mempunyai hubungan persaudaraan, seperti hubungan saudara seibu-sebapak.
Mereka saling mendoakan agar diampuni Allah segala dosa-dosanya, baik yang sekarang, maupun yang terdahulu.
3.
Kaum Muslimin wajib mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ, karena mereka telah memberikan contoh dalam berhubungan yang baik dengan sesama manusia.
Jika seseorang ingin hidupnya bahagia di dunia dan di akhirat, hendaklah mencontoh hubungan persaudaraan yang telah dilakukan kaum Muhajirin dan Ansar itu.

Ayat ke-10 ini mempunyai hubungan erat dengan ayat sebelumnya (ayat ke-9).
Oleh karena itu, maksud ayat ini ialah menjelaskan bagaimana hubungan orang-orang Muhajirin yang telah meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan harta mereka di Mekah dengan orang-orang Ansar yang beriman yang menerima orang-orang Muhajirin dengan penuh kecintaan dan persaudaraan di kampung halaman mereka, yang mereka lakukan semata-mata untuk mencari keridaan Allah dan bersama-sama menegakkan agama Allah serta menunjukkan iman mereka yang benar, demikian pulalah hendaknya hubungan kaum Muslimin yang datang sesudahnya.
Hendaklah mereka tolong-menolong dan mempererat persaudaraan dalam meninggikan kalimat Allah.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa hubungan orang yang sedang berhijrah dan penduduk negeri yang menerima mereka, dapat menimbulkan hubungan persaudaraan yang kuat di antara manusia, asal dalam hubungan itu terdapat unsur-unsur keimanan, keikhlasan, dan tolong-menolong, seperti yang telah dilakukan kaum Muhajirin dan kaum Ansar.
Dalam situasi ini terdapat kesempatan yang paling banyak bagi seorang mukmin untuk melakukan berbagai perbuatan yang membentuk sifat-sifat takwa dan diridai Allah.
Ibnu Abi Laila berkata, “Manusia terbagi kepada beberapa tingkatan yaitu tingkatan Muhajirin, tingkatan Ansar, dan tingkatan generasi sesudahnya yang selalu mengikuti jejak Muhajirin dan Ansar.
Oleh karena itu, hendaknya kita berupaya agar dapat masuk ke dalam salah satu dari tiga tingkatan tersebut.
Kemudian disebutkan lanjutan doa orang-orang yang beriman itu, yang artinya, “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau timbulkan dalam hati kami rasa dengki kepada orang-orang yang beriman.” Rasa dengki dan dendam adalah sumber segala kejahatan dan maksiat yang mendorong orang berbuat kebinasaan, kezaliman, dan menumpahkan darah di muka bumi.
Allah berfirman:

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah.
Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
Itulah kemenangan yang agung.

(Q.S. At-Taubah [9]: 100)

Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang tersebut dalam ayat 10 ini mengatakan bahwa Allah Maha Penyayang kepada para hamba-Nya, dan banyak melimpahkan rahmat-Nya.
Oleh karena itu, mereka mohon agar Dia memperkenankan doa-doa mereka.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa ia mendengar seorang laki-laki bertemu dengan sebagian orang Muhajirin, maka dibacakan ayat, “Lil fuqara’il-muhajirin” (bagi orang fakir golongan Muhajirin), kemudian salah seorang berkata kepadanya, “Mereka itu orang-orang Muhajirin, apakah kamu termasuk sebagian dari mereka.” Orang itu menjawab, “Tidak.” Kemudian dibacakan pula kepadanya: “Wal-ladhina tabawwa’ud-dara wal-imana min qablihim” (dan orang-orang yang telah menempati kota Medinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka).
Kemudian salah seorang berkata kepadanya, “Mereka itu golongan Ansar, apakah engkau dari golongan mereka?”
Ia menjawab, “Tidak.” Kemudian dibacakan ayat: “Wal-ladhina ja’u min ba’dihim” (orang-orang yang datang kemudian), Seseorang juga bertanya kepadanya, “Apakah engkau dari golongan mereka?”
Ia menjawab, “Aku mengharap demikian.” Kemudian ia berkata, “Bukankah sebagian mereka mencela sebagian yang lain?”
Ayat ini menunjukkan bahwa antara orang-orang mukmin tidak boleh mencela sesama mereka.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kaum mukminin yang datang setelah kaum Muhajirin dan Anshar mengatakan, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman! Janganlah Engkau ciptakan rasa iri dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman! Ya Tuhan kami, Engkau benar-benar Mahalembut dan Maha Penyayang.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan orang-orang yang datang sesudah mereka) yakni sesudah kaum Muhajirin dan kaum Ansar hingga hari kiamat nanti (mereka berdoa, “Ya Rabb kami! Beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami) yakni rasa dengki (terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”)

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 10)

Mereka adalah golongan yang ketiga dari kaum fakir mereka yang berhak mendapat bagian dari harta fai.
Pertama, adalah golongan Muhajirin.
Kedua, golongan Ansar.
Dan ketiga, adalah orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.
Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah.
(Q.S. At-Taubah [9]: 100)

Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah orang-orang yang mengikuti jejak mereka yang baik dan sifat-sifat mereka yang terpuji, serta menyeru (orang lain) mengikuti jejak mereka, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.
Karena itulah maka disebutkan dalam ayat ini oleh firman-Nya:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 10)

Yaitu selalu mendoakan.

Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 10)

Yakni rasa dengki dan kebencian.

terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 10)

Alangkah baiknya apa yang disimpulkan oleh Imam Malik rahimahullah dari ayat yang mulia ini, bahwa kaum Rafidah yang selalu mencaci para sahabat.
Mereka tidak punya hak dari harta fai ini, karena mereka tidak termasuk orang-orang yang bersifat seperti apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam rangka memuji mereka melalui firman-Nya:

Ya Tuhan kami.
beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 10)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Abdur Rahman Al-Masruqi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim ibnu Muhajir, dari ayahnya, dari Aisyah; ia telah mengatakan bahwa mereka (orang-orang Rafidah) diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi para sahabat yang terdahulu, tetapi sebaliknya justru mereka mencacinya.
Kemudian Aisyah r.a.
membaca firman-Nya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 10), hingga akhit ayat.

Ismail ibnu Aliyyah telah meriwayatkan dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Masruq, dari Aisyah yang mengatakan, “Kalian diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi sahabat-sahabat Muhammad ﷺ, tetapi kalian justru mencaci maki mereka.
Aku telah mendengar Nabi kalian bersabda: ‘Umat ini tidak akan lenyap sebelum orang-orang yang terkemudian dari mereka melaknat orang-orang yang terdahulunya’.”

Al-Bagawi telah meriwayatkan hadis ini.

Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Az-Zuhri yang mengatakan bahwa Umar membaca firman-Nya: Dan apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 6)

Az-Zuhri melanjutkan, bahwa lalu Umar r.a.
mengatakan bahwa yang ini khusus untuk Rasulullah ﷺ Dan kampung-kampung Arinah serta lain-lainnya termasuk di antara harta fai yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk kota-kota.
Maka harta-harta fai itu adalah untuk Allah, Rasul-Nya, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan, serta untuk orang-orang fakir Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka, dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar).
Maka ayat-ayat ini mencakup semua orang, hingga tiada seorang muslim pun melainkan baginya ada hak dari harta fai ini.

Menurut Ayyub, mempunyai bagian terkecuali sebagian dari orang-orang yang kamu miliki, yaitu para budak.
Demikianlah menurut riwayat Abu Daud, tetapi dalam sanadnya terdapat inqita’ (mata rantai yang tidak berhubungan).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul A’ la, telah menceritakan kepada kami AbuSaur, dari Ma’mar, dari Ayyub, dari Ikrimah ibnu Khalid, dari Malik ibnu Aus ibnul Hadsan yang mengatakan bahwa Umar r.a.
membaca firman-Nya: Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin.
(Q.S. At-Taubah [9]: 60) sampai dengan firman-Nya: Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
(Q.S. At-Taubah [9]: 60) Kemudian Umar mengatakan bahwa ini adalah untuk mereka.
Lalu ia membaca firman-Nya: Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul.
(Q.S. Al-Anfal [8]: 41), hingga akhir ayat.
Kemudian Umar mengatakan bahwa ini untuk mereka, lalu ia membaca firman-Nya: Dan apa saja harta rampasan (fai) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 7) sampai dengan firman-Nya: (juga) bagi para fuqara.
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 8), hingga akhir ayat.
Kemudian dilanjutkan dengan firman-Nya: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin).
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9), hingga akhir ayat.
.
Lalu dilanjutkan dengan firman-Nya: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar).
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 10), hingga akhir ayat.
Kemudian Umar mengatakan bahwa semuanya ini mencakup kaum muslim secara umum, tiada seorang pun dari mereka melainkan mempunyai hak padanya.
Lalu Umar mengatakan bahwa seandainya ia masih hidup, sungguh seorang penggembala yang sedang berada di Himyar di bawah sebuah pohon Sarwu akan kedatangan bagiannya dari harta itu tanpa harus memeras keringat dahinya untuk mendapatkannya.


Informasi Surah Al Hasyr (الحشر)
Surat Al Hasyr terdiri atas 24 ayat, termasuk golongan surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Bayyinah.

Dinamai surat ini “Al Hasyr” (pengusiran) diambil dari perkataan “Al Hasyr ” yang terdapat pada ayat 2 surat ini.
Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah.

Keimanan:

Apa yang berada di langit dan di bumi semuanya bertasbih memuji Allah
Allah pasti mengalahkan musuh-Nya dan musuh-musuh Rasul-Nya
Allah mempunyai Al Asmaa-ul Husna
keagungan Al Qur’an dan ketinggian martabatnya.

Hukum:

Cara pembahagian harta fai-i
perintah bertakwa dan menyiapkan diri untuk kehidupan ukhrawi.

Lain-lain:

Beberapa sifat orang-orang munafik dan orang-orang ahli kitab yang tercela
peringatan-peringatan untuk kaum muslimin.

Ayat-ayat dalam Surah Al Hasyr (24 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 10 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 10 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Hasyr (59) ayat 10 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Hasyr - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 24 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 59:10
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hasyr.

Surah Al-Hasyr (Arab: الحشر , "Pengusiran") adalah surah ke-59 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 24 ayat.
Dinamakan Al Hasyr yang berarti pengusiran diambil dari perkataan Al Hasyr yang terdapat pada ayat ke-2 surat ini.
Di dalam surat ini disebutkan kisah pengusiran suatu suku Yahudi yang bernama Bani Nadhir yang berdiam di sekitar kota Madinah.

Nomor Surah 59
Nama Surah Al Hasyr
Arab الحشر
Arti Pengusiran
Nama lain Bani Nadhir
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 101
Juz Juz 28
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 24
Jumlah kata 448
Jumlah huruf 971
Surah sebelumnya Surah Al-Mujadilah
Surah selanjutnya Surah Al-Mumtahanah
4.9
Ratingmu: 4.9 (29 orang)
Sending







Pembahasan ▪ walladzina jau min ba\dihim yaquuluuna

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta