QS. Al Furqaan (Pembeda) – surah 25 ayat 5 [QS. 25:5]

وَ قَالُوۡۤا اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ اکۡتَتَبَہَا فَہِیَ تُمۡلٰی عَلَیۡہِ بُکۡرَۃً وَّ اَصِیۡلًا
Waqaaluuu asaathiirul au-waliinaaktatabahaa fahiya tumla ‘alaihi bukratan wa-ashiilaa;

Dan mereka berkata:
“Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang”.
―QS. 25:5
Topik ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
25:5, 25 5, 25-5, Al Furqaan 5, AlFurqaan 5, Al Furqan 5, AlFurqan 5, Al-Furqan 5

Tafsir surah Al Furqaan (25) ayat 5

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Furqaan (25) : 5. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang kafir itu mengatakan pula Alquran itu hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala yang mereka tulis di dalam buku-buku dan Nabi Muhammad minta kepada orang-orang Yahudi supaya disalinkan untuknya dan dibacakan kepadanya agar dia dapat menghafalnya pagi dan petang.
Setelah dihafalnya barulah dia bacakan kepada sahabat dan pengikutnya sebagai Alquran yang didakwakan turun dari langit.
Alangkah beraninya mereka mengada-ngada sesuatu yang tak pernah terjadi pada Nabi Muhammad ﷺ.
Kalau benar demikian tentulah para sahabatnya akan mengetahui hal itu dan tentulah mereka tidak akan percaya lagi kepadanya.
Pada hal Nabi Muhammad dikenal oleh mereka semenjak kecilnya sebagai orang yang paling dipercaya, jujur dan tak pernah dusta.
Apakah mungkin seorang yang demikian sifatnya semenjak dari kecilnya akan menipu orang yang setia kepadanya dan mendakawahkan hal-hal yang bukan-bukan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tentang Al Quran, mereka juga mengatakan, “Sesungguhnya Al Quran itu adalah kebohongan orang-orang terdahulu yang mereka tulis di buku-buku mereka.
Kemudian Muhammad meminta agar dituliskan kembali untuknya dan dibacakan terus-menerus, pagi dan sore hari, sampai dia hafal betul dan dapat melafalkannya.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan mereka berkata,) pula bahwa Alquran itu (“Dongengan-dongengan orang-orang dahulu) yakni kedustaan-kedustaan mereka.

Lafal Asaathiir adalah bentuk jamak dari lafal Usthuurah (dimintanya supaya dituliskan) telah menukilnya dari kaum tersebut melalui orang lain (maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya) supaya ia hafal (setiap pagi dan petang.”) Kemudian Allah berfirman menyanggah ucapan mereka:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Mereka berkata tentang Al-Qur’an :
Al-Qur’an ini adalah dongengan-dongengan orang-orang terdahulu yang tertulis di dalam kitab-kitab mereka.
Muhammad telah menyalinnya dari kitab-kitab tersebut dan membacanya tiap pagi dan petang.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka berkata, “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan.”(Q.S. Al-Furqaan [25]: 5)

Yakni kitab-kitab orang-orang terdahulu, lalu dia meminta agar dibuat salinan untuknya.

“Maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (Q.S. Al-Furqaan [25]: 5)

Yaitu setiap pagi dan sore.
Ucapan mereka ini diketahui kebatilannya oleh semua orang karena ngaco, dusta, dan buat-buatan serta tidak ada buktinya.
Karena sesungguhnya telah diketahui secara mutawatir dan pasti bahwa Muhammad Rasulullah ﷺ tidak pernah belajar menulis, baik di permulaan usianya maupun di akhirnya.
Dia tumbuh di tengah-tengah mereka yang melancarkan tuduhan tersebut, sejak kelahirannya hingga Allah mengangkatnya sebagai utusan-Nya, yang memakan waktu empat puluh tahun.
Mereka secara pasti mengetahui seluk-beluknya, kejujurannya, kebersihan dirinya, kebajikannya, sifat amanahnya, jauh dari dusta dan perbuatan lacur serta akhlak-akhlak yang rendah lainnya.
Hingga mereka memberinya julukan Al-Amin sejak kecil sampai Allah mengangkatnya sebagai utusan, sebab mereka mengetahui kejujuran dan kebajikannya.

Tetapi setelah Allah memuliakannya dengan mengangkatnya sebagai seorang rasul, maka mulailah mereka melancarkan permusuhan terhadapnya dan melemparinya dengan tuduhan-tuduhan tersebut, yang diketahui oleh setiap orang yang berakal, bahwa beliau bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka.
Mereka sendiri bingung dalam melancar­kan tuduhannya, terkadang mereka dengan tuduhan dustanya menjulukinya sebagai seorang penyihir, terkadang mengatakannya sebagai seorang penyair, adakalanya mengatakannya sebagai seorang yang gila, adakalanya pula mengatakannya sebagai pendusta.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Lihatlah bagaimana mereka membuatperumpamaan-perumpamaan terhadapmu, karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).
(Q.S. Al Israa [17]: 48)


Kata Pilihan Dalam Surah Al Furqaan (25) Ayat 5

ASHAATHIIR
أَسَٰطِير

Lafaz ini adalah jamak dari jamak juga yaitu usthurah atau isthar, mufradnya ialah sathr yang bermakna al khat (tulisan).

Dalam Kamus Al Munjid dijelaskan, ia bermakna apa yang ditulis, percakapan yang tidak ada asas baginya atau apa yang ditulis dari keajaiban cerita orang yang terdahulu.

Kata dalam bentuk jamak ini disebut sembilan kali di dalam Al Qur’an yaitu surah:
-Al An’aam (6), ayat 25;
-Al Anfaal (8), ayat 31;
-Al Nahl (16), ayat 68;
-Al Mu’minnuun (23), ayat 83;
-Al Furqaan (25), ayat 5;
-Al Naml (27), ayat 68;
-Al Ahqaaf (46), ayat 17;
-Al Qalam (68), ayat 15;
-Al Muthaffifiin (83), ayat 13.

Al Baidawi berkata,
Asaathir bermakna al abaathil (kebatilan-kebatilan), ini adalah karena mereka menjadikan kalam yang benar sama seperti khurafat-khurafat terdahulu yang berisi kebohongan-kebohongan.”

Al Khazin berkata,
“Ia bermakna cerita­-cerita atau percakapan-percakapan dari umat-umat terdahulu dan khabar berita serta cerita-cerita mereka dan apa yang mereka tulis. Maksudnya, mereka mengatakan Al­ Quran seperti percakapan dan cerita-cerita terdahulu, bukan wahyu dari Allah.”

An Nasafi menafsirkan lafaz ini dengan menyatakan “mereka menjadikan dan mengatakan Kalam Allah adalah dusta dan bohong.”

Sedangkan dalam Tafsir Tanwir Al­ Miqbas, ia bermakna kebohongan orang terdahulu dan cerita-cerita dongeng mereka.

Kesimpulannya, asaathir bermakna kebatilan-kebatilan cerita yang ditulis.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:68

Informasi Surah Al Furqaan (الفرقان)
Surat ini terdiri atas 77 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.

Dinamai “Al Fur­qaan” yang artinya “pembeda”,
diambil dari kata “Al Furqaan” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Yang dimaksud dengan Al Furqaan dalam ayat ini ialah Al Qur’an.
Al Qur’an dinamakan Al Furqaan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil.
Maka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah subhanahu wa ta’ala dengan kebatilan kepercayaan syirik.

Keimanan:

Allah Maha Besar berkah dan kebaikan-Nya
hanya Allah saja yang menguasai langit dan bumi
Allah tidak punya anak dan sekutu
Al Qur’an benar-benar diturun­kan dari Allah
ilmu Allah meliputi segala sesuatu
Allah bersemayam di atas Arsy
Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba Allah yang diutus ke seluruh alam
rasul­-rasul itu adalah manusia biasa yang mendapat wahyu dari Allah
pada hari kiamat akan terjadi peristiwa-peristiwa luar biasa seperti belahnya langit, turunnya malai­kat ke bumi
orang-orang berdosa dihalau ke neraka dengan berjalan atas muka mereka.

Hukum:

Tidak boleh mengabaikan Al Qur’an
larangan menafkahkan harta secara boros atau kikir
larangan membunuh atau berzina
kewajiban memberantas kekafiran dengan mempergunakan alasan Al Qur’an
larangan memberikan persaksian palsu.

Kisah:

Kisah-kisah Musa a.s, Nuh a.s.
kaum Tsamud dan kaum Syu ‘aib.

Lain-lain:

Celaan-celaan orang-orang kafir terhadap Al Qur’an
kejadian-kejadian alamiyah sebagai bukti ke-esaan dan kekuasaan Allah
hikmah Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur
sifat-sifat orang musyrik antara lain mempertuhankan hawa nafsu,tidak mempergunakan akal
sifat-sifat hamba Allah yang sebenamya.

Ayat-ayat dalam Surah Al Furqaan (77 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Furqaan (25) ayat 5 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Furqaan (25) ayat 5 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Furqaan (25) ayat 5 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Furqaan - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 77 & Terjemahan


Gambar

no images were found



Statistik Q.S. 25:5
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Furqaan.

Surah Al-Furqan (Arab: الفرقان ,"Pembeda") adalah surah ke-25 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 77 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Dinamai Al-Furqan yang artinya pembeda, diambil dari kata al-Furqan yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Yang dimaksud dengan Al-Furqan dalam ayat ini ialah Al-Quran (lihat nama lain Al-Qur'an).
Al-Quran dinamakan Al-Furqan karena dia membedakan antara yang haq dengan yang batil.
Maka pada surat ini pun terdapat ayat-ayat yang membedakan antara kebenaran ke-esaan Allah s.w.t.
dengan kebatilan kepercayaan syirik.

Nomor Surah 25
Nama Surah Al Furqaan
Arab الفرقان
Arti Pembeda
Nama lain Tabaraka
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 42
Juz Juz 18 (1-20) sampai juz 19 (21-77)
Jumlah ruku' 6 ruku'
Jumlah ayat 77
Jumlah kata 896
Jumlah huruf 3876
Surah sebelumnya Surah An-Nur
Surah selanjutnya Surah Asy-Syu'ara'
4.7
Ratingmu: 4.5 (11 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/25-5







Pembahasan ▪ wafissamai rizkukum ▪ Al furqon 25:5

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Podcast

Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta