Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 36 [QS. 22:36]

وَ الۡبُدۡنَ جَعَلۡنٰہَا لَکُمۡ مِّنۡ شَعَآئِرِ اللّٰہِ لَکُمۡ فِیۡہَا خَیۡرٌ ٭ۖ فَاذۡکُرُوا اسۡمَ اللّٰہِ عَلَیۡہَا صَوَآفَّ ۚ فَاِذَا وَجَبَتۡ جُنُوۡبُہَا فَکُلُوۡا مِنۡہَا وَ اَطۡعِمُوا الۡقَانِعَ وَ الۡمُعۡتَرَّ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرۡنٰہَا لَکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ
Wal budna ja’alnaahaa lakum min sya’aa-irillahi lakum fiihaa khairun faadzkuruuusmallahi ‘alaihaa shawaaffa fa-idzaa wajabat junuubuhaa fakuluu minhaa wa-ath’imuul qaani’a wal mu’tarra kadzalika sakh-kharnaahaa lakum la’allakum tasykuruun(a);
Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya.
Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat).
Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.
Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur.
―QS. Al Hajj [22]: 36

Daftar isi

And the camels and cattle We have appointed for you as among the symbols of Allah;
for you therein is good.
So mention the name of Allah upon them when lined up (for sacrifice);
and when they are (lifeless) on their sides, then eat from them and feed the needy and the beggar.
Thus have We subjected them to you that you may be grateful.
― Chapter 22. Surah Al Hajj [verse 36]

وَٱلْبُدْنَ dan onta itu

And the camels and cattle –
جَعَلْنَٰهَا telah kami jadikan

We have made them
لَكُم bagi kalian

for you
مِّن dari

among
شَعَٰٓئِرِ syi’ar-syi’ar

(the) Symbols
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah,
لَكُمْ bagi kalian

for you
فِيهَا padanya

therein
خَيْرٌ kebaikan

(is) good.
فَٱذْكُرُوا۟ maka sebutlah

So mention
ٱسْمَ nama

(the) name
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah
عَلَيْهَا atasnya

over them
صَوَآفَّ berbaris

(when) lined up;
فَإِذَا maka apabila

and when
وَجَبَتْ telah roboh

are down
جُنُوبُهَا lambungnya (disembelih)

their sides,
فَكُلُوا۟ maka makanlah

then eat
مِنْهَا daripadanya

from them
وَأَطْعِمُوا۟ dan berilah makan

and feed
ٱلْقَانِعَ orang yang rela dengan apa yang ada padanya

the needy who do not ask
وَٱلْمُعْتَرَّ dan orang yang meminta

and the needy who ask.
كَذَٰلِكَ demikianlah

Thus
سَخَّرْنَٰهَا Kami tundukannya

We have subjected them
لَكُمْ bagi kalian

to you
لَعَلَّكُمْ agar kalian

so that you may
تَشْكُرُونَ kalian bersyukur

be grateful.

Tafsir

Alquran

Surah Al Hajj
22:36

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 36. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa dia menciptakan unta agar diambil manfaatnya oleh manusia dan menjadikan unta itu sebagai salah satu syi’ar-syi’ar Allah dengan menyembelihnya sebagai binatang kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kemudian Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berkurban pahala yang berlipat ganda di akhirat.


Menurut Imam Abu Hanifah yang berasal dari pendapat Atha’ dan Sa’id bin Musayyab dari golongan tabi’in bahwa yang dimaksud dengan,
"Budna"
yang tersebut dalam ayat, ialah unta atau sapi.
Pendapat ini dikuatkan pula oleh pendapat Ibnu Umar bahwa tidak dikenal arti
"badanah"
(mufrad budna) selain arti unta dan sapi.


Seekor unta atau lembu dapat dijadikan kurban oleh tujuh orang berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ:


Berkata Jabir ra,
"Kami menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah ﷺ, maka kami berkurban seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang."
(Riwayat Muslim)


Jika seseorang tidak mendapatkan unta/sapi, ia boleh menggantinya dengan tujuh ekor kambing berdasarkan hadis:


"Dari Ibnu ‘Abbas ra bahwa Nabi ﷺ telah didatangi seseorang, ia berkata,
"Sesungguhnya telah wajib atasku menyembelih unta/sapi, sedangkan aku orang yang sanggup melakukannya, tetapi aku tidak mendapatkannya untuk kubeli.

Maka Rasulullah ﷺ menyuruhnya membeli tujuh ekor kambing, kemudian ia menyembelihnya."
(Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang sahih)


Allah memerintahkan agar menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa haram hukumnya menyebut nama selain Allah diwaktu menyembelihnya.


Apabila binatang kurban telah disembelih, telah roboh dan diyakini telah benar-benar mati, maka kulitilah, makanlah sebagian dagingnya, dan berikanlah sebagian yang lain kepada fakir miskin yang meminta dan yang tidak meminta karena mereka malu melakukannya.

Tentu saja memberikan (daging) seluruhnya adalah lebih baik dan lebih besar pahalanya.


Orang-orang Arab jahiliyah tidak mau memakan daging kurban yang telah mereka sembelih, maka dalam ayat ini Allah membolehkan kaum Muslimin memakan daging kurban mereka.


Demikianlah Allah telah memudahkan penguasaan binatang kurban bagi orang-orang yang beriman, padahal binatang itu lebih kuat dari mereka.
Yang demikian itu dapat dijadikan pelajaran agar manusia bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka.

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 36. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kami benar-benar telah menjadikan penyembelihan unta dan sapi dalam ibadah haji sebagai salah satu tanda kebesaran dan syiar agama.
Dan kalian semua telah memakainya sebagai cara untuk mendekatkan hubungan dengan orang lain.


Dengan berkurban, kalian akan mendapatkan kebaikan yang banyak di dunia karena dapat memakainya sebagai kendaraan dan meminum susunya.
Kalian juga akan mendapatkan kebaikan dari hal itu di akhirat berupa pahala penyembelihan dan dibagikannya kepada fakir miskin.


Dari itu, sebutlah asma Allah pada saat hewan-hewan itu berbetis dalam keadaan tanpa cacat dan siap disembelih.
Dan seusai menyembelih, makanlah sedikit jika kalian suka, dan bagikan selebihnya kepada fakir miskin yang pasrah dan tidak mau meminta-minta atau kepada orang-orang yang meminta-minta karena terpaksa.


Sebagaimana Kami menundukkan segala sesuatu kepada kehendak Kami, Kami juga menundukkan hewan-hewan kurban itu kepada kehendak kalian, demi kemaslahatan kalian dan agar kalian memakainya sebagai perwujudan rasa syukur atas nikmat Kami yang besar.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Kami jadikan untuk kalian penyembelihan unta sebagai bagian dari syiarsyiar dan simbul-simbul agama;
agar kalian mendekatkan diri kepada Allah dengannya.
Kalian, wahai orang-orang yang mendekatkan diri, memperoleh kebaikan padanya dalam hal manfaatnya, yaitu dimakan, disedekahkan, dan mendapatkan pahala.


Karena itu ucapkanlah ketika menyembelihnya:
Bismillah.
Untuk disembelih dalam keadaan berdiri dengan dibentangkan ketiga kakinya dan diikat kaki yang keempat.


Apabila tubuhnya telah roboh di tanah, maka sudah halal memakannya.
Maka hendaklah orang yang mengorbankannya memakan sebagiannya sebagai bentuk ibadah, dan berilah makan sebagian darinya pada orang fakir (qani’) (yaitu orang fakir yang tidak meminta-minta karena menjaga harga dirinya) dan kepada orang yang membutuhkan yang tidak meminta-minta untuk mencukupi kebutuhannya.


Demikianlah Allah menundukkan unta-unta itu untuk kalian, agar kalian bersyukur kepada Allah atas ditundukkannya hal itu bagi kalian.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan unta-unta itu) al Budna adalah bentuk jamak dari lafal Badanah, yaitu hewan unta


(Kami jadikan untuk kalian sebagian syiar Allah) pertanda-pertanda bagi agama-Nya


(kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya) kemanfaatan duniawi sebagaimana yang telah disebutkan tadi dan pahala di akhirat


(maka sebutlah oleh kalian nama Allah ketika kalian menyembelihnya) sewaktu menyembelihnya


(dalam keadaan berdiri) dengan kaki yang terikat.


(Kemudian apabila telah roboh) sesudah disembelih, yaitu telah mati dan sudah waktunya untuk dapat dimakan


(maka makanlah sebagiannya) jika kalian suka


(dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya) maksudnya orang-orang yang menerima dengan apa yang diberikan oleh Allah kepadanya dan ia tidak meminta-minta serta tidak pernah memamerkan dirinya miskin


(dan orang yang meminta) yaitu orang yang meminta-minta dan orang yang menampakkan kemiskinannya.


(Demikianlah) sebagaimana penundukan tadi


(Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kalian) sehingga mereka dapat disembelih dan dapat dinaiki, jika tidak Kami tundukkan maka niscaya kalian tidak akan mampu terhadapnya


(mudah-mudahan kalian bersyukur) atas nikmat-Ku kepada kalian.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menyebutkan karunia-Nya yang telah diberikan­Nya kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan menciptakan ternak unta buat mereka dan menjadikannya sebagai salah satu dari syiar Allah.
Unta itu dijadikan sebagai hewan kurban yang dihadiahkan kepada Baitullah yang suci, bahkan unta merupakan hewan kurban yang terbaik, seperti yang disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

janganlah kalian melanggar syiarsyiar Allah dan jangan me­langgar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadyu dan binatang-binatang qala’id dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang menghalangi Baitullah.
(QS. Al-Ma’idah [5]: 2), hingga akhir ayat.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa Ata pernah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Dan telah Kami jadikan untuk kalian unta-unta itu sebagian dari syiarsyiar Allah.
(QS. Al-Hajj [22]: 36)
Bahwa yang dimaksud dengan budnah ialah sapi dan unta.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Sa’id ibnul Musayyab, dan Al-Hasan Al-Basri.


Mujahid mengatakan, sesungguhnya al-budnah ialah unta.

Menurut saya, penyebutan budnah ditujukan kepada unta merupakan hal yang telah disepakati.
Mereka pun berselisih pendapat mengenai penyebutan budnah terhadap sapi, ada dua pendapat di kalangan mereka.
Yang paling sahih di antara kedua pendapat itu mengatakan, bahwa budnah ditujukan pula kepada sapi menurut syariat, seperti yang disebutkan dalam hadis sahih.

Jumhur
Di dalam
kitab Imam Muslim telah disebutkan sebuah hadis melalui riwayat Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan,
"Kami diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ untuk melakukan patungan dalam berkurban, seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang."

Ishaq ibnu Rahawaih mengatakan, bahwa bahkan seekor sapi atau seekor unta cukup untuk kurban sepuluh orang.
Hal ini telah disebutkan di dalam sebuah hadis yang terdapat di dalam kitab Musnad Imam Ahmad dan Sunan Nasai serta kitabkitab hadis yang lain.
Hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya.

Yakni pahala yang banyak di negeri akhirat kelak.

Diriwayatkan dari Sulaiman ibnu Yazid Al-Ka’bi,dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tidaklah seorang anak Adam melakukan suatu amal yang lebih disukai oleh Allah di Hari Raya Kurban selain dari mengalirkan darah (hewan) kurban.
Sesungguhnya kelak di hari kiamat hewan kurbanku benar-benar datang dengan tanduk, kuku, dan bulunya, dan sesungguhnya darahnya itu benar-benar diterima di sisi Allah, sebelum terjatuh ke tanah.
Maka berbahagialah kalian dengan kurban itu.

Hadis diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Turmuzi.
Imam Turmuzi menilainya hasan.

Sufyan As-Sauri mengatakan bahwa dahulu Abu Hazim berutang seekor unta untuk kurban.
Ketika ditanyakan kepadanya,
"Mengapa kamu berutang dan menggiring hewan kurban?"
Ia menjawab bahwa sesungguhnya ia mendengar Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Tiada sejumlah uang yang dibelanjakan untuk sesuatu yang lebih utama selain dari untuk membeli hewan kurban di Hari Raya Kurban.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Daiuqutni di dalam kitab sunannya.


Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya.
Yaitu pahala dan manfaat-manfaat.


Ibrahim An-Nakha’i mengatakan bahwa pemiliknya boleh mengendarainya dan memerah air susunya jika ia memerlukannya.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka sebutkanlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelih­nya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat).


Diriwayatkan dari Al-Muttalib ibnu Abdullah ibnu Hantab, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ia pernah salat bersama Rasulullah ﷺ di Hari Raya Kurban.
Setelah bersalam dari salatnya, didatangkan kepada beliau seekor domba, lalu beliau menyembelihnya seraya mengucapkan:

Dengan menyebut nama Allah, Allah Mahabesar.
Ya Allah, domba ini adalah kurbanku dan kurban orang-orang dari kalangan umatku yang tidak berkurban.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Abu Daud, dan Imam Turmuzi.

Muhammad ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Ibnu Abbas, dari Jabir yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengurbankan dua ekor domba di Hari Raya Kurban, dan beliau mengucapkan kalimat berikut saat menyembelih keduanya:

Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan Yang menciptakan langit dan bumi dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.
Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah bagi Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi­Nya, dan dengan demikianlah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang mula-mula berserah diri (kepada-Nya).
Ya Allah, kurban ini dari Engkau, ditujukan kepada Engkau, dari Muhammad dan umatnya.

Kemudian beliau ﷺ menyebut basmalah dan takbir, lalu menyembelih­nya.


Diriwayatkan dari Ali ibnul Husain, dari Abu Rafi’, bahwa Rasulullah ﷺ apabila hendak berkurban, beliau membeli dua ekor domba yang gemuk-gemuk, bertanduk, lagi berbulu putih berbelang hitam.
Apabila salat dan khotbah telah beliau jalankan, maka beliau mendatangi salah seekor dari kedua kurbannya, sedangkan beliau ﷺ masih berada di tempat salatnya dalam keadaan berdiri, lalu menyembelih sendiri kurbannya itu dengan pisau penyembelih seraya mengucapkan:

Ya Allah, kurban ini sebagai ganti dari kurban umatku seluruh­nya dari kalangan orang-orang yang telah bersaksi bahwa Engkau Maha Esa dan bersaksi bahwa aku sebagai juru penyampai.
Kemudian didatangkan lagi domba lainnya, dan beliau menyembelihnya seraya berkata:
Kurban ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad.
Maka kedua ekor domba yang telah disembelih itu dagingnya diberikan kepada semua orang miskin, dan beliau beserta keluarganya ikut memakan sebagian darinya.
Hadis riwayat Imam Ahmad Ibnu Majah.

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Abu Zabyan, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
maka sebutlah oleh kalian nama Allah ketika kalian menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat).
(QS. Al-Hajj [22]: 36)
Yakni dalam keadaan berdiri pada tiga kakinya, sedangkan kaki kiri depannya dalam keadaan terikat.
Lalu si penyembelih mengucapkan,
"Bismillah, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah.
Ya Allah, kurban ini dari Engkau, dipersembahkan kepada Engkau."
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ali ibnu AbuTalhah dan Al-Aufi, dari Ibnu Abbas dengan lafaz yang semisal.

Ad-Dahhak mengatakan bahwa unta yang akan disembelih diikat salah satu kakinya sehingga unta berdiri di atas tiga buah kakinya.

Di dalam kitab Sahihain, dari Ibnu Umar, disebutkan bahwa ia mendatangi seorang lelaki yang mendekamkan untanya dengan maksud akan menyembelihnya.
Maka Ibnu Umar berkata,
"Biarkanlah unta itu dalam keadaan berdiri lagi terikat seperti sunnah (kebiasaan) Abul Qasim (Nabi Muhammad ﷺ)."

Diriwayatkan dari Jabir, bahwa Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya bila menyembelih unta, mereka mengikat kaki kiri depannya, sedangkan unta itu tetap dalam keadaan berdiri pada ketiga kakinya (yang tidak terikat):
hadis diriwayatkan oleh Imam Abu Daud.

Ibnu Lahi’ah telah mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ata ibnu Dinar, bahwa Salim ibnu Abdullah pernah mengatakan kepada Sulaiman ibnu Abdul Malik,
"Berdirilah kamu pada sisi kanan (unta)mu dan sembelihlah dari sisi kiri (unta)mu."

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui sahabat Jabir yang menerangkan tentang gambaran haji wada’, yang antara lain disebutkan di dalamnya bahwa Rasulullah ﷺ menyembelih sendiri hewan kurbannya sebanyak tiga ekor (kambing), sedangkan enam puluh ekor unta kurban lainnya beliau tusuk (pada tempat penyembelihannya) dengan tombak (bermata lebar) yang ada di tangannya.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah yang telah mengatakan sehubungan dengan bacaan menurut dialek Ibnu Mas’ud,
"Sawafina,"
bahwa artinya berdiri dalam keadaan terikat.


Sufyan As-Sauri telah mengatakan dari Mansur, dari Mujahid, bahwa orang yang membacanya Sawafina artinya dalam keadaan terikat.
Dan orang yang membacanya sawaf artinya menyatukan di antara kedua kaki depannya (dalam keadaan terikat).

Tawus dan Al-Hasan serta lain-lainnya telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
maka sebutlah oleh kalian nama Allah ketika kalian menyem­belihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat).
(QS. Al-Hajj [22]: 36)
Yakni tulus ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Malik, dari Az-Zuhri.


Abdur Rahman ibnu Zaid telah mengatakan, Sawafi maksudnya,
"Dalam kuburan itu tidak ada suatu kemusyrikan pun sebagaimana kemusyrikan di masa Jahiliyah buat berhalaberhala mereka."

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kemudian apabila telah roboh (mati).

Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa makna yang dimaksud ialah hewan kurban itu roboh ke tanah dalam keadaan telah mati.


Pendapat ini merupakan suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas, hal yang sama telah dikatakan oleh Muqatil ibnu Hayyan.


Al-Aufi telah meriwayatkan dari ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:

Kemudian apabila telah roboh (mati).
Yaitu telah disembelih.


Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

Kemudian apabila telah roboh (mati).
Makna yang dimaksud ialah telah mati.


Pengertian inilah yang dimaksud­kan oleh pendapat Ibnu Abbas dan Mujahid, bahwa sesungguhnya tidak boleh memakan unta yang disembelih kecuali bila telah nyata kematiannya dan tidak bergerak-gerak lagi.


Di dalam sebuah hadis berpredikat marfu‘ telah disebutkan:

Janganlah kalian tergesa-gesa mendahului nyawa sebelum (nyata-nyata) rohnya telah dicabut.

As-Sauri telah meriwayatkannya di dalam kitab Jami -nya melalui Ayyub dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Qarafisah Al-Hanafi, dari Umar ibnul Khattab, bahwa ia telah mengatakan hal tersebut.
Hal ini dikuatkan oleh hadis Syaddad ibnu Aus yang ada di dalam kitab Sahih Muslim, yaitu:

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik terhadap segala sesuatu.
Maka apabila kalian membunuh, lakukanlah dengan cara yang baik.
Dan apabila kalian menyembelih lakukanlah dengan cara yang baik dan hendaklah seseorang di antara kalian menajamkan mata pisaunya serta letakkanlah hewan sembelihannya pada posisi yang enak.

Telah diriwayatkan dari Abu Waqid Al-Lais yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Bagian apa saja dari hewan yang terpotong dalam keadaan hidup, maka bagian yang terpotong itu adalah bangkai.

Hadis riwayat Imam Ahmad, Imam Abu Daud, dan Imam Turmuzi.
Imam Turmuzi menilainya sahih.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.

Sebagian Salaf mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
maka makanlah sebagiannya. bahwa perintah ini menunjukkan hukum ibahah (perbolehan).


Malik mengatakan, memakan sebagian dari hewan kurban hukumnya dianjurkan (sunat).


Selain Imam Malik berpendapat wajib, pendapat ini menurut salah satu di antara pendapat yang ada pada sebagian mazhab Syafii.


Mereka berselisih pendapat tentang pengertian qani’ dan mu’tar.


Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa qani’ artinya orang yang merasa puas dengan pemberianmu, sedangkan ia tetap berada di dalam rumahnya, dan mu’tar artinya orang yang menyindirmu dan mengisyaratkan kepadamu agar memberinya sebagian dari hewan kurbanmu, tetapi ia tidak meminta secara terang-terangan.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Muhammad Ibnu Ka’b Al-Qurazi.

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa qani’ artinya orang yang tidak meminta-minta (padahal ia memerlukannya), sedangkan mu’tar artinya orang yang meminta.
Ini menurut pendapat Qatadah, Ibrahim An-Nakha’i, dan Mujahid, menurut suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas, Ikrimah, Zaid ibnu Aslam, Al-Kalbi, Al-Hasan Al-Basri, Muqatil ibnu Hayyan, dan Malik ibnu Anas mengatakan, al-qani’ artinya orang yang meminta serelanya darimu, sedangkan mu’tar artinya orang yang menyindirmu dan merendahkan dirinya kepadamu, tetapi tidak meminta.
Pendapat ini cukup baik.


Sa’id ibnu Jubair mengatakan, Al-qani’ artinya orang yang meminta.
Tidakkah engkau pernah mendengar ucapan Asy-Syammakh dalam salah satu bait syairnya yang mengatakan:

Sungguh harta seseorang dapat memperbaiki keadaannya, dia menjadi berkecukupan, semua kebutuhannya terpenuhi karenanya, itu lebih baik daripada meminta-minta.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa makna yang dimaksud dari bait syair ini ialah harta seseorang itu dapat memberinya kecukupan daripada meminta-minta.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Zaid.


Zaid ibnu Aslam mengatakan, qani’ artinya orang miskin yang meminta-minta, mu’tar artinya orang yang jujur lagi lemah dan ia datang berkunjung kepadamu."
Pendapat ini dikatakan pula oleh Abdur Rahman ibnu Zaid menurut suatu riwayat dari anaknya yang bersumber darinya.

Mujahid mengatakan pula bahwa qani’ ialah tetanggamu yang kaya, yang dapat melihat segala sesuatu yang masuk ke dalam rumahmu.
Dan mu’tar artinya orang yang mengasingkan dirinya dari keramaian.


Telah diriwayatkan pula dari Mujahid bahwa qani’ adalah orang yang mengharapkan pemberian, sedangkan mu’tar artinya orang yang menampilkan dirinya saat hewan kurban disembelih, baik ia dari kalangan orang yang mampu maupun orang yang tidak mampu.
Dan telah diriwayatkan dari Ikrimah hal yang semisal, menurut suatu pendapat dari Ikrimah, qani’ artinya penduduk Mekah.

Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa qani’ adalah orang yang meminta, karena qani’ artinya orang yang menadahkan tangannya saat meminta.
Sedangkan mu’tar berasal dari i’tira artinya orang yang menampilkan dirinya untuk makan daging hewan kurban.

Sebagian fakir miskin, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta.

Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada orang-orang:

Sesungguhnya saya pernah melarang kalian menyimpan daging kurban selama lebih dari tiga hari, sekarang makanlah dan simpanlah selama semau kalian.


Menurut riwayat lain disebutkan:

maka makanlah dan simpanlah serta bersedekahlah.


Menurut riwayat lain disebutkan pula:

Maka makanlah dan berimakanlah serta bersedekahlah.


Pendapat kedua, bahwa orang yang berkurban memakan separo dan menyedekahkan separonya lagi, karena berdasarkan firman-Nya yang meyatakan:

Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.
(QS. Al-Hajj.
28)

Dan berdasarkan hadis yang menyatakan:

Maka makanlah dan simpanlah serta bersedekahlah.

Jika orang yang berkurban memakan seluruh kurbannya, maka menurut suatu pendapat ia tidak menggantinya barang sedikit pun.
Pendapat inilah yang dikatakan oleh Ibnu Suraij dari kalangan mazhab Syafii.


Sebagian lainnya dari mereka mengatakan bahwa orang yang bersangkutan harus mengganti semua yang dimakannya, atau yang seharga dengannya.


Menurut pendapat yang lainnya dia harus mengganti separonya, dan menurut pendapat yang lainnya lagi harus mengganti sepertiganya.


Sedangkan menurut pendapat yang terakhir, ia hanya diharuskan mengganti sebagian kecil darinya.
Pendapat inilah yang terkenal di kalangan mazhab Imam Syafii.

Adapun mengenai kulit hewan kurban, maka menurut apa yang terdapat di dalam kitab Musnad Imam Ahmad dari Qatadah ibnun Nu’man dalam hadis mengenai hewan kurban disebutkan:

maka makanlah, bersedekahlah, dan manfaatkanlah kulitnya, janganlah kalian menjualnya.

Di antara Diriwayatkan dari Al-Barra ibnu Azib yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya perbuatan yang mula-mula kita lakukan di hari kita sekarang ini ialah mengerjakan salat (Idul Adha), kemudian kita pulang dan menyembelih kurban.
Barang siapa yang mengerjakannya, berarti dia telah melakukan hal yang sesuai dengan sunnah kita.
Dan barang siapa yang menyembelih kurbannya sebelum salat (Hari Raya Idul Adha), maka sesungguhnya sembelihannya itu adalah daging biasa yang ia suguhkan kepada keluarganya, tiada kaitannya dengan kurban sama sekali.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.


Karena itulah maka Imam Syafii dan sejumlah salat hari raya dan dua khotbahnya.


Imam Ahmad menambahkan, hendaknya Imam melakukan penyembelihan sesudah itu, karena berdasarkan hadis yang disebutkan di dalam Sahih Muslim yang menyebutkan,

"Dan janganlah kalian menyembelih kurban sebelum imam menyembelih kurbannya."

Imam Abu Hanifah mengatakan,
"Orang-orang yang tinggal di daerah-daerah terpencil atau di kampung-kampung pedalaman dan lain sebagainya yang jauh dari keramaian, diperbolehkan melakukan penyembelihan kurbannya sesudah fajar terbit, karena tidak disyariatkan mendirikan salat hari raya bagi mereka (menurut pendapat Imam Abu Hanifah).
Adapun orang-orang yang tinggal di daerah-daerah perkotaan, mereka tidak boleh menyembelih hewan kurbannya sebelum imam usai dari salatnya."
Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Kemudian menurut suatu pendapat, tidak disyariatkan menyembelih kurban kecuali hanya pada Hari Raya Kurban saja.
Menurut pendapat yang lainnya, bagi penduduk perkotaan penyembelihan dilakukan pada Hari Raya Kurban, karena mudahnya mendapatkan hewan kurban di kalangan mereka.
Adapun bagi penduduk daerah pedalaman dan kampung-kampung yang jauh, maka menyembelih hewan kurban dapat dilakukan pada Hari Raya Kurban dan hari-hari Tasyriq sesudahnya, pendapat ini dikatakan oleh Sa’id ibnu Jubair.
Menurut pendapat lain, Hari Raya Kurban dan satu hari lagi sesudahnya bagi semua orang.
Menurut pendapat lainnya lagi, dua hari sesudahnya selain Hari Raya Kurban, pendapat ini dikatakan oleh Imam Ahmad.

Menurut pendapat yang lain, Hari Raya Kurban dan tiga hari Tasyriq sesudahnya.
Pendapat ini dikatakan oleh Imam Syafii berdasarkan hadis Jubair ibnu Mut’im yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Hari-hari Tasyriq semuanya adalah hari penyembelihan kurban.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kalian, mudah-mudahan kalian bersyukur.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, bahwa untuk tujuan itulah,

Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kalian.

Yakni Kami tundukkan unta-unta itu bagi kalian dan Kami jadikan mereka tunduk patuh kepada kalian.
Jika kalian ingin mengendarainya, kalian dapat mengendarainya, dan jika kalian ingin memerah air susunya, kalian dapat memerahnya, dan jika kalian ingin dagingnya, kalian dapat menyembelihnya.
Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?
(Yaa Siin:71)

sampai dengan firman-Nya:

Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
(Yaa Siin:73)


Di dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:

Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kalian, mudah-mudahan kalian bersyukur.

Unsur Pokok Surah Al Hajj (الحجّ)

Surat Al-Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Sebab perbedaan ini ialah karena sebagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj", karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedahfaedah dan hikmahhikmah disyari’atkannya haji.

Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahimalaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahimalaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam.

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

▪ Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat.
▪ Dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

▪ Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim `alaihis salam.
Hukum berkata dusta.
▪ Larangan menyembah berhala.
▪ Binatang-binatang yang halal dimakan.
Hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil-haram.
▪ Keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama.
Hukum hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

▪ Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela.
▪ Tanda tanda takwa yang sampai ke hati.
▪ Tiap-tiap agama yang dibawa rasulrasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya.
▪ Pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah.
▪ Sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat-ayat Alquran.
▪ Anjuran berjihad dengan sesungguhnya.
▪ Celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Audio

QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 78 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 78

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Hajj ayat 36 - Gambar 1 Surah Al Hajj ayat 36 - Gambar 2
Statistik QS. 22:36
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, “Haji”) adalah surah ke-22 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku’ 10 ruku’
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
Sending
User Review
4.8 (20 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

22:36, 22 36, 22-36, Surah Al Hajj 36, Tafsir surat AlHajj 36, Quran Al-Haj 36, Alhaj 36, Al Haj 36, Al-Hajj 36, Surah Al Hajj ayat 36

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Hajj

۞ QS. 22:1 Ar Rabb (Tuhan) • Nama-nama hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kedahsyatan hari kiamat •

۞ QS. 22:2 • Kedahsyatan hari kiamat • Penghimpunan manusia dan keadaan mereka

۞ QS. 22:3 • Sifat iblis dan pembantunya • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:4 • Sifat iblis dan pembantunya • Azab orang kafir

۞ QS. 22:5 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan • Usia dan rezeki sesuai dengan takdir

۞ QS. 22:6 • Kekuasaan Allah • Al Haq (Maha Benar) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur

۞ QS. 22:7 • Kiamat telah dekat • Kepastian hari kiamat • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan •

۞ QS. 22:9 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:10 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menanggung dosa orang lain • Maksiat dan dosa

۞ QS. 22:11 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 22:12 • Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Keputusan di tangan Allah • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:13 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:14 • Pahala iman • Sifat Iradah (berkeinginan) • Sifat surga dan kenikmatannya • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:15 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berbaik sangka terhadap Allah

۞ QS. 22:16 Sifat Iradah (berkeinginan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Allah menggerakkan hati manusia • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 22:17 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Derajat para pemeluk agama • Keutamaan iman

۞ QS. 22:18 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’alaHukum alam • Sifat Masyi’ah (berkehendak)

۞ QS. 22:19 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:20 • Sifat neraka • Makanan dan minuman ahli neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:21 • Sifat neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:22 • Sifat neraka • Mereka yang kekal dalam neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:23 • Pahala iman • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga • Pakaian ahli surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 22:24 Al Hamid (Maha Terpuji) • Sifat ahli surga

۞ QS. 22:26 Islam agama para nabi

۞ QS. 22:30 Ar Rabb (Tuhan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:31 • Kewajiban hamba pada Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 22:32 • Pentingnya berbuat dengan teliti

۞ QS. 22:34 Tauhid UluhiyyahAl Wahid (Maha Esa)

۞ QS. 22:37 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Perbuatan dan niat • Pentingnya berbuat dengan teliti • Kebutuhan muslim terhadap amal salehHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 22:38 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Keutamaan iman •

۞ QS. 22:39 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 22:40 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukminAr Rabb (Tuhan) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat) •

۞ QS. 22:41 • Kekuatan umat Islam di dunia

۞ QS. 22:44 • Azab orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 22:45 • Azab orang kafir

۞ QS. 22:46 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:47 • Allah menepati janji • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 22:48 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Maksiat dan dosa

۞ QS. 22:50 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 22:51 • Mengingkari hari kebangkitan • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 22:52 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Qur’an terpelihara dari penyelewengan • Sifat iblis dan pembantunya • Usaha jin untuk melalaikan manusia dalam beribadah

۞ QS. 22:53 • Sifat iblis dan pembantunya • Sifat orang munafik

۞ QS. 22:54 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Al Hadi (Maha Pemberi petunjuk) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 22:55 • Nama-nama hari kiamat • Hari kiamat datang tiba-tiba • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia

۞ QS. 22:56 • Pahala iman • Segala sesuatu milik Allah • Nama-nama surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Keutamaan iman

۞ QS. 22:57 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 22:58 • Pahala iman

۞ QS. 22:59 • Pahala iman • Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 22:60 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) •

۞ QS. 22:61 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) •

۞ QS. 22:62 Tauhid Uluhiyyah • Al Haq (Maha Benar) • Al ‘Aliyy (Maha Tinggi) • Al Kabir (Maha Besar) • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:63 Al Khabir (Maha Waspada) • Al Lathif (Maha Halus) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 22:64 • Segala sesuatu milik Allah • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya)

۞ QS. 22:65 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 22:66 Tauhid Rububiyyah • Kekuasaan Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur •

۞ QS. 22:67 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 22:68 • Keluasan ilmu Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 22:69 • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 22:70 • Keluasan ilmu Allah • Kekuasaan Allah • Lembaran catatan amal perbuatan • Menghitung amal kebaikan •

۞ QS. 22:72 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Maksiat dan dosa •

۞ QS. 22:73 • Kelemahan tuhan selain Allah

۞ QS. 22:74 Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Al Qawiy (Maka Kuat)

۞ QS. 22:75 • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 22:76 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 22:77 Ar Rabb (Tuhan) • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 22:78 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Al Maula (Maha Penolong) • An-Nashir (Maha Penolong) • Islam agama yang diterima di sisi Allah

Ayat Pilihan

Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya & berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) & harapan (akan dikabulkan).
Sungguh rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik
QS. Al-A’raf [7]: 56

Siapa bertemu Tuhannya dalam keadaan beriman & beramal saleh, maka akan peroleh kedudukan tinggi (yaitu) surga yang mengalir sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya.
Dan itu balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran & kemaksiatan)
QS. Ta Ha [20]: 75-76

Hai Bani Israil,
ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu & Aku telah melebihkan kamu atas segala umat yang lain di alam ini.
QS. Al-Baqarah [2]: 122

Tidakkah kau lihat bahwa Allah turunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya.
Dan di antara gunung ada garis-garis putih & merah yang beraneka macam warnanya & ada yang hitam pekat
QS. Fatir [35]: 27

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Allah Subhanahu Wa Ta`ala tidak akan merubah nasib suatu kaum , sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya, arti ayat tersebut terdapat dalam Alquran surah ar-Rad ayat ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
'Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.'
--QS. Ar Ra'd [13] : 11

Setiap bencana dan musibah yang menimpa manusia di bumi sudah tertulis dalam kitab ...

Benar! Kurang tepat!

Pembukuan Alquran dilakukan pada masa khalifah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Bu Nindi mempersiapkan pakaian bayi, karena bu Nindi tidak lama lagi akan melahirkan bayinya, perilaku bu Nindi termasuk meyakini ... Allah Subhanahu Wa Ta`ala.

Benar! Kurang tepat!

Salah satu contoh hikmah beriman kepada qada bagi siswa adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #21
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #21 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #21 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #5

Berikut ini, yang tidak mengandung moral terpuji, adalah … Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan … Lawan kata dari jujur ??adalah … Orang yang suka berbohong adalah orang … Bekerja tepat waktu adalah salah satu ciri orang yang …

Pendidikan Agama Islam #11

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah … Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah … Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara … Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan … Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah …

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah terdiri dari … ayat.Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal … أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti …وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat …Surah Al-Insyirah turun sesudah surah …

Kamus

Gosyen

Di mana itu Gosyen? Tanah Gosyen (bahasa Ibrani: אֶרֶץ גֹּשֶׁן atau ארץ גושן Eretz Gošen; bahasa Inggris: Land of Goshen) adalah nama tempat di Mesir yang disebut dalam Alkitab Ibr...

ikamah

Apa itu ikamah? ika.mah panggilan atau seruan segera berdiri untuk salat (berjemaah) … •

Jannatul-Baqī‘

Di mana itu Jannatul-Baqī‘? Jannatul-Baqī‘ adalah pemakaman utama yang terletak di Madinah, Arab Saudi, berseberangan dengan Masjid Nabawi di mana Nabi Muhammad dikuburkan. Di pemakaman ini bany...