Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 surah 2 ayat 255 juga bisa langsung diakses di URL risalahmuslim.id/2-255

Al Baqarah

Al Baqarah (Sapi Betina) surah 2 ayat 97


قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ
Qul man kaana ‘aduu-wan lijibriila fa-innahu nazzalahu ‘ala qalbika biidznillahi mushaddiqan limaa baina yadaihi wahudan wabusyra lilmu’miniin(a);

Katakanlah:
“Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.
―QS. 2:97
Topik ▪ Malaikat ▪ Jibril as. ▪ Kelemahan iman bangsa Yahudi
2:97, 2 97, 2-97, Al Baqarah 97, AlBaqarah 97, Al-Baqarah 97
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Al Baqarah (2) : 97. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang penolakan alasan-alasan yang dikemukakan orang Yahudi dengan menyuruh Nabi Muhammad ﷺ, menyampaikan kepada orang-orang Yahudi, bahwa barang siapa yang memusuhi Jibril berarti ia telah memusuhi wahyu Allah, karena tugasnya antara lain menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Barang siapa memusuhi wahyu Allah, berarti ia telah mendustakan Taurat dan kitab-kitab Allah yang lain.
Alasan yang dikemukakan orang-orang Yahudi adalah alasan yang timbul dari kelemahan dan kerusakan iman.
Hal ini menunjukkan bahwa permusuhan orang-orang Yahudi terhadap Jibril tidaklah pantas dijadikan alasan untuk tidak mempercayai kitab yang diturunkan Allah.

Al Baqarah (2) ayat 97 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Al Baqarah (2) ayat 97 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Al Baqarah (2) ayat 97 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sebagian mereka beranggapan bahwa mereka memusuhi dan ingkar terhadap Al Quran karena mereka adalah musuh-musuh Jibril yang telah menyampaikan kitab ini kepadamu.
Maka katakanlah kepada mereka, wahai Nabi, “Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka ia adalah musuh Allah.
Sebab, Jibril tidak membawa kitab ini dari dirinya sendiri, tetapi ia menurunkannya atas perintah Allah untuk membenarkan kitab-kitab samawi yang terdahulu dan juga untuk membenarkan kitab mereka sendiri.
Juga sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah) kepada mereka, (“Barang siapa yang menjadi musuh Jibril) maka silakan ia binasa dengan kebenciannya itu! (Maka sesungguhnya Jibril itu menurunkannya) maksudnya Alquran (ke dalam hatimu dengan seizin) atau perintah (Allah, membenarkan apa-apa yang berada di hadapannya) yaitu kitab-kitab suci yang turun sebelumnya (dan menjadi petunjuk) dari kesesatan (serta berita gembira) berupa surga (bagi orang-orang yang beriman).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakanlah wahai Rasul kepada orang-orang yahudi saat mereka berkata, Malaikat musuk kami adalah Jibril.
Katakan kepada mereka, Barang siapa menjadi musuh bagi Jibril maka dia menurunkan Al-Quran ke hatimu dengan izin Allah yang membenarkan kitab-kitab Allah yang mendahuluinya, memberi kabar gembira berupa kebaikan dunia dan akhirat bagi orang-orang yang membenarkannya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir At-Tabari rahimahullah mengatakan bahwa semua ahlul ‘ilmi telah sepakat dengan takwil berikut, bahwa ayat ini diturunkan sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil.
Karena mereka mengatakan bahwa Malaikat Jibril adalah musuh mereka, sedangkan Malaikat Mikail adalah teman mereka.
Kemudian ahlul ‘ilmi berselisih pendapat mengenai penyebab yang membuat mereka (orang-orang Yahudi) mengatakan kata-kata seperti itu.
Menurut sebagian mereka, sesungguhnya penyebab yang membuat mereka mengatakan kata-kata seperti itu hanyalah sewaktu terjadi dialog antara mereka dengan Rasulullah ﷺ mengenai perkara kenabian beliau ﷺ

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Bukair, dari Abdul Hamid ibnu Bahram, dari Syahr ibnu Hausyab, dari Ibnu Abbas yang menceritakan hadis berikut: Segolongan orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka berkata, “Wahai Abul Qasim, ceritakanlah kepada kami beberapa perkara yang akan kami tanyakan kepadamu.
Perkara-perkara tersebut tiada yang mengetahuinya kecuali seorang nabi.” Maka Rasulullah ﷺ menjawab, “Bertanyalah tentang semua yang kalian sukai, tetapi berjanjilah kalian kepadaku sebagaimana apa yang diambil oleh Ya’qub dari anak-anaknya, sebagai jaminan untukku.
Jika aku benar-benar menceritakan kepada kalian tentang sesuatu hal, lalu kalian mengetahuinya, maka kalian benar-benar mau mengikutiku dan masuk Islam?”
Mereka menjawab, “Baiklah, kami ikuti kemauanmu.” Rasul ﷺ bersabda, “Bertanyalah kalian tentang apa yang kalian sukai.” Mereka bertanya, “Ceritakanlah kepada kami tentang empat perkara yang akan kami ajukan sebagai pertanyaan kepadamu.
Ceritakanlah kepada kami, rnakanan apakah yang diharamkan oleh Israil (Nabi Ya’qub) terhadap dirinya sebelum kitab Taurat diturunkan?
Sebutkanlah kepada kami bagaimanakah rupa air mani laki-laki dan air mani perempuan, dan bagaimana bisa terjadi darinya anak laki-laki dan anak perempuan.
Dan ceritakanlah kepada kami tentang nabi yang ummi dalam kitab Taurat, serta siapakah yang menjadi kekasihnya dari kalangan para malaikat?”
Nabi ﷺ menjawab, “Berjanjilah kalian atas nama Allah, jika aku dapat menceritakannya kepada kalian, maka kalian benar-benar akan mengikutiku.” Maka mereka memberikan kepada Nabi ﷺ ikrar dan janjinya.
Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Aku bertanya kepada kalian atas nama Tuhan Yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah kalian mengetahui bahwa Israil—yakni Ya’qub—pernah mengalami sakit keras yang memakan waktu cukup lama.
Lalu ia bernazar kepada Allah, seandainya Allah menyembuhkannya dari penyakit yang dideritanya itu, maka ia akan mengharamkan bagi dirinya makanan dan minuman yang paling ia sukai.
Makanan yang paling ia sukai ialah daging unta, dan minuman yang paling disukainya ialah air susu unta” Mereka menjawab, “Ya Allah, benar” Rasulullah ﷺ bersabda, “Ya Allah, persaksikanlah atas diri mereka.
Aku mau bertanya kepada kalian dengan nama Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia Yang menurunkan kitab Taurat kepada Musa.
Apakah kalian mengetahui bahwa air mani laki-laki itu rupanya kental lagi putih, sedangkan air mani perempuan encer berwarna kuning.
Maka mana saja di antara keduanya yang dapat mengalahkan yang lain, maka kelak anaknya akan seperti dia dan mirip kepadanya dengan seizin Allah subhanahu wa ta’ala Apabila air mani laki-laki mengalahkan air mani perempuan, maka anaknya adalah laki-laki dengan seizin Allah.
Dan apabila air mani perempuan dapat mengalahkan air mani laki-laki, maka kelak anaknya bakal perempuan dengan seizin Allah.” Mereka menjawab, “Ya Allah, memang benar.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Ya Allah, persaksikanlah atas mereka.
Dan aku bertanya kepada kalian, demi Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa.
Apakah kalian mengetahui bahwa nabi yang ummi ini kedua matanya tidur, tetapi hatinya tidak tidur?
Mereka menjawab, “Ya Allah, benar.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Ya Allah, persaksikanlah atas mereka.” Mereka berkata, “Sekarang engkau harus menceritakan kepada kami siapakah kekasihmu dari kalangan para malaikat.
Jawaban inilah yang menentukan apakah kami akan bergabung denganmu ataukah berpisah denganmu.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Sesungguhnya kekasihku adalah Jibril, tidak sekali-kali Allah mengutus seorang nabi melainkan dia selalu bersamanya.” Mereka berkata, “Inilah yang menyebabkan kami berpisah denganmu.
Seandainya kekasihmu itu selainnya dari kalangan para malaikat, maka kami akan mengikuti dan percaya kepadamu.” Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah gerangan yang mencegah kalian untuk percaya kepadanya?”
Mereka menjawab, “Sesungguhnya dia adalah musuh kami.” Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya —sampai dengan firman-Nya— kalau mereka mengetahui (Al Baqarah:97-102).” Maka saat itu mereka kembali dengan mendapat murka di atas kemurkaan yang telah ada pada pundak mereka.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad melalui Abun Nadr Hasyim ibnul Qasim, dan Abdur Rahman ibnu Humaid di dalam kitab tafsir melalui Ahmad ibnu Yunus.
Keduanya telah meriwayatkan hadis ini dari Abdul Hamid ibnu Bahram dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad meriwayatkannya pula melalui Al-Husain ibnu Muhammad Al-Mawarzi, dari Abdul Hamid, dengan lafaz yang sama.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar meriwayatkannya pula seperti berikut: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Husain, dari Syahr ibnu Hausyab, lalu ia mengetengahkannya secara mursal.
Akan tetapi, di dalam riwayatnya ini ditambahkan bahwa mereka (orang-orang Yahudi itu) bertanya, “Maka ceritakanlah kepada kami tentang Ar-Ruh.” Lalu Rasulullah ﷺ menjawab: “Aku bertanya kepada kalian demi nama Allah dan hari-hari-Nya bersama Bani Israil.
Tahukah kalian bahwa Ar-Ruh itu adalah Jibril, dialah yang selalu datang kepadaku” Mereka menjawab, “Ya Allah, benar, tetapi dia adalah musuh kami.
Sesungguhnya dia adalah malaikat yang hanya mendatangkan kekerasan dan mengalirkan darah.
Seandainya bukan dia, niscaya kami akan mengikutimu.” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Katakanlah, Barang siapa yang menjadi musuh Jibril —sampai dengan firman-Nya— kalau mereka mengetahui” (Al Baqarah:97-102)

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Walid Al-Ajali, dari Bukair ibnu Syihab, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan hadis berikut: Orang-orang Yahudi menghadap kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka berkata, “Wahai Abul Qasim, ceritakanlah kepada kami tentang lima perkara, karena sesungguhnya jika engkau menceritakannya kepada kami, maka kami mengetahui bahwa engkau adalah seorang nabi dan kami akan mengikutimu.” Maka Nabi ﷺ mengambil janji terhadap mereka sebagaimana apa yang pernah diambil oleh Israil (Ya’qub) terhadap anak-anaknya, yaitu ketika dia mengatakan, “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini).” Rasul ﷺ bersabda, “Kemukakanlah oleh kalian.” Mereka bertanya, “Ceritakanlah kepada kami tentang pertanda nabi.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Kedua matanya tertidur, tetapi hatinya tidak tidur.” Mereka bertanya, “Ceritakanlah kepada kami, bagaimanakah anak itu lahir perempuan dan bagaimanakah pula lahir laki-laki?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Kedua air mani bertemu, apabila air mani laki-laki mengalahkan air mani wanita, maka anaknya akan lahir laki-laki.
Dan apabila air mani perempuan mengalahkan air mani laki-laki, maka anaknya akan perempuan.” Mereka bertanya, “Ceritakanlah kepada kami apa yang diharamkan oleh Israil (Nabi Ya’qub) terhadap dirinya sendiri?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Pada mulanya dia menderita suatu penyakit yang parah (irqun nisa), maka dia tidak menemukan sesuatu yang lebih layak baginya (sebagai nazarnya jika ia sembuh) kecuali air susu ternak anu —Imam Ahmad mengatakan bahwa sebagian dari mereka mengatakan, yang dimaksud adalah ternak unta— maka dia mengharamkan dagingnya (untuk dirinya sendiri).” Mereka berkata, “Engkau benar.” Mereka bertanya, “Ceritakanlah kepada kami apakah guruh itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Salah satu malaikat Allah subhanahu wa ta’ala yang ditugaskan untuk mengatur awan dengan kedua tangannya, atau di tangannya ia memegang sebuah cemeti api yang ia gunakan untuk menggiring awan menurut apa yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala” Mereka bertanya, “Lalu apakah suara yang biasa kita dengar dari guruh itu?
Rasulullah ﷺ menjawab, “Suara malaikat itu.” Mereka menjawab, “Engkau benar.” Mereka berkata, “Sesungguhnya kini tinggal satu pertanyaan lagi yang menentukan apakah kami akan mengikutimu jika kamu dapat menceritakannya.
Sesungguhnya tiada seorang nabi pun melainkan berteman dengan malaikat yang selalu datang kepadanya membawa kebaikan (wahyu).
Maka ceritakanlah kepada kami, siapa teman malaikatmu itu?
Rasul ﷺ menjawab, “Jibril ‘alaihis salam” Mereka berkata, “Jibril, dia adalah malaikat yang selalu turun dengan membawa peperangan, pembunuhan, dan azab, dia adalah musuh kami, Seandainya engkau katakan Mikail yang biasa menurunkan rahmat, hujan, dan tetumbuhan, niscaya kami akan mengikutimu.” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah’…, hingga akhir ayat,” (Al Baqarah:97).

Sunaid di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan dari Hajjah ibnu Muhammad, dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadanya Al-Qasim ibnu Abu Buzzah: Bahwa orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi ﷺ tentang temannya yang biasa menurunkan wahyu kepadanya.
Maka beliau ﷺ menjawab, “Jibrail” Mereka berkata, “Sesungguhnya dia adalah musuh kami.
Tiada yang ia datangkan kecuali hanya perang, kekerasan, dan pembunuhan.” Lalu turunlah ayat berikut: “Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril …, hingga akhir ayat,” (Al Baqarah:97).

Ibnu Jarir mengatakan, Mujahid telah menceritakan hadis berikut: Orang-orang Yahudi berkata, “Hai Muhammad, tiada yang dibawa oleh Jibril melainkan hanya kekerasan, perang, dan pembunuhan.
Sesungguhnya dia adalah musuh kami.” Maka turunlah ayat ini, “Katakanlah, ‘Barang siapa yang menjadi musuh Jibril …, hingga akhir ayat,” (Al Baqarah:97).

Imam Bukhari meriwayatkan sehubungan dengan tafsir firman-Nya: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril.
(Al Baqarah:97) Menurut Ikrimah, lafaz jabra, mik, dan israf artinya menurut bahasa Arab adalah abdun (hamba), sedangkan lil artinya Allah.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Munir yang pernah mendengar Abdullah ibnu Bakr mengatakan, telah menceritakan kepada kami Humaid, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan hadis berikut: Abdullah ibnu Salam mendengar kedatangan Nabi ﷺ (di Madinah).
Ketika itu ia sedang membajak lahannya, lalu ia datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya, “Sesungguhnya aku akan bertanya kepadamu tentang tiga perkara, tiada yang mengetahuinya kecuali seorang nabi.
Apakah tanda-tanda hari kiamat itu, apakah makanan yang mula-mula dimakan oleh ahli surga, dan apakah yang menyebabkan seorang anak mirip kepada ayahnya atau ibunya?” Nabi ﷺ menjawab, “Tadi Jibril baru saja menceritakannya kepadaku.” Abdullah ibnu Salam berkata, “Jibril?”
Nabi ﷺ menjawab, “Ya.” Abdullah ibnu Salam berkata, “Dia adalah musuh orang-orang Yahudi dari kalangan para malaikat.” Maka Nabi ﷺ membacakan ayat ini, yaitu: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu” (Al Baqarah:97).
Adapun pertanda hari kiamat ialah munculnya api yang menggiring manusia dari arah timur menuju ke arah barat.
Adapun makanan yang mula-mula dimakan oleh ahli surga, maka ia adalah lebihan dari hati ikan paus.
Dan apabila air mani laki-laki mendahului air mani perempuan, maka si anak kelak akan menyerupainya.
Dan apabila air mani perempuan mendahului air mani laki-laki, maka kelak anaknya akan mirip dengannya.” Abdullah ibnu Salam berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang wajib disembah) selain Allah, dan bahwa engkau adalah utusan Allah.
Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi itu adalah kaum yang suka mendustakan, dan sesungguhnya jika mereka mengetahui aku masuk Islam sebelum engkau bertanya kepada mereka, nanti mereka akan mendustakan diriku.” Maka datanglah orang-orang Yahudi, dan Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka, “Apakah kedudukan Abdullah ibnu Salam di antara kalian!” Mereka menjawab, “Dia orang terbaik dari kalangan kami dan anak orang terbaik kami.
Dia adalah penghulu kami dan anak penghulu kami.” Nabi ﷺ bertanya, “Bagaimanakah menurut kalian jika dia masuk Islam!” Mereka menjawab, “Semoga Allah menghindarkannya dari itu.” Kemudian keluarlah Abdullah dan berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Maka mereka berkata, “Dia paling buruk di antara kami, anak orang yang paling buruk dari kami” dan mereka terus mencelanya.
Maka berkatalah Abdullah ibnu Salam, “Inilah yang aku khawatirkan, wahai Rasulullah”

Imam Bukhari menyendiri dengan sanad ini, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) mengetengahkannya dari jalur yang lain melalui sahabat Anas dengan lafaz yang semisal.
Di dalam kitab Sahih Muslim terdapat hadis yang maknanya mendekati makna hadis ini, diriwayatkan melalui Sauban maula Rasulullah ﷺ, seperti yang akan diterangkan nanti pada tempatnya.

Riwayat Imam Bukhari —seperti yang disebutkan di atas melalui Ikrimah—merupakan riwayat yang masyhur, yaitu yang mengatakan bahwa lil artinya Allah.
Hal ini diriwayatkan pula oleh Sufyan As-Sauri, dari Khasif, dari Ikrimah.
Hal yang semisal telah diriwayatkan pula oleh Abdu ibnu Humaid, dari Ibrahim ibnul Hakam, dari ayah-nya, dari Ikrimah.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Al-Husain ibnu Yazid At-Tah-han, dari Ishaq ibnu Mansur, dari Qais ibnu Asim, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa sesungguhnya Jibril menurut bahasa Arab artinya Abdullah (hamba Allah) dan Mikail sama artinya dengan Abdullah (hamba Allah), karena lafaz lil menurut bahasa Arab artinya Allah.
Hal semisal diriwayatkan oleh Yazid An-Nahwi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas.
Hal yang sama dikatakan pula oleh sejumlah ulama salaf, seperti yang akan diterangkan berikut ini.

Sebagian ulama mengatakan bahwa lil artinya abdun (hamba), sedangkan kalimat yang lainnya artinya nama Allah, mengingat nama lil tidak berubah pada kesemua itu, maka wazan-nya sama dengan nama-nama seperti Abdullah, Abdur Rahman, Abdul Malik, Abdul Quddus, Abdus Salam, Abdul Kafi, dan Abdul Jalil.
Lafaz abdun ada dalam semua nama tersebut, sedangkan nama yang di-mudaf-kan kepadanya berbeda-beda.
Hal yang sama terjadi pula pada lafaz Jabrail, Mikail, Azrail, Israfil, dan lain-lainnya yang sejenis.
Akan tetapi, perlu diingat bahwa dalam bahasa Arab terdapat perbedaan, selalu mendahulukan mudaf ilaih daripada mudaf-nya.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya berpendapat bahwa penyebab yang membuat mereka (orang-orang Yahudi) mengatakan hal tersebut (seperti yang disebut di dalam surat Al-Baqarah ayat 97) ialah ketika terjadi dialog antara mereka dengan sahabat Umar ibnul Khattab tentang perihal Nabi ﷺ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepadaku Rab’i ibnu Ulayyah, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya’bi yang menceritakan hadis berikut: Umar turun istirahat di Rauha, ia melihat banyak kaum lelaki berebutan menuju bebatuan yang akan mereka pakai untuk tempat salat.
Ia berkata, “Apakah gerangan yang mereka lakukan itu?”
Mereka berkata, “Mereka menduga bahwa Rasulullah ﷺ pernah melakukan salat di tempat tersebut.” Maka Umar ibnul Khattab mengingkari (memprotes)nya dan mengatakan, “Kapan saja Rasulullah ﷺ menjumpai waktu salat di lembah mana pun, beliau salat di tempat itu, kemudian berangkat meninggalkannya.” Kemudian Umar menceritakan sebuah hadis kepada mereka (kaum muslim), “Dahulu aku sering menyaksikan orang-orang Yahudi di hari kebaktian mereka, aku merasa kagum terhadap kitab Taurat karena ia membenarkan Al-Qur’an.
Aku kagum pula terhadap Al-Qur’an yang juga membenarkan Taurat.
Ketika di suatu hari aku berada di antara mereka, mereka berkata, ‘Hai Ibnul Khattab, tiada seorang.
pun di antara teman-temanmu yang paling aku senangi selain engkau sendiri.’ Aku bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Mereka menjawab, ‘Karena engkau sering berkumpul dengan kami dan selalu datang kepada kami.’ Aku menjawab, ‘Aku selalu datang kepada kalian karena aku merasa kagum kepada Al-Qur’an, bagaimana ia membenarkan kitab Taurat, kagum pula kepada Taurat, bagaimana ia membenarkan Al-Qur’an.’ Mereka berkata, (yang saat itu Rasulullah ﷺ sedang lewat), ‘Hai Ibnul Khattab, itulah sahabatmu, maka bergabunglah dengannya’.” Perawi melanjutkan kisahnya, “Maka aku berkata kepada mereka saat itu juga, ‘Aku meminta kepada kalian demi nama Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, dan demi apa yang kalian pelihara dari hak-nya serta demi apa yang dititipkan kepada kalian dari kitabnya, apakah kalian mengetahui bahwa dia adalah utusan Allah?’.” Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa mereka diam, tidak menjawab.
Lalu salah seorang yang paling alim dari kalangan mereka —yang juga sebagai pembesar mereka— mengatakan, “Sesungguhnya hal itu terasa berat bagi kalian, tetapi kalian harus menjawabnya.” Ternyata mereka balik bertanya, “Engkau adalah orang yang paling alim dan paling terhormat di kalangan kami, jawablah olehmu sendiri.” Ia berkata, “Apabila kalian meminta kepadaku seperti apa yang kalian minta, maka sesungguhnya aku mengetahui bahwa beliau adalah utusan Allah.” Aku (Umar) berkata, “Celakalah kalian, kalau demikian kalian binasa.” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami masih belum binasa.” Aku (Umar) berkata, “Mengapa bisa terjadi, kalian mengetahui bahwa dia adalah utusan Allah, sedangkan kalian tidak mau mengikutinya, tidak pula percaya kepadanya?”
Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami mempunyai musuh dari kalangan para malaikat, juga mempunyai teman dari kalangan mereka.
Sesungguhnya dia ditemani dalam kenabiannya oleh musuh kami dari kalangan para malaikat.” Aku bertanya, “Siapakah musuh dan teman kalian itu?”
Mereka menjawab, “Musuh kami adalah Jibril, dan teman kami adalah Mikail.” Mereka mengatakan, “Sesungguhnya Jibril adalah malaikat yang bengis, kasar, sulit, keras, dan tukang menyiksa atau hal yang semisal dengan itu.
Sesungguhnya Mikail adalah malaikat rahmat, lembut lagi ringan atau hal yang semacam itu.” Aku bertanya, “Apakah kedudukan keduanya di sisi Rabbnya?”
Mereka menjawab, “Salah seorang darinya berada di sebelah kanan-Nya dan yang lainnya berada di sebelah kiri-Nya.” Maka aku berkata, “Demi Tuhan yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya keduanya dan Tuhan yang mereka berdua berada di kedua sisi-Nya benar-benar memusuhi orang-orang yang memusuhi keduanya dan berdamai dengan orang-orang yang damai dengan keduanya.
Tidak layak bagi Malaikat Jibril berdamai dengan musuh Malaikat Mikail, dan tidak layak pula bagi Mikail berdamai dengan musuh Malaikat Jibril.” Kemudian aku bangkit dan mengikuti Nabi ﷺ hingga aku dapat menyusulnya.
Pada saat itu beliau baru keluar dari rumah kecil Bani Fulan, lalu beliau ﷺ bersabda, “Hai Ibnul Khattab, maukah aku bacakan kepadamu beberapa ayat yang baru saja diturunkan kepadaku?”
Kemudian beliau membacakan ayat-ayat berikut kepadaku, yaitu:

Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hati kalian dengan seizin Allah.
(Al Baqarah:97)

Beliau ﷺ membaca pula beberapa ayat sesudahnya.
Aku berkata, “Ayah dan ibuku kujadikan sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah.
Demi Tuhan Yang telah mengutusmu dengan hak, sesungguhnya aku sendiri datang untuk menceritakan hal itu kepadamu, tetapi aku mendengar bahwa Tuhan Yang Mahalembut lagi Mahaperiksa telah mendahuluiku kepadamu dengan membawa kebaikan.”

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Mujalid, telah menceritakan kepada kami Amir yang menceritakan bahwa sahabat Umar berangkat menuju kepada orang-orang Yahudi, lalu berkata, “Aku meminta kepada kalian dengan nama Tuhan Yang menurunkan kitab Taurat kepada Musa.
Apakah kalian menemukan Muhammad di dalam kitab-kitab kalian?”
Mereka menjawab, “Ya.” Umar bertanya, “Apakah gerangan yang menghalang-halangi kalian untuk mengikutnya?”
Mereka menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali mengutus seorang rasul melainkan menjadikan baginya teman dari kalangan para malaikat.
Sesungguhnya Jibril adalah teman Muhammad, dialah yang selalu datang kepadanya.
Tetapi dia adalah malaikat yang menjadi musuh kami, sedangkan Malaikat Mikail adalah teman kami.
Seandainya Mikail yang selalu datang kepadanya, niscaya kami masuk Islam.” Umar r.a.
berkata, “Sesungguhnya aku bertanya kepada kalian dengan nama Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, apakah kedudukan keduanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala?”
Mereka menjawab, “Jibril berada di sebelah kanan-Nya dan Mikail berada di sebelah kiri-Nya.” Umar berkata, “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa keduanya tidak akan turun (ke bumi) kecuali dengan seizin Allah, dan Mikail tidak akan berdamai dengan musuh Jibril, Jibril tidak akan berdamai dengan musuh Mikail.” Ketika Umar berada bersama mereka (orang-orang Yahudi), tiba-tiba lewatlah Nabi ﷺ, lalu mereka berkata, “Inilah temanmu, hai Ibnul Khattab.” Maka Umar bangkit menuju ke arahnya dan datang menghadap kepadanya, sedangkan saat itu Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan firman-Nya:

Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.
(Al Baqarah:98)

Kedua sanad riwayat ini menunjukkan bahwa Asy-Sya’bi menceritakannya dari Umar r.a., tetapi di dalamnya terdapat inqita’ (rentetan sanad yang terputus) antara Asy-Sya’bi dan Umar r.a.
karena Asy-Sya’bi tidak menjumpai zaman sahabat Umar r.a.

Ibnu Jarir meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Basyir, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai’, dari Sa’id, dari Qatadah yang menceritakan, telah diceritakan kepada kami bahwa di suatu hari Umar ibnul Khattab pernah berangkat menuju tempat orang-orang Yahudi.
Ketika ia sampai di kalangan mereka, mereka menyambutnya dengan sambutan yang hangat.
Maka Umar r.a.
berkata kepada mereka, “Ingatlah, demi Allah, tidak sekali-kali aku datang kepada kalian karena terdorong suka kepada kalian, tidak pula karena berharap kepada kalian, tetapi aku datang kepada kalian untuk mendengar langsung dari kalian.” Lalu Umar bertanya kepada mereka, dan mereka bertanya kepadanya, “Siapakah teman kalian (dari kalangan malaikat)?”
Umar menjawab, “Jibril.” Mereka berkata, “Dia adalah musuh kami dari kalangan penduduk langit, dialah yang memperlihatkan kepada Muhammad rahasia kami.
Apabila ia datang, maka yang didatangkannya adalah peperangan dan kelaparan.
Tetapi teman kami adalah Mikail, apabila dia datang, yang didatangkannya adalah kesuburan dan kedamaian.” Umar berkata kepada mereka, “Mengapa kalian mengakui Jibril, tetapi mengingkari Muhammad ﷺ?”
Sejak saat itu Umar pergi meninggalkan mereka dan menuju ke arah Nabi ﷺ untuk menceritakan kepada beliau apa yang telah diceritakan oleh mereka.
Tetapi ternyata ia menjumpai beliau dalam keadaan telah menerima wahyu ayat-ayat berikut:

Katakanlah, “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.

hingga beberapa ayat sesudahnya.

Di dalam riwayat ini terdapat nama Adam, dia berpredikat munqati pula.
Hadis ini diriwayatkan juga oleh Asbat, dari As-Saddi, dari Umar dengan mak-na yang sama atau yang semisal dengannya, tetapi riwayat ini pun berpredikat munqati.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman (yakni Ad-Dustuli), telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far, dari Husain ibnu Abdur Rahman, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, bahwa seorang Yahudi menemui sahabat Umar ibnul Khattab, lalu orang Yahudi itu berkata, “Sesungguhnya Jibril yang disebut oleh teman kalian (Nabi Muhammad ﷺ) adalah musuh kami.” Maka sahabat Umar r.a.
membacakan firman-Nya: Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.
(Al Baqarah:98)

Dengan kata lain, ayat ini diturunkan bertepatan dengan perkataan yang dikatakan oleh lisan sahabat Umar r.a.
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abdu ibnu Humaid, dari Abun Nadr Hasyim ibnul Qasim, dari Abu Ja’far (yakni Ar-Razi).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepadaku Hasyim, telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Abdur Rahman, dari Ibnu Abu Laila sehubungan dengan tafsir firman-Nya: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril…, hingga akhir, ayat (Al Baqarah:97).
Dijelaskan bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada kaum muslim, “Seandainya malaikat yang turun kepada kalian adalah Mikail, niscaya kami akan mengikuti kalian.
Karena sesungguhnya Malaikat Mikail itu selalu turun membawa rahmat dan hujan, dan sesungguhnya Jibril selalu turun membawa azab dan pembalasan.
Sesungguhnya dia adalah musuh kami.” Ibnu Jarir mengatakan lalu turunlah ayat ini.

Abdur Razzaq menceritakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Qatadah, sehubungan dengan tafsir firman-Nya: Katakanlah, “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril…, hingga akhir ayat, (Al Baqarah:97).
Bahwa orang-orang Yahudi pernah mengatakan, “Sesungguhnya Jabrail adalah musuh kami, karena sesungguhnya dia turun hanya dengan membawa kekerasan dan kelaparan.
Dan sesungguhnya Mikail selalu turun membawa kemakmuran, kesehatan, dan kesuburan.
Jabrail adalah musuh kami.” Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menurunkan ayat ini.

Mengenai tafsir firman-Nya:

Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hati kalian dengan seizin Allah.

Artinya, barang siapa yang memusuhi Malaikat Jabrail, ketahuilah bahwa dia adalah Ruh (malaikat) Al-Amin (yang dipercaya oleh Allah subhanahu wa ta’ala).
Dialah yang membawa turun Al-Qur’an yang bijaksana ke dalam hatimu dari Allah dengan seizin-Nya.
Dia adalah utusan Allah dari kalangan para malaikat, dan barang siapa yang memusuhi utusan, berarti dia memusuhi semua utusan.
Sama halnya orang yang beriman kepada seorang rasul, sesungguhnya ia pasti beriman kepada semua rasul, sebagaimana orang yang kafir kepada seorang rasul, berarti dia kafir kepada semua rasul.
Sama halnya dengan makna yang terkandung di dalam firman lainnya, yaitu:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada yang sebagian (dari rasul-rasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain).” (An Nisaa:150), hingga kedua ayat berikutnya.

Di dalamnya diputuskan terhadap mereka sebagai orang-orang kafir yang sesungguhnya, jika mereka beriman kepada sebagian para rasul dan kafir kepada sebagian yang lainnya.
Demikian pula perihal orang yang memusuhi Malaikat Jibril, sesungguhnya orang tersebut adalah musuh Allah.
Dikatakan demikian karena sesungguhnya tidak sekali-kali Malaikat Jibril turun dengan membawa perintah dari dirinya sen-diri, melainkan dia turun dengan membawa perintah Tuhannya, seperti yang dinyatakan oleh firman-Nya:

Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhan-mu.
(Maryam:64)

Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dan dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.

Asy Syu’ara:192-194)

Imam Bukhari meriwayatkan di dalam kitab sahihnya melalui Abu Hurairah r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang memusuhi kekasihku, berarti dia menantangku terang-terangan untuk berperang.

Karena itu, Allah murka terhadap setiap orang yang memusuhi Malaikat Jibril.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Ma baina yadaihi, yakni kitab-kitab sebelumnya.

Hudan, petunjuk bagi hati mereka.

Busyra, berita gembira bagi mereka bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga.
Dan Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah bagi orang-orang mukmin, seperti yang disebutkan oleh firman lainnya, yaitu:

Katakanlah, “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman”…, hingga akhir ayat, (Al Fushilat:44).

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(Al Israa’:82)

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Al Baqarah (2) Ayat 97

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Anas.
Bahwa ‘Abdullah bin salam mendengar akan tibanya Rasulullah di saat dia berada di tempat peristirahatannya.
Lalu ia menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Sesungguhnya saya akan bertanya kepada tuan tentang tiga hal.
Tidak akan ada yang mengetahui jawabannya kecuali seorang nabi: 1) apa tanda-tanda pertama hari kiamat.
2) makanan apa yang pertama-tama dimakan oleh ahli surga, dan 3) mengapa si anak menyerupai bapaknya atau kadang-kadang menyerupai ibunya?” Nabi ﷺ menjawab:
“Baru saja Jibril memberitahukan hal itu kepadaku.” Abdullah bin Salam berkata: “Jibril?” Rasulullah ﷺ menjawab:
“Ya.” ‘Abdullah bin Salam berkata: “Dia itu malaikat yang termasuk musuh kaum Yahudi.” Lalu Nabi ﷺ membacakan ayat ini (Al-Baqarah: 97) sebagai teguran kepada orang-orang yang memusuhi Malaikat pesuruh Allah.

Keterangan: menurut Syaikhul Islam al-Hafizh Ibnu Hajar, di dalam Kitab Fat-hul Baari, berdasarkan susunan kalimatnya, ayat yang dibacakan oleh Nabi ﷺ ini (Al-Baqarah: 97), sebagai bantahan kepada kaum Yahudi, dan tidak seharusnya turun bersamaan dengan peristiwa tersebut di atas.
Dan inilah yang paling kuat.
Di samping itu, ada keterangan lain yang sah bahwa turunnya ayat tersebut pada peristiwa lain, dan bukan pada peristiwa ‘Abdullah bin salam.

Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i, dari Bakr bin Syihab, dari Sa’id bin Jubair, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa serombongan kaum Yahudi datang menghadap Nabi ﷺ, mereka berkata: “Hai Abal Qasim.
Kami akan menanyakan lima perkara kepada tuan.
Apabila tuan dapat memberitahukannya, tahulah kami bahwa tuan adalah seorang nabi.” Selanjutnya hadits itu menyebutkan, yang isinya antara lain menyebutkan mereka bertanya: 1) tentang apa yang diharamkan oleh Bani Israil atas dirinya, 2) tentang tanda-tanda kenabian, 3) tentang petir dan suaranya, 4) tentang bagaiman wanita dapat melahirkan dan laki-laki dan dapat juga wanita, dan 5) tentang siapa sebenarnya yhang memberi kabar dari langit.
Dan pada akhir hadits itu disebutkan bahwa mereka berkata: “Siapa sahabat tuan itu?” yang dijawab oleh Rasulullah ﷺ: “Jibril.” Mereka berkata: “Apakah Jibril yang biasa menurunkan perang, pembunuhan, dan siksaan?
Itu musuh kami.
Jika tuan mengatakan Mikail yang menurunkan rahmat, tanam-tanaman, dan hujan, tentu lebih baik.” Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 97) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih di dalam Musnad-nya dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari asy-Syu’bi.
Sanad hadits ini sahih sampai asy-Syu’bi, hanya saja asy-Syu’bi tidak bertemu dengan ‘Umar.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dai selain asy-Syu’bi.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari as-Suddi dan Qatadah yang bersumber dari ‘Umar, keduanya munqathi’.
Bahwa pada suatu hari ‘Umar datang kepada Yahudi yang ketika itu sedang membaca Taurat.
Ia (‘Umar) pun kaget, karena isinya membenarkan apa yang disebut di dalam Al-Qur’an.
Ketika itu lewatlah Rasulullah di hadapan mereka, dan berkatalah ‘Umar kepada Yahudi: “Aku minta agar engkau menjawab pertanyaanku dengan sungguh-sungguh dan jujur.
Apakah kamu tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah?” Guru mereka menjawab:
“Memang benar kami tahu bahwa beliau itu Rasulullah.” ‘Umar berkata: “Mengapa kamu tidak mau mengikutinya?” Mereka menjawab:
“Ketika kami bertanya tentang penyampai kenabiannya, Muhammad mengatakan ‘Jibril’.
Dialah musuk kami yang menurunkan kekerasan, kekejaman, peperangan dan kecelakaan.” ‘Umar bertanya: “Malaikat siapa yang biasa diutus kepada nabimu?” Mereka menjawab:
“Mikail, yang menurunkan hujan dan rahmat.” ‘Umar bertanya: “Bagaimana kedudukan mereka di sisi Rabb-nya?” Mereka menjawab:
“Yang satu di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.” ‘Umar berkata: “Tidak sepantasnya Jibril memusuhi pengikut Mikail, dan tidak patut Mikail berbuat baik kepada musuh Jibril.
Sesungguhnya aku percaya bahwa Jibril, Mikail, dan Rabb mereka akan berbuat baik kepada kepada siapa yang berbuat baik kepada mereka, dan akan berperang kepada siapa yang mengumumkan perang kepada mereka.” Kemudian ‘Umar mengejar Nabi ﷺ untuk menceritakan hal itu.
Tetapi sesampainya pada Nabi, beliau bersabda: “Apakah engkau ingin aku bacakan ayat yang baru turun padaku?” ‘Umar menjawab:
“Tentu saja, ya Rasulallah.” Kemudian beliau mebaca… mang kaana ‘aduwwal li jibriila fa innahuu nazzalahuu ‘alaa qalbik… (barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya [al-Qur’an] ke dalam hatimu…) sampai…lil kaafiriin…(…orang-orang kafir) (Al-Baqarah: 97-98).
‘Umar berkata: “Ya Rasulallah.
Demi Allah, saya tinggalkan kaum Yahudi tadi dan menghadap tuan justru untuk menceritakan apa yang kami percakapkan, tapi rupanya Allah telah mendahului saya.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Abdurrahman bin Laila.
Sumber ini saling menguatkan dengan sumber lain.
Bahwa seorang Yahudi berkata ketika bertemu dengan ‘Umar bin al-Khaththab: “Sesungguhnya Jibril yang disebut-sebut oleh shahabatmu itu (Rasulullah) adalah musuh kami.” Berkatalah ‘Umar: “Barang siapa yang memusuhi Allah, malaikat-Nya, para Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, sesungguhnya Allah memusuhinya.” Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 97-98) bersesuaian dengan apa yang diucapkan ‘Umar.

Keterangan: menurut Ibnu Jarir, sebab-sebab yang diceritakan dalam hadits-hadits tersebut di atas merupakan sebab-sebab turunnya ayat ini (al-Baqarah: 97-98).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah Al Baqarah (البقرة)
Surat “Al Baqarah” yang terdiri dari 286 ayat ini turun di Madinah yang sebahagian besar diturun­kan pada permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Hajji wadaa’ (hajji Nabi Muhammad ﷺ yang terakhir).
Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golong­an Madaniyyah, merupakan surat yang terpanjang di antara surat-surat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpanjang (ayat 282).

Surat ini dinamai “Al Baqarah” karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani lsrail (ayat 67 sarnpai dengan 74), dimana dije­laskan watak orang Yahudi pada umumnya, Dinamai “Fusthaathul-Qur’an” (puncak Al Qur­ aan) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Dinamai juga surat “alif-laam-miim” karena surat ini dimulai dengan Alif-laam-miim.

Keimanan:

Da’wah lslamiyah yang dihadapkan kepada umat Islam, ahli kitab dan para musyrikin.

Hukum:

Perintah mengerjakan shalat
menunaikan zakat
hukum puasa
hukum haji dan umrah
hukum qishash
hal-hal yang halal dan yang haram
bernafkah di jalan Allah
hukum arak dan judi
cara menyantuni anak yatim, larangan riba
hu­tang piutang
nafkah dan yang berhak menerimanya
wasiyat kepada dua orang ibu­ bapak dan kaum kerabat
hukum sumpah
kewajiban menyampaikan amanat
sihir
hukum merusak mesjid
hukum merubah kitab-kitab Allah
hukum haidh, ‘iddah, thalak, khulu’, ilaa’
hukum susuan
hukum melamar
mahar larangan mengawini wanita musyrik dan sebaliknya
hukum perang.

Kisah:

Kisah penciptaan Nabi Adam a.s.
kisah Nabi Ibrahim a.s.
kisah Nabi Musa a.s, dengan Bani lsrail.

Lain-lain:

Sifat-sifat orang yang bertakwa
sifat-sifat orang munafik
sifat-sifat Allah
per­umpamaan-perumpamaan
kiblat, kebangkitan sesudah mati.


Gambar Kutipan Surah Al Baqarah Ayat 97 *beta

Surah Al Baqarah Ayat 97



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Al Baqarah

Surah Al-Baqarah (Arab: سورة البقرة‎, bahasa Indonesia: "Sapi Betina") adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an.
Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah.
Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur'an.
Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74).
Surah ini juga dinamai Fustatul Qur'an (Puncak Al-Qur'an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.
Dinamai juga surah Alif Lam Mim karena ayat pertama di surah berisi tiga huruf arab yakni Alif, Lam, dan Mim.

Nomor Surah2
Nama SurahAl Baqarah
Arabالبقرة
ArtiSapi Betina
Nama lainFasthath al-Qur’an, Sanam al-Qur’an (Puncak Al-Quran), Al-Zahrawan (Dua yang Cemerlang), Alif Lam Mim
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu87
JuzJuz 1 (ayat 1-141), 2 (ayat 142-252) dan 3 (ayat 253-286)
Jumlah ruku'40 ruku'
Jumlah ayat286
Jumlah kata6156
Jumlah huruf26256
Surah sebelumnyaSurah Al-Fatihah
Surah selanjutnyaSurah Ali 'Imran
4.5
Rating Pembaca: 4.9 (13 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku