Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Hajj

Al Hajj (Haji) surah 22 ayat 5


یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ رَیۡبٍ مِّنَ الۡبَعۡثِ فَاِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَۃٍ ثُمَّ مِنۡ مُّضۡغَۃٍ مُّخَلَّقَۃٍ وَّ غَیۡرِ مُخَلَّقَۃٍ لِّنُبَیِّنَ لَکُمۡ ؕ وَ نُقِرُّ فِی الۡاَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی ثُمَّ نُخۡرِجُکُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوۡۤا اَشُدَّکُمۡ ۚ وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّتَوَفّٰی وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّرَدُّ اِلٰۤی اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ لِکَیۡلَا یَعۡلَمَ مِنۡۢ بَعۡدِ عِلۡمٍ شَیۡئًا ؕ وَ تَرَی الۡاَرۡضَ ہَامِدَۃً فَاِذَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡہَا الۡمَآءَ اہۡتَزَّتۡ وَ رَبَتۡ وَ اَنۡۢبَتَتۡ مِنۡ کُلِّ زَوۡجٍۭ بَہِیۡجٍ
Yaa ai-yuhaannaasu in kuntum fii raibin minal ba’ tsi fa-innaa khalaqnaakum min turaabin tsumma min nuthfatin tsumma min ‘alaqatin tsumma min mudhghatin mukhallaqatin waghairi mukhallaqatin linubai-yina lakum wanuqirru fiil arhaami maa nasyaa-u ila ajalin musamman tsumma nukhrijukum thiflaa tsumma litablughuu asyuddakum waminkum man yutawaffa waminkum man yuraddu ila ardzalil ‘umuri likailaa ya’lama min ba’di ‘ilmin syai-an wataral ardha haamidatan fa-idzaa anzalnaa ‘alaihaal maa-a ihtazzat warabat wa-anbatat min kulli zaujin bahiijin;

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.
Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
―QS. 22:5
Topik ▪ Takdir ▪ Usia dan rezeki sesuai dengan takdir ▪ Al Qur’an benar-benar dari Allah
22:5, 22 5, 22-5, Al Hajj 5, AlHajj 5, Al-Haj 5, Alhaj 5, Al Haj 5, Al-Hajj 5
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 5. Oleh Kementrian Agama RI

Pada aya ini Allah subhanahu wa ta'ala menantang orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari kiamat dan hari berbangkit.
Seandainya mereka tetap tidak mempercayainya cobalah kemukakan dalil-dalil dan bukti-bukti yang dapat menguatkan pendapat mereka itu.
Tetapi mereka tidak dapat mengemukakannya.
Karena itu Allah subhanahu wa ta'ala menunjukkan kepada mereka di antara bukti-bukti adanya hari kiamat dan hari berbangkit, yaitu kejadian diri mereka sendiri, mulai dari dalam kandungan ibu, kemudian menjadi besar dan kemudian mati.
Tentu saja mengulang penciptaan manusia kembali adalah lebih mudah dari penciptaan kali.

Orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari berbangkit menganggap kebangkitan itu merupakan suatu kejadian yang mustahil terjadi.
Tidak mungkin tulang belulang yang telah lapuk berserakan, daging-daging yang telah hancur luluh menjadi tanah akan kembali bersatu dalam bentuk seperti manusia sediakala.
Mereka tidak percaya bahwa Allah subhanahu wa ta'ala sanggup melakukan yang demikian itu, karena menganggap Tuhan itu, pada hakikatnya mereka sendiri yang mengadakannya, hanya timbul dari khayalan mereka di waktu mereka berhadapan dengan bahaya yang berasal dari bencana alam.
Kesanggupan dan kekuasaan Allah mereka ukur sama dengan kesanggupan dan kekuasaan mereka sendiri.
Jika mereka merasa tidak sanggup melakukan sesuatu pekerjaan, tentu Allan tidak pula akan sanggup melakukannya.
Dalam pada itu pula di antara mereka yang tidak percaya itu semata-mata karena keingkaran saja, karena ingin memperturutkan hawa nafsu dan golongan setan, padahal hati dan akal pikiran mereka mengakuinya.
Mereka khawatir kedudukan dan pangkat mereka akan terancam jika mereka mengikuti kepercayaan dan agama yang dibawa oleh Muhammad ﷺ.
Karena itu mereka membantah Allah tanpa berdasar ilmu pengetahuan.

Dalam ayat ini Allah mengemukakan bukti-bukti adanya hari berbangkit itu dengan mengemukakan dua macam dalil.
Pertama ialah dalil-dalil yang berhubungan dengan proses kejadian manusia dan yang kedua dalil-dalil yang berhubungan dengan proses kehidupan dan pertumbuhan tumbuh-tumbuhan.

Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan proses kejadian manusia di dalam rahim ibunya dan kehidupan manusia setelah ia lahir sampai mati sebagai berikut:
1.
Allah telah menciptakan manusia pertama, yaitu Adam as, adalah dari tanah.
Kemudian dari Adam diciptakan istrinya Hawa, dari kedua jenis ini berkembang biak manusia dalam proses yang banyak.
Dan dapat pula berarti bahwa manusia diciptakan Allah berasal dari sel mani, yaitu perkawinan sperma laki-laki dengan ovum di dalam rahim wanita.
Kedua sel itu berasal dari darah, darah berasal dari makanan yang dimakan manusia.
Makanan manusia ada yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan ada yang berasal dari binatang ternak atau hewan-hewan yang lain.
Semuanya itu berasal dari tanah sekalipun telah melalui beberapa proses.
Karena itu tidaklah salah jika dikatakan bahwa manusia itu berasal dari tanah.

2.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa manusia itu berasal dari "nufah".
Yang dimaksud dengan "nutfah" ialah setetes mani.
Setetes mani laki-laki itu mengandung beribu-ribu sperma yang tidak dapat dilihat dengan mata, tanpa menggunakan alat pembesar.
Salah satu dari sperma ini bertemu dengan ovum dalam rahim wanita dengan perantaraan persetubuhan yang dilakukan oleh kedua jenis manusia itu.
Pertemuan sperma dan ovum ini merupakan perkawinan yang sebenarnya, dan pada waktu itulah terjadi proses pertama dari kejadian manusia yang serupa terjadi pula pada binatang
.

3.
Sperma dan ovum yang telah menjadi satu itu bergantung pada dinding rahim si ibu dan setelah beberapa lama berubah menjadi segumpal darah.

4.
Dari segumpal darah berubah menjadi segumpal daging.

5.
Kemudian ada yang menjadi segumpal daging yang sempurna, tidak ada cacad dan kekurangan pada permulaan kejadiannya, dan ada pula yang menjadi segumpal daging yang tidak sempurna, terdapat cacat dan kekurangan.
Berdasarkan kejadian sempurna dan tidak sempurna inilah menimbulkan perbedaan bentuk kejadian bentuk manusia, perbedaan tinggi dan pendeknya manusia dan sebagainya.
Proses kejadian "nutfah" menjadi "alaqah" adalah empatpuluh hari, dari "alaqah" menjadi "mudgah" (segumpal daging) juga empatpuluh hari.
Kemudian setelah lewat empat puluh hari sesudah ini, Allah subhanahu wa ta'ala, meniupkan roh, menetapkan rezeki, amal, bahagia dan sengsara, menetapkan ajal dan sebagainya, sebagaimana tersebut dalam hadis:

Artinya:
Sesungguhnya awal kejadian seseorang kamu (yaitu sperma dan ovum) berkumpul dalam perut ibunya selama 40 malam, kemudian menjadi segumpal darah selama itu (pula) lalu menjadi segumpal daging selama itu (pula).
kemudian Allah mengutus malaikat, setelah Allah meniupkan roh ke dalamnya.
maka malaikat itu diperintahkan-Nya menulis empat kalimat, lalu malaikat itu menuliskan rezekinya, ajalnya.
amalnya, bahagia atau sengsara.
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis yang lain diterangkan:

Artinya:
Bersabda Rasulullah ﷺ: "Malaikat mendatangi "nutfah" setelah menetap di dalam rahim 40 atau 45 hari, maka ia berkata: "Wahai Tuhanku: Burukkah untungnya atau baik?".
Lalu Allah memfirmankan buruk atau baiknya, maka ditulislah keduanya (yakni buruk atau baiknya).
Maka Malaikat berkata pula: "Laki-lakikah dia atau perempuan?".
Lalu Allah memfirmankan tentang laki-lakikah dia atau perempuan, maka ditulislah keduanya (yakni laki-laki atau perempuan), dan ditulislah kerja, peninggalan, ajal dan rezkienya.
Kemudian ditutuplah lembaran-lembaran itu, maka apa yang telah dituliskan di dalamnya tidak dapat ditambah atau dikurangi lagi.
(H.R.
Ibnu Abi Hatim.
Muslim meriwayatkan pula hadis yang searti dengan hadis ini tetapi dengan sanad yang lain)

Allah menetapkan proses kejadian yang demikian, yaitu membiarkan nutfah, alaqah, mudgah sampai berbentuk bayi yang sempurna dalam waktu yang ditentukan itu adalah untuk menerangkan kepada manusia tanda-tanda kekuasaan, kebesaran dan kerapian aturan-aturan yang dibuatnya, dan untuk menjadi bahan pemikiran bagi manusia, bahwa jika Allah kuasa menciptakan manusia pada kali yang pertama, tentulah Dia kuasa pula menciptakan-Nya pada kali yang kedua, dan menciptakan sesuatu pada kali yang kedua itu biasanya lebih mudah dari menciptakannya pada kali yang pertama.
Membangkitkan manusia dari kubur pada hakikatnya adalah menciptakan manusia pada kali yang kedua.
Tentu hal itu sangat mudah bagi Allah.
Sebenarnya jika Allah menghendaki kejadian sesuatu tidak melalui proses yang demikian, tidaklah sukar bagi Allah.
Karena jika Dia menghendaki adanya sesuatu, cukuplah Dia mengatakan kepadanya: Jadilah".
Maka terwujud barang itu.

Sebagaimana firman-Nya:

Artinya:
Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah".
Maka terjadilah ia.
(Q.S.
Yasin: 82)

6.
Kemudian jika telah sampai waktunya, maka Allah subhanahu wa ta'ala melahirkan bayi yang masih kecil itu dari dalam rahim ibunya.
Masa kandungan yang sempurna ialah sembilan bulan, tetapi jika Allah menghendaki masa kandungan itu dapat berkurang menjadi enam bulan atau lebih dan ada pula yang lebih dari sembilan bulan.
Pada permulaan masa lahir itu manusia dalam keadaan lemah, baik jasmani maupun rokhaninya, lalu Allah menganugerahkan kekuatan kepadanya sedikit demi sedikit, bertambah lama bertambah besar, hingga sampai masa kanak-kanak, kemudian sampai masa dewasa, pada masa manusia sempurna jasmani dan rokhaninya, badannya sedang kuat, pikirannya sedang berkembang, kemampuannya untuk mencapai sesuatu yang diingininya sedang ada pula.
Kemudian manusia menjadi tua, bertambah lama bertambah lemah, seakan-akan kembali lagi kepada masa kanak-kanak dan menjadi pikun, akhirnya iapun meninggalkan dunia yang fana ini; ada di antara manusia yang meninggal sebelum mencapai umur dewasa, ada pula yang meninggal di waktu dewasa dan ada yang diberi Allah umur yang lanjut, sampai tua bangka.
Proses perkembangan manusia sejak lahir, menjadi dewasa dan menjadi tua ini dilukiskan dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Artinya:
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu, menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.
Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
(Q.S.
Ar Rum: 54)

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta'ala mengemukakan bukti adanya hari kiamat dan hari berbangkit, selain yang telah dikemukakan di atas dengan memerintahkan manusia agar memperhatikan kehidupan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di permukaan bumi.
Perhatikanlah bumi yang tandus dan kering, tiada ditumbuhi oleh sebatangpun tumbuh-tumbuhan.
Kemudian turunlah hujan membasahi permukaan bumi itu.
Maka kelihatanlah permukaan bumi itu seakan-akan bergerak dengan perlahan-lahan dan berubah warna permukaannya dengan berangsur-angsur, karena telah mulai ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan.
Semakin lama tumbuh-tumbuhan itu semakin besar, bahkan daun-daunnya telah menutupi permukaan bumi yang semulanya tandus, dengan warna yang beraneka ragam: ada yang hijau, ada yang keputih-putihan, ada yang merah dan sebagainya.
Perpaduan warna-warna daun ini merupakan pemandangan yang indah bagi mata yang memandangnya setelah tiba musim bunga, maka pemandangan yang indah ini menjadi bertambah indah karena telah dihiasi lagi oleh warna-warni bunga yang bermacam corak itu, yang menyerbak di antara daun-daun itu.
Seakan-akan permukaan bumi yang tandus dahulunya itu telah berubah menjadi hamparan permadani yang dihiasi daun-daun dan bunga-bunga yang beraneka ragam warnanya.

Setelah sampai masanya pula, maka bunga-bunga itupun berguguran dan tinggallah putik-putik yang berangsur-angsur besar pula, sampai menjadi buah.
Pada saat buah telah baik untuk dipetik, maka berdatanganlah manusia yang akan memetiknya.
Buah-buahan itu merupakan rezeki yang halal bagi manusia, baik untuk dimakannya maupun untuk dijadikan keperluan yang lain yang bermanfaat baginya.
Setelah itu datang lagi musim kemarau, bumi kembali menjadi kering dan tandus seperti sediakala.

Demikianlah keadaan bumi itu, yang berubah keadaannya setiap pergantian musim, dari mati dan tandus, kemudian disirami hujan, maka tumbuhlah tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan buah yang bermanfaat bagi manusia, kemudian tumbuh-tumbuhan itu mati pada musim panas dan kering untuk dihidupkan kembali pada musimnya pula.
Bagi manusia yang berpikir, tentulah dia akan memikirkan proses hidup dan kematian bumi dengan segala yang ada dipermukaannya itu.
Tentulah pikirannya akan sampai kepada Zat yang menentukan kehidupan dan kematian itu.
Bagi manusia yang beriman dan berpikir, tentulah baginya semua proses kejadian dan kefanaan itu menambah kuat imannya kepada kekuasaan dan keesaan Tuhan, yang menghidupkan dan mematikan makhluk-makhluk-Nya, menurut yang dikehendaki-Nya.
Jika Allah subhanahu wa ta'ala telah berbuat demikian, tentulah Dia berkuasa pula untuk menciptakan dan membangkitkan manusia kembali di kemudian hari.
Karena mengulang penciptaan sesuatu kembali adalah lebih mudah dari menciptakannya buat pertama kalinya.

Al Hajj (22) ayat 5 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Hajj (22) ayat 5 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Hajj (22) ayat 5 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai manusia, apabila kalian ragu akan kebenaran pembangkitan Kami terhadap kalian dari kematian, maka sebetulnya dalam proses penciptaan kalian terdapat bukti tentang kekuasaan Kami untuk melakukan hal itu.
Kami mula-mula telah menciptakan asal-usul kalian dari tanah.
Lalu, dari tanah itu, Kami menciptakan air mani yang, pada gilirannya, Kami ubah menjadi segumpal darah padat.
Segumpal darah padat itu pun kemudian Kami jadikan sepotong daging yang adakalanya berbentuk manusia atau tidak, untuk menerangkan kekuasaan Kami dalam menciptakan sesuatu secara berangsur-angsur.
Setelah itu adakalanya Kami membuat kandungan itu gugur menurut kehendak Kami, ataupun meletakkan di dalam rahim hingga kandungan menjadi sempurna hingga Kami mengeluarkan kalian dari perut ibu dalam bentuk bayi.
Kalian yang masih bayi itu kemudian Kami pelihara hingga sempurna kekuatan fisik dan akal pikirannya.
Setelah itu di antara kalian ada yang dimatikan oleh Allah dan ada lagi yang dipanjangkan umurnya hingga usia lanjut dan pikun yang tidak mempunyai daya untuk mengetahui sesuatu lagi.
Barangsiapa yang mula-mula menciptakan kalian dengan cara seperti itu, tidak akan ada yang dapat membuat-Nya tidak mampu untuk mengembalikan kalian lagi.
Selain bukti itu, ada bukti lain yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk membangkitkan.
Yaitu, bahwa bumi yang kalian dapati kering kerontang itu, apabila Kami turunkan air akan memperlihatkan tanda kehidupan, bergerak, mengembang, permukaannya meninggi akibat air dan udara yang menyela-nyelanya, dan akhirnya memunculkan berbagai jenis tumbuhan yang indah, memukau dan membuat senang siapa saja yang melihatnya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai manusia) yakni penduduk Mekah (jika kalian dalam keraguan) kalian meragukan (tentang hari berbangkit, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian) bapak moyang kalian, yaitu Adam (dari tanah, kemudian) Kami ciptakan anak cucunya (dari setetes nuthfah) air mani (kemudian dari segumpal darah) darah yang kental (kemudian dari segumpal daging) daging yang besarnya sekepal tangan (yang sempurna kejadiannya) telah diberi bentuk berupa makhluk yang sempurna (dan yang tidak sempurna) masih belum sempurna bentuknya (agar Kami jelaskan kepada kalian) kemahasempurnaan kekuasaan Kami, yaitu supaya kalian dapat mengambil kesimpulan daripadanya, bahwa Allah yang memulai penciptaan dapat mengembalikan ciptaan itu kepada asalnya.
(Dan Kami tetapkan) kalimat ayat ini merupakan kalimat baru (di dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan) hingga ia keluar (kemudian Kami keluarkan kalian) dari perut ibu-ibu kalian (sebagai bayi) lafal Thiflan sekalipun berbentuk tunggal tetapi makna yang dimaksud adalah jamak (kemudian) Kami memberi kalian umur secara berangsur-angsur (hingga sampailah kalian kepada kedewasaan) dewasa dan kuat, yaitu di antara umur tiga puluh tahun sampai empat puluh tahun (dan di antara kalian ada yang diwafatkan) yakni mati sebelum mencapai usia dewasa (dan ada pula di antara kalian yang dipanjangkan umurnya sampai pikun) amat tua sehingga menjadi pikun (supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya).
Sehubungan dengan hal ini Ikrimah mengatakan, "Barang siapa yang biasa membaca Alquran, niscaya ia tidak akan mengalami nasib yang demikian itu, yakni terlalu tua dan pikun." (Dan kalian lihat bumi ini kering) gersang (kemudian apabila telah Kami turunkan air atasnya, hiduplah bumi itu) menjadi hidup (dan suburlah ia) hidup dengan suburnya (serta dapat menumbuhkan) huruf Min adalah huruf Zaidah (berbagai macam tumbuh-tumbuhan) beraneka ragam tumbuhan (yang indah) yakni yang baik.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hai manusia, jika kalian dalam keraguan bahwa Allah akan menghidupkan orang yang sudah mati, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan bapak kalian, Adam dari tanah, kemudian anak keturunannya beranak-pinak dari setetes sperma, yaitu sperma yang dikeluarkan laki-laki ke dalam rahim wanita.
Kemudian ia berubah dengan kekuasaan Allah menjadi segumpal darah, yaitu darah merah beku.
Kemudian menjadi segumpal daging, yaitu sepotong daging kecil seukuran suapan, lalu sekali tempo ia menjadi ciptaan sempurna yang berakhir dengan keluarnya janin dalam keadaan hidup.
Dan pada tempo yang lain, tidak sempurna, lalu ia gugur dalam keadaan tidak sempurna.
Demikian itu agar Kami jelaskan kepada kalian akan kesempurnaan kekuasaan Kami mengatur tahap-tahap penciptaan.
Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki, yang disempurnakan kejadiannya hingga waktu yang telah ditentukan.
Tahapan-tahapan itu menjadi sempurna dengan dilahirkannya janin itusebagai bayi kecil yang tumbuh besar hingga mencapai usia paling kuat, yaitu waktu pemuda, kuat dan akal yang sempurna.
Sebagian bayi terkadang mati sebelum itu, dan sebagian dari mereka menjadi tua hingga mencapai usia sangat tua dan lemah akal; sehingga orang yang dipanjangkan umurnya ini tidak mengetahui sesuatu pun yang telah diketahuinya sebelum itu.
Kamu melihat bumi ini kering, mati, tidak bertumbuhan.
Kemudian apabila Kami menurunkan air padanya, maka bumi menggerakkan tumbuhan lalu tumbuh darinya, meninggi dan bertambah menghijau, serta menumbuhkan segala jenis tumbuh-tumbuhan yang indah yang menyenangkan orang-orang yang memandangnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah menyebutkan perihal orang yang ingkar kepada hari berbangkit dan tidak percaya kepada adanya hari kemudian, Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan hal-hal yang menunjukkan kekuasaan-Nya dalam menghidupkan segala sesuatu yang telah mati melalui bukti yang nyata pada permulaan kejadian manusia.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan.

Yaitu hari kemudian di mana semua roh dan jasad menjadi satu dan bangkit hidup kembali kelak di hari kiamat.

maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kalian dari tanah.

Artinya, asal mula kejadian kalian adalah dari tanah, yaitu asal mula penciptaan Adam 'alaihis salam, nenek moyang mereka.

kemudian dari setetes mani.

kemudian keturunannya diciptakan dari air mani yang hina.

kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging.

Demikian itu apabila nutfah telah berdiam di dalam rahim wanita selama empat puluh hari.
Selama itu ia mengalami pertumbuhan, kemudian bentuknya berubah menjadi darah kental dengan seizin Allah.
Setelah berlalu masa empat puluh hari lagi, maka berubah pula bentuknya menjadi segumpal daging yang masih belum berbentuk dan belum ada rupanya.
Kemudian dimulailah pembentukannya, yang dimulai dari kepala, kedua tangan, dada, perut, kedua paha, kedua kaki, dan anggota lainnya.
Adakalanya seorang wanita mengalami keguguran sebelum janinnya mengalami pembentukan, dan adakalanya keguguran terjadi sesudah janin terbentuk berupa manusia.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna.

seperti yang dapat kalian saksikan sendiri.

agar Kami jelaskan kepada kalian, dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.

Yakni adakalanya janin menetap di dalam rahim tidak keguguran dan tumbuh terus menjadi bentuk yang sempurna.

Seperti yang dikatakan oleh Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:

yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna.
Yaitu janin yang telah berbentuk dan janin yang masih belum terbentuk.
Apabila telah berlalu masa empat puluh hari dalam keadaan berupa segumpal daging, maka Allah mengutus seorang malaikat kepadanya.
Malaikat itu diperintahkan-Nya untuk meniupkan roh ke dalam tubuh janin, lalu menyempurnakan bentuknya menurut apa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta'ala, apakah tampan atau buruk, dan apakah laki-laki atau perempuan.
Selain itu malaikat tersebut ditugaskan pula untuk menulis rezeki dan ajalnya, apakah celaka atau berbahagia.

Hal ini telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui hadis Al-A'masy, dari Zaid ibnu Wahb, dari Ibnu Mas'ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada kami:

Sesungguhnya kejadian seseorang di antara kalian dihimpun­kan di dalam perut ibunya selama empat puluh malam, kemudian menjadi 'alaqah selama empat puluh malam, kemudian menjadi segumpal daging dalam masa empat puluh malam.
Setelah itu Allah mengutus malaikat kepadanya, malaikat diperintahkan-Nya untuk mencatat empat perkara, yaitu mencatat rezekinya, amal perbuatannya, dan ajalnya (usianya), lalu nasibnya apakah celaka atau bahagia.
Kemudian meniupkan roh ke dalam tubuhnya.

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui hadis Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya'bi, dari Alqamah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa apabila nutfah telah menetap di dalam rahim, maka datanglah malaikat mencegahnya, lalu berkata, "Wahai Tuhanku, apakah dijadikan ataukah tidak?"
Jika dikatakan tidak dijadikan, maka tidaklah dibentuk kejadiannya, lalu dikeluarkan dari rahim dalam rupa darah kental.
Tetapi jika dikatakan dijadikan, maka malaikat bertanya, "Wahai Tuhanku, apakah dia laki-laki atau perempuan, apakah dia celaka ataukah bahagia, bagaimanakah ajalnya dan jejak kehidupannya, serta di negeri manakah ia mati?"
Kemudian dikatakan kepada nutfah itu, "Siapakah Tuhanmu?"
Nutfah menjawab, "Allah." Dikatakan pula, "Siapakah yang memberimu rezeki?"
Nutfah menjawab, "Allah." Lalu Allah berfirman kepada malaikat, "Pergilah kamu ke kitab itu, karena sesungguhnya kamu akan menjumpai di dalamnya kisah nutfah ini." Maka nutfah itu dijadikan dan menjalani masa hidupnya sampai ajalnya, ia memakan rezekinya dan melakukan perjalanan hidupnya.
Bilamana telah tiba ajalnya, maka matilah ia dan dikebumikan.
Kemudian Amir Asy-Sya'bi membaca firman-Nya: Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah men­jadikan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna.
(Al Hajj:5) Apabila tahap kejadiannya sampai pada segumpal darah, maka kejadiannya dikembalikan pada tahap keempat, lalu terbentuklah manusia.
Tetapi jika ditakdirkan tidakjadi, maka dikeluarkan lagi oleh rahim dalam rupa darah.
Dan apabila dijadikan, maka dikembalikan (ke dalam rahim) menjadi manusia.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Dinar, dari Abut Tufail, dari Huzaifah ibnu Usaid yang menyampaikan sanadnya sampai kepada Nabi ﷺ Disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Malaikat masuk ke dalam nutfah sesudah nutfah berada di dalam rahim selama empat puluh atau empat puluh lima hari.
Lalu malaikat bertanya, "Wahai Tuhanku, apakah dia celaka atau bahagia?” Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, dan malaikat itu mencatat.
Lalu malaikat bertanya, "Apakah laki-laki ataukah perempuan?” Allah berfirman, dan malaikat mencatatnya.
Malaikat mencatat amalnya, perjalanan hidupnya, rezekinya, dan ajalnya.
Kemudian lembaran kitab itu ditutup, maka apa yang ada di dalamnya tidak dapat lagi ditambahi atau dikurangi.

Imam Muslim meriwayatkan melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah dan melalui jalur lain dari Abut Tufail dengan lafaz yang semakna.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi.

Yakni dalam keadaan lemah tubuh, pendengaran, penglihatan, inderanya, kekuatan geraknya, serta akalnya.
Kemudian Allah memberinya kekuatan sedikit demi sedikit, dan kedua orang tuanya merawatnya dengan penuh kasih sayang sepanjang hari dan malamnya.
Karena itu, disebutkan oleh firman selanjutnya:

kemudian (dengan berangsur-angsur) kalian sampailah kepada kedewasaan.

Yaitu memiliki kekuatan yang makin bertambah sampai pada usia muda dan penampilan yang terbaiknya.

dan di antara kalian ada yang diwafatkan.

dalam usia mudanya dan sedang dalam puncak kekuatannya.

dan (ada pula) di antara kalian yang dipanjangkan umurnya sampai pikun.

Usia yang paling hina ialah usia pikun.
Dalam usia tersebut seseorang lemah tubuhya, tidak berkekuatan, akal serta pemahamannya pun lemah pula, semua panca inderanya tidak normal lagi dan daya pikirnya pun lemah.
Karena itu, disebutkan dalam firman selanjutnya:

supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya diketahuinya.

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya:

Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.
Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.
(Ar Ruum:54)

Al-Hafiz Abu Ya'la Ahmad ibnu Ali ibnul Musanna Al-Mausuli telah mengatakan di dalam kitab Musnad-nya, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Abu Muzahim, telah menceritakan kepada kami Kahlid Az-Zayyat, telah menceritakan kepadaku Daud Abu Sulaiman, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Ma'mar ibnu Hazm Al-Ansari, dari Anas ibnu Malik yang me-rafa'-kan hadis ini.
Ia mengatakan bahwa bayi yang baru lahir hingga mencapai usia balig segala yang dikerjakannya berupa amal kebaikan tidak dicatatkan bagi orang tuanya atau kedua orang tuanya.
Dan semua yang dikerjakannya berupa amal keburukan tidak dicatatkan bagi dirinya, tidak pula bagi kedua orang tuanya.
Apabila ia telah mencapai usia balignya, maka Allah memberlakukan qalam terhadapnya dan memerintahkan kepada dua malaikat yang ada bersamanya untuk mencatat segala amal perbuatannya dengan catatan yang ketat.
Apabila ia mencapai usia empat puluh tahun dalam Islam, Allah menyelamatkannya dari tiga penyakit, yaitu gila, lepra, dan supak.
Apabila mencapai usia lima puluh tahun, Allah meringankan hisabnya, dan apabila mencapai usia enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki kembali (bertobat) kepada-Nya sesuai dengan apa yang disukai-Nya.
Apabila mencapai usia tujuh puluh tahun, penduduk langit menyukainya.
Dan apabila usianya mencapai delapan puluh tahun, maka semua amal baiknya dicatat dan dihapuslah semua amal buruknya.
Apabila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah mengampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian, ia pun dapat memberikan syafaat kepada ahli baitnya serta dicatat sebagai Aminullah (orang kepercayaan Allah), dan dia menjadi tahanan Allah di bumi-Nya.
Apabila ia mencapai usia pikun sehingga ia tidak mengetahui lagi segala sesuatu yang tadinya ia ketahui, maka Allah mencatatkan baginya hal yang semisal dengan amal kebaikan yang pernah dilakukannya semasa sehatnya, apabila melakukan suatu keburukan, maka tidak dicatatkan dalam buku catatan amalnya.

Hadis ini garib sekali, di dalamnya terkandung kemungkaran yang parah.
Tetapi sekalipun demikian, Imam Ahmad ibnu Hambal me­riwayatkannya pula di dalam kitab musnadnya, baik secara mauquf ataupun marfu'.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Nadr, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amir, dari Muhammad ibnu Abdullah Al-Amili, dari Amr ibnu Ja'far, dari Anas yang mengatakan, bahwa apabila seorang lelaki muslim mencapai usia empat puluh tahun, Allah menyelamatkannya dari tiga macam penyakit, yaitu gila, supak, dan lepra.
Apabila mencapai usia lima puluh tahun, Allah meringankan hisabnya.
Apabila mencapai usia enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki bertobat kepada-Nya yang disukainya.
Dan apabila mencapai usia tujuh puluh tahun, penduduk langit menyukainya.
Apabila mencapai usia delapan puluh tahun, Allah menerima semua kebaikannya dan menghapuskan semua keburukannya.
Apabila mencapai usia sembilan puluh tahun, Allah mengampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian.
Ia diberi julukan sebagai 'tahanan Allah di bumi-Nya' dan dapat memberikan syafaat kepada keluarganya.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdullah Al-Amiri, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Amr ibnu Usman, dari Abdullah ibnu Umar ibnul Khattab, dari Nabi ﷺ Lalu disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas.

Imam Ahmad telah meriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Iyad, telah menceritakan kepadaku Yusuf ibnu Abu Burdah Al-Ansari, dari Ja'far ibnu Amr ibnu Umayyah Ad-Dimri, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tiada seorang pun yang berusia panjang dalam Islamnya selama empat puluh tahun, melainkan Allah memalingkan darinya tiga macam penyakit yaitu gila, supak, dan lepra.

Lalu disebutkan hingga akhir hadis yang teksnya sama dengan hadis sebelumnya.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar, dari Abdullah ibnu Syabib, dari Abu Syaibah, dari Abdullah ibnu Abdul Malik, dari Abu Qatadah Al-Adawi, dari anak saudara Az-Zuhri, dari pamannya (Az-Zuhri), dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tiada seorang hamba pun yang diberi usia panjang dalam Islam selama empat puluh tahun, melainkan Allah memalingkan darinya berbagai macam penyakit, yaitu gila, lepra, dan supak.
Apabila ia mencapai usia lima puluh tahun, Allah meringankan hisabnya.
Apabila mencapai usia enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki bertobat kepada-Nya berkat kesukaan yang ditanamkan Allah dalam dirinya.
Apabila mencapai usia tujuh puluh tahun, Allah memberikan ampunan baginya semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian, dan ia diberi nama 'tahanan Allah', semua penduduk langit menyukainya.
Apabila mencapai usia delapan puluh tahun, Allah menerima amal-amal baiknya dan memaafkan amal-amal keburukannya.
Dan apabila mencapai usia sembilan puluh tahun, Allah memberikan ampunan baginya atas semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian, lalu ia diberi nama sebagai 'tahanan Allah di bumi-Nya' dan dapat memberikan syafaat kepada ahli baitnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan kalian lihat bumi ini kering.

Hal ini pun merupakan dalil lain yang menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wa ta'ala dalam menghidupkan orang-orang yang telah mati,- sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang kering tandus, tidak ada tanaman apa pun padanya.

Qatadah mengatakan bahwa hamidah artinya padang pasir lagi tandus (kering).

Sedangkan menurut As-Saddi, makna yang dimaksud ialah tanah yang mati.

kemudian apabila Kami telah turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

Apabila Allah menurunkan hujan, maka bumi yang tadinya tandus itu menjadi subur dan menumbuhkan tetumbuhannya dengan subur, lalu keluarlah dari tumbuh-tumbuhan itu berbagai macam buah-buahan dan tanam-tanaman yang beraneka ragam warna, rasa, bau, bentuk, dan manfaatnya.
Karena itulah firman selanjutnya disebutkan:

dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

Yaitu yang indah bentuknya dan harum baunya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 5

BAHJAH
بَهْجَة

Ia dalam bentuk masdar berasal dari kata "bahija-yabhaju. Ia memiliki makna kegembiraan, kesenangan,baik dan menawan. Isim fa'il nya adalah bahiij.

Dalam kamus Al Mujam Al 'Arabi wajhun bahiij bermakna wajahnya kelihatan gembira dan mundzar bahiij bermakna pemandangan yang indah lagi menawan.

Kata bahjah disebut sekali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah An Naml (27) ayat 60.
Allah berfirman:

أَنۢبَتْنَا بِهِۦ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ

Sedangkan kata bahiij disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Hajj (22), ayat 5
-Qaf (50), ayat 7.

Allah berfirman dalam surah Al Hajj:

وَأَنۢبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍۭ بَهِيجٍ

Asy Syawkani mengatakan, al bahjah ada­lah yang baik dan menarik bagi yang melihat­nya. Makna ayat dalam surah An Naml,

"Dan Kami menumbuhkan taman-taman yang baik dan menawan yang tertarik bagi yang memandangnya."

Sedangkan makna ayat dalam surah Al Hajj,

"Allah menumbuhkan berbagai macam tumbuhan dengan yang baik dengan berlainan warna yang indah lagi menawan."

Kesimpulannya, lafaz bahjah ataupun bahiij memiliki makna yang indah lagi menawan.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:99

Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj",
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar·syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan di masa Nabi Ibrahim 'alaihis salam, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama puteranya Ismail 'alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari'at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur'an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri


Gambar Kutipan Surah Al Hajj Ayat 5 *beta

Surah Al Hajj Ayat 5



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Hajj

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain -
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 10 ruku'
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
4.5
Rating Pembaca: 4.9 (27 votes)
Sending







✔ al hijj 5, Alquran surat 22 ayat 5, makna qs al hajj ayat 5, Surah al hajj ayat 5 juz 22 dan terjemaha

[apsl-login-lite login_text='❤ Bookmark ayat ini?'] [bookmark] 📖 Lihat Semua Bookmark-ku