Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Hadid (Besi) – surah 57 ayat 27 [QS. 57:27]

ثُمَّ قَفَّیۡنَا عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ بِرُسُلِنَا وَ قَفَّیۡنَا بِعِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ وَ اٰتَیۡنٰہُ الۡاِنۡجِیۡلَ ۬ۙ وَ جَعَلۡنَا فِیۡ قُلُوۡبِ الَّذِیۡنَ اتَّبَعُوۡہُ رَاۡفَۃً وَّ رَحۡمَۃً ؕ وَ رَہۡبَانِیَّۃَۨ ابۡتَدَعُوۡہَا مَا کَتَبۡنٰہَا عَلَیۡہِمۡ اِلَّا ابۡتِغَآءَ رِضۡوَانِ اللّٰہِ فَمَا رَعَوۡہَا حَقَّ رِعَایَتِہَا ۚ فَاٰتَیۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡہُمۡ اَجۡرَہُمۡ ۚ وَ کَثِیۡرٌمِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ
Tsumma qaffainaa ‘ala aatsaarihim birusulinaa waqaffainaa bi’iisaabni maryama waaatainaahu-injiila waja’alnaa fii quluubil-ladziina-attaba’uuhu ra’fatan warahmatan warahbaanii-yatan abtada’uuhaa maa katabnaahaa ‘alaihim ilaaabtighaa-a ridhwaanillahi famaa ra’auhaa haqqa ri’aayatihaa faaatainaal-ladziina aamanuu minhum ajrahum wakatsiirun minhum faasiquun(a);
Kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami mengikuti jejak mereka dan Kami susulkan (pula) Isa putra Maryam;
Dan Kami berikan Injil kepadanya dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya.
Mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang Kami wajibkan hanyalah) mencari keridaan Allah, tetapi tidak mereka pelihara dengan semestinya.
Maka kepada orang-orang yang beriman di antara mereka Kami berikan pahalanya, dan banyak di antara mereka yang fasik.
―QS. Al Hadid [57]: 27

Then We sent following their footsteps Our messengers and followed (them) with Jesus, the son of Mary, and gave him the Gospel.
And We placed in the hearts of those who followed him compassion and mercy and monasticism, which they innovated;
We did not prescribe it for them except (that they did so) seeking the approval of Allah.
But they did not observe it with due observance.
So We gave the ones who believed among them their reward, but many of them are defiantly disobedient.
― Chapter 57. Surah Al Hadid [verse 27]

ثُمَّ kemudian

Then
قَفَّيْنَا Kami ikutkan/iringi

We sent
عَلَىٰٓ atas

on
ءَاثَٰرِهِم jejak/belakang mereka

their footsteps
بِرُسُلِنَا dengan rasulrasul Kami

Our Messengers
وَقَفَّيْنَا dan Kami ikutkan/iringkan

and We followed
بِعِيسَى dengan Isa

with Isa,
ٱبْنِ anak

son
مَرْيَمَ Maryam

(of) Maryam,
وَءَاتَيْنَٰهُ dan Kami berikannya

and We gave him
ٱلْإِنجِيلَ Injil

the Injeel.
وَجَعَلْنَا dan Kami jadikan

And We placed
فِى dalam

in
قُلُوبِ hati

(the) hearts
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

(of) those who
ٱتَّبَعُوهُ mengikutinya

followed him
رَأْفَةً rasa satun

compassion
وَرَحْمَةً dan kasih sayang

and mercy.
وَرَهْبَانِيَّةً dan rahbaniyah/kependetaan

But monasticism
ٱبْتَدَعُوهَا mereka adakan

they innovated –
مَا apa-apa

not
كَتَبْنَٰهَا Kami mewajibkannya

We prescribed it
عَلَيْهِمْ atas mereka

for them –
إِلَّا kecuali

only
ٱبْتِغَآءَ mencari

seeking
رِضْوَٰنِ keridaan

(the) pleasure
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah,
فَمَا maka tidak

but not
رَعَوْهَا memeliharanya

they observed it
حَقَّ sebenar-benarnya

(with) right

Tafsir

Alquran

Surah Al Hadid
57:27

Tafsir QS. Al Hadid (57) : 27. Oleh Kementrian Agama RI


Demikianlah Allah mengutus para rasul, kemudian diiringi pula oleh rasulrasul yang sesudahnya, untuk menyampaikan agamaNya kepada manusia, sehingga tidak ada alasan bagi manusia di akhirat untuk mengatakan, mengapa mereka diazab padahal kepada mereka tidak diutus seorang rasul pun.
Dalam ayat ini Allah mengkhususkan keterangan tentang Isa karena banyak pengikut-pengikutnya yang fasik, yaitu mengubahubah, menambah dan mengurangi ajaran-ajaran yang disampaikan Isa.

Diterangkan bahwa Isa adalah putra Maryam, diberikan kepadanya Kitab Injil, berisi pokok ajaran yang agar dijadikan petunjuk oleh kaumnya dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat dan sebagai penyempurnaan ajaran Allah yang terdapat dalam kitab Taurat yang telah diturunkan kepada Nabi Musa sebelumnya.
Kemudian diterangkan sifat-sifat pengikut Nabi Isa:


1. Allah ﷻ menjadikan dalam hati mereka rasa saling menyantuni sesama mereka, mereka berusaha menghindarkan kebinasaan yang datang kepada mereka dan saudara-saudara mereka serta berusaha memperbaiki kebinasaan yang terjadi pada mereka.


2. Antara sesama mereka terdapat hubungan kasih sayang dan menginginkan kebaikan pada diri mereka.
Sekalipun mereka telah mempunyai sifat-sifat terpuji dan baik seperti yang diajarkan Nabi Isa, tetapi mereka melakukan kefasikan, yaitu mengada-adakan rahbaniyyah, dengan menetapkan ketentuan larangan kawin bagi pendeta-pendeta mereka, padahal perkawinan termasuk sunah Allah yang ditetapkan bagi makhluk-Nya.

Mereka menetapkan rabbaniyah itu dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah, tetapi Allah tidak pernah menetapkannya.
Karena itu mereka adalah orang yang suka mengada-adakan sesuatu yang bertentangan dengan sunatullah, yaitu tidak mensyariatkan perkawinan bagi pendeta-pendeta mereka yang tujuannya untuk melanjutkan keturunan dan menjaga kelangsungan hidup manusia.

Perbuatan fasik lain yang mereka lakukan, ialah mereka telah mengubah, menambah dan mengurangi agama yang dibawa Nabi Isa, yang terdapat dalam Injil, karena memperturutkan hawa nafsu mereka.


Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia akan memberikan pahala yang berlipat-ganda kepada orang-orang yang beriman, mengikuti syariat yang dibawa para rasul, tidak mengadaadakan yang bukan-bukan dan tidak pula menambah dan mengubah kitabkitab-Nya.

Sedang kepada orang-orang fasik itu akan ditimpakan

Tafsir QS. Al Hadid (57) : 27. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Segera setelah Nuh dan Ibrahim–dan rasulrasul yang sezaman atau yang hidup sebelum mereka–Kami mengutus rasulrasul Kami secara berturut-turut hingga sampai kepada ‘Isa putra Maryam.
Kepada ‘Isa, Kami mewahyukan kitab Injil, dan ke dalam hati para pengikutnya Kami menitipkan sifat kasih, lemah lembut dan sayang.


Lalu mereka terlalu berlebih-lebihan dalam beragama dan membuat bid’ah kerahiban yang sebetulnya tidak Kami wajibkan.
Mereka melakukan hal itu untuk memperoleh perkenan Allah yang, kemudian, itu pun tidak mereka pelihara dengan baik.


Kami pun kemudian memberi orang-orang yang beriman kepada Muhammad, di antara mereka, bagian ganjaran dan pahalanya.
Tetapi banyak di antara mereka yang mendustakannya dan keluar dari ketaatan dan jalan yang lurus.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Setelah Nuh dan Ibrahim, Kami lanjutkan dengan para rasul yang Kami utus dengan membawa penjelasan-penjelasan.
Kami utus sesudahnya Isa putra Maryam, Kami berikan kepadanya Injil.


Lalu, Kami jadikan hati para pengikut agamanya lemah lembut, berkasih sayang, dan saling mencintai di antara mereka.
Bahkan, mereka membuat diri mereka menjadi rahbaniyah (tidak menikah) dan melampaui batas dalam beribadah, lebih dari yang telah Kami perintahkan.


Mereka adalah orang-orang yang menyerahkan diri karena berharap mendapatkan ridha Allah.
Kemudian, mereka tidak dapat berdiri teguh karena mereka telah mengganti dan menyeleweng agama Allah sehingga Kami akan berikan kepada yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya di antara mereka pahala yang setimpal dengan keimanan mereka.


Akan tetapi, kebanyakan mereka keluar dari ketaatan kepada Allah dan mendustakan nabi-Nya, Muhammad sallallahu alaihi wa sallam.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasulrasul Kami dan Kami iringi pula dengan Isa putra Maryam, dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang.
Dan kerahbaniyahan) yakni tidak mau kawin dan hidup membaktikan diri di dalam gereja-gereja


(yang mereka ada-adakan) oleh diri mereka sendiri


(padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka) Kami tidak memerintahkan hal itu kepada mereka


(tetapi) melainkan mereka mengerjakannya


(untuk mencari keridaan) demi mencari kerelaan


(Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya) karena kebanyakan di antara mereka meninggalkannya dan kafir kepada agama Nabi Isa, lalu mereka memasuki agama raja mereka.
Akan tetapi masih banyak pula di antara mereka yang berpegang teguh kepada ajaran Nabi Isa, lalu mereka beriman kepada Nabi Muhammad.


(Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman) kepada Nabi Isa


(di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan bahwa sejak Dia mengutus Nuhrasul dan tidak pula seorang nabi sesudahnya melainkan dari keturunannya.
Demikian pula Ibrahimkitab pun yang diturunkan dari langit dan tiada pula seorang rasul diutus serta tiada pula diwahyukan kepada seseorang manusia sesudahnya melainkan dia berasal dari keturunannya.
Seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

dan Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya.
(QS. Al-‘Ankabut [29]: 27)

hingga akhir nabi dari kalangan kaum Bani Israil, yaitu Isa putra Maryam, yang menyampaikan berita gembira akan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ sesudahnya.
Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

Kemudian Kami iringkan di belakang mereka rasulrasul Kami dan Kami iringkan (pula) Isa putra Maryam;
dan Kami berikan kepadanya Injil.
(QS. Al-Hadid [57]: 27)

Injil adalah kitab yang diwahyukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Isadan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya.
(QS.
Al-Hadid [57]: 27)

Mereka dikenal dengan sebutan kaum Hawariyyin.

rasa santun.
(QS. Al-Hadid [57]: 27)


Yakni kelembutan hati, alias rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala

dan kasih sayang.
(QS. Al-Hadid [57]: 27)


kepada sesama makhluk.
Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah.
(QS. Al-Hadid [57]: 27)


Maksudnya, umat Nasrani mengada-adakan peraturan rahbaniyyah ini.

padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka.
(QS. Al-Hadid [57]: 27)

Yaitu padahal Kami tidak memerintahkan hal itu, sesungguhnya hanya mereka sendirilah yang mewajibkannya atas diri mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

untuk mencari keridaan Allah.
(QS. Al-Hadid [57]: 27)

Ada dua pendapat sehubungan dengan makna ayat ini.
Pendapat pertama mengatakan bahwa mereka bermaksud dengan hal itu untuk mendapat rida Allah;
ini menurut apa yang dikatakan oleh Sa’id ibnu Jubair dan Qatadah.
Pendapat yang lainnya mengatakan bahwa padahal Kami tidak mewajibkan hal itu kepada mereka, sesungguhnya yang Kami wajibkan kepada mereka hanyalah mencari rida Allah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.
(QS. Al-Hadid [57]: 27)

Yakni mereka tidak memelihara apa yang mereka wajibkan atas diri mereka dengan pemeliharaan yang semestinya.
Ini mengandung celaan terhadap mereka dipandang dari dua segi.
Pertama, karena mereka telah mengada-adakan sesuatu peraturan di dalam agama Allah, padahal Allah tidak memerintahkannya.
Kedua, karena mereka tidak mengerjakan apa yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri, yang mereka anggap sebagai amal taqarrub yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Abu Hamzah alias Abu Ya’qub Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami As-Sirri ibnu Abdi Rabbihi, telah menceritakan kepada kami Bukair ibnu Ma’ruf, dari Muqatil ibnu Hayyan, dari Al-Qasim ibnu Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnu Mas’ud, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Ibnu Mas’ud) yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya,
"Hai Ibnu Mas’ud!"
Aku menjawab,
"Labbaika, ya Rasulullah."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Tahukah kamu bahwa orang-orang Bani Israil telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan?
Tiada suatu golongan pun yang selamat kecuali tiga golongan, yang hidup di antara para raja dan orang-orang yang melampaui batas sesudah Isa putra MaryamIsa putra Maryam, lalu mereka memerangi orang-orang yang melampaui batas, tetapi akhirnya mereka terbunuh dan tetap bersabar dan akhirnya mereka selamat.
Kemudian bangkit lagi golongan lainnya yang tidak mempunyai kekuatan untuk berperang, mereka bangkit di antara para raja dan orang-orang yang lalim dan menyeru mereka kepada agama Allah dan agama Isa putra Maryam.
Tetapi akhirnya mereka sendirilah yang dibunuh dan dipotong dengan memakai gergaji serta dibakar, mereka sabar dan akhirnya mereka selamat.
Kemudian bangkit lagi golongan lainnya yang juga tidak mempunyai kekuatan untuk berperang.
Dan mereka tidak mampu untuk menegakkan keadilan, akhirnya mereka mengasingkan diri ke gunung-gunung (daerah pedalaman), lalu mereka menyembah Allah dan mengadakan rahbaniyah.
Mereka adalah orang-orang yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam firman-Nya,
"Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka."
(QS. Al-Hadid [57]: 27)

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini dengan lafaz yang lain melalui jalur lain.
Untuk itu ia mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Talib, telah menceritakan kepada kami Daud ibnul Muhabbar, telah menceritakan kepada kami As-Sa’q ibnu Jarir, telah menceritakan kepada kami Uqail Al-Ja’di, dari Abu Ishaq Al-Hamdani, dari Suwaid ibnu Gaflah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Orang-orang sebelum kita telah bercerai-berai menjadi tujuh puluh tiga golongan, hanya ada tiga golongan dari mereka yang selamat, sedangkan yang lainnya binasa.
Lalu disebutkan hal yang semisal dengan hadis di atas, yang antara lain disebutkan di dalamnya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya.
(QS. Al-Hadid [57]: 27)
Mereka adalah orang-orang dari kalangan mereka yang beriman kepadaku dan membenarkanku.
dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.
(QS. Al-Hadid [57]: 27)
Mereka adalah orang-orang dari kalangan mereka yang mendustakan aku dan menentangku.


Dengan adanya tambahan ini perlu diteliti ulang mengenai keadaan Daud ibnul Muhabbar, karena sesungguhnya dia adalah salah seorang pemalsu hadis.
Akan tetapi, Abu Ya’la telah mengisnadkannya dari Syaiban ibnu Farukh, dari As-Sa’q ibnu Hazn dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal sehingga kedudukan hadis ini kuat bila ditinjau dari jalur ini.

Ibnu Jarir dan Abu Abdur Rahman An-Nasai yang lafaz hadis berikut menurut apa yang ada padanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Hurayyis, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Musa, dari Sufyan ibnu Sa’id, dari Ata ibnus Sa-ib, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa dahulu para raja sesudah masa IsaTaurat dan Injil, sedangkan di kalangan mereka masih ada sejumlah orang-orang yang beriman dan membaca kitab Taurat dan kitab Injil yang asli.
Lalu dikatakan kepada raja-raja mereka,
"Kami belum pernah menemukan sesuatu yang lebih memberatkan kami selain dari cacian yang dilancarkan oleh mereka (yang beriman), karena sesungguhnya mereka selalu membaca:
‘Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir‘ (QS. Al-Ma’idah [5]: 44)
Yakni ayat-ayat yang semakna dengannya.
Selain itu mereka pun mencaci maki sebagian dari amal perbuatan kita dalam bacaan mereka.
Maka panggillah mereka dan suruhlah mereka membaca sebagaimana kita membaca, dan suruhlah mereka beriman sebagaimana kita beriman."
Lalu raja mereka memanggil orang-orang yang beriman itu dan menawarkan kepada mereka dua alternatif dibunuh atau membaca kitab seperti bacaan yang dilakukan olehnya (yang telah diubah).
Mereka menjawab,
"Apakah yang kamu maksud dengan semua ini, biarkanlah kami."
Segolongan dari mereka (yang beriman) mengatakan,
"Bangunkanlah untuk kami bangunan yang tinggi, kemudian naikkanlah kami ke atasnya, tetapi berikanlah sesuatu kepada kami agar kami dapat mengangkat makanan dan minuman kami, setelah itu kami tidak akan lagi datang kepada kamu."
Golongan lainnya mengatakan,
"Biarkanlah kami mengembara di muka bumi, kami akan makan dan minum sebagaimana hewan-hewan liar minum dan makan.
Maka jika kamu dapat menangkap kami di negerimu, silakan bunuh kami."
Golongan lainnya mengatakan,
"Bangunkanlah untuk kami biara-biara di padang pasir, maka kami akan menggali sumur sendiri dan kami akan bercocok tanam sayur-mayur, lalu kami tidak akan lagi datang kepada kamu dan tidak pula lewat kepadamu."
Dan tiada suatu kabilah pun melainkan mempunyai hubungan yang erat dengan mereka, dan hal tersebut diberlakukan terhadap mereka.
Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.
(QS. Al-Hadid [57]: 27)
Dan orang-orang yang selain mereka mengatakan,
"Kami beribadah sebagaimana si Fulan beribadah, dan kami mengembara sebagaimana si Fulan mengembara, dan kami membangun biara sebagaimana si Fulan membangun biara."
Mereka dalam kemusyrikannya tidak mempunyai pengetahuan apa pun tentang keimanan orang-orang yang dijadikan panutan oleh mereka.
Ketika Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi ﷺ, tiada yang tersisa dari kalangan mereka yang beriman itu kecuali hanya sejumlah kecil saja.
Lalu turunlah seseorang dari mereka dari biaranya dan datanglah seorang pengembara dari mereka, dan keluarlah seseorang dari mereka dari gerejanya, lalu mereka beriman kepada Nabi ﷺ dan membenarkannya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat­Nya kepadamu dua bagian.
(QS. Al-Hadid [57]: 28)
Dua pahala, yang satu karena keimanan mereka kepada Isa putra Maryam dan jerih payah mereka dalam memelihara kitab Taurat dan Injil.
Sedangkan yang kedua karena berkat keimanan mereka kepada Nabi ﷺ dan kepercayaan mereka kepadanya.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan.
(QS. Al-Hadid [57]: 28)
Yakni Alquran dan disebabkan mereka mengikuti Nabi ﷺ supaya Ahli Kitab mengetahui.
(QS. Al-Hadid [57]: 29)
Yaitu orang-orang yang menyerupai kamu.
bahwa mereka tiada mendapat sedikit pun akan karunia Allah (j ika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di tangan kekuasaan Allah.
Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
(QS. Al-Hadid [57]: 29)

Tetapi konteks riwayat ini mengandung hal-hal yang garib, dan nanti akan diterangkan tafsir kedua ayat ini di tempat yang lain, insya Allah.

Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Sa’id ibnu Abdur Rahman ibnu Abul Amya.
Sahl ibnu Abu Umamah pernah menceritakan kepadanya bahwa dia dan ayahnya pernah mengunjungi Anas ibnu Malik di Madinah di masa pemerintahan Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz, yang saat itu Anas menjabat sebagai Amir Madinah.
Anas saat itu sedang mengerjakan suatu salat yang ringan yang seakan-akan salatnya itu seperti salat orang yang sedang musafir atau mendekati itu.
Setelah Anas bersalam, Abu Umamah berkata,
"Semoga Allah merahmatimu.
Bagaimanakah menurutmu, apakah salat ini adalah salat fardu ataukah salat sunat?"
Anas menjawab, bahwa sesungguhnya salat yang baru saja ia kerjakan adalah salat fardu, dan sesungguhnya salat tersebut pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ Ia tidak akan keliru kecuali bila ia lupa sesuatu yang ia terima dari Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Janganlah kamu memperberat dirimu sendiri, maka akibatnya kamu akan diperberat.
Karena sesungguhnya pernah ada suatu kaum yang memperberat terhadap dirinya sendiri, maka akibatnya mereka diperberat.
Dan itulah sisa-sisa mereka berada di biara-biara dan gereja-gereja;
mereka telah mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka.

Kemudian pada keesokan harinya mereka berkata,
"Marilah kita berkendara (berangkat) untuk melihat dan mengambil pelajaran."
Anas ibnu Malik menjawab,
"Baiklah."
Lalu mereka semua pergi dengan berkendaraan.
Ternyata mereka menjumpai perkampungan yang tak berpenghuni, semua penghuninya telah binasa dan punah, temboknya telah runtuh menimpa atap rumah-rumah mereka.
Lalu mereka berkata,
"Tahukah kamu perkampungan ini?"
Anas ibnu Malik menjawab,
"Sepanjang pengetahuanku perkampungan ini dan para penghuninya telah dibinasakan oleh perbuatan keji dan dengki.
Sesungguhnya dengki itu memadamkan cahaya kebaikan, dan kekejianlah yang membenarkan atau mendustakannya;
mata bisa saja Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Zaid yang tuna netra, dari Abu Iyas, dari Iyas ibnu Malik, bahwa Nabi ﷺ pernah Bagi tiap-tiap nabi ada rahbaniyyahnya sendiri dan rahbaniyyah umat ini adalah berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala

Al-Hafiz Abu Ya’la telah meriwayatkan hadis ini dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Asma, dari Abdullah ibnul Mubarak, yang lafaznya berbunyi seperti berikut:
Bagi tiap-tiap umat ada rahbaniyyahnya sendiri, dan rahbaniyyah umat ini adalah berjihad di jalan Allah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Iyasy (yakni ibnu Ismail), dari Al-Hajjaj ibnu Harun Al-Kala’i dan Uqail ibnu Mudrik As-Sulami, dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., bahwa pernah ada seorang lelaki datang kepadanya, lalu berkata,
"Berwasiatlah kepadaku."
Abu Sa’id Al-Khudri r.a. menjawab,
"Engkau telah bertanya mengenai hal yang pernah kutanyakan kepada Rasulullah ﷺ sebelummu, (maka beliau menjawab), ‘Aku berwasiat kepadamu agar bertakwa kepada Allah, karena sesungguhnya takwa itu adalah penghulu segala sesuatu.
Berjihadlah kamu, karena sesungguhnya jihad itu adalah rahbaniyyah Islam.
Dan berzikirlah kamu kepada Allah dan bacalah Alquran, karena sesungguhnya hal tersebut adalah rohmu di langit dan sebutanmu di bumi’."

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara munfarid(tunggal), hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Kata Pilihan Dalam Surah Al Hadid (57) Ayat 27

RA’FAH
رَأْفَة

Lafaz ini adalah mashdar ra’afa yar’ufu berarti mengasihi dan menaruh belas kasihan.

Ar Razi berkata makna ra’fah ialah amat mengasihi (asysyad ar rahmaan).
Darinya wujud lafaz ra’uuf ialah nama dari salah satu nama-nama Allah seperti ayat

إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

maksudnya "Allah tidak menginginkan kamu mendapat kesusahan dan kepayahan disebabkan kasih yang melimpah kepada kamu"

Lafaz ra’fah disebut dua kali di dalam Al Quran yaitu dalam surah:
An Nuur (24), ayat 2;
Al Hadid (57), ayat 27.
Allah berfirman:

وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِى دِينِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ

dan

وَجَعَلْنَا فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً

Dalam Mu’jam Alfaz Al Qaran,ra’fah dari Allah bermakna menolak kejahatan.
Topik pembicaraan dalam kedua ayat di atas adalah berbeda.
Pertama, berkenaan lelaki dan wanita yang kitab Injil yang di turunkan oleh Allah.

Ibn Jarir menyimpulkan, Islam menjatuhkan hukuman kepada lelaki dan perempuan yang

bermakna "Dan jangan menaruh belas kasihan walaupun sekali."

Menurut bahasa Arab, lafaz ra’fah mengandung dua sebutan yaitu ar ra’fah dan ar ra’afah seperti al ka’abah dan al ka’abah.

Ar ra’fah berarti menaruh belas kasihan.
Sedangkan dalam ayat kedua Allah memasukkan ra’fah yaitu kasih sayang dalam hati mereka yang mengamalkan kitab Injil dengan melakukan kebaikan dan menjauhkan diri dari menyakiti manusia.

Al Qurtubi mengtakan, ra’fah mengandung makna at tin yaitu kelembutan, meringankan kesusahan dan rahmat yang melimpah.
Dari makna ini, maksud ayat dalam surah Al Hadid adalah, "Kami akan menjadikan hati orang yang mengikuti ajaran dan agama Nabi ‘Isa yaitu para ulama ya dan pengikut mereka kasih sayang antara satu sama lain.

Hal ini adalah isyarat melalui kitab Injil.
Mereka diseru supaya berbuat baik dan meninggalkan perkara yang menyakiti manusia.
Lalu, mereka berbuat demikian.
Oleh karena itu, Allah melembutkan hati mereka.
Sedangkan maksud dari surah An Nur adalah "Janganlah kamu enggan melaksana kan hukum hudud karena simpati dan ke lembutan kamu terhadapnya dan jangan pula meringankan hukuman itu sehingga tidak membuatnya sakit.

Kesimpulannya, lafaz ra’fah pada kedua dua ayat di atas berbeda makna.
Dalam surah An Nur, lafaz ra’fah didahului dengan la ta’ khudzu yang berarti jangan menaruh simpati dan belas kesihan.
Sedangkan makna ra’fah pada surah Al Hadid adalah kasih sayang dan kelembutan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 247

Unsur Pokok Surah Al Hadid (الحديد)

Surat Al-Hadid terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Az Zalzalah.

Dinamai "Al Hadiid" (Besi), diambil dari perkataan "Al Hadiid" yang terdapat pada ayat 25 surat ini.

Keimanan:

▪ Hanya kepada Allah kembali semua urusan.
▪ Beberapa sifat Allah dan beberapa Asmaa-ul Husna serta pernyataan kekuasaan Allah di langit dan di bumi.

Hukum:

▪ Perintah menafkahkan harta.

Lain-lain:

▪ Keadaan orang-orang munafik di hari kiamat.
Hakikat kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
▪ Tujuan penciptaan besi.
▪ Tujuan diutusnya para rasul.
▪ Kehidupan kerahiban dalam agama Nasrani bukan berasal dari ajaran Nabi Isa `

Audio

QS. Al-Hadid (57) : 1-29 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 29 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Hadid (57) : 1-29 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 29

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Hadid ayat 27 - Gambar 1 Surah Al Hadid ayat 27 - Gambar 2
Statistik QS. 57:27
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Hadid.

Surah Al-Hadid (bahasa Arab:الحديد, “Besi”) adalah surah ke-57 dalam Alquran.
Surah ini tergolong surah Madaniyah dan terdiri atas 29 ayat.
Dinamakan Al Hadiid yang berarti besi diambil dari perkataan Al Hadiid yang terdapat pada ayat ke-25 surat ini.

Nomor Surah57
Nama SurahAl Hadid
Arabالحديد
ArtiBesi
Nama lain
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu94
JuzJuz 27
Jumlah ruku’4 ruku’
Jumlah ayat29
Jumlah kata576
Jumlah huruf2545
Surah sebelumnyaSurah Al-Waqi’ah
Surah selanjutnyaSurah Al-Mujadilah
Sending
User Review
4.7 (13 votes)
Tags:

57:27, 57 27, 57-27, Surah Al Hadid 27, Tafsir surat AlHadid 27, Quran Al-Hadid 27, Surah Al Hadid ayat 27

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) – surah 21 ayat 52 [QS. 21:52]

52. Perjuangan Nabi Ibrahim dalam menegakkan ajaran tauhid dimulai sejak remaja, ketika dia berkata kepada ayahnya yang bernama Azar, dan kaumnya, di Kota Ur, Kaldea, Mesopotamia Timur. Wahai ayahku d … 21:52, 21 52, 21-52, Surah Al Anbiyaa 52, Tafsir surat AlAnbiyaa 52, Quran Al-Anbya 52, Al Anbiya 52, Alanbiya 52, Al-Anbiya’ 52, Surah Al Anbiya ayat 52

QS. Al Qalam (Pena) – surah 68 ayat 22 [QS. 68:22]

21-24. Mereka belum mengetahui bahwa kebun sudah hancur. Sesuai dengan rencana mereka, lalu dengan penuh rahasia pada pagi hari mereka saling memanggil, “Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak … 68:22, 68 22, 68-22, Surah Al Qalam 22, Tafsir surat AlQalam 22, Quran Al-Qalam 22, Surah Al Qolam ayat 22

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ

Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang muttaqin (bertakwa),
--QS. 2:2

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai ...

Benar! Kurang tepat!

Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ہٰذَا بَصَآئِرُ لِلنَّاسِ وَ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃٌ لِّقَوۡمٍ یُّوۡقِنُوۡنَ

(Alquran) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
--QS. 45:20

+

Array

Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #6
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #6 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #6 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #20

Yang termasuk mustahiq (orang berhak menerima zakat) berikut yaitu … orang biasa kaum muslimin hamba sahaya musawwir orang kafir Benar!

Pendidikan Agama Islam #6

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang … kafir muslim muttaqin mukminin mukhlisin Benar!

Pendidikan Agama Islam #4

Aurat dari tubuh pria adalah mulai … dari pusar ke lutut leher sampai perut dari leher ke pergelangan kaki seluruh

Instagram