QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 2 [QS. 22:2]

یَوۡمَ تَرَوۡنَہَا تَذۡہَلُ کُلُّ مُرۡضِعَۃٍ عَمَّاۤ اَرۡضَعَتۡ وَ تَضَعُ کُلُّ ذَاتِ حَمۡلٍ حَمۡلَہَا وَ تَرَی النَّاسَ سُکٰرٰی وَ مَا ہُمۡ بِسُکٰرٰی وَ لٰکِنَّ عَذَابَ اللّٰہِ شَدِیۡدٌ
Yauma taraunahaa tadzhalu kullu murdhi’atin ‘ammaa ardha’at watadha’u kullu dzaati hamlin hamlahaa watarannaasa sukaara wamaa hum bisukaara walakinna ‘adzaaballahi syadiidun;

(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (goncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.
―QS. 22:2
Topik ▪ Hari Kebangkitan ▪ Penghimpunan manusia dan keadaan mereka ▪ Hanya Allah yang mendatangkan manfaat dan marabahaya
22:2, 22 2, 22-2, Al Hajj 2, AlHajj 2, Al-Haj 2, Alhaj 2, Al Haj 2, Al-Hajj 2
English Translation - Sahih International
On the Day you see it every nursing mother will be distracted from that (child) she was nursing, and every pregnant woman will abort her pregnancy, and you will see the people (appearing) intoxicated while they are not intoxicated;
but the punishment of Allah is severe.
―QS. 22:2

 

Tafsir surah Al Hajj (22) ayat 2

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 2. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini diterangkan betapa dahsyatnya peristiwa yang terjadi pada hari Kiamat itu dan betapa besar pengaruhnya kepada seseorang, di antaranya:

1. Pada hari itu ibu yang sedang menyusukan anaknya lalai dari anaknya.
Padahal hubungan antara ibu dan anak adalah hubungan yang paling dekat dibandingkan dengan hubungan manusia dengan manusia yang lain.
Demikian pula hubungan kasih sayang ibu dengan anaknya adalah hubungan kasih sayang yang tidak akan putus-putusnya.
Di antara perwujudan hubungan kasih sayang ibu dengan anaknya itu ialah ibu menyusukan tanpa pamrih anaknya yang masih kecil dan air susu ibu itu merupakan makanan pokok bagi si bayi.
Tanpa adanya makanan itu si bayi bisa mati kelaparan dan hal ini benar-benar disadari akibatnya oleh setiap ibu.
Karena itu ibu berkewajiban menyusukan anaknya yang merupakan jantung hatinya itu, setiap saat yang diperlukan.
Pada hari Kiamat yang demikian mengerikan dan dahsyatnya peristiwa yang terjadi, seakan hubungan yang demikian itu terputus.
Di dalam diri si ibu waktu itu timbul rasa takut dan ngeri melihat suasana yang kacau balau itu, sehingga si ibu lupa menyusukan anaknya, dan lupa segala-galanya termasuk anaknya yang sedang menyusu.

2. Pada hari Kiamat itu gugurlah semua kandungan perempuan yang hamil.
Biasanya keguguran kandungan perempuan yang hamil terjadi, jika terjadi peristiwa yang sangat mengejutkan dan menakutkan hati atau karena terjatuh atau mengalami guncangan yang keras, seperti guncangan kendaraan dan sebagainya.
Pada hari Kiamat itu terjadi gempa bumi dan guncangan yang hebat yang menghancurkan manusia yang hidup, termasuk di dalamnya perempuan-perempuan yang hamil beserta anak yang sedang dikandungnya.

Al-Hasan berkata, yang dimaksud dengan
“lalailah semua perempuan yang menyusukan anak dari anak yang disusukannya”,
ialah kelalaian yang bukan disebabkan karena menyapih anak itu, dan yang dimaksud dengan
“gugurlah semua kandungan perempuan yang hamil”
ialah anak yang dikandung itu lahir sebelum sempurna waktunya.

3. Pada hari itu manusia kelihatan seperti orang yang sedang mabuk, padahal ia bukan sedang mabuk.
Hal ini menunjukkan kebingungan mereka tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan, semua dalam keadaan takut, dalam keadaan mencari-cari tempat berlindung, dan berusaha menghindarkan diri dari malapetaka yang sedang menimpa itu.

Keadaan dan peristiwa yang diterangkan di atas adalah untuk melukiskan dan menggambarkan kepada manusia, betapa dahsyatnya malapetaka yang terjadi pada hari Kiamat itu, sehingga gambaran itu dapat menjadi pelajaran dan peringatan bagi mereka, kendati pun kejadian yang sebenarnya lebih dahsyat lagi dari yang digambarkan itu.
Sedang kejadian yang sebenarnya yang terjadi pada hari Kiamat itu tidak dapat digambarkan kedahsyatannya, karena tidak ada suatu kejadian yang terjadi sebelumnya yang dapat dijadikan sebagai perbandingan.