Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Hajj

Al Hajj (Haji) surah 22 ayat 29


ثُمَّ لۡیَقۡضُوۡا تَفَثَہُمۡ وَ لۡیُوۡفُوۡا نُذُوۡرَہُمۡ وَ لۡیَطَّوَّفُوۡا بِالۡبَیۡتِ الۡعَتِیۡقِ
Tsumma lyaqdhuu tafatsahum walyuufuu nudzuurahum walyath-thau-wafuu bil baitil ‘atiiq(i);

Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).
―QS. 22:29
Topik ▪ Sikap manusia terhadap kitab samawi
22:29, 22 29, 22-29, Al Hajj 29, AlHajj 29, Al-Haj 29, Alhaj 29, Al Haj 29, Al-Hajj 29
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 29. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa setelah orang yang mengerjakan ibadah haji selesai menyembelih binatang kurban, hendaklah mereka melakukan tiga hal:

1.
Menghilangkan dengki atau kotoran yang ada pada diri mereka, yaitu dengan menggunting misai, menggunting rambut, mengerat kuku dan sebagainya.
Hal ini diperintahkan karena perbuatan-perbuatan itu dilarang melakukannya selama mengerjakan ibadah haji.
Perbuatan ini dinamakan "tahalul".

2.
Melaksanakan nazar yang pernah diikrarkan, karena pada waktu, tempat dan keadaan inilah yang paling baik menyempurnakan nazar.

3.
Melakukan tawaf di Baitul Atik.
Yang dimaksud dengan tawaf dalam ayat ini adalah tawaf ifadah.
Ada tiga macam, yaitu tawaf qudum, tawaf atau berjalan mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali pada waktu pertama kali datang ke Mekah.
Tawaf wada' yaitu tawaf yang dilakukan waktu akan meninggalkan Mekah, selesai menunaikan ibadah haji.
Tawaf Ifadah, yaitu tawaf yang dilakukan dalam rangka mengerjakan ibadah haji.
Tawaf ifadah termasuk salah satu dari rukun haji.

Dalam ayat ini Baitullah disebut Baitul Atik, yang berarti "rumah tua" karena Baitullah adalah rumah ibadah pertama kali didirikan oleh Nabi Ibrahim a.s.
beserta putranya Nabi Ismail as.
kemudian barulah di dirikan Baitulmakdis oleh Nabi Daud a.s.
beserta Nabi Sulaiman as.

Al Hajj (22) ayat 29 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Hajj (22) ayat 29 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Hajj (22) ayat 29 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Setelah itu mereka harus menghilangkan kotoran yang melekat di badan akibat perjalanan jauh dan pengaruh keringat pada saat berihram, membayar nazar atas nama Allah apabila mereka memang bernazar, dan melakukan tawaf di sekeliling rumah ibadah yang pertama-tama dibangun di muka bumi.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka) maksudnya hendaklah mereka merapihkan ketidakrapihan diri mereka seperti memotong rambut dan kuku yang panjang (dan hendaklah mereka menunaikan) dapat dibaca Walyuufuu dan Walyuwaffuu (nazar-nazar mereka) dengan menyembelih hewan ternak sebagai hewan kurban (dan hendaklah mereka melakukan tawaf) tawaf ifadah (sekeliling rumah yang tua itu) yakni rumah kuno, karena ia adalah rumah pertama yang dibuat untuk ibadah manusia.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kemudian orang-orang yang melaksanakan haji hendaklah menyempurnakan manasik mereka yang masih tersisa, dengan melakukan tahallul dan keluar dari ihram mereka.
Yaitu dengan menghilangkan kotoran yang menumpuk pada tubuh mereka, memotong kuku mereka, dan mencukur rambut mereka.
Hendaklah mereka menyempurnakan haji, umrah dan sembelihan yang mereka wajibkan atas diri mereka.
Dan hendaklah mereka melakukan Thawaf di sekeliling al-Bait al-‘Atiq yang tua itu yang telah Allah bebaskan dari kekuasaan para penguasa durjana, yaitu Ka’bah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka.

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah melepaskan ihram dengan bercukur, memakai pakaian biasa, memotong kuku, dan lain-lainnya.

Ikrimah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna fiman-Nya:

Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka.
Bahwa yang dimaksud dengan tafas ialah manasik-manasik haji.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa hendaklah orang yang bersangkutan menyembelih kurban yang dinazarkannya.

Ibnu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:

dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka.
Yakni nazar haji dan menyembelih kurban, serta segala sesuatu yang dinazarkan seseorang dalam ibadah hajinya.

Ibrahim ibnu Maisarah telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:

dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka
Yaitu menyembelih hewan-hewan kurban mereka.

Lais ibnu Abu Sulaim telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:

dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka
Maksudnya, semua nazar dalam waktu tertentu.

Ikrimah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka
Yakni ibadah haji mereka.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Ibnu Abu Hatim.
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan sehubungan dengan firman-Nya:

dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka
Yakni nazar-nazar haji.

Semua orang yang telah memasuki haji diharuskan mengerjakan tawaf di Baitullah, sa'i di antara Safa dan Marwah, wuquf di Arafah dan Muzdalifah, dan melempar jumrah sesuai dengan apa yang telah diperintahkan kepada mereka untuk mengerjakannya.
Telah di­riwayatkan pula dari Imam Malik hal yang semisal dengan pendapat ini.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).

Mujahid mengatakan, makna yang dimaksud ialah tawaf wajib di Hari Raya Kurban.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Abu Hamzah yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah berkata kepadanya, "Apakah engkau pernah membaca surat Al-Hajj?
Yang di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan:

dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).

Maka sesungguhnya akhir dari manasik haji itu ialah tawaf di Baitullah Al-'Atiq."

Menurut saya, memang demikianlah apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ Karena sesungguhnya setelah beliau kembali ke Mina di Hari Raya Kurban, beliau mulai melempar jumrah.
Beliau melemparnya dengan tujuh buah batu kerikil.
Kemudian menyembelih kurbannya dan mencukur rambutnya, setelah itu beliau berangkat dan melakukan tawaf ifadah di Baitullah.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Ibnu Abbas bahwa ia memerintahkan kepada orang-orang agar akhir dari ibadah haji mereka adalah di Baitullah, yaitu dengan melakukan tawaf ifadah di sekelilingnya.
Hanya ia memberikan kemurahan (dispensasi) kepada wanita yang sedang berhaid.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

di sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).

Di dalam makna ayat ini terkandung dalil bagi orang yang mengatakan bahwa melakukan tawaf diwajibkan di luar Hijir Isma'il.
Karena Hijir Isma'il pada asalnya termasuk bagian dari Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.
Orang-orang Quraisy mengeluarkannya dari bangunan Ka'bah saat mereka merenovasi Ka'bah karena kekurangan biaya.
Karena itulah maka Rasulullah ﷺ dalam tawafnya selalu berada di luar Hijir Isma'il, dan beliau mengatakan bahwa Hijir Isma'il termasuk bagian dalam Ka'bah.
Rasulullah ﷺ tidak mengusap kedua rukun Syam Ka'bah karena keduanya masih belum sempurna tidak sesuai dengan bangunan Nabi Ibrahim yang terdahulu.

Karena itulah Ibnu Abu Hatim mengatakan dalam riwayatnya, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar Al-Adani, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Hisyam ibnu Hajar, dari seorang lelaki, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa tatkala ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya:

dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).
Maka Rasulullah ﷺ tawaf di luar Hijir Isma'il.

Qatadah telah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan makna firman-Nya:

dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).
Bahwa Ka'bah disebutkan Al-'Atiq karena ia merupakan rumah yang pertama dibangun untuk tempat ibadah manusia di bumi ini.

Telah diriwayatkan dari Ikrimah ia pernah mengatakan bahwa sesungguhnya Ka'bah dinamakan Baitul 'Atiq karena diselamatkan dari tenggelam saat banjir besar di zaman Nabi Nuh.

Khasif mengatakan bahwa Ka'bah dinamakan Baitul 'Atiq karena belum pernah ada seorang pun yang bersikap sewenang-wenang terhadapnya dapat beroleh kemenangan.

Ibnu Abu Nujaih dan Lais telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Ka'bah dimerdekakan oleh Allah dari semua orang yang sewenang-wenang (tirani), mereka sama sekali tidak dapat menguasainya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah.

Hammad ibnu Salamah telah meriwayatkan dari Humaid, dari Al-Hasan ibnu Muslim, dari Mujahid, bahwa dinamakan Baitul 'Atiq karena tiada seorang pun yang berniat jahat terhadapnya melainkan pasti binasa.

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Ibnuz Zubair yang mengatakan, "Sesungguhnya Ka'bah dinamakan Baitul 'Atiq karena Allah subhanahu wa ta'ala telah memerdekakannya dari semua orang yang bersikap tirani."

Imam Turmuzi mengatakan telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepadaku Al-Lais, dari Abdur Rahman ibnu Khalid, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad ibnu Urwah, dari Abdullah ibnuz Zubair yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Sesungguhnya Ka'bah dinamakan Baitul 'Atiq karena belum pernah ada seorang tirani pun berkuasa terhadapnya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Muhammad ibnu Sahl Al-Muharibi, dari Abdullah ibnu Saleh dengan sanad yang sama.
Ibnu Jarir mengatakan, sesungguhnya hadis ini sahih.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.
Kemudian Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui jalur lain dari Az-Zuhri secara mursal.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 29

TAFATSAHUM
تَفَثَهُمْ

At tafats adalah mashdar, berasal dari tafitsa-yatfatsu artinya meninggalkan kekotoran dengan memakai wangi-wangian dan bercukur, yang kusut, berdebu dan kotor dinamakan tafath.

Disebut sekali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Hajj (22), ayat 29.
Allah berfirman:

ثُمَّ لْيَقْضُوا۟ تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا۟ نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا۟ بِٱلْبَيْتِ ٱلْعَتِيقِ

Ar Razi berkata,
at tafats dalam amalan­-amalan ibadah haji termasuk memotong kuku, kumis, mencukur rambut, bulu ketiak, melontar jumrah, berkurban dan sebagainya.

Ibn Abbas, Mujahid, Ibn Juraij, Ad Dahhak, dan yang lainnya menyatakan at tafats adalah mencukur rambut, kumis, bulu ketiak, memotong kuku, melontar jumrah, wukuf di Muzdalifah dan 'Arafah.

Muhammad bin Ka'ab Al Qurazi berkata,
at tafats adalah melontar jumrah, berkurban, memotong kuku, merapikan janggut, tawaf dan sa'i antara Shafa dan Marwah.

Sa'id Hawwa menyatakan, ayat liyaqdhuu tafatshahum maknanya hendaklah mereka (yang mengerjakan haji) menghilangkan daki dan kotoran dan menghilangkan tafats secara sempurna adalah dengan memotong kuku, kumis, bulu ketiak dan sebagainya.

Diriwayatkan oleh Ikrimah dari Ibn Abbas, tafatsahum adalah amalan-amalan haji.

Kesimpulannya, liyaqdhuu tafatsahum memiliki makna membersihkan dan menghilangkan segala kekotoran badan sebelum menunaikan haji. Sedangkan hum bermaksud kata ganti nama (dhamir) yang bermaksud mereka. Oleh karena itu, kata tafatsahum bermakna mereka yang hendak menunaikan haji mesti membersihkan dan menghilangkan segala kekotoran badan sebelum menunaikan haji.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:107

Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj",
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar·syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan di masa Nabi Ibrahim 'alaihis salam, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama puteranya Ismail 'alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari'at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur'an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri


Gambar Kutipan Surah Al Hajj Ayat 29 *beta

Surah Al Hajj Ayat 29



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Hajj

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain -
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 10 ruku'
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
4.5
Rating Pembaca: 4.9 (13 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku