Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 97 [QS. 2:97]

قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ
Qul man kaana ‘aduu-wan lijibriila fa-innahu nazzalahu ‘ala qalbika biidznillahi mushaddiqan limaa baina yadaihi wahudan wabusyra lilmu’miniin(a);
Katakanlah (Muhammad),
“Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Alquran) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.”
―QS. Al Baqarah [2]: 97

Daftar isi

Say,
"Whoever is an enemy to Gabriel – it is (none but) he who has brought the Qur’an down upon your heart, (O Muhammad), by permission of Allah, confirming that which was before it and as guidance and good tidings for the believers."
― Chapter 2. Surah Al Baqarah [verse 97]

قُلْ katakanlah

Say,
مَن barang siapa

"Whoever
كَانَ menjadi

is
عَدُوًّا musuh

an enemy
لِّجِبْرِيلَ bagi Jibril

to Jibreel –
فَإِنَّهُۥ maka sesungguhnya dia

then indeed he
نَزَّلَهُۥ dia menurunkannya

brought it down
عَلَىٰ atas

on
قَلْبِكَ hatimu

your heart
بِإِذْنِ dengan izin

by (the) permission
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah
مُصَدِّقًا membenarkan

confirming
لِّمَا pada apa

what
بَيْنَ antara

(was)
يَدَيْهِ kedua tangannya

before it
وَهُدًى dan petunjuk

and a guidance
وَبُشْرَىٰ dan berita gembira

and glad tiding(s)
لِلْمُؤْمِنِينَ bagi orang-orang yang beriman

for the believers."

Tafsir

Alquran

Surah Al Baqarah
2:97

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 97. Oleh Kementrian Agama RI


Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang penolakan alasan-alasan yang dikemukakan orang Yahudi dengan menyuruh Nabi Muhammad ﷺ, menyampaikan kepada orang-orang Yahudi, bahwa barang siapa yang memusuhi Jibril berarti ia telah memusuhi wahyu Allah, karena tugasnya antara lain menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Barang siapa memusuhi wahyu Allah, berarti ia telah mendustakan Taurat dan kitabkitab Allah yang lain.


Alasan yang dikemukakan orang-orang Yahudi adalah alasan yang timbul dari kelemahan dan kerusakan iman.
Hal ini menunjukkan bahwa permusuhan orang-orang Yahudi terhadap Jibril tidaklah pantas dijadikan alasan untuk tidak mempercayai kitab yang diturunkan Allah.


Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 97. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sebagian mereka beranggapan bahwa mereka memusuhi dan ingkar terhadap Alquran karena mereka adalah musuh-musuh Jibril yang telah menyampaikan kitab ini kepadamu.
Maka katakanlah kepada mereka, wahai Nabi,
"Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka ia adalah musuh Allah.


Sebab, Jibril tidak membawa kitab ini dari dirinya sendiri, tetapi ia menurunkannya atas perintah Allah untuk membenarkan kitabkitab samawi yang terdahulu dan juga untuk membenarkan kitab mereka sendiri.
Juga sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. "

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Katakanlah wahai Rasul kepada orang-orang Yahudi saat mereka berkata,
"Malaikat musuh kami adalah Jibril."
Katakan kepada mereka,
"Barang siapa menjadi musuh bagi Jibril maka dia menurunkan Alquran ke hatimu dengan izin Allah yang membenarkan kitabkitab Allah yang mendahuluinya, memberi kabar gembira berupa kebaikan dunia dan akhirat bagi orang-orang yang membenarkannya."

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Katakanlah) kepada mereka,


("Barang siapa yang menjadi musuh Jibril) maka silakan ia binasa dengan kebenciannya itu!


(Maka sesungguhnya Jibril itu menurunkannya) maksudnya Alquran


(ke dalam hatimu dengan seizin) atau perintah


(Allah, membenarkan apa-apa yang berada di hadapannya) yaitu kitabkitab suci yang turun sebelumnya


(dan menjadi petunjuk) dari kesesatan


(serta berita gembira) berupa surga


(bagi orang-orang yang beriman).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir At-Tabari rahimahullah mengatakan bahwa semua ahlul ‘ilmi telah sepakat dengan takwil berikut, bahwa ayat ini diturunkan sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil.
Karena mereka mengatakan bahwa Malaikat Jibril adalah musuh mereka, sedangkan Malaikat Mikail adalah teman mereka.
Kemudian ahlul ‘ilmi berselisih pendapat mengenai penyebab yang membuat mereka (orang-orang Yahudi) mengatakan kata-kata seperti itu.
Menurut sebagian mereka, sesungguhnya penyebab yang membuat mereka mengatakan kata-kata seperti itu hanyalah sewaktu terjadi dialog antara mereka dengan Rasulullah ﷺ mengenai perkara kenabian beliau ﷺ

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Bukair, dari Abdul Hamid ibnu Bahram, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Ibnu Abbas yang menceritakan hadis berikut:
Segolongan orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka berkata,
"Wahai Abul Qasim, ceritakanlah kepada kami beberapa perkara yang akan kami tanyakan kepadamu.
Perkara-perkara tersebut tiada yang mengetahuinya kecuali seorang nabi."
Maka Rasulullah ﷺ menjawab,
"Bertanyalah tentang semua yang kalian sukai, tetapi berjanjilah kalian kepadaku sebagaimana apa yang diambil oleh Ya’qub dari anak-anaknya, sebagai jaminan untukku.
Jika aku benar-benar menceritakan kepada kalian tentang sesuatu hal, lalu kalian mengetahuinya, maka kalian benar-benar mau mengikutiku dan masuk Islam?"
Mereka menjawab,
"Baiklah, kami ikuti kemauanmu."
Rasul ﷺ bersabda,
"Bertanyalah kalian tentang apa yang kalian sukai."
Mereka bertanya,
"Ceritakanlah kepada kami tentang empat perkara yang akan kami ajukan sebagai pertanyaan kepadamu.
Ceritakanlah kepada kami, rnakanan apakah yang diharamkan oleh Israil (Nabi Ya’qub) terhadap dirinya sebelum kitab Taurat diturunkan?
Sebutkanlah kepada kami bagaimanakah rupa air mani laki-laki dan air mani perempuan, dan bagaimana bisa terjadi darinya anak laki-laki dan anak perempuan.
Dan ceritakanlah kepada kami tentang nabi yang ummi dalam kitab Taurat, serta siapakah yang menjadi kekasihnya dari kalangan para malaikat?"
Nabi ﷺ menjawab,
"Berjanjilah kalian atas nama Allah, jika aku dapat menceritakannya kepada kalian, maka kalian benar-benar akan mengikutiku."
Maka mereka memberikan kepada Nabi ﷺ ikrar dan janjinya.
Lalu Nabi ﷺ bersabda:
"Aku bertanya kepada kalian atas nama Tuhan Yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah kalian mengetahui bahwa Israil—yakni Ya’qub—pernah mengalami sakit keras yang memakan waktu cukup lama.
Lalu ia bernazar kepada Allah, seandainya Allah menyembuhkannya dari penyakit yang dideritanya itu, maka ia akan mengharamkan bagi dirinya makanan dan minuman yang paling ia sukai.
Makanan yang paling ia sukai ialah daging unta, dan minuman yang paling disukainya ialah air susu unta"
Mereka menjawab,
"Ya Allah, benar"
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Ya Allah, persaksikanlah atas diri mereka.
Aku mau bertanya kepada kalian dengan nama Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia Yang menurunkan kitab Taurat kepada Musa.
Apakah kalian mengetahui bahwa air mani laki-laki itu rupanya kental lagi putih, sedangkan air mani perempuan encer berwarna kuning.
Maka mana saja di antara keduanya yang dapat mengalahkan yang lain, maka kelak anaknya akan seperti dia dan mirip kepadanya dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala Apabila air mani laki-laki mengalahkan air mani perempuan, maka anaknya adalah laki-laki dengan seizin Allah.
Dan apabila air mani perempuan dapat mengalahkan air mani laki-laki, maka kelak anaknya bakal perempuan dengan seizin Allah."
Mereka menjawab,
"Ya Allah, memang benar."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Ya Allah, persaksikanlah atas mereka.
Dan aku bertanya kepada kalian, demi Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa.
Apakah kalian mengetahui bahwa nabi yang ummi ini kedua matanya tidur, tetapi hatinya tidak tidur?
Mereka menjawab,
"Ya Allah, benar."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Ya Allah, persaksikanlah atas mereka."
Mereka berkata,
"Sekarang engkau harus menceritakan kepada kami siapakah kekasihmu dari kalangan para malaikat.
Jawaban inilah yang menentukan apakah kami akan bergabung denganmu ataukah berpisah denganmu."
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Sesungguhnya kekasihku adalah Jibril, tidak sekali-kali Allah mengutus seorang nabi melainkan dia selalu bersamanya."
Mereka berkata,
"Inilah yang menyebabkan kami berpisah denganmu.
Seandainya kekasihmu itu selainnya dari kalangan para malaikat, maka kami akan mengikuti dan percaya kepadamu."
Rasulullah ﷺ bertanya,
"Apakah gerangan yang mencegah kalian untuk percaya kepadanya?"
Mereka menjawab,
"Sesungguhnya dia adalah musuh kami."
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya,
"Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan kitabkitab yang sebelumnya —sampai dengan firman-Nya— kalau mereka mengetahui (QS. Al-Baqarah [2]: 97-102)."
Maka saat itu mereka kembali dengan mendapat murka di atas kemurkaan yang telah ada pada pundak mereka.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad melalui Abun Nadr Hasyim ibnul Qasim, dan Abdur Rahman ibnu Humaid di dalam kitab tafsir melalui Ahmad ibnu Yunus.
Keduanya telah meriwayatkan hadis ini dari Abdul Hamid ibnu Bahram dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad meriwayatkannya pula melalui Al-Husain ibnu Muhammad Al-Mawarzi, dari Abdul Hamid, dengan lafaz yang sama.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar meriwayatkannya pula seperti berikut:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Husain, dari Syahr ibnu Hausyab, lalu ia mengetengahkannya secara mursal.
Akan tetapi, di dalam riwayatnya ini ditambahkan bahwa mereka (orang-orang Yahudi itu) bertanya,
"Maka ceritakanlah kepada kami tentang Ar-Ruh."
Lalu Rasulullah ﷺ menjawab:
"Aku bertanya kepada kalian demi nama Allah dan hari-hari-Nya bersama Bani Israil.
Tahukah kalian bahwa Ar-Ruh itu adalah Jibril, dialah yang selalu datang kepadaku"
Mereka menjawab,
"Ya Allah, benar, tetapi dia adalah musuh kami.
Sesungguhnya dia adalah malaikat yang hanya mendatangkan kekerasan dan mengalirkan darah.
Seandainya bukan dia, niscaya kami akan mengikutimu."
Maka Allah menurunkan firman-Nya,
"Katakanlah, Barang siapa yang menjadi musuh Jibril —sampai dengan firman-Nya— kalau mereka mengetahui"
(QS. Al-Baqarah [2]: 97-102)

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Walid Al-Ajali, dari Bukair ibnu Syihab, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan hadis berikut:
Orang-orang Yahudi menghadap kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka berkata,
"Wahai Abul Qasim, ceritakanlah kepada kami tentang lima perkara, karena sesungguhnya jika engkau menceritakannya kepada kami, maka kami mengetahui bahwa engkau adalah seorang nabi dan kami akan mengikutimu."
Maka Nabi ﷺ mengambil janji terhadap mereka sebagaimana apa yang pernah diambil oleh Israil (Ya’qub) terhadap anak-anaknya, yaitu ketika dia mengatakan,
"Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)."
Rasul ﷺ bersabda,
"Kemukakanlah oleh kalian."
Mereka bertanya,
"Ceritakanlah kepada kami tentang pertanda nabi."
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Kedua matanya tertidur, tetapi hatinya tidak tidur."
Mereka bertanya,
"Ceritakanlah kepada kami, bagaimanakah anak itu lahir perempuan dan bagaimanakah pula lahir laki-laki?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Kedua air mani bertemu, apabila air mani laki-laki mengalahkan air mani wanita, maka anaknya akan lahir laki-laki.
Dan apabila air mani perempuan mengalahkan air mani laki-laki, maka anaknya akan perempuan."
Mereka bertanya,
"Ceritakanlah kepada kami apa yang diharamkan oleh Israil (Nabi Ya’qub) terhadap dirinya sendiri?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Pada mulanya dia menderita suatu penyakit yang parah (irqun nisa), maka dia tidak menemukan sesuatu yang lebih layak baginya (sebagai nazarnya jika ia sembuh) kecuali air susu ternak anu —Imam Ahmad mengatakan bahwa sebagian dari mereka mengatakan, yang dimaksud adalah ternak unta— maka dia mengharamkan dagingnya (untuk dirinya sendiri)."
Mereka berkata,
"Engkau benar."
Mereka bertanya,
"Ceritakanlah kepada kami apakah guruh itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Salah satu malaikat Allah subhanahu wa ta’ala yang ditugaskan untuk mengatur awan dengan kedua tangannya, atau di tangannya ia memegang sebuah cemeti api yang ia gunakan untuk menggiring awan menurut apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala"
Mereka bertanya,
"Lalu apakah suara yang biasa kita dengar dari guruh itu?
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Suara malaikat itu."
Mereka menjawab,
"Engkau benar."
Mereka berkata,
"Sesungguhnya kini tinggal satu pertanyaan lagi yang menentukan apakah kami akan mengikutimu jika kamu dapat menceritakannya.
Sesungguhnya tiada seorang nabi pun melainkan berteman dengan malaikat yang selalu datang kepadanya membawa kebaikan (wahyu).
Maka ceritakanlah kepada kami, siapa teman malaikatmu itu?
Rasul ﷺ menjawab,
"Jibrilalaihis salam"
Mereka berkata,
"Jibril, dia adalah malaikat yang selalu turun dengan membawa peperangan, pembunuhan, dan azab, dia adalah musuh kami, Seandainya engkau katakan Mikail yang biasa menurunkan rahmat, hujan, dan tetumbuhan, niscaya kami akan mengikutimu."
Maka Allah menurunkan firman-Nya,
"Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah’…, hingga akhir ayat,"
(QS. Al-Baqarah [2]: 97).

Sunaid di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan dari Hajjah ibnu Muhammad, dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadanya Al-Qasim ibnu Abu Buzzah:
Bahwa orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi ﷺ tentang temannya yang biasa menurunkan wahyu kepadanya.
Maka beliau ﷺ menjawab,
"Jibrail"
Mereka berkata,
"Sesungguhnya dia adalah musuh kami.
Tiada yang ia datangkan kecuali hanya perang, kekerasan, dan pembunuhan."
Lalu turunlah ayat berikut:
"Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril …, hingga akhir ayat,"
(QS. Al-Baqarah [2]: 97).

Ibnu Jarir mengatakan, Mujahid telah menceritakan hadis berikut:
Orang-orang Yahudi berkata,
"Hai Muhammad, tiada yang dibawa oleh Jibril melainkan hanya kekerasan, perang, dan pembunuhan.
Sesungguhnya dia adalah musuh kami."
Maka turunlah ayat ini,
"Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril …, hingga akhir ayat,"
(QS. Al-Baqarah [2]: 97).

Imam Bukhari meriwayatkan sehubungan dengan tafsir firman-Nya:
Barang siapa yang menjadi musuh Jibril.
(QS. Al-Baqarah [2]: 97)
Menurut Ikrimah, lafaz jabra, mik, dan israf artinya menurut bahasa Arab adalah abdun (hamba), sedangkan lil artinya Allah.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Munir yang pernah mendengar Abdullah ibnu Bakr mengatakan, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan hadis berikut:
Abdullah ibnu Salam mendengar kedatangan Nabi ﷺ (di Madinah).
Ketika itu ia sedang membajak lahannya, lalu ia datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya,
"Sesungguhnya aku akan bertanya kepadamu tentang tiga perkara, tiada yang mengetahuinya kecuali seorang nabi.
Apakah tanda-tanda hari kiamat itu, apakah makanan yang mula-mula dimakan oleh ahli surga, dan apakah yang menyebabkan seorang anak mirip kepada ayahnya atau ibunya?” Nabi ﷺ menjawab,
"Tadi Jibril baru saja menceritakannya kepadaku."
Abdullah ibnu Salam berkata,
"Jibril?"
Nabi ﷺ menjawab,
"Ya."
Abdullah ibnu Salam berkata,
"Dia adalah musuh orang-orang Yahudi dari kalangan para malaikat."
Maka Nabi ﷺ membacakan ayat ini, yaitu:
"Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu"
(QS. Al-Baqarah [2]: 97).
Adapun pertanda hari kiamat ialah munculnya api yang menggiring manusia dari arah timur menuju ke arah barat.
Adapun makanan yang mula-mula dimakan oleh ahli surga, maka ia adalah lebihan dari hati ikan paus.
Dan apabila air mani laki-laki mendahului air mani perempuan, maka si anak kelak akan menyerupainya.
Dan apabila air mani perempuan mendahului air mani laki-laki, maka kelak anaknya akan mirip dengannya."
Abdullah ibnu Salam berkata,
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang wajib disembah) selain Allah, dan bahwa engkau adalah utusan Allah.
Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi itu adalah kaum yang suka mendustakan, dan sesungguhnya jika mereka mengetahui aku masuk Islam sebelum engkau bertanya kepada mereka, nanti mereka akan mendustakan diriku."
Maka datanglah orang-orang Yahudi, dan Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka,
"Apakah kedudukan Abdullah ibnu Salam di antara kalian!"
Mereka menjawab,
"Dia orang terbaik dari kalangan kami dan anak orang terbaik kami.
Dia adalah penghulu kami dan anak penghulu kami."
Nabi ﷺ bertanya,
"Bagaimanakah menurut kalian jika dia masuk Islam!"
Mereka menjawab,
"Semoga Allah menghindarkannya dari itu."
Kemudian keluarlah Abdullah dan berkata,
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."
Maka mereka berkata,
"Dia paling buruk di antara kami, anak orang yang paling buruk dari kami"
dan mereka terus mencelanya.
Maka berkatalah Abdullah ibnu Salam,
"Inilah yang aku khawatirkan, wahai Rasulullah"

Imam Bukhari menyendiri dengan sanad ini, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) mengetengahkannya dari jalur yang lain melalui sahabat Anas dengan lafaz yang semisal.
Di dalam kitab Sahih Muslim terdapat hadis yang maknanya mendekati makna hadis ini, diriwayatkan melalui Sauban maula Rasulullah ﷺ, seperti yang akan diterangkan nanti pada tempatnya.

Riwayat Imam Bukhari —seperti yang disebutkan di atas melalui Ikrimah—merupakan riwayat yang masyhur, yaitu yang mengatakan bahwa lil artinya Allah.
Hal ini diriwayatkan pula oleh Sufyan As-Sauri, dari Khasif, dari Ikrimah.
Hal yang semisal telah diriwayatkan pula oleh Abdu ibnu Humaid, dari Ibrahim ibnul Hakam, dari ayah-nya, dari Ikrimah.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Al-Husain ibnu Yazid At-Tah-han, dari Ishaq ibnu Mansur, dari Qais ibnu Asim, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa sesungguhnya Jibril menurut bahasa Arab artinya Abdullah (hamba Allah) dan Mikail sama artinya dengan Abdullah (hamba Allah), karena lafaz lil menurut bahasa Arab artinya Allah.
Hal semisal diriwayatkan oleh Yazid An-Nahwi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas.
Hal yang sama dikatakan pula oleh sejumlah ulama salaf, seperti yang akan diterangkan berikut ini.

Sebagian ulama mengatakan bahwa lil artinya abdun (hamba), sedangkan kalimat yang lainnya artinya nama Allah, mengingat nama lil tidak berubah pada kesemua itu, maka wazan-nya sama dengan nama-nama seperti Abdullah, Abdur Rahman, Abdul Malik, Abdul Quddus, Abdus Salam, Abdul Kafi, dan Abdul Jalil.
Lafaz abdun ada dalam semua nama tersebut, sedangkan nama yang di-mudaf-kan kepadanya berbeda-beda.
Hal yang sama terjadi pula pada lafaz Jabrail, Mikail, Azrail, Israfil, dan lain-lainnya yang sejenis.
Akan tetapi, perlu diingat bahwa dalam bahasa Arab terdapat perbedaan, selalu mendahulukan mudaf ilaih daripada mudaf-nya.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya berpendapat bahwa penyebab yang membuat mereka (orang-orang Yahudi) mengatakan hal tersebut (seperti yang disebut di dalam surat Al-Baqarah ayat 97)
ialah ketika terjadi dialog antara mereka dengan sahabat Umar ibnul Khattab tentang perihal Nabi ﷺ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepadaku Rab’i ibnu Ulayyah, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya’bi yang menceritakan hadis berikut:
Umar turun istirahat di Rauha, ia melihat banyak kaum lelaki berebutan menuju bebatuan yang akan mereka pakai untuk tempat salat.
Ia berkata,
"Apakah gerangan yang mereka lakukan itu?"
Mereka berkata,
"Mereka menduga bahwa Rasulullah ﷺ pernah melakukan salat di tempat tersebut."
Maka Umar ibnul Khattab mengingkari (memprotes)nya dan mengatakan,
"Kapan saja Rasulullah ﷺ menjumpai waktu salat di lembah mana pun, beliau salat di tempat itu, kemudian berangkat meninggalkannya."
Kemudian Umar menceritakan sebuah hadis kepada mereka (kaum muslim),
"Dahulu aku sering menyaksikan orang-orang Yahudi di hari kebaktian mereka, aku merasa kagum terhadap kitab Taurat karena ia membenarkan Alquran.
Aku kagum pula terhadap Alquran yang juga membenarkan Taurat.
Ketika di suatu hari aku berada di antara mereka, mereka berkata, ‘Hai Ibnul Khattab, tiada seorang.
pun di antara teman-temanmu yang paling aku senangi selain engkau sendiri.’ Aku bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Mereka menjawab, ‘Karena engkau sering berkumpul dengan kami dan selalu datang kepada kami.’ Aku menjawab, ‘Aku selalu datang kepada kalian karena aku merasa kagum kepada Alquran, bagaimana ia membenarkan kitab Taurat, kagum pula kepada Taurat, bagaimana ia membenarkan Alquran.’ Mereka berkata, (yang saat itu Rasulullah ﷺ sedang lewat), ‘Hai Ibnul Khattab, itulah sahabatmu, maka bergabunglah dengannya’."
Perawi melanjutkan kisahnya,
"Maka aku berkata kepada mereka saat itu juga, ‘Aku meminta kepada kalian demi nama Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, dan demi apa yang kalian pelihara dari hak-nya serta demi apa yang dititipkan kepada kalian dari kitabnya, apakah kalian mengetahui bahwa dia adalah utusan Allah?’."
Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa mereka diam, tidak menjawab.
Lalu salah seorang yang paling Umar) berkata,
"Celakalah kalian, kalau demikian kalian binasa."
Mereka menjawab,
"Sesungguhnya kami masih belum binasa."
Aku (Umar) berkata,
"Mengapa bisa terjadi, kalian mengetahui bahwa dia adalah utusan Allah, sedangkan kalian tidak mau mengikutinya, tidak pula percaya kepadanya?"
Mereka menjawab,
"Sesungguhnya kami mempunyai musuh dari kalangan para malaikat, juga mempunyai teman dari kalangan mereka.
Sesungguhnya dia ditemani dalam kenabiannya oleh musuh kami dari kalangan para malaikat."
Aku bertanya,
"Siapakah musuh dan teman kalian itu?"
Mereka menjawab,
"Musuh kami adalah Jibril, dan teman kami adalah Mikail."
Mereka mengatakan,
"Sesungguhnya Jibril adalah malaikat yang bengis, kasar, sulit, keras, dan tukang menyiksa atau hal yang semisal dengan itu.
Sesungguhnya Mikail adalah malaikat rahmat, lembut lagi ringan atau hal yang semacam itu."
Aku bertanya,
"Apakah kedudukan keduanya di sisi Rabbnya?"
Mereka menjawab,
"Salah seorang darinya berada di sebelah kanan-Nya dan yang lainnya berada di sebelah kiri-Nya."
Maka aku berkata,
"Demi Tuhan yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya keduanya dan Tuhan yang mereka berdua berada di kedua sisi-Nya benar-benar memusuhi orang-orang yang memusuhi keduanya dan berdamai dengan orang-orang yang damai dengan keduanya.
Tidak layak bagi Malaikat Jibril berdamai dengan musuh Malaikat Mikail, dan tidak layak pula bagi Mikail berdamai dengan musuh Malaikat Jibril."
Kemudian aku bangkit dan mengikuti Nabi ﷺ hingga aku dapat menyusulnya.
Pada saat itu beliau baru keluar dari rumah kecil Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hati kalian dengan seizin Allah.
(QS. Al-Baqarah [2]: 97)

Beliau ﷺ membaca pula beberapa ayat sesudahnya.
Aku berkata,
"Ayah dan ibuku kujadikan sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah.
Demi Tuhan Yang telah mengutusmu dengan hak, sesungguhnya aku sendiri datang untuk menceritakan hal itu kepadamu, tetapi aku mendengar bahwa Tuhan Yang Mahalembut lagi Mahaperiksa telah mendahuluiku kepadamu dengan membawa kebaikan."

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Mujalid, telah menceritakan kepada kami Amir yang menceritakan bahwa sahabat Umar berangkat menuju kepada orang-orang Yahudi, lalu berkata,
"Aku meminta kepada kalian dengan nama Tuhan Yang menurunkan kitab Taurat kepada Musa.
Apakah kalian menemukan Muhammad di dalam kitabkitab kalian?"
Mereka menjawab,
"Ya."
Umar bertanya,
"Apakah gerangan yang menghalang-halangi kalian untuk mengikutnya?"
Mereka menjawab,
"Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali mengutus seorang rasul melainkan menjadikan baginya teman dari kalangan para malaikat.
Sesungguhnya Jibril adalah teman Muhammad, dialah yang selalu datang kepadanya.
Tetapi dia adalah malaikat yang menjadi musuh kami, sedangkan Malaikat Mikail adalah teman kami.
Seandainya Mikail yang selalu datang kepadanya, niscaya kami masuk Islam."
Umar r.a. berkata,
"Sesungguhnya aku bertanya kepada kalian dengan nama Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, apakah kedudukan keduanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala?"
Mereka menjawab,
"Jibril berada di sebelah kanan-Nya dan Mikail berada di sebelah kiri-Nya."
Umar berkata,
"Sesungguhnya aku bersaksi bahwa keduanya tidak akan turun (ke bumi) kecuali dengan seizin Allah, dan Mikail tidak akan berdamai dengan musuh Jibril, Jibril tidak akan berdamai dengan musuh Mikail."
Ketika Umar berada bersama mereka (orang-orang Yahudi), tiba-tiba lewatlah Nabi ﷺ, lalu mereka berkata,
"Inilah temanmu, hai Ibnul Khattab."
Maka Umar bangkit menuju ke arahnya dan datang menghadap kepadanya, sedangkan saat itu Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan firman-Nya:

Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikatmalaikat-Nya, rasulrasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.
(QS. Al-Baqarah [2]: 98)

Kedua sanad riwayat ini menunjukkan bahwa Asy-Sya’bi menceritakannya dari Umar r.a., tetapi di dalamnya terdapat inqita’ (rentetan sanad yang terputus) antara Asy-Sya’bi dan Umar r.a. karena Asy-Sya’bi tidak menjumpai zaman sahabat Umar r.a.
Ibnu Jarir meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Basyir, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai’, dari Sa’id, dari Qatadah yang menceritakan, telah diceritakan kepada kami bahwa di suatu hari Umar ibnul Khattab pernah berangkat menuju tempat orang-orang Yahudi.
Ketika ia sampai di kalangan mereka, mereka menyambutnya dengan sambutan yang hangat.
Maka Umar r.a. berkata kepada mereka,
"Ingatlah, demi Allah, tidak sekali-kali aku datang kepada kalian karena terdorong suka kepada kalian, tidak pula karena berharap kepada kalian, tetapi aku datang kepada kalian untuk mendengar langsung dari kalian."
Lalu Umar bertanya kepada mereka, dan mereka bertanya kepadanya,
"Siapakah teman kalian (dari kalangan malaikat)?"
Umar menjawab,
"Jibril."
Mereka berkata,
"Dia adalah musuh kami dari kalangan penduduk langit, dialah yang memperlihatkan kepada Muhammad rahasia kami.
Apabila ia datang, maka yang didatangkannya adalah peperangan dan kelaparan.
Tetapi teman kami adalah Mikail, apabila dia datang, yang didatangkannya adalah kesuburan dan kedamaian."
Umar berkata kepada mereka,
"Mengapa kalian mengakui Jibril, tetapi mengingkari Muhammad ﷺ?"
Sejak saat itu Umar pergi meninggalkan mereka dan menuju ke arah Nabi ﷺ untuk menceritakan kepada beliau apa yang telah diceritakan oleh mereka.
Tetapi ternyata ia menjumpai beliau dalam keadaan telah menerima wahyu ayat-ayat berikut:

Katakanlah,
"Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.


hingga beberapa ayat sesudahnya.

Di dalam riwayat ini terdapat nama Adam, dia berpredikat munqati pula.
Hadis ini diriwayatkan juga oleh Asbat, dari As-Saddi, dari Umar dengan mak-na yang sama atau yang semisal dengannya, tetapi riwayat ini pun berpredikat munqati.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman (yakni Ad-Dustuli), telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far, dari Husain ibnu Abdur Rahman, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, bahwa seorang Yahudi menemui sahabat Umar ibnul Khattab, lalu orang Yahudi itu berkata,
"Sesungguhnya Jibril yang disebut oleh teman kalian (Nabi Muhammad ﷺ) adalah musuh kami."
Maka sahabat Umar r.a. membacakan firman-Nya:
Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikatmalaikat-Nya, rasulrasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.
(QS. Al-Baqarah [2]: 98)

Dengan kata lain, ayat ini diturunkan bertepatan dengan perkataan yang dikatakan oleh lisan sahabat Umar r.a. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abdu ibnu Humaid, dari Abun Nadr Hasyim ibnul Qasim, dari Abu Ja’far (yakni Ar-Razi).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepadaku Hasyim, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Abdur Rahman, dari Ibnu Abu Laila sehubungan dengan tafsir firman-Nya:
Barang siapa yang menjadi musuh Jibril…, hingga akhir, ayat (QS. Al-Baqarah [2]: 97).
Dijelaskan bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada kaum muslim,
"Seandainya malaikat yang turun kepada kalian adalah Mikail, niscaya kami akan mengikuti kalian.
Karena sesungguhnya Malaikat Mikail itu selalu turun membawa rahmat dan hujan, dan sesungguhnya Jibril selalu turun membawa azab dan pembalasan.
Sesungguhnya dia adalah musuh kami."
Ibnu Jarir mengatakan lalu turunlah ayat ini.

Abdur Razzaq menceritakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, sehubungan dengan tafsir firman-Nya:
Katakanlah,
"Barang siapa yang menjadi musuh Jibril…, hingga akhir ayat, (QS. Al-Baqarah [2]: 97).
Bahwa orang-orang Yahudi pernah mengatakan,
"Sesungguhnya Jabrail adalah musuh kami, karena sesungguhnya dia turun hanya dengan membawa kekerasan dan kelaparan.
Dan sesungguhnya Mikail selalu turun membawa kemakmuran, kesehatan, dan kesuburan.
Jabrail adalah musuh kami."
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menurunkan ayat ini.


Mengenai tafsir firman-Nya:


Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hati kalian dengan seizin Allah.

Artinya, barang siapa yang memusuhi Malaikat Jabrail, ketahuilah bahwa dia adalah Ruh (malaikat) Al-Amin (yang dipercaya oleh Allah subhanahu wa ta’ala).
Dialah yang membawa turun Alquran yang bijaksana ke dalam hatimu dari Allah dengan seizin-Nya.
Dia adalah utusan Allah dari kalangan para malaikat, dan barang siapa yang memusuhi utusan, berarti dia memusuhi semua utusan.
Sama halnya orang yang beriman kepada seorang rasul, sesungguhnya ia pasti beriman kepada semua rasul, sebagaimana orang yang kafir kepada seorang rasul, berarti dia kafir kepada semua rasul.
Sama halnya dengan makna yang terkandung di dalam firman lainnya, yaitu:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasulrasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan rasulrasul-Nya, dengan mengatakan,
"Kami beriman kepada yang sebagian (dari rasulrasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)."
(QS. An Nisaa [4]: 150), hingga kedua ayat berikutnya.

Di dalamnya diputuskan terhadap mereka sebagai orang-orang kafir yang sesungguhnya, jika mereka beriman kepada sebagian para rasul dan kafir kepada sebagian yang lainnya.
Demikian pula perihal orang yang memusuhi Malaikat Jibril, sesungguhnya orang tersebut adalah musuh Allah.
Dikatakan demikian karena sesungguhnya tidak sekali-kali Malaikat Jibril turun dengan membawa perintah dari dirinya sen-diri, melainkan dia turun dengan membawa perintah Tuhannya, seperti yang dinyatakan oleh firman-Nya:

Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhan-mu.
(QS. Maryam [19]: 64)

Dan sesungguhnya Alquran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dan dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.

(QS. Asy-Syu’ara [26] :192-194)

Imam Bukhari meriwayatkan di dalam kitab sahihnya melalui Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang memusuhi kekasihku, berarti dia menantangku terang-terangan untuk berperang.

Karena itu, Allah murka terhadap setiap orang yang memusuhi Malaikat Jibril.


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan kitabkitab sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Ma baina yadaihi, yakni kitabkitab sebelumnya.

Hudan, petunjuk bagi hati mereka.

Busyra, berita gembira bagi mereka bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga.
Dan Alquran itu tiada lain hanyalah bagi orang-orang mukmin, seperti yang disebutkan oleh firman lainnya, yaitu:

Katakanlah,
"Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman"…, hingga akhir ayat, (QS. Al-Fushilat [41]: 44).

Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(QS. Al-Israa’ [17]: 82)

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 97

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Anas.
Bahwa ‘Abdullah bin salam mendengar akan tibanya Rasulullah di saat dia berada di tempat peristirahatannya.
Lalu ia menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Sesungguhnya saya akan bertanya kepada tuan tentang tiga hal.
Tidak akan ada yang mengetahui jawabannya kecuali seorang nabi:

1) apa tanda-tanda pertama hari kiamat.
2) makanan apa yang pertama-tama dimakan oleh ahli surga, dan
3) mengapa si anak menyerupai bapaknya atau kadang-kadang menyerupai ibunya?”
Nabi ﷺ menjawab:
“Baru saja Jibril memberitahukan hal itu kepadaku.” Abdullah bin Salam berkata: “Jibril?” Rasulullah ﷺ menjawab:
“Ya.” ‘Abdullah bin Salam berkata: “Dia itu malaikat yang termasuk musuh kaum Yahudi.” Lalu Nabi ﷺ membacakan ayat ini (Al-Baqarah: 97) sebagai teguran kepada orang-orang yang memusuhi Malaikat pesuruh Allah.

Keterangan: menurut Syaikhul Islam al-Hafizh Ibnu Hajar, di dalam Kitab Fat-hul Baari, berdasarkan susunan kalimatnya, ayat yang dibacakan oleh Nabi ﷺ ini (Al-Baqarah: 97), sebagai bantahan kepada kaum Yahudi, dan tidak seharusnya turun bersamaan dengan peristiwa tersebut di atas.
Dan inilah yang paling kuat.
Di samping itu, ada keterangan lain yang sah bahwa turunnya ayat tersebut pada peristiwa lain, dan bukan pada peristiwa ‘Abdullah bin salam.

Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i, dari Bakr bin Syihab, dari Sa’id bin Jubair, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa serombongan kaum Yahudi datang menghadap Nabi ﷺ, mereka berkata: “Hai Abal Qasim.
Kami akan menanyakan lima perkara kepada tuan.
Apabila tuan dapat memberitahukannya, tahulah kami bahwa tuan adalah seorang nabi.” Selanjutnya hadits itu menyebutkan, yang isinya antara lain menyebutkan mereka bertanya: 1) tentang apa yang diharamkan oleh Bani Israil atas dirinya, 2) tentang tanda-tanda kenabian, 3) tentang petir dan suaranya, 4) tentang bagaiman wanita dapat melahirkan dan laki-laki dan dapat juga wanita, dan 5) tentang siapa sebenarnya yhang memberi kabar dari langit.
Dan pada akhir hadits itu disebutkan bahwa mereka berkata: “Siapa sahabat tuan itu?” yang dijawab oleh Rasulullah ﷺ: “Jibril.” Mereka berkata: “Apakah Jibril yang biasa menurunkan perang, pembunuhan, dan siksaan?
Itu musuh kami.
Jika tuan mengatakan Mikail yang menurunkan rahmat, tanam-tanaman, dan hujan, tentu lebih baik.” Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 97) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih di dalam Musnad-nya dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari asy-Syu’bi.
Sanad hadits ini sahih sampai asy-Syu’bi, hanya saja asy-Syu’bi tidak bertemu dengan ‘Umar.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dai selain asy-Syu’bi.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari as-Suddi dan Qatadah yang bersumber dari ‘Umar, keduanya munqathi’.
Bahwa pada suatu hari ‘Umar datang kepada Yahudi yang ketika itu sedang membaca Taurat.
Ia (‘Umar) pun kaget, karena isinya membenarkan apa yang disebut di dalam Al-Qur’an.
Ketika itu lewatlah Rasulullah di hadapan mereka, dan berkatalah ‘Umar kepada Yahudi: “Aku minta agar engkau menjawab pertanyaanku dengan sungguh-sungguh dan jujur.
Apakah kamu tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah?” Guru mereka menjawab:
“Memang benar kami tahu bahwa beliau itu Rasulullah.” ‘Umar berkata: “Mengapa kamu tidak mau mengikutinya?” Mereka menjawab:
“Ketika kami bertanya tentang penyampai kenabiannya, Muhammad mengatakan ‘Jibril’.
Dialah musuk kami yang menurunkan kekerasan, kekejaman, peperangan dan kecelakaan.” ‘Umar bertanya: “Malaikat siapa yang biasa diutus kepada nabimu?” Mereka menjawab:
“Mikail, yang menurunkan hujan dan rahmat.” ‘Umar bertanya: “Bagaimana kedudukan mereka di sisi Rabb-nya?” Mereka menjawab:
“Yang satu di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.” ‘Umar berkata: “Tidak sepantasnya Jibril memusuhi pengikut Mikail, dan tidak patut Mikail berbuat baik kepada musuh Jibril.
Sesungguhnya aku percaya bahwa Jibril, Mikail, dan Rabb mereka akan berbuat baik kepada kepada siapa yang berbuat baik kepada mereka, dan akan berperang kepada siapa yang mengumumkan perang kepada mereka.” Kemudian ‘Umar mengejar Nabi ﷺ untuk menceritakan hal itu.
Tetapi sesampainya pada Nabi, beliau bersabda: “Apakah engkau ingin aku bacakan ayat yang baru turun padaku?” ‘Umar menjawab:
“Tentu saja, ya Rasulallah.” Kemudian beliau mebaca… mang kaana ‘aduwwal li jibriila fa innahuu nazzalahuu ‘alaa qalbik… (barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya [al-Qur’an] ke dalam hatimu…) sampai…lil kaafiriin…(…orang-orang kafir) (Al-Baqarah: 97-98).
Umar berkata: “Ya Rasulallah.
Demi Allah, saya tinggalkan kaum Yahudi tadi dan menghadap tuan justru untuk menceritakan apa yang kami percakapkan, tapi rupanya Allah telah mendahului saya.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Abdurrahman bin Laila.
Sumber ini saling menguatkan dengan sumber lain.
Bahwa seorang Yahudi berkata ketika bertemu dengan ‘Umar bin al-Khaththab: “Sesungguhnya Jibril yang disebut-sebut oleh shahabatmu itu (Rasulullah) adalah musuh kami.” Berkatalah ‘Umar: “Barang siapa yang memusuhi Allah, malaikat-Nya, para Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, sesungguhnya Allah memusuhinya.” Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 97-98) bersesuaian dengan apa yang diucapkan ‘Umar.

Keterangan: menurut Ibnu Jarir, sebab-sebab yang diceritakan dalam haditshadits tersebut di atas merupakan sebab-sebab turunnya ayat ini (al-Baqarah: 97-98).

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah Al Baqarah (البقرة)

Surat "Al Baqarah" yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).

Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Alquran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai "Al Baqarah" karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dijelaskan watak orang Yahudi pada umumnya.

Dinamai "Fusthaathul-Qur’an" (puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat "alif-laam-miim" karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Dakwah Islamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

▪ Perintah mengerjakan shalat.
Menunaikan zakat.
Hukum puasa.
Hukum haji dan umrah.
Hukum qishash.
▪ Hal-hal yang halal dan yang haram.
▪ Bernafkah di jalan Allah.
Hukum arak dan judi.
▪ Cara menyantuni anak yatim, larangan riba.
▪ Hutang piutang.
▪ Nafkah dan yang berhak menerimanya.
▪ Wasiyat kepada dua orang ibu bapak dan kaum kerabat.
Hukum sumpah.
▪ Kewajiban menyampaikan amanat.
▪ Sihir.
Hukum merusak masjid.
Hukum merubah kitabkitab Allah.
Hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’.
Hukum susuan.
Hukum melamar.
musyrik dan sebaliknya.
Hukum perang.

Kisah:

▪ Kisah penciptaan Nabi Adam `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.
▪ Kisah Nabi Musa `alaihis salam dengan Bani Israil.

Lain-lain:

▪ Sifat-sifat orang yang bertakwa.
▪ Sifat-sifat orang munafik.
▪ Sifat-sifat Allah.
▪ Perumpamaan-perumpamaan.
Kiblat.
▪ Kebangkitan sesudah mati.

Audio

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 286 + Terjemahan Indonesia

QS. Al-Baqarah (2) : 1-286 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 286

Gambar Kutipan Ayat

Surah Al Baqarah ayat 97 - Gambar 1 Surah Al Baqarah ayat 97 - Gambar 2
Statistik QS. 2:97
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah Al Baqarah.

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: “Sapi Betina”) adalah surah ke-2 dalam Alquran.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Alquran.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Alquran) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah 2
Nama Surah Al Baqarah
Arab البقرة
Arti Sapi Betina
Nama lain Fasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 87
Juz Juz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku’ 40 ruku’
Jumlah ayat 286
Jumlah kata 6156
Jumlah huruf 26256
Surah sebelumnya Surah Al-Fatihah
Surah selanjutnya Surah Ali ‘Imran
Sending
User Review
4.9 (13 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

2:97, 2 97, 2-97, Surah Al Baqarah 97, Tafsir surat AlBaqarah 97, Quran Al-Baqarah 97, Surah Al Baqarah ayat 97

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah Al Baqarah

۞ QS. 2:2 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:3 • Allah memiliki kunci alam ghaib • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:4 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:5 • Pahala iman • Ar Rabb (Tuhan) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:6 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Kebodohan orang kafir

۞ QS. 2:7 • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Penghinaan orang kafir terhadap Allah • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:8 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:9 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:10 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:11 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:12 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:13 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:14 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:15 • Penangguhan (siksa) orang kafir di dunia • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:16 • Siksa orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:17 • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:18 • Siksa orang munafik • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:19 Al Muhith (Maha Mengetahui) • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:20 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:21 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:22 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak

۞ QS. 2:24 • Memasuki neraka • Sifat neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:25 • Pahala iman • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat wanita penghuni surga • Makanan dan minuman ahli surga

۞ QS. 2:26 • Kesabaran Allah terhadap kejahatan hamba • Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:27 • Azab orang kafir • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:28 Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:29 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:30 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 2:31 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:32 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:33 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:36 • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 2:37 Ar Rabb (Tuhan) • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:38 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:39 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:40 • Allah menepati janji

۞ QS. 2:41 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:46 Ar Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Kebenaran hari penghimpunan

۞ QS. 2:48 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Orang kafir menebus dirinya pada hari kiamat • Keadilan Allah dalam menghakimi • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:49 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:51 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:52 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:54 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:56 • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:57 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:58 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:59 Syirik adalah kezaliman • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:61 Ar Rabb (Tuhan) • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:62 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 2:63 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:64 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 2:65 • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:66 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:68 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:69 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:70 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:72 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:73 • Kekuasaan Allah • Al MuhyiAl Mumiit (Maha Menghidupkan dan Mematikan) • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:74 • Kepatuhan segala sesuatu pada Allah Ta’ala • Keluasan ilmu Allah • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:75 • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi

۞ QS. 2:76 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:77 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 2:79 • Mendustai Allah • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:80 • Mendustai Allah • Allah menepati janji

۞ QS. 2:81 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:82 • Pahala iman • Keabadian surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 2:83 Tauhid Uluhiyyah

۞ QS. 2:85 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:86 • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 2:87 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul

۞ QS. 2:89 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:90 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Azab orang kafir • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:91 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:92 Syirik adalah kezaliman

۞ QS. 2:93 • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:94 • Mendustai Allah • Ketakutan pada kematian

۞ QS. 2:95 Al ‘Alim (Maha megetahui) • Ketakutan pada kematian

۞ QS. 2:96 Al Bashir (Maha Melihat) • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Azab orang kafir • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 2:97 • Peranan dan tugas Jibril • Permusuhan antara orang Yahudi dengan Jibril • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:98 • Kewajiban beriman kepada malaikat • Permusuhan antara orang Yahudi dengan Jibril • Kewajiban beriman pada para rasul • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:99 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:101 • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya

۞ QS. 2:102 • Tugas-tugas malaikat • Kebenaran dan hakikat takdir • Segala sesuatu ada takdirnya • Sifat iblis dan pembantunya • Jin ditundukkan untuk taat kepada nabi Sulaiman as.

۞ QS. 2:103 • Pahala iman

۞ QS. 2:104 • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:105 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Ar Rabb (Tuhan) • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 2:106 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:107 • Segala sesuatu milik Allah • Malikul Mulk (Maha Pemilik kerajaan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) •

۞ QS. 2:108 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:109 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa)

۞ QS. 2:110 Al Bashir (Maha Melihat) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Mempersiapkan diri menghadapi kematian

۞ QS. 2:111 • Mendustai Allah

۞ QS. 2:112 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhiratAr Rabb (Tuhan) • Perbuatan dan niat • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 2:113 • Kepastian hari kiamat

۞ QS. 2:114 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:115 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 2:116 • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah

۞ QS. 2:117 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Badi’ (Maha Pencipta)

۞ QS. 2:118 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:119 • Nama-nama neraka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:120 • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Perintah tidak mengikuti orang musyrikHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:121 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:123 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Keadilan Allah dalam menghakimi • Azab orang kafir

۞ QS. 2:124 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:126 • Pahala iman • Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 2:127 Ar Rabb (Tuhan) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 2:128 Ar Rabb (Tuhan) • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:129 Ar Rabb (Tuhan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 2:130 Islam agama para nabi

۞ QS. 2:131 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Islam agama para nabi •

۞ QS. 2:132 Tauhid UluhiyyahIslam agama yang diterima di sisi Allah • Islam agama para nabi

۞ QS. 2:133 Tauhid UluhiyyahAl Wahid (Maha Esa) • Kewajiban beriman pada para rasulIslam agama para nabi •

۞ QS. 2:134 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Amal shaleh menjadi syafaat bagi pelakunya • Menghitung amal kebaikan • Menanggung dosa orang lain •

۞ QS. 2:135 Islam agama para nabi • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 2:136 Tauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Tiada pengutamaan antara para nabi

۞ QS. 2:137 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban beriman pada para rasulIslam agama para nabi

۞ QS. 2:138 Islam agama fitrah • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 2:139 Tauhid RububiyyahTauhid UluhiyyahAr Rabb (Tuhan) • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 2:140 • Keluasan ilmu Allah • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:141 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Amal shaleh menjadi syafaat bagi pelakunya • Menghitung amal kebaikan • Menanggung dosa orang lain •

۞ QS. 2:142 • Segala sesuatu milik Allah • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:143 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Orang Islam sebagai saksi Allah terhadap manusia • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:144 Ar Rabb (Tuhan) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:145 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Perintah tidak mengikuti orang musyrik

۞ QS. 2:146 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:147 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:148 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Manusia dibangkitkan dari kubur • Kebenaran hari penghimpunan • Bersegera dalam melakukan kebaikan

۞ QS. 2:149 • Keluasan ilmu Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:152 • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:154 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 2:157 Ar Rabb (Tuhan)

۞ QS. 2:158 Al Syakur (Maha Penerima syukur) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:160 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang)

۞ QS. 2:161 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 2:162 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 2:163 Tauhid UluhiyyahAl Rahman (Maha Pengasih) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Wahid (Maha Esa) •

۞ QS. 2:164 Dalil-dalil adanya Allah Ta’ala • Beberapa ayat yang menjelaskan tentang hari kebangkitan

۞ QS. 2:165 Al Qawiy (Maka Kuat) • Azab orang kafirSyirik adalah kezaliman • Siksa orang kafir • Dosa terbesar

۞ QS. 2:166 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka

۞ QS. 2:167 • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keabadian neraka • Azab orang kafir • Siksa orang kafir

۞ QS. 2:168 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan

۞ QS. 2:169 • Mendustai Allah • Sifat iblis dan pembantunya

۞ QS. 2:170 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:171 • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 2:172 • Kewajiban hamba pada Allah

۞ QS. 2:173 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam • Perbuatan dan niat

۞ QS. 2:174 • Sifat Kalam (berfirman) • Adanya perubahan dalam beberapa kitab samawi • Orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kebangkitan • Balasan dan pahala dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:175 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:176 • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:177 Tauhid Uluhiyyah • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir

۞ QS. 2:178 Ar Rabb (Tuhan) • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:181 • Keluasan ilmu Allah • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 2:182 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:183 Puasa rukun Islam

۞ QS. 2:184 • Toleransi Islam

۞ QS. 2:185 Sifat Iradah (berkeinginan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Toleransi IslamHidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 2:186 • Al Qarib (Maha Dekat) • Keutamaan iman

۞ QS. 2:187 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Toleransi Islam

۞ QS. 2:191 • Azab orang kafir

۞ QS. 2:192 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:193 • Bersikap keras terhadap orang kafir

۞ QS. 2:194 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 2:196 • Siksaan Allah sangat pedih • Haji rukun Islam

۞ QS. 2:197 • Keluasan ilmu Allah • Haji rukun Islam • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 2:198 Ar Rabb (Tuhan) • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 2:199 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 2:200 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:201 Ar Rabb (Tuhan) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:202 • Pahala iman • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 2:203 • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat • Kebenaran hari penghimpunan • Toleransi Islam

۞ QS. 2:204 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 2:205 • Sifat orang munafik

۞ QS. 2:206 • Perlunya saling menasehati antara sesama • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 2:207 Al Ra’uf (Maha Kasih) • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:208 • Menjaga diri dari syetan • Mengerahkan seluruh kemampuan untuk taat kepada Allah

۞ QS. 2:209 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 2:210 • Kedahsyatan hari kiamat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:211 • Siksaan Allah sangat pedih • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 2:212 • Pahala iman • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Razzaq (Maha Pemberi rezeki) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 2:213 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi • Sikap manusia terhadap kitab