Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 27 [QS. 22:27]

Topik ▪ Ayat yang berhubungan dengan Umayyah bin Khalaf
وَ اَذِّنۡ فِی النَّاسِ بِالۡحَجِّ یَاۡتُوۡکَ رِجَالًا وَّ عَلٰی کُلِّ ضَامِرٍ یَّاۡتِیۡنَ مِنۡ کُلِّ فَجٍّ عَمِیۡقٍ
Wa-adz-dzin fiinnaasi bil hajji ya’tuuka rijaaalan wa’ala kulli dhaamirin ya’tiina min kulli fajjin ‘amiiqin;
Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.
―QS. Al Hajj [22]: 27

And proclaim to the people the Hajj (pilgrimage);
they will come to you on foot and on every lean camel;
they will come from every distant pass –
― Chapter 22. Surah Al Hajj [verse 27]

وَأَذِّن dan serulah

And proclaim
فِى kepada

to
ٱلنَّاسِ manusia

[the] mankind
بِٱلْحَجِّ untuk mengerjakan haji

[of] the Pilgrimage;
يَأْتُوكَ mereka akan datang kepadamu

they will come to you
رِجَالًا berjalan kaki

(on) foot
وَعَلَىٰ dan atas

and on
كُلِّ tiap-tiap (mengendarai)

every
ضَامِرٍ onta kurus

lean camel;
يَأْتِينَ mereka datang

they will come
مِن dari

from
كُلِّ tiap-tiap/segenap

every
فَجٍّ jalan/penjuru

mountain highway
عَمِيقٍ dalam/jauh

distant.

Tafsir

Alquran

Surah Al Hajj
22:27

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 27. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as agar menyeru manusia untuk mengerjakan ibadah haji ke Baitullah dan menyampaikan kepada mereka bahwa ibadah haji itu termasuk ibadah yang diwajibkan bagi kaum Muslimin.


Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa perintah Allah dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Ibrahim as yang baru saja selesai membangun Ka’bah.

Pendapat ini sesuai dengan ayat ini, terutama jika diperhatikan hubungannya dengan ayat-ayat yang sebelumnya.
Pada ayat-ayat yang lalu disebutkan perintah Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ agar mengingatkan orang-orang musyrik Mekah akan peristiwa waktu Allah memerintah Ibrahim supaya membangun Ka’bah, sedang ayat-ayat ini menyuruh orang-orang musyrik itu mengingat peristiwa ketika Allah memerintahkan Ibrahim menyeru manusia agar menunaikan ibadah haji.


Pendapat ini sesuai pula dengan riwayat Ibnu ‘Abbas dari Jubair yang menerangkan, bahwa tatkala Ibrahim as selesai membangun Ka’bah, Allah memerintahkan kepadanya,
"Serulah manusia untuk mengerjakan ibadah haji."


Ibrahim as menjawab,
"Wahai Tuhan, apakah suaraku akan sampai kepada mereka?"
Allah berkata,
"Serulah mereka, Aku akan menyam-paikannya.
"
Maka Ibrahim naik ke atas bukit Abi Qubais, lalu mengucapkan dengan suara yang keras,
"Wahai sekalian manusia, se-sungguhnya Allah benar-benar telah memerintahkan kepadamu sekalian mengunjungi rumah ini, supaya Dia memberikan kepadamu surga dan melindungi kamu dari azab neraka, karena itu tunaikanlah olehmu ibadah haji itu."
Maka suara itu diperkenalkan oleh orang-orang yang berada dalam tulang sulbi laki-laki dan orang-orang yang telah berada dalam rahim perempuan, dengan jawaban,
"Labbaika, Allahumma labbaika".

Maka berlakulah
"talbiyah"
dengan cara yang demikian itu.
Talbiyah ialah doa yang diucapkan orang yang sedang mengerjakan ibadah haji atau umrah, doa itu ialah,
"Labbaika, Allahumma Labbaika.
"


Al-Hasan berpendapat bahwa perintah Allah dalam ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Alasan beliau ialah semua perkataan dan pembicaraan dalam ayat-ayat Alquran itu ditujukan kepada Nabi Muhammad ﷺ, termasuk di dalamnya perintah melaksanakan ibadah haji ini.

Perintah ini telah dilaksanakan oleh Rasulullah bersama para sahabat dengan mengerjakan haji wada’ (haji yang penghabisan), sebagaimana tersebut dalam hadis:


Dari Abi Hurairah, ia berkata,
"Rasulullah telah berkhotbah dihadapan kami, beliau berkata,
"Wahai sekalian manusia Allah telah mewajibkan atasmu ibadah haji, maka kerjakanlah ibadah haji."
(Riwayat Ahmad)


Jika diperhatikan, maka sebenarnya kedua pendapat ini tidaklah berlawanan.
Karena perintah menunaikan ibadah haji itu ditujukan kepada Nabi Ibrahim dan umatnya diwaktu beliau selesai membangun Ka’bah.
Kemudian setelah Nabi Muhammad ﷺ diutus, maka perintah itu diberikan pula kepadanya, sehingga Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya diwajibkan pula menunaikan ibadah haji itu, bahkan ditetapkan sebagai rukun Islam yang kelima.


Dalam ayat ini terdapat perkataan,
"…niscaya mereka akan datang kepadamu…"
Dari perkataan ini dipahami, seakan-akan Tuhan mengatakan kepada Ibrahim as bahwa jika Ibrahim menyeru manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya manusia akan memenuhi panggilannya itu, mereka akan berdatangan dari segenap penjuru dunia walaupun dengan menempuh perjalanan yang sulit dan sukar.
Siapapun yang memenuhi panggilan itu, baik waktu itu maupun kemudian hari, maka berarti ia telah datang memenuhi panggilan Allah seperti Ibrahim dahulu telah memenuhi pula.
Ibrahim dahulu pernah Allah perintahkan datang ke Mekah yang masih sepi, Ibrahim memenuhinya walaupun perjalanannya sukar, melalui terik panas padang pasir yang terbentang antara Mekah dan Syiria.
Perintah itu telah dilaksanakan dengan baik, bahkan Ibrahim bersedia menyembelih anak kandungnya Ismail, semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah, karena itu Allah akan menyediakan pahala yang besar untuk Ibrahim, dan pahala yang seperti itu akan Allah berikan pula kepada siapa yang berkunjung ke Baitullah ini, terutama bagi orang yang sengaja datang ke Mekah ini untuk melaksanakan ibadah haji.
Perkataan ini merupakan penghormatan bagi Ibrahim dan menunjukkan betapa besar pahala yang disediakan Allah bagi orang-orang yang menunaikan ibadah haji semata-mata karena Allah.


Para ulama sependapat bahwa datang ke Baitullah untuk mengerjakan ibadah haji dibolehkan mempergunakan kendaraan dan cara-cara apa saja yang dihalalkan, seperti dengan berjalan kaki, dengan kapal laut atau dengan pesawat terbang atau dengan kendaraan melalui darat dan sebagainya.
Tetapi Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa pergi menunaikan ibadah haji dengan menggunakan kendaraan melalui perjalanan darat itu lebih baik dan lebih besar pahalanya, karena cara yang demikian itu mengikuti perbuatan Rasulullah.
Dengan cara yang demikian diperlukan perbelanjaan yang banyak, menempuh perjalanan yang sukar serta menambah syi’ar ibadah haji, terutama di waktu melalui negara-negara yang ditempuh selama dalam perjalanan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa berjalan kaki lebih utama dari berkendaraan, karena dengan berjalan kaki lebih banyak ditemui kesulitankesulitan daripada dengan berkendaraan.
Dalam masalah ini berkendaraan atau tidak adalah masalah teknis saja.
Secara umum Islam tidak menghendaki kesukaran tetapi kemudahan.
Islam juga tidak membebani seseorang sesuatu yang dia tidak mampu melakukannya.


Melaksanakan ibadah haji baik dengan kendaraan atau pun dengan berjalan kai, pasti akan memperoleh pahala yang besar dari Allah, jika ibadah itu semata-mata dilaksanakan karena Allah.
Yang dinilai adalah niat dan keikhlasan seseorang serta cara-cara melaksanakannya.
Sekalipun sulit perjalanan yang ditempuh, tetapi niat mengerjakan haji itu bukan karena Allah maka ia tidak akan memperoleh sesuatu pun dari Allah, bahkan sebaliknya ia akan diazab dengan azab yang sangat pedih karena niatnya itu.


Jika seseorang telah sampai di Mekah dan melihat Baitullah, disunnahkan mengangkat tangan, sebagaimana tersebut dalam hadis:


Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas ra dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
"Diangkat kedua tangan pada tujuh tempat, yaitu pada pembukaan salat, waktu menghadap Baitullah, waktu menghadap bukit Safa dan bukit Marwah, waktu menghadap dua tempat (Arafah dan Muzdalifah) dan waktu melempar dua jamrah."
(Riwayat Ahmad)
Hadis ini diamalkan oleh Ibnu Umar ra.

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 27. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Beritahukan kepada manusia bahwa Allah telah mewajibkan kepada semua orang yang mampu untuk mengunjungi rumah ini, hingga mereka memenuhi panggilanmu dengan berjalan kaki atau mengendarai unta yang menjadi lelah akibat perjalanan dari tempat yang jauh.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Beritahukanlah, wahai Ibrahim, kepada manusia tentang kewajiban mengerjakan haji atas mereka, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan bermacam-macam keadaan mereka, dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang langsing, (yakni unta yang sedikit dagingnya karena terlalu banyak berjalan dan bekerja bukan karena kurus) yang datang dari segenap jalan yang jauh.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan berserulah) serukanlah


(kepada manusia untuk mengerjakan haji) kemudian Nabi Ibrahim naik ke puncak bukit Abu Qubais, lalu ia berseru,
"Hai manusia! Sesungguhnya Rabb kalian telah membangun Baitullah dan Dia telah mewajibkan kalian untuk melakukan haji, maka sambutlah seruan Rabb kalian ini".
Lalu Nabi Ibrahim menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri serta ke arah Timur dan ke arah Barat.
Maka menjawablah semua orang yang telah ditentukan baginya dapat berhaji dari tulang-tulang sulbi kaum lelaki dan rahim-rahim kaum wanita, seraya mengatakan,
"Labbaik allaahumma Labbaika",
artinya:
Ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu, Ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu.
Sedangkan Jawab dari Amar yang di muka tadi ialah


(niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki) lafal Rijaalan adalah bentuk jamak dari lafal Raajilun, wazannya sama dengan lafal Qaaimun yang bentuk jamaknya adalah Qiyaamun, artinya berjalan kaki


(dan) dengan berkendaraan


(dengan menaiki unta yang kurus) karena lamanya perjalanan, lafal Dhamirin dapat ditujukan kepada jenis jantan dan betina


(mereka datang) yakni unta-unta kurus itu yang dimaksud adalah orang-orang yang mengendarainya


(dari segenap penjuru yang jauh) dari daerah yang perjalanannya sangat jauh.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji.

Yaitu serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji ke Baitullah ini yang Kami perintahkan kamu untuk membangunnya.


Menurut suatu pendapat, Nabi Ibrahim berkata,
"Wahai Tuhanku, bagaimanakah saya menyampaikan seruan itu kepada manusia, sedangkan suara saya tidak dapat mencapai mereka?"
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
"Berserulah kamu, dan Akulah yang menyampaikannya."
Maka Ibrahim berdiri di maqamnya.


Menurut pendapat lain di atas sebuah batu.
Menurut pendapat yang lainnya di atas Bukit Safa.


Dan menurut pendapat yang lainnya lagi, bahwa Ibrahim menaiki bukit Abu Qubais, lalu berseru,
"Hai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian telah membuat sebuah rumah (Baitullah), maka berhajilah (berziarahlah) kalian kepadanya."

Menurut suatu pendapat, setelah Ibrahim mengumandangkan seruan itu semua bukit dan gunung merendahkan dirinya, sehingga suaranya mencapai seluruh permukaan bumi, bayi-bayi yang masih berada di dalam rahim dan tulang sulbi dapat mendengar seruannya dan segala sesuatu yang mendengar suaranya menjawabnya, baik batu-batuan, pohon-pohonan, dan lain sebagainya.
Didengar pula oleh semua orang yang telah dicatat oleh Allah bahwa dia akan mengerjakan haji, sampai hari kiamat.
Jawaban mereka ialah
"Labbaika Allahumma Labbaika (Kami penuhi seruan-Mu, ya Allah.
Kami penuhi seruan-Mu, ya Allah).


Demikianlah garis besar dari apa yang telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, dan Sa’id ibnu Jubair serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim mengetengahkan riwayat ini dengan panjang lebar.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus., hingga akhir ayat.

Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai dalilnya untuk mengatakan bahwa ibadah haji dengan berjalan kaki bagi orang yang mampu melakukannya adalah lebih utama daripada berkendaraan, karena sebutan jalan kaki menempati rangking yang pertama dalam ayat ini.
Hal ini menunjukkan perhatian Allah yang sangat besar kepada mereka, juga menunjukkan kekuatan tekad serta kerasnya kemauan mereka.

Waki’ telah meriwayatkan dari Abul Umais, dari Abu Halhalah, dari Muhammad ibnu Ka’b, dari Ibnu Abbas yang mengatakan,
"Saya tidak melakukan sesuatu yang buruk, kecuali hanya ingin melakukan ibadah haji dengan jalan kaki, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

‘niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki’

Akan tetapi, pendapat yang dikatakan oleh kebanyakan ulama yaitu melakukan ibadah haji dengan berkendaraan adalah lebih utama karena mengikut perbuatan Rasulullah ﷺ Sesungguhnya beliau ﷺ melakukan ibadah hajinya dengan berkendaraan, padahal kekuatan beliau ﷺ sangat prima.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

yang datang dari segenap penjuru yang jauh.

Yang dimaksud dengan kata fajjin ialah jalan atau penjuru.
Sama pengertiannya dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:

dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas (QS. Al-Anbiyaa [21]: 31)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan,
"Amiq"
artinya jauh, menurut Mujahid, Ata, As-Saddi, Qatadah, Muqatil ibnu Hayyan, dan As-Sauri serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.


Makna ayat ini sama dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam menceritakan perihal Nabi Ibrahimalaihis salam yang mengatakan dalam doanya:

maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka.
(QS. Ibrahim [14]: 37)

Maka tiada seorang pun yang memeluk agama Islam, melainkan hatinya rindu ingin melihat Ka’bah dan melakukan tawaf di sekelilingnya, kaum muslim dari segala penjuru dunia bertujuan untuk menziarahinya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Hajj (22) Ayat 27

Diriwayatkan oleh Jabir yang bersumber dari Mujahid bahwa diantara kaum Mukminin yang naik haji terdapat orang-orang yang tidak berkendaraan.
Maka turunlah ayat ini (al-Hajj: 27).
Pada kesempatan lain kaum Mukminin diperintahkan membawa bekal serta diizinkan pula berkendaraan dan membawa dagangan.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 27

DHAAMIIR
ضَامِر

Lafaz dhumuur digunakan untuk memberi sifat kepada tumbuhan, hewan dan manusia.
Artinya adalah kecil atau yang kurus bentuknya.
Apabila dikatakan jamilun dhaamir, artinya adalah unta yang badannya ringan dan lemah serta dagingnya sedikit.

Lafaz ini disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Hajj (22) ayat 27. Dalam ayat ini, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah menyeru manusia supaya mengerjakan ibadah haji.
Allah berjanji, manusia akan datang ke Baitullah dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus (wa ‘alaa kulli dhaamir) yang datang dari segenap penjuru yang jauh.

Imam Asy Syawkani menafsirkan, lafaz itu dengan unta-unta yang kurus karena lelah mengharungi perjalanan yang begitu jauh.

Imam Al Alusi pula menegaskan, penggunaan lafaz dhaamir (menunggang unta yang kurus) bukan hanya sekadar rukbaana (menaiki kenderaan), tetapi ia mengisyaratkan kepada orang yang akan pergi haji ke Baitullah adalah ramai dan berasal dari negeri-negeri yang jauh dari Makkah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 326-327

Unsur Pokok Surah Al Hajj (الحجّ)

Surat Al-Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang menurut pendapat sebagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Sebab perbedaan ini ialah karena sebagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj", karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedahfaedah dan hikmahhikmah disyari’atkannya haji.

Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan di masa Nabi Ibrahimalaihis salam, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahimalaihis salam bersama puteranya Ismail ‘alaihis salam.

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

▪ Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat.
▪ Dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

▪ Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim `alaihis salam.
Hukum berkata dusta.
▪ Larangan menyembah berhala.
▪ Binatang-binatang yang halal dimakan.
Hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil-haram.
▪ Keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama.
Hukum hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

▪ Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela.
▪ Tanda tanda takwa yang sampai ke hati.
▪ Tiap-tiap agama yang dibawa rasulrasul sejak dahulu mempunyai syari’at tertentu dan cara melakukannya.
▪ Pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah.
▪ Sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat-ayat Alquran.
▪ Anjuran berjihad dengan sesungguhnya.
▪ Celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri

Audio

QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 78 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Hajj (22) : 1-78 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 78

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Hajj ayat 27 - Gambar 1 Surah Al Hajj ayat 27 - Gambar 2
Statistik QS. 22:27
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hajj.

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, “Haji”) adalah surah ke-22 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi’ar-syi’ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari’atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari’atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah22
Nama SurahAl Hajj
Arabالحجّ
ArtiHaji
Nama lain
Tempat TurunMadinah & Makkah
Urutan Wahyu103
JuzJuz 17
Jumlah ruku’10 ruku’
Jumlah ayat78
Jumlah kata1282
Jumlah huruf5315
Surah sebelumnyaSurah Al-Anbiya
Surah selanjutnyaSurah Al-Mu’minun
Sending
User Review
4.7 (11 votes)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

22:27, 22 27, 22-27, Surah Al Hajj 27, Tafsir surat AlHajj 27, Quran Al-Haj 27, Alhaj 27, Al Haj 27, Al-Hajj 27, Surah Al Hajj ayat 27

▪ bil hadzi ▪ bil hajji ▪ Min kulli fajjin \amiq
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Pilihan

Berkata Isa:
Sungguh aku ini hamba Allah,
Dia memberiku Al Kitab & Dia jadikanku nabi.
dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada,
Dia memerintahkanku (mendirikan) salat & zakat selama aku hidup
QS. Maryam [19]: 30-31

Jangan kau sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka (munafik), dan jangan kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah & Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik
QS. At-Taubah [9]: 84

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Tujuan utama diturunkannya Alquran kepada umat manusia adalah ...

Benar! Kurang tepat!

َبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا

Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
الفرقان, artinya 'Pembeda'.
Alquran dinamakan Al-Furqan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Dalil di atas adalah nama-nama lain dari Alquran, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ٱلذِّكْرَ = Adz-Dzikr (pemberi peringatan).
Firman Allah:
'Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Alquran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.'
(QS. Al Hijr [15] : 9)

+

Array

Mujahadah berasal dari bahasa Arab, yang berasal dari kata jahada, yang berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Mujahadah merupakan sebuah istilah yang terbentuk dari asal kata jihad, artinya berjuang dengan sungguh-sungguh menurut syari'at Islam.

Istilah lain yang juga berasal dari kata Jihad, yakni Mujahidin. Mujahidin adalah istilah bagi pejuang (Muslim) yang turut dalam suatu peperangan atau terlibat dalam suatu pergolakan.

Salah satu tokoh dalam kisah umat masa lalu yang dapat dipetik pelajaran sebagai teladan yang baik ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Luqman adalah orang yang disebut dalam Alquran dalam surah Luqman [31] : 12-19 yang terkenal karena nasihat-nasihatnya kepada anaknya.

Pendidikan Agama Islam #15
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #15 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #15 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #19

Berakhirnya seluruh kehidupan di dunia dinamakan … Hari kiamat di jelaskan dalam Alquran, surah … .Tempat berkumpulnya manusia di akhirat di sebut padang … Salah satu hikmah mempercayai datangnya hari akhir, yaitu … … Surah yang menjelaskan bahwa ‘Allah Subhanahu Wa Ta`ala tempat meminta’, yaitu … …

Pendidikan Agama Islam #2

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al ‘Adl, yang berarti bahwa Allah … Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya … Sifat adil Allah berlaku untuk … Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti … Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah …

Pendidikan Agama Islam #18

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan… ..kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Surah Ad-Dhuha ayat ke-enam menunjukkan salah satu masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … sebagai … Berikut ini yang bukan kandungan surah Ad-Dhuha adalah… .. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Arti al-Kaafirun adalah … Arti dari lafal لَكُمْ دِينُكُمْ yaitu …

Instagram