Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Al Fatihah

Al Fatihah (Pembukaan) surah 1 ayat 4


مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ
Maaliki yaumiddiin(i);

Yang menguasai di Hari Pembalasan.
―QS. 1:4
Topik ▪ Hari Kiamat ▪ Nama-nama hari kiamat ▪ Segala sesuatu milik Allah
1:4, 1 4, 1-4, Al Fatihah 4, AlFatihah 4, Al-Fatihah 4
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Fatihah (1) : 4. Oleh Kementrian Agama RI

Sesudah Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan beberapa sifat-Nya, yaitu: Tuhan semesta alam, Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, maka diiringi-Nya dengan menyebutkan satu sifat-Nya lagi, yaitu menguasai hari pembalasan.

"Malik" berarti "Yang Menguasai"

Ada dua macam bacaan berkenaan dengan "Malik",
pertama dengan memanjangkan "Maa",
kedua dengan memendekkannya.
Menurut bacaan yang pertama, "Maalik" artinya: Yang memiliki (yang empunya).
Sedang menurut bacaan yang kedua, artinya: Raja; kedua-dua bacaan itu dibolehkan.

Baik menurut bacaan yang pertama, atau pun bacaan yang kedua, dapat dipahami dari kata itu arti "berkuasa" dan bertindak dengan sepenuhnya.
Sebab itulah maka diterjemahkan dengan: "Yang menguasai".
"Yaum",
(hari) artinya, tetapi yang dimaksud di sini ialah waktu secara mutlak.

"Ad-Din" itu banyak artinya, di antaranya:

1.Perhitungan
2.Ganjaran, pembalasan
3.Patuh
4.Menundukkan
5.Syariat, agama
Yang selaras di sini ialah dengan arti "pembalasan".
Jadi "Maaliki yaumiddin" maksudnya "Tuhan itulah yang berkuasa dan yang dapat bertindak dengan sepenuhnya terhadap semua makhluk-Nya pada hari pembalasan itu".

Sebetulnya pada hari kemudian itu banyak hal-hal yang terjadi, yaitu hari kiamat, hari berbangkit, hari berkumpul, hari perhitungan, hari pembalasan, tetapi pembalasan sajalah yang disebut oleh Tuhan di sini, karena itulah yang terpenting.
Yang lain dari itu, umpamanya kiamat, berbangkit dan seterusnya, pendahuluan dari pembalasan itu, apalagi untuk targib dan tarhib (menarik dan menakuti) dengan menyebut "hari pembalasan" itulah yang lebih tepat.

Hari akhirat menurut pendapat akal (filsafat)

Kepercayaan tentang adanya hari akhirat, yang di hari itu akan diadakan perhitungan terhadap perbuatan manusia di masa hidupnya dan diadakan pembalasan yang setimpal, adalah suatu kepercayaan yang sesuai dengan akal.

Sebab itu adanya hidup yang lain, sesudah hidup di dunia ini bukanlah saja ditetapkan oleh agama, malah juga ditunjukkan oleh akal.

Seseorang yang mau berpikir tentu akan merasa bahwa hidup di dunia ini belumlah sempurna, perlu disambung dengan hidup yang lain.
Alangkah banyaknya hidup di dunia ini orang yang teraniaya telah pulang ke rahmatullah sebelum mendapat keadilan.
Alangkah banyaknya orang yang berjasa, biar kecil atau besar, belum mendapat penghargaan terhadap jasanya.
Alangkah hanyaknya orang yang telah berusaha, memeras keringat dan peluh, membanting tulang tetapi belum sempat lagi merasa buah usahanya itu.
Sebaliknya, alangkah banyaknya penjahat-penjahat, penganiaya, pembuat onar yang tak dapat dipegang oleh pengadilan di dunia ini.
Lebih-lebih kalau yang melakukan kejahatan atau aniaya itu orang yang berkuasa sebagai raja, pembesar dan lain-lain.
Maka biar pun kejahatan dan aniaya itu telah meratai bangsa seluruhnya tiadalah digugat orang, malah dia tetap dipuja dan dihormati.
Victor Hugo (1802-1885) pernah menyindir keadaan ini dengan katanya, "Membunuh seorang manusia dalam rimba adalah satu dosa yang tak dapat diampuni, tetapi membunuh suatu bangsa seluruhnya adalah satu soal yang masih dapat dipertimbangkan." Maka di manakah akan didapat gerangan keadilan itu, kalau tidak ada nanti mahkamah yang lebih tinggi, yaitu mahkamah Allah di hari kemudian.

Sebab itu ahli-ahli pikir dari zaman dahulu telah ada yang sampai kepada kepercayaan tentang adanya hari akhirat itu, semata-mata dengan jalan berpikir.
Antara lain Pythagoras; filosof ini berpendapat bahwa hidup di dunia ini persediaan hidup yang abadi di akhirat kelak.
Sebab itu semenjak dari dunia hendaklah orang bersedia untuk hidup yang abadi ini.
Socrates, Plato dan Aristoteles, "Jiwa yang baik akan merasai kenikmatan dan kelezatan di akhirat, tetapi bukan kelezatan kebendaan, karena kelezatan kebendaan itu terbatas dan mendatangkan bosan dan jemu.
Hanya kelezatan rohani yang bagaimana pun banyak dan lamanya, tiadalah menyebabkan bosan dan jemu."

Kepercayaan Bangsa Arab Sebelum Islam tentang hari akhirat.

Di antara bangsa Arab sebelum datang agama Islam didapati beberapa ahli pikir dan pujangga-pujangga yang telah mempercayai adanya hari kemudian itu.
Umpamanya Zuhair bin Abu Sulma yang meninggal dunia setahun sebelum Nabi Muhammad ﷺ.
diutus Allah.
Pujangga ini pernah berkata yang artinya:

Sesuatu pekerti atau perbuatan seseorang yang menurut dugaannya tidak diketahui orang, pasti diketahui juga oleh Tuhan.

Sebab itu janganlah disembunyikan kepada Allah sesuatu yang ada pada dirimu, karena bagaimanapun kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan mengetahuinya.

Dilambatkan membalasnya, maka ditulislah dalam buku disimpan sampai "hari perhitungan",
atau disegerakan maka diberi balasan.
Ada pula di antara mereka yang tidak mempercayai adanya hari kemudian itu.
Dengarlah apa yang dikatakan oleh salah seorang penyair mereka:
"Hidup, sudah itu mati, sudah itu dibangkit lagi, itulah cerita dongeng hai fulan".

Karena itu, datanglah agama Islam membawa kepastian tentang adanya hari kemudian.
Di hari akan dihisab semua perbuatan yang telah dikerjakan manusia selama hidupnya biar pun besar atau kecil.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah pun niscaya akan melihat (balasan)nya pula.
(Q.S Az Zalzalah: 7-8)

Al Fatihah (1) ayat 4 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Fatihah (1) ayat 4 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Fatihah (1) ayat 4 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Dan Dialah Penguasa satu-satunya pada hari kiamat, hari penghitungan dan pembalasan.
wewenang-Nya pada hari itu bersifat mutlak dan tidak disekutui oleh suatu apa pun.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Yang menguasai hari pembalasan) di hari kiamat kelak.
Lafal 'yaumuddiin' disebutkan secara khusus, karena di hari itu tiada seorang pun yang mempunyai kekuasaan, kecuali hanya Allah Taala semata, sesuai dengan firman Allah Taala yang menyatakan, "Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini (hari kiamat)?
Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan." (Q.S.
Al-Mukmin 16) Bagi orang yang membacanya 'maaliki' maknanya menjadi "Dia Yang memiliki semua perkara di hari kiamat".
Atau Dia adalah Zat yang memiliki sifat ini secara kekal, perihalnya sama dengan sifat-sifat-Nya yang lain, yaitu seperti 'ghaafiruz dzanbi' (Yang mengampuni dosa-dosa).
Dengan demikian maka lafal 'maaliki yaumiddiin' ini sah menjadi sifat bagi Allah, karena sudah ma`rifah (dikenal).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Hanya Allah semata penguasa Hari Kiamat yang merupakan hari pembalasan atas perbuatan manusia.
Dibacanya ayat ini oleh seorang muslim di setiap rakaat shalatnya mengingatkan kepada hari akhir, mendorongnya untuk bersiap-siap dengan amal shalih dan menahan diri dari dosa-dosa dan keburukan-keburukan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Sebagian ulama qiraah membacanya مَلِك, sedangkan sebagian yang lain membacanya مَالِكِ; kedua-duanya sahih lagi mutawatir di kalangan As-Sab'ah.

Lafaz maliki dengan huruf lam di-kasrah-kan, ada yang membacanya malki dan maliki.
Sedangkan menurut bacaan Nafi', harakat kasrah huruf kaf dibaca isyba' hingga menjadi malaki yaumid din (مَلَكِي يَوْمِ الدِّينِ).

Kedua bacaan tersebut (malaki dan maliki) masing-masing mempunyai pendukungnya tersendiri ditinjau dari segi maknanya; kedua bacaan tersebut sahih lagi baik.
Sedangkan Az-Zamakhsyari lebih menguatkan bacaan maliki, mengingat bacaan inilah yang dipakai oleh ulama kedua Kota Suci (Mekah dan Madinah), dan karena firman-Nya

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ

Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?
(Al-Mu’min: 16)

قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ

Dan benarlah perkataan-Nya dan di tangan kekuasaan-Nyalah segala sesuatu (Al-An'am: 75)

Telah diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa ia membaca malaka yaumidin (مَلَكَ يوم الدين) atas dasar anggapan fi’il, fa’il, dan maful, tetapi pendapat ini menyendiri lagi aneh sekali.

Abu Bakar ibnu Abu Daud meriwayatkan —sehubungan dengan bacaan tersebut— sesuatu yang garib (aneh), mengingat dia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman Al-Azdi, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ibnu Addi ib-aul Fadl.
dari Abul Mutarrif, dari Ibnu Syihab yang telah mendengar hadits bahwa Rasulullah ﷺ, Abu Bakar.
Umar, dan Usman serta Mu'awiyah dan anaknya —yaitu Yazid ibnu Mu'awiyah— membaca maaliki yaumid din.
Ibnu Syihab mengatakan bahwa orang yang mula-mula membaca maliki adalah Marwan (Ibnul Hakam).
Menurut kami, Marwan mengetahui kesahihan apa yang ia baca, sedangkan hal ini tidak diketahui oleh Ibnu Syihab.

Telah diriwayarkan sebuah hadis melalui berbagai jalur periwayatan yang diketengahkan oleh Ibnu Murdawaih, bahwa Rasulullah ﷺ membacanya maliki yaumid din.
Lafaz malik diambil dari kata al-milku, seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْها وَإِلَيْنا يُرْجَعُونَ

Sesungguhnya Kami memiliki bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami-lah mereka dikembalikan.
(Maryam: 40)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ

Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
Pemilik manusia.
(An-Nas: 1-2)

Sedangkan kalau maliki diambil dari kata al-mulku, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْواحِدِ الْقَهَّارِ

Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?
Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.
(Al-Mu’min: 16)

قَوْلُهُ الْحَقُّ وَلَهُ الْمُلْكُ

Benarlah perkataan-Nya.
dan di tangan kekuasaan-Nyalah segala kekuasaan.
(Al-An'am: 73)

الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمنِ وَكانَ يَوْماً عَلَى الْكافِرِينَ عَسِيراً

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah.
Dan adalah (hari itu) suatu hari yang penuh dengan kesukaran bagi orang-orang kafir.
(Al-Furqan: 26)

Pengkhususan sebutan al-mulku (kerajaan) dengan yaumid din (hari pembalasan) tidak bertentangan dengan makna lainnya, mengingat dalam pembahasan sebelumnya telah diterangkan bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, yang pengertiannya umum mencakup di dunia dan akhirat.
Di-mudaf-kan kepada lafaz yaumid din karena tiada seorang pun pada hari itu yang mendakwakan sesuatu, dan tiada seorang pun yang dapat angkat bicara kecuali dengan seizin Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana dinyatakan di dalam firman-Nya:

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلائِكَةُ صَفًّا لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمنُ وَقالَ صَواباً

Pada hari ketika roh dan malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata.
kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.
(An-Naba': 38)

وَخَشَعَتِ الْأَصْواتُ لِلرَّحْمنِ فَلا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْساً

dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.
(Thaha: 108)

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya.
maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.
(Hud: 105)

Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa maliki yaumid din artinya "tiada seorang pun bersama-Nya yang memiliki kekuasaan seperti halnya di saat mereka (raja-raja) masih hidup di dunia pada hari pembalasan tersebut".

Ibnu Abbas mengatakan, yaumid din adalah hari semua makhluk menjalani hisab, yaitu hari kiamat; Allah membalas mereka sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing.
Jika amal perbuatannya baik, balasannya baik; dan jika amal perbuatannya buruk, maka balas-annya pun buruk, kecuali orang yang mendapat ampunan dari Allah subhanahu wa ta'ala Hal yang sama dikatakan pula oleh selain Ibnu Abbas dari kalangan para sahabat, para tabi'in, dan ulama Salaf; hal ini sudah jelas.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari sebagian mereka bahwa tafsir dari firman-Nya, "Maliki yaumid din," ialah "Allah Mahakuasa untuk mengadakannya".
Tetapi Ibnu Jarir sendiri menilai pendapat ini daif (lemah).
Akan tetapi, pada lahiriahnya tidak ada pertentangan antara pendapat ini dengan pendapat lainnya yang telah disebutkan terdahulu.
Masing-masing orang yang berpendapat demikian dan yang sebelumnya mengakui kebenaran pendapat lainnya serta tidak mengingkari kebenarannya, hanya saja konteks ayat lebih sesuai bila diartikan dengan makna pertama di atas tadi dibandingkan dengan pendapat yang sekarang ini, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

{الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا}

Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah.
Dan adalah (hari itu) suatu hari yang penuh dengan kesukaran bagi orang-orang kafir.
(Al-Furqan: 26)

Sedangkan pendapat kedua pengertiannya mirip dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

{وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ}

Pada hari Dia mengatakan, "Jadilah!, lalu terjadilah.
(Al-An'am: 73)

Pada hakikatnya raja yang sesungguhnya adalah Allah subhanahu wa ta'ala, seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera.
(Al-Hasyr: 23)

Di dalam hadis Sahihain disebutkan melalui Abu Hurairah r.a.
secara marfu’:

«أَخْنَعُ اسْمٍ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى بِمَلِكِ الْأَمْلَاكِ وَلَا مَالِكَ إِلَّا اللَّهُ »

Nama yang paling rendah di sisi Allah ialah seorang yang menamakan dirinya dengan panggilan Malikid Amlak.
sedangkan tiada raja selain Allah.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan pula bahwa Rasulullah ﷺ Bersabda

«يَقْبِضُ اللَّهُ الْأَرْضَ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ ملوك الْأَرْضِ؟ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ »

Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, kemudian berfirman, "Aku-lah Raja.
Sekarang mana raja-raja bumi, mana orang-orang yang diktator, mana orang-orang yang angkuh?"

Di dalam Al-Qur'an disebutkan melalui firman-Nya:

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْواحِدِ الْقَهَّارِ

Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?
Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.
(Al-Mu’min: 16)

Adapun mengenai nama lainnya di dunia ini dengan memakai sebutan malik, yang dimaksud adalah "nama majaz".
bukan nama dalam arti yang sesungguhnya, sebagaimana yang dimaksud di dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طالُوتَ مَلِكاً

Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi raja kalian.
(Al-Baqarah: 247)

وَكانَ وَراءَهُمْ مَلِكٌ

karena di hadapan mereka ada seorang raja.
(Al-Kahfi: 79)

إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِياءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكاً

ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kalian, dan dijadikan-Nya kalian sebagai raja-raja (orang-orang yang merdeka).
(Al-Maidah: 20)

Di dalam sebuah hadis Sahihain disebutkan:

«مِثْلُ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ»

seperti raja-raja yang berada di atas dipan-dipannya (singgasana).

Ad-din artinya "pembalasan dan hisab",
sebagaimana yang disebut di dalam firman lainnya, yaitu:

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ

Di hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya.
(An-Nur: 25)

أَإِنَّا لَمَدِينُونَ

apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?
(Ash-Shaffat: 53)

Makna yang dimaksud ialah mendapat balasan yang setimpal dan dihisab.

Di dalam sebuah hadis disebutkan:

«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ»

Orang yang pandai ialah orang yang melakukan perhitungan terhadap dirinya sendiri dan beramal untuk bekal sesudah mati.

Makna yang dimaksud ialah "hisablah dirimu sendiri",
sebagaimana yang dikatakan Khalifah Umar r.a..
yaitu: "Hisablah diri kalian sendiri sebelum dihisab dan timbanglah amal perbuatan kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah (berbekallah) untuk menghadapi peradilan yang paling besar di hadapan Tuhan yang tidak samar bagi-Nya semua amal perbuatan kalian," seperti yang dinyatakan di dalam Firman-Nya:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفى مِنْكُمْ خافِيَةٌ

Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian).
Tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi-Nya).
(Al-Haqqah: 18)

Kata Pilihan Dalam Surah Al Fatihah (1) Ayat 4

DIIN
لدِّين

Lafaz diin adalah ism mufrad dan jamaknya adalah adyan.

Ibnu Faris berkata,
"Ia adalah jenis dan bentuk dari ketaatan dan kehinaan, dipinjam untuk menunjuk­kan makna syari'at. Oleh karena itu, Al Kafawi memberikannya makna al qadaa' (hukum dan syariat), balasan dan keadaan."

Ad diin juga mengandung makna agama, nama semua perantara untuk me­nyembah Allah, mazhab, perjalanan, adat, situasi, paksaan, mengalahkan, Islam, ber­iktikad dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota tubuh dan sebagainya.

Lafaz diin disebut 62 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Faatihah (1), ayat 4;
-Al Baqarah (2), ayat 132, 193, 256;
-Ali Imran (3), ayat 19, 83;
-An Nisaa (4), ayat 46;
-Al A'raaf (7), ayat 29;
-Al Anfaal (8), ayat 39, 72;
-At Taubah (9), ayat 11, 29, 33 (dua kali), 36, 122;
-Yunus (10), ayat 22, 105;
-Yusuf (12), ayat 40, 76;
-Al Hijr (15), ayat 35;
-Al Nahl (16), ayat 52;
-Al Hajj (22), ayat 78;
-An Nuur (24), ayat 2;
-Asy Syu'araa (26), ayat 82;
-Al Ankabut (29), ayat 65;
-Ar Rum (30), ayat 30 (dua kali), 43;
-Luqman (31), ayat 32;
-Al­ Ahzab (33), ayat 5;
-Ash Shaffaat (37), ayat 20;
-Shad (38), ayat 78;
-Az Zumar (39), ayat 2, 3, 11;
-Al Mu'min (40), ayat 14;
-Asy Syuura (42), ayat 13 (dua kali), 21;
-Al Fath (48), ayat 28 (dua kali);
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 6, 12;
-Al Waaqi'ah (56), ayat 56;
-Al Mumtahanah (60), ayat 8, 9;
-Ash Shaff (61), ayat 9 (dua kali);
-Al Ma'aarij (70), ayat 26;
-Al Muddatstsir (74), ayat 46;
-Al Infihtaar (82), ayat 9, 15, 17, 18;
-Al Muthaffifiin (83), ayat 11;
-At Tiin (95), ayat 7;
-Al Bayyinah (98), ayat 5 (dua kali);
-Al Ma'un (107), ayat 1;
-An Nashr (110), ayat 2.

Lafaz diin secara bersendirian disebut se­banyak lima kali yaitu dalam surah:
-Al Kaafiruun (109), ayat 6;
-Ali Imran (3), ayat 85;
-An Nisaa (4), ayat 125;
-Al Maa'idah (5), ayat 3;
-Al An'aam (6), ayat 161.

Lafaz diinukum disebut sebanyak 11 kali yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 217;
-Ali Imran (3), ayat 73;
-An Nisaa (4), ayat 171;
-Al Maa'idah (5), ayat 3 (dua kali), 57, 77;
-At Taubah (9), ayat 12;
-Al Mu'min (40), ayat 26;
-Al Hujurat (49), ayat 16;
-Al Kaafiruun (109), ayat 6.

Lafaz diinihi disebut dua kali, yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 217;
-Al­ Maa'idah (5), ayat 54.

Lafaz diinihim disebut sepuluh kali yaitu dalam surah:
-Ali Imran (3), ayat 24;
-An­ Nisaa (4), ayat 146;
-Al An'aam (6), ayat 70, 137, 159;
-Al A'raaf (7), ayat 51;
-Al Anfaal (8), ayat 49;
-An Nuur (24), ayat 25, 55, 32

Lafaz diini disebut satu kali yaitu dalam surah Yunus (10), ayat 104.

Lafaz ad diin di dalam Al Qur'an me­ngandung beberapa makna:

1. Ad diin bermakna hari penghisaban dan pembalasan (Al jaza') seperti yang terdapat dalam surah:
-Al Fatihah (1), ayat 4;
-Al Hijr (15), ayat 35;
-Asy Syu'araa (26), ayat 82;
-Ash Shaffaat (37), ayat 20;
-Shad (38), ayat 78;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 6, 12;
-Al Waaqi'ah (56), ayat 56;
-Al Ma'aarij (70), ayat 26;
-Al Muddatstsir (74), ayat 46;
-Al Infithaar (82), ayat 9, 15, 17, 18;
-Al Muthaffifiin (83), ayat 11.

Ibnu Qutaibah berkata,
Yaumad diin adalah yaumal­ qiyaamah (hari kiamat). Ia dinamakan demikian karena hari itu adalah hari pembalasan dan penghisaban seperti ungkapan perumpamaan "kamaa tadiinu tudaanu" maksudnya sebagaimana engkau berbuat engkau akan dibalas dengannya".

Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Ibnu Juraij, Qatadah dan diriwayatkan dari Nabi, ad diin bermakna pembalasan terhadap amalan-amalan dan penghisabannya.
Allah berfirman,

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ

Maksudnya, diinahum dalam ayat ini adalah hisaabahum (penghisaban mereka).

2. Ad din bermakna hukum dan syar'iat seperti yang terdapat dalam surah An Nuur (24), ayat 2. Lafaz ini dihubungkan dengan lafaz Allah atau diinullah.

Al Fairuz ber­kata, "Ia bermaksud hukum dan syari'at Allah."

Mujahid berkata,
"Ia bermaksud melaksanakan hudud."

Ibnu Katsir berkata,
"Ia bermaksud hukum dan syari'at Allah."

3. Ad diin dalam surah Yusuf me­ngandung beberapa makna karena ia dihubungkan dengan lafaz al­ malik atau diin al malik yaitu:

- Ibnu Abbas dan Ad Dahhak memberi­kannya maksud "Sultan Al Malik" (ke­kuasaan raja).

- Qatadah, Muhammad bin Ka'ab Al­ Qurazi, Mannar, As Suddi memberikan­nya maksud keputusan dan hukum raja.

- At Tabari berkata,
"Keseluruhan makna diatas saling berdekatan karena barang siapa yang mengambil sebahagian dari kekuasaan raja, maka ia me­laksanakan apa yang diperintah dan ia ridha terhadap pelaksanaannya itu selagi tidak melaksanakan diluar dari apa yang diperintahkan. Hal itu menjadi hukum keatasnya dan hukum atasnya adalah pelaksanaan dan keputusannya.

- Al Fairuz berkata,
"Diin al malik ber­makna politik dan kebijaksanaan raja."

Ad diin bermakna agama-agama selain agama Islam seperti yang di­ sebutkan dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 193;
-Al Anfaal (8), ayat 39;
-At Taubah (9), ayat 33;
-Al­ Fath (48), ayat 28;
-Ash Shaff (61), ayat 9.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat wa yakunad diinu lillaah atau wa yakunad diinu kullahuu lillaah bermakna, "Sehingga agama Allah menang dan tinggi dari semua agama."

Ibnu Abbas berkata,
"Sehingga semuanya mentauhidkan Allah dengan ikhlas."

Al Hasan, Qatadah dan Ibn Juraij ber­kata: "Sehingga semuanya mengata­kan Laa Ilaha Illalllah".

Muhammad bin Ishaq berkata,
"Sehingga men­tauhidkan Allah dengan ikhlas, tiada di dalamnya kesyirikan dan men­cabut segala macam tuhan-tuhan." Seperti dalam hadits shahih dari Rasulullah dimana beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah menghimpun­kan bagiku bumi dari timur dan barat dan raja dari umatku akan menyampaikan (menghimpun­kan) apa yang diberikan kepadaku dari Nya.

4. Ad diin bermakna ketauhidan, syahadah, mazhab, jalan yang lurus dan semuanya terhimpun dalam agama Islam. Sebagaimana yang ter­dapat dalam kebanyakan makna bagi lafaz ad din dan ia diungkapkan dengan lafaz:

a) Ad dinul qayyim, terdapat dalam surah Al Rum (30), ayat 30.

Dalam Tafsir Al Jalalain, ia bermakna agama yang lurus yaitu mentauhidkan Allah.

Asy Syawkani berpendapat, ia ber­makna agama yang menyuruh men­dirikan segala perintah karena Allah atau berpegang dengan fitrah.

b) Diinul haq, terdapat dalam surah At­ Taubah (9), ayat 33, Al Fath (48), ayat 28 dan sebagainya.

Dalam Tafsir Al­ Maraghi ia bermaksud cahaya Allah yaitu agama Islam.

c) Diinul qayyimah, terdapat dalam surah Al Bayyinah (98), ayat 4.

Dalam Tafsir Al Azhar bermaksud menyembah Allah, ikhlas beribadah, cenderung berbuat baik, shalat dan zakat. Itulah inti agama yang di­bawa oleh para nabi.

Al Fairuz ber­kata, "Ia bermakna agama yang lurus yaitu agama Islam.

d) Ad diinul khaalish, terdapat dalam surah Az Zumar (39), ayat 3.

Qatadah berkata,
"Ia bermaksud syahadah yaitu tidak diterima sesuatu amalan sehingga yang beramal itu ikhlas dalam amalannya bagi Allah dan tidak menyekutukan Nya."

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:226-229

Informasi Surah Al Fatihah (الفاتحة)
Surat "Al Faatihah" (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surat-surat yang ada dalam Al Qur'an dan termasuk golongan Surat Makkiyyah.

Surat ini disebut "Al Faatihah" (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan dimulai­nya Al Qur'an.
Dinamakan "Ummul Qur'an " (induk Al Qur'an) atau "Ummul Kitaab" (induk Al Kitaab) karena dia merupakan induk bagi semua isi Al Qur'an, serta menjadi inti sari dari kandungan Al Qur'an , dan karena itu diwajibkan membacanya pada tiap-tiap shalat.
Dinamakan pula "As Sab'ul matsaany" (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam shalat.

Surat ini mengandung beberapa unsur pokok yang mencerminkan seluruh isi Al Qur'an , yaitu:

Keimanan:

Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa terdapat dalam ayat 2, dimana dinyata­kan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas sesuatu ni'mat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala ni'mat yang terdapat dalam alam ini. Di antara ni'mat itu ialah:
ni'mat menciptakan, ni'mat mendidik dan menumbuh­kan, sebab kata "Rabb" dalam kalimat "Rabbul-'aalamiin" tidak hanya berarti "Tuhan" dan "Penguasa", tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala ni'mat yang dilihat oleh seorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Tuhan-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemu­liaan Allah, serta berguna bagi masyarakat. Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al Faatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu: "lyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin" (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan).

Yang dimaksud dengan "Yang menguasai hari pembalasan" ialah pada hari itu Allah-lah Yang berkuasa.segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil meng­harap ni'mat dan takut kepada siksaan-Nya.

Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk. "Ibadat " yang terdapat pada ayat 5 semata-mata ditujukan kepada Allah, selanjutnya lihat not 6.

Hukum:

Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk mem­peroleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud "hidayah" di sini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai keyakinan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran.

Kisah:

Kisah para nabi dan kisah orang-orang dahulu yang menentang Allah. Sebahagian besar dari ayat-ayat Al Qur'an memuat kisah-kisah para nabi dan kisah orang­ orang dahulu yang menentang Allah. Yang dimaksud dengan orang yang diberi ni'mat dalam ayat ini, ialah para nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sung­ guh-sungguh berirnan), syuhadaa (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang­ orang yang saleh). "Orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat," ialah golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Lain-lain:

Perincian dari yang telah disebutkan di atas terdapat dalam ayat-ayat Al Qur'an pada surat­ surat yang lain.

QS 1 Al-Fatihah (1-7) - Indonesian - Afgansyah Reza
QS 1 Al-Fatihah (1-7) - Arabic - Afgansyah Reza


Gambar Kutipan Surah Al Fatihah Ayat 4 *beta

Surah Al Fatihah Ayat 4



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Fatihah

Surah Al-Fatihah (Arab: الفاتح , al-Fātihah, "Pembukaan") adalah surah pertama dalam al-Qur'an.
Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat.
Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al-Qur'an.

Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran.
Dinamakan Ummul Qur'an (أمّ القرءان; induk al-Quran) atau Ummul Kitab (أمّ الكتاب; induk Al-Kitab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran.
Dinamakan pula As Sab'ul matsaany (السبع المثاني; tujuh yang berulang-ulang) karena jumlah ayatnya yang tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam salat.

Nomor Surah 1
Nama Surah Al Fatihah
Arab الفاتحة
Arti Pembukaan
Nama lain al-Hamd (Pujian), Ummu al-Qur'an (Induk Al-Quran), Saba'a al-Matsāni (Tujuh yang Diulang), Kanz (Khazanah), al-Asas (Asas), Munājat, asy-Syifa (Menyembuhkan), Doa, Kāfiyah (Yang Mencukupi), Wāfiyah (Yang Sempurna), Raqiyah (Tempat berlindung). Fatihatul Kitab, Ummul Kitab, asy-Syafiyah, as-Shalah, al-Ruqyah, asy-Syukru, ad-Du'au, al-Waqiyah.
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 5
Juz Juz 1
Jumlah ruku' 1 ruku'
Jumlah ayat 7
Jumlah kata 29
Jumlah huruf 143
Surah sebelumnya Tidak ada
Surah selanjutnya Surah Al-Baqarah
4.7
Rating Pembaca: 4.5 (11 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku