Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 41 [QS. 22:41]

اَلَّذِیۡنَ اِنۡ مَّکَّنّٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا الزَّکٰوۃَ وَ اَمَرُوۡا بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ نَہَوۡا عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لِلّٰہِ عَاقِبَۃُ الۡاُمُوۡرِ
Al-ladziina in makkannaahum fiil ardhi aqaamuush-shalaata waaatawuuzzakaata wa-amaruu bil ma’ruufi wanahau ‘anil munkari walillahi ‘aaqibatul amuur(i);

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
―QS. 22:41
Topik ▪ Azab orang kafir
22:41, 22 41, 22-41, Al Hajj 41, AlHajj 41, Al-Haj 41, Alhaj 41, Al Haj 41, Al-Hajj 41

Tafsir surah Al Hajj (22) ayat 41

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 41. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan sifat-sifat orang yang diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar itu.
Mereka ialah para sahabat beserta Nabi Muhammad ﷺ, yang kepada mereka Allah telah menjanjikan kemenangan.
Jika kemenangan telah mereka peroleh, mereka tidak seperti orang-orang musyrik dan orang-orang yang gila kekuasaan itu tetapi mereka akan melaksanakan:

1.
Mereka tetap mendirikan salat pada setiap waktu yang telah ditentukan sesuai dengan yang diperintahkan Allah.
Mereka benar-benar telah yakin, bahwa salat itu tiang agama, merupakan tali penghubung yang langsung antara Allah dengan hamba-Nya, menyucikan jiwa dan raga, mencegah manusia dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar serta merupakan perwujudan takwa yang sebenarnya.

2.
Mereka menunaikan zakat Mereka meyakini bahwa di dalam harta si kaya terdapat hak orang-orang fakir dan miskin.
Karena itu mereka dalam menunaikan zakat itu bukanlah karena mereka mengasihi orang-orang fakir dan miskin, tetapi semata-mata untuk menyerahkan hak orang fakir dan miskin itu kepada mereka Jika mereka diangkat sebagai penguasa, mereka berusaha agar hak orang-orang fakir dan miskin itu benar-benar sampai kepada mereka.

3.
Menyuruh manusia berbuat makruf dan mencegah perbuatan mungkar.
Mereka mendorong manusia mengerjakan amal saleh, memimpin manusia malalui jalan lurus yang dibentangkan Allah.
Mereka sangat benci kepada orang-orang yang biasa mengerjakan larangan-larangan Allah.

Amat benarlah janji Allah.
Mereka memperoleh kemenangan yang telah dijanjikan itu.
Mereka ditetapkan Allah sebagai pengurus urusan duniawi dan pemimpin umat beragama dengan baik.
Dalam waktu yang singkat kaum Muslimin telah dapat menguasai daerah-daerah di luar Jaziratul Arab.

Tindakan mereka sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.
Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

(Q.S.
Ali Imran: 110).

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang Mukmin yang telah Kami janjikan untuk mendapatkan pertolongan Kami adalah mereka yang, apabila kekuasaan mereka Kami kokohkan di bumi, akan menjaga hubungan mereka dengan Allah dan manusia.
Mereka kemudian mengerjakan salat dengan cara yang benar, membayar zakat dan menyalurkannya kepada yang berhak, menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jelek.
Hanya Allah yang berhak menentukan akhir dari semua perkara, dan membuat hina siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi) dengan memberikan pertolongan kepada mereka sehingga mereka dapat mengalahkan musuh-musuhnya (niscaya mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar) kalimat ayat ini menjadi Jawab Syarat, dan Syarat beserta Jawabnya menjadi Shilah dari Maushul, kemudian diperkirakan adanya lafal Hum sebelumnya sebagai Mubtada (dan kepada Allahlah kembali segala urusan) di akhirat, semua urusan itu kembali kepada-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang yang Kami janjikan kepada mereka bahwa Kami akan menolong mereka ialah orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di muka bumi dan Kami jadikan mereka sebagai khalifah dengan memenangkan mereka atas musuh mereka, niscaya mereka akan mendirikan shalat dengan melaksanakannya tepat pada waktunya sesuai ketentuan-ketentuannya, mengeluarkan zakat harta mereka, menyuruh semua yang diperintahkan Allah berupa hak-hak-Nya dan hak-hak para hamba-Nya, serta melarang semua yang dilarang Allah dan Rasul-nya.
Kepunyaan Allahlah tempat kembali segala urusan, dan kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abur Rabi’ Az-Zahrani, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, dari Ayyub dan Hisyam, dari Muhammad yang mengatakan bahwa Usman ibnu Affan pernah mengatakan, “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan kami (para sahabat), yaitu firman-Nya:
‘(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar’
Kami telah diusir dari rumah kami tanpa alasan yang benar, melainkan hanya karena kami beriman bahwa Allah adalah Tuhan kami.
Kemudian Dia meneguhkan kedudukan kami di suatu negeri, maka kami mendirikan salat, menunaikan zakat, dan memerintahkan berbuat kebajikan serta mencegah dari perbuatan mungkar, dan kepada Allah-lah dikembalikan semua urusan.
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan aku dan sahabat-sahabatku.

Menurut Abul Aliyah, mereka adalah sahabat-sahabat Nabi Muhammad ﷺ As-Sabbah ibnu Sawadah Al-Kindi mengatakan, ia pernah mendengar Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz berkhotbah seraya mengucapkan firman-Nya:

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi., hingga akhir ayat.
Kemudian Umar ibnu Abdul Aziz berkata, “Ingatlah, sesungguhnya tugas ini bukan saja diwajibkan bagi penguasa semata, tetapi di wajibkan bagi penguasa dan rakyatnya.
Ingatlah, aku akan menceritakan kepada kalian kewajiban kalian dari tugas ini terhadap penguasa kalian, dan kewajiban penguasa dari tugas ini terhadap kalian.
Sesungguhnya kewajiban penguasa terhadap kalian dari tugas ini ialah hendaknya ia membimbing kalian ke jalan Allah dan mempersatukan kalian serta menanamkan rasa gotong royong di antara sesama kalian, dan memberikan petunjuk kepada kalian jalan yang paling lurus dengan segala kemampuannya.
Dan sesungguhnya kewajiban kalian terhadap penguasa ialah hendaknya kalian taat kepadanya dengan hati yang tulus ikhlas, bukan lahiriahnya menurut, tetapi batinnya menolak.”

Atiyyah Al-Aufi telah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa ayat ini semakna dengan firman-Nya:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.
(An Nuur:55)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

sama pengertiannya dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:

Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
(Al Qashash:83)

Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.

Yakni di sisi Allah-lah terdapat pahala dari perbuatan mereka.


Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini “Al Hajj”,
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar·syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur’an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Ayat-ayat dalam Surah Al Hajj (78 ayat)

Audio

Qari Internasional

Al Hajj (22) ayat 41 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Al Hajj (22) ayat 41 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Al Hajj (22) ayat 41 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al Hajj - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full 78 Ayat & Terjemahan


Gambar



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah22
Nama SurahAl Hajj
Arabالحجّ
ArtiHaji
Nama lain-
Tempat TurunMadinah & Makkah
Urutan Wahyu103
JuzJuz 17
Jumlah ruku'10 ruku'
Jumlah ayat78
Jumlah kata1282
Jumlah huruf5315
Surah sebelumnyaSurah Al-Anbiya
Surah selanjutnyaSurah Al-Mu’minun
4.5
Ratingmu: 4.5 (11 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/22-41







Pembahasan ▪ penjelasan arti dari quran surah al hajj 41 ▪ surat al hajj 41 ▪ Tafsir Al-muyasar surah Al-Hajj ayat 41

Video

Panggil Video Lainnya

RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta