Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 5 [QS. 22:5]

یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ رَیۡبٍ مِّنَ الۡبَعۡثِ فَاِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَۃٍ ثُمَّ مِنۡ مُّضۡغَۃٍ مُّخَلَّقَۃٍ وَّ غَیۡرِ مُخَلَّقَۃٍ لِّنُبَیِّنَ لَکُمۡ ؕ وَ نُقِرُّ فِی الۡاَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی ثُمَّ نُخۡرِجُکُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوۡۤا اَشُدَّکُمۡ ۚ وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّتَوَفّٰی وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّرَدُّ اِلٰۤی اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ لِکَیۡلَا یَعۡلَمَ مِنۡۢ بَعۡدِ عِلۡمٍ شَیۡئًا ؕ وَ تَرَی الۡاَرۡضَ ہَامِدَۃً فَاِذَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡہَا الۡمَآءَ اہۡتَزَّتۡ وَ رَبَتۡ وَ اَنۡۢبَتَتۡ مِنۡ کُلِّ زَوۡجٍۭ بَہِیۡجٍ
Yaa ai-yuhaannaasu in kuntum fii raibin minal ba’ tsi fa-innaa khalaqnaakum min turaabin tsumma min nuthfatin tsumma min ‘alaqatin tsumma min mudhghatin mukhallaqatin waghairi mukhallaqatin linubai-yina lakum wanuqirru fiil arhaami maa nasyaa-u ila ajalin musamman tsumma nukhrijukum thiflaa tsumma litablughuu asyuddakum waminkum man yutawaffa waminkum man yuraddu ila ardzalil ‘umuri likailaa ya’lama min ba’di ‘ilmin syai-an wataral ardha haamidatan fa-idzaa anzalnaa ‘alaihaal maa-a ihtazzat warabat wa-anbatat min kulli zaujin bahiijin;
Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu;
dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya.
Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan (tetumbuhan) yang indah.
―QS. Al Hajj [22]: 5

Daftar isi

O People, if you should be in doubt about the Resurrection, then (consider that) indeed, We created you from dust, then from a sperm-drop, then from a clinging clot, and then from a lump of flesh, formed and unformed – that We may show you.
And We settle in the wombs whom We will for a specified term, then We bring you out as a child, and then (We develop you) that you may reach your (time of) maturity.
And among you is he who is taken in (early) death, and among you is he who is returned to the most decrepit (old) age so that he knows, after (once having) knowledge, nothing.
And you see the earth barren, but when We send down upon it rain, it quivers and swells and grows (something) of every beautiful kind.
― Chapter 22. Surah Al Hajj [verse 5]

يَٰٓأَيُّهَا wahai

O mankind! *[meaning includes next or prev. word]
ٱلنَّاسُ manusia

O mankind! *[meaning includes next or prev. word]
إِن jika

If
كُنتُمْ kalian adalah

you are
فِى dalam

in
رَيْبٍ keraguan

doubt
مِّنَ dari/tentang

about
ٱلْبَعْثِ kebangkitan

the Resurrection,
فَإِنَّا maka sesungguhnya Kami

then indeed, We
خَلَقْنَٰكُم Kami telah menciptakan kamu

We created you
مِّن dari

from
تُرَابٍ tanah

dust,
ثُمَّ kemudian

then
مِن dari

from
نُّطْفَةٍ setetes mani

a semen-drop
ثُمَّ kemudian

then
مِنْ dari

from
عَلَقَةٍ segumpal darah

a clinging substance
ثُمَّ kemudian

then
مِن dari

from
مُّضْغَةٍ sepotong daging

an embryonic lump,
مُّخَلَّقَةٍ (sempurna) kejadiannya

formed
وَغَيْرِ dan tidak

and unformed, *[meaning includes next or prev. word]
مُخَلَّقَةٍ (sempurna) kejadiannya

and unformed, *[meaning includes next or prev. word]
لِّنُبَيِّنَ Karena Kami hendak menjelaskannya

that We may make clear
لَكُمْ bagi kalian

to you.
وَنُقِرُّ dan Kami tetapkan

And We cause to remain
فِى dalam

in
ٱلْأَرْحَامِ rahim

the wombs
مَا apa yang

what

Tafsir Quran

Surah Al Hajj
22:5

Tafsir QS. Al-Hajj (22) : 5. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menentang orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari Kiamat dan hari kebangkitan.
Seandainya mereka tetap tidak mempercayainya hendaklah mereka mengemukakan alasan-alasan dan bukti-bukti yang dapat menguatkan pendapat mereka itu.

Tetapi mereka tidak dapat mengemukakannya.
Karena itu Allah memberikan contoh diri mereka sendiri, yaitu mulai dari sperma-ovum, kemudian menjadi zygat, ‘alaqah, janin, kemudian lahir menjadi besar dan kemudian mati, bila menciptakan dari tiada Allah mampu, tentu saja mengulang penciptaan manusia kembali adalah lebih mudah dari penciptaan pertama kali.

Orang yang tidak percaya akan adanya hari kebangkitan menganggap kebangkitan itu merupakan suatu kejadian yang mustahil terjadi.
Dalam pandangan mereka tidak mungkin tulang belulang yang telah lapuk berserakan, dan daging-daging yang telah hancur luluh menjadi tanah akan kembali bersatu dalam bentuk seperti semula.

Kesanggupan dan kekuasaan Allah mereka ukur sama dengan kesanggupan dan kekuasaan mereka sendiri.
Jika mereka merasa tidak sanggup melakukan sesuatu pekerjaan, tentu Allah tidak pula akan sanggup melakukannya.

Mereka yang tidak percaya itu semata-mata karena keingkaran saja, karena dikuasai hawa nafsu dan godaan setan, sedangkan hati dan akal pikiran mereka sebenarnya mengakuinya.
Mereka khawatir kedudukan dan pangkat mereka akan terancam jika mereka mengikuti kepercayaan dan agama yang dibawa oleh Muhammad ﷺ.

Karena itu mereka membantah Allah tanpa berdasar ilmu pengetahuan yang benar.

Pada ayat ini Allah mengemukakan petunjuk tentang adanya hari kebangkitan dengan mengemukakan dua macam alasan.

Pertama ialah berhubungan dengan proses kejadian manusia dan yang kedua berhubungan dengan proses kehidupan dan pertumbuhan tumbuh-tumbuhan.

Proses kejadian manusia di dalam rahim ibunya dan kehidupannya dari lahir sampai mati sebagai berikut:

1. Allah telah menciptakan manusia pertama, yaitu Adam as, dari tanah.
Kemudian dari Adam diciptakan istrinya Hawa, dan dari kedua makhluk itu berkembangbiaklah manusia melalui proses yang cukup panjang.
Dapat pula berarti bahwa manusia diciptakan Allah melalui pembuahan ovum oleh sperma di dalam rahim perempuan.
Kedua sel itu berasal dari darah, darah berasal dari makanan yang dimakan manusia, dan makanan manusia berasal dari tumbuh-tumbuhan dan ada yang berasal dari binatang ternak atau hewan-hewan yang lain.
Semuanya itu berasal dari tanah sekalipun telah melalui beberapa proses.
Karena itu tidaklah salah jika dikatakan bahwa manusia itu berasal dari tanah.

2. Dalam ayat ini disebutkan bahwa manusia itu berasal dari nuthfah.
Yang dimaksud dengan nuthfah ialah zygat, yaitu ovum yang sudah dibuahi oleh sperma.

3. ‘Alaqah, yaitu zygat yang sudah menempel di rahim perempuan.

4. Mudhgah, yaitu ‘alaqah yang telah berbentuk kumpulan sel-sel daging, sebesar yang dikunyah.
(mudhgah artinya mengunyah).
Mudhgah itu ada yang tumbuh sempurna, tidak cacat dan ada pula yang tumbuh tidak sempurna dan cacat.
Kejadian sempurna dan tidak sempurna inilah yang menimbulkan kesempurnan fisik manusia, cacat atau keguguran.
Proses kejadian nuthfah menjadi ‘alaqah adalah empat puluh hari, dari ‘alaqah menjadi mudhgah"
juga empat puluh hari.
Kemudian setelah lewat empat puluh hari itu, Allah, meniupkan roh, menetapkan rezeki, amal, bahagia dan sengsara, menetapkan ajal dan sebagainya, sebagaimana tersebut dalam hadis:
Sesungguhnya penciptaan seseorang di antara kamu disatukan dalam perut ibunya selama 40 malam dalam bentuk nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu pula lalu menjadi mudhgah selama itu pula.
Kemudian Allah mengutus malaikat, lalu meniupkan roh ke dalamnya, maka (malaikat itu) diperintahkan menulis empat kalimat, yaitu menuliskan rezekinya, amalnya, ajalnya, bahagia atau sengsara.
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

Dalam hadis yang lain diterangkan:

Bersabda Rasulullah ﷺ,
"Malaikat mendatangi nuthfah setelah menetap di dalam rahim 40 atau 45 hari, maka ia berkata,
"Wahai Tuhanku:
Burukkah atau untungkah?"
(Lalu Allah memfirmankan buruk atau baiknya), maka ditulislah keduanya (yakni buruk atau baiknya).
Maka Malaikat berkata pula,
"Wahai Tuhanku laki-lakikah dia atau perempuan?"
(Lalu Allah memfirmankan tentang laki-lakikah dia atau perempuan), maka ditulislah keduanya (yakni laki-laki atau perempuan), dan ditulislah kerja, peninggalan, ajal dan rezekinya.
Kemudian ditutuplah lembaran-lembaran itu, maka apa yang telah dituliskan di dalamnya tidak dapat ditambah atau dikurangi lagi.
(Riwayat Ibnu Abi Hatim dan Muslim)

Allah menetapkan proses kejadian yang demikian, yaitu membiarkan nuthfah, ‘alaqah, mudhgah sampai berbentuk janin yang sempurna dalam waktu yang ditentukan itu, adalah untuk menerangkan kepada manusia tanda-tanda kekuasaan, kebesaran dan kekokohan aturan-aturan yang dibuat-Nya, dan untuk menjadi bahan pemikiran bagi manusia, bahwa jika Allah kuasa menciptakan manusia pada kali yang pertama, tentulah Dia kuasa pula menciptakannya pada kali yang kedua, dan menciptakan sesuatu pada kali yang kedua itu biasanya lebih mudah dari menciptakannya pada kali yang pertama.
Membangkitkan manusia dari kubur pada hakikatnya adalah menciptakan manusia pada kali yang kedua.
Tentu hal itu sangat mudah bagi Allah.
Bahkan jika Allah menghendaki kejadian sesuatu tidak melalui proses yang demikian, tidaklah sukar bagi Allah.
Karena jika Dia menghendaki adanya sesuatu, cukuplah Dia mengatakan kepadanya,
"Jadilah."
Maka terwujud sesuatu itu.
Sebagaimana firman-Nya:


اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔا اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya,
"Jadilah!"
Maka jadilah sesuatu itu.
(Yasin [36]: 82)

5. Kemudian janin itu dikandung ibunya selama waktu yang ditentukan Allah.
Masa kandungan normal adalah sembilan bulan lebih sepuluh hari.
Sekurang-kurangnya usia kandungan adalah enam bulan, sebagaimana dipahami dari ayat bahwa lama mengandung dan menyusui itu tiga puluh bulan, sedangkan lama menyusui saja dua tahun atau dua puluh empat bulan.

6. Selanjutnya datanglah waktu kelahiran.
Bayi dari hari ke hari tumbuh menjadi kanak-kanak.

7. Kanak-kanak terus tumbuh menjadi dewasa sampai kondisi sempurna, baik jasmani maupun rohani.

8. Di antara manusia ada yang meninggal sebelum kondisi ideal itu.
Tetapi ada manusia yang baru meninggal setelah usia lanjut sampai pikun sehingga tidak dapat mengingat apa-apa lagi.

Proses perkembangan manusia dari kondisi lemah menjadi kuat dari kondisi kuat menjadi lemah kembali atau sejak lahir, menjadi dewasa dan menjadi tua dilukiskan dalam firman Allah:

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ

Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.
Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki.
Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.
(Ar-Rum [30]: 54)

Selanjutnya setelah manusia meninggal, kehidupan tidaklah berakhir.
Tetapi mereka akan dibangkitkan kembali untuk diperiksa amal perbuatan mereka.
Kemudian mereka akan diberi balasan atau ganjaran.
Allah ﷻ berfirman:

ثُمَّ اِنَّكُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ لَمَيِّتُوْنَ ﴿۱۵﴾ ثُمَّ اِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ تُبْعَثُوْنَ ﴿۱۶﴾

Kemudian setelah itu, sesungguhnya kamu pasti mati.
Kemudian, sesungguhnya kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat.
(Al-Mu’minun [23]: 15-16)

Kemudian Allah mengemukakan petunjuk adanya hari Kiamat dan hari kebangkitan, selain yang telah dikemukakan di atas dengan memberikan contoh kehidupan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di permukaan bumi.
Perhatikanlah bumi yang tandus dan kering, tiada ditumbuhi tumbuh-tumbuhan apa pun.
Kemudian turunlah hujan membasahi permukaan bumi itu.
Maka permukaan bumi itu mulai gembur dan subur lalu mulai ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan.
Semakin lama tumbuh-tumbuhan itu semakin besar, bahkan daun-daunnya telah menutupi permukaan bumi yang semulanya tandus, dengan warna-warni yang beraneka ragam ada yang hijau, ada yang keputih-putihan, ada yang merah dan sebagainya.
Perpaduan warna-warni daun-daunan itu sangat indah dan menakjubkan dan semakin indah oleh warna-warni bunga-bungaan yang bermacam corak warnanya.
Maka permukaan bumi yang dahulunya tandus telah berubah menjadi hamparan pohon-pohon dan tanaman-tanaman yang beraneka ragam warnanya.

Setelah sampai masanya bunga-bunga itu berubah menjadi putik-putik yang berangsur-angsur besar pula, sampai menjadi buah.
Pada saat buah telah masak siap untuk dipetik, maka berdatanganlah manusia yang akan memetiknya.
Buah-buahan itu merupakan rezeki yang halal bagi manusia, baik untuk dimakannya maupun untuk dijadikan keperluan yang lain yang bermanfaat baginya.
Setelah itu datang lagi musim kemarau, bumi kembali menjadi kering dan tandus seperti sediakala.

Demikianlah keadaan bumi itu, yang berubah keadaannya setiap pergantian musim, dari mati dan tandus menjadi hidup dan subur ketika disirami hujan, menghasilkan buah yang bermanfaat bagi manusia, kemudian tumbuh-tumbuhan itu mati pada musim panas dan kering untuk dihidupkan kembali pada musim hujan.
Manusia yang berpikir, tentulah akan memikirkan proses hidup dan kematian bumi dan segala yang ada di permukaanya itu.
Pikirannya tentu akan sampai kepada Zat yang menentukan kehidupan dan kematian itu.
Manusia yang beriman dan berpikir, tentulah baginya semua proses kejadian itu menambah kuat imannya kepada kekuasaan dan keesaan Tuhan, yang menghidupkan dan mematikan makhluk-makhluk-Nya, menurut yang dikehendaki-Nya.
Jika Allah telah berbuat demikian, tentulah Dia mampu pula menciptakan dan membangkitkan manusia kembali di kemudian hari, karena mengulang penciptaan sesuatu kembali adalah lebih mudah dari menciptakannya buat pertama kalinya.

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 5. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Wahai manusia, apabila kalian ragu akan kebenaran pembangkitan Kami terhadap kalian dari kematian, maka sebetulnya dalam proses penciptaan kalian terdapat bukti tentang kekuasaan Kami untuk melakukan hal itu.
Kami mula-mula telah menciptakan asal-usul kalian dari tanah.


Lalu, dari tanah itu, Kami menciptakan air mani yang, pada gilirannya, Kami ubah menjadi segumpal darah padat.
Segumpal darah padat itu pun kemudian Kami jadikan sepotong daging yang adakalanya berbentuk manusia atau tidak, untuk menerangkan kekuasaan Kami dalam menciptakan sesuatu secara berangsur-angsur.


Setelah itu adakalanya Kami membuat kandungan itu gugur menurut kehendak Kami, ataupun meletakkan di dalam rahim hingga kandungan menjadi sempurna hingga Kami mengeluarkan kalian dari perut ibu dalam bentuk bayi.
Kalian yang masih bayi itu kemudian Kami pelihara hingga sempurna kekuatan fisik dan akal pikirannya.


Setelah itu di antara kalian ada yang dimatikan oleh Allah dan ada lagi yang dipanjangkan umurnya hingga usia lanjut dan pikun yang tidak mempunyai daya untuk mengetahui sesuatu lagi.
Barangsiapa yang mula-mula menciptakan kalian dengan cara seperti itu, tidak akan ada yang dapat membuat-Nya tidak mampu untuk mengembalikan kalian lagi.


Selain bukti itu, ada bukti lain yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk membangkitkan.
Yaitu, bahwa bumi yang kalian dapati kering kerontang itu, apabila Kami turunkan air akan memperlihatkan tanda kehidupan, bergerak, mengembang, permukaannya meninggi akibat air dan udara yang menyela-nyelanya, dan akhirnya memunculkan berbagai jenis tumbuhan yang indah, memukau dan membuat senang siapa saja yang melihatnya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Hai manusia, jika kalian dalam keraguan bahwa Allah akan menghidupkan orang yang sudah mati, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan bapak kalian, Adam dari tanah, kemudian anak keturunannya beranak-pinak dari setetes sperma, yaitu sperma yang dikeluarkan laki-laki ke dalam rahim wanita.
Kemudian ia berubah dengan kekuasaan Allah menjadi segumpal darah, yaitu darah merah beku.


Kemudian menjadi segumpal daging, yaitu sepotong daging kecil seukuran suapan, lalu sekali tempo ia menjadi ciptaan sempurna yang berakhir dengan keluarnya janin dalam keadaan hidup.
Dan pada tempo yang lain, tidak sempurna, lalu ia gugur dalam keadaan tidak sempurna.


Demikian itu agar Kami jelaskan kepada kalian akan kesempurnaan kekuasaan Kami mengatur tahap-tahap penciptaan.
Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki, yang disempurnakan kejadiannya hingga waktu yang telah ditentukan.


Tahapan-tahapan itu menjadi sempurna dengan dilahirkannya janin itusebagai bayi kecil yang tumbuh besar hingga mencapai usia paling kuat, yaitu waktu pemuda, kuat dan akal yang sempurna.
Sebagian bayi terkadang mati sebelum itu, dan sebagian dari mereka menjadi tua hingga mencapai usia sangat tua dan lemah akal;
sehingga orang yang dipanjangkan umurnya ini tidak mengetahui sesuatu pun yang telah diketahuinya sebelum itu.


Kamu melihat bumi ini kering, mati, tidak bertumbuhan.
Kemudian apabila Kami menurunkan air padanya, maka bumi menggerakkan tumbuhan lalu tumbuh darinya, meninggi dan bertambah menghijau, serta menumbuhkan segala jenis tumbuh-tumbuhan yang indah yang menyenangkan orang-orang yang memandangnya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Hai manusia) yakni penduduk Mekah


(jika kalian dalam keraguan) kalian meragukan


(tentang hari berbangkit, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian) bapak moyang kalian, yaitu Adam


(dari tanah, kemudian) Kami ciptakan anak cucunya


(dari setetes nuthfah) air mani


(kemudian dari segumpal darah) darah yang kental


(kemudian dari segumpal daging) daging yang besarnya sekepal tangan


(yang sempurna kejadiannya) telah diberi bentuk berupa makhluk yang sempurna


(dan yang tidak sempurna) masih belum sempurna bentuknya


(agar Kami jelaskan kepada kalian) kemahasempurnaan kekuasaan Kami, yaitu supaya kalian dapat mengambil kesimpulan daripadanya, bahwa Allah yang memulai penciptaan dapat mengembalikan ciptaan itu kepada asalnya.


(Dan Kami tetapkan) kalimat ayat ini merupakan kalimat baru


(di dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan) hingga ia keluar


(kemudian Kami keluarkan kalian) dari perut ibu-ibu kalian


(sebagai bayi) lafal Thiflan sekalipun berbentuk tunggal tetapi makna yang dimaksud adalah jamak


(kemudian) Kami memberi kalian umur secara berangsur-angsur


(hingga sampailah kalian kepada kedewasaan) dewasa dan kuat, yaitu di antara umur tiga puluh tahun sampai empat puluh tahun


(dan di antara kalian ada yang diwafatkan) yakni mati sebelum mencapai usia dewasa


(dan ada pula di antara kalian yang dipanjangkan umurnya sampai pikun) amat tua sehingga menjadi pikun


(supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya).
Sehubungan dengan hal ini Ikrimah mengatakan,
"Barang siapa yang biasa membaca Alquran, niscaya ia tidak akan mengalami nasib yang demikian itu, yakni terlalu tua dan pikun."


(Dan kalian lihat bumi ini kering) gersang


(kemudian apabila telah Kami turunkan air atasnya, hiduplah bumi itu) menjadi hidup


(dan suburlah ia) hidup dengan suburnya


(serta dapat menumbuhkan) huruf Min adalah huruf Zaidah


(berbagai macam tumbuh-tumbuhan) beraneka ragam tumbuhan


(yang indah) yakni yang baik.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Setelah menyebutkan perihal orang yang ingkar kepada hari berbangkit dan tidak percaya kepada adanya hari kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan hal-hal yang menunjukkan kekuasaan-Nya dalam menghidupkan segala sesuatu yang telah mati melalui bukti yang nyata pada permulaan kejadian manusia.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan.

Yaitu hari kemudian di mana semua roh dan jasad menjadi satu dan bangkit hidup kembali kelak di hari kiamat.

maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kalian dari tanah.

Artinya, asal mula kejadian kalian adalah dari tanah, yaitu asal mula penciptaan Adam ‘alaihis salam, nenek moyang mereka.

kemudian dari setetes mani.

kemudian keturunannya diciptakan dari air mani yang hina.

kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging.

Demikian itu apabila nutfah telah berdiam di dalam rahim wanita selama empat puluh hari.
Selama itu ia mengalami pertumbuhan, kemudian bentuknya berubah menjadi darah kental dengan seizin Allah.
Setelah berlalu masa empat puluh hari lagi, maka berubah pula bentuknya menjadi segumpal daging yang masih belum berbentuk dan belum ada rupanya.
Kemudian dimulailah pembentukannya, yang dimulai dari kepala, kedua tangan, dada, perut, kedua paha, kedua kaki, dan anggota lainnya.
Adakalanya seorang wanita mengalami keguguran sebelum janinnya mengalami pembentukan, dan adakalanya keguguran terjadi sesudah janin terbentuk berupa manusia.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna.

seperti yang dapat kalian saksikan sendiri.

agar Kami jelaskan kepada kalian, dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.

Yakni adakalanya janin menetap di dalam rahim tidak keguguran dan tumbuh terus menjadi bentuk yang sempurna.


Seperti yang dikatakan oleh Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:

yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna.
Yaitu janin yang telah berbentuk dan janin yang masih belum terbentuk.
Apabila telah berlalu masa empat puluh hari dalam keadaan berupa segumpal daging, maka Allah mengutus seorang malaikat kepadanya.
Malaikat itu diperintahkan-Nya untuk meniupkan roh ke dalam tubuh janin, lalu menyempurnakan bentuknya menurut apa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala, apakah tampan atau buruk, dan apakah laki-laki atau perempuan.
Selain itu malaikat tersebut ditugaskan pula untuk menulis rezeki dan ajalnya, apakah celaka atau berbahagia.


Hal ini telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui hadis Al-A’masy, dari Zaid ibnu Wahb, dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada kami:

Sesungguhnya kejadian seseorang di antara kalian dihimpunkan di dalam perut ibunya selama empat puluh malam, kemudian menjadi ‘alaqah selama empat puluh malam, kemudian menjadi segumpal daging dalam masa empat puluh malam.
Setelah itu Allah mengutus malaikat kepadanya, malaikat diperintahkan-Nya untuk mencatat empat perkara, yaitu mencatat rezekinya, amal perbuatannya, dan ajalnya (usianya), lalu nasibnya apakah celaka atau bahagia.
Kemudian meniupkan roh ke dalam tubuhnya.

Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir telah meriwayatkan melalui hadis Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya’bi, dari Alqamah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa apabila nutfah telah menetap di dalam rahim, maka datanglah malaikat mencegahnya, lalu berkata,
"Wahai Tuhanku, apakah dijadikan ataukah tidak?"
Jika dikatakan tidak dijadikan, maka tidaklah dibentuk kejadiannya, lalu dikeluarkan dari rahim dalam rupa darah kental.
Tetapi jika dikatakan dijadikan, maka malaikat bertanya,
"Wahai Tuhanku, apakah dia laki-laki atau perempuan, apakah dia celaka ataukah bahagia, bagaimanakah ajalnya dan jejak kehidupannya, serta di negeri manakah ia mati?"
Kemudian dikatakan kepada nutfah itu,
"Siapakah Tuhanmu?"
Nutfah menjawab,
"Allah."
Dikatakan pula,
"Siapakah yang memberimu rezeki?"
Nutfah menjawab,
"Allah."
Lalu Allah berfirman kepada malaikat,
"Pergilah kamu ke kitab itu, karena sesungguhnya kamu akan menjumpai di dalamnya kisah nutfah ini."
Maka nutfah itu dijadikan dan menjalani masa hidupnya sampai ajalnya, ia memakan rezekinya dan melakukan perjalanan hidupnya.
Bilamana telah tiba ajalnya, maka matilah ia dan dikebumikan.
Kemudian Amir Asy-Sya’bi membaca firman-Nya:
Hai manusia, jika kalian dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kalian dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna.
(QS. Al-Hajj [22]: 5)
Apabila tahap kejadiannya sampai pada segumpal darah, maka kejadiannya dikembalikan pada tahap keempat, lalu terbentuklah manusia.
Tetapi jika ditakdirkan tidakjadi, maka dikeluarkan lagi oleh rahim dalam rupa darah.
Dan apabila dijadikan, maka dikembalikan (ke dalam rahim) menjadi manusia.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Dinar, dari Abut Tufail, dari Huzaifah ibnu Usaid yang menyampaikan sanadnya sampai kepada Nabi ﷺ Disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Malaikat masuk ke dalam nutfah sesudah nutfah berada di dalam rahim selama empat puluh atau empat puluh lima hari.
Lalu malaikat bertanya,
"Wahai Tuhanku, apakah dia celaka atau bahagia?"
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, dan malaikat itu mencatat.
Lalu malaikat bertanya,
"Apakah laki-laki ataukah perempuan?"
Allah berfirman, dan malaikat mencatatnya.
Malaikat mencatat amalnya, perjalanan hidupnya, rezekinya, dan ajalnya.
Kemudian lembaran kitab itu ditutup, maka apa yang ada di dalamnya tidak dapat lagi ditambahi atau dikurangi.

Imam Muslim meriwayatkan melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah dan melalui jalur lain dari Abut Tufail dengan lafaz yang semakna.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi.

Yakni dalam keadaan lemah tubuh, pendengaran, penglihatan, inderanya, kekuatan geraknya, serta akalnya.
Kemudian Allah memberinya kekuatan sedikit demi sedikit, dan kedua orang tuanya merawatnya dengan penuh kasih sayang sepanjang hari dan malamnya.
Karena itu, disebutkan oleh firman selanjutnya:

kemudian (dengan berangsur-angsur) kalian sampailah kepada kedewasaan.

Yaitu memiliki kekuatan yang makin bertambah sampai pada usia muda dan penampilan yang terbaiknya.

dan di antara kalian ada yang diwafatkan.

dalam usia mudanya dan sedang dalam puncak kekuatannya.

dan (ada pula) di antara kalian yang dipanjangkan umurnya sampai pikun.

Usia yang paling hina ialah usia pikun.
Dalam usia tersebut seseorang lemah tubuhya, tidak berkekuatan, akal serta pemahamannya pun lemah pula, semua panca inderanya tidak normal lagi dan daya pikirnya pun lemah.
Karena itu, disebutkan dalam firman selanjutnya:

supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya diketahuinya.

Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.
Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.
(QS. Ar-Rum [30]: 54)

Al-Hafiz Abu Ya’la Ahmad ibnu Ali ibnul Musanna Al-Mausuli telah mengatakan di dalam kitab Musnad-nya, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Abu Muzahim, telah menceritakan kepada kami Kahlid Az-Zayyat, telah menceritakan kepadaku Daud Abu Sulaiman, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Ma’mar ibnu Hazm Al-Ansari, dari Anas ibnu Malik yang me-rafa’-kan hadis ini.
Ia mengatakan bahwa bayi yang baru lahir hingga mencapai usia balig segala yang dikerjakannya berupa amal kebaikan tidak dicatatkan bagi orang tuanya atau kedua orang tuanya.
Dan semua yang dikerjakannya berupa amal keburukan tidak dicatatkan bagi dirinya, tidak pula bagi kedua orang tuanya.
Apabila ia telah mencapai usia balignya, maka Allah memberlakukan qalam terhadapnya dan memerintahkan kepada dua malaikat yang ada bersamanya untuk mencatat segala amal perbuatannya dengan catatan yang ketat.
Apabila ia mencapai usia empat puluh tahun dalam Islam, Allah menyelamatkannya dari tiga penyakit, yaitu gila, lepra, dan supak.
Apabila mencapai usia lima puluh tahun, Allah meringankan hisabnya, dan apabila mencapai usia enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki kembali (bertobat) kepada-Nya sesuai dengan apa yang disukai-Nya.
Apabila mencapai usia tujuh puluh tahun, penduduk langit menyukainya.
Dan apabila usianya mencapai delapan puluh tahun, maka semua amal baiknya dicatat dan dihapuslah semua amal buruknya.
Apabila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah mengampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian, ia pun dapat memberikan syafaat kepada ahli baitnya serta dicatat sebagai Aminullah (orang kepercayaan Allah), dan dia menjadi tahanan Allah di bumi-Nya.
Apabila ia mencapai usia pikun sehingga ia tidak mengetahui lagi segala sesuatu yang tadinya ia ketahui, maka Allah mencatatkan baginya hal yang semisal dengan amal kebaikan yang pernah dilakukannya semasa sehatnya, apabila melakukan suatu keburukan, maka tidak dicatatkan dalam buku catatan amalnya.

Hadis ini garib sekali, di dalamnya terkandung kemungkaran yang parah.
Tetapi sekalipun demikian, Imam Ahmad ibnu Hambal meriwayatkannya pula di dalam kitab musnadnya, baik secara mauquf ataupun marfu’.


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Nadr, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amir, dari Muhammad ibnu Abdullah Al-Amili, dari Amr ibnu Ja’far, dari Anas yang mengatakan, bahwa apabila seorang lelaki muslim mencapai usia empat puluh tahun, Allah menyelamatkannya dari tiga macam penyakit, yaitu gila, supak, dan lepra.
Apabila mencapai usia lima puluh tahun, Allah meringankan hisabnya.
Apabila mencapai usia enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki bertobat kepada-Nya yang disukainya.
Dan apabila mencapai usia tujuh puluh tahun, penduduk langit menyukainya.
Apabila mencapai usia delapan puluh tahun, Allah menerima semua kebaikannya dan menghapuskan semua keburukannya.
Apabila mencapai usia sembilan puluh tahun, Allah mengampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian.
Ia diberi julukan sebagai ‘tahanan Allah di bumi-Nya’ dan dapat memberikan syafaat kepada keluarganya.

Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Al-Faraj, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdullah Al-Amiri, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Amr ibnu Usman, dari Abdullah ibnu Umar ibnul Khattab, dari Nabi ﷺ Lalu disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas.

Imam Ahmad telah meriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Iyad, telah menceritakan kepadaku Yusuf ibnu Abu Burdah Al-Ansari, dari Ja’far ibnu Amr ibnu Umayyah Ad-Dimri, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Tiada seorang pun yang berusia panjang dalam Islamnya selama empat puluh tahun, melainkan Allah memalingkan darinya tiga macam penyakit yaitu gila, supak, dan lepra.

Lalu disebutkan hingga akhir hadis yang teksnya sama dengan hadis sebelumnya.


Hadis ini diriwayatkan pula oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar, dari Abdullah ibnu Syabib, dari Abu Syaibah, dari Abdullah ibnu Abdul Malik, dari Abu Qatadah Al-Adawi, dari anak saudara Az-Zuhri, dari pamannya (Az-Zuhri), dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tiada seorang hamba pun yang diberi usia panjang dalam Islam selama empat puluh tahun, melainkan Allah memalingkan darinya berbagai macam penyakit, yaitu gila, lepra, dan supak.
Apabila ia mencapai usia lima puluh tahun, Allah meringankan hisabnya.
Apabila mencapai usia enam puluh tahun, Allah memberinya rezeki bertobat kepada-Nya berkat kesukaan yang ditanamkan Allah dalam dirinya.
Apabila mencapai usia tujuh puluh tahun, Allah memberikan ampunan baginya semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian, dan ia diberi nama ‘tahanan Allah’, semua penduduk langit menyukainya.
Apabila mencapai usia delapan puluh tahun, Allah menerima amal-amal baiknya dan memaafkan amal-amal keburukannya.
Dan apabila mencapai usia sembilan puluh tahun, Allah memberikan ampunan baginya atas semua dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian, lalu ia diberi nama sebagai ‘tahanan Allah di bumi-Nya’ dan dapat memberikan syafaat kepada ahli baitnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan kalian lihat bumi ini kering.

Hal ini pun merupakan dalil lain yang menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala dalam menghidupkan orang-orang yang telah mati,- sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang kering tandus, tidak ada tanaman apa pun padanya.


Qatadah mengatakan bahwa hamidah artinya padang pasir lagi tandus (kering).


Sedangkan menurut As-Saddi, makna yang dimaksud ialah tanah yang mati.

kemudian apabila Kami telah turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

Apabila Allah menurunkan hujan, maka bumi yang tadinya tandus itu menjadi subur dan menumbuhkan tetumbuhannya dengan subur, lalu keluarlah dari tumbuh-tumbuhan itu berbagai macam buah-buahan dan tanam-tanaman yang beraneka ragam warna, rasa, bau, bentuk, dan manfaatnya.
Karena itulah firman selanjutnya disebutkan:

dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.

Yaitu yang indah bentuknya dan harum baunya.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 5

BAHJAH
بَهْجَة

Ia dalam bentuk masdar berasal dari kata "bahija-yabhaju.
Ia memiliki makna kegembiraan, kesenangan,baik dan menawan.
Isim fa’il nya adalah bahiij.

Dalam kamus Al Mujam Al ‘Arabi wajhun bahiij bermakna wajahnya kelihatan gembira dan mundzar bahiij bermakna pemandangan yang indah lagi menawan.

Kata bahjah disebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah An Naml (27) ayat 60. Allah berfirman:

أَنۢبَتْنَا بِهِۦ حَدَآئِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ

Sedangkan kata bahiij disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
• Al Hajj (22), ayat 5
Qaf (50), ayat 7.
Allah berfirman dalam surah Al Hajj:

وَأَنۢبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍۭ بَهِيجٍ

Asy Syawkani mengatakan, al bahjah adalah yang baik dan menarik bagi yang melihatnya.
Makna ayat dalam surah An Naml,

"Dan Kami menumbuhkan taman-taman yang baik dan menawan yang tertarik bagi yang memandangnya."

Sedangkan makna ayat dalam surah Al Hajj,

"Allah menumbuhkan berbagai macam tumbuhan dengan yang baik dengan berlainan warna yang indah lagi menawan."

Kesimpulannya, lafaz bahjah ataupun bahiij memiliki makna yang indah lagi menawan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:99

Unsur Pokok Surah Al Hajj (الحجّ)

Surat Al-Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Sebab perbedaan ini ialah karena sebagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj", karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.

Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam.

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

▪ Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat.
▪ Dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

▪ Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim `alaihis salam.
▪ Hukum berkata dusta.
▪ Larangan menyembah berhala.
▪ Binatang-binatang yang halal dimakan.
▪ Hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil-haram.
▪ Keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama.
▪ Hukum hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

▪ Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela.
▪ Tanda tanda takwa yang sampai ke hati.
▪ Tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya.
▪ Pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah.
▪ Sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat-ayat Alquran.
▪ Anjuran berjihad dengan sesungguhnya.
▪ Celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Audio Murottal

QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 78 + Terjemahan Indonesia



QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 78

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Hajj ayat 5 - Gambar 1 Surah Al Hajj ayat 5 - Gambar 2 Surah Al Hajj ayat 5 - Gambar 3
Statistik QS. 22:5
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, “Haji”) adalah surah ke-22 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku’ 10 ruku’
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
Sending
User Review
4.9 (27 suara)
Bagi ke FB
Bagi ke TW
Bagi ke WA
Tags:

22:5, 22 5, 22-5, Surah Al Hajj 5, Tafsir surat AlHajj 5, Quran Al-Haj 5, Alhaj 5, Al Haj 5, Al-Hajj 5, Surah Al Hajj ayat 5

Video Surah

22:5


Load More

Kandungan Surah Al Hajj

۞ QS. 22:1 Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kedahsyatan hari kiamat •

۞ QS. 22:2 • Kedahsyatan hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 22:3 • Sifat iblis dan pembantunya • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:4 • Sifat iblis dan pembantunya • Azab orang kafir

۞ QS. 22:5 • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 22:6 • Kekuasaan Allah • Al Haq (Maha Benar) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Al Muhyi – Al Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 22:7 • Kiamat telah dekat • Kepastian hari kiamat • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan •

۞ QS. 22:9 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:10 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menanggung dosa orang lain • Maksiat dan dosa

۞ QS. 22:11 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 22:12 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:13 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:14 • Pahala iman • Sifat Iradah (berkeinginan) • Sifat surga dan kenikmatannya • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:15 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 22:16 Sifat Iradah (berkeinginan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 22:17 • Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Derajat para pemeluk agama • Keutamaan iman

۞ QS. 22:18 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Hukum alam • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 22:19 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:20 • Sifat neraka • Makanan dan minuman ahli neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:21 • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:22 • Sifat neraka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:23 • Pahala iman • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga • Pakaian ahli surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 22:24 • Al Hamid (Maha Terpuji) • Sifat ahli surga

۞ QS. 22:26 • Islam agama para nabi

۞ QS. 22:30 Ar Rabb (Tuhan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:31 • Kewajiban hamba pada Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 22:32 • Pentingnya berbuat dengan teliti

۞ QS. 22:34 Tauhid Uluhiyyah • Al Wahid (Maha Esa)

۞ QS. 22:37 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Perbuatan dan niat • Pentingnya berbuat dengan teliti • Kebutuhan muslim terhadap amal salehHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 22:38 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Keutamaan iman •

۞ QS. 22:39 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 22:40 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAr Rabb (Tuhan) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat) •

۞ QS. 22:41 • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 22:44 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 22:45 • Azab orang kafir

۞ QS. 22:46 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:47 • Allah menepati janji • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 22:48 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Maksiat dan dosa

۞ QS. 22:50 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:51 • Mengingkari hari kebangkitan • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 22:52 • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Qur’an terpelihara dari penyelewengan • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah

۞ QS. 22:53 • Sifat iblis dan pembantunya • Sifat orang munafik

۞ QS. 22:54 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Al Hadi (Maha Pemberi petunjuk) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 22:55 • Nama-nama hari kiamat • Hari kiamat datang tiba-tiba • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 22:56 • Pahala iman • Segala sesuatu milik Allah • Nama-nama surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 22:57 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:58 • Pahala iman

۞ QS. 22:59 • Pahala iman • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 22:60 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) •

۞ QS. 22:61 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) •

۞ QS. 22:62 Tauhid Uluhiyyah • Al Haq (Maha Benar) • Al ‘Aliyy (Maha Tinggi) • Al Kabir (Maha Besar) • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:63 • Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 22:64 • Segala sesuatu milik Allah • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya)

۞ QS. 22:65 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 22:66 Tauhid Rububiyyah • Kekuasaan Allah • Al Muhyi – Al Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur •

۞ QS. 22:67 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 22:68 • Keluasan ilmu Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:69 • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 22:70 • Keluasan ilmu Allah • Kekuasaan Allah • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 22:72 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 22:73 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:74 • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 22:75 • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 22:76 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 22:77 Ar Rabb (Tuhan) • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 22:78 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Al Maula (Maha Penolong) • An-Nashir (Maha Penolong) • Islam agama yang diterima di sisi Allah

Ayat Pilihan

Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya,

(yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat & mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.
QS. Fussilat [41]: 6-7

Dari apakah Allah menciptakannya?
Dari setetes mani,
Allah menciptakannya lalu menentukannya,
kemudian Dia mematikannya & memasukkannya ke dalam kubur,
kemudian bila Dia menghendaki,
Dia membangkitkannya kembali.
QS. ‘Abasa [80]: 18-22

Hendaklah manusia perhatikan dari apa ia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang dipancarkan, yang keluar di antara tulang sulbi laki-laki & tulang dada perempuan.
Sungguh Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati)
QS. At-Tariq [86]: 5-8

Hadits Shahih

Podcast

Doa Sehari-hari

Soal & Pertanyaan Agama

There is no question

Soal Agama Islam

Pendidikan Agama Islam #27

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah … Surah yang tidak diawali basmalah adalah … Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah … Proses turunnya wahyu berlangsung selama … tahun.Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah …

Pendidikan Agama Islam #23

Qada dan qadar termasuk rukun iman yang ke … Al Falaq artinya … Ayat ke 5 dari surah al-Falaq yaitu … … Percaya kepada Allah dan Rasulnya termasuk rukun … Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui …

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah … Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah … Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang …

Kamus Istilah Islam

Zubair bin Awwam bin Khuwailid

Siapa itu Zubair bin Awwam bin Khuwailid? Az-Zubair bin Al-‘Awwam adalah putra bibi Muhammad, yaitu Shafiyyah binti Abdul Muthalib, salah satu sahabat nabi dan termasuk as-Sabiqun al-Awwalun, yaitu salah seorang dari 10 orang yang pertama masuk Islam. Ketika pamannya Naufal bin Khuwailid mengetahui Zubair telah memeluk Islam, ia sangat marah dan berus … • Zubayr ibn al-Awwam, Zubair bin Awwam

Haji Wada’

Apa itu Haji Wada’? Haji Wada’ atau Haji Perpisahan merupakan haji terakhir bagi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, nabi umat Islam, yang dilaksanakan pada tahun 10 Hijriyah . Kaum muslim mematuhi setiap gerakan, tindakan, dan gerak-gerik Nabi Muhammad pada ketika itu, dan setiap perbuatan yang dilakukan olehnya menjadi contoh untuk sela … • Hajji wadaa’, haji wadaa’, Hajji wadaa’

Hisnul Muslim

Apa itu Hisnul Muslim? Hisnul Muslim atau lengkapnya “Hishnul Muslim min Adzkaril Kitabi Was Sunnah” yang dalam bahasa Indonesia berarti “Benteng/Perisai Seorang Muslim” sebuah buku yang disusun oleh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani. Buku saku yang begitu populer dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di seluruh dunia … • Hishnu al-Muslim