QS. Al Fath (Kemenangan) – surah 48 ayat 29 [QS. 48:29]

مُحَمَّدٌ رَّسُوۡلُ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ عَلَی الۡکُفَّارِ رُحَمَآءُ بَیۡنَہُمۡ تَرٰىہُمۡ رُکَّعًا سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانًا ۫ سِیۡمَاہُمۡ فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ مِّنۡ اَثَرِ السُّجُوۡدِ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ ۚۖۛ وَ مَثَلُہُمۡ فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ اَخۡرَجَ شَطۡـَٔہٗ فَاٰزَرَہٗ فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ لِیَغِیۡظَ بِہِمُ الۡکُفَّارَ ؕ وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
Muhammadun rasuulullahi waal-ladziina ma’ahu asyiddaa-u ‘alal kuffaari ruhamaa-u bainahum taraahum rukka’an sujjadan yabtaghuuna fadhlaa minallahi waridhwaanan siimaahum fii wujuuhihim min atsarissujuudi dzalika matsaluhum fiittauraati wamatsaluhum fii-injiili kazar’in akhraja syathahu faaazarahu faastaghlazha faastawa ‘ala suuqihi yu’jibuzzurraa’a liyaghiizha bihimul kuffaara wa’adallahul-ladziina aamanuu wa’amiluush-shaalihaati minhum maghfiratan wa-ajran ‘azhiiman;

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.
Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
―QS. 48:29
Topik ▪ Iman ▪ Keutamaan Iman ▪ Pahala Iman
48:29, 48 29, 48-29, Al Fath 29, AlFath 29, Al-Fath 29

Tafsir surah Al Fath (48) ayat 29

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Fath (48) : 29. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa Muhammad ﷺ adalah rasul Allah yang diutus kepada seluruh umat.
Para sahabat dan pengikut Rasul bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lemah lembut terhadap sesama mereka.
Firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah.
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 54)

Rasulullah bersabda:

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih mengasihi dan sayang-menyayangi antara mereka seperti tubuh yang satu; bila salah satu anggota badannya sakit demam, maka badan yang lain merasa demam dan terganggu pula.
(Riwayat Muslim dan Ahmad dari an-Nu’man bin Basyir)

Orang-orang yang beriman selalu mengerjakan salat dengan khusyuk, tunduk, dan ikhlas, mencari pahala, karunia, dan keridaan Allah.
Tampak di wajah mereka bekas sujud.
Maksudnya ialah air muka yang cemerlang, tidak ada gambaran kedengkian dan niat buruk kepada orang lain, penuh ketundukan dan kepatuhan kepada Allah, bersikap dan berbudi pekerti yang halus sebagai gambaran keimanan mereka.
Mengenai cahaya muka orang yang beriman, ‘Utsman berkata, “Adapun rahasia yang terpendam dalam hati seseorang; niscaya Allah menyatakannya pada raut mukanya dan lidahnya.” Sifat-sifat yang demikian itu dilukiskan dalam Taurat dan Injil.
Para sahabat dan pengikut Nabi semula sedikit dan lemah, kemudian bertambah dan berkembang dalam waktu singkat seperti biji yang tumbuh, mengeluarkan batangnya, lalu batang bercabang dan beranting, kemudian menjadi besar dan berbuah sehingga menakjubkan orang yang menanamnya, karena kuat dan indahnya, sehingga menambah panas hati orang-orang kafir.
Kemudian kepada pengikut Rasulullah ﷺ itu, baik yang dahulu maupun yang sekarang, Allah menjanjikan pengampunan dosa-dosa mereka, memberi mereka pahala yang banyak, dan menyediakan surga sebagai tempat yang abadi bagi mereka.
Janji Allah yang demikian pasti ditepati.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Muhammad adalah utusan Allah.
Dan orang-orang yang bersamanya bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi bersikap kasih sayang terhadap sesama mereka.
Kamu lihat mereka selalu rukuk dan sujud mencari pahala dan rida Allah.
Tanda mereka adalah kekhusukan yang tampak di muka mereka dari bekas seringnya melakukan salat.
Demikianlah sifat-sifat mereka yang diterangkan dalam kitab Tawrat.
Sedangkan sifat-sifat mereka dalam kitab Injil adalah seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya.
Tunas menjadikan tanaman itu kuat, lalu tanaman itu menjadi besar dan tegak di atas akarnya.
Tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena tumbuh kuat.
Demikian halnya dengan orang-orang Mukmin, dengan kekuatan mereka Allah ingin menjengkelkan orang-orang kafir.
Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ampunan yang menghapus semua dosa-dosa mereka dan pahala yang amat besar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Muhammad itu) lafal ayat ini berkedudukan menjadi Mubtada (adalah utusan Allah) menjadi Khabar dari Mubtada (dan orang-orang yang bersama dengan dia) yakni para sahabatnya yang terdiri dari kaum mukminin.

Lafal ayat ini menjadi Mubtada sedangkan Khabarnya ialah (adalah keras) yakni mereka adalah orang-orang yang bersikap keras (terhadap orang-orang kafir) mereka tidak mengasihaninya (tetapi berkasih sayang sesama mereka) menjadi Khabar yang kedua, yakni mereka saling kasih-mengasihi di antara sesama mukmin bagaikan kasih orang tua kepada anaknya (kamu lihat mereka) kamu perhatikan mereka (rukuk dan sujud) keduanya merupakan Hal atau kata keterangan keadaan (mencari) lafal ayat ini merupakan jumlah Isti`naf, yakni mereka melakukan demikian dalam rangka mencari (karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka) ciri-ciri mereka, lafal ayat ini menjadi Mubtada (tampak pada muka mereka) menjadi Khabar dari Mubtada.

Tanda-tanda tersebut berupa nur dan sinar yang putih bersih yang menjadi ciri khas mereka kelak di akhirat, sebagai pertanda bahwa mereka orang-orang yang gemar bersujud sewaktu di dunia (dari bekas sujud.) Lafal ayat ini berta’alluq kepada lafal yang menjadi Ta’alluq atau gantungan bagi Khabar, yaitu lafal Kaainatan.

Kemudian dii’rabkan sebagai Hal karena mengingat Dhamirnya yang dipindahkan kepada Khabar.

(Demikianlah) sifat-sifat yang telah disebutkan tadi (sifat-sifat mereka) yakni gambaran tentang mereka, kalimat ayat ini menjadi Mubtada (di dalam kitab Taurat) menjadi Khabarnya (dan sifat-sifat mereka dalam kitab Injil) menjadi Mubtada, sedangkan Khabarnya adalah (yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya) dapat dibaca Syath`ahu atau Syatha`ahu, yakni tunasnya (maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat) dapat dibaca Fa`aazarahuu atau Fa`azarahu, yakni tunas itu membuat tanaman menjadi kuat (lalu menjadi besarlah dia) membesarlah dia (dan tegak lurus) yakni kuat dan tegak lurus (di atas pokoknya) lafal Suuq ini adalah bentuk jamak dari lafal Saaqun (tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya) karena keindahannya.

Perumpamaan ini merupakan gambaran tentang keadaan para sahabat karena mereka pada mulanya berjumlah sedikit lagi masih lemah, kemudian jumlah mereka makin bertambah banyak dan bertambah kuat dengan sistem yang sangat rapi (karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan kekuatan orang-orang mukmin) lafal ayat ini berta’alluq kepada lafal yang tidak disebutkan yang disimpulkan dari kalimat sebelumnya, yakni mereka diserupakan demikian karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh dari kalangan mereka) yakni para sahabat, huruf Min di sini menunjukkan makna Bayanul Jinsi atau untuk menjelaskan jenis, bukan untuk menunjukkan makna Tab’idh atau sebagian, demikian itu karena para sahabat semuanya memiliki sifat-sifat tersebut (ampunan dan pahala yang besar) yakni surga, kedua pahala itu berlaku pula bagi orang-orang sesudah mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam berbagai ayat lainnya

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada Muhammad ﷺ bahwa dia adalah benar utusan-Nya tanpa diragukan lagi.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Muhammad itu adalah utusan Allah.
(Q.S. Al-Fath [48]: 29)

Ini merupakan mubtada, sedang khabar-nya termuat di dalam semua sifat yang terpuji lagi baik.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala memuji para sahabatnya yang bersama dia:

dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.
(Q.S. Al-Fath [48]: 29)

Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
(Q.S. Al-Ma’idah [5]: 54)

Inilah sifat orang-orang mukmin, seseorang dari mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lemah lembut terhadap sesamanya lagi kasih sayang.
Dia bersikap pemarah dan bermuka masam di hadapan orang-orang kafir, tetapi murah senyum dan murah tertawa di hadapan orang-orang mukmin saudara seimannya.
Seperti yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu, (Q.S. At-Taubah [9]: 123)

Nabi ﷺ telah bersabda:

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang dan kecintaan mereka adalah seperti satu tubuh, apabila ada salah satu anggotanya merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh hingga terasa demam dan tidak dapat tidur.

Nabi ﷺ telah bersabda pula:

Orang mukmin itu sama halnya dengan bangunan-bangunan, yang satu sama lainnya saling menguatkan

Hal ini diutarakan oleh Nabi ﷺ seraya merancangkan jari jemari kedua tangannya.
Kedua hadis ini terdapat di dalam kitab sahih.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya.
(Q.S. Al-Fath [48]: 29)

Allah subhanahu wa ta’ala menyifati mereka sebagai orang-orang yang banyak beramal dan banyak mengerjakan salat yang merupakan amal yang terbaik, dan Allah menggambarkan bahwa mereka lakukan hal itu dengan tulus ikhlas dan memohon pahala yang berlimpah dari sisi-Nya, yaitu surga yang merupakan karunia dari-Nya.
Karunia dari Allah itu adalah rezeki yang berlimpah bagi mereka dan rida-Nya kepada mereka, yang hal ini jauh lebih banyak daripada nikmat yang pertama, yakni surga.
Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan keridaan Allah adalah lebih besar.
(Q.S. At-Taubah [9]: 72)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:

tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
(Q.S. Al-Fath [48]: 29)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a.
bahwa yang dimaksud dengan tanda-tanda ialah tanda yang baik yang ada pada wajah mereka.
Mujahid dan yang lain-lainya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah penampilannya khusyuk dan rendah diri.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Husain Al-Ju’fi, dari Zaidah, dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
(Q.S. Al-Fath [48]: 29) Bahwa yang dimaksud adalah khusyuk, menurut hemat saya tiada lain yang dimaksud adalah tanda ini yang terdapat di wajah dari bekas sujud.
Tetapi ia menyanggah bahwa bisa saja tanda itu terdapat di antara dua mata (kening) seseorang yang hatinya lebih keras daripada Fir’aun.
Lain halnya dengan As-Saddi, ia mengatakan bahwa salat itu dapat memperindah penampilan muka.
Sebagian ulama Salaf mengatakan, “Barang siapa yang banyak salatnya di malam hari, maka wajahnya kelihatan indah di siang hari.”

Hal ini telah disandarkan oleh Ibnu Majah di dalam kitab sunannya, dari Ismail ibnu Muhammad As-Salihi, dari Sabit, dari Syarik, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Jabir r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang banyak salatnya di malam hari, maka di siang hari wajahnya tampak indah.

Tetapi yang benar hadis ini mauquf.
Sebagian ulama mengatakan bahwa sesungguhnya keindahan ini mempunyai cahaya dalam hati dan kecerahan pada roman muka, keluasan dalam rezeki serta kecintaan di hati orang lain.

Amirul Mu’minin Usman ibnu Affan r.a.
mengatakan bahwa tidak sekali-kali seseorang menyembunyikan suatu rahasia, melainkan Allah menampakkannya melalui roman mukanya dan keterlanjuran lisannya.
Dengan kata lain, sesuatu yang terpendam di dalam jiwa tampak kelihatan pada roman muka yang bersangkutan.
Seorang mukmin apabila hatinya tulus ikhalas kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala memperbaiki penampilan lahiriahnya di mata orang lain, seperti apa yang diriwayatkan dari Umar ibnul Khattab r.a.
yang mengatakan bahwa barang siapa yang memperbaiki hatinya, maka Allah akan memperbaiki penampilan lahiriahnya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Darij, dari Abul Hasam, dari Abu Sa’id r.a., dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Seandainya seseorang di antara kalian beramal di dalam sebuah batu besar yang tiada celah pintunya dan tiada pula lubang udaranya, niscaya amalnya itu akan keluar menampakkan diri kepada manusia seperti apa adanya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kam.
Oabus ibnu AbuZabyan, bahwa ayahnya telah menceritakan kepadanya dar.
Ibnu Abbas r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya petunjuk yang baik, tanda (ciri) yang baik, dan sikap pertengahan merupakan seperdua puluh lima kenabian.

Imam Malik mengatakan, telah sampai kepadaku suatu berita yang mengatakan bahwa orang-orang Nasrani, manakala mereka melihat para sahabat yang telah menaklukkan negeri Syam, mereka mengatakan, “Demi Allah, orang-orang ini (yakni para sahabat) benar-benar lebih baik daripada kaum Hawariyyin (pendukung Nabi Isa) menurut sepengetahuan kami.” Dan mereka memang benar dalam penilaiannya, karena sesungguhnya umat Nabi ﷺ ini dimuliakan di dalam kitab-kitab samawi sebelumnya, terlebih lagi sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ Allah subhanahu wa ta’ala sendiri telah menuturkan pula perihal mereka di dalam kitab-kitab yang diturunkan oleh-Nya dan berita-berita yang telah tersebar di masa dahulu.
Karena itulah maka Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam ayat ini melalui firman-Nya:

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat.
(Q.S. Al-Fath [48]: 29)

Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:

dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.
(Q.S. Al-Fath [48]: 29)

Yakni demikian pula halnya sahabat-sahabat Rasulullah.
Mereka membelanya, membantunya serta menolongnya, dan keadaan mereka bersama Rasulullah ﷺ sama dengan tunas beserta tanaman.

karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) orang-orang mukmin.
(Q.S. Al-Fath [48]: 29)

Berdasarkan ayat ini Imam Malik rahimahullah menurut riwayat yang bersumber darinya menyebutkan bahwa kafirlah orang-orang Rafidah itu karena mereka membenci para sahabat, dan pendapatnya ini disetujui oleh sebagian ulama.

Hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan para sahabat dan larangan mencela keburukan mereka cukup banyak, dan sebagai dalil yang menguatkannya cukuplah dengan adanya pujian dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka melalui ayat ini.

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka.
(Q.S. Al-Fath [48]: 29)

Huruf min dalam ayat ini adalah kata keterangan jenis, yakni mencakup mereka semua (dan bukan tab’id atau sebagian dari mereka).

ampunan dan pahala yang besar.
(Q.S. Al-Fath [48]: 29)

Yakni ampunan bagi dosa-dosa mereka, pahala yang berlimpah, serta rezeki yang mulia.
Janji Allah itu pasti dan benar, Dia tidak akan menyalahi janji-Nya dan tidak akan menggantinya.
Barang siapa yang mengikuti jejak para sahabat, maka ia termasuk dari mereka hukumnya.
Para sahabat memiliki keutamaan dan kepioniran serta kesempurnaan yang tidak dapat disaingi oleh seorang pun dari umat ini.
Semoga Allah melimpahkan rida­Nya kepada mereka dan membuat mereka puas, serta menjadikan surga Firdaus sebagai tempat menetap mereka, dan Allah subhanahu wa ta’ala telah memenuhinya.

Imam Muslim di dalam kitab sahihnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah.
dari Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya seseorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Bukit Uhud, tidaklah hal itu dapat menyamai satu mud seseorang dari mereka dan tidak pula separonya.


Kata Pilihan Dalam Surah Al Fath (48) Ayat 29

ASYIDDA
أَشِدَّآء

ASYIDDA :

Lafaz ini adalah jamak asy syadid yang mengandung beberapa makna yaitu al qawiy (yang kuat), susah, bakhil, yang tinggi (al-rafi’), dan ungkapan huwa syadid al-khunzuwanah artinya dia angkuh dan bongkak.

Kata ini disebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Fath (48), ayat 29.

Ibn Faris berkata,
“Huruf syin dan dal mengisyaratkan kepada kekuatan pada sesuatu dan cabang-cabangnya kembali kepadanya.” Contohnya dalam ayat ini Asy Syawkani berkata,
“Ia adalah jamak bagi asy ­syadid. Maknanya dalam surah ini adalah para sahabat keras dan tidak bertolak ansur kepada musuh mereka sebagaimana kerasnya singa kepada mangsanya”

Dalam tafsir Safwah At Tafasir diterangkan, “Sahabat­ sahabat nabi yang terpilih lagi mulia keras kepada orang kafir sebagaimana diterangkan dalam ayat Allah yang bermaksud, “Kaum yang bersifat lemah lembut kepada orang yang beriman dan berlaku tegas gagah kepada orang kafir”

Asy Syanqiti berkata,
“Ini adalah sifat Rasulullah dan para sahabat kepada orang kafir, sebagaimana Allah menyatakan dalam surah At Taubah ayat 73,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ جَٰهِدِ ٱلْكُفَّارَ وَٱلْمُنَٰفِقِينَ وَٱغْلُظْ عَلَيْهِمْۚ وَمَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ

Allah menerangkan lagi …Dan biarlah mereka merasai sikap kekerasan (serta ketabahan hati) yangadapadakamu …

Abu Sa’ud berkata,
“Maksudnya ialah para sahabat menampakkan kekerasan dan gagah kepada orang yang menentang mereka.”

Kesimpulannya, maksud lafaz asyidda’ ialah keras, tegas dan tidak bertolak ansur.

ZURRAA’:

Ism jamak, mufradnya adalah zari’ artinya orang yang menguruskan tanahnya, baik menanam biji atau pohon dan sebagainya serta mengambil pekerja atau petani.

Disebut sekali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah ke 48 surah Al Fath ayat 29.
Allah berfirman:

كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَٱسْتَغْلَظَ فَٱسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعْجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَۗ

Ibn Abbas berkata,
orang mukmin seperti sebuah tanaman yang mengeluarkan pucuk, lalu tumbuh menjadi kuat, kemudian ia membesar dan tegap berdiri di atas batangnya sehingga menjadi tanaman yang indah, mengagumkan orang yang menanamnya karena banyaknya dan pertumbuhannya yang sempurna.

Ibn Katsir berkata,
begitulah sahabat Rasulullah yang menolongnya, melindunginya dan membelanya; mereka bersama Nabi Muhammad bagaikan pucuk bersama penanam.

Al Nasafi berkata,
ayat ini contoh yang Allah nyatakan bagi permulaan Islam, lalu semakin kuat dan kukuh karena nabi berdiri dengan sendirinya. Lalu Allah me­ nguatkannya dengan orang-orang yang beriman dengannya sebagaimana kekuatan tunas yang semakin membesar dan kuat yang mengagumkan penanam-penanamnya.

Sa’id Hawwa menyatakan, ayat ini menerangkan pertumbuhan Islam sebagaimana ia menjelaskan karakteristik yang mereka bina bagi sebuah peranan dari kasih kepada orang muslim, keras pada orang kafir, rukuk, sujud, ikhlas, iman dan amal shaleh.

Dari penjelasan ini, lafaz zurraa’ bermakna penanam-penanam dan ia kiasan bagi orang yang kagum pada pertumbuhan Islam, sahabat nabi serta karakter orang yang beriman dengannya.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:274-275

Informasi Surah Al Fath (الفتح)
Surat Al Fat-h terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, diturunkan sesudah surat Al Jumu’ah.

Dinamai “Al Fath (kemenangan)” diambil dari perkataan “Fat-han” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Sebagian besar dari ayat-ayat surat ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad ﷺ dalam peperangan-peperangannya.

Nabi Muhammad ﷺ sangat gembira dengan turunnya ayat pertama surat ini.
Kegembiraan ini dinyatakan dalam sabda beliau yang diriwayatkan Bukhari
“Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku satu surat, yang surat itu benar-benar lebih aku cintai dari seluruh apa yang disinari matahari.”

Kegembiraan Nabi Muhammad ﷺ itu ialah karena ayat-ayatnya menerangkan tentang kemenangan yang akan diperoleh Muhammad ﷺ dalam petjuangannya dan tentang

Keimanan:

Allah mempunyai tentara di langit dan di bumi
janji Allah kepada orang mu’min bahwa mereka akan mendapat ampunan Tuhan dan pahala yang besar
Allah mengutus Muhammad ﷺ sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
Agama Islam akan mengalahkan agama-agama lain

Hukum:

Orang pincang dan orang-orang yang sakit dibebaskan dari kewajiban berperang

Kisah:

Kejadian-kejadian sekitar Bai’aturridhwan dan Perdamaian Hudaibiyyah”.

Lain-lain:

Berita gembira yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ bahwa dia bersama-sama orang-orang mu’min akan memasuki kota Mekah dengan kemenangan, dan hal ini memang terlaksana setelah setahun kemudian
sikap orang­ orang mu’min terhadap sesama mu’min dan sikap mereka terhadap orang-orang kafir
sifat-sifat Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya sudah disebutkan dalam Taurat dan Injil
janji Allah bahwa orang Islam akan menguasai daerah-­daerah yang sewaktu Nabi Muhammad s.a.w, belum dikuasai

Ayat-ayat dalam Surah Al Fath (29 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. Al-Fath (48) ayat 29 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. Al-Fath (48) ayat 29 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. Al-Fath (48) ayat 29 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Q.S. Al-Fath (48) ayat 27-29 - Acha Septriasa (Bahasa Indonesia)
Q.S. Al-Fath (48) ayat 27-29 - Acha Septriasa (Bahasa Arab)

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. Al-Fath - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 29 & Terjemahan


Gambar

no images were found



Statistik Q.S. 48:29
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah Al Fath.

Surah Al-Fath (Arab: الفتح , "Kemenangan") adalah surah ke-48 dalam al-Qur'an.
Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 29 ayat.
Dinamakan Al-Fath yang berarti Kemenangan diambil dari perkataan Fat-han yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
Sebagian besar dari ayat-ayat surah ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad S.A.W dalam peperangannya.

Nabi Muhammad S.A.W sangat gembira dengan turunnya ayat pertama surat ini.
Kegembiraan ini dinyatakan dalam sabda dia yang diriwayatkan Sahih Bukhari; Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku satu surat, yang surat itu benar-benar lebih aku cintai dari seluruh apa yang disinari matahari.
Kegembiraan Nabi Muhammad S.A.W itu ialah karena ayat-ayatnya menerangkan tentang kemenangan yang akan diperoleh Muhammad S.A.W dalam perjuangannya dan tentang kesempurnaan nikmat Allah[1] kepadanya.

Nomor Surah 48
Nama Surah Al Fath
Arab الفتح
Arti Kemenangan
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 111
Juz Juz 26
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 29
Jumlah kata 560
Jumlah huruf 2509
Surah sebelumnya Surah Muhammad
Surah selanjutnya Surah Al-Hujurat
4.7
Ratingmu: 1 (1 orang)
Sending







Pembahasan ▪ Q S al-fath/48:29 ▪ Surat al fath

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta