Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Hajj

Al Hajj (Haji) surah 22 ayat 1


یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّکُمۡ ۚ اِنَّ زَلۡزَلَۃَ السَّاعَۃِ شَیۡءٌ عَظِیۡمٌ
Yaa ai-yuhaannaasuuttaquu rabbakum inna zalzalatassaa’ati syayun ‘azhiimun;

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
―QS. 22:1
Topik ▪ Hari Kiamat ▪ Nama-nama hari kiamat ▪ Kesucian Allah dari sekutu dan anak
22:1, 22 1, 22-1, Al Hajj 1, AlHajj 1, Al-Haj 1, Alhaj 1, Al Haj 1, Al-Hajj 1
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Hajj (22) : 1. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menceritakan agar manusia mawas diri serta menjaga dirinya dari azab Allah, dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menghentikan larangan-larangan-Nya.
Perintah itu berlaku sejak ayat ini diturunkan sampai datangnya hari kiamat, yang pada waktu itu terjadi gempa bumi yang amat dahsyat, menghancur leburkan seluruh yang ada dalam jagat raya ini.
Allah memerintahkan yang demikian adalah karena guncangan dan malapetaka yang terjadi pada hari yang sangat hebat itu yang tiada taranya.
Dalam firman Allah yang lain diterangkan guncangan dan gempa bumi yang terjadi pada hari itu.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.
(Q.S.
Al Zalzalah: 1-2)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.
Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat.

(Q.S.
Al Haqqah: 14-15)

Dari ayat ini dipahamkan bahwa orang-orang yang bertakwa, tidak merasa ngeri dan takut pada hari kiamat itu, karena mereka telah percaya bahwa hari kiamat itu pasti terjadi, bahwa mereka telah yakin benar akan mendapat perlindungan dan pertolongan Allah pada hari itu, serta yakin pula bahwa tidak seorangpun yang dapat memberi perlindungan dan pertolongan pada hari itu selain dari Allah subhanahu wa ta'ala Yang Maha Kuasa lagi Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya.
Sebaliknya orang-orang yang ingkar kepada Allah, tidak mengikuti perintah-Nya den tidak menghentikan larangan-larangan-Nya akan merasakan akibat guncangan bumi dan kehancuran dunia pada waktu itu, sebagai siksaan yang tiada taranya.
Mereka tidak dapat menghindarkan diri daripadanya sedikitpun dan tidak ada seorangpun yang dapat menolong mereka, karena Allah hanya akan menolong dan melindungi hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya.

Menurut suatu riwayat, bahwa ayat ini diturunkan pada malam hari, pada waktu terjadi peperangan Bani Mustalik, lalu Nabi Muhammad ﷺ membacakan ayat ini kepada para sahabat.
Setelah beliau membacakan ayat ini, beliaupun menangis dan para sahabatpun ada yang ikut menangis, ada yang gundah gulana dan ada pula yang merenungi ayat ini.
Hal ini menunjukkan bagaimana kekhawatiran Nabi Muhammad ﷺ.
dan para sahabat terhadap malapetaka yang besar yang terjadi pada hari kiamat itu, sekalipun dalam diri mereka telah terpatri dengan kokoh iman dan kesabaran, dan merekapun telah percaya bahwa Allah pasti menolong kaum Muslimin.

Hari kiamat adalah hari kehancuran dunia, merupakan masa peralihan dari masa kehidupan dunia yang fana ini beralih ke masa kehidupan akhirat yang kekal lagi abadi.
Pada waktu itu terjadi suatu kejadian yang amat mengerikan, seluruh planet dan benda-benda angkasa satu dengan yang lain berbenturan, sehingga pecah berserakan menjadi kepingan-kepingan yang halus.
Pada waktu itu itu lenyaplah segala yang ada di alam ini.
Hanya yang tidak lenyap waktu itu ialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa.
Setelah alam fana ini lenyap semuanya, Allah subhanahu wa ta'ala menggantikannya dengan alam yang lain, yaitu alam akhirat.
Pada waktu itu seluruh manusia dibangkitkan kembali dari kuburnya untuk ditimbang amal perbuatannya.
Perbuatan baik dibalas dengan surga yang penuh kenikmatan, sedang perbuatan jahat dan buruk dibalas dengan siksa yang pedih di dalam neraka yang menyala-menyala.
Pada waktu itulah manusia memperoleh keadilan yang hakiki dari Tuhannya, yang selama hidup di dunia mereka tidak memperolehnya.

Kepercayaan akan adanya hari kiamat termasuk salah satu dari rukun iman yang wajib diimani dan diyakini oleh setiap orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
yang telah diutusnya.
Hari kiamat itu termasuk salah satu dari perkara-perkara yang gaib, karena itu adalah sukar untuk mengemukakan bukti-bukti yang nyata tentangnya.
Akan tetapi jika seseorang telah percaya dengan sungguh-sungguh bahwa Allah Maha Kuasa lagi Maha Adil, Dia cinta dan kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, maka orang itu akan sampai kepada kepercayaan akan adanya hari kiamat.

Al Hajj (22) ayat 1 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Hajj (22) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Hajj (22) ayat 1 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai manusia, takutlah kalian akan siksa Tuhan.
Dan ingatlah selalu akan hari kiamat, karena kegoncangan yang terjadi pada hari itu sangat dahsyat, mencekam dan menggetarkan semua makhluk hidup.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai manusia!) yakni penduduk Mekah dan selainnya (Bertakwalah kepada Rabb kalian) takutlah kalian akan azab-Nya, yaitu dengan taat kepada-Nya (sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu) yakni saat gempa yang amat dahsyat menimpa bumi, lalu disusul dengan terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, itulah pertanda kiamat telah di ambang pintu (adalah suatu kejadian yang sangat besar) sangat mengejutkan manusia hal ini merupakan semacam azab.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hai manusia, takutlah azab Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Sesungguhnya apa yang terjadi pada Hari Kiamat berupa hal-hal menakutkan dan goncangan bumi yang sangat dahsyat, yang mencerai-beraikan semua penjurunya, adalah suatu yang besar, tidak bisa diperkirakan kadarnya, dan tidak ada yang mengetahui hakikatnya kecuali Allah Rabb semesta alam.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar bertakwa kepada-Nya seraya memberitahukan kepada mereka peristiwa yang bakal mereka hadapi pada hari kiamat, yaitu kengerian dan ke­guncangannya yang amat dahsyat.
Para ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan keguncangan hari kiamat ini, apakah terjadi sesudah manusia dibangkitkan dari kuburnya di hari mereka digiring menuju ke tempat pemberhentian hari kiamat, ataukah yang dimaksud adalah guncangan bumi sebelum manusia dikeluarkan dari kubur mereka, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya.
(Az-Zalzalah: 1-2)

dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.
Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat.
(Al Haaqqah:14-15)

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya.
(Al Waaqi'ah:4-5)

Sebagian ulama mengatakan bahwa guncangan ini terjadi di penghujung usia dunia dan mengawali kejadian hari kiamat.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A'masy, dari Ibrahim, dari AIqamah sehubungan dengan makna firman-Nya: sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(Al Hajj:1) Bahwa kejadian ini terjadi sebelum hari kiamat.

Abu Kadinah telah meriwayatkan dari Ata, dari Amir Asy-Sya'bi sehubungan dengan makna firman-Nya:

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian, sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar.
Kejadian ini menimpa dunia menjelang hari kiamat.

Imam Abu Ja'far ibnu Jarir telah meriwayatkan salah satu di antara sandaran pendapat ini dalam hadis sur (sangkakala) yang diriwayatkan melalui Ismail ibnu Rafi' (qadi penduduk Madinah), dari Yazid ibnu Abu Ziyad, dari seorang lelaki Ansar, dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dari seorang lelaki, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala setelah selesai menciptakan langit dan bumi, beranjak menciptakan sur (sangkakala), lalu diserahkan kepada Malaikat Israfd.
Sekarang Israfil meletakkan sangkakala itu di mulutnya, sedangkan matanya memandang ke arah 'Arasy menunggu bila ia diperintahkan (untuk meniupnya).
Sahabat Abu Hurairah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah sur itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Seperti tanduk (terompet)." Abu Hurairah bertanya, "Bagaimanakah bentuknya?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Terompet besar, Israfil akan melakukan tiga kali tiupan padanya." Tiupan pertama menimbulkan kedahsyatan yang sangat besar, tiupan kedua adalah tiupan yang membinasakan semua makhluk, dan tiupan yang ketiga adalah tiupan yang membangkitkan semua makhluk hidup kembali untuk menghadap kepada Tuhan semesta alam.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, memerintahkan kepada Israfil untuk me­lakukan tiupan pertama, "Tiuplah, tiupan yang menimbulkan kedahsyatan yang besar!" Maka terkejutlah semua penduduk langit dan bumi, terkecuali orang-orang yang dikehendaki oleh Allah tidak merasa terkejut.
Allah memerintahkan kepada Israfil, maka saat itu juga Israfil langsung menjulurkan dan meniupnya.
Hal ini dikisahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala melalui firman-Nya: Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang.
(Shaad:15) Maka semua gunung beterbangan menjadi debu, dan bumi mengalami gempa yang amat dahsyat mengguncangkan semua penghuninya.
Hal ini disebutkan oleh firman-Nya: pada hari ketika tiupan pertama mengguncangkan alam, tiupan yang pertama itu diiringi dengan tiupan yang kedua.
Hati manusia pada waktu itu sangat takut.
(An-Nazi'at: 6-8) Saat itu bumi bagaikan sebuah perahu yang terombang-ambingkan oleh ombak laut yang sangat besar berikut para penumpangnya yang bergelayutan bagaikan pelita gantung yang ditiup angin keras.
Semua manusia yang ada di bumi bergelindingan, dan wanita-wanita yang hamil saat itu juga melahirkan bayi-bayinya, anak-anak kecil mendadak beruban karena kesusahan yang sangat.
Setan-setan pun beterbangan melarikan diri hingga mencapai batas ufuk cakrawala, tetapi para malaikat menghadangnya, lalu memukuli wajahnya hingga setan kembali lagi ke bumi.
Manusia porak-poranda melarikan diri seraya sebagian dari mereka memanggil-manggil sebagian lainnya.
Keadaan inilah yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala di dalam firman-Nya: (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagi kalian seorang pun yang menyelamatkan kalian dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk.
(Al-Mu’min: 33) Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba bumi terbelah dari satu kawasan ke kawasan yang lainnya, dan mereka melihat peristiwa besar yang membuat mereka mendapat mala petaka yang tak terperikan besarnya, hanya Allah sajalah yang mengetahuinya.
Kemudian mereka melihat ke arah langit, tiba-tiba mereka melihatnya mendidih, lalu matahari dan bulan pudar sinarnya serta bintang-bintang bertaburan dan saling berbenturan, lalu lenyap dari pandangan mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang-orang yang telah mati tidak mengetahui sedikit pun dari peristiwa itu." Abu Hurairah bertanya, "Siapakah orang-orang yang dikecualikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya itu?"
(yakni firman Allah subhanahu wa ta'ala yang mengatakan): maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.
(An Naml:87) Rasulullah ﷺ bersabda: Mereka adalah para syuhada, sesungguhnya kedahsyatan yang besar itu hanya dialami oleh orang-orang yang hidup.
Para syuhada itu sekalipun mereka hidup di sisi Allah dalam keadaan diberi rezeki, tetapi Allah telah memelihara dan menyelamatkan mereka dari peristiwa buruk yang terjadi di hari itu, yaitu azab Allah yang ditimpakan kepada makhluk-Nya yang jahat-jahat, seperti yang diceritakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya, "Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(Ingatlah)pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusukannya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat besarnya.”(Al Hajj:1-2)

Tujuan pengetengahan hadis ini adalah untuk membuktikan bahwa keguncangan ini terjadi sebelum hari kiamat, hanya penyebutannya dikaitkan dengan hari kiamat karena peristiwa tersebut dekat sekali dengan kejadian hari kiamat, seperti halnya penyebutan tentang tanda-tanda hari kiamat dan yang semisal dengannya.

Ulama lainnya berpendapat bahwa kedahsyatan, kengerian, dan keguncangan itu justru terjadi pada hari kiamat di Padang Mahsyar saat semua makhluk dibangkitkan hidup kembali dari kuburannya.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir, ia memilih pendapat ini karena berlandaskan kepada hadis-hadis berikut:

Hadis pertama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Hisyam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Al-Hasan, dari Imran ibnu Husain, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda membacakan kedua ayat berikut dengan suara yang keras di salah satu perjalanannya, yang saat itu orang-orang yang bepergian dengan beliau sudah saling berdekatan: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui dari anak yang disusukannya dan gugurlah kandungan semua wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.
(Al Hajj:1-2) Ketika para sahabat (yang bepergian dengannya) mendengar bacaan beliau, mereka segera memacu kendaraannya mendekati sumber suara itu.
Ternyata setelah dekat, mereka mengetahui bahwa yang membacanya adalah Nabi ﷺ dan saat mereka telah berada di sekelilingnya, maka Nabi ﷺ bersabda, "Tahukah kalian, hari apakah yang dimaksud oleh ayat ini?
Yaitu suatu hari yang saat itu Adam dipanggil oleh Tuhannya, lalu Tuhan berfirman kepadanya, "Hai Adam, bangkitkanlah kirimanmu ke neraka." Adam bertanya, "Wahai Tuhanku, berapa banyakkah yang dikirimkan ke neraka?"
Allah berfirman, "Dari seribu orang yang sembilan ratus sembilan puluh sembilannya dimasukkan ke dalam neraka, sedangkan yang seorang dimasukkan ke dalam surga." Para sahabat merasa berduka cita karena mereka masih belum memahami apa yang dimaksud oleh sabda Nabi ﷺ itu.
Melihat gejala tersebut Nabi ﷺ bersabda menjelaskannya: Bergembiralah kalian dan beramallah.
Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya kalian benar-benar bersama dengan dua jenis makhluk lainnya, yang tidak sekali-kali kedua jenis makhluk itu dikumpulkan bersama sesuatu, melainkan membuat sesuatu itu menjadi banyak bilangannya.
Yaitu Ya-juj dan Ma-juj, dan orang-orang yang binasa dari kalangan anak Adam serta anak-anak iblis.
Mendengar penjelasan ini hati para sahabat menjadi lega.
Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan sabdanya: Beramallah dan bergembiralah kalian.
Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiadalah kalian ini dibandingkan dengan seluruh manusia, melainkan seperti tahi lalat yang ada di lambung unta, atau seperti belang yang ada di kaki ternak.

Jalur lain hadis ini diketengahkan oleh Imam Turmuzi.
Ia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jad'an, dari Al-Hasan, dari Imran ibnu Husain, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda ketika diturunkan firman-Nya: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu.
(Al Hajj:1) sampai dengan firman-Nya: tetapi azab Allah itu sangat keras.
(Al Hajj:2) saat itu beliau ﷺ sedang dalam perjalanan.
Beliau ﷺ bersabda, "Tahukah kalian hari apakah yang dimaksud dalam ayat ini?"
Mereka menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah ﷺ bersabda, "Hari itu adalah hari saat Allah berfirman kepada Adam, 'Kirimkanlah orang-orang yang masuk neraka!' Adam bertanya, 'Wahai Tuhanku, berapa orangkah yang harus dikirim ke neraka?' Allah berfirman, 'Dari seribu orang yang sembilan ratus sembilan puluh sembilan dikirim ke neraka, sedangkan yang seorang dikirim ke surga." Maka kaum muslim menangis, lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Dekatkanlah diri kalian (kepada Allah) dan teruslah beramal baik karena sesungguhnya tiada suatu kenabian pun melainkan di hadapannya terdapat masa Jahiliah." Nabi ﷺ bersabda, "Maka diambillah sejumlah orang dari kaum Jahiliah jika memang ada.
Jika tidak ada, bilangannya dilengkapi dengan kaum munafik.
Tiadalah kalian ini bila dibandingkan dengan umat-umat lainnya, melainkan seperti belang yang ada di kaki hewan atau tahi lalat yang ada di lambung unta." Kemudian Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah seperempat penduduk surga." Maka mereka bertakbir.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku berharap semoga kalian sepertiga penduduk surga." Mereka bertakbir lagi.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah separo penduduk surga." Maka mereka bertakbir lagi.
Dan Imran ibnu Husain berkata, "Saya tidak mengetahui apakah beliau ﷺ mengucapkan dua pertiga atau tidak."

Hadis kedua, diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Disebutkan bahwa: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnut Tabba', telah menceritakan kepada kami Abu Sufyan Al-Ma'mari, dari Ma'mar, dari Qatadah, dari Anas yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya: sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar.
(Al Hajj:1) kemudian disebutkan hadis yang teksnya sama dengan hadis Al-Hasan dari Imran ibnul Husain, hanya di dalam riwayat ini disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

"Dan juga orang-orang yang telah binasa dari kalangan kebanyakan jin dan manusia."

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini dengan panjang lebar melalui riwayat Ma'mar.

Hadis ketiga, diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.
Ia mengatakan: telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnul Awwam, telah menceritakan kepada kami Hilal ibnu Habbab, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ membaca ayat ini.
Teks hadis selanjutnya sama dengan hadis di atas, hanya dalam riwayat ini disebutkan,

"Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah seperempat penghuni surga." Disebutkan lagi, "Sesungguhnya aku berharap semoga kalian sepertiga penduduk surga." Disebutkan lagi, "Aku berharap semoga kalian separo ahli surga," maka mereka (para sahabat) senang mendengarnya.
Di dalam riwayat ini disebutkan pula, "Sesungguhnya kalian hanyalah sebagian dari seribu (yakni seperseribu jumlah umat lain)".

Hadis keempat, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam tafsir ayat ini, bahwa:

telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Hafs, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al­ A'masy, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, bahwa kelak di hari kiamat Allah berfirman, "Hai Adam!" Adam menjawab, "Labbaika, ya Tuhan kami.
Saya penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan." Kemudian terdengarlah suara yang berseru, "Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu agar mengeluarkan sebagian dari keturunanmu untuk dikirimkan ke neraka." Adam bertanya, "Wahai Tuhanku, berapakah jumlah yang akan dikirim ke neraka?"
Dijawab, "Dari setiap seribu orang, sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang." Dalam keadaan seperti itu wanita-wanita yang hamil melahirkan anaknya dan anak-anak beruban.
dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.
(Al Hajj:2) Maka berita itu terasa berat oleh para sahabat, sehingga wajah mereka berubah menjadi pucat karenanya.
Maka Nabi ﷺ bersabda: "Sembilan ratus sembilan puluh sembilan dari kalangan Ya-juj dan Ma-juj, sedangkan dari kalian satu orang.
Kalian di kalangan manusia sama halnya dengan sehelai bulu hitam yang terdapat pada tubuh banteng yang berbulu putih, atau seperti sehelai bulu putih yang ada di lambung banteng yang berbulu hitam.
Sesungguhnya aku berharap semoga kalian adalah seperempat ahli surga, " maka kami bertakbir.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Sepertiga ahli surga, " maka kami bertakbir.
Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, "Separo ahli surga, " dan kami bertakbir lagi.

Imam Bukhari telah meriwayatkan pula di lain kitab tafsir, dan Imam Muslim, serta Imam Nasai di dalam kitab tafsirnya melalui berbagai jalur dari Al-A'masy dengan sanad yang sama.

Hadis kelima, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Imarah ibnu Muhammad (anak lelaki dari saudara perempuan Sufyan As-Sauri), juga dari Ubaidah Al-Ammi, keduanya dari Ibrahim ibnu Muslim, dari Abul Ahwas, dari Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala kelak di hari kiamat memerintahkan kepada juru penyeru untuk menyerukan, "Hai Adam, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu agar mengirimkan sejumlah orang dari keturunanmu ke neraka.” Maka Adam bertanya, "Wahai Tuhanku, siapa sajakah mereka?'' Dikatakan kepadanya, “Dari seratus orang, sembilan puluh sembilan orang.” Kemudian seseorang lelaki dari kaum (yang hadir) bertanya, "Siapakah orang yang selamat di antara kita sesudah itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah ﷺ bersabda, "Tahukah kalian, tiadalah kalian ini di kalangan umat manusia melainkan seperti tahi lalat yang ada di lambung unta.”

Ditinjau dari sanad dan teks hadisnya, Imam Ahmad meriwayatkannya secara munfarid (tunggal).

Hadis keenam, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Dinyatakan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Hatim ibnu Abu Safirah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Mulaikah, Al-Qasim ibnu Muhammad pernah menceritakan kepadanya bahwa Siti Aisyah pernah menceritakan hadis berikut dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya kalian akan dihimpunkan kepada Allah pada hari kiamat dalam keadaan tak beralas kaki, telanjang, lagi tidak berkhitan.
Siti Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, kaum laki-laki dan kaum wanita sebagian dari mereka melihat sebagian lainnya.” Rasulullah ﷺ menjawab, "Hai Aisyah, sesungguhnya peristiwanya jauh lebih dahsyat daripada memalingkan mereka ke arah itu."

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahihnya masing-masing.

Hadis ketujuh.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai'ah, dari Khalid ibnu Abu Imran, dari Al-Qasim ibnu Muhammad, dari Aisyah r.a.
yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, apakah seorang kekasih teringat kepada orang yang dikasihinya kelak di hari kiamat?"
Rasulullah ﷺ menjawab, "Adapun pada tiga tempat, maka tidak mungkin, juga di saat neraca amal perbuatan telah dipasang untuk menimbang amal perbuatan apakah berat atau ringan, tidak mungkin akan teringat.
Begitu pula di saat kitab-kitab catatan amal perbuatan beterbangan, adakalanya seseorang diberi kitabnya dari arah kanannya atau arah kirinya, tidak mungkin akan teringat.
Saat itu keluarlah leher api neraka, lalu mengelilingi mereka dan mengeluarkan suara gemuruhnya kepada mereka.
Leher api neraka itu berkata, 'Saya diperintahkan untuk membakar tiga macam orang, saya diperintahkan untuk menyiksa tiga macam orang.
Saya diperintahkan untuk menyiksa orang yang mengakui ada tuhan lain di samping Allah, saya diperintahkan untuk menyiksa orang yang tidak beriman kepada hari perhitungan amal perbuatan, dan saya diperintahkan untuk menyiksa semua orang yang angkara murka lagi pengingkar kebenaran.' Kemudian mereka dibelit dan dicampakkan ke dalam neraka Jahanam yang bergolak.
Jahanam memiliki jembatan yang lebih tipis daripada sehelai rambut dan lebih tajam daripada pedang.
Di kedua sisinya terdapat pengait-pengait dan duri-duri yang keduanya mengambil orang-orang yang dikehendaki oleh Allah (masuk neraka).
Manusia dalam melewati jembatan itu ada yang cepatnya bagaikan kilat, ada yang cepatnya bagaikan sekedipan mata, ada yang cepatnya bagaikan angin, ada yang cepatnya bagaikan kuda balap dan unta yang kencang larinya.
Para malaikat saat itu berkata, 'Ya Tuhanku, selamatkanlah, selamatkanlah.' Maka sebagian orang ada yang selamat dalam keadaan utuh, ada yang selamat, tetapi dalam keadaan tergores dan luka-luka, dan ada yang sebagian lain dijungkalkan ke dalam neraka dengan kepala di bawah."

Hadis-hadis yang menceritakan kengerian pada hari kiamat dan asar-asar mengenainya sangat banyak, tetapi dibahas di tempat lain dari kitab ini.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat ini:

sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).

Yakni suatu kejadian yang besar, petaka yang dahsyat, bencana yang mengerikan, peristiwa yang besar huru-haranya, dan sangat aneh.
Yang dimaksud dengan az-zalzal ialah kengerian dan rasa terkejut yang menimpa j iwa manusia, sebagaimana yang disebut oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya:

Di situlah diuji orang-orang-mukmin dan diguncangkan (hatinya) dengan guncangan yang sangat.
(Al Ahzab:11)

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hajj (22) Ayat 1

ZALZALAH
زَلْزَلَة

Lafaz ini dalam bentuk mashdar, berasal dari kata akar zalzala yang berarti menggoncangkan, menggerakkan dengan kuat dan menakutkan.

Dalam Tafsir Al Maraghi, ia bermakna goncangan dahsyat yang memusnahkan segala sesuatu.

Disebut sekali saja di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al Hajj (22), ayat 1.
Allah berfirman,

إِنَّ زَلْزَلَةَ ٱلسَّاعَةِ شَىْءٌ عَظِيمٌ

Lafaz zalza­lah disandarkan kepada as saa'sh yaitu hari kiamat.

Az Zamakhsyari berkata,
al zalzalah bermakna gerakan dan goncangan yang dahsyat, goncangan sesuatu itu berlipat ganda dari tempat dan pusatnya. Yang membuatnya tergoncang adalah hari kiamat sehingga as­ saa'ah adalah fa'il (subjek) baginya, seolah­ olah dia yang menggoncangkan segalanya berdasarkan kiasan. Jadi, al zalzalah adalah mashdar yang disandarkan kepada fa'ilnya.

Yang dimaksud al zalzalah dalam ayat ini adalah yang disebut dalam surah Al Zalzalah (99), ayat 1,

إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَا

Artinya:
"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),"

Terdapat perbedaan pendapat mengenai zalzalatas saa'ah. Adakah ia terjadi sebelum manusia dibangkitkan atau ia terjadi setelah manusia dibangkitkan.

1. Sebahagian ulama antaranya Ibn Jarir dari riwayat Alqamah, riwayat Ata' dari Amir As Say'bi, Abu Hurairah dan yang lainnya menyata­kan goncangan bumi pada hari kiamat ini sebelum manusia bangkit dari kubur, terjadi pada akhir umur dunia dan permulaan keadaan hari kiamat. la disandarkan kepada hari kiamat karena ia dekat dengannya, dikata­kan sebagai tanda hari kiamat dan se­bagainya sebagaimana firman Allah dalam surah:
-Al Zalzalah (99), ayat 1;
-Al Waaqi'ah (56), ayat 4,5;3;
-Al Haaqqah, (69), ayat 14, 15.4

Abu Kadinah dari Ata' dari Amir As Sya'bi berkata,
kejadian ini terjadi di dunia sebelum hari kiamat.

Begitu juga pendapat Al Maraghi dalam tafsirnya, beliau menyatakan, sesungguhnya goncangan terjadi ketika hari kiamat tiba sebelum manusia dibangkitkan dari kuburnya.

2. la terjadi setelah manusia di­ bangkitkan. Lafaz zalzalah bermakna apa yang terjadi di dalam diri manusia dari ketakutan, ngeri atau bermakna keadaan yang dahsyat lagi menakutkan dan mengerikan. Diantara dalilnya, dari Abdullah katanya Rasulullah bersabda,

Sesungguhnya Allah membangkit­kan pada hari kiamat penyeru, wahai Adam! Sesungguhnya Allah me­ merintahkanmu membangkitkan dari­ keturunanmu untuk memasuki api neraka" Nabi Adam bertanya, "Siapa mereka, ya Allah?" Dikatakan kepada­nya, "Dari setiap 100 orang, 99 orang akan memasuki neraka. Seorang lelaki berkata,
"Wahai Rasulullah, siapa yang terselamat dari kami selepas itu?" Beliau berkata,
"Adakah kamu me­ngetahui kamu diantara manusia bagai­kan satu titik putih di dada seekor unta.

Di dalam Ash Shahihain, Aisyah menceritakan, Nabi Muhammad bersabda,

Sesungguhnya kamu akan dihimpun­kan kepada Allah pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki atau selipar, telanjang dan tidak berkhitan, 'Aisyah bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, adakah lelaki dan wanita saling melihat?" Beliau menjawab, "Wahai 'Aisyah, sesungguh­nya keadaan pada hari itu lebih dahsyat untuk berkelakuan demikian.

Kesimpulannya, lafaz zalzalah bermakna kedua pendapat itu.

Bagi yang berpendapat ia terjadi sebelum manusia di­ bangkitkan, ia bermakna goncangan bumi sebagai tanda datangnya hari kiamat.

Bagi pendapat kedua yaitu setelah manusia di­ bangkitkan, ia bermakna keadaan yang ber­laku pada hari kiamat yang dahsyat, menakut­kan dan mengerikan jiwa bagi yang melihat dan menyaksikannya.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:262-263

Informasi Surah Al Hajj (الحجّ)
Surat Al Hajj, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, terdiri atas 78 ayat, sedang me­nurut pendapat sebahagian ahli tafsir termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Sebab perbe­daan ini ialah karena sebahagian ayat-ayat surat ini ada yang diturunkan di Mekah dan sebahagian lagi diturunkan di Madinah.

Dinamai surat ini "Al Hajj",
karena surat ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadat haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar·syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan di masa Nabi Ibrahim 'alaihis salam, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama puteranya Ismail 'alaihis salam

Menurut Al Ghaznawi, surat Al Hajj termasuk di antara surat-surat yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Keimanan:

Keimanan tentang adanya kebangkitan dan huru-hara hari kiamat
dan susunan alam semesta dapat diambil bukti-bukti tentang adanya Allah Maha Pencipta.

Hukum:

Kewajiban berhaji bagi kaum muslimin dan haji telah disyariatkan pada masa Ibrahim a.s
hukum berkata dusta
larangan menyembah berhala
binatang-binatang yang halal dimakan
hukum menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan Mas­jidil-haram
keizinan berperang untuk mempertahankan diri dan agama
hukum­ hukum yang berhubungan dengan haji.

Lain-lain:

Membantah kebenaran tanpa pengetahuan adalah perbuatan yang tercela
tanda­ tanda takwa yang sampai ke hati
tiap-tiap agama yang dibawa rasul-rasul sejak dahulu mempunyai syari'at tertentu dan cara melakukannya
pahala orang yang mati dalam berhijrah di jalan Allah
sikap orang-orang kafir bila mendengar ayat­ ayat Al Qur'an
anjuran berjihad dengan sesungguhnya
celaan Islam terhadap orang-orang yang tidak tetap pendiriannya dan selalu mencari keuntungan untuk diri sendiri


Gambar Kutipan Surah Al Hajj Ayat 1 *beta

Surah Al Hajj Ayat 1



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Hajj

Surah Al-Hajj (bahasa Arab:الحجّ, al-Hajj, "Haji") adalah surah ke-22 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 78 ayat .
Sebagian ayat dari surah ini diturunkan di Mekkah dan sebagian lagi di Madinah, oleh karena itu para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai golongan surah ini (Makkiyah atau Madaniyah)

Surah ini dinamai surah ini Al-Hajj, karena surah ini mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan ibadah haji, seperti ihram, thawaf, sa'i, wuquf di Arafah, mencukur rambut, syi'ar-syi'ar Allah, faedah-faedah dan hikmah-hikmah disyari'atkannya haji.
Ditegaskan pula bahwa ibadat haji itu telah disyari'atkan pada masa Nabi Ibrahim, dan Ka'bah didirikan oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail.

Menurut Al Ghaznawi, surah Al-Hajj termasuk di antara surah-surah yang ajaib, diturunkan di malam dan di siang hari, dalam musafir dan dalam keadaan tidak musafir, ada ayat-ayat yang diturunkan di Mekah dan ada pula yang diturunkan di Madinah, isinya ada yang berhubungan dengan peperangan dan ada pula yang berhubungan dengan perdamaian, ada ayat-ayatnya yang muhkam dan ada pula yang mutasyabihaat.

Nomor Surah 22
Nama Surah Al Hajj
Arab الحجّ
Arti Haji
Nama lain -
Tempat Turun Madinah & Makkah
Urutan Wahyu 103
Juz Juz 17
Jumlah ruku' 10 ruku'
Jumlah ayat 78
Jumlah kata 1282
Jumlah huruf 5315
Surah sebelumnya Surah Al-Anbiya
Surah selanjutnya Surah Al-Mu’minun
4.7
Rating Pembaca: 4.5 (13 votes)
Sending







✔ makna ayat 1 surah al hajj

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku